(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Depression



"Xavier! Sini..." panggil pria paruh baya itu pada putra nya.


"Kenapa Pah?" tanya anak lelaki tampan itu yang masih berusia 10 tahun.


"Sini cobain masakan Papah..." ucap pria paruh baya itu.


"Kok jelek sih Pah tampilan nya? Gak mau ah Xavi makan nya, takut!" tolak anak lelaki tersebut pada sang ayah saat pria itu meminta nya mencoba masakan yang terlihat gosong dan tak seperti makanan.


"Enak tau! Papah uda cobain loh..." jawab pria itu yang tak habis akal.


"Beneran Pah?" tanya anak lelaki tersebut dengan polos.


Ia pun mulai mencoba nya dengan satu gigitan dan...


JRENG!!!


Mata anak itu langsung terbelalak karna terkejut akan rasa masakan yang sangat luar biasa tersebut.


"Gak enak Pah! Ini apa sih?!" tanya nya sembari memuntahkan ke wastafel.


"Gak enak yah? Yaudah deh kita makan makanan pesan antar aja...


Tapi jangan bilang mamah mu yah nanti...


Bilang aja Papah yang masak..." ucap pria paruh baya itu yang sebenarnya ingin memberi kejutan untuk istrinya.


"Ih! Papah bohong! Katanya tadi uda coba! Nanti kalau suka bohong Xavi tangkap loh nanti!" ucap anak tersebut kesal.


"Kok Papah nya mau di tangkep sih? Memang nya Xavi mau jadi kayak Papah?" tanya pria paruh baya tersebut dengan gemas pada putra nya.


"Iya dong! Xavi kan nanti kalo besar mau kayak Papa! Tangkap penjahat terus di masukin ke penjara!" jawab bocah lelaki tersebut dengan percaya diri.


"Iya deh...


Asal jangan Xavi nya yang jadi penjahat yah nanti..." jawab sang ayah tersebut dengan senyuman cerah dan mencubit gemas pipi putra kesayangan nya.


......................


Deg....


Mata James terbelalak dalam tidur nya ia terbangun dari mimpi indah yang sedang menghampirinya.


Pria itu memutar tubuh dan menatap ke arah langit-langit di kamar megah itu, putaran tentang kehidupan masa lalu nya terputar dengan jelas.


Bibir nya tersenyum namun menampilkan mata yang penuh dengan sorot kesedihan dan kerinduan yang mendalam.


"Benar...


Siapapun itu aku harus membunuh mereka..." ucap James lirih.


......................


Kediaman Rai.


Seperti biasa gadis itu hanya sendiri di kediaman megah yang semakin sunyi itu.


Louise pun mulai melangkah ke atap dan menatap bintang langit malam.


"Mah? Pah? Seru gak jadi bintang di sana? Louise mau ikut juga..." ucap gadis itu lirih sehabis melihat bintang-bintang indah itu melalui teropong.


"Kalau Louise gak minum obat lagi pasti cepet deh jadi bintang juga..." ucap nya tersenyum getir sembari memandang dengan sendu.


Gadis itu menghela nafas nya dengan berat hingga...


Tes...tes...tes...


"Astaga! Jadi kotor lagi kan baju nya!" ucap gadis itu kesal dan seketika menghapus darah yang keluar dari hidung nya. Baginya hal seperti ini adalah hal yang biasa.


Ia pun mulai melangkah kembali ke kamar nya.


Tubuh nya mulai terasa aneh lagi saat ia kembali tak mendapatkan narkotika lagi.


"Jangan...


Aku tak bisa..." ucap nya lirih saat langkah nya semakin berat.


Narkotika dan obat yang ia minum serta yang disuntikan pada nya secara berkala menjadi tawar saat ia memakai narkotika tersebut.


Itu sama saja semua pengobatan yang ia gunakan tak akan membawa hasil untuk dirinya selama ia masih menggunakan narkotika yang di berikan pria tampan itu padanya.


Gadis itu pun berusaha bangun dan mengatasi tubuh nya yang sedang membutuhkan obat tersebut.


