(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
I not a good guy!



Tak lagi mendengar suara apapun sejak suara jatuh yang membuat telinganya seakan ingin tak percaya.


Hazel yang benar-benar panik dan sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota pun langsung meminta untuk putar balik.


Ia seharusnya pergi keluar kota minggu ini dan kembali dalam dua hari, namun karna istrinya sedang hamil besar membuatnya pulang balik terus menerus agar tetap bisa kembali ke kediaman nya setiap hari dan menemani istrinya.


Ia mematikan ponsel nya dan langsung menelpon ke kepala pengawal dan kepala pelayan untuk langsung memeriksa keadaan istrinya.


Tak lupa juga ia mencari rekaman cctv di kediaman megah nya untuk mencari tau keadaan istrinya yang sebenarnya.


Mata nya mulai gusar saat melihat akses rekaman di kamar nya yang hanya bisa ia lihat.


Wanita yang sedang mengandung dengan perut besar itu terlihat tertatih berjalan ke kamar mandi dan setelah itu tak keluar lagi, namun setelah beberapa saat ia sudah di gendong oleh kepala pengawal dan di ikuti beberapa pelayan yang ia perintahkan untuk mengecek kondisi istrinya.


Dress yang berubah warna menjadi merah terlihat begitu jelas di rekaman tersebut.


"Jangan lagi..." harap Hazel penuh cemas saat melihat rekaman tersebut.


Jantung nya berdegup kencang, rasa takut dan khawatir mulai menyelimutinya. Ia teringat kembali dimana ia harus memilih diantara salah satu.


Buah hatinya atau wanitanya.


......................


JBS hospital.


Hazel meminta kepala pengawalnya untuk membawa Alyss langsung ke rumah sakit menggunakan helikopter yang ia miliki agar wanita nya segera mendapat pertolongan nya.


Dengan langkah cepat dan tergesa-gesa Hazel langsung menghampiri istrinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Hazel saat melihat wajah prof. Diany


Wanita paruh baya itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan dari presdirnya. Membuat Hazel semakin was-was dan detak nya berdegup dengan cepat.


"Suhu tubuhnya turun dengan drastis...


Tapi bayi nya harus di keluarkan sekarang juga agar mereka selamat." jawab prof. Diany


Rasa panik membuat pria itu tak bisa mencerna maksud yang di katakan profesor kandungan yang sangat ahli tersebut.


"Maksud nya?" tanya Hazel bingung.


"Jika kami mengambil bayi nya sekarang dengan kondisi yang seperti ini akan sangat membahayakan nyonya, namun jika kita menunda operasi nya dan menunggu suhu tubuh nyonya menjadi normal maka...." jawab prof. Diany menghela nafas nya dengan berat.


"Kemungkinan 80% kita hanya akan mengangkat mayat bayi dari kandungan nyonya Alyss nantinya." terang prof. Diany dengan berat hati mengatakan kondisi Alyss yang sebenarnya.


Deg...


Dunianya serasa berputar mendengarkan penjelasan prof. Diany ia bahkan tak bisa berkata-kata lagi.


Pria itu ingin keduanya! Anak-anak nya dan istrinya!


"Sekarang bagaimana pilihan nya tuan? Mana yang akan kita pilih lebih dulu?" tanya prof. Diany lagi mendesak Hazel.


Hazel terdiam beberapa saat, pandangan nya terasa hitam, ia sudah terlalu banyak berinteraksi dengan baby twins nya sehingga membuat nya bingung. Lalu kemudian...


"Nyonya sadar!" ucap salah satu dokter yang lain yang berada dalam ruangan membawa kabar ke prof. Diany dan Hazel.


"Dia sudah sadar?" tanya Hazel langsung.


"Benar! Nyonya ingin bertemu dengan presdir!" jawab dokter tersebut.


Hazel pun langsung bergegas memasuki ruangan tersebut untuk bergegas menemui istrinya.


"Alyss?" panggil Hazel lirih melihat wanita nya yang berada di atas ranjang operasi dengan wajah yang sangat pucat.


"Hazel..." jawab nya lirih sembari berusaha meraih tangan jari telunjuk pria itu.


Genggaman tangan lemah yang terasa sangat dingin membuat pria itu terasa ingin bergetar. Sekarang ia sudah tak ragu lagi, yang harus ia pilih adalah wanita nya. Wanita yang ia anggap sebagai dunia nya.


"Aku mau operasi sekarang..." ucap Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan hingga membuat pria itu harus membungkuk agar bisa mendengar apa yang di katakan wanitanya.


