(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
The end of our love story Part 1



13 Tahun kemudian.


Kini wanita cantik sudah berubah menjadi seorang ibu yang penuh akan kasih sayang di usia nya yang menginjak 47 tahun, kecantikan nya tak luntur sama sekali, senyuman lembut selalu menghiasi wajah itu.


Anak-anak nya yang selalu saja nakal luar biasa pun kini sudah mulai dewasa saat menginjak umur 18 tahun.


Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang selalu membuat kerusuhan. Pangeran kecil itu kini sudah tumbuh menjadi lelaki acuh tak acuh dan memiliki lidah tajam yang ada di kepala lelaki itu hanya membereskan masalah yang di buat kembaran nya tak lain adalah sang adik.


Sedingin apapun Louis di luar namun ia selalu bersikap manja dan berubah menjadi anak kucing jika di hadapan sang Ibu. Wanita yang selalu penuh akan kasih sayang pada nya. Dan berubah menjadi macan jika bertemu dengan adik nya. Gadis pembuat onar yang selalu mendapatkan apa yang ia mau.


Sang Ayah yang selalu bersikap memanjakan anak-anak nya dan memberi semua kasih sayang yang ia miliki sebagai Ayah. Ia tak ingin anak-anak yang di berikan oleh wanita yang ia cintai merasakan apa yang ia rasakan dulu.


Walaupun ia sendiri tak pernah mendapatkan kasih sayang ayah nya namun ia bisa menyayangi anak-anak nya dengan sepenuh hati.


......................


Ungghhh....


Wanita paruh baya itu mulai gelisah dalam tidur nya, warna pucat menghiasi wajah cantik dengan keringat yang terus berjatuhan.


"Alyss? Hey? Kau mimpi buruk?" sang suami yang mendengar suara istri nya yang mulai gelisah langsung terbangun di pagi itu.


"Sayang...


Bangun..." ucap pria tersebut dengan lembut namun berusaha menyadarkan istrinya.


Wanita itu pun mulai tersentak, ia membuka mata nya dan menatap pria yang ia anggap asing di depan nya.


Tangan kecil itu langsung menepis tangan kekar sang suami yang masih terlihat belum menua dan masih menunjukkan ketampanan serta tubuh bidang nya walaupun sudah berusia 53 tahun.


"Kau masih belum mengenaliku?" tanya Hazel pada istrinya yang melihat nya seperti orang asing.


"Kali ini benar-benar lama yah...


Sudah hampir satu minggu..." ucap pria itu memandang sendu sang istri.


"Kau...


A-aku ingat...


Kau menyiksa ku..." cicit wanita itu tertunduk dan mulai gemetar, ia baru saja memimpikan ingatan yang berantakan saat pria di hadapan nya pernah menyiksa nya habis-habisan.


"Jangan takut...


Aku tak akan melakukan nya lagi...


Kau punya ini kan? Kau bisa menusuk ku dengan ini kalau merasa terancam..." ucap pria tersebut dengan suara tertahan sembari memberikan pisau lipat ke tangan istrinya.


Wanita itu hanya diam tak merespon ucapan suaminya. Ia mengambil dan menggenggam erat pisau itu.


"Aku buat sarapan untuk kita yah...


Kau suka sup kan? Oh iya...


Jangan lupa...


Nama putra kita Louis dan nama putri kita Louise..." ucap pria itu mengingatkan kembali istrinya nama anak-anak mereka.


Selama dua tahun terakhir penyebaran dari penyakit wanita cantik itu tak teralakkan. Penyebaran di daerah jantung dan hati yang semakin lama semakin mengeras hingga tak mampu lagi membuat semua obat yang pakai untuk meredam rasa sakit di tubuh nya.


Belum lagi penekanan pada bagian batang otak nya yang semakin membuat kesakitan dan mulai melupakan sekitar nya. Ia bisa melupakan suaminya, anak-anak nya dan bahkan diri nya sendiri. Namun biasa itu tak berlangsung lama dan bertahan sekitar 2-4 hari namun kini semakin lama hingga mencapai satu minggu.


Sebanyak apapun eksperimen manusia yang di lakukan sang suami tetap tak dapat menyembuhkan nya. Namun itu sudah seperti sebuah keajaiban wanita itu dapat bertahan hingga hampir 20 tahun.


