(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Butter



Louise merebahkan tubuh nya ke atas sofa dan bermain dengan kucing-kucing nya. Karna sang ibu yang dulu menyukai kucing juga membuat nya memelihara kucing sejak kecil.


"Leno sayang...


Aku harus gimana? Tau gak caranya biar bisa lepas dari setan gila itu?" ucap Louise lirih sembari mengelus dan memakaikan bantalan di kepala kucing nya.


Miaww....


"Ih kok malah di ejek sih? Gak di kasih makan juga nih!" ucap gadis itu kesal melihat tingkah kucing nya.



"Ih kutarik juga nih nanti kumis nya!" ucap Louise gemas pada kucing yang akhir-akhir ini menjadi kesayangan nya.


Semenjak kembali dari mansion James ia tak keluar sama sekali dari kediaman nya dan hampir satu minggu lebih. Gadis yang biasanya nya bersikap bebas kini mulai merasa terkukup di kediaman nya sendiri.


"Apa nanti aku beri dia uang saja? Tapi hasil laporan tes narkotika ku? Dan lagi..." ucap gadis itu memikirkan beberapa ancaman yang ia terima.


"Gak! Gak boleh takut! Masa aku takut sih?!" sambung gadis itu meyakinkan dirinya dan mulai keluar berjalan-jalan seperti biasanya.


Ia pun mulai berganti pakaian nya dan keluar lagi, gadis itu tak mau hidup dengan rasa takut yang terus membayangi dari pria mengerikan itu.


"Nah sekarang kan harus balik lagi kayak semula..." ucap gadis itu sembari bercermin ketika sudah mengikat rambut nya.



Louise sendiri bukanlah gadis yang dapat dinyatakan sebagai gadis feminim namun juga tak dapat di katakan sebagai gadis tomboy. Ia hanya melakukan apa yang ia sukai dan menurut nya menarik.


Ia pun keluar dan menuju garasi kediaman mewah itu. Beberapa mobil pada jejeran baris pertama dan kedua masih milik nya dan jejeran baris-baris lain nya adalah milik sang kakak dan mendiang orang tua mereka.


Kedua kembar itu tak mau menjual barang-barang yang menjadi kesayangan kedua orang tua mereka, bahkan kamar utama tempat kedua orang tua mereka saja tak mereka ubah dan tak di tempati karna masih ingin merasakan kedua orang yang selalu memberi kasih sayang penuh itu.


Gadis itu itu menatap ke arah mobil-mobil nya dan melirik sekilas ke arah sepeda motor sang kakak.


Ia tau kakak nya suka mengendari motor dulu, namun sempat di larang oleh Ibu mereka karna sang kakak yang pernah mengalami kecelakaan. Sang Ibu yang tak ingin melihat putra nya terluka pun melarang Louis untuk mengendarai motor lagi.


Namun kecintaan nya pada sepeda motor tetap membuat pria tampan itu membeli terus menerus sepeda motor yang memiliki harga fantastis itu.


"Naik motor Louis lah...


Kan yang punya lagi gak ada..." ucap gadis gadis itu tertawa dengan wajah nakal nya sembari mengambil kunci motor besar itu.


Gadis nakal yang tak ingin mendengar aturan itu pasti akan tetap melakukan apa yang ia inginkan.


"Sekarang...


Mulai..." ucap gadis itu dan mulai mengegas motor yang ia bawa, siapa lagi yang mengajari gadis nakal itu memakai motor kalau bukan sang kakak.


BRUMM.....


Para pengawal yang melihat gadis itu mengendarai motor pun langsung terkejut dan mencoba menghentikan nya.


"Nona! Anda tak boleh mengendari motor!" teriak salah satu pengawal dan mencoba mengengtikan nya.


"Awas! Gak pakai rem nih! Ketabrak nanti jadi gepeng!" ucap gadis itu yang semakin mengegas di halaman yang luas kediaman itu menuju gerbang utama agar segera keluar.


Para pengawal pun berusaha mengunci pintu gerbang utama agar gadis nakal itu tak keluar. Namun bukan nya berhenti Louise malah semakin menaikan gas nya hingga membuat para pengawal kelagapan dan akhir nya membuka gerbang utama agar tak terjadi tabrakan.


"Bye bye! Nanti aku kasih tip waktu balik! Jangan bilang Louis yah!" teriak gadis itu sebelum berlalu meninggalkan kediaman megah itu. Dan tujuan selanjutnya adalah mengunjungi sahabat nya.


......................


Apart Sky blue.


Zayn pun yang tak mengetahui kedatangan sahabat nya bersikap dengan bebas di rumah nya sendiri.


Louise pun langsung masuk dengan menekan sandi apart mewah tersebut, ia memang mengetahui sandi nya sejak awal sahabat nya pindah ke sana.


