(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Pantai



Setelah pagi menyising membuat seseorang terbangun dari tidur malam nya.


Hazel membuka mata nya perlahan, seperti biasa pun ia mengusap wajah nya, dan masih memeluk Alyss dalam dekapan nya.


Dilihat nya wajah Alyss yang masih tertidur dan belum terbangun.


"Kau masih tidur? Cantik sekali" ucap Hazel lirih ketika memperhatikan wajah Alyss.


Hazel pun mengusap dan mengelus wajah Alyss, saat ia gemas ia akan menekan hidung Alyss.


"Engh.." Alyss yang bersuara merasakan tidur nya terganggu akibat ulah jahil Hazel.


"Unch.. Gemasnya...." ucap Hazel ketika melihat Alyss menggeliat dari tidur.


Karena tak tahan melihat wajah Alyss Hazel pun mengigit pipi Alyss hingga Alyss terbangun.


"AKHH!" Alyss pun langsung terbangun dan berteriak ketika Hazel menggigit pipi nya. Hazel pun melepaskan gigitan nya dan memandang Alyss dengan wajah tersenyum.


"Sudah bangun?" ucap Hazel kepada Alyss yang sedang mengusap-usap pipi nya.


Alyss pun hanya melihat Hazel dengan tatapan kesal dan ia pun langsung bangun dan duduk.


"Mesum!" ucap nya lirih ketika melihat Hazel yang masih berbaring dengan menatap wajahnya.


"Ha aku? Hahahaha" tawa Hazel ketika mendengar ucapan lirih Alyss


"Atas dasar apa kau mengatakan aku begitu? Kau lupa kau sendiri yang mencium ku tadi malam?" ucap Hazel dengan senyuman menggoda.


"I-iya sih tapi kan saya tidak mau ci-ciuman begitu" bantah Alyss dengan memanyunkan bibir nya, dan wajah nya yang mulai merona.


"Dan lagi itu kan ciuman pertama ku" ucap lirih sembari memalingkan wajah nya.


"Tapi itu bukan yang pertama loh..


Kau lupa apa yang kau lakukan saat mabuk waktu itu? Mau mengulangi lagi agar bisa mengingat nya kembali?" ucap Hazel yang makin menggoda Alyss.


Hazel pun langsung bangun dan duduk agar menyamai Alyss yang sedang duduk di atas ranjang juga.


Dengan senyuman licik nya Hazel langsung berusaha mencium Alyss lagi. Sontak Alyss pun langsung refleks dengan menutup bibir nya menggunakan kedua tangan nya.


"Kenapa tak ingin mengingat malam itu?" tanya Hazel menggoda Alyss.


Alyss pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan langsung bangun berlari keluar dari kamar Hazel.


Hazel hanya tertawa melihat tingkah Alyss.


"Semakin menggemaskan" ucap nya lirih ketika melihat punggung Alyss yang berlari keluar dari kamar nya.


30 menit kemudian...


Hazel yang telah selesai membersihkan dirinya pun turun kebawah. Ia melihat Alyss yang sedang berbicara dengan para maid yang sedang memasak.


"Kak sini aku saja yang memasak" ucap Alyss dengan berusaha mengambil sayur yang akan dicuci.


"Tidak usah non, saya saja" ucap maid tersebut.


"Ihhh...


Kok manggil "non" sih? panggil Alyss saja kak. Lagi pula jika memasak termasuk pekerjaan ku kok. Sekarang kan aku sudah sehat kembali" ucap Alyss sembari berusaha merebut bahan masakan lagi.


Alyss bahkan juga tidak tau bahwa Hazel memecat maid yang lama karena tidak memanggil nya dengan sebutan "nona" dan hanya memanggil nama saja.


Hazel yang dari tadi hanya mendengarkan saja pun akhirnya bersuara.


"Sudah lah biar mereka saja yang memasak. Kau tunggulah bersama ku disini" ucap Hazel yang sejak tadi memperhatikan Alyss.


Mendengar suara Hazel Alyss langsung menoleh.


"Yah baiklah" ucap nya ketika melihat Hazel.


Alyss pun langsung berjalan ke arah Hazel yang duduk di meja makan, dan Alyss pun duduk di tempat biasa yang sering ia duduki.


Alyss tak mengatakan apapun pada Hazel ia hanya diam dan menyangga dagu nya dengan satu tangan.


"Kau bosan? Atau sudah sangat lapar?" tanya Hazel ketika melihat Alyss.


"Hmm, tidak" balas Alyss dengan menggelengkan kepalanya.


"Karna kau semalam sangat penurut, kau ingin berikan hadiah?" tanya Hazel dengan wajah serius.


"Hadiah?" ucap Alyss dengan memandang Hazel dan tak menggunakan tangannya lagi untuk menopang dagu nya sendiri.


"Ya, Apa yang kau inginkan?" ucap Hazel ketika melihat wajah Alyss.


