
7 Hari kemudian.
Pria tampan itu tengah berada di luar kota untuk melihat pembangunan RS cabang yang baru dan pembangunan proyek terbaru yaitu JBS hotel.
Pria itu mulai menambah jaringan untuk memperbesar JBS grup agar tak menjadi unggulan dalam bidang kesehatan saja.
Perjalanan bisnis nya membutuhkan 2 hari dan ia tak bisa kembali ke kediaman nya dalam kurung waktu tersebut, dan yang selalu menemani nya dalam bepergian siapa lagi jika bukan sekretaris nya yang sudah ia hancurkan mental nya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Louis mengagetkan gadis manis itu yang sedang melihat cafe permen kapas atau yang dapat disebut juga gulali dan beberapa es krim yang di jajarkan di sebelah nya
"Tidak ada." jawab Clara dengan wajah ketus.
"Sudah selesai?" tanya nya lagi pada atasan nya, ia tau pria itu sebelumnya sedang memiliki pertemuan dengan klien lain, karna serang terlalu banyak jadwal akhirnya mereka memutuskan untuk membagi jadwal nya. Gadis itu menemui klien untuk proyek jerja sama JBS Hospital dan Louis untuk JBS Hotel.
"Sudah! Kita perlu meninjau beberapa pekerjaan lagi." jawab Louis pada sekretaris nya.
Clara pun hanya diam dan mengikuti langkah atasan nya, hari yang panjang dan melelahkan pun mulai berakhir, setelah mulai malam mereka pun kembali ke hotel yang sudah di pesan oleh gadis manis itu.
......................
Hotel.
"Hanya satu? Bukankah saya sudah pesan dua kamar tadi? Bahkan sudah melakukan pembayaran nya kan?" tanya Clara bingung karna staf mengaku ia hanya memesan satu kamar.
"Maaf nona...
Kami akan ajukan pengembalian dana segera, kamar tersebut akan di pakai." jawab pelayan hotel tersebut.
"Yasudah, kalau begitu saya pesan satu kamar lagi, kamar biasa pun tidak apa-apa..." ucap Clara lagi.
"Maaf nona kami juga tidak bisa..." jawab pelayan hotel tersebut lirih, ia hanya di perintahkan agar tak memberi kamar lagi pada gadis manis di depan nya, mau itu jenis kamar apapun dari yang biasa hingga VVIP.
"Kenapa?! Alasan nya?!" tanya Clara kesal, entah mengapa semua pegawai hotel seakan-akan mempersulitnya.
Louis hanya tersenyum melihat hal itu, siapa lagi dalang nya jika bukan ia yang membuat sekretaris nya tak bisa memiliki kamar di hotel tersebut dan satu-satu nya kamar yang bisa di masuki hanya kamar nya.
Clara pun akhirnya mengalah dan tak lagi memesan. Ia pun beranjak dan ingin pergi ke hotel lain.
"Mau kemana?" tanya Louis dan langsung menghampiri serta mengejar gadis manis itu.
"Saya akan memesan kamar di hotel lain, kamar di hotel ini tak bisa di pesan." jawab nya seadanya, dan langsung berusaha menepis serta melepaskan tangan pria itu.
"Tidak bisa! Kita perlu berhemat anggaran perusahaan! Saat ini sedang terlalu banyak pengeluaran!" ucap Louis yang beralasan.
Clara mengerutkan kening nya sesaat Menghemat anggaran perusahaan? JBS grup yang merupakan perusahaan dengan jutaan dolar mengalir di setiap menit nya, kini sedang ingin berhemat?
"Berhemat? Perusahaan baik-baik saja tidak ada harga saham yang turun dan pengeluaran juga terkontrol." jawab Clara bicara secara logika karna ia juga lah yang ikut mengatur dalam urusan perusahaan karna merupakan sekretaris presdir.
"Pengeluaran untuk urusan pribadi terlalu banyak, jadi perlu di hemat!" jawab Louis yang tetap kukuh dengan alasan tak logis hanya untuk membuat gadis itu tidur di kamar hotelnya.
"Kalau begitu saya pakai uang pribadi." jawab Clara dan berbalik, namun lagi-lagi pria tampan itu kembali mencegah nya.
"Tidak bisa! Pekerjaan kita banyak! Sulit kalau berbeda hotel!" ucap Louis kembali beralasan.
