(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Threat



"Za-zayn..." panggil Louise lirih sembari mendorong pelan pria itu.


Zayn diam sejenak sembari menatap iris gadis itu dengan lekat. Ia tersenyum lembut lagi mengelus kepala gadis itu.


"Masakan ku tadi salah kasih garam nya, kau mau makan di luar saja?" tanya Zayn dengan senyuman nya mengalihkan situasi canggung nya pada teman nya itu.


"Mau!" seru Louise segera.


Cup...


"Eh?!" Louise yang terkejut karna tiba-tiba pria itu mengecup pipi nya sejenak sebelum beranjak pergi.


"Ayo!" ucap Zayn yang memasang wajah seperti tak terjadi apapun sebelum nya walaupun jantung nya sudah ingin keluar karna berdetak dengan sangat cepat.


Ya ampun! Jangan kelepasan Zayn!


Batin nya saat mulai mengendarai mobil yang hendak makan malam di luar.


"Wajah mu merah? Kau demam?" tanya Louise setelah memakai sabuk pengaman nya menatap ke arah wajah memerah sahabat nya itu.


Gadis itu pun lantas meletakkan tangan nya ke atas kening lalu ke rahang dan sesekali memeriksa leher nya membuat pria itu semakin panas dingin.


"Kau tidak demam tapi kenapa wajah mu semakin merah?" tanya Louise heran sedangkan degup jantung pria itu semakin menjadi.


"I-iya...


Aku tak apa-apa..." jawab Zayn sembari melepaskan tangan Louise dan berusaha semaksimal mungkin menutupi kegugupan nya.


......................


3 Bulan kemudian.


JBS Hospital.


"Bunga? Ini untuk ku?" tanya Clara sembari memegang satu buket bunga di tangan nya dan bunga lain di sekitar nya.


"Perayaan! Karna kau sudah bisa jalan!" seru Louis pada gadis itu.


Untuk pertama kali nya sejak tujuh bulan gadis itu mulai tersenyum, ia mengesap aroma segar dan menyenangkan dari bunga-bunga yang berada di tangan nya.



"Kau suka?" tanya Louis pada gadis itu.


"Apa bunga nya cantik? Aroma nya harum, aku sangat ingin melihat nya..." tanya Clara lirih sembari meraba buket bunga di tangan nya.


"Cantik..." jawab Louis sembari tersenyum melihat wajah gadis itu yang tersenyum manis walau hanya senyuman tipis.


"Mamah Papah?" tanya Clara lagi menanyakan keberadaan orang tua nya.


"Mereka sedang dalam perjalanan, mereka akan menjemput mu nanti." jawab Louis pada gadis itu.


"Sekarang kau tidak lagi perlu merawat ku sepanjang hari, maaf sudah banyak merepotkan mu dan juga terimakasih karna membuat tidak terlalu kesepian di sini." ucap Clara sembari mengandah ke depan.


Pandangan nya kosong karna ia tak tau di mana pria itu berdiri namun ia ingin berterimakasih pada perawat yang bagi nya sangat baik selama ia berada di rumah sakit.


"Kau seperti mengatakan kata-kata perpisahan, apa kita tak bisa bertemu lagi kalaupun sudah keluar dari sini?" tanya Louis bernafas kasar mendengar ucapan gadis itu.


"Tentu saja! Bukan kah kita sudah berteman? Saat di luar rumah sakit aku tidak akan memanggil dengan 'Perawat Rai' lagi, aku bisa hanya memanggil nama mu kan?" tanya Clara pada pria itu.


"Tentu saja, aku akan mengunjugi mu dengan sering." ucap Louis pada gadis itu.


Ia sudah membuat Clara mempercayai nya sebagai orang yang berbeda, ia mulai kembali dekat lagi dengan gadis itu perlahan.


"Aku tak sabar pulang dan tinggal lagi dengan Orang tua ku, aku seperti anak yang menyusahkan yah?" tanya Clara sembari berjalan ke arah bunga lain nya.


"Kau putri kesayangan mereka, mana mungkin mereka berpikir kau menyusahkan." jawab Louis sembari menyusul ke sebelah gadis itu.


"Kau tidak rindu orang tua mu? Kalau bekerja di sini otomatis kau menyewa tempat kan?" tanya Clara yang memang rata-rata orang-orang bekerja di perusahaan besar biasa tinggal di apart yang dekat dengan tempat kerja nya dan terpisah dari tempat tinggal orang tua nya.