Suara dentuman musik pun mulai terdengar di telinga gadis cantik yang sedang memenuhi ruangan.


Smooth like butter, like a criminal undercover


Gon' pop like trouble breaking into your heart like that (ooh)


Cool shade, stunner, yeah, I owe it all to my mother


Hot like summer, yeah, I'm making you sweat like that (break it down)


Ooh, when I look in the mirror


I'll melt your heart into two


I got that superstar glow, so


Ooh (do the boogie, like)


Side step, right-left, to my beat


High like the moon, rock with me, baby


Know that I got that heat


Let me show you 'cause talk is cheap


Side step, right-left, to my beat


Get it, let it roll


Smooth like butter, pull you in like no other


Don't need no Usher to remind me you got it bad


Ain't no other that can sweep you up like a robber


Straight up, I (got ya)


Making you fall like that (break it down)


Louise pun memilih duduk di sofa dan menunggu sahabat nya keluar karna ia juga mendengar samar suara guyuran air setelah menelusuri apart mewah tersebut karna mencari keberadaan sahabat nya.


Tak lama kemudian pria yang hanya memakai celana boxer dengan corak Zebra hitam putih itu pun keluar sembari menyanyikan penggalan dari lagu yang ia putar dengan cukup keras.


Zayn begitu menikmati musik dan keluar mengambil salah satu pelembab wajah nya yang sudah habis di kamar mandi, ia mengikuti alunan musik dan menggunakan botol shampo sebagai mic nya seakan-akan sedang konser.


"Ooh, when I look in the mirror


I'll melt your heart into two


I got that superstar glow, so


Ooh (do the boogie, like)" nyanyi pria tampan itu dengan begitu bersemangat hingga tak sadar di apart mewah tersebut terdapat seorang gadis yang memperhatikan nya.


"Oohh...


Zebra ternyata..." ucap Louise yang seketika mengangetkan pria tampan itu.



Ia melihat dengan wajah datar ke sahabat nya yang bernyanyi dengan rambut basah dan hanya mengenakan celana boxer bercorak Zebra.


"HAISSHHH ASTAGA!!!" pekik Zayn yang terkejut setengah mati ketika mendengar suara gadis itu.


"Kau! Kenapa bisa disini?" tanya Zayn menunduk dan langsung berusaha menutupi boxer nya.


"Bisalah! Punya tangan, punya kaki kenapa ga bisa?" jawab Louise yang mulai hampir tertawa melihat teman nya yang begitu panik.


"Merem Louise!" ucap Zayn pada gadis itu.


Louise pun mulai tersenyum karna tak bisa menahan tawanya.


"Gak mau ah! Kan lucu bisa lihat Zebra nyanyi!" goda gadis itu dengan tawa nya.


Bruk!!!


Zayn pun melempar botol shampo yang ia pegang ke arah gadis itu.


"Hahahahaha...


Jangan di tutup lah...


Mau lihat Zebra pun..." ucap Louise yang tertawa lepas melihat sahabat nya yang salah tingkah dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.


Sedangkan gadis nakal itu puas mentertawakan teman nya, rasa takut dan gelisah nya seketika lenyap saat menemui teman nya itu.


Tak berselang lama Zayn pun keluar dengan memakai celana panjang tanpa atasan dan wajah yang memerah karna malu, ia berjalan ke arah jendela dan terlihat memalingkan wajah nya dari gadis nakal itu.



"Zayn...


Ngapain di dekat jendela gitu?" tanya Louise yang masih setengah tertawa.


Pria tersebut masih diam dan tak menjawab.


"Mau cari Zebra lewat yah?" goda gadis nakal itu lagi dengan tawa yang masih tak dapat di tahan.


"Mau mati aja! Malu!" jawab nya lirih sembari tak menatap wajah gadis itu.


"Jangan mati dulu...


Nanti Zebra nya gak ada yang ngurus..." goda Louise lagi yang tak ada henti nya.


"Biarin!" jawab Zayn semakin kesal dan berjalan ke kamar nya agar gadis itu berhenti menggoda nya.


Louise pun mengikuti pria tampan itu sampai ke kamar dan melihat pria itu sedang memakai sweter rajut berwarna hitam, dan langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang.


"Zayn...


Bangun! Masa siang-siang malah tidur sih?!" ucap Louise pada pria itu.


"Iya! Tidur siang!" jawab Zayn kesal pada gadis nakal itu yang terus saja menggoda nya.


"Ih! Masa laki-laki ngambek sih?!" ucap Louise berusaha membangunkan pria itu agar mau bermain dengan nya.



Mau tidur Louise..." ucap Zayn yang sebenarnya tak mengantuk sama sekali.


"Zayn kok makin ganteng yah sekarang? Bangun yuk! Main sama aku! Biar makin ganteng..." rayu Louise pada sahabatnya itu.