"Presdir dapat melakukan panggilan video, saya pastikan tak akan terlambat menjawab nya." jawab gadis itu lagi dan berusaha melepaskan tangan pria yang sedang mencegah nya.
Louis pun mulai kehabisan akal untuk mengatakan alasan agar gadis itu tetap tinggal.
"Kenapa kau sangat mau keluar? Ha? Sudah ada yang memesan mu?!" tuduh pria tampan itu, ia tak tau bagaimana harus nya berbicara dan mulai mengeluarkan tuduhan kasar dan tajam nya lagi.
"Lepas! Itu bukan urusan anda!" ucap Clara kesal dan berusaha melepaskan tangan nya.
"Sudah benar-benar ada yang memesan mu? Kau benar-benar jalang!" tuduh pria tampan itu sekali lagi.
Clara pun memejamkan mata nya sesaat meredam rasa sakit karna penghinaan yang di ucapkan pria tampan itu lagi padanya.
"Sekali lagi saya katakan! Itu bukan urusan anda!" ucap gadis itu dengan setegas mungkin dan berusaha melepaskan cengkraman tangan pria kekar itu berada di pergelangan tangan nya.
Rahang pria itu mengeras, ia mulai benar-benar berfikir jika gadis di hadapan memang ingin menemui pria lain.
"Auch! Lepas!" ucap Clara setengah berteriak saat Louis tiba-tiba menarik paksa tangan nya.
"Anda ingin bersikap seperti ini pada saya?! Ini adalah tempat umum!" ucap Clara pada pria yang menarik paksa tangan nya menuju lift.
Louis tak menggubris gadis manis itu, ia tau bahkan jika ada orang lain yang ingin menegur nya mereka juga tak akan berani jika tau siapa ia yang sebenar nya.
Bruk!
Dengan satu hempasan ia melempar tubuh gadis itu masuk ke ke dalam lift dan langsung menutup pintu nya, ia langsung menekan lantai yang menuju ke kamar VIP yang sudah di pesan sebagai tempat bermalam nya.
Tubuh Clara mulai gemetar lagi, ia sangat takut jika harus menghadapi kemarahan dan perbuatan atasan nya lagi.
"Ukh!" pekik gadis itu saat rahang nya mulai di cengkram hingga sulit baginya berbicara.
Hummphh...
Sedetik kemudian pria itu sudah mel*mat bibir nya dan menghimpit tubuh nya ke dinding lift.
Setelah puas menggigit dan menelusuri setiap inci mulut gadis itu, Louis pun mulai melepaskan ciuman panas nya.
"Perlu ku ajari lagi bagaimana cara nya bersikap? Hm?" bisik Louis di telinga Clara sembari mulai menyentuh bokong gadis itu.
Clara pun langsung menggelengkan kepala nya dengan segera.
"Ti-tidak..." ucap nya lirih dengan suara gemetar.
Louis pun tersenyum simpul dan mulai melepaskan gadis itu, ia tak bermaksud ingin menodai nya lagi namun ia hanya ingin membuat gadis itu takut.
Setelah sampai di kamar hotel tersebut, jantung gadis itu semakin berdegup kencang, tubuhnya masih ingat dengan jelas setiap rasa sakit yang di timbulkan oleh pria yang saat ini sedang bersama nya dengan di sebuah kamar hotel.
Pria itu tak berbicara banyak lagi dan mulai membersihkan dirinya. Sedangkan gadis itu berusaha untuk pergi dengan mencoba keluar walau ia tau kartu pintu kamar tersebut bersama pria yang sedang mandi saat ini.
"Mau kabur?" suara bariton pria yang baru saja menyelesaikan mandi nya dan hanya berbalut handuk di pinggang nya.
Clara tersentak dan membatu di depan pintu tersebut. Ia berbalik dan melihat ke arah pria tersebut, gadis manis itu langsung memalingkan wajah nya saat melihat tubuh atasan yang hanya memakai lilitan handuk di pinggang dan memperlihat semua otot bidang nya.
"Pfftt...
Kau malu? Padahal satu minggu sebelum nya kau baru saja mencoba nya." ucap Louis setengah tertawa saat melihat gadis itu berusaha memalingkan wajah nya dan tak ingin melihat ke arah nya.
"Sana mandi!" ucap Louis enteng dan mulai mengambil pakaian nya yang sudah di susun di kamar hotel tersebut.