Ia memerintahkan pelayan nya untuk mengisi bath up nya dengan air dingin yang di campur dengan begitu banyak es, ia juga tak meminum obat rutin nya dan mengganti nya dengan Methadone.


NB KET : Methadone adalah obat yang digunakan untuk mencegah gejala putus obat yang muncul ketika tubuh memberikan respons negatif terhadap penghentian penggunaan.


Ia tau jika ia tak bisa mengunakan obat tersebut sembarang karna memiliki riwayat penyakit jantung dan juga pernah mengalami depresi beberapa kali.


Namun ia sudah tau dan menyiapkan yang cocok untuk nya sementara waktu karna perlu menrehabilitasi dirinya sendiri agar berhenti dari ketergantungan nya.


"Ukh!!" ringis Louise saat ia merasakan dingin nya air tersebut, ia harus mengganti rasa sakit di tubuh nya akibat tak mendapat obat terlarang itu dengan rasa sakit lain nya.


Wajah nya memucat seperti warna kulit nya yang juga semakin memucat, tubuh gadis itu menggigil dengan hebat dan bibir yang kian membiru, ia tau jika cara yang ia gunakan cukup ekstrim namun ia juga ingin berhenti dari ketergantungan nya.


Rasa dingin merasukinya hingga ke tulang terdalam gadis itu. Wajah nya semakin memucat dengan suhu tubuh yang semakin menurun.


Di tengah dingin nya rendaman es gadis itu melirik sejenak ke ponsel yang bergetar di samping meja bath up itu.


"Louis?" gumam nya lirih saat melihat sang kakak menelpon nya.


Gadis itu pun mulai mematikan panggilan telpon kakak nya dan membalas dengan ketikan pesan.


Aku ngantuk...


Mau tidur...


Balas nya pada sang kakak dan langsung menutup telpon nya.


Sakit...


......................


Hotel.


Louis pun mendapat balasan dari adik nya semakin bingung, ia menatap sejenak ke arah gadis manis yang terus meringkuk memegang perutnya dan meringis kesakitan.


"Cla, kerumah sakit yah?" ucap nya sembari menarik tangan gadis itu.


"Brengsek! Lepas!" ucap Clara dengan mata sembab dan tubuh yang membiru serta memerah karna pria tampan itu kembali memaksanya.


"Aku kan juga tak melakukan nya sampai begitu! Tapi kenapa sakit terus sih?" ucap Louis yang heran, baginya hal bisa di sebut melakukan nya jika benar-benar terhubung. Sedangkan ia tak bisa melakukan nya karna gadis itu sedang datang bulan.


"Brengsek! Dasar iblis! Jahat!" maki gadis itu di tengah lelehan air mata nya, baginya walau tak sampai melakukan nya namun itu tetaplah pelecehan untuk nya.


Clara semakin meringkuk dan terus meringis menahan sakit, Louis terdiam ia bingung harus berbuat apa pada gadis malang itu.


Sejenak ia berpikir untuk membawa kerumah sakit terdekat sejenak lagi logika nya berfikir akan semakin rumit saat para dokter nanti melihat bekas yang ia tinggalkan di tubuh gadis itu.


Ia pun mencoba menghubungi dokter yang berada di cabang terdekat JBS hospital untuk datang memeriksa sekretaris nya, namun jarak dari JBS hospital yang terdekat memakan waktu 3 jam.


Karna pembangunan RS yang sama tak bisa berdekatan agar bisa mendapatkan pasien yang lebih banyak dari berbagai tempat.


"Louise tidur lagi...


Dia biasa pakai apa yah?" ucap Louis yang semakin bingung dan mencoba mengingat obat pereda nyeri datang bulan yang biasa di pakai adik nya.


Clara semakin meringkuk memegang perut nya yang semakin sakit terus menerus seperti di putar dan di ***** habis.


Tangan nya meremas dengan kuat selimut yang berada di atas ranjang empuk itu.


"Cla? Clara?" panggil Louis saat gadis itu semakin merintih kesakitan.