Jika sang suami tak melakukan penemuan obat terbaru dengan eksperimen manusia mungkin saja wanita itu sudah lama pergi sejak anak-anak mereka berumur satu tahun.


Mata wanita cantik menatap ke arah punggung kekar yang berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya lebih dulu setelah bangun dari tidur nya.


"Ugh!" rintih nya yang merasakan sakit luar biasa di kepala nya.


"Alyss? Kenapa? Kepala mu sakit lagi?" tanya sang suami yang langsung berbalik saat mendengar rintihan sang istri yang menahan sakit.


"Aku ambilkan obat nya yah..." ucap pria itu dengan segala sesak di dada nya menatap sang istri yang merasa sakit karna ulah nya.


Sekelebat ingatan mulai tersusun lagi di kepala kecil itu.


Greb...


"Hazel...


Maaf...


Aku lupa lagi..." ucap wanita itu saat sudah kembali mengingat suami dan anak-anak nya.


Ia langsung memeluk tubuh kekar dari belakang yang berbalik ingin mengambil obat untuk nya.


"Kau menangis? Kau tak salah apapun kenapa menangis? Hm? Kau mengingat tentang kita saja aku sudah sangat senang..." ucap pria tersebut dengan suara serak.


Wanita itu terus saja menenggelamkan wajah nya ke punggung kekar itu. Bagaimana hati nya tak tersentuh mengingat sang suami yang benar-benar sabar merawat nya bahkan saat ia tak mengingat pria itu sama sekali dan terkadang hanya ingatan buruk yang datang membuat nya menyakiti pria yang ia cintai tanpa sadar.


"Ssttt...


Sudah... Sudah..." ucap pria itu dengan lembut saat ia berbalik dan menghapus air mata wanita nya.


"Aku mau seperti ini dulu..." ucap Alyss lirih sembari kembali memeluk erat suaminya.


"Aku mau nya seperti ini terus Lyss..." gumam pria itu sembari membalas pelukan erat istrinya.


......................


Wanita itu tak mau di suruh diam dan duduk. Ia memilih menyiapkan sendiri sarapan untuk suami dan anak-anak nya yang tetap manja walaupun sudah mulai beranjak dewasa.


"Ihh...


Mamah yang masak!" seru gadis cantik itu saat melihat sang ibu. Ia tengah bersiap untuk pergi kuliah.


"Pah! Mamah udah ingat kita?" tanya Louise pada sang ayah.


"Iya...


Sudah..." jawab Hazel tersenyum pada gadis cantik pembuat onar itu.


"Mamah...


Louise kangen..." ucap nya dan langsung memeluk wanita yang sedang memasak itu.


"Kenapa kangen? Mamah kan gak kemana-kemana..." ucap wanita paruh baya itu dengan lembut pada putri nya.


"Tapi mamah gak ingat aku! Jadi gak bisa peluk mamah...." ucap nya manja dan semakin memeluk ibu nya hingga membuat sang ibu kesulitan memasak.


Saat turun menuju meja makan pria tampan yang mulai dewasa itu pun melihat ibu dan adik nya yang memeluk erat wanita yang selalu memberi nya semua kasih sayang itu.


Langkah pun langsung menuju ke arah dua wanita itu dan...


"Auch! Shit! Sakit! Louis....


Bisa lepas telinga ku!" umpat Louise saat sang kakak menjewer telinganya.


"Jangan peluk mamah dulu! Nanti mamah gak nyaman!" ucap Louis yang tau jika sang ibu tak bisa mengingat mereka dan takut adik nya membuat ibu nya sendiri tak nyaman.


Ctak!


"Aduh! Mamah!" ucap Louis yang kesal saat ibu nya menyelentik kening nya.


"Jangan sering di jewer adik nya...


Kan kasihan adik nya cantik begini di jewerin terus...." omel sang ibu pada putra nya dan seketika membuat lelaki remaja tersebut terdiam.


"Mamah udah ingat kami mah?" tanya Louis dan langsung memeluk ibu nya.


Senakal apapun si kembar di luar, namun saat berhadapan dengan sang ibu akan tetap menjadi anak kucing yang menggemaskan.


"Ihh...


Udah besar masih manja terus sama mamah...


Nanti kalau mamah gak ada kalian gimana?" ucap Alyss sembari mengelus punggung kekar putra yang sedang memeluk nya.


