(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Dirty Secret



Hotel.


Gadis itu menunggu dengan duduk di sofa empuk yang berada di kamar hotel nya.


Setelah acara pernikahan nya, pria yang menjadi suami nya pergi tak kembali hingga sekarang.


Ia menghadapi para tamu sendirian bersama orang tua nya dan bahkan masih belum kembali setelah acara nya selesai.


"Jam berapa sekarang?" tanya Clara di ponsel agar ponsel tersebut segera memberi tau nya.


"Pukul 12.30 malam" asisten pintar ponsel tersebut pun menjawab pertanyaan gadis itu.


Clara kembali diam dan menunggu, ia mulai gelisah dan beberapa pikiran buruk melayang di kepala nya.


Hari yang tak seperti pernikahan melainkan pesta tunggal karna setelah ikrar ia di tinggal begitu saja tanpa alasan yang pasti.


"Apa Presdir menemui nya? Atau..." ucap nya lirih, "Dia menyesal karna sudah menikahi ku?" sambung nya dengan lirih.


Tentu saja ia merasa seperti itu, karna tak ada yang bisa di banggakan dari nya, tak memiliki pekerjaan, tak bisa melihat, pernah di cap sebagai wanita murahan bahkan sudah tak lagi suci.


"Apa yang ku harapkan?" ucap nya mulai menangis sembari menutup wajah manis nya dengan telapak tangan kecil nya.


......................


JBS Hospital.


Louis melihat adik nya yang sedang menjalani perawatan nya dengan beberapa dokter dan profesor.


Ia melihat gadis nakal itu seperti antara sadar dan tidak, di katakan sadar namun terus menggeliat meringis dan tak menyadari sekitar nya.


"Kenapa dia masih seperti itu? Kalian sudah memberikan penawar nya kan?" tanya Louis melihat adik yang terus menerus menggeliat tak nyaman.


"Sudah Presdir, kami menemukan narkotika dan obat penambah gairah dalam dosis besar, narkotika nya menekan gejala obat nya dan membuat nya penawar nya kehilangan efek," jelas prof tersebut.


"Kalau begitu berikan dia obat penenang! Kau mau adik harus sampai-" ucap nya yang tak bisa melanjutkan kata-kata nya.


"Kami sudah memberikan obat penenang tetapi obat penambah gairah dan narkotika nya memberikan efek lain sehingga dia tak bisa dibuat tak sadar," ucap prof tersebut.


"Berapa lama kalian bisa mengeluarkan semua narkotika nya dan membuat nya bersih dari narkotika lagi?" tanya Louis yang tak ingin adik nya menjadi pencandu.


"Narkotika nya dalam dosis yang tak mengkhawatirkan mungkin beberapa minggu sudah bisa menghilangkan narkotika nya, tapi yang menjadi masalah adalah obat penambah gairah yang di berikan." ucap prof tersebut menghela nafas nya.


"Maksud nya? Aku tau itu tak begitu membahayakan," ucap Louis karna ia memang pernah memberikan nya pada Clara.


Bahkan saat ia menyandra gadis itu ia memberikan nya hampir setiap hari agar gadis itu patuh dengan sendiri nya.


"Tapi kali ini dosis nya lain dan mereka juga menambahkan zat asing lain yang dapat indung telur dari nona Louise bermasalah kalau tidak..." ucap prof tersebut yang ragu setelah ia menjalani serangkaian tes guna memeriksa tubuh gadis itu.


"Apa? Maksud mu dia harus melakukan hal seperti itu?!" bentak Louis menggema hingga membuat para dokter yang lain langsung terkejut.


"Ji-jika tak melakukan hal tersebut juga tidak apa-apa karna kami sudah memberikan penetral nya, tapi nona Louise akan terus seperti itu sampai efek obat nya habis dengan sendiri nya..." jelas prof tersebut dengan gugup.


Louis pun menoleh melihat adik nya yang terlihat meringis gelisah dengan wajah pucat nya.


"Kalian sudah memeriksa nya kan? Dia benar-benar tidak..." tanya Louis lirih yang tak sanggup mengatakan nya karna tak ingin adik nya benar-benar mengalami hal seperti itu.