Clara hanya terdiam entah kenapa ia takut saat pria itu menyuruhnya untuk mandi, langkah nya mulai berjalan ke arah sofa dan melihat beberapa barang yang ia bawa untuk persiapan karna akan bermalam di luar kota.
"Loh? Pakaian ku kenapa bisa disini?" tanya gadis itu lirih, karna ia tau awal nya ia membawa dan meletakkan nya ke kamar yang seharusnya ia tempati sekarang.
Tak seperti atasan nya yang selalu membeli barang-barang baru setiap bepergian, gadis itu menyiapkan sendiri barang nya agar bisa lebih menghemat uang saku nya.
Gadis manis itu bahkan masih belum menyadari jika semua yang terjadi saat ini adalah ulah atasan nya, dari mulai tak ada kamar yang bisa ia gunakan hingga barang-barang nya yang sudah berada di kamar pria tampan itu.
"Sana mandi! Mau aku yang mandikan?" gertak Louis dan seketika membuat Clara langsung terkejut.
"Tidak! Aku mandi sendiri!" ucap gadis itu dan langsung berlari pergi masuk ke kamar mandinya.
Setelah kurang lebih 20 menit gadis itu pun mulai keluar, Louis menatap ke arah ke gadis itu yang terlihat segar karna baru saja membersihkan dirinya.
"Itu makan!" ucap pria tersebut acuh tak acuh sembari sembari menunjuk ke arah bungkusan yang berada di atas meja di kamar hotel tersebut.
Gadis itu terdiam sesaat ia sangat tau jika mereka sudah makan malam sebelum ke kembali ke hotel.
"Kenapa diam? Ku suruh makan yah makan!" ucap Louis sekali lagi.
"Eh? Gulali? Es krim?" gumam gadis itu saat ia melihat bungkusan yang penuh akan makanan manis yang ia lihat tadi siang.
"Habiskan! Jangan sampai sisa!" ucap Louis sekali lagi pada gadis manis itu, ia memesan nya saat gadis itu tengah mandi. Pria itu tau jika yang di lihat sekretaris nya tadi siang adalah cafe yang berisi semua makanan manis itu.
"Eh?! Se-semua?" tanya gadis itu terkejut ketika mendengar ucapan atasan nya. Pria itu menyuruhnya menghabiskan makanan yang sangat banyak itu.
"Iya! Makan semua atau kau yang di makan!" jawab Louis acuh tak acuh sembari membuka laptop nya dan meninjau beberapa data.
"A-aku yang dimakan? Ka-kau mau membunuh ku?" tanya gadis itu dengan suara gemetar, ia benar-benar sangat takut, karna baginya pria yang mampu melecehkan nya maka juga mampu untuk membunuh nya, bagi nya arti kata makan adalah makan yang sebenarnya bukan hal lain.
Louis pun mengangkat wajah nya dari layar laptop yang berada di hadapan nya, ia menatap ke arah gadis manis itu yang terlihat sangat ketakutan.
"Iya memakan mu...
Aku akan memotong mu menjadi beberapa bagian dan membuat menjadi es krim..." ucap pria itu semakin menakuti gadis di hadapan nya. Ia hampir saja tertawa dan berusaha menahan suara dan mimik tertawa nya ketika melihat gadis itu semakin takut.
"Ma-mana ada manusia yang di jadikan es krim! Lagi pula juga tak ada yang makan!" ucap gadis tersebut dengan suara gemetar.
"Ada! Kau yang di jadikan es krim dan aku yang akan memakan nya." jawab Louis enteng dan mulai tersenyum karna tak bisa menyembunyikan tawa nya yang hampir terlepas.
Deg...
Gadis manis itu semakin takut saat melihat senyuman di wajah pria itu, ia pun dengan cepat duduk dan membuka cup nya es krim nya. Es krim dengan rasa vanila karna itu memang rasa kesukaan nya.
"Suka..." jawab Clara lirih dan mulai memakan es krim tersebut.
Louis pun tersenyum saat ia tak salah membeli rasa yang di sukai gadis itu.
"Tadi pelayan hotel nya yang kasih, katanya sebagai bentuk permintaan maaf karna mengusir mu dari kamar yang sudah kau pesan." ucap Louis yang tak mau mengatakan jika ia lah yang membeli semua es krim dan gulali itu.
50 menit kemudian.
Gadis itu tak sanggup memakan semua es krim dan gulali yang sangat banyak itu. tenggorokan nya mulai sakit karna terlalu banyak makan yang manis dan juga dingin.
