(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Yang lebih mengerikan dari pada rasa takut



Deruan angin lembut menerpa wajah cantik itu, melihat langit malam yang berwarna gelap namun di hiasi dengan kelap-kelip bintang malam.


"Masuk yah...


Nanti sakit, sudah malam...." ucap seorang pria lembut sembari menyentuh bahu wanita nya dan mulai mendekap tubuh kecil itu dari belakang.


"Hazel...


Ini seperti tak nyata yah..." ucap lirih wanita itu yang mulai menyandarkan kepala nya ke dada bidang suaminya.


"Tak nyata? Maksud mu?" tanya Hazel bingung menanggapi ucapan sang istri.


"Contoh nya...


Seperti kita yang bertemu lagi..." jawab Alyss lirih.


"Seperti aku bisa mencintai mu...


Bisa punya anak...


Dan masih bernafas sampai saat ini..." sambung nya lagi dengan tawa kecil dan memiliki sorot yang sulit diartikan.


"Hidup tidak bisa di tebak yah?" tanya nya seperti sedang mentertawakan takdir yang sangat suka mempermainkan nya.


"Hm...


Aku juga tak menyangka akan menyukai seseorang..." jawab Hazel sembari memeluk wanita nya.


"Oh iya ada yang ingin ku tanyakan..." ucap Alyss lagi.


"Apa itu?" tanya Hazel sembari meletakkan dagu nya diatas kepala wanita yang ia dekap dari belakang.


"Kau tak membunuh orang lain lagi kan? Kau tak melakukan hobi itu lagi kan?" tanya Alyss lirih, alasan ia tak pernah menanyakan adalah karna ia takut akan jawaban yang di berikan pria itu.


Hazel terdiam sejenak, kalau di tanya dia membunuh orang lain lagi. Jawaban nya adalah Iya dan Tidak. Karna kali ini ia tak menghabisi nyawa untuk bersenang-senang melainkan untuk mengembangkan pembaruan obat terus menerus untuk istrinya.


"Kenapa diam? Kau masih melakukan nya?" tanya Alyss mengerutkan dahi nya dan menoleh ke belakang ke arah suaminya.


"Kalau aku masih melakukan nya, kau akan marah?" jawab pria itu dengan pertanyaan lain.


"Tentu saja! Nyawa bukan mainan! Kalau kau membunuh orang lain hanya untuk bersenang-senang itu kan salah!" ucap Alyss dengan nada tinggi.


"Aku tau yang kau pikirkan sekarang...


Kau pasti berpikir kalau membunuh orang yang jahat dan mengancam nyawa tak apa kan? Lain hal nya dengan bersenang-senang?" tanya Hazel.


Wanita yang berada di dekapan nya terdiam beberapa saat, ia tau yang di katakan pria yang menjadi suaminya sangat benar karna ia memang memikirkan hal itu.


"Aku dulu juga begitu saat pertama kali membunuh...


Pembunuhan tak sengaja...


Lalu seperti yang kau pikirkan lalu menjadi seperti sekarang..." ucap Hazel pada wanita nya.


"Maka nya aku tak mau seperti mu." jawab Alyss kesal.


Kejam dengan Psycho walaupun terlihat sama namun berbeda dalam tindakan. Saat orang yang kejam hanya membunuh dan tak memberi ampun pada orang yang mengganggu nya lain dengan Psycho yang senang melihat penderitaan orang lain. Baginya tangis dan rasa sakit pada korban nya adalah hal menyenangkan. Dan bisa menyakiti siapa saja.


"Kau masih belum jawab! Kau tak melakukan nya lagi kan?" tanya Alyss pada suaminya.


"Aku tak membunuh untuk bersenang-senang lagi sekarang." jawab pria itu jujur, karna ia kini hanya menghilangkan nyawa untuk eksperimen obat istrinya walau bukan dia yang murni melakukan nya karna para prof juga ikut terlibat.


Seulas senyum terlihat di bibir wanita itu.


"Iyah...


