(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : I wanna meet him...



Flashback 10 tahun yang lalu.


Anak lelaki yang baru saja ingin memasuki masa remaja nya terlihat memainkan ponsel hingga sesekali tersulut senyum di sudut bibir nya hingga membuat sang ibu yang duduk di sebelah nya memperhatikan gerak putra kesayangan nya.


"Siapa itu? Senang sekali? Sudah punya pacar yah?" goda Alyss pada putra nya sejak memasuki mobil sibuk dengan ponsel nya.


"Ih Mamah! Bukan...


Temen-temen aku Mah lucu! Lihat deh..." jawab Louis pada ibu nya sembari mendekat dan menunjukkan isi ponsel nya menunjukkan jika ia tak berpacaran sama sekali.


"Kalau pacaran juga tidak apa-apa yang penting jangan buat anak gadis orang lain rusak saja..." jawab Alyss sembari mengelus puncak kepala anak nya.


"Maksud nya Mah?" tanya Louis tak mengerti.


"Maksud Mamah Louis gak boleh jahat sama pacar nya...


Kalau marah jangan main pukul, kalau sudah tidak suka lepaskan..." jawab sang ibu memperhalus bahasa nya, ia tau seiring berjalan nya waktu putra tampan nya akan mengerti.


"Susah Mah cari pacar..." jawab Louis berdecak setelah memahami maksud sang ibu.


"Susah? Kenapa? Anak Mamah kan tampan..." jawab Alyss tertawa kecil melihat wajah lesu putra nya.


"Standart Louis tinggi Mah...


Harus cantik, pinter, yang penting kayak Mamah deh..." jawab Louis mengatakan tipe ideal nya dan membuat ibu nya seperti tolak ukur standart wanita yang ia inginkan.


"Kalau seperti Mamah yah tidak ada, Mamah kan cuma satu..." jawab Alyss pada putra kesayangan nya.


"Ada! Nanti Louis cari!" jawab remaja laki-laki itu dengan mata semangat seperti berburu harta karun.


"Iyah...


Nanti kenalkan ke Mamah yah..." jawab Alyss sembari tersenyum pada putra nya, ia hanya berharap masih memiliki waktu untuk saat seperti itu datang pada nya.


"Nanti marahin dia sedikit yah Mah..." jawab Louis semangat.


"Kenapa Mamah disuruh marahin pacar nya?" tanya Alyss bingung.


"Biar dia gak berani ninggalin Louis Mah...


Nanti kalau masih berani Louis patahin kaki nya boleh kan, Mah?" jawab remaja laki-laki itu yang sudah menunjukkan sikap dominasi nya sejak dini.


"Jangan dong sayang...


Kasihan pacar nya..." jawab Alyss langsung pada putra nya, ia tau ajaran seperti itu pasti di dengar dari sang Ayah.


"Kata Papah gak apa-apa kalau suka, Papah bilang kan Louis boleh ambil apa aja yang Louis suka..." ucap Louis pada ibu nya.


"Kalau pacar kamu sudah tidak suka lagi, jangan dipaksa nak..." ucap Alyss yang tebakan nya benar jika suami nya yang tanpa sadar mengajari anak-anak menjadi arogan.


"Yaudah deh nanti Louis bikin anak nya sama dia aja biar gak ada yang mau sama dia, terus suka lagi sama Louis." ucap Louis enteng pada ibu nya dan membuat Alyss tersentak.


Auch!


Ringis Louis saat sang ibu menjewer telinga nya dengan kuat.


"Siapa yang ngajarin begitu?" tanya Alyss saat sudah melepaskan tangan nya dari telinga putra nya.


"Dari Papah..." jawab remaja laki-laki itu jujur sembari mengelus telinga nya.


"Hussh! Tidak boleh begitu lagi! Mamah gak suka Louis jadi begitu!" jawab Alyss tegas pada putra nya, ia tak habis pikir anak 14 tahun sudah mulai menunjukkan sifat dominasi dan arogan pada pasangan yang masih belum ditemukan.


"Iya Mah..." cicit Louis sembari mengelus telinga nya.