"Rindu? Aku sangat merindukan mereka." jawab Louis yang terkejut sesaat mendengar pertanyaan itu.


Tentu nya ia sangat merindukan sosok ibu yang penuh perhatian dan ayah yang selalu memanjakan nya dengan apapun entah itu kasih sayang ataupun uang.


"Kalau begitu kau juga harus berkunjung ke rumah orang tua mu! Mereka juga pasti rindu dengan mu." ucap Clara pada pria di samping nya.


"Benarkah? Aku ingin tapi aku tak bisa bertemu mereka..." jawab Louis lirih dengan tersenyum getir.


"Tapi kalau ibu ku melihat mu dia pasti bisa langsung suka dengan mu!" sambung nya lagi sembari menatap gadis di sebelah nya.


"Kenapa?" tanya Clara bingung bagaimana bisa ada yang ingin anak nya bersama dengan gadis seperti nya.


"Karna kau seperti malaikat?" goda Louis pada gadis itu.


"Malaikat apa? Malaikat maut?" tanya Clara pada pria itu.


Louis tertawa mendengar ucapan gadis di depan nya, ia tau Clara tak bermaksud bergurau sedikitpun namun itulah yang membuat nya menjadi lucu karna gadis itu benar-benar mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Ibu ku...


Dia wanita yang baik mungkin itu yang membuat ayah ku menyukai nya, dia baik dengan semua orang seperti mu..." ucap Louis setelah tawa nya pada gadis itu namun terlihat jelas kesungguhan nya dalam bicara.


"Kau sangat menyayangi nya, kenapa tak bisa menemui nya? Dia sedang marah pada mu?" tanya Clara saat merasakan nada bicara yang berubah dari pria itu.


"Dia tak pernah marah pada ku, apa lagi membentak ku. Tapi aku sering membuat nya kesal bahkan wajah kesal nya setiap kali aku nakal masih aku ingat dengan jelas," jawab Louis dengan tawa yang berubah sendu.


Saat gadis itu mengungkit tentang ibu nya membuat nya kembali mengingat wanita yang sabar dengan tingkah nakal nya namun tak pernah memarahi nya dengan keras.


Ia mungkin di marahi namun dengan cara halus dan memberi tau kesalahan nya tak pernah ada teriakan, bentakan, atau pukulan dari wanita itu sejak ia lahir hingga sang ibu menutup mata.


"Kau lebih dekat dengan ibu mu?" tanya Clara pada pria itu.


"Hmm...


Entahlah...


Aku juga dekat dengan Ayah ku, Dia jarang marah pada ku tapi dia hanya marah kalau melihat ku tidak sopan dengan ibu ku saja." jawab Louis setelah mengingat masa kecil nya.


"Tidak sopan? Apa yang kau lakukan memang nya?" tanya Clara pada pria itu.


"Ibu ku sakit sejak aku kecil tapi dulu aku tidak tau, waktu umur ku tujuh tahun aku ikut kompetisi matematika. Sebelum hari final itu aku meminta ibu ku datang untuk melihat kompetisi ku, tapi dia tak datang." jawab Louis.


"Setelah aku kembali ke rumah aku melihat nya menyambut ku, tapi aku marah pada nya. Aku membentak nya dan mengamuk dengan keras karna apa yang ku inginkan tidak penuhi. Padahal kalau ku ingat lagi wajah nya sangat pucat hari itu, tapi aku tetap marah dan membanting pintu kamar ku di depan nya." sambung nya lagi sembari menarik nafas berat.


"Dia sedang sakit saat itu?" tanya Clara yang mulai merasakan jika nada pria itu semakin berubah.


"Dia menjalani pengobatan nya, setiap tiga bulan sekali dia menjalani pengobatan yang membuat nya tak sadar sekitar dua hari tapi hari itu dia memaksa sadar selama satu hari untuk kompetisi ku tapi aku sudah selesai, aku bahkan membanting piagam dan piala ku di depan nya." jawab Louis lagi.


"Tapi setelah itu ayah ku kembali bersama adik ku. Dia melihat ibu ku yang menangis dan aku sedang mengamuk dia langsung menerobos masuk ke kamar ku dan memarahi ku habis-habisan. Aku benar-benar terkejut karna itu pertama kali nya dia marah pada ku." ucap Louis, "Tapi kau tau apa yang di lakukan ibu ku saat itu?" tanya Louis lagi.