"Kami menemukan ada nya jejak pelecehan dan pemaksaan *****al namun tidak sampai melakukan pemerk*saan," jawab prof wanita paruh baya tersebut.


Louis bernafas lega, hal paling ia takutkan jika hal tersebut sampai terjadi adalah trauma yang akan membekas selama nya di hati gadis itu.


Ia tak bisa membayangkan jika harus melihat adik nya trauma dengan hal seperti itu lagi.


"Berapa lama efek obat nya akan hilang?" tanya Louis lagi.


"Kami sudah membersihkan dan hampir menetralisir nya, namun karna dosis yang berbeda mungkin akan hilang dalam 5 - 7 jam," jawab prof tersebut.


"Tak akan mempengaruhi kesuburan nya kan?" tanya Louis lagi sembari menghela nafas kasar.


Ia tau sekarang satu-satu nya pewaris untuk JBS grup adalah anak yang akan di lahirkan adik nya, karna ia tak bisa mendapatkan anak lagi.


Ia tak mengalami masalah apapun namun wanita yang ia nikahi lah yang tak dapat hamil lagi, dan jika ia memaksa memiliki pewaris dari keturunan yang ia hasilkan maka ia harus mengkhianati wanita yang menjadi istri nya.


Dan ia terlalu mencintai wanita itu untuk bisa mengkhianati nya dengan memiliki anak dari wanita lain.


"Mungkin jika tak melakukan pelepasan pada sel telur akan sedikit mempengaruhi kesuburan namun hal itu masih bisa di kontrol bersamaan dengan rehabilitasi narkotika nya nanti," terang prof tersebut.


Ia pun memanggil sekertaris Ferdi dan meminta nya untuk mencari tau tentang jenis obat yang diberikan pada adik nya. Pria itu sekarang sudah di jadikan sekertaris utama dari yang sebelum nya sekertaris kedua karna ia masih memiliki Clara yang bekerja di samping nya.


Sekertaris Ferdi pun mulai mencari tau dan dapat menemukan dengan cepat karna obat jenis itu bukanlah obat baru.


"Apa?!" ucap Louis yang semakin emosi mendengar hasil pencarian sekertaris nya.


"Benar Presdir, obat seperti itu biasa di gunakan dan di berikan pada wanita penghibur agar dapat melayani para tamu nya dengan baik." ucap sekertaris Ferdi sekali lagi.


"Berani sekali mereka memberi adik ku obat seperti itu!" ucap Louis mengepalkan tangan nya dengan emosi.


Setelah itu ia pun menyuruh para dokter, prof dan sekertaris nya keluar dari ruangan adik nya.


"Tak mau pakai selimut..." ucap Louise lirih yang terus menggeliat tak nyaman saat sang kakak menaikkan selimut nya.


Louis diam menatap adik nya yang terlihat pucat tersebut, tubuh lemah gadis itu tak akan mampu jika di berikan segala macam bahan kimia yang masuk bersamaan.


"Sabar yah..." ucap Louis sembari menghapus keringat yang jatuh di dahi adik nya.


Ia ingin memberikan obat penenang lagi karna bagi nya lebih baik jika gadis itu tertidur dan tak seperti sekarang.


Namun obat penenang dosis tinggi juga akan membahayakan nya, ia harus melihat adik nya menahan sampai efek obat nya habis atau memberikan apa yang di butuhkan oleh adik nya.


"Kak...


Sakit..." ringis gadis itu sembari meraih tangan yang sedang mengusap keringat di dahi nya dengan sapu tangan yang halus.


"Rasa nya aneh...


Aku tidak tahan..." sambung nya lagi dengan menjatuhkan bulir bening nya.


Louis pun hanya diam dan keluar dari ruangan adiknya, ia tak bisa melihat saudara kembar nya menangis seperti itu pada nya.


"Kenapa yang sakit itu kau, bukan aku saja..." gumam nya lirih.


Fisik yang lemah, psikis yang mudah terguncang membuat gerak dan lingkup adik nya dibatasi sejak kecil, ia selalu melihat gadis nakal itu menjalani terapi atau pengobatan dan juga jatuh sakit sejak kecil.