Alyss menggeleng perlahan, semakin lama putra kesayangan nya semakin tumbuh seperti ayah nya, walaupun ia berusaha mendidik dengan baik namun kasih sayang buta sang ayah membuat nya berada di sifat manja teratas dan bersikap harus mendapatkan apapun yang di inginkan.


Sifat yang sangat mirip dengan suami nya yang tak lain ayah dari anak-anak nya.


Ibu dan anak itu sedang melaju menuju salah satu restoran di hotel mewah untuk makan malam. Suami dan putri nya sudah pergi lebih dulu, karna Hazel yang menjemput Louise langsung dari tempat pelatihan biola dan menuju ke restoran yang terdapat di hotel tersebut.


Sedangkan Alyss dan putra nya dari kediaman nya baru menuju ke restoran tersebut. Hingga...


Bruak!!!


Suara jatuh yang terdengar hingga ke dalam mobil mewah tersebut membuat sang supir menghentikan laju mobil nya.


"Ada apa?" tanya Alyss pada sang supir.


"Sepertinya ada kecelakaan di depan, nyonya." jawab supir pada majikan nya yang merupakan nyonya JBS grup itu.


Alyss pun melihat mencari keberadaan dari kecelakaan tersebut, dan benar saja ia melihat satu mobil yang berada tepat di depan mobil nya dan satu sepeda motor yang rusak dan terjatuh.


Mata nya tertuju pada bocah perempuan berumur sekitar 5 atau 6 tahun yang terkapar lemas dengan simbahan darah yang berada tak jauh dari sepeda motor yang rusak sedangkan sang ibu menangis tersedu.


Orang-orang yang melihat berusaha memanggil ambulance karna tak tau apa yang harus di lakukan.


"Pak, cari jalan lain aja! Bikin susah aja ketabrak gitu!" decak Louis kesal tanpa iba karna merasa perjalanan nya terganggu.


"Louis tidak lihat itu ada yang terluka? Mamah keluar dulu yah..." ucap Alyss yang merasa perlu membantu karna ia yang memang berbasic seorang dokter.


Namun putra nya langsung mencegah tangan nya sesaat sebelum keluar.


"Buat apa sih Mah di bantu? Bukan kita yang nabrak terus juga buat Papah sama Louise nunggu nanti. Kalau tuh anak nya mau mati yah mati aja...


Bikin susah aja! Jadi buat repot." ucap Louis pada ibu nya.


"Louis jangan begitu sayang...


Putra Mamah tidak boleh begitu, anak-anak dan orang tua kita harus bantu nak...


Mamah kecewa sama Louis kalau bilang begitu lagi..." ucap Alyss dengan nada berbeda dan penuh penekanan pada putra nya.


"Bukan salah kita juga kan Mah?" jawab remaja itu lirih yang tetap kukuh pada pendirian dan pola pikir nya.


"Kalau misal nya nanti Mamah sudah tua atau Louis yang punya anak dan kecelakaan tapi orang yang mau bantu pikiran nya seperti Louis gimana?" ucap Alyss yang berusaha menata pola pikir anak nya lagi.


Louis diam tak menjawab ucapan ibu nya karna ia tau nada bicara seperti itu adalah nada bicara saat sedang marah.


"Mamah gak mau lihat dan dengar putra kesayangan Mamah bicara begitu lagi, mengerti?" ucap Alyss yang menekankan di setiap kata nya.


"Iya Mah..." jawab Louis lirih karna ibu nya adalah penjinak nomor satu dirinya.


"Sudah jangan murung, Mamah keluar sebentar..." ucap Alyss mengelus kepala anak nya sekilas dan keluar membantu salah satu korban kecelakaan.


Sedang putra nya memperhatikan dari mobil melihat ibu nya yang selalu memberikan uluran tangan pada orang-orang yang sedang kesulitan atau benar-benar membutuhkan.


Flashback off.


......................


Langit yang sudah mulai menggelap di tengah riuh nya lampu dan para petugas yang berusaha mencari dan menyelamatkan korban yang berada di bangunan runtuh tersebut.


Gadis manis itu terlihat menangis menatap pada reruntuhan bangunan yang mulai rata tersebut, ia pun mendatangi salah satu petugas yang mencari.


"Su-sudah temukan atasan ku? Dia masih di dalam...