Sakit sekali...


Rasa nya aku....


Pandangan nya mulai gelap dengan pendengaran yang semakin memudar.


"Clara! Bangun! Hey?!" panggil Louis pada sekretarisnya saat gadis itu tak lagi bergerak meringis menahan sakit.


Pria itu pun menyingkirkan anak rambut di wajah pucat gadis itu dan menatap sejenak putih pasi yang terlihat dengan sangat jelas tersebut.


"Apa telpon Louise lagi? Tapi dia juga mau tidur..." gumam Louis lirih yang tak ingin menganggu waktu istirahat adik nya tanpa tau keadaan adik nya yang sebenarnya.


Pria itu pun mencoba mencari di internet apa yang harus dilakukan pada wanita yang sedang kram perut karna datang bulan hingga dokter yang ia telpon sampai.


Setelah dr. Fiona datang ia pun langsung memeriksa sekretaris presdir yang sudah tak sadar kan diri itu.


Dahinya mengernyit melihat bekas kebiruan dan kemerahan yang tertinggal di tubuh gadis manis itu.


"Kenapa? Periksa saja! Tak usah ingin tau terlalu banyak!" ucap Louis ketus pada dr. Fiona.


Setelah memeriksa kondisi Clara dr. Fiona pun dapat menyimpulkan jika gadis manis itu memiliki irritable bowel syndrome (IBS).


"Sekretaris Clara saat ini masih baik-baik saja namun dia mengalami IBS atau irritable bowel syndrome ini bisa di sebabkan gangguan hormon saat datang bulan atau juga karna gangguan psikologis contoh nya seperti stress atau depresi." terang dr. Fiona pada Louis.


"Depresi? Kenapa dia depresi? Aku memberinya gaji yang banyak?" ucap Louis lirih pada dr. Fiona


NB KET :  (IBS) atau irritable bowel syndrome dapat di sebabkan karna adanya gangguan psikologis. Usus penderita disebut-sebut sangat sensitif terhadap makanan tertentu dan rasa stres, sehingga kemungkinan terjadinya sakit perut cenderung tinggi. 


Ia sama sekali tak sadar semua yang ia lakukan sangat menekan gadis itu malang itu dan bahkan tak merasa bersalah sama sekali. Baginya semua yang ia lakukan sudah setimpal dengan uang ia keluarkan untuk membayar gadis itu setelah meniduri.


Walaupun Clara tak pernah menerima uang nya dan selalu menyobek serta melemparkan lagi pada nya, namun pria itu tak pernah ambil pusing.


Setelah memberikan obat dan memeriksa gadis manis itu dr. Fiona pun pamit pergi. Sebelum itu Louis sudah membayar nya dan membuat surat kerahasian jika ia tak akan mengatakan bekas apapun yang ia lihat di tubuh Clara.


"Apa sih yang buat stress? Wajah lumayan, gaji banyak, otak pintar, juga gak pernah ku siksa...


Makin aneh saja..." omel Louis sembari mengompres perut rata itu dengan air hangat.


......................


Ke esokkan harinya.


Kediaman Rai.


Setelah suhu tubuh gadis nakal itu turun karna merendam dirinya sendiri untuk memberhentikan keinginan nya yang semakin menjadi pada narkotika kini suhu nya malah naik yang membuat menjadi demam.


Tes...tes...tes...


"Kan...


Isshh! Kok yang berhenti sih?" ucap Louise semakin kesal saat cairan merah kental itu keluar tanpa henti dari hidung mancung nya.


Drrttt...drrtt..drrttt...


Louise pun dengan cepat langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang memanggil nya.


"Halo?" jawab nya sembari menghapus dan menahan pangkal hidung nya.


"Kau sudah lama tak menghubungi ku? Tak memerlukan obat mu lagi?" tanya seorang pria dari telpon.


"James? Dasar gila! Obat?! Aku tak mau obat mu lagi! Brengsek!" maki Louise saat mendengar suara bariton pria tampan itu.


"Hahahaha....


Kalau begitu aku akan mendatangi mu...