Jangan bunuh lagi yah kalau cuma mau bersenang-senang..." ucap nya sembari berbalik dan memeluk pria kekar nya.


"Berati kalau sedang tidak bersenang-senang boleh begitu?" tanya Hazel yang tertawa kecil pada wanita nya.


"Boleh! Yang penting gak untuk senang-senang! Kan kasihan..." jawab nya yang berpikiran kalau orang yang membahayakan dirinya dan keluarga nya pantas mati berbeda dengan hanya untuk kesenangan.


Hazel hanya tersenyum mendengar hal itu perlahan semakin mendekap tubuh kecil istrinya, ia mengelus rambut panjang wanita itu perlahan yang merasa sangat nyaman berada di pelukan nya.


......................


Kesokkan pagi nya.


Suasana pagi yang riuh karna kedua bocah nakal menyulitkan semua pelayan yang melayani nya.


"Gak mau! Maunya pakai yang itu!" ucap gadis kecil sembari menunjuk tas yang ingin ia gunakan.


"Ihh...


Gak suka kaus kaki yang ini! Ganti!" perintah pangeran kecil itu pada pelayan nya.


Pelayan yang melayani kedua bocah itu terlihat sangat sibuk berlalu lalang melayani tuan dan nona muda nya.


"Gak mau ganti!"


"Bosen pakai sepatu itu! Ganti!"


ucap kedua bocah itu yang membuat pelayan nya lelah karna sifat manja mereka.


"Kenapa lama sekali?" tanya Alyss yang melihat anak nya tak siap dari tadi.


"Mamah!" panggil kedua bocah nakal itu pada sang ibu dengan semangat.


"Kalau terlalu lama nanti terlambat loh sayang..." ucap Alyss sembari mengelus puncak kepala anak-anak nya.


"Pelayan sih mah ngambil balang gak benel! Pecat aja mah!" seru bocah laki-laki nakal itu.


"Jangan dong sayang...


Masa kakak pelayan nya salah ngambil barang langsung di pecat?" ucap Alyss sembari menunduk dan merapikan seragam pangeran kecil nya.


"Mah! Beli tas balu dong! Udah bosan sama yang punya Louise sekalang!" ucap gadis kecil itu meminta barang baru lagi pada ibu nya.


"Bosan? Sama satu lemari nak? Eh? Udah tiga lemari malah..." ucap Alyss menanggapi permintaan putri nya.


"Kata Papa kalau bosan boleh beli balu lagi..." jawab nya polos pada sang ibu.


"Iyah...


Tapi kan masih bagus tas-tas Louise...


Malahan ada yang masih belum di pakai kan? Gak boleh boros sayang..." ucap Alyss pada putri nya agar anak nya tak terlalu suka menghamburkan uang.


"Kalau mamah sama papah gak punya uang lagi karna beliin Louise tas terus nanti kita gimana? Louise mau kita pindah ke rumah kecil? Terus gak punya mobil...


Gak punya pelayan...


Gak bisa milih-milih makanan?" ucap Alyss dengan lembut.


"Gak mau..." jawab nya takut sembari menggelengkan kepala nya.


"Pinter nya anak mamah..." ucap Alyss sembari mencium kening putrinya.


Akhirnya sang ibu lah yang memilih dan memakai kan semua keperluan anak nya agar kedua bocah nakal itu tak lagi rewel.


Setelah sarapan kedua bocah nakal itu diantar oleh sang ayah. Walupun memiliki jalan yang berbeda arah antara JBS hospital dengan sekolah anak-anak nya namun ia tetap memilih memutar agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kembar nakal itu.


"Pah..." panggil gadis kecil itu dengan pada penuh penasaran pada sang ayah.


"Iya nak?" jawab Hazel sembari melihat ke bangku belakang melalui kaca mobil.


"Papah sama Mamah suka main basah-basahan gak?" tanya Louise polos pada sang ayah.


"Eh? Siapa yang ngasih tau kayak gitu?!" tanya Hazel yang sontak terkejut.


"Zayn ngajak main basah-basahan semalam...