Kalian sudah menemukan nya?" tanya Clara dengan suara bergetar pada petugas.


"Kami akan mencari dan melakukan yang terbaik, mohon nona tidak mendekati area bangunan." jawab petugas yang terlihat sibuk itu.


Clara semakin menjatuhkan bulir bening nya tanpa sadar entah kenapa ia sangat takut dan tak ingin Presdir tampan nya benar-benar pergi seperti yang selama ini ia harap kan.


"Kau harus selamat...


Jangan seperti ini..." gumam gadis itu dalam tangis nya.


Karna sangat terkejut ia bahkan lupa untuk memberitau Louise tentang kondisi kakak nya yang terjebak di reruntuhan yang saat ini sedang selamat atau tidak.


Insiden yang begitu cepat menarik awak media apalagi salah satu presdir utama yang merupakan salah satu konglomerat ternama di negara tersebut terjebak di reruntuhan bangunan nya sendiri.


......................


Apart winter garden.


Rian yang baru saja menyalakan televisi nya pun melihat berita yang menayangkan tentang runtuhnya bangunan perusahaan cabang dari JBS farmasi, dan alasan runtuhnya bangunan tersebut adalah kualitas dari mutu bahan yang di gunakan sangat di bawah standart dan banyak di kurangi.


Mata nya membelalak saat melihat salah satu isi berita yang mengatakan jika Louis masih terjebak dan belum di temukan sampai saat ini.


Belum lama ia terkejut ponsel nya sudah berdering saat salah satu direktur menelpon nya dan meminta nya menghadiri pertemuan lagi.


Rian pun menyetujui nya dan menemui para direktur tersebut.


...


Ruang pertemuan.


Rian menatap pada sekelompok pria paruh baya yang sedang tertawa terbahak dan sangat senang saat mendengar Louis terjebak dalam reruntuhan bangunan.


"Kita bisa salahkan saja semua pada nya, lagi pula dia akan mati kan? Nanti kemarahan publik juga akan menyerang adik nya." ucap Direktur Jacob di selingi dengan tawa bahagia.


Sedangkan direktur lain terlihat sangat menyetujui hal tersebut, dan terlihat sangat senang mereka sangat berharap kematian pria tampan itu.


"Baik, kita akan buat dia yang menanggung kesalahan nya, tapi aku tak pernah setuju untuk kematian kan?" tanya Rian dengan nada dan hawa berbeda membuat para direktur diam dari rasa tawa nya.


"Ru-runtuhnya bangunan juga bukan kami yang membuat dan Presdir Louis yang mati juga bukan kesalahan kami, kesalahan bisa di limpahkan pada nya...


Lagi pula orang mati tak bisa bicara kan?" ucap direktur Jacob dengan gugup saat Rian memandang tajam.


Rian diam sejenak dan kemudian mulai menyeringai penuh arti.


"Benar, kau pintar sekali..." ucap nya dengan senyuman yang sangat sulit diartikan antara iya dan tidak sembari memandang lurus ke direktur Jacob.


Suasana pun kembali tenang tak ada lagi yang mentertawakan nyawa pria tampan itu yang saat ini sedang bertaruh hidup dan mati.


......................


Kediaman Dachinko.


Berita tentang insiden besar ini tentunya juga masuk headline yang membuat James mengetahui nya dari layar laptop kerja nya.


Ia pun beranjak dari ruang kerja nya dan memerintahkan tak ada yang boleh membuka televisi, bermain ponsel ataupun berbicara tentang insiden yang menimpa presdir JBS grup itu pada para pelayan serta bawahan nya di mansion megah tersebut.


Ia tak mau Louise sampai tau kejadian ini, bukan nya ingin membuat gadis itu tidak shock dan terkejut namun ia ingin gadis itu tetap bersama nya selama satu minggu dan menghabiskan waktu serta pikiran hanya untuk nya.


Ia mulai bersikap egois dalam memiliki gadis cantik itu, ia tak mau di nomor duakan saat Louise mengetahui kondisi kakak nya ia hanya ingin gadis itu benar-benar menghabiskan waktu dengan nya tak peduli saudara kembar gadis itu meninggal atau tidak.