"Uhuk! Uhuk!" Clara terbatuk beberapa kali karna sudah mulai terlalu banyak memakan es krim nya perut dan pinggang nya bahkan mulai terasa sakit, ia tak tau apakah ini karna es dan gulali yang ia makan atau hal lain.
"Es krim nya banyak sekali...
Aku tak bisa menghabiskan nya..." ucap gadis itu lirih.
"Kenapa tak habis? Bukan nya kau suka?" tanya Louis lagi sembari mulai menutup laptop nya karna ia sudah selesai meninjau data yang ia inginkan.
Dia mau membuat ku mati kekenyangan? Ini cara menyiksa yang baru?
Batin gadis sembari menatap pria yang sangat ia benci namun tak bisa singkirkan dalam hidupnya.
"Suka...
Tapi terlalu banyak..." jawab Clara lirih.
Louis diam sejenak dan menatap jika wajah gadis itu mulai pucat.
"Yasudah!" jawab nya sembari mulai naik ke atas ranjang nya.
Clara pun mulai membersihkan sisa-sisa cup es krim tersebut dan menyiapkan sofa tempat dimana ia akan tidur nanti nya.
Gadis itu semakin terlihat gelisah karna perut nya yang semakin sakit dan terasa seperti sedang kram.
"Kau tidak nyaman tidur di situ? Kalau kau mau kau bisa tidur disini...
Aku sedang baik hati sekarang..." ucap Louis sembari menepuk sisi ranjang yang berada di sebelah nya sembari menatap ke arah sekretaris nya yang terlihat sangat tak nyaman.
"Saya sangat nyaman." jawab Clara dan semakin melilitkan selimut ke tubuh nya, ia tak bodoh untuk naik ke ranjang pria iblis itu.
Louis sejenak memperhatikan punggung indah yang sedang membelakangi nya dan tak mau melihat ke arah nya.
"Kau bawa pil KB mu?" tanya pria itu tiba-tiba.
Deg...
Gadis itu tersentak dan mulai takut saat mendengar pertanyaan yang baginya menakutkan itu.
Merasa tak ada jawaban membuat pria itu bangun dan menghampiri gadis yang sedang yang sedang berusaha tidur itu.
"Bangun! Ditanya malah diam saja!" bentak Louis dan langsung memaksa gadis itu untuk bangun.
"Layani aku sekarang! Aku sedang ingin!" ucap Louis tanpa basa-basi dan menarik tangan gadis itu ke ranjang.
"Ja-jangan! Aku tak bawa pil KB nya!" ucap Clara dengan suara gemetar dan berusaha lari.
"Tinggal di gugurkan nanti!" jawab Louis enteng sembari mulai mengukung dan memegang kedua tangan gadis itu yang sedang mencoba memberontak pada nya.
Deg...
Hati nya semakin sakit mendengar jawaban tersebut, jawaban yang seakan-akan membuat dirinya benar-benar seperti wanita murahan.
Sekarang aku ini apa? Jalang? Pemuas nafsu? atau...
Aku seperti budak dan peliharaan nya?
"Jangan! Brengsek! Lepas! Aku tidak mau!" teriak Clara yang sebisa mungkin menahan tangis nya, rasa nya benar-benar sesak di perlukan seperti boneka yang tak memiliki perasaan.
Perut dan pinggang nya semakin terasa sakit dan pria itu menginginkan dirinya lagi.
"Auch!" pekik nya saat tangan dari atasan nya mulai bermain secara paksa di bagian privasinya.
Sakit... perih... ngilu...
Ia rasakan secara bersamaan.
"Kata nya tidak mau! Tapi basah! Dasar jalang!" bisik Louis di telinga gadis itu.
Namun ia juga merasa aneh dengan gadis yang menangis dan meringis kesakitan di kungkungan nya.
Ia pun menarik tangan nya dan melihat beberapa darah di jemarinya.
"Darah?" gumam nya lirih ketika melihat cairan merah itu.
Gadis itu pun perlahan membuka matanya dan menatap terkejut.
"Ja-jangan...
A-aku sepertinya sedang da-datang bulan..." jawab nya lirih seakan suara nya hampir tak terdengar, merasa takut dan merasa terselamatkan sekaligus karna pria itu tak bisa menodai nya lagi untuk saat ini.
"APA?!" ucap Louis terkejut dan langsung bangun, pria itu langsung ke kamar mandi dan membersihkan tangan nya dengan segera.