Kau di rumah kan?" tanya James yang memang merasa ada yang kurang saat tak ada gadis itu.


"Kesini? Jangan! Kakak ku di rumah!" ucap Louise berbohong pada James agar pria itu tak ke kediaman nya.


"Lalu? Apa urusan nya dengan ku?" tanya James enteng.


"Dia tak akan membiarkan mu membawa ku!" jawab Louise lagi.


"Aku akan bawa pengawal juga, jadi bisa sedikit melakukan pembantaian di rumah mu tak masalah kan?" tanya James enteng.


"Gila! Jangan kesini!" ucap Louise lagi.


"Terserah pada ku..." jawab nya James enteng.


"Baik." jawab James dari balik telpon.


......................


Cafetaria.


Walaupun dengan kondisi yang masih tak sehat gadis itu tetap memaksa keluar dan ingin segera mengakhiri kesepakatan yang ia buat. Baginya pria itu terlalu berbahaya untuk nya.


"Kau menunggu ku?" suara bariton pria mengagetkan gadis cantik itu.


"Tidak! Aku baru sampai, kesini juga terpaksa!" ucap Louise dengan wajah ketus.


James hanya tersenyum dan tak duduk sama sekali, ia malah menarik tangan gadis itu dan segera membawa nya masuk ke dalam mobil nya.


"Lepas! Aku tak mau ikut dengan mu!" ucap Louise berusaha memberontak pada pria tampan itu.


James tak menggubris dan tetap menarik tangan gadis nakal itu. Ia pun segera memaksa Louise untuk masuk ke dalam mobil nya.


Setelah gadis itu masuk ia pun mulai mengendarai mobil nya ke mansion megah miliknya.


"Berhenti!" ucap Louise dengan pada pria tampan itu.


"Nanti kalau sampai kan berhenti." jawab James enteng.


"Kesepakatan kita...


Aku mau diakhiri! Aku akan berikan berapapun yang kau mau!" ucap Louise pada pria yang sedang melajukan mobil nya.


James mengernyit mendengar hal itu, ia sangat tak suka jika seseorang mengingkari perjanjian atau kesepakatan yang di buat dengan nya, pria itu pun menepikan mobil nya dan berhenti.


"Coba ulangi lagi." ucap James dengan nada penuh penekanan.


"Aku bilang aku mau mengakhiri perjanjian kita. Aku akan membayar sebanyak yang kau inginkan." jawab Louise lagi.


"Berapa? Kau bisa memberi ke berapa? Hm?" tanya James mulai menyeringai.


"Kau mau berapa?" tanya Louise kembali dan berusaha perlahan membuka pintu tersebut.


"Bagaimana jika seharga nyawa mu." jawab James saat ia sudah menatap ke arah gadis cantik itu.


Louise terdiam, ia menelan saliva nya dengan kasar Mendengar ucapan pria tersebut.


"Sebenarnya apa yang kau mau dari ku? Aku hanya salah masuk ke ruangan mu saja saat itu! Kenapa kau sangat ingin mengganggu ku?" tanya Louise sembari berusaha menyembunyikan rasa gugup nya.


"Aku mau nya kau!" jawab James sembari menatap tajam mata gadis itu.


"Aku tak mau!" ucap Louise dan semakin berusaha keluar dari mobil tersebut.


Duk...duk...duk...


Gadis itu menepuk kaca jendela mobil itu berulang kali.


"Tolong!!!" teriak Louise saat pria itu tak mau membiarkan nya keluar.


James pun semakin geram melihat gadis itu yang ingin memutus kesepakatan sekaligus ingin pergi begitu saja darinya.


"Akh!" pekik Louise sesaat saat rambut nya tertarik dengan begitu kuat dari belakang.


Ctak!!


"Kau bilang ingin mengakhiri kesepakatan kan? Hm? Kalau begitu kita bisa akhiri sekarang!" ucap James saat menempelkan pistol ke kepala gadis itu.


