(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Dear



Hotel.


Air mata gadis itu meleleh dari iris nya yang bergetar melihat pria yang semakin mendatangi nya.


"Ja-jangan...


Ku mohon..." suara nya bergetar dan semakin menyeret tubuh nya menjauh walaupun itu usaha yang sia-sia.


Louis pun berjongkok dan memegang rahang gadis itu, mata nya melihat dan memperhatikan Clara yang sudah sangat gemetaran di depan nya.


"Sekarang kau memohon, tadi kau kabur keluar hanya untuk berciuman dengan nya..." ucap Louis pada gadis itu.


Clara tak menjawab dan hanya menjatuhkan bulir bening dari mata nya hingga menyentuh tangan kekar yang sedang mencengkram nya.


"Kalau kau tak bisa jalan, kau tidak akan kabur lagi kan?" sambung Louis dengan pertanyaan yang bagi nya tak ada salahnya sama sekali.


"A-aku tak akan keluar lagi..." jawab Clara dengan suara gemetar dan serak karna tangis nya.


"Kau mau putus dengan nya?" tanya Louis pada gadis itu dengan mulai tersenyum.


Seperti insting cara bertahan hidup gadis itu pun mengangguk mendengar ucapan atasan nya.


"Ja-jangan pukul pakai itu..." ucap Clara lirih.


"Katakan I Love you dan aku tak akan memukul mu..." titah Louis dengan senyum mengembang di bibir nya.


Clara terdiam, ia bahkan sama sekali belum memiliki perasaan pada pria itu namun di suruh untuk mengatakan I love you?


"Kenapa diam?!" tanya Louis dengan langsung menjatuhkan senyum nya.


Pria itu pun berdiri dan langsung mengayunkan meja tersebut.


"Love you!" ucap Clara cepat sebelum meja kayu tersebut di pukul ke kaki nya.


Louis pun sontak berhenti dan melihat gadis itu, ia tersenyum dan tak memukul Clara. Pria itu pun mengulurkan tangan nya agar gadis itu bisa bangun.


"Auch!" ringis Clara saat pergelangan kaki nya yang sangat sakit karna di putar pria itu.


"Anak pintar...


Lain kali kau seperti ini lagi aku tak memberikan kompensasi lagi..." ucap Louis sembari mengelus dengan lembut kepala gadis itu.


Sedang Clara hanya menangis tak bisa menjawab apapun. Saat pria itu belum menyukai dirinya ia selalu mendapat penghinaan dalam bentuk verbal dan non verbal. Saat pria tak punya hati itu sudah menyukai nya, sekarang hidup nya bukan lagi milik nya.


......................


Kediaman Rai.


Louise meringkuk di atas ranjangnya. Terkadang lolos rintihan menahan sakit dari bibir nya.


Kenapa sakit sekali? Berapa lama aku tak dapat obat?


Batin gadis itu saat menahan sakit di tubuh nya, ia sudah memeriksa sekilas keadaan dirinya. Detak nya sama sekali tak normal. Namun itu semua bisa teratasi saat ia minum obat yang biasa di suntikan pada nya.


"Bekas suntikan? Kenapa di tangan ku ada bekas suntikan lain?" gumam gadis itu saat terdapat bekas suntikan lain di tangan nya.


Walaupun sudah beberapa hari namun jejak bekas transfusi darah nya masih tertinggal di kulit nya yang seputih susu tersebut.


Apa aku telpon dr. Siska?


Batin gadis itu saat ia merasakan sakit yang berbeda. Ia tau kondisi nya saat ini memerlukan pemeriksaan laboratorium lengkap untuk mengetahui nya.


......................


JBS Hospital.


Zayn yang berdiri di samping Louise dapat melihat wajah pucat dari teman cantik nya itu.


Sebelum nya ia menelpon gadis itu untuk mengajak keluar karna pameran yang ia lakukan benar-benar berhasil.


Namun kegembiraan nya runtuh ketika gadis itu mengatakan jika ia sedang sakit. Zayn pun langsung bergegas menghampiri nya.


Setelah melakukan semua proses pemeriksaa yang merumitkan dan panjang, gadis itu hanya tinggal menunggu hasil nya.