"Dia datang dan memeluk mu yang menangis karna di marahi ayah mu?" jawab Clara dengan pertanyaan.


"Dari mana kau tau?" tanya Louis tersenyum dengan mata yang nanar mengingat ibu nya.


Hazel yang waktu itu memarahi putra nya karna langsung emosi melihat sikap tak sopan Louis yang bahkan sampai membuat istri nya menangis langsung memarahi habis-habisan walaupun sebelum nya ia tak pernah memarahi putra nya itu walaupun ia tau putra nya memang masih kecil dan belum bisa bersikap dewasa.


"Dari awal dia terlihat seperti sangat menyayangi mu, dia tak mungkin membiarkan suaminya memarahi putra nya seperti itu." jawab Clara yang juga masih ingat ibu nya masih bisa membela nya saat sang ayah melihat video panas nya.


"Benar juga..." jawab Louis tertawa kecil.


"Kenapa sekarang tidak bisa menemui nya?" tanya Clara lagi yang masih tak berfikir jika ibu pria itu mungkin sudah tak ada.


"Dia sudah meninggal..." jawab Louis lirih.


"Ma-maaf..." jawab Clara canggung begitu mendengar jawaban pria itu.


"Aku rindu pada ibu ku jadi ingin memeluk mu rasanya," ucap Louis lagi pada gadis itu.


"Iya, ten- Eh?! Peluk? Apa hubungan nya sama peluk aku?" tanya Clara yang mulai sadar ucapan terselubung pria itu.


"Tidak ada, tapi aku memang mau memeluk mu. Boleh?" jawab pria itu dengan di iringi pertanyaan lain di belakang nya.


"Eh?!" Clara bingung harus jawab apa. Sejak dulu ia memang sulit menolak permintaan orang yang sudah baik dengan nya dan karna itu jugalah yang membuat hidup nya hancur sekarang.


"Kalau kau diam aku anggap kau setuju," ucap Louis dan perlahan menarik gadis itu masuk ke pelukan nya.


Aroma lembut seperti bunga yang menenangkan yang selalu menjadi ciri khas aroma tubuh gadis itu, ia rindu dengan aroma nya dan genggaman tubuh ramping yang sangat pas berada di pelukan nya.


Deg...


Aroma nya mirip dengan dia?! Tapi ini juga bukan aroma yang sama! Apa yang ku pikirkan?!


Clara merasakan perasaan antara asing dan tidak asing saat pria itu memeluk nya. Ia mencium aroma yang mirip namun terkelabui dengan aroma sabun, shampo dan parfum yang sudah di ganti membuat nya merasa asing.


Kebencian nya masih merakar walaupun ia terlihat sudah baik-baik saja namun setiap kali ia merasakan pria itu mendekati nya lagi ia akan kembali histeris.


Trauma mental yang tak mudah hilang begitu saja dengan waktu dan perawatan psikiater yang membuat nya tak lagi mudah membuka hati nya lagi.


Ia tak tau kapan bisa memaafkan nya tapi jika untuk kembali memiliki perasaan seperti dulu sangat sulit untuk nya.


Walaupun ia tidak tau pria yang saat ini mulai memberi nya rasa nyaman adalah pria yang sama dengan ia benci namun ia tak bisa menyatukan kedua kepribadian yang bagaikan air dan minyak itu.


......................


JBS Farmasi.


Ruangan wakil Presdir


"Data nya sudah di hapus, seperti nya paman tau." ucap Louise setelah memeriksa nya.


"Mungkin memang hanya file seperti ini yang ada," ucap Zayn sembari mendekat ke belakang kursi gadis yang tengah menatap laptop di depan nya.


"Tak mungkin, file yang seperti aku juga bisa akses." sanggah Louise langsung.


"Jadi Papah benar sudah tau?" tanya nya lagi dengan nada sedikit risau.


"Ku rasa paman sudah tau, tapi membiarkan nya. Seperti yang di lakukan Louis pada ku." jawab Louise karna ia tau sang kakak juga menggunakan cara yang sama.


Louise menoleh melihat ke arah pria yang tampak khawatir itu. Ia pun mulai memanggil nya untuk setidak nya memberikan sedikit ketenangan.


"Terimakasih...


Paman tak akan marah pada mu, aku yakin! Karna dia yang sedang mencoba menutupi sesuatu," ucap Louise pada Zayn.


"Tetap saja ak-"


"Manis nya My baby Zayn..." potong Louise dengan kalimat pujian dan mengelus rambut pria itu dengan tangan lembut nya.


Blush...


Sekelebat merah semu terlihat di wajah pria itu saat gadis itu mengelus nya.


"Aku kan sudah dewasa! Kenapa terus di perlakukan seperti anak kecil sih?!" ucap pria itu yang semakin membuat nya terlihat menggemaskan.


"Manis nya...


Kalau kau saja seperti ini gimana nanti punya baby? Papah nya udah kayak baby gemes!" ucap Louise tanpa sadar karna merasa pria di depan nya seperti anak anjing pomeranian yang sangat menggemaskan di mata gadis itu.


"Tapi kan aku uda bisa buat baby nya!" ucap Zayn kesal saat melihat gadis itu yang selalu menganggap nya seperti anak kecil.


"Benarkah? Nanti kalau kau punya baby dia akan imut juga seperti mu?" tanya Louise tertawa.


Zayn pun langsung menarik pinggang gadis itu yang saat ini tengah berdiri di depan nya tertawa dengan wajah yang cerah.


"Mana ku tau nanti baby ku seperti apa, kau mau memberi tau ku?" tanya nya sembari memeluk rapat pinggang gadis itu ke arah nya hingga membuat wajah nya juga saling berdekatan satu sama lain.


"Kenapa tanya aku?" ucap Louise heran.


"Kan aku mau nya baby dari mu, jadi aku buat baby nya yah dengan mu." ucap Zayn tersenyum polos setelah mengganti kata-kata dan ajakan dewasa dengan ucapan menggemaskan.


"Eh?! Ka-kau ini ada-ada saja!" ucap Louise sembari melepaskan diri nya dari pria itu.


"Mau ku pesankan makan siang?" tanya Zayn saat melihat kini gadis itu yang gugup.


"Bo-boleh..." ucap Louise gugup.


Zayn pun tersenyum dan keluar membeli makan siang gadis itu dan dirinya.


Tak lama pria itu pergi Louise kembali melihat ponsel yang bergetar dengan nomor asing yang selalu menelpon nya beberapa hari belakangan ini.


Orang tak di kenal itu menelpon dan memberikan ancaman pada nya, setiap kali ia menyelidiki hal ini dan menangkap penelpon nya selalu saja tetap ada yang menelpon nya lagi seperti rumput liar yang tak bisa di cegah.


Ia pun mengangkat nya lagi dan mendengarkan ucapan yang bagi nya omong kosong itu, ia tak memberitaukan hal ini pada siapapun karna ia tau kekhawatiran orang sekitar nya yang berlebih sering sekali membuat nya lelah.


"Kau akan mati sebentar lagi! Aku akan membunuh mu! Kau seharusnya tak dekat dengan nya! Mati! Mati!" ucap suara serak dan bas dari ponsel tersebut yang tidak mirip dengan suara seseorang.


"Oi?! Setan sampah! Kau pengangguran yah? Tak punya kerjaan? Aku mati?! Kau saja yang mati?! Kalau bisa cepat naik darah biar cepat dead !!! Kau mau membunuh ku? Aku juga mau memotong (sens*r) mu! Biar pipis mu tidak lurus!" ucap Louise yang geram karna terus di teror bahkan saat di tengah malam ia sedang tidur nya.


Ia tak pernah membalas ucapan dari si pengancam dan kali ini baru lah ia membalas nya karna sudah tak tahan lagi waktu nya terus terganggu.


"Apa?! Kok diam saja?! Dasar banci! Kau punya dua (Sens*r) makanya tidak bisa jawab, jangan jadi kayak anak setan terlantar deh?! Nyusahin aja! Sana pergi ke parit jadi setan kolong aja! Tak usah jadi setan menyusahkan metropolitan!" sambung nya lagi dan mematikan ponsel nya.


Wajah dan mood nya langsung berubah drastis ketika menutup telpon nya.


......................


5 Hari kemudian.


"Kau mau kesini kan? Makanya terus menandai nya di majalah? Kenapa melihat ku begitu?" tanya James sembari menatap gadis yang terlihat bingung yang kini tengah berada di samping pintu mobil nya.



"Tidak...


Hanya saja aku tak tau kau benar-benar akan membawa ku kesini, kau bilang serang sibuk kan tadi?" jawab Louise saat pria itu keluar dari mobil nya.


"Kita juga sudah lama kan tidak pergi bersama?" tanya James sembari memegang tangan gadis itu.


Membawa nya masuk ke tempat yang di inginkan gadis tersebut.


"Tadi marah sekarang baik!" gerutu Louise saat pria itu menggenggam tangan nya.


Louise pun melihat satu tempat dan langsung bergegas ke sana, ia memberikan ponsel nya pada pria itu.


"James! Foto kan yah! Yang cantik!" ucap Louise yang ingin pria itu mengambil gambar untuk nya.


"Aku? Foto nya sendiri!" decak pria itu karna tak suka di atur atau pun di suruh.


Cup...


"Pria ku tampan sekali, fotokan yah..." bujuk Louise setelah mengecup bibir pria itu.


"Cuma tiga detik! Sana cepat!" ucap James setelah gadis itu merayu nya dengan kata-kata manis dan satu kecupan ringan di bibir nya.


Louise pun berdiri dengan jaket hitam nya dan rambut yang di ikat satu dengan memejamkan mata nya agar pria itu bisa mengambil gambar nya.



Cantik...


Batin pria itu sesaat ketika melihat gadis yang ingin di ambil gambar nya. James pun dengan cepat memotret gadis setalah terpana beberapa saat.


"Sudah?" tanya Louise menatap pria itu.


"Hm..." jawab pria itu dengan singkat.


Gadis itu pun mulai berjalan lagi mencari tempat yang bagi nya bagus dan bisa di gunakan untuk berfoto.


Setelah gadis itu pergi ponsel nya kembali berdering lagi, James pun menatap ke arah nomor tak di kenal yang menelpon wanita milik nya.


Ia pun mengangkat nya dan mendengar tentang ancaman yang harus nya di berikan pada gadis itu.


Darah nya mendidih saat mendapati wanita nya diancam seperti itu.


"Jangan hanya bicara! Keluar dan temui aku sendiri kalau kau berani!" ucap James dengan nada yang masih bisa di atur dengan tenang walau pun ia sudah sangat marah.


"Kau yang jawab? Dia juga akan mati! Kau itu memang di kutuk untuk membawa sial dengan semua orang yang kau sayangi! Wanita mu juga akan mati! Seperti keluarga mu! Kau tak akan pernah bisa hidup dengan siapapun!" ancam si penelpon dan tawa jahat nya yang terdengar nyaring.


James mendidih dan mematikan telpon nya segera, ia langsung mengikuti langkah Louise dan menarik tangan gadis itu ke arah nya.


"Ja-james? Kenapa?" ucap Louise meringis saat tangan kedua lengan nya di genggam dengan erat bahkan seperti di cengkram hingga membuat nya merasakan sakit.


"Kenapa tak bilang ada yang mengancam mu?!" tanya James dengan tatapan tajam pada gadis itu.


"Itu hanya penelpon iseng saja, tak ada yang perlu di kha-"


"Louise!" potong James langsung dengan membentak gadis itu hingga membuat nya terkejut.


"Sa-sakit..." ringis Louise saat pria di depan nya seperti marah dan takut di saat bersamaan.


James tersadar dan melepaskan cengkraman tangan nya perlahan sembari membuang nafas kasar dan tertawa getir.


"Kau seperti nya sudah benar-benar menjadi kelemahan ku..." gumam nya lirih sembari membuang wajah nya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Louise sembari mendekat dan menyentuh rahang pria yang sedang membuang wajah nya ke arah lain.


James pun menoleh dan menatap wajah gadis itu, ia mulai memeluk nya dan membuang wajah Louise tenggelam dalam dada bidang nya.


Siapa yang mengancam nya? Mati seperti keluarga ku?


Tapi sangat sedikit yang tau tentang masa lalu ku!


Siapa mereka?!


Siapapun itu akan ku bunuh sebelum mereka sempat menyentuh nya!


...****************...


Oh iya othor mau bilang gambaran dan bayangan Zayn di mata Louise itu kayak apa dan makanya si Louise selalu gemes sama her baby Zayn nya.






Seperti itulah bayangan Zayn di mata Louise. Ini jenis anjing pomeranian yah memang mirip boneka wkwk gemesh♥️


Happy Reading♥️♥️♥️