Alyss sudah mendengar sayup pembicaraan dokter yang berada di ruang operasi itu tentang dirinya dan tentang kandungan nya.


"Iyah...


Nanti yah setelah suhu tubuh mu kembali normal..." jawab Hazel dengan suara lirih pada istrinya.


"Tidak...


Ku mohon...


Aku mau sekarang..." ucap Alyss menggeleng dan mulai menangis menjatuhkan bulir bulir bening yang melewati wajah pucat itu.


Hazel mulai berdiri tegap ia menatap wajah pucat istrinya yang menangis agar ia mengizinkan untuk segera melakukan operasi saat itu juga.


Mata sendu yang penuh pengharapan menatap ke arah pria yang mulai menunjukkan wajah tanpa ekspresi.


"Hazel...


Ku mohon...


Aku mau mereka..." pinta Alyss lagi pada pria di hadapan nya dengan suara tertahan, ia tau pria itu adalah raja di tempat itu. Hanya perintah dari pria itu yang bisa menentukan mana yang akan di selamatkan lebih dulu.


"Tapi aku mau nya kau..." jawab Hazel pada istrinya dan berusaha menggenggam erat jemarinya walaupun tangan nya melemah.


"Kau pernah janji akan mengabulkan satu permintaan ku, kan?" tanya Alyss sembari menatap suaminya.


"Permintaan ku adalah aku mau di operasi sekarang...


Hanya itu aku tak minta yang lain..." ucap Alyss lagi sembari semakin menjatuhkan bulir bening di mata. Entah karna sakit atau pun karna takut tak bisa memiliki bayi-bayi nya.


"Permintaan mu sama saja kau ingin..." ucap Hazel yang tak bisa melanjutkan kalimat nya dan menutup mata nya sesaat agar menetralkan kembali emosi nya.


"Tidak! Aku tak bisa!" ucap Hazel lagi dan membuat wanita itu semakin menangis.


"Kau kan sudah janji...


Tepati janji mu..." ucap Alyss lirih dengan semakin menjatuhkan bulir bening nya dan berusaha menggenggam erat jemari prianya.


"Alyss...


Kau tau kan? Aku bukan orang baik...


Dan aku tak mau menepati janji yang ku buat jika itu berisiko membawa mu pergi." jawab Hazel pada istrinya.


Perlahan ia mulai melepaskan tangan dingin istrinya yang sedang menggenggam jemarinya dengan sekuat tenaga yang wanita itu miliki. Tenaga yang semakin melemah.


"Maaf...


Kali ini saja...


Aku tak mau menepatinya..." ucap Hazel pada wanita yang terlihat semakin sendu di depan nya.


"Hazel...


Ku mohon..." pinta Alyss lagi dan berusaha meraih pria yang sedang berbalik ingin pergi dari ruangan itu.


"Kau!


Kalau kau ingin mengambil orang yang ku sayangi lagi..." ucap Alyss dengan sekuat tenaga yang ia miliki agar suara nya terdengar jelas.


Hazel pun berbalik melihat ke arah wanita yang lemas tak bertenaga dengan wajah pucat pasi yang belum jauh dari nya berdiri.


"Kalau kali ini kau mengambil anak ku lagi...


Aku juga akan mengambil orang yang kau sayangi..." ancam Alyss dengan air mata yang semakin berderai.


Mengambil orang yang kau sayangi.


Sama saja seperti ancaman bunuh diri pada pria itu.


"Kau tau aku tak suka ancaman kan?" tanya Hazel yang mengerti maksud ucapan Alyss.


"Aku tau...


Tapi aku sudah benar-benar tak memiliki apapun lagi..." jawab Alyss yang entah kenapa tersenyum saat air mata nya semakin jatuh seperti menertawakan kehidupan malang nya.


"Aku tak akan biarkan itu terjadi!" ucap Hazel pada wanita nya.


"Lakukan operasi setelah suhu tubuh nya normal dan tak membahayakan lagi." perintah Hazel pada seluruh dokter dan profesor di ruangan itu.


Sekali lagi ia mengambil keputusan yang menomorsatukan wanitanya.


Alyss semakin menjatuhkan bulir bening nya, sekarang ia hanya bisa berdoa jika anak yang ia kandung dapat bertahan hingga operasi mendatang.


Rasa sakit nya perlahan hilang, pandangan nya semakin mengabur dengan kelopak mata yang semakin berat seakan ingin segera di tutup.


Ku mohon...


Selamatkan mereka...


