(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Aturan baru



Bab sebelumnya..


"Baik lah, akan ku pertimbangkan asalkan..." bisik Hazel di telinga Alyss.


......................


"A-apa yang kau lakukan?" ucap Alyss yang terbata saat merasakan hembusan hangat napas Hazel di telinganya.


Hazel tak menjawab pertanyaan Alyss dan malah menciumi dan menggigit lembut telinga Alyss.


"Ge-geli....


Sudah hentikan, hihi...


Jangan telinga..., aku tak bisa ditelinga hihi..." ucap Alyss yang setengah tertawa pada Hazel, sembari menahan geli di telinganya.


Hazel pun melepaskan gigitan nya di telinga Alyss, dan melihat daun telinga Alyss yang memerah karna perbuatannya.


Ia kemudian mengarahkan pandangan nya ke wajah Alyss.


"Lihat aku." ucap Hazel sembari menggeser dagu Alyss agar wajah mereka saling berhadapan.


Mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain, Hazel menatap lekat iris mata Alyss.


"Kau bilang kau bisa memberikan apapun yang ku inginkan, bukan? Dan aku menginginkanmu. Aku bisa mempertimbangkan permintaan mu, asalkan kau bisa menunjukkan ketulusan mu." ucap Hazel sembari menatap lekat Alyss.


"Ketulusan? A-akan ku tunjukkan, ta-tapi bisakah kau bangun lebih dulu?" ucap Alyss dengan berusaha mendorong pelan tubuh Hazel.


Hazel hanya tersenyum, saat merasa Alyss mendorong nya pelan.


"Bukankah harus nya kau menunjukkan nya sekarang?" ucap Hazel tersenyum dan langsung mencium bibir Alyss, tanpa menunggu jawaban dari Alyss.


Mata Alyss terbelalak saat Hazel mencium bibir nya tiba-tiba, tetapi kali ini bukan seperti ciuman yang biasa di layangkan Hazel padanya.


Ciuman kali ini begitu lembut, Hazel tidak tergesa-gesa dalam mencium Alyss, tangan yang tadinya, berusaha mendorong tubuh kekar itu kini mulai melemah.


Alyss mulai merasa terhanyut dan memejamkan matanya. Dan jujur saja walaupun dia mulai terlena dengan apa yang dilakukan Hazel tetap saja masih ada sisa-sisa perasaan takut dan trauma di hatinya.


"Apa tidak apa-apa seperti ini? Jika hanya mencium ku akan baik-baik saja kan? Lagipula dia sudah melakukan hal itu padaku.


Apa yang ku lakukan sekarang sudah tepat?" batin Alyss saat merasakan ciuman Hazel yang semakin dalam padanya.


Merasa sudah tidak ada penolakan dari Alyss tangan yang sebelum nya hanya diam kini mulai menjalar dan menjelajahi tubuh kecil itu.


Alyss kembali terkejut saat tangan Hazel menyusup ke pakaian nya, saat itu Alyss yang mengenakan dress longgar dengan panjang yang hanya sampai paha nya. Sontak saja dia langsung sadar dan menghentikan tangan Hazel.


"Ja-jangan...." ucap nya lirih dengan mata risau yang memohon pada Hazel.


"Kau bilang, kau akan melakukan apapun." jawab Hazel kemudian langsung turun mencium ke arah lengkung leher Alyss.


"I-iya...


Ta-tapi aku..." ucap Alyss terbata-bata.


Hazel tak menghiraukan ucapan Alyss dan terus menciumi leher Alyss, ciuman Hazel kini sudah mulai tak terkendali, ia meninggalkan banyak bekas merah di leher Alyss.


Ia pun tak menghentikan tangan nya, yang terus menyusup di balik pakaian Alyss.


Dan tangan kecil Alyss pun yang tak henti-henti berusaha mendorong kepala Hazel, dan menghentikan tangan yang menyusup di balik pakaian nya yang sedang menjelajahi tubuh kecil itu.


"A-aku sedang datang bulan." ucap Alyss tiba-tiba pada Hazel.


Hazel menghentikan ciuman di leher Alyss dan kembali menatap Alyss.


"Sejak kapan?" tanya nya dengan dingin pada Alyss.


"Ta-tadi pagi..." jawab Alyss lirih.


Hazel tertawa kecil mendengar jawaban Alyss.


"Benarkah? Aku tak suka anak nakal yang suka berbohong." ucap Hazel dengan seringai di wajahnya.


"A-aku tak berbohong!" sanggah Alyss pada Hazel.


Hazel melihat mata Alyss yang cemas dan risau menatap kesana dan kesini.


"Ku rasa kau tak memakai pembalut, bukankah wanita biasanya menggunakannya? Kau bilang kau datang bulan pagi ini kan?" ucap Hazel yang makin tersenyum.


Tentu saja Hazel dapat merasakannya, karna tangan nya baru saja menjelajahi dan menjalar ke setiap lengkuk tubuh yang berlapis dengan kulit putih itu.


Alyss menjadi sangat gelisah, wajah nya mulai terlihat pucat, ia ketahuan jika sedang berbohong. Alyss memang sedang tidak datang bulan, ia hanya berasalan agar Hazel tak menyentuh nya hari ini.


Melihat wajah Alyss yang gelisah, Hazel semakin tersenyum.


"Menurutmu hukuman apa yang harus kuberikan pada anak yang suka berbohong? Hm?" ucap Hazel dengan wajah tersenyum psycho miliknya.