Telus Louise gak mau bikin pegel aja nanti..." jawab nya polos sekali lagi pada sang ayah.


"Dasar bocah sial! Kalau ketemu nanti akan ku gantung di pohon!" gerutu Hazel kesal pada putra teman nya dalam hati.


"Bagus kalau Louise gak mau." ucap Hazel pada putri nya.


"Tapi Louis yang main basah-basahan sama Zayn." jawab gadis itu polos.


"APA?!" tanya Hazel dengan suara besar dan langsung menghentikan mobil nya.


"Bener itu Louis?" tanya Hazel mengintrograsi putra nya.


"Iyah! Louise nya sih males belenang!" jawab Louis polos.


"Berenang?" tanya Hazel bingung. Awal nya ia sudah sangat marah dan sangat ingin menggantung terbalik di atas pohon putra temanya itu.


"Iyah...


Waktu kali tanya buk gulu cala main basah-basahan katanya yah belenang..." sambung Louise polos.


"Kalian tanya sama guru kalian?" tanya Hazel bingung dan di jawab dengan anggukan dari kedua bocah nakal itu.


Pria yang menjadi ayah dari si kembar nakal itu hanya menggelengkan kepala nya melihat anak-anak nya.


......................


Internasional Primary School


Jam sudah menunjukkan waktu pulang tentu saja hal tersebut membuat semua anak-anak itu bergegas kembali kerumah masing-masing.


"Bye.... Bye....


Zayn..." ucap si kembar pada teman nya saat mereka mulai menaiki mobil jemputan yang berbeda.


Tak ada yang mengira jika sesuatu dapat terjadi di perjalan saat kedua bocah nakal itu menuju kediaman mereka.


"Louis lihat ini...


Cantik kan kayak aku?" tanya gadis kecil itu membandingkan dengan wajah boneka yang ia pegang.


"Enggak! Cantikkan aku..." jawab sang kakak sambil menunjukkan wajah imut nya.


"Ihh...


Louis nyebelin bange-"


DOR!!!!


PRANG!!!!


Suara tembakan yang tiba-tiba nyaring terdengar dan seketika membuat jendela mobil itu hancur lebur.


Sang supir yang langsung meninggal di tempat pun membuat mobil yang ia kendarai hilang arah karna tak ada kemudi nya.


AAAAKKKHHH!!!


Teriak histeris kedua bocah itu saat mobil mereka hilang kendali karna tembakan yang dilayangkan tepat di kepala sang supir hingga membuat nya mati seketika.


Ckittt......


Dua mobil lain yang langsung menghimpit mobil mewah yang membawa kedua bocah itu hingga mobil tersebut berhenti secara paksa.


"Keluar!" tarik seorang pria menggunakan masker menarik tangan bocah lelaki itu lebih dulu.


"Lepas!" ucap Louis memberontak namun tenaga nya kalah banding dengan pria dewasa.


"Bawa yang satu lagi!" ucap pria itu sembari menunjuk gadis kecil yang berusaha melepaskan tangan nya saat menarik paksa kakak laki-laki nya.


"Lepas! Om jelek bau WC lepas!" ucap Louise yang masih bisa mengejek walaupun sudah sangat takut.


"Om Jelek! Lepas!" sahut Louis pada pria yang menarik nya paksa.


"Bocah sialan! Udah di culik masih bisa-bisa nya menghina!" hardik pria tersebut sembari memukul tengkuk belakang kedua bocah tersebut agar diam.


Si kembar yang mendapatkan pukulan pun langsung pingsan karna tubuh kecil mereka yang tak mampu menahan sakit.


"Aman! Tinggal bawa saja!" ucap salah satu pria yang memberikan kode pada yang lain dan mulai membawa si kembar nakal itu.


Kau tau apa yang lebih mengerikan dari rasa takut?


Apa itu?


Ketahuan saat merasa takut...


Kalau gak bisa menyembunyikan nya gimana pah?


Harus bisa...


Mau melindungi adik mu kan?


Ucapan yang hanya di balas dengan anggukan dari sang anak