
18 tahun lalu.
Rumah keluarga Alyss.
"Ishhh...
Beluang aku kok dicakal?!" ucap anak perempuan cantik yang seperti boneka hidup pada kucing peliharaan nya.
Miaww...
Yah dia adalah Alyss kecil yang masih berusia 6 tahun.
Alyss melihat kesal ke arah kucing nya karna mencakar boneka beruang kesayangan nya.
"Kan udah dibilang jangan cakal boneka ku! Kok masih ngeyel sih?!" ucapnya nya marah pada kucing gembul itu, ini adalah kucing kelima nya pada bulan ini.
Alyss pun perlahan menggapai kucing itu dan mulai mencekik serta membuat leher kucing tersebut patah.
MIAWWW.....MEAOWWW!!!!
Kucing tersebut yang semakin mengerang mengeluarkan suara mengeong nya saat tangan kecil anak perempuan itu berusaha mematahkan leher hewan tersebut.
Kucing tersebut memberikan perlawanan berusaha untuk mencakar tangan kecil yang sedang berusaha mematahkan lehernya, namun ia tak lagi memilki cakar karna setiap hewan peliharaan yang di berikan ke anak perempuan berwajah malaikat itu selalu di potong terlebih dahulu cakar nya agar tak dapat melukai majikannya.
Krekt....
Bunyi yang terdengar dari kucing tersebut dan kucing tersebut mulai tak bergerak lagi. Ia memang memilih mematahkan leher kucing nya agar tak terlihat bekas jika ia membunuh kucing imut tersebut.
"Kan sudah ku bilang...
Jangan jadi kucing nakal..." ucap Alyss kecil tanpa merasa bersalah dan terutas senyuman di bibir mungil nya.
Alyss kecil sering di tinggal oleh kedua orang tuanya karna harus bekerja sedangkan ia di jaga oleh satu pengasuh nya. Tak ada yang tau bagaimana dia memperlakukan hewan peliharaan nya, dan tak ada yang berpikir juga jika anak 6 tahun dapat membunuh peliharaan nya sendiri hanya karna merasa kesal.
"Mamah....
Kucing Ellie mati....
Huhu....
Tadi ga tau kenapa....
Tapi ini uda mati... Huaaaaa...." ucap Alyss saat ibu nya pulang kerja dan langsung mengadu menunjukkan kucing nya yang sudah lemas tak bernyawa.
Dia memang selalu seperti itu, setiap kali ia selesai membunuh kucingnya dia akan pura-pura tak tau dan menangis, Alyss kecil sangat pandai dalam mengatur emosi nya dan selalu mengelabui orang lain dengan sikap nya yang terlihat seperti malaikat kecil yang polos.
"Kok kucing mu mati semua si nak? Ini udah yang kelima kali nya loh bulan ini?" tanya ibu Alyss sembari menghapus air mata putrinya yang sedang menangis, ia sama sekali tak pernah berpikir putri yang masih berusia 6 tahun bisa melenyapkan nya nyawa hewan peliharaan nya.
"Gak tau mah... Huaaaa...
Tadi... tadi Eliie mau kasih makan tapi dia uda begini... huhu....
Mah beliin kucing lagi...." ucap Alyss kecil yang tersendat-sendat karna menangis.
"Kamu ga cocok deh nak melihara hewan...
Kasihan kan kucing nya mati terus..." ucap ibu Alyss berusaha memberikan pengertian karna tak ada kucing yang bisa bertahan lama di tangan putrinya.
"Huaaa....." teriaknya sambil menangis ketika mendengar ibu nya tak mau membelikannya kucing lagi.
"Loh?! Kenapa ini? Putri ayah kok nangis?" ucap Alyss yang baru saja masuk ke rumah saat ia baru saja kembali dari tempat kerja nya.
"Ayah....
Kucing Elie mati huhu...
Mamah ga mau beliin lagi..." ucap Alyss kecil yang menangis dan langsung menghambur ke pelukan sang ayah.
"Yaudah nanti kita beli lagi yah...
Hari minggu sama ayah, mau kan?" jawab ayah Alyss sembari menghapus air mata yang jatuh ke pipi putrinya.
"Mau!" jawab Alyss kecil dengan semangat dan langsung tersenyum.
Ibu Alyss pun hanya menggeleng melihat suaminya yang sangat memanjakan putrinya. Setelah makan malam mereka pun seperti biasa selalu menonton tv bersama yang selalu menampilkan acara kartun anak-anak karna putri mereka yang selalu membajak acara tv dengan acara kesukaan nya.
"Akhir pekan kita ke rumah papa yah mah...
Papa nanyain Alyss aja." ucap ayah Alyss pada sang istri yang tengah mengupas kulit apel, sedangkan apel yang sudah terkupas selalu langsung di lahap oleh putrinya.
"Akhir pekan? Yasudah, aku juga ga ada jadwal kok." jawab ibu Alyss.
"Apel nya kasih ayah mu juga dong nak...
Kok malah di makan habis, ayah nya ga dikasih..." ucap ibu Alyss saat melihat Alyss yang terus mengambil apel yang sudah di kupas.
"Udah kok mah, ayah tadi di tawalin ga mau katanya..." jawab Alyss dan tetap memakan apelnya.
"Kapan Alyss nawarin ayah?" tanya ayah Alyss pada putrinya.
"Tadi..." jawab Alyss singkat.
"Kapan? Ayah ga ada denger tuh?" jawab Ayah Alyss.
"Tadi loh...
Ellie nawalin dali dalem ati, ayah aja yang ga bisa dengel suala ati Ellie." jawab Alyss yang tak mau kalah.
Sontak saja jawaban itu membuat kedua orang tuanya tertawa, bagaimana bisa putri mereka menjawab dengan jawaban yang sangat abstrak. Menawari tapi dengan suara hati? Siapa yang bisa mendengar?
"Ayah...
Nanti jangan ke lumah kakek kenapa yah...
Ellie ga suka ke lumah kakek, nanti pipi Ellie dicubitin..." ucap Alyss pada sembari menatap ke arah ayah nya.
"Siapa yang nyubit pipi anak ayah?" tanya ayah Alyss sembari menakup pipi gembul putrinya yang memang menggemaskan.
"Kakek, telus tuh kak Pila, telus bibi juga, telus....
Banyak deh yah..." ucap Alyss kecil yang mengadu pada ayah nya siapa yang suka mencubit gemas pipinya.
"Putri ayah sih gemesin...
Makanya suka dicubit kan pipinya..." ucap ayah Alyss sembari ikut mencubit gemas pipi putrinya.
Dan tentu saja hal itu semakin membuatnya Alyss kesal, dan kedua orang tuanya yang hanya tertawa melihat putri mereka yang terlihat makin kesal.
.....................
Skip time.
Karna kakek dari ayah Alyss yang memilki kebun strawberry dan juga kebun kopi tentu saja sudah bisa di pastikan bahwa sang kakek memilki rumah di area pegunungan.
"Mah...
Kita kapan ketemu miki mos lagi mah? Mau main ke wondelland lagi..." ucap Alyss sembari membuka kaca mobil nya dan merasa angin dingin yang menerpa wajah kecil nya.
"Mau ke Disney land maksud nya nak? Mau main Mickey Mouse lagi yah?" tanya ibu Alyss membenarkan ucapan putrinya yang masih berantakan.
"Iya mah...
mau main sama miki mos loh mah...
yang kuping nya becal kayak kuping gacah..." jawab Alyss.
"Iyah, nanti kalo mamah sama ayah ada libur kerja lagi kita kesana yah..." jawab ibu Alyss sembari melihat ke kursi belakang tempat putri nya duduk.
"Sekalang aja mah, ga usah ke lumah kakek, eh kelumah kakek aja lah dulu ngambil setlobely yang banyak abis tuh kita ketemu miki mah..." jawab Alyss pada sang ibu.
Ayah dan Ibu Alyss hanya menggelengkan kepala nya dan tertawa kecil mendengar ucapan putrinya.
Mereka tak tau jika keputusan mereka membawa Alyss saat itu adalah keputusan yang benar-benar salah karna mereka hampir saja kehilangan putri semata wayang nya.
Setelah sampai ke rumah sang kakek seperti biasa Alyss langsung di sambut dengan hangat oleh kakek nya, karna ia merupakan cucu kesayangan dan memang selalu di manjakan.
"Alyss!
Main ke hutan yuk, nyari kupu-kupu!" ajak Veli yang merupakan kakak sepupu Alyss.
"Males lah, kak peli aja yang hutan. Nanti kalo kupu-kupu nya uda dapet aku mau yah tiga..." jawab Alyss dan tetap menyisir rambut boneka barbie nya.
"Males lah, masa kakak yang nyari nanti Alyss ambil, yaudah kami main bertiga aja, Alyss ga usah ikut." jawab Veli pada Alyss.
Diantara sepupu-sepupunya Alyss merupakan yang paling muda karna dia masih berusia 6 tahun sedangkan para sepupu dari ayah nya rata-rata berusia 10-12 tahun.
"Ikut...." jawab Alyss ketika Veli mengatakan tak akan mengajak nya bermain.
Mereka berempat pun mulai berjalan memasuki hutan, walaupun sudah di beri tau dan di peringatkan agar tak memasuki hutan, namun karna sifat kekanakan dan masih memilki rasa penasaran tinggi membuat mereka tak mengindahkan peringatan orang tua mereka.
"Alyss, kalo main jangan jauh-jauh. Ga boleh mencar yah jalan nya." ucap Ciko yang merupakan salah satu sepupu Alyss.
"Iyah kak." jawab Alyss singkat.
"Itu kupu-kupu! Ayok ambil!" teriak Veli saat melihat banyak kupu-kupu yang sedang terbang.
Tak seperti ketiga sepupunya yang langsung berlari mengejar kupu-kupu Alyss malah berlari ke lawan arah karna mengejar anak kelinci berwarna putih.
"Sini...
Jangan lali telus..." ucap Alyss saat mengejar kelinci tersebut.
Hup!
Dalam satu tangkapan akhirnya ia berhasil mengejar kelinci tersebut sebelum masuk kedalam tanah.
"Kan...
Di bilangi jangan lali kok lali telus, capek tau ngejel nya..." ucap Alyss sembari menggendong anak kelinci tersebut.
"Pulang sama aku yuk! Nanti main sama kucing balu ku Ayah ku balu beliin kucing lagi." ucap Alyss saat ingin kembali. Namun ia baru tersadar jika ia sudah terpisah dari ketiga sepupunya dan sendirian di hutan tersebut.
"Loh kak Peli mana? Kak Ciko? Kak Lepa?" panggil nya sembari melihat ke sekeliling hutan yang di penuhi oleh pohon tersebut.
Sementara itu....
"Vel, dapet berapa kupu-kupunya?" tanya Reva pada Veli.
"Cuma dua, si Ciko nih dapet banyak." jawab Veli sembari menunjuk Ciko.
"Eh? Tapi Alyss mana? Kok ga ada?!" ucap Ciko saat menyadari tak melihat adik sepupunya.
"Loh? Iya?! Alyss mana? Aduh mati kita!" jawab Veli panik.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mencari Alyss terlebih dahulu sebelum kembali.
"Alyss!"
"Alyss!"
"Alyss!"
Teriak mereka di memecah keheningan hutan tersebut memanggil nama adik sepupu mereka.
Hari sudah semakin sore, namun tak menunjukkan sama sekali keberadaan Alyss dan tentu nya orang tua para anak kecil itu mulai merasa khawatir tak terkecuali kedua orang tua Alyss.
"Anak-anak kemana? Kok masih belum pulang?" ucap Bibi Alyss yang khawatir karna putra nya belum pulang bersama dengan keponakan nya yang lain.
"Iyah, mereka kemana ini?!" sahut ibu Alyss yang juga merasa khawatir karna putri nya tak kunjung kembali.
Hingga tak lama Veli, Reva, dan Ciko pun kembali.
"Dari mana kalian? Dimana Alyss?!" tanya kakek Danu pada ketiga cucunya.
Ketiga cucunya hanya terdiam dan menunduk serta melihat satu sama lain berharap ada yang berani mengatakan duluan.
"Main ke hutan yah kalian?!" tanya kakek Danu mulai marah.
"Kami cuma mau nyari kupu-kupu, terus...
Alyss hilang...." jawab Veli takut dengan suara yang sangat pelan.
"APA?! Alyss hilang?!" sambung Shelly yang merupakan nama dari ibu Alyss sembari memegang lengan Veli.
"Anak ku....
Gimana ini?" ucap Shelly panik dan hampir pingsan karna mengetahui putri semata wayang nya hilang di tengah hutan.
"Mah udah mah, kita cari Alyss yah..." ucap Dion yang merupakan nama ayah dari Alyss sembari menenangkan istrinya yang langsung terduduk di lantai.
Sementara itu kakek Danu dan para bibi Alyss yang merupakan orang tua dari sepupu Alyss pun memarahi Veli, Reva dan Ciko habis-habisan karna masuk kehutan padahal sudah di larang dan bahkan membuat Alyss hilang.
Mereka pun segera memulai pencarian dan meminta bantuan pada pihak berwajib serta para penduduk lain untuk mencari Alyss.
.....................
"Huhu...
Ellie mau pulang... hiks...
Takut...." Alyss yang menangis dengan tubuh gemetar nya di tengah hutan yang sudah berubah menjadi gelap karna hari sudah malam. Ia tetaplah anak kecil berusia 6 tahun yang bisa takut dan menangis di tengah hutan sendirian.
"Ini gala-gala kelinci jelek ini...
Aku jadi di tinggal sama kak Peli!" ucap Alyss kecil yang mulai menyalahkan anak kelinci yang sedang ia gendong.
Ia pun langsung menarik dan membanting anak kelinci tersebut, tak hanya di sampai disitu dia juga mulai menusuk tubuh kelinci kecil tersebut dengan ranting hingga membuat kelinci tersebut mati kehabisan darah.
"Sedang apa?" tanya seorang lelaki dewasa yang menyenteri Alyss dengan senternya ketika Alyss masih tengah menusuk tubuh anak kelinci tersebut dengan ranting.
"Huaaa!" pekik Alyss terkejut ketika mendengar suara seseorang.
Pria tersebut pun melihat bangkai anak kelinci yang mati di tangan anak perempuan yang terlihat sangat cantik tersebut.
"Kenapa ada anak kecil di hutan begini?" tanya pria tersebut sembari berjongkok melihat ke arah Alyss dan menyenteri tubuh kecil Alyss.
Ia pun menarik tangan Alyss yang sebelum nya terduduk di tanah karna terkejut, walaupun gelap karna tak ada cahaya yang menyinari wajah pria tersebut namun bisa di pastikan jika terutas senyum simpul di wajah nya saat melihat anak 6 tahun yang membunuh hewan dengan sadis.
"Dia mirip seperti ku..." batin si pria tersebut dan membuatnya ingin membawa Alyss.
"Telsesat..." jawab Alyss yang masih memilki sisa-sisa tangis nya.
"Paman, pinjam Hp nya, mau telpon ayah....
Mau nagsih tau Ellie disini." ucap Alyss sembari memegang tangan pria tersebut.
"Paman aja yuk yang antar ke ayah mu..." ajak pria tersebut pada Alyss.
"Gak mau! Kata mamah ga bole ikut olang asing!" jawab Alyss yang menggelengkan kepalanya.
"Orang asing? Yaudah kamu namanya siapa?" tanya pria tersebut mengulurkan tangan pada Alyss.
Alyss terdiam melihat tangan yang di ulurkan pria asing tersebut.
"Kenapa? Tidak mau kenalan sama paman?" tanya pria tersebut.
"Ellie." jawab Alyss sembari mulai bersalaman dengan pria asing tersebut.
"Ellie?" tanya pria tersebut.
"Bukan! Ellie (Alyss) loh!" jawab Alyss lagi, ia memang sulit menyebutkan nama.
"Iya, Ellie kan?" jawab si pria tersebut.
"Paman ini bodoh banget sih? Nyebut nama aja salah terus!" ucap Alyss yang tak pernah menyaring ucapannya.
"Haisshh...
Anak ini menyebalkan juga ternyata!" ucap pria tersebut lirih.
"A L Y S S.
Ellie! Dah tau kan?!" ucap Alyss yang mengeja namanya.
"Alyss?" tanya pria tersebut lagi.
"Iyah." jawab Alyss menganggukkan kepalanya.
"Yaudah nama paman Aegyt, sekarang udah kenal kan? Yuk ikut paman." ucap pria tersebut sekali lagi.
"Ga mau..." jawab Alyss lirih saat merasa pria asing yang dihadapan nya berusaha untuk mengajak nya.
"Kata mamah ga boleh ikut orang asing..." jawab Alyss lirih.
"Kan sudah kenalan...
Sudah ikut saja! Jangan banyak bicara!" ucap Aegyt yang mulai tak sabar dan menarik tangan kecil Alyss dengan kasar.
"Gak mau!" teriak Alyss sembari berusaha melepaskan tangan pria asing tersebut.
Duak!!
Pria tersebut pun langsung memukul tengkuk Alyss agar gadis kecil itu kehilangan kesadaran nya.
"Di ajak baik-baik kok ga mau!" ucap Pria tersebut sembari mengangkat tubuh kecil Alyss yang sudah jatuh pingsan.
......................
Ini masih yang bagian Alyss yah, dia masih belum ketemu sama babang Hazel kecilš
Jadi kalian dapet kan gambaran kecilnya kenapa sisi lain Alyss tuh kayak jahat gitu....
Yah karna dulu tuh....
Jangan lupa like, komen, rate 5 fav dan dukung othorš„°š„°
Happy Readingā¤ļøā¤ļøā¤ļø