Bukan ini yang Alyss mau, memang ia ingin merayu dan membujuk Hazel, menunjukkan ketulusan, dan kasih sayang seperti yang ia katakan, tapi bukan menggunakan tubuhnya!


Sekarang walaupun Alyss merasa menyesal dan ingin mundur, ia sudah tidak ada gunanya lagi, sekarang ia harus meredakan emosi dan hasrat pada diri Hazel. Atau ia akan menerima konsekuensi yang lebih buruk lagi.


"Aku akan bersikap lebih baik, jika kau tak menangis. Kau mengerti? jika aku mendengar tangisan mu aku akan menghukum mu lebih buruk lagi." ucap Hazel memperingatkan Alyss.


Alyss meneguk saliva nya dengan kasar, ia hanya mengangguk kecil mengindahkan peringatan dari Hazel. Jantung nya berdebar sangat cepat, tubuh nya mulai gemetaran. Ia tau apa yang akan terjadi padanya saat ini.


Melihat Alyss yang mulai diam menurut, Hazel kembali mencium bibir Alyss.


Hazel melepas ciumannya.


"Buka bibir mu, dan balas ciuman ku." ucap Hazel saat ia merasa Alyss yang tak memberikan respon apapun pada nya.


Tanpa menunggu jawaban apapun Hazel kembali ******* bibir kecil itu, Alyss pun menurut dengan apa yang di katakan Hazel.


Hazel pun menurunkan ciumannya, ke lengkung leher Alyss lagi setelah itu ia mencium pun bahu Alyss.


Dan tak lama kemudian...


"AKHH!! Sa-sakit." ucap Alyss terpekik saat Hazel tiba-tiba menggigit bahu Alyss.


Alyss merasa darah nya mengalir hingga ke sofa tempat yang sedang ia tiduri sekarang.


Alyss hanya menggigit bibir bawahnya dan meremas kemeja Hazel menahan perih dan sakit di bahu nya.


Ia meringis kecil dan cairan putih bening yang tak dapat terbendung oleh kelopak mata nya akhirnya jatuh dari ujung mata sayu itu.


Hazel pun melepaskan gigitannya di bahu Alyss, ia melihat bahu Alyss yang terluka, darah yang menetes perlahan keluar membasahi sofa nya.


Hazel mengusap sisa darah di bibir nya, dan kembali melihat wajah Alyss dengan mata merah yang sembab.


"Sepertinya aku benar-benar menyukaimu, aku bahkan menyukai darah mu." ucap Hazel menyeringai pada Alyss.


Deg...


Jantung Alyss benar-benar terasa sesak, tubuhnya makin gemetaran mendengar ucapan Hazel barusan.


Melihat wajah Alyss yang semakin pucat, Hazel tersenyum, dan mulai berbisik.


"Itu hukuman mu karna berbohong barusan, dan sekarang ku harap kau tidak menolak ku seperti sebelum nya, atau ini akan terasa sakit. Mengerti?"


Alyss mengangguk pelan saat mendengar bisikan Hazel di telinga nya. Merasa Alyss kini sudah mulai menurut, Hazel pun bangun dan membawa Alyss ke kamar nya, dengan mengendong ala bridal style.


Setelah sampai di kamar Hazel merebahkan tubuh Alyss perlahan dan mulai membuka pakaian Alyss serta pakaian nya sendiri.


Setelah itu, Hazel mulai melanjutkan aksinya.


Malam itu Hazel kembali bermain dan memiliki tubuh Alyss lagi.


......................


Tak terasa pagi mulai datang, cahaya terang mulai menyeruak masuk, Alyss mulai terbangun dari tidurnya, ia tak tau kapan ia tertidur, ia hanya mengingat bahwa kemarin ia merasa sangat lelah dan pandangan nya mulai gelap.


Alyss berusaha bergerak ingin bangun, namun terasa sangat sulit karna Hazel sedang mendekap erat tubuh nya.


Merasa Alyss yang menggeliat dan bergerak kesana kemari membuat Hazel terbangun dari tidur nya.


"Mau kemana kau?" suara parau Hazel membuat Alyss membatu.


Alyss mengandah dan melihat wajah Hazel. Ia hanya diam dan menatap nanar iris Hazel.


Hazel pun melakukan hal yang sama, setelah saling menatap satu sama lain Hazel pun mengarahkan kepala Alyss ke dada nya menenggelamkan wajah Alyss lagi ke dada bidang nya.


"Pe-perih..." ucap Alyss lirih saat luka di bahu nya tersenggol oleh Hazel.


Memang saat terbangun Alyss sangat lelah, dan seluruh tubuh nya terasa sakit dan pegal, belum lagi luka di bahu nya yang benar-benar terasa perih.


"Sudah.. sudah...


Akan ku obati nanti, dan kita juga akan membuat aturan baru, aku akan mengizinkan mu keluar asalkan kau bisa mengikuti aturan yang ku buat." ucap Hazel sembari terus memeluk Alyss, dan masih memejamkan matanya, karna rasa kantuk yang masih tersisa.


...****************...


**Hai..


Jangan lupa like, Komen, dan Rate 5 nya yah hihi🤗


Jangan lupa juga vote dan favoritkan😉


Maaf kalo ada typo yang bertebaran hihi...


Happy Reading🥰🥰🌹🌹**