Sebagai seorang kakak tentu nya ia tak pernah ingin melihat hal tersebut.


"Aku boleh menemui nya?" tanya seorang pria yang membuat pikiran yang berbelit itu sadar sejenak.


"Bisa, tapi dia sedang..." ucap Louis saat melihat pria di depan nya.


"Dia kenapa? Kenapa sejak awal aku tak bisa menemui nya?" tanya Zayn dengan antusias.


Louis memang melarang Zayn untuk bertemu dengan adik nya karna ia tau adik nya masih di bawah pengaruh obat-obatan.


"Bicara di ruangan ku," ucap Louis pada Zayn dan berjalan ke ruangan nya.


"Kenapa mereka memberikan nya obat seperti itu?!" tanya Zayn dengan marah.


"Selama dia menduduki posisi wakil Presdir, sudah berapa banyak perusahaan yang dia akusisi?" tanya Louis agar lebih mudah meminimalkan pencarian pelaku nya.


"Kami mengakusisi perusahaan dengan cara yang baik dan tidak merebut paksa, dia juga tak melakukan hal kotor sama sekali." ucap Zayn yang sangat tau karna ia bekerja untuk gadis itu.


"Baik, aku akan cari siapapun mereka." ucap Louis dengan nada tertahan karna amarah nya.


"Kau bisa menemui nya kalau mau," ucap Louis pada Zayn sembari memijat pelipis nya.


"Louis? Kau lupa sesuatu hari ini?" tanya Zayn pada pria itu karna ia tau ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.


"Lupa? Memang nya ini hari apa?" tanya Louis yang melupakan hari pernikahan nya karna ia terlalu sibuk dan khawatir pada adik nya.


"Pernikahan mu..." ucap Zayn lirih.


"Astaga!" ucap nya terkejut, "Kau bisa jaga Louise kan? Aku akan kembali ke hotel!" ucap Louis yang langsung bergegas ke hotel.


......................


Hotel.


Louis kembali ke kamar yang harus nya menjadi kamar malam pertama nya namun ia membuat gadis yang ia nikahi melewati pernikahan sendirian setelah ikrar di ucapkan.


Ia kembali di pukul dua dini hari karna sebelum nya masih sibuk mengurus beberapa hal yang mendadak terjadi di hari pernikahan nya.


"Dia tidur sofa?" gumam Louis sembari menggendong gadis itu ke ranjang.


Clara pun mulai terbangun karna ia merasa tubuh nya seperti di pindahkan.


"Rai? Kau sudah datang?" tanya nya pada pria yang menggendong nya.


"Kau sudah bangun? Kalau mengantuk tidur lagi saja..." ucap Louis pada gadis itu sembari menurunkan ke ranjang.


Deg...


Clara tersentak ia mendengar suara Presdir nya yang sangat di kenal nya.


"Presdir?! Pe-pergi! Rai dimana?!" ucap nya sembari mendorong pria itu dan mulai ketakutan karna ia mendengar suara yang masih tertanam dalam rasa takut nya.


Louis yang menyadari jika ia melepas chip pengubah suara nya saat ia pergi meninggalkan pesta. Ia pun langsung bergegas mengambil cadangan dan memasang nya lagi agar suara nya kembali berubah.


"Cla? Ini aku! Kau bermimpi buruk? Hm?" tanya Louis setelah memasang chip di telinga nya dan memeluk gadis itu.


"Rai?" panggil Clara lirih.


Apa itu mimpi? Aku memiliki halusinasi mendengar suara nya?


"Ini kau?" tanya Clara lagi sembari mencoba meraba wajah di depan nya.


"Ini aku, jangan takut..." ucap Louis menenangkan gadis itu.


"Kau kembali? Kau tidak menyesal menikahi ku?" tanya Clara lagi dengan lirih.


"Tidak, aku tak menyesal..." ucap nya sembari kembali menidurkan gadis itu di ranjang, "Aku takut malah kau yang menyesal..." sambung nya sembari mengelus lembut kepala gadis itu sedangkan ia menyandarkan dirinya di atas kepala ranjang.


