(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
twins?



Hazel melihat ke arah istrinya yang baru saja selesai mandi.


"Kau masih marah?" tanya Hazel lembut sembari mengesap tengkuk istrinya yang harum karna baru saja selesai mandi.


Alyss diam tak menjawab suaminya, ia tau yang di katakan Hazel kemarin malam sangat benar namun anak di kandungan nya juga selalu mau hal yang aneh terus menerus, bahkan terkadang sampai merubah sikap nya.


"Tidak..


Aku ti-" ucap Alyss yang terpotong saat ia tiba-tiba merasa sakit di kepala dan dada nya secara bersamaan.


Deg...


Rasa nya benar-benar sangat sakit, sesak dan sulit bernafas secara bersamaan di dada nya membuat jantung nya terasa berdegup sangat kencang. Pandangan nya mengabur baru kali ini ia merasa sakit kepala dan dada secara bersamaan.


"Apa penyebaran sudah ke jantung? Kenapa cepat sekali?" batin Alyss sembari menahan sakit.


Ia pun dengan cepat melepaskan pelukan suaminya, ia tau jika lebih lama lagi mungkin ia akan segera mimisan, dan pria nya tentu akan sangat panik dan khawatir melihat hal itu.


Dan Alyss sangat tak ingin hal itu terjadi, ia tak mau kebahagian singkat nya harus tercemari lagi dengan penyakit nya saat pria yang menjadi suaminya mengetahui tentang semuanya.


"Alyss mau kemana?" tanya Hazel pada istri nya yang langsung pergi begitu saja.


BLAM!


Alyss tanpa sengaja membanting pintu kamar mandi karna takut Hazel sempat mengikutinya.


Hazel pun menghela nafas dalam saat melihat istrinya yang bersikap seperti itu, ingin sekali rasanya memarahi habis-habisan namun ia juga harus mengingat wanita nya yang sedang mengandung anak nya, ia pikir Alyss marah padanya karna tak menuruti permintaan untuk mengendarai motor dan balap di arena.


Tes...tes...tes...


Satu persatu tetesan darah mengalir dari hidung mancung wanita cantik itu. Ia membilas dan membasahi dengan air mengalir terus menerus.


"Tahan...


Jangan seperti ini terus...." gumam Alyss saat membersihkan mimisan nya yang tak habis-habis.


Ia pun dengan cepat meminum obat pereda rasa sakit yang ia bawa di tangan nya sebelum memasuki kamar mandi.


Setelah keadaannya mulai tenang dan rasa sakit nya perlahan hilang, ia mulai melihat kearah pantulan dirinya dengan wajah yang sangat pucat di cermin, ia pun mengalihkan pandangan nya ke perut nya yang masih terlihat rata.


"Maaf...


Kamu gak kenapa-kenapa kan, disana? Sebentar lagi yah...


Nanti mamah bakal bawa kamu keluar..." ucap Alyss sembari mengelus perut nya perlahan.


"Juga jangan minta yang aneh-aneh...


Mamah sama Papa mu pusing nurutin kemauan aneh mu...


Jadi anak baik yah di dalam..." sambung Alyss lagi dengan lembut pada calon anak nya.


Hazel yang masih menunggu di depan pintu kamar mandi tak tau jika istrinya sedang kesakitan ia pun mulai kehabisan kesabaran dan mengetuk lagi. Anggapan nya jika wanita nya sedang marah karna keinginan yang tidak di turuti.


"Alyss buka pintu nya, sebelum ku hancurkan." ucap Hazel dari luar pintu kamar mandi. Ia benar-benar tak suka jika di abaikan.


Hening...


Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi, Alyss masih memakai kembali riasan di wajah nya agar tak terlalu menunjukkan wajah pucat nya.


"Alyss! Buka seka-"


Klik...


Ucapan Hazel langsung terpotong saat melihat wanita nya membuka pintu dan memandang ke arah nya.


"Kau ini sangat mudah marah...


Istrinya lagi hamil, terus aja di marahin..." ucap Alyss dengan wajah cemberutnya.


Hazel hanya menghela nafasnya dengan kasar mendengar ucapan istrinya. Ia masih berusaha mengendalikan dirinya sebisa mungkin dari sifat pemarah nya agar tak membuat wanita tersakiti lagi.


......................


JBS hospital.


Hazel yang melihat ke arah wajah Rian yang di tekuk selama beberapa hari mulai membuat nya bertanya pada teman nya.


"Kau kenapa? Kurang gaji?" tanya Hazel bingung pada teman nya yang tak biasanya memiliki ekspresi lesu seperti itu terus.


"Sebenarnya bukan...


Tapi kalau kau mau menaikkan gaji ku yah juga bagus..." jawab Rian lesu, bekerja dengan Hazel dan menjadi tangan kanan pria kaya itu membuat hidup nya juga sangat tercukupi dengan uang.


"Lalu?" tanya Hazel bingung.


"Cara nya ngambil hati calon adik ipar gimana?" tanya Rian dengan menatap wajah teman nya, ia benar-benar di buat pusing dengan Alan yang terus menolak nya, sedangkan ia tau Larescha juga sangat menyayangi adiknya.


"Kau tanya pada ku? Mertua ku saja aku masih bingung cara membuat mereka dekat dengan ku lagi." jawab Hazel mendengus kesal.


"Ya ampun..." jawab Rian lirih.


"Dia belum hamil?" tanya Hazel lagi pada teman nya.


"Belum..." jawab Rian kesal mendengar pertanyaan itu.


"Kalau dia hamil yah adiknya sudah pasti setuju, mana mungkin dia membiarkan kakaknya punya anak tanpa suami." ucap Hazel lagi seketika membuat Rian tak lesu lagi.


"Benar juga...


Tapi kenapa Larescha belum hamil juga?" tanya Rian lirih.


"Kalau kalian berdua tak masalah dengan kesuburan...


Berarti dia sudah mengganti obat yang kau berikan." jawab Hazel enteng.


"Mengganti obat? Tapi kenapa?" tanya Rian bingung, ia tau wanita tipe penurut yang selalu mengikuti semua keinginan nya.


"Yah kau tanya dia lah." jawab Hazel kesal, mana mungkin dia tau pikiran pacar teman nya jika dia sendiri masih menebak-nebak pikiran istrinya.


"Kenapa kau jadi kesal juga?!" tanya Rian.


Hazel hanya mendengus kesal mendengar ucapan teman nya dan beranjak pergi begitu saja.


Ia mulai memikirkan cara mengatasi keinginan calon anak nya yang mau membuat ibunya mengendarai motor padahal tak bisa sama sekali.


"Apa aku saja yang membawa nya?" ucap Hazel lirih ketika mulai menemukan satu cara.


......................


3 hari kemudian.


Kediaman Hazel.


"Kita mau kemana?" tanya Alyss pada suaminya yang menyuruhnya bersiap-siap sejak pagi.


"Kau bilang mau naik motor kan?" tanya Hazel pada istrinya.


"Boleh?" tanya Alyss dengan mulai mengembangkan senