
Mentari mulai naik menyebarkan seluruh cahayanya.
Alyss yang sebelumnya kehilangan kesadaran karena tak mampu menahan sakit di tubuh nya, akhirnya terbangun setelah 2 hari.
Ia membuka mata nya perlahan, pandangan nya masih tak begitu jelas dan kabur, tetapi dia tau bahwa dia saat ini berada di tempat yang tak asing.
"Sudah bangun?" suara khas dari lelaki yang membuatnya tak sadarkan diri terdengar dari telinganya.
Alyss pun mengalihkan pandangan nya ke sumber suara. Pandangan mata yang awalnya buram dan kabur kini semakin jelas.
Alyss melihat Hazel yang tengah duduk di tepi ranjang sembari memandang nya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Larescha..
Kau sudah melepaskannya?" kata-kata tersebut yang pertama kali keluar dari bibir Alyss ketika ia sadar.
"Kau masih memikirkan orang lain di saat seperti ini?" tanya Hazel sembari mengelus lembut rambut Alyss.
"Ya aku melepaskannya, tapi dia juga sudah mendapat hukumannya." ucap Hazel sembari terus memainkan rambut panjang Alyss.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Alyss dengan suara yang masih lemah.
"Bukan hal yang mengerikan, aku hanya membuatnya keluar dari pekerjaannya, dan dia juga tak bisa melamar kerja di manapun lagi sekarang.
Oh ya aku juga membuatnya pindah dari apatermen nya, kemungkinan kini dia akan sangat sulit mencari tempat tinggal, mungkin sekarang dia bisa kembali ke rumah orang tuanya." ucap Hazel dengan tersenyum pada Alyss dan tetap memainkan rambut Alyss.
Alyss tak menjawab lagi dan hanya meneteskan beberapa air mata yang terjatuh membasahi wajahnya.
"Cup..cup...
Kenapa menangis? Aku tak membunuh nya, lalu apa yang membuatmu sedih?" ucap Hazel sembari menghapus air yang keluar dari mata Alyss.
"Kenapa? Kenapa harus menyakiti orang disekitar ku juga? Apa aku saja tak cukup?" ucap Alyss dengan mata yang penuh dengan kesedihan.
"Aku tak berniat menyakiti mereka. Aku hanya ingin menyakitimu, jika seperti ini kau juga akan ikut terluka, bukan? Kalau saja kau menuruti semua yang ku katakan mungkin tak akan jadi seperti ini." ucap Hazel enteng pada Alyss.
"Dan kau juga belum dihukum, aku ingin menghukum mu tapi sepertinya kau masih sakit, jadi cepatlah sembuh." sambung Hazel lagi dengan berbisik di telinga Alyss.
Alyss hanya diam dan berkata-kata lagi, hanya air mata yang terus keluar meleleh membasahi wajah nya yang sendu yang seperti menggambarkan suasana hatinya sekarang.
Melihat Alyss tertekan seperti itu membuat Hazel mengembangkan senyum di wajahnya.
"Kau tau? Aku akan membuat mu menjadi menurut dan patuh padaku. Walaupun itu dengan cara yang dapat menghancurkan mu sekalipun, sampai kau tak tau cara nya nya untuk bangkit kembali. Kau mengerti?" ucap Hazel tersenyum dengan tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Hazel pun bangkit dan pergi meninggalkan Alyss sendiri di kamarnya.
Kini Alyss berada di kamar yang biasanya ia tempati di kediaman Hazel. Ia masih sulit untuk bergerak, hampir seluruh tubuhnya di lapisi oleh perban untuk menutup lukanya.
Walaupun sudah diobati tetap saja ia masih merasakan sakit, ia terus berpikir.
Mengapa hal seperti ini terjadi padanya?
Seharusnya ia tak pulang malam itu.
Seharusnya ia tak pernah memotong jalan saat itu.
Seharusnya saat ia tertangkap ia tak memohon untuk hidup.
Seharusnya ia membiarkan psyco itu membunuh nya saja malam itu.
Dengan begitu, ia tak akan banyak memberi luka pada orang-orang yang sangat disayanginya.
Ia tak akan menjadi penyebab kehancuran orang-orang disekitarnya.
Hal tersebut terus berputar di kepala Alyss, air mata nya terus meleleh bagaikan lilin yang terus di bakar oleh api.
Kini Hazel tak hanya memberi nya luka fisik tetapi juga terus memberi nya luka di hati.
......................
Hazel meminta Rian untuk datang ke kediamannya serta membawa beberapa pekerjaan yang tertunda karna Hazel tak sempat pergi ke RS secara langsung saat Alyss masih tak sadarkan diri.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan terdengar dari luar pintu ruangan kerja Hazel.
"Masuk." ucap Hazel.
"Ini beberapa dokumen yang harus kau periksa." ucap Rian sembari menyerahkan beberapa kertas yang berisi tentang pekerjaan pada Hazel.
Hazel menerima dokumen tersebut. Setelah Hazel mengambil dokumen tersebut Rian langsung bertanya pada Hazel.
"Apa yang terjadi? Sebelumnya kau menyuruh ku mencari darah, dan itu untuk dr. Alyssca? Jika kau berniat membunuhnya, kenapa kau juga repot-repot menyelamatkannya?" tanya Rian yang bingung dengan tingkah Hazel.
Sebelumnya Hazel pernah memintanya mencari darah untuk seseorang. Namun, saat itu ia belum tau bahwa orang itu adalah Alyss.
Dan saat Alyss pergi, Hazel memerintahkannya untuk mencari Alyss dan segera menemukannya.
Dan kini saat ia sudah menemukan Alyss, Hazel meminta nya untuk mencari darah yang sesuai lagi dengan Alyss.
Sebelumnya karna Hazel mencambuk Alyss dan Alyss yang terluka cukup parah membuatnya hampir kehabisan darah, maka dari itu Hazel meminta Rian untuk mencari darah yang cocok untuk Alyss lagi.
Hazel menarik napas panjang ketika mendengar pertanyaan dari sekertaris sekaligus sahabatnya tersebut.
"Aku tak berniat membunuhnya, dan aku juga tak ingin dia mati. Aku menyukainya." ucap Hazel berterus terang pada Rian.
"Kau menyukainya? Tetapi kau juga menyiksanya? Kau menyukainya sebagai wanita atau sebagai salah satu dari mainan mu saja?" tanya Rian yang bingung mendengar jawaban dari Hazel.
"Aku melakukan hal seperti itu agar dia tau posisinya, bahwa dia tak akan pernah bisa lepas dariku. Dan aku menyukai nya sebagai wanita, karna aku ingin menyentuhnya ketika melihatnya, dan tidak merasa jijik seperti melihat wanita yang lain." Jawab Hazel pada Rian.
"Mau kuberikan saran sebagai sahabatmu? Jika kau terus seperti ini dia akan membencimu, dan tak mungkin menyukai mu. Cobalah untuk membuatnya menyukaimu, dengan begitu ia akan terikat pada mu tanpa harus ada paksaan." ucap Rian yang mencoba memberi saran pada Hazel.
"Jika dia tak menyukai ku tak apa. Aku akan memaksa nya tinggal dengan ku walaupun dia membenci ku sekalipun. Aku juga akan membuatnya tak berani menyukai pria lain." jawab Hazel yang masih kukuh dengan kepala batunya.
"Baiklah, itu terserah padamu. Aku hanya tak ingin kau menyesal dikemudian hari. Jika ada hal lain kau bisa katakan padaku." ucap Rian sembari menghela napas nya dengan panjang.
"Dokter yang merawat Alyss kemarin, buat dia menandatangani surat perjanjian menjaga rahasia dan aku ingin dia menjadi Dokter pribadi Alyss." ucap Hazel di akhir pembicaraan nya pada Rian.
"Baik." ucap Rian singkat pada Hazel, dan segera keluar dari ruangan kerja Hazel.
Hazel memang tak menyamakan dokter pribadinya dengan dokter pribadi Alyss dikarnakan ia tak suka jika harus melihat dr. Alzi merawat Alyss. Maka dari itu ia meminta dokter wanita yang menjadi dokter pribadi Alyss.
...****************...
Haii....
Jangan lupa
✓ Like
✓ Komen
✓ Rate 5 yah
Biar Author makin semangat hihi🤗🤗
Ups berikan dukungan buat Author berupa vote dan favoritkan yah🤫🤗🤗
hihihi..
Happy Reading buat para pembaca🥰🌹