"Kenapa bisa sampai begini sih? Kau tak minum obat mu? Melewati larangan?" tanya Zayn pada Louise yang sedang menunggu di kamar perawatan yang mirip dengan kamar pribadi karna terus di dekorasi ulang sejak ia kecil agar membuat nya nyaman.


"Aku tidak tau...


Aku tetap minum obat dan tak melakukan apapun yang membahayakan..." jawab Louise lirih dengan wajah pucat nya.


"Lalu ini apa? Di punggung mu juga ada! Kenapa memakai tato?!" tanya Zayn pada gadis itu dan yang lebih membuat nya kesal adalah nama pria yang terukir di tangan sahabat cantik nya.


"Kenapa tak boleh?! Louis bisa pakai tato! Kau juga bisa! Kenapa aku tak boleh?!" jawab Louise yang mulai ikut kesal.


Semakin lama pertemanan nya dengan Zayn semakin berubah ke pertemanan yang mengikat.


"Karna kau beda Louise!" jawab Zayn kesal. Dirinya sudah sangat khawatir namun gadis itu terlihat tak merasa apapun dan bahkan mencoba berdalih atas pembenaran yang ia lakukan.


"Memang nya kenapa? Hanya karna kau lebih sehat dari ku?!" tanya Louise pada pria itu yang sama sekali tak mengerti kekhawatiran teman nya.


Belum sempat Zayn menjawab dokter yang menangani Louise pun sudah datang dengan membawa hasil pemeriksaan lain nya.


"Maaf menggangu sebentar. Kami sudah melakukan pemeriksaan pada nona Louise. Dan kami menemukan Zat lain di tubuh nona.


Apa nona menggunakan obat lain selama beberapa hari terakhir?" tanya prof. Nata pada Louise.


"Tidak! Aku tak menggunakan obat apapun." jawab Loiuse jujur karna selama James memberinya obat lain ia dalam keadaan tak sadar.


"Karna obat itu yang memberikan perlawanan saat nona memakai obat yang biasa di gunakan membuat kedua reaksi yang berbeda di tubuh. Hal ini memang tak membahayakan namun memberikan rasa sakit yang luar biasa saat obat asli nona di masukan." terang prof. Nata.


"Bukan hanya itu kan?" tanya Louise lagi yang menyadari ada yang berbeda dengan nya.


"Anemia hemolitik nona juga semakin parah dalam beberapa hari. Apa nona sempat kehilangan darah? Kami akan memberikan nona transfusi darah nona yang di simpan saat ini untuk menambah jumlah Hb." jawab prof. Nata.


Darah yang selalu diambil saat kondisi gadis itu baik-baik saja dapat di simpan hingga satu tahun dengan teknologi yang di miliki di rumah sakit nya. Walaupun umum nya darah hanya bisa di simpan hingga 42 hari.


"Tidak juga...


Aku tak memiliki luka apapun..." jawab Louise pada prof. Nata.


"Jantung nona juga tak stabil selama beberapa hari terakhir. Kemungkinan besar penyakit nona kambuh dan tidak mendapatkan obat dengan segera dan hal itu yang semakin memperparah keadaan nona." ucap prof. Nata.


"Hm...


Kalau itu aku sudah tau...


Tapi yang aku tak tau kenapa bisa kambuh..." jawab Louise lirih.


"Kami akan membersihkan sisa obat asing di tubuh nona, dan setelah itu memberikan obat yang harus nya nona gunakan dan juga melakukan transfusi untuk menambah darah nona." ucap prof. Nata yang memberitau prosedur pengobatan selanjut nya dan pamit keluar.


Kini hanya tinggal Zayn dan gadis itu lagi di ruangan tersebut.


"Louise...


Maaf..." ucap Zayn lirih karna merasa bersalah sudah memulai pertengkaran tak seharusnya pada gadis cantik itu.


"Tidak apa-apa...


Tapi aku masih bingung, kenapa aku seperti tak tau apapun? Kepala ku sakit..." keluh Louise pada sahabat nya yang tak merasa marah sedikit pun walaupun tadi Zayn sempat memarahinya.


"Sakit? Mau aku panggilkan prof. Nata lagi? Mungkin ada yang terlewat saat pemeriksaan..." ucap Zayn dengan nada khawatir dan melihat ke arah wajah dan kepala gadis itu.


"Bukan sakit seperti itu Zayn...


Hanya seperti melupakan sesuatu yang penting..." jawab Louise pada teman nya.


Zayn diam sejenak, ia melihat dengan penuh rasa khawatir dan juga ingin menanyakan siapa yang membuat nama pria di tangan gadis itu.


"Kau mau tanya sesuatu? Kalau mau tanyakan saja..." ucap Louise yang dapat membaca gerak wajah pria itu.


"Nama siapa yang kau buat di tangan mu?" tanya Zayn lirih.


Louise terdiam walaupun ingatan nya sempat samar namun ia sudah mengingat keseluruhan tentang James kecuali hutan.


"Waktu aku bilang punya gadis yang disuka, kau juga cemburu! Masa aku tak boleh cemburu!" jawab Zayn kesal namun orang yang melihat nya bukan nya jengkel melainkan merasa gemas.


"My baby Zayn sudah besar..." ucap Louise gemas dan mencubit kedua sisi pipi pria tampan itu.


"Louise!" panggil Zayn kesal dan langsung melepaskan tangan gadis itu.


"Aku juga tidak tau...


Seseorang yang membuat nya..." jawab Louise jujur pada Zayn, karna ia juga tak tau siapa itu Xavier Haider.


"Lalu kenapa bisa ada?! Kau tidak tau siapa yang buat?!" tanya Zayn lagi.


"Tau! Pacar ku yang buat." jawab Louise yang menunjukan senyuman tanpa beban nya.


Nyut...


Hati pria itu terasa di patahkan seketika begitu mendengar ucapan gadis itu yang tanpa sadar menyakitinya.


"Kau ini sangat suka pada nya yah?!" tanya Zayn lagi dan tak bisa menyembunyikan raut wajah nya.


"Suka!" jawab Louise jelas pada pria itu.


Zayn terdiam, ia mengalihkan pandangan nya ke arah lain, tak menatap gadis itu lagi.


"Tapi lebih suka pada mu!" sambung Louise yang tersenyum cantik di tengah wajah pucat nya.


Zayn pun yang mendengar hal itu langsung mengalihkan pandangan nya lagi ke arah gadis itu, ia menatap dengan penuh senyuman di wajah nya.


"Aku juga paling suka dengan mu!" balas Zayn pada gadis itu.


"Sungguh?" tanya Louise pada Zayn.


"Hm...


Dibandingkan dengan yang lain, aku paling menyukai mu!" jawab Zayn dengan penuh semangat.


"Dibandingkan dengan gadis yang kau sukai?" tanya Louise lagi.


Cup...


"Tentu saja kau..." jawab Zayn setelah mengecup pipi pucat gadis itu.


Selain ciuman bibir, ia tentu nya sering mencium pipi gadis itu dan Louise yang merasa tak ada yang aneh karna ia menganggap jika Zayn sama seperti Louis.


Louis atau bahkan dirinya sendiri juga sering mencium pipi atau kening seperti saat masih dengan ibu atau ayah mereka saat masih hidup. Hanya saja mereka tetap melakukan batasan sebagai saudara kandung.


"Masih marah?" tanya Louise lagi pada Zayn.


"Marah? Marah kenapa?" tanya Zayn bingung.


"Tadi kau kelihatan marah..." jawab Louise yang tentunya tau jika sahabat nya itu sedang dalam suasana hati yang sebelum nya.


"Sekarang sudah tidak!" jawab Zayn tersenyum cerah, ia memang tak dapat menyembunyikan ekspresi nya jika sedang kesal atau marah karna cemburu yang tak beralasan pada gadis itu.


Louise ikut tersenyum. Ia semakin sulit membedakan posisi ruang di hati nya yang ia miliki untuk teman dan pria yang menjadi kekasih dengan kesepakatan dengan nya.


Perasaan yang ia sendiri pun tak bisa membedakan yang mana suka dan cinta pada kedua pria yang mulai membuat nya bingung.


......................


Hotel.


Louis yang meletakkan kaki gadis itu diatas paha nya dan mengompres warna membiru karna ia memelintir nya tadi siang.


"Masih sakit yah? Mau tinggal dengan ku saja sampai sembuh? Kalau kau mau kau bisa tinggal dengan ku dan Louise." ucap Louis yang semakin ingin membuat gadis itu tinggal dengan membawa nama adik nya.