Louise pun menatap iris tajam pria di hadapan nya. Tubuhnya seketika membatu dan lidah nya kelu, ingatan tentang pria yang langsung menembak mati orang lain di ruang mengerikan itu pun berputar di kepala nya.


"Bicaralah dengan baik...


Ja-jangan memakai senjata..." ucap Louise gugup, karna pria itu sudah memberi nya ingatan yang begitu buruk.


"Aku tak tau pembicaraan yang baik!" ucap James sekali lagi dengan tatapan tajam nya.


"Di wajah mu ada se-sesuatu..." jawab Louise tergagap karna gugup.


James tak menggubris dan tetap menatap tajam gadis itu. Jemarinya sudah menarik pelatuk dan dapat terdengar jelas oleh Louise.


"Di wajah mu ada ketampanan..." sambung Louise dengan suara gemetar dan wajah yang memasang senyum gugup.


James pun tersenyum simpul melihat gadis itu yang berusaha agar ia membiarkan nya hidup, tangan nya pun meraih tombol untuk menurunkan jendela dan melepaskan pelatuk nya.


DOR!!!


James pun melepaskan peluru tepat di samping kepala gadis itu setelah jendela mobil di buka dan mengarah keluar.


"Akh!" pekik Louise seketika terkejut dan langsung menutup mata dan telinga nya. Tangan nya gemetar begitu mendengar suara tembakan pistol pria itu.


"Sekarang kau tau takut? Bersikap lah lebih baik dan peluru itu tak akan sampai di kepala mu!" ucap James dan mulai melajukan mobil nya.


"Aku akan membalas mu nanti!" ucap Louise yang masih gemetar karna sangat terkejut.


"Aku akan menunggu." jawab James menyeringai.


.....................


Mansion Dachinko.


James menarik tangan gadis itu agar masuk kedalam mansion megah nya.


"Kau bisa memasak?" tanya nya tiba-tiba pada Louise.


"Tidak." jawab Louise jujur.


"Jangan alasan! Sana masak!" perintah James, ia sangat suka mengganggu gadis cantik itu.


"Dibilang aku tak bisa masak! Kenapa masih di suruh masak sih?" tanya Louise kesal.


"Lalu kau mau aku yang masak?" tanya James berbalik.


"Begitu banyak pelayan disini kenapa meminta yang memasak?" tanya Louise lagi yang tak habis pikir, gadis yang di besarkan dengan cara dimanja itu tak bisa melakukan apapun pekerjaan rumah.


James terdiam sesaat, ia juga bingung kenapa saat merindukan keluarganya dan malah menyuruh gadis itu. Ikatan permainan yang ia buat semakin menjerat nya satu demi satu.


"Karena aku menyuruh mu! Kalau kau tak mau aku saja yang masak, masak daging manusia..." ucap James menyeringai dan seketika membuat Louise bergidik ngeri.


"Seperti nya aku bisa menyuruh bawahan ku untuk menculik anak 5 tahun? Dan memasak nya..." sambung pria itu lagi dengan sedikit menunduk menyamai tinggi wajah nya dengan Louise dan tersenyum simpul.


"Dasar gila..." ucap Louise lirih.


"Aku yang masak!" ucap gadis itu dan berlalu ke arah dapur.


James pun tersenyum dan duduk sejenak di sofa yang berada di ruangan itu. Tak lama kemudian suara ledakan pun terdengar jelas di mansion megah itu.


DUAR!!!


James pun terperanjat dan langsung bangun, ia mengira musuh nya menyelinap dan memberikan bom kecil di mansion milik nya.


Langkah nya pun berlari ke arah suara hingga...


"Ini...


Ma-masakan nya sudah siap...


Kompor mu tak bagus...


Untung meledak nya tak mengenai ku..." jawab Louise terbata dengan dapur yang sudah seperti kapal pecah di belakang nya dan pengawal pria tampan itu yang sedang memadamkan api.


"Kau membuat satu piring ini sudah meledakkan satu dapur?" tanya James terkejut.


"Peralatan masak mu saja yang tak bagus!" elak Louise pada James.