Ia masih merasa panas dan gadis itu perlu menghabiskan waktu untuk nya karna sebelumnya Louise yang menghabiskan waktu untuk sahabat baik nya.


Setelah pukul 21.30 PM Louise terbangun, ia merasa gelisah dan pikiran nya tertuju pada saudara kembar nya ketika ia baru saja tersadar dari tidur nya.


Gadis itu pun keluar dari kamar nya namun langsung berhenti dari langkah dan menatap ke arah pria yang ingin mengunjugi kamar nya.


"Sudah bangun? Kau belum makan malam kan?" tanya James mendekati gadis itu.


Louise masih diam dengan raut gelisah saat perasaan nya sangat merasa sangat tak nyaman.


"Aku mau pulang sekarang...


Aku...


Aku merasa seperti sedang..." ucap gadis itu yang seperti bingung dengan rasa gelisah nya saat ia merasakan ikatan yang begitu kuat pada sang kakak.


"Merasa sedang apa? Ayo makan, kau mau makan di kamar atau di bawah?" tanya James pada gadis itu sembari menarik tangan nya.


"Aku mau pulang!" ucap Louise dengan berteriak dan melepaskan tangan pria yang sedang berusaha menarik nya.


"Auch! Lepas! Kau gila?!" ucap Louise saat rambut nya di tarik dari belakang ketika ia kukuh ingin kembali.


"Aku sudah memberi izin?! Hm? Kenapa kau sangat tak mau dengan ku tapi sangat nyaman dengan teman mu?!" tanya James sembari menarik rambut gadis itu hingga membuat nya meringis.


"Lepas! Aku mau ketemu kakak ku!" ucap Louise lirih meringis sembari menahan sakit di kepala.


"Setelah satu minggu dan aku akan membiarkan mu bertemu dengan kakak mu!" jawab James sembari menguatkan otot ditangan nya dan membuat gadis cantik itu semakin meringis menahan sakit.


Plak!


Tangan Louise yang tak ditahan oleh apapun tanpa sadar langsung menampar pria itu. Perasaan nya begitu tak nyaman dan sangat ingin menemui sang kakak apapun cara nya.


Di tengah keterkejutan James gadis cantik itu langsung berusaha menepis dan melepaskan diri nya dari tangan kasar pria yang mulai memiliki ambisi dan obsesi pada nya.


Ia pun dengan cepat berusaha pergi lagi dan membuat James semakin geram. Ia berjalan menyusul dan kembali menarik rambut gadis cantik itu yang baru saja ingin menuruni anak tangga.


Ukh!


"Kau ingin tetap pergi? Kalau kau masih ingin tetap melakukan nya aku akan menjatuhkan mu dari tangga dan kau bisa pergi." ancam James dengan nada penuh penekanan yang tak ingin gadis itu pergi.


"Aku mau bertemu dengan kakak ku! Aku...


Aku merasa perlu bertemu dengan nya..." ucap Louise dengan menahan sakit di kepala nya dan setengah memohon dengan mata yang mulai berkaca.


Perasaan nya benar-benar tak nyaman dan sangat ingin bertemu sang kakak.


"Jadi jawaban mu kau ingin tetap pergi?" tanya James dengan wajah dingin sembari semakin menarik rambut panjang itu.


"Aku ingin bertemu dengan nya..." jawab Louise dengan nada lirih seperti memohon.


James pun diam dan mulai menolak tubuh gadis itu ke anak tangga hingga membuat kaki Louise goyah dan benar saja pria tampan itu benar-benar mendorong nya hingga jatuh dan terguling di anak tangga tersebut.


BRUK!!!


Akh!!!


Ringis gadis itu saat ia sudah berhenti berguling, tubuh nya terasa sangat sakit hingga membuat nya tak bisa bangun dan terus meringkuk, dahi nya terluka saat mengenai sudut anak tangga ketika ia terus berguling.


Sedangkan James melihat dengan ekspresi wajah datar sembari turun perlahan dan santai dari atas yang melihat gadis itu merintih kesakitan dan meringkukkan tubuh nya.


Tangan nya menyingkirkan rambut basah yang terkena darah gadis itu sendiri dan melihat wajah yang mulai pucat.