"Tau kok aku kalau ganteng!" ucap Zayn yang tak terbujuk rayuan sama sekali.


"Katanya mau cari inspirasi buat lukis...


Cari sama aku yuk!" ajak Louise lagi pada pria tampan itu.


"Yaudah! Tapi janji jangan sebut tentang Zebra lagi yah!" ucap Zayn pada gadis nakal itu.


"Okey!" ucap Louise tersenyum cerah sembari membentuk tanda ok di jemari lentik nya.


Setelah turun pria itu di kejutkan lagi dengan motor besar yang akan mereka gunakan.


"Kau kesini pakai ini?" tanya Zayn saat melihat motor Louis.


"Iyalah! Masa jalan kaki!" jawab Louise seadanya dan mulai menaiki motor tersebut.


"Eh?! Aku aja yang bawa! Jangan kau!" cegah Zayn saat gadis itu ingin membonceng nya mengendarai motor.


"Kenapa?" tanya Louise acuh.


"Waktu kita kecil kau membawa ku naik sepeda lalu jatuh semak-semak! Kemarin membawa ku naik mobil tapi malah nabrak pohon!" jawab Zayn mengingatkan gadis nakal itu.


"Kan dulu...


Gak jatuh atau nabrak kok ini...


Nah helm nya..." ucap Louise sembari memberikan helm kepada pria tampan itu.


"Gak! Aku yang bawa!" ucap Zayn menolak.


"Ku gas nih motor nya biar balapan di jalan sendiri!" gertak Louise.


"Astaga Louise!" ucap Zayn.


"Astaga Zayn!" ucap Louise mengikuti gaya bicara teman nya itu.


Pria itu pun mau tak mau akhirnya mengikuti keinginan keras kepala gadis cantik itu.


"Louise...


Aneh yah kayak nya kita..." ucap Zayn saat gadis nakal itu membonceng nya. Seorang wanita ramping dan cantik membonceng pria yang memiliki tubuh tegap di belakang nya.


"Engga lah! Zayn...


Ngebut yah?" ucap Louise saat mereka sudah memasuki jalan raya.


Kedua sahabat itu sedang ingin pergi ke daerah padang bunga lavender untuk mencari pemandangan yang dapat membuat inspirasi seni pelukis pria tampan itu muncul.


"Jangan!" ucap Zayn namun gadis itu sudah terlanjur melajukan sepeda motor nya.


BRUMM....


"Seru tau Zayn!" ucap gadis itu riang.


Ya ampun ngidam apa sih dulu bibi Lily? Kok sampai bisa gini anak nya?


"Pelan Louise! Nanti jatuh!" ucap Zayn pada gadis nakal itu.


" Seru tau makin sunyi tuh makin enak gas nya!" jawab Louise enteng.


Setelah perjalanan mereka mencapai beberapa tempat gadis itu semakin terlihat senang bermain dengan sepeda motor kakak nya.


"Louise! Pelan! Ada bebek nyebrang tuh!" tunjuk Zayn pada segerombolan hewan yang berisik tersebut.


Kwek... kwek... Kwek...


"Eh?! Iya..." ucap gadis itu berusaha mengelak dan mengerem agar tak menabrak hewan tersebut.


Ckkitt...


"Fyuh...


Untung gak kena ya kan?" tanya Louise tersenyum pada pria itu saat motor mereka sudah berhenti.


Sedangkan Zayn benar-benar terkejut melihat sahabat nya yang sangat suka membuat cadangan nyawa menipis.


......................


Hotel.


"Masih sakit? Tuh minum obat nya." ucap Louis pada gadis yang terlihat pucat itu.


"Tak perlu bersikap pura-pura baik! Kau semakin menjijikan!" maki Clara sembari menatap tajam pria itu.


"Yasudah! Ganti baju mu, kita akan bertemu klien!" jawab Louis yang kesal melihat gadis itu tetap menatap benci ke arah nya walaupun dia ingin bersikap lembut.


Clara hanya memandang sinis dan benar-benar bangun mengganti pakaian nya. Ia tak mau hanya berduaan di kamar hotel dengan pria yang sudah ia benci sampai ke tulang itu.


Louis berulang kali melirik ke arah gadis itu yang berada di sebelah nya, wajah gadis manis itu masih terlihat pucat walaupun sudah di tutup dengan make up.


"Kalau masih sakit di hotel saja! Nanti malah nyusahin kalau pingsan!" ucap Louis saat melihat gadis itu terlihat kurang sehat.


"Saya tak akan menyusahkan." jawab Clara ketus pada pria tampan itu sembari membuang wajah nya ke arah jendela.


Resto La'violet


Setelah mengadakan pertemuan bisnis Louis dan Clara pun keluar dari resto tersebut dan mulai berjalan hingga....