"Anda tidak takut saya mengatakan kalau yang melukai saya pada Louise?" tanya Clara dengan memasang wajah tak suka dan benci.


"Auch!" ringis nya langsung saat kantung es yang di kompres di kaki nya di tekan kuat.


"Bilang saja kalau berani." jawab Louis dengan senyuman simpul dan membuat nyali Clara menciut.


Louis pun tau jika adik nya mengetahui ia kembali menyakiti gadis yang sudah di jadikan teman selain Zayn, pasti akan menimbulkan pertengkaran dan perang dingin lagi.


Jujur saja ia tak ingin bertengkar dengan adik nya, ia sangat takut adik satu-satu nya akan sakit lagi nanti nya. Ia memang sangat mencintai dan menyayangi saudara kembar nya sebagai saudara namun rasa cinta dan sayang nya berbeda saat dengan Clara.


"Omong-omong...


Kau memanggil nya dengan sebutan yang akrab tapi kenapa tidak dengan ku?" tanya Louis yang juga ingin di sapa akrab.


"Saya lebih suka bahasa yang formal." jawab Clara dengan nada tak ramah pada Louis.


"Kalau hanya kita berdua panggil nama ku saja!" ucap Louis pada gadis itu.


"Saya lebih suka memanggil dengan sebutan Presdir." jawab Clara yang masih kukuh tak ingin memanggil nama pria itu langsung.


"Yasudah! Panggil sayang saja!" ucap Louis pada gadis itu.


Clara langsung memasang wajah tak suka nya, di suruh memanggil nama nya saja ia tak mau namun kini malah di suruh memanggil sayang?


"Kenapa diam? Coba panggil Sayang pada ku..." titah Louis pada gadis itu.


Clara diam, ia tak mau mengatakan hal yang di inginkan pria tampan itu pada nya.


Louis pun langsung merubah ekspresi nya dengan sekejap dari tersenyum berubah ke wajah datar dengan lirikan tajam.


"Auch!" ringis Clara saat pria tampan itu menekan ke arah kaki nya yang terasa sakit.


"Sa-sayang..." ucap Clara yang meringis. Ia tau sebelum pria itu mendapat apa yang ia inginkan pasti akan terus membuat nya merasa sakit.


"Iya...


Aku juga sayang pada mu..." balas Louis yang menghentikan tangan nya dan tersenyum pada gadis itu.


Clara mendesah kasar melihat perubahan wajah pria itu yang tak bisa di tebak sedetik marah dan sedetik kemudian tersenyum layak nya anak kecil yang polos.


"Kaki mu masih sakit, kan? Kau tinggal di tempat ku saja nanti setelah kita kembali...


Ada Louise juga kok..." ucap Louis yang kembali mengompres dengan lembut. Ia mengajak gadis itu tinggal dengan menggunakan nama adik nya.


"Saya bis-"


"Kenapa pakai bahasa formal lagi?!" potong Louis langsung.


Clara menarik nafas nya dengan jengah akan sikap pria tampan itu pada nya.


"Aku bisa tinggal sendiri dengan baik." ucap Clara yang memperbaiki pengucapan nya.


"Kalau aku putar kedua kaki mu, kau baru mau tinggal?" tanya Louis sembari mengelus kaki kiri gadis itu yang tidak sakit sama sekali.


"Aku bisa mengurus diri ku sendiri, tak membutuhkan bantuan mu." ucap Clara pada pria itu.


"Kalau begitu aku patahkan juga sekalian dengan tangan mu nanti!" ucap Louis dan bersiap memutar kaki kiri gadis itu.


Mata Clara membulat dengan sempurna, ia sangat takut jika Louis benar-benar melakukan perbuatan gila nya lagi.


"Aku tinggal! Kalau ada Louise...


Aku mau tinggal..." ucap Clara karna takut pria itu benar-benar melakukan apa yang di katakan padanya.


Louis tersenyum melihat Clara, Ia pun menggendong gadis itu ke ranjang dan menidurkan nya.


"Kalau seperti ini kan aku suka..." ucap Louis sembari ikut tidur dan memeluk gadis itu.


...*********...



Zayn Nathan Etrama