"Gak boleh!" jawab si kembar bersamaan saat mendengar kata "Kalau mamah gak ada"


"Duh...


Sakit telinga Mamah! Kalian duduk aja sama Papa kalian sana!" omel sang ibu karna ucapan anak-anak nya serentak yang membuat telinga nya sakit.


"Mamah udah sembuh kan? Jangan sakit-sakit lagi mah..." ucap si kembar sembari memeluk sang ibu.


"Iyah...


Mamah udah sehat...


Sana duduk sama Papa kalian...


Nanti gosong masakan nya loh." ucap Alyss pada anak-anak nya.


Hazel hanya tersenyum melihat hal itu. Ia tau jika mungkin sekarang istrinya tengah berbohong pada anak-anak nya agar mereka tak khawatir.


Setelah memasak dan menghidangkan makanan untuk suami dan anak-anak nya. Alyss pun mulai duduk.


"Mamah masak makanan kesukaan kalian...


Makan yang banyak yah...


Biar makin cepet besar anak-anak Mamah..." ucap Alyss tersenyum pada kedua anak nya.


"Kau tak masakan makanan kesukaan ku?" tanya Hazel tersenyum pada istrinya.


"Aku kan kesukaan mu..." jawab wanita itu dengan senyuman penuh percaya diri.


"Aduh...


Ada yang mulai nih..." bisik Louise pada sang kakak melihat orang tua nya yang sering bersikap romantis di depan mereka.


"Nasib yang gak punya pacar yah gini..." balas Louis pada sang adik.


Kedua kembar itu bukan nya tak mau berpacaran. Hanya saja Louis yang belum tertarik dengan teman wanitanya karna merasa terlalu mudah mendapatkan nya.


Sedangkan Louise yang selalu gonta-ganti pacar karna tak ingin melakukan segala jenis skin ship membuat tak ada pria yang bisa bertahan lama. Karna trauma yang ia sendiri tak ingat ia sangat jijik dan takut pada sentuhan pria. Dan masalah terbesar dalam hubungan nya adalah teman nya yaitu Zayn.


Semua pacar gadis cantik itu selalu cemburu melihat kedekatan nya dengan sahabat laki-laki nya itu. Dan membuat mereka sering menyuruh Louise untuk memilih antara mereka dan Zayn.


Dan gadis cantik itu Selalu memilih Zayn di bandingkan para mantan pacar nya sehingga membuat hubungan nya lebih mudah berakhir dan gadis juga menganggap jika para mantan pacar nya hanya untuk melepaskan rasa bosan nya saja.


"Gimana kuliah kalian? Kapan tanggal wisuda nya?" tanya sang ibu pada anak-anak nya.


Kedua saudara kembar itu benar-benar pintar hingga lulus dua tahun dari SMA lebih cepat dan memulai kuliah nya lebih cepat.


"Tinggal sedikit lagi sih mah..." jawab Louise sembari memakan cumi-cumi kesukaan nya.


"Oh iya aku sampai sekarang masih bingung deh...


Louis kok bisa yah gak lulus masuk kedokteran?" tanya Louise sembari memandang mengejek pada kakak nya.


"Auch!" pekik nya saat merasakan telinganya di tarik oleh sang kakak yang makan di sebelahnya.


"Mulut mu minta di jahit yah! Pikirin aja tuh konser mu sebentar lagi! Gak usah mikirin orang!" ucap Louis kesal pada adik nya.


"Hahahaha...


Akhirnya ada juga yang bisa ku kalahkan dari mu!" ucap Louise tertawa riang menatap sang kakak yang mendengus kesal.


Karna kedua kembar itu sama-sama tak ingin menjadi pewaris dari JBS grup, mereka membuat taruhan yang bisa masuk ke jurusan kedokteran dengan nilai terbaik yang akan menang dan hanya menggunakan saham tanpa menjadi CEO sedangkan yang kalah harus mengambil ekonomi bisnis dan menjadi CEO dari atau pewaris dari ayah nya.


Dan Louis sama seperti ayah nya dulu yang tak masuk karna penyaringan tes psikologis.


"Udah gak apa-apa...


Dulu Papa mu juga gak masuk kedokteran kok..." ucap Alyss tertawa karna membuka kartu suaminya.


"Alyss!" panggil Hazel pada istrinya yang malah tertawa.


"Iya? Sayang?" jawab wanita itu dengan lembut dan langsung membuat hati suaminya luluh.


"Wihh...


Louis beneran anak Papa nih kayak nya..." ucap Louise tertawa. Ia sangat senang karna sang ibu sudah mengingat nya lagi.


"Aku anak Papa! Kau yang anak pungut! Hush jauh-jauh sana!" usir Louis pada adik nya yang tak henti-henti nya menganggu nya.


"Kak Louis jangan marah-marah dong...


Nanti ganteng nya hilang loh..." ucap Louise yang kembali merayu sang kakak.


"Iyalah ganteng!" ucap Louis dengan percaya diri.


Alyss hanya tertawa melihat anak-anak nya yang selalu bertengkar namun mudah berbaikan itu.


"Oh iya nanti kita liburan yah...


Kalian hari kosongin yah jadwal kalian...


Biar kencan sama mamah..." ucap Alyss lagi pada anak-anak nya.


"Mau kemana mah? Shopping yah mah!" seru Louise dengan mata berbinar.


"Temenin main di arena yah mah!" ucap Louis pada sang ibu.


"Iyah...


Hari ini kemana aja terserah kalian..." jawab wanita itu tersenyum lembut. Ia ingin menghabiskan waktu nya bersama dengan anak-anak nya lebih banyak.


"Sama Papa nya? Gak mau kencan?" tanya Hazel sembari memegang tangan dingin nya.


"Lusa kita ke pantai yah..." ucap Alyss dengan lembut pada sang suami.


"Hayo...


Mau ngapain nih di pantai...


Buat adik baru yah..." selidik Louise pada orang tua nya.


"Husshh...


Jangan punya adik lagi lah! Punya satu aja udah bikin kepala mau pecah! Apalagi dua!" gerutu Louis menatap ke arah adik nya. Dan hanya membuat gadis cantik itu tertawa riang melihat kakak nya yang begitu frustasi.


......................


Hari yang panjang berlalu tak terasa saat wanita itu menghabiskan waktu nya bersama anak-anak nya.


Berulang kali ia merasakan sakit namun tak bisa menunjukkan nya karna takut membuat senyuman senyuman indah di wajah anak-anak nya hilang.


"Kita jangan ke pantai dulu yah lusa...


Kau masih sakit..." ucap Hazel sembari memeluk tubuh dingin istrinya.


"Aku mau ke pantai...


Aku mau punya lebih banyak waktu dengan mu..." jawab Alyss lirih sembari semakin memeluk suaminya.


Ia merasa seperti ini adalah waktu terakhir nya bersama orang-orang yang ia cintai.


"Hazel...


Aku sudah buat surat buat untuk Louis sama Louise nanti kalau mereka wisuda...


Jadi kalau misal nya aku udah gak ada sebelum itu...


Kau berikan yah surat-surat nya..." ucap wanita itu lirih sembari memandang lekat wajah suaminya.


"Alyss...


Jangan bilang begitu..." jawab Hazel pada istrinya. Hati nya semakin takut saat mendengar kata-kata seperti itu.


Tak ada jawaban...


Hanya senyuman menghiasi wajah cantik itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang punya lagu punch Love me bisa di putar dari sekarang yah😉😉 yang gak ada juga ga apa-apa... Saran aja kok👌👌


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pantai.


Deruan angin pantai menerpa lembut wajah dari kedua pasangan yang menunggu pemandangan matahari tenggelam tersebut.


"Tangan mu dingin lagi...


Kau mau kita kembali?" Tanya Hazel saat ia merasakan tangan istrinya yang memang selalu dingin.


"Tidak aku mau tetap disini...


Aku mau terus bersama mu..." Jawab Alyss lirih sembari mengeratkan pegangan tangan nya.


"Hm...


"Hazel...


Kalau aku nanti pergi...


Kau jangan ikut dengan ku yah...


Jaga baik-baik Louis sama Louise...


Mereka membutuhkan mu..." Ucap Alyss lirih sembari menyandarkan kepala nya ke bahu suaminya dan menatap ke arah pemandangan laut di depan nya.


"Tidak! Aku akan ikut!


Aku membutuhkan mu...


Kalau kau pergi aku bagaimana?


Aku tak bisa menjaga mereka sendiri..." Jawab sang suami dengan hati yang semakin bercampur aduk.


"Bisa...


Pria yang bersama ku sekarang adalah pria terkuat yang pernah ku temui...


Ku mohon...


Jika memang benar mencintai ku...


Kau pasti akan melakukan permintaan ku, kan?" Ucap Alyss dan melihat ke arah Hazel. Pria itu memandang sekilas ke arah wajah istrinya yang penuh pengharapan. Namun ia langsung memalingkan wajah nya.


Bagaimana mungkin sang istri memintanya untuk baik-baik saja, jika dia sendiri akan di tinggalkan oleh wanita nya, wanita yang baginya segala-galanya, kiblat dari kebahagian nya.


"Hazel...


Sini...


Lihat aku...." Panggil Alyss dan langsung menangkup wajah suaminya agar melihat ke arah nya. Perlahan ia mendekatkan wajah nya dan mulai mengecup bibir pria di hadapan nya.


Hazel terdiam beberapa saat, namun ia mulai membalas ciuman lembut dari wanita yang sangat ia cintai itu, ciuman yang mungkin akan menjadi ciuman terakhirnya...


Hazel memangut lembut bibir tipis wanita di hadapan nya, ciuman yang penuh dengan kelembutan dan perasaan mendalam.


Setelah mencium beberapa saat Pria itu pun melepaskan ciumannya dan menatap nanar wajah pucat wanitanya. Sebanyak apapun make up yang digunakan sang istri tetap tak dapat menutupi wajah nya yang terlihat pucat.


Hazel tak pernah menangis di depan istrinya secara langsung, mungkin pernah saat Alyss dalam kondisi kritis, namun tak pernah sampai meneteskan air mata di depan mata kepala wanita nya.


"Aku harus bagaimana?


Aku ingin tetap bersama mu...


Kau tau kan? Seberapa banyak aku menyukai mu?" Tanya Hazel dengan suara tertahan sembari meneteskan air mata nya di depan Alyss yang sedang menatap nya nanar.


Hati wanita itu tersentak, ia tak pernah melihat Suaminya pria yang ia anggap sebagai pria besi itu bisa selemah ini, selama 21 tahun. Walaupun ia hidup dengan Hazel selama 23 tahun namun 2 tahun nya hilang karna ia tak sadar dalam waktu tersebut.


Pria yang selalu menampilkan sosok kuat padanya, sekarang sedang menjatuhkan air matanya, air mata yang mungkin hanya dapat di lihat sekali dalam seumur hidup nya. Ia juga tak ingin pergi, ia ingin hidup lebih lama dengan pria yang ia cintai dan dengan buah hatinya.


Namun apa?


Takdir tak pernah memihak padanya, takdir meminjamkan nya kebahagian untuk hidup dengan pria yang ia cintai dan buah hatinya hanya sampai 23 tahun.


Tangan Alyss mulai menghapus lembut air mata yang keluar dari mata suaminya.


"Kau ingin tau apa yang harus kau lakukan?


Jadilah orang baik dan jaga anak-anak kita...


Setelah itu kita bisa bertemu lagi...


Kita bisa bersama lagi..." Ucap Alyss dengan memaksakan senyum nya namun ia juga ikut menangis.


Bagaimana aku bisa baik? Aku sudah menjadi terlalu jahat...


"Maaf...


Kalau saja aku dulu tidak..." Ucap Hazel yang penuh dengan penyesalan.


"Kau memberi ku satu tahun yang terburuk, menjungkirbalikkan hidup ku selama satu tahun itu....


Memberi ku penyiksaan secara mental dan fisik di saat bersamaan...


Tapi memberi kebahagian ku selama 22 tahun..." Ucap Alyss sembari menatap lekat iris pria nya.


"Bagi ku kau sudah menebus nya selama 22 tahun...


Jadi tak perlu ada yang kau sesali lagi..." Ucap Alyss dengan senyuman lembut di wajah nya sembari menatap lekat wajah suaminya.


Ia pun mulai mengalihkan pandangan nya pada mentari yang semakin turun.


"Wah...


Lihat....


Kita tadi kesini berniat mau lihat matahari tenggelam kan?


Cahaya senja memang yang paling cantik yah?" Ucap Alyss yang berusaha mengalihkan perhatian pria yang sedang hancur tersebut dengan senyum mengembang di wajah nya.


Hazel pun mulai melihat ke arah laut yang menampilkan matahari tenggelam nya. Seindah apapun pemandangan di depan nya tetap tak bisa menenangkan hatinya.


Alyss pun menyandarkan lagi kepalanya di bahu kekar pria nya.


"Hazel...


Aku mengantuk...


Aku boleh tidur kan?" Tanya Alyss lirih dengan suara lemahnya.


Hati pria itu semakin bercampur aduk mendengar hal itu, setiap kali ia melihat istrinya tertidur ia selalu takut, takut jika mata wanitanya tak akan terbuka lagi, takut jika ia benar-benar di tinggalkan. Hal itu lah yang selalu membuatnya membangunkan wanita yang kecantikan nya masih terlihat jelas itu jika melihat nya yang tidur terlalu nyenyak.


"Pemandangan nya masih ada...


Jangan tidur dulu...." Ucap Hazel dengan suara semakin tertahan.


"Tapi aku mengantuk...


Mau tidur..." Ucap Alyss lirih.


"Mau ku masakkan sesuatu saat kita kembali nanti? Hm?" Tanya Hazel yang mengalihkan topik.


"Mau..." Jawab Alyss lirih.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Hazel lagi dengan suara tertahan namun berusaha tersenyum.


"Apa saja...


Aku suka apa saja yang kau buat untuk ku..." Jawab Alyss semakin lirih.


"Sepertinya matahari tenggelam nya sudah selesai, kita kembali yah? Akan ku buatkan makanan kesukaan mu..." Ucap Hazel dan mulai berdiri.


"Gendong..." Ucap Alyss dengan nada manja namun tetap dengan suara lemah nya.


Hazel pun langsung berjongkok dan memberikan punggung nya pada sang istri, Alyss pun langsung naik ke punggung Hazel.


Pria paruh baya itu mulai berjalan di pinggir pantai yang memberikan angin lembutnya. Ia merasa tenang karna masih merasakan hembusan nafas hangat wanita nya di pundaknya. Tangan sang istri yang masih erat mengalungkan pegangan ke pundak kekar suaminya.


"Hazel...


Papa..


My bear...


Sayang...." Panggil Alyss lirih dengan semua panggilan nya.


Ia memanggil Hazel Papa untuk membiasakan anak-anak nya namun memanggil Hazel dengan nama dan panggilan yang ia ia buat saat hanya mereka berdua.


"Hm? Kenapa?" Tanya Hazel dengan suara lembut.


"Nanti aku mau kau memasakkan ku sup...


Lalu aku mau naik balon udara lagi...


Aku mau terus memeluk mu seperti ini..." Ucap Alyss lirih dengan suara semakin melemah.


"Iyah...


Kita akan melakukan nya..." Jawab Hazel dengan suara tertahan.


"Kalau aku tak bisa, kau yang lakukan yah...


Lakukan seperti jika aku tetap dengan mu..." Ucap Alyss, ia sengaja mengatakan hal tersebut agar Hazel memiliki tujuan jika ia benar-benar pergi.


"Aku akan lakukan dengan mu...


Aku tak mau sendiri..." Jawab Hazel semakin takut karna ucapan ucapan istrinya.


Wanita yang kecantikan nya tak luntur walaupun dengan usia yang bertambah dan wajah yang pucat itu hanya tersenyum sedikit.


"Kau ingat saat kau menculik ku dan mengajak ku keluar pertama kali ke pantai lalu mengatakan perasaan mu?" Tanya Alyss.


"Kau mengingat nya? Aku tentu saja ingat...


Itu saat aku menyadari jika aku meyukai mu..." Jawab Hazel sembari membenarkan gendongan nya.


"Setiap kali kau merindukan ku...


Kau bisa kesini...


Karna disini banyak kenangan tentang kita..." Ucap Alyss lirih.


Hazel tak menjawab dan hanya menjatuhkan bulir bening nya tanpa suara.


"Hazel...


Aku memaafkan mu...


Maaf...


Aku perlu waktu yang lama untuk mengatakan nya..." Ucap Alyss lirih.


Walaupun mereka sudah menjalani hari-harinya puluhan tahun namun wanita itu belum pernah mengatakan jika ia memaafkan suaminya atas semua sikap kasar pria itu. Namun di saat terakhirnya ia ingin pria itu melepaskan rasa penyesalan mendalam terhadap dirinya.