Pikiran yang selalu ingin kedua buah hatinya semakin redup saat anestesi mulai bekerja di seluruh tubuh kecil yang sedang hamil besar itu.


Hazel keluar dari ruangan itu, semakin ia disana melihat orang-orang ia cintai di ambang maut membuat nya terasa sesak.


Mata nya penuh pengharapan padanya untuk menyelamatkan anak-anak nya membuat nya goyah, namun jika ia melihat wajah pucat dengan tubuh yang sedingin es pada wanita nya membuat nya langsung memilih wanita itu tanpa ragu.


Tap...tap...tap...


Suara langkah kaki yang berlari dengan memenuhi lorong rumah sakit tersebut.


"Alyss gimana nak?" tanya Shelly dengan suara serak karna tangis pada menantunya.


Hazel menyuruh Rian mengabari mertua nya karna mereka berhak tau tentang kondisi anak mereka.


"Alyss akan baik-baik saja...


Aku yakin..." jawab Hazel lirih seperti linglung dengan keadaan sekitar.


"Astaga...


Anak ku..." ucap Shelly semakin takut saat mendengar suara Hazel yang terdengar lirih.


Udah...


Doa yah mah..." ucap Dion menenangkan istrinya.


Tak lama kemudian Larescha pun datang, ia tau karna Rian yang tak sengaja memberi tau kondisi Alyss karna istrinya terus mendesak nya.


"Lily gimana?" tanya Larescha khawatir dengan suara tertahan, wanita itu benar-benar mengangap Alyss sebagai saudarinya.


Jika saja ia dulu tau alasan sebenarnya Alyss hilang selama dua tahun karna disiksa suaminya ia juga pasti akan membenci Hazel sama seperti kedua orang tua sahabat nya.


Hazel berdiri dan terdiam beberapa saat melihat kedua orang paruh baya yang sedang merasa takut kehilangan orang yang mereka sayangi dan wanita yang menjadi istri teman nya sedang menangis.


Membuat ia semakin yakin jika ia sudah memilih pilihan yang tepat.


......................


Hazel pov.


Alyss...


Disini banyak yang menyayangi mu...


Banyak yang menunggu mu.


Aku tau keputusan ku ingin selalu dengan mu terlihat egois...


Tapi aku juga tak tau bagaimana caranya agar bisa berhenti...


Berhenti menjadi pria yang tak kau sukai...


Berhenti menjadi egoia karna terlalu menyukai mu...


Maaf...


Maaf karna aku terlalu mencintai mu...


Tak masalah bagi ku jika aku harus menjadi pria jahat bahkan lebih jahat dari yang kau bayangkan...


Jika dengan seperti itu bisa membuat mu tetap bersama ku...


Hazel pov end.


......................


Hazel mengalihkan pandangan nya pada pria yang terus memanggil nya.


"Hazel? Kau tak apa?" tanya Rian memastikan.


"Kita perlu bicara..." ucap Hazel pada Rian saat melihat wajah pria itu.


Hazel pun melangkahkan kaki nya menjauhi


mertua dan teman istrinya agar mereka tak mendengar pembicaraan yang ingin ia katakan.


"Cari pengganti mereka." ucap Hazel dengan suara lirih memberikan perintah.


"Pengganti? Pengganti siapa?" tanya Rian bingung mendengar perintah teman nya.


"Anak-anak ku...


Cari yang bayi yang lahir sepasang jika anak-anak ku tak selamat..." ucap Hazel lagi, ia takut Alyss akan benar-benar bunuh diri dan sulit mengendalikan wanita itu jika sedang depresi.


"Kau mau menukar anak mu?" tanya Rian yang tak habis pikir.


"Iya...


Aku bisa lakukan apa saja." jawab Hazel.


Apa saja untuk nya...


Bahkan jika harus menjadi iblis sekalipun...


"Jangan ada yang tau tentang ini selain kau dan aku jika kita benar-benar menukar bayi nya." ucap Hazel lagi pada Rian.


Ia sudah benar-benar seputus-asa itu untuk mempertahankan wanita nya.


"Baik, aku akan cari secepat mungkin..." jawab Rian mengindahkan perintah dari atasan sekaligus teman nya.


Rian pun pergi dan meninggalkan Hazel sendiri, kaki nya langsung terasa lemas membuat nya tak dapat lagi menopang tubuh kekarnya.


Pria itu terjatuh dengan menyandarkan tubuhnya ke tembok dan terduduk di lantai.


Mata nya menatap kosong ke depan melihat lukisan abstrak di dinding yang menjadi hiasan di rumah sakit itu agar pasien dan pengunjung ataupun dokter tak merasa bosan.