"Nah makan!" ucap nya lagi sembari menyodorkan makanan yang entah apa namanya dengan bentuk yang sangat mengerikan.


"Bahkan lebih mengerikan dari pada makanan ternak..." ucap James lirih melihat sepiring makanan tersebut.


"Enak kok! Aku udah coba tadi! Tampilan nya aja yang begitu!" jawab Louise tak mau kalah dengan bercampur kesal, sudah masakan pertamanya tapi pria itu malah menghina nya.


James pun menatap sejenak dan mulai duduk, ia pun perlahan menyendokkan makanan yang tampak mengerikan itu.


JRENG!!!


Mata nya membulat sempurna dan menatap gadis itu.


"Enak kan?" tanya Louise lirih dengan tak yakin.


James pun mulai tersenyum saat ia mencoba rasa tak enak namun seperti rasa yang sangat ia rindukan.


"Hahahahaha...


Sangat tak enak!" ucap nya yang tertawa namun juga terlihat ingin menangis.


"Kau ini tertawa apa menangis sih?" tanya Louise bingung sembari menyentuh bahu pria yang duduk itu.


James pun menatap ke arah gadis itu setelah tawanya.


"Kau...


Benar-benar sesuatu..." ucap James sembari menatap gadis itu.


Louise sedikit bingung mendengar ucapan pria tampan itu.


James cukup lama menahan gadis itu di mansion nya dan tak membiarkanya keluar. Sedangkan Louise menatap ke arah taman yang memiliki air mancur mewah itu di taman belakang mansion melalui dinding kaca transparan.


"Ukh..." ringis Louise saat ia mulai merasakan sakit di dadanya karna obat rutin nya menjadi tawar dan tak memiliki efek karna narkotika yang di berikan James padanya.


"Louise." panggil James dari belakang dan membuat gadis itu menoleh.


"Aku sudah bisa pulang kan?" tanya Louise pada James.


"Kau belum mendapat narkotika mu kan?" jawab James dengan pertanyaan lain.


"Aku tak mau lagi! Aku akan mengatasi nya sendiri! Aku tak perlu narkotika mu lagi!" jawab Louise tegas dan membuat James menyeringai.


"Oh ya? Aku malah membawakan jenis yang lain..." ucap James sembari menunjukkan pil narkotika di tangan nya.


"Aku tak mau!" ucap Louise dan berusaha pergi namun.


"Ukh!" pekik nya saat tangan nya tecegat dan membuat pria tampan itu mencengkram lengan nya dengan kuat.


James pun mulai mencekoki gadis itu secara paksa agar menelan pil narkotika yang ia bawa.


Louise berusaha memberontak sebisa mungkin namun pria itu menutup mulut dan hidung nya dengan rapat hingga ia tak bisa bernafas sedikit pun.


Wajah nya memerah dengan menahan sesak dan sakit yang bersamaan, tanpa sadar ia menelan semua narkotika yang berada di dalam mulut nya.


James tersenyum simpul, ia dapat merasakan air mata gadis itu yang jatuh mengenai tangan kekar nya saat ia menutup mulut dan hidung Louise.


Ia sengaja menjadikan gadis tersebut sebagai pecandu agar gadis itu tetap memiliki ketergantungan padanya tanpa ia tau ia malah akan dapat mencelakai gadis itu.


"Kau! Uhuk!" ucap Louise dengan suara melemah dan langsung terbatuk. Sakit di dada nya semakin menjadi dan semakin menyelimutinya.


Deg...deg...deg....


Jantung nya berdegup dengan kencang nya, ia membuka tangan nya yang menutup batuk nya barusan.


Pandangan dan pendengaran nya semakin terasa mengabur dan rasa sakit yang seakan ingin menusuk jantung nya keluar.


"Louise!" panggil James saat melihat melihat mata sayu gadis itu ketika mengeluarkan darah dari mulut nya.


Tangan nya langsung menangkap tubuh gadis itu ketika Louise mulai terjatuh.


*Sakit...


Mamah Papah...


Tubuh Louise sakit semua...


Sesak....


Gak bisa nafas*....