Melihat Alyss yang bengong terdiam Hazel pun langsung menjentikkan jari nya di depan wajah Alyss.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Hazel lagi ketika fokus Alyss sudah kembali.


"Hemm apa ya?" ucap Alyss memutar bola mata nya ke atas untuk memikirkan keinginan nya yang tak membuat Hazel marah.


"Sebutkan dalam tiga detik, atau aku tak jadi memberi hadiah" ucap Hazel sambil mulai mengira.


"Eh.. Aku ingin keluar!" jawab Alyss cepat ketika ia tak dapat memikirkan apapun lagi saat hitungan Hazel telah mencapai hitungan ketiga.


Alyss langsung melihat ekspresi Hazel. Ia sangat takut jika Hazel marah lagi. Hazel pun hanya memandang Alyss dengan wajah datar.


"Pantai atau Pegunungan?" tanya Hazel pada Alyss dengan masih memandang dengan wajah datar.


Alyss pun tertegun dengan pertanyaan Hazel. Wajah nya pucat seketika.


" Apa maksud nya? Dia menyuruhku memilih di kubur dimana? " ucap Alyss dalam hati ketika mendengar pertanyaan Hazel.


Melihat Alyss yang kembali bengong dengan wajah pucat membuat Hazel menjentikkan jarinya lagi.


"Hey, aku sedang bertanya. Apa yang kau pikirkan?" ucap Hazel ketika Alyss sudah mengalihkan perhatian nya ke Hazel lagi.


"Maaf, sa-saya belum ingin mati" jawab Alyss dengan nada lirih sambil menunduk ke bawah.


"Belum ingin mati? Siapa yang ingin membunuh mu?" ucap Hazel heran mendengar perkataan Alyss.


"Eh? bukannya tuan tanya pantai atau pegunungan? bukankah maksudnya tuan sedang bertanya di mana aku ingin di kubur?" tanya Alyss polos dengan langsung mengangkat wajah nya untuk memandang Hazel lagi.


Begitu mendengar ucapan polos Alyss Hazel menjadi tertawa sangat keras. Suara tawanya bahkan memenuhi seisi ruangan.


"Hahaha, kau pikir aku ingin mengubur mu? Tidak aku tak ingin melakukanya. Bukan kah kau ingin keluar? Makanya aku ingin memberi liburan" ucap Hazel yang masih di selingi dengan tertawa.


"Saya boleh keluar?" tanya Alyss dengan semangat dan menatap Hazel dengan mata berbinar.


"Boleh" jawab Hazel singkat.


"Yes!" ucap Alyss yang dengan penuh semangat.


"Jika aku ikut, kau hanya boleh keluar jika aku menemani mu" sambung Hazel dengan wajah santai.


Alyss seperti sedang di bawa menuju langit kemudian di hempas kan jatuh kembali. Ekspresi Alyss pun langsung berubah ketika mendengar ucapan Hazel barusan.


"Ada apa? Tidak setuju? Kalau begitu kau di rumah saja" ucap Hazel ketika melihat perubahan di wajah Alyss.


"Eh tidak, tidak..


Saya setuju kok" ucap Alyss dengan cepat.


"Aku tak boleh mensia-siakan kesempatan ini " ucap Alyss dalam hati.


"Jadi mana yang kau pilih? Pantai atau Pegunungan?" tanya Hazel untuk kedua kalinya.


Sebenarnya Alyss ingin memilih pegunungan karena ia masih teringat dengan yang di lakukan Hazel saat menenggelamkan nya di kolam renang.


Tetapi Alyss sendiri sangat membenci pegunungan. Ia tak tau alasan hanya saja ada perasaan yang begitu takut jika ia berlibur ke pegunungan.


"Ka-kalau saya pilih pantai, tu-tuan jangan berubah pikiran untuk menenggelamkan saya yah" ucap nya ragu pada Hazel.


Hazel pun menjadi tertawa lagi mendengarkan ucapan polos Alyss.


"Yah baiklah" ucap Hazel sembari tertawa.


Makanan pun telah selesai di masak dan di hidangkan ke meja makan untuk Alyss dan Hazel.


"Silahkan sarapan nya Tuan dan Nona" ucap para maid serentak sambil membungkuk ketika telah selesai meletakkan seluruh makanan tersebut.


"Tumben sekali mereka sangat sopan padaku" ucap Alyss lirih yang masih belum terbiasa dengan sikap para maid yang sekarang.


"Apa maid yang dulu sangat tak sopan padamu?" tanya Hazel ketika mendengar ucapan lirih Alyss.


"Tidak bukan begitu, hanya saja yang ini lebih sopan" jawab Alyss


Hazel tak mengatakan apapun dan hanya mengangguk dengan senyuman.


"Setelah sarapan bersiaplah, kita akan segera pergi ke pantai" ucap Hazel di sela-sela makan.


Alyss yang mendengar hal tersebut menjadi semangat dan makan dengan lahap.


"Baik!" ucap nya dengan wajah senang dan penuh semangat.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang begitu bersemangat.