Ku mohon...


Selamatkan mereka...


Harap Hazel penuh cemas pada istri dan calon anak-anak nya.


......................


8 Jam kemudian.


Semua nya menunggu dengan harap cemas pada keadaan Alyss menunggu seseorang untuk segera dari pintu operasi tersebut kecuali pria yang menjadi suami dari wanita yang sedang dioperasi itu.


Saat operasi sudah mulai di lakukan pria itu masuk ke ruang operasi agar bisa terus melihat keadaan istri dan calon anak-anak nya.


"Bagaimana?" tanya Hazel saat melihat prof Diany mengambil putra nya lebih dulu.


Huee...


Huhu.. Huaaa.....


Suara tangisan memenuhi ruangan operasi tersebut seketika terulas senyum di bibir pria itu saat mendengar suara tangisan yang menggema di telinganya.


Hazel pun menatap wajah Alyss yang tak sadar karna di bius total, memang prosedur yang harus di jalankan seperti itu karna kondisi Alyss tak seperti prosedur operasi melahirkan yang biasa.


Ia mulai menggenggam tangan kecil istrinya, yang masih tak sadar.


Prof. Diany pun mulai mengambil salah satu calon anak dari presdir nya. Tangan nya mulai menarik putri bungsu dari JBS group tersebut.


Hening....


Tak ada tangisan nya sama sekali pada bayi perempuan itu, berbeda dengan kakak nya yang langsung menangis saat ia melihat dunia.


Sang adik malah tak bersuara dan tetap memejamkan matanya.


Prof. Diany yang melihat hal itu pun langsung melakukan tindakan cepat begitu juga dengan prof. Vika yang merupakan dokter spesialis anak yang di tempat kan di ruangan itu juga agar bisa memantau malaikat kecil yang masih polos itu saat terlahir ke dunia.


"Dia memiliki detak!" ucap prof. Vika setelah melakukan CPR pada bayi malang itu.


Jantung Hazel berdegup keras melihat putri nya yang berada di ambang maut, sebenarnya putra nya selamat saja itu merupakan suatu keajaiban.


Karna tingkat kematian sebanyak 80% saat Hazel memilih istrinya di operasi setelah suhu nya tubuh nya normal.


Huee....


Hua...


Huhu....


Suara tangisan dari putri nya mulai terdengar nyaring setelah di cubit kecil beberapa kali agar membangunkan bayi perempuan itu.


Namun bayi perempuan itu tetap harus mendapat perawatan untuk pemeriksaan lebih lanjut karna terlihat masalah saat ia baru di lahirkan.


Pip...pip...pip...


Suara monitoring yang tiba-tiba berbunyi dengan kuat di tubuh sang ibu membuat semua prof dan dokter terkejut tak terkecuali Hazel.


"Dia kenapa? Bukan nya kau sudah pastikan dia bisa melakukan operasi?!" tanya Hazel dengan penuh kekhwatiran menatap istrinya lalu menatap prof tersebut.


Operasi yang di jalankan sudah sesuai prosedur dan para dokter serta prof tak melakukan kesalahan sedikit pun.


Namun tubuh wanita itu tiba-tiba mengalami penurunan yang mendadak tanpa sebab pasti, lebih tepat nya karna penyakit nya yang membuat kondisi menurun drastis tiba-tiba.


"Serangan jantung!" ucap salah satu dokter setelah memastikan kondisi Alyss.


Senyum yang sebelum nya terulas kini jatuh saat melihat wanita nya berada di ambang maut lagi, ia sudah memilih wanita itu lebih dulu.


Tapi kenapa?


Kenapa dia masih dalam bahaya?


Monitoring yang membunyikan tanda bahaya nya memenuhi ruangan dan memekakan telinga pria itu yang hanya bisa menatap wajah istrinya yang semakin pucat dan sedang ditangani oleh para dokter.


Terimakasih...


Aku setidaknya sudah benar-benar jadi ibu...


Keinginan semua wanita yang sudah menikahi pria yang di cintai nya...


Jika aku bisa egois sekali lagi...


Biarkan aku memiliki kata perpisahan yang bisa ku ucapkan pada nya...


Keinginan ku memang banyak...


Tapi ini keinginan ku yang terakhir...


Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada pria itu...


Mr. Bear yang ku cintai...


...****************...


huhu othor ga bisa berkata-kata lagi lah😭😭😭😭


Happy Reading♥️♥️


Othor suka membuat cerita tak bisa kalian tebak🤧😅