Clara pun mulai bangun dan beranjak dari ranjang tersebut, ia memegang perut nya yang semakin kram dan bagian inti yang masih terasa sakit karna tadi sempat di mainkan oleh pria yang sangat ia benci.
"Mau kemana lagi?" tanya Louis saat sudah selesai mencuci bersih tangan nya.
Gadis itu sangat malas menanggapi, ia hanya ingin keluar dan membeli pembalut nya.
"Kartu pintu nya dimana? Aku harus keluar..." jawab nya dengan wajah nya yang semakin memucat, ia tak tau kenapa datang bulan nya kali ini menjadi lebih sakit.
Mungkin saja karna es krim yang ia makan dengan sangat banyak tadi, tak itu adalah mitos atau fakta namun setiap kali ia terlalu banyak memakan es saat datang bulan perut nya semakin terasa kram.
"Ku tanya kau mau kemana?!" tanya Louis dengan nada kesal.
"Aku..." jawab gadis itu lirih dan mengingat jika ia selalu membawa pembalut saat berpergian.
"Tak ada." jawab nya lagi dan beranjak ke barang nya lalu memakai pembalut nya di kamar mandi.
"Ckk, semakin kurang ajar dia sekarang!" gumam Louis kesal saat melihat gadis itu seperti tak mengindahkan nya.
Tak lama gadis itu pun keluar dan dengan wajah yang semakin pucat.
"Sini!" ucap Louis sembari langsung menarik tangan gadis itu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Clara tersentak dan terkejut saat pria itu tiba-tiba menarik tangan nya dan mendorong tubuh nya hingga terjatuh.
"Kenapa datang bulan nya hari ini sih?! Yasudah aku akan memberi tau mu cara lain untuk melayani tuan mu!" ucap Louis sembari mencengkram rahang gadis itu.
"Lepas! Aku bukan peliharaan mu! Kau juga bukan tuan ku!" jawab Clara sembari mengandah pada pria yang berdiri di hadapan nya.
"Kau lupa? Perjanjian yang kau tandatangani sama saja sudah seperti menjadi peliharaan ku." ucap Louis dengan wajah seperti mentertawakan gadis itu.
Ia pun mulai membuat gadis itu ternoda lagi dengan ulah nya, kini tak ada satu pun bagian yang belum ia nodai di tubuh gadis itu.
"Telan semua nya!" perintah Louis sembari terus menahan kepala gadis itu.
"Uhuk!" rasa nya begitu sesak dan ingin memuntahkan semuanya.
Louis pun mulai tersenyum dan mulai berjongkok menyamai tinggi wajah nya dengan gadis itu.
"Sekarang kau harus nya benar-benar sadar dengan posisi mu? Hm? Sampai 10 tahun kau tetap milik ku...
Mengerti?" bisik Louis di telinga gadis itu.
Air mata nya mengalir di tengah wajah nya yang semakin pucat. Louis pun tanpa rasa bersalah kembali ke ranjang nya dan membiarkan gadis itu yang masih terduduk di lantai dengan tangis nya yang semakin menjadi.
"Jangan berisik! Aku tak bisa tidur!" ucap Louis pada gadis itu agar berhenti menangis.
Louis semakin tak bisa tidur ketika mendengar suara isak tangis tertahan yang begitu pilu dari gadis itu.
Jam semakin meninggi, ia bahkan tak melihat pukul berapa sekarang hingga tangisan pilu uty perlahan lenyap. Louis pun mulai bangun dan melihat ke arah gadis manis itu yang sedang meringkuk di lantai yang dingin hotel tersebut.
Entah tertidur karna lelahnya tangis atau kehilangan kesadaran karna kondisi tubuh dan hati nya yang sangat tak baik, namun yang jelas nya kini gadis malang itu sedang meringkuk tak sadar di lantai yang dingin tersebut.
Pria itu perlahan bangun dan mulai mengangkat tubuh gadis cantik itu. Ia memindahkan nya ke atas ranjang di samping nya.
Tangan nya perlahan menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah pucat dan sembab gadis yang tak sadar itu.
Perasaan nya mulai bingung dan ia bahkan tak mengerti rasa yang sedang ia alami saat ini.
"Benar...
Mungkin ini hanya rasa seperti memelihara kucing atau anjing saja..." gumam pria itu lirih dan mulai ikut tidur di atas ranjang namun membelakangi gadis malang itu.