Hazel semakin tak dapat menahan air matanya, sesakit ini rasanya jika ia akan ditinggalkan.


"Hazel...


Aku mencintai mu...


Sangat..." Sambung Alyss lagi dengan suara perlahan.


"Hm...


Aku lebih mencintai mu..." Jawab Hazel dengan suara serak karna menahan tangis nya.


"Aku lelah...


Mau tidur...


Boleh yah..." Ucap Alyss dengan suara semakin melemah.


Hazel menghentikan langkah nya sejenak, rasanya ini saat nya ia harus melepaskan wanitanya, agar wanita nya tak terus menderita dan merasakan sakit di tubuhnya.


"Kau lelah?


Sepertinya hari ini kita terlalu banyak bermain kan?" Tanya Hazel berusaha kuat sebisa mungkin dan melanjutkan langkahnya lagi.


"Kau boleh tidur...


Tidur yang nyenyak...


Aku tak akan membangunkan mu...


Kau bisa istirahat..." Sambung Hazel dengan suara semakin serak karna menahan agar tangis nya tak tumpah.


"Benarkah? Biasanya kalau aku tidur kau selalu membangunkan ku..." Tanya Alyss dengan suara semakin melemah.


"Iyah aku tak akan membangunkan...


Kau istirahat yah..." Ucap Hazel serak dan tak mulai bisa menahan tangis nya lagi.


"Love you, my bear..." Ucap Alyss lirih dan mulai memejamkan matanya.


Nafas hangat wanita nya perlahan semakin sayu dan...


Deg...


Hazel menghentikan langkah nya lagi, kini ia tak merasakan hembusan nafas hangat dari istrinya lagi, tangan kecil yang memegang erat pundaknya pun kini terjatuh lemas.


Separuh dari hidup nya telah pergi bersama dengan wanita yang ia cintai...


Kini ia benar-benar di tinggal oleh wanitanya, tangis nya tumpah tanpa suara, menahan sakit dan pedihnya di tinggal oleh orang ia cintai.


Hazel pun melanjutkan langkahnya lagi, ia tau jika saat ini wanita yang berbicara padanya barusan telah tiada, namun ia tetap berusaha sekuat mungkin menahan hancur nya hatinya.


"Kau mau sup kan? Akan ku tambahkan daging sapi yang banyak nanti..." Ucap Hazel dengan tangisnya dan bersikap jika saat ini wanitanya masih bisa mendengarnya.


"Aku akan ingat hari ini...


Hari tentang kita...


Semua kenangan kita...


Aku akan mengingat nya...


Tunggu aku yah...


Aku akan jadi orang baik, dan menemui mu lagi di sana..." Ucap Hazel dengan susah payah karna tangisnya.


"Love you...


Aku sangat mencintai mu...


Maaf....


Maaf karna aku sangat mencintai mu..." Ucap Hazel lirih dan terus menggendong tubuh istrinya yang sudah tak memiliki kehidupan lagi.


Air mata nya terus jatuh sebanyak langkah ia membawa tubuh istrinya. Dada nya terasa sesak yang teramat sangat, tak bisa di gambarkan dengan apapun rasa sakit kehilangan orang yang benar-benar dicintai.


Aku akan pergi...


Pergi dengan membawa semua kenangan tentang mu...


Tentang kita....


Tentang anak-anak kita...


Pertemuan kita bukanlah hal yang manis...


Kita dipertemukan oleh tragedi yang memaksa kita tumbuh dengan menjadi yang tak kita inginkan...


Mungkin...


Takdir kita sudah tertulis...


Bahkan saat kita berpisah dan tak mengenal satu sama lain...


Kita tetap di pertemukan...


Sekali lagi...


Dipertemukan dalam tragedi...


Aku mencintai mu...


Walau aku harus mengalami rasa sakit yang sangat luar biasa untuk mencintai mu...


Tapi kemauan hati tidak ada yang tau...


Bahkan aku tak bisa mengendalikan hati ku untuk tak mencintai mu...


Maaf....


Aku pergi lebih dulu meninggalkan mu...


Ini bukan lah kemauan ku...


Aku tak pernah menginginkan perpisahan....


Tapi perpisahan akan selalu menunggu di setiap pertemuan...


Jika kehidupan selanjutnya ada...


Aku ingin kita memulai cinta kita lagi....


Memulai yang baru tanpa awal yang salah...