"Kau dari mana?" tanya Clara pada pria yang terus mengelus kepala nya dengan lembut.


"Ada urusan tadi," jawab Louis yang tak bisa mengatakan tentang masalah adik nya karna akan dapat mengungkap identitas nya.


Clara tak bertanya lagi yang ia tau saat ini pria yang ia nikahi mulai menyimpan sesuatu dari nya.


......................


JBS Hospital.


Zayn masuk ke ruangan tempat Louise di rawat dan melihat gadis itu yang merintih tak nyaman dengan wajah pucat dan berkeringat.


"Louise? Maaf..." ucap nya lirih yang merasa gadis itu bisa sampai di culik karna ia yang membiarkan nya pergi sendiri.


"Sakit...


Rasa nya aneh..." ringis gadis itu pelan seperti sedang bergumam.


Obat penambah gairah yang masuk ke tubuh nya berbeda dengan yang pernah ia minum di pesta, obat dalam dosis besar yang sudah bercampur dengan narkotika dan zat lain yang harus nya hanya bisa di gunakan pada gadis atau wanita yang tak memiliki penyakit bawaan apapun.


"Aku harus bagaimana? Aku juga tak tau..." ucap Zayn lirih yang karna ia juga tak bisa membuat gadis itu membagi apa yang di rasakan di tubuh nya.


"Sakit...


Rasa nya aneh..." gumam Louise lagi sembari meraih tangan pria itu.


Mungkin jika saat ini bersama James, pria itu pasti akan langsung melakukan hal tersebut pada nya, namun pria itu saat ini masih tengah berada di udara untuk kembali pada nya.


"Aku tak bisa melihat mu sakit..." ucap nya lirih yang kemudian ingat apa yang di jelaskan Louis pada nya di ruangan tadi.


"Asal kau merasakan hal itu, kau tak akan sakit lagi kan? Atau aku harus melihat mu menahan nya beberapa jam lagi?" tanya Zayn lirih sembari mengelus rambut Louise dengan lembut.


"Aku tidak tahan...


Sakit nya aneh..." ucap Louise lirih dengan beberapa bulir yang jatuh dari mata nya.


Tubuh nya seperti memiliki dorongan hasrat yang tinggi dan seperti di gigit dengan jutaan semut api secara bersamaan.


Serasa di kerumunan lebah dan semut yang tak bisa ia defenisikan hal ini terjadi karna semua bahan yang masuk memiliki efek bertabrakan di dalam tubuh nya. Hasrat dan rasa sakit yang secara bersamaan datang jika ia tak melakukan hal tersebut.


Pria yang menculik nya sengaja memberikan nya obat seperti itu agar ia bisa membuat gadis itu dalam kendali nya tanpa tau fisik gadis yang ia berikan obat seperti sangat tak cocok.


"Let's keep it secret for us or for me?" ucap nya lirih dan mulai mencium bibir gadis itu.


Entah dorongan dari mana yang ia miliki namun tubuh nya bergerak dengan sendiri nya tanpa ia sadari.


Hummpphh...


Louise merasa sesak sesaat, pandangan nya mengabur ia tak tau apa yang ia lakukan dan dengan siapa ia berciuman namun kesadaran akal nya berada di titik nol dan hanya terfokus ingin menghilangkan rasa sakit dan aneh yang menjalar di tubuh nya.


Dia membalas nya?


Batin Zayn saat ia merasakan gadis itu membalas lum*tan nya.


Zayn melepaskan sesaat ciuman nya ia melihat ke arah wajah Louise, ia tau jika melakukan hal tersebut maka persahabatan mereka bisa hancur dan gadis itu bisa pergi membenci nya.


"Can I make a dirty secret?" ucap nya lirih dan memangut bibir gadis itu lagi.


Ia mencium dan mengecup leher jenjang gadis itu namun tak meninggalkan bekas sama sekali agar tak ada yang tau apa yang terjadi malam ini termasuk gadis itu sendiri.


"Ungh!" lenguh Louise sesaat ketika ia merasakan sesuatu di bagian privasi nya.


Sorry but I love you...


Pria itu menutup suara di bibir gadis itu dengan pangutan lembut nya.