"Masih tak mau patuh? Hm?" tanya James pada gadis yang sedang merintih kesakitan saat ia baru saja mendorong nya dari tangga panjang itu.


Tangan nya mengelus pipi pucat gadis itu perlahan, sembari melihat menyeluruh dan terlihat memar kebiruan di tubuh gadis itu akibat berguling jatuh.


Louise menangkap tangan James yang sedang mengelus pipi nya perlahan.


"Aku mau bertemu kakak ku..." ucap nya dengan suara melemah dan menjatuhkan bulir bening dari mata indah nya yang kini terlihat sayu.


James melihat tangan gadis itu yang bergetar karna menahan sakit dan pegangan lemah nya, perlahan ia membalik dan menggendong gadis itu dengan tanpa merasa bersalah sama sekali dan membawa nya kembali ke kamar.


"Nanti setelah satu minggu..." ucap nya dengan nada lembut seperti tak melakukan apapun dan mengecup kening pucat gadis itu.


Darah Louise yang mulai membasahi dan merembea ke kemeja yang di kenakan James saat pria tampan itu mengendong dan membawa nya kembali ke kamar.


Louise melihat dengan sayu, tubuh nya terasa begitu sakit, lemas dan tak memiliki tenaga sama sekali. Ia merasa tak mampu menopang tubuh nya yang sedang penuh luka itu dan berlari menemui kakak nya lagi


......................


Sementara itu...


"Kakak bangun...


Huhuhu...


Hua..." tangis bocah lelaki yang menggema di tempat berabu, sempit dan sangat gelap itu.


berusaha membangunkan pria tampan yang masih terpejam dengan tubuh penuh luka. Bocah itu hanya mengandalkan gantungan kunci yang memiliki lampu warna-warni untuk penerangan nya.


Tangisan anak itu semakin menggema dan merengek membangunkan kakak tampan yang tadi menggendong nya dan berusaha membawa nya keluar.


"Kakak bangun Huhuhu...


Aku kasih kakak coklat nanti huhuhu..." tangis anak itu yang berusaha membangunkan nya dengan segala cara yang ia miliki dan menawarkan coklat yang tadi ia terima sebagai balasan pria itu jika bangun.


Pria itu pun mulai tersadar, begitu ia bangun rasa sakit yang menusuk nya begitu terasa di sekujur tubuh nya. Telinga nya mendengar tangisan bocah cedal tersebut dan menatap nya dengan penuh harap.


"Aku belum mati bocah. Dasar cengeng..." ucap Louis dengan suara lemah karna seperti dilumpuhkan dengan rasa sakit sehingga sangat sulit bergerak.


"Huhuhu...


Hua....


Kak ayo bangun...


Kita keluar terus bawa ayah..." tangis Felix merengek saat mendengar suara Louis.


Louis pun tak menjawab namun melihat ke arah situasi nya saat itu. Ia bisa selamat karna bangunan tersebut tak menimpa nya secara langsung dan menjebak dirinya yang penuh luka di antara reruntuhan sempit yang tak memiliki udara.


Pria itu pun mulai paham akan situasi, ia hanya berharap agar tim penyelamat menemukan dirinya dan anak tersebut lebih cepat.


Karna ia tau yang saat ini akan membunuh nya bukanlah luka parah ditubuh nya melainkan oksigen yang akan habis di reruntuhan sempit itu.


Sejenak terbesit senyum ceria adik nya dan gadis yang ia sukai di pikiran nya.


Tangan nya perlahan bergerak dan mengelus punggung bocah lelaki yang sedang bersandar di dada bidang nya karna duduk di pangkuan nya.


Ia mengelus punggung anak itu dengan pelan seperti saat ibu nya dulu menenangkan nya ketika menangis saat ia masih anak-anak.


Seharusnya Clara sudah keluar kan?


Dia baik-baik saja kan?


Aku harus bertahan...


Aku tak boleh mati disini...


Louise tak memiliki siapapun lagi selain aku...


Dia membutuhkan ku...


Papah...


Mamah...


Kalian bilang bakal selalu jagain Louis kan?


Louis sekarang butuh Mamah Papah...


Louis gak mau pergi...


Louise gak boleh sendirian...


Adik nakal ku gak boleh nangis...