Ctakk....


"Auch!" pekik gadis tersebut saat ia berjalan dengan tidak hati-hati karna juga merasa kurang sehat.


Ia menuruni satu anak tangga tanpa ia sadari dan membuat heels yang ia gunakan patah sekaligus kaki nya langsung terjatuh.


"Kenapa?" tanya Louis dan langsung menangkap gadis itu sebelum jatuh, ia langsung memegang tangan kecil gadis itu.


"Tidak apa-apa." jawab Clara singkat sembari melepaskan tangan atasan nya.


Louis pun melihat kaki gadis itu yang dengan heels yang lepas dan pergelangan kaki yang langsung memerah.


"Makanya kalau jalan tuh hati-hati!" ucap Louis memarahi gadis manis yang terlihat semakin meringis.


Clara hanya diam malah menggubris ucapan ketus atasan nya.


"Bisa jalan?" tanya Louis lagi.


"Bisa." jawab Clara sembari berjalan pincang karna pergelangan kaki nya yang sedang sangat sakit. Entah kenapa ia seperti mendapat kutukan saat bersama pria tampan tersebut karna terus menderita.


"Eh?! Kenapa? Turunkan!" ucap gadis itu terkejut saat pria yang ia benci tiba-tiba mengangkat tubuh nya ke pundak pria kekar itu.


"Diam! Kalau berisik mau ku buat seperti semalam? Hm?" gertak Louis dan seketika gadis itu tak bicara sepatah kata pun.


Louis pun perlahan menurunkan gadis itu ke bangku yang berada di dekat taman restoran tersebut.


"Diam disini! Jangan nyusahin!" ucap Louis ketus dan pergi berlalu.


"Aku tak pernah minta di gendong!" decak Clara saat pria tersebut sudah pergi.


Tak berselang lama Louis pun mulai kembali dengan membawa dua bungkusan di tangan nya.


"Nah! Pakai ini! Buat apa sih makai heels kalau bikin kaki sakit sendiri!" ucap Louis sembari memberikan sepatu bermerek pada gadis itu.


"Tak perlu! Ini terlalu mahal!" ucap gadis itu menolak memakai sepatu tersebut.


"Kalau di bilang pakai yah pakai!" ucap Louis lagi pada gadis itu.


"Tapi aku tak mau!" jawab Clara yang tetap tak ingin menggunakan barang yang di berikan pria itu.


"Jangan membuat ku marah dengan terus mengulangi apa yang ku katakan!" ucap Louis yang penuh dengan nada penekanan.


Gadis itu pun tersentak dan mulai takut saat melihat pria yang menatap nya dengan tajam, nyali nya menciut dan mulai kembali memegang sepatu yang di berikan pria tampan itu.


"Nah...


Apa kau tak bisa jadi anak penurut? Hm?" ucap Louis yang merasa senang saat gadis itu mulai terlihat patuh.


"Nah pakai ini! Aku tak mau menggendong mu lagi! Kau berat!" ucap Louis sembari memberikan bungkusan berisi spray pereda nyeri dan beberapa alat untuk mengobati kaki gadis itu.


"Aku kan tak pernah minta di gendong!" gumam Clara sembari menerima yang di berikan pria tampan itu karna takut akan kemarahan nya.


.....................


Mansion Dachinko.


James pun selalu menerima laporan tentang gadis nakal itu, kemana dan dengan siapa ia pergi berkat mata-mata yang ia gunakan untuk mengawasi gadis nakal itu.


Tok...tok...


Nick yang mengetuk pintu atasan pun membuat James terperanjat sejenak dari bayangan gadis nakal itu dan membiarkan bawahan nya untuk masuk ke ruang kerja nya.


"Masuk." jawab James pada bawahan nya.


"Saya sudah menemukan beberapa data dan perusahaan yang terkait dengan pembunuhan orang tua tuan." ucap Nick sembari memberikan kertas dokumen.


James pun melihat beberapa perusahaan dan bukti tak langsung tersebut.


"Ini sudah jelas?" tanya James lagi.


"Masih belum, namun ini bisa saja jika mereka dalang nya. Kemungkinan masih ada perusahaan yang lebih besar lagi dan yang menjadi pelaku sebenarnya" jawab Nick pada James.


"Akusisi perusahaan mereka dan kita akan membantai semua nya sampai tak tersisa." perintah James, saat ia sudah menargetkan menghancurkan sesuatu ia akan terus mengejar sampai benar-benar hancur.


Walaupun yang akan ia bantai masih belum pasti namun jika sudah memiliki kemungkinan sedikit saja ia tak akan pandang bulu.


Alasan nya masuk ke dunia gelap dan berbahaya itu untuk mendapatkan keadilan untuk dirinya sendiri sehingga mengubahnya menjadi iblis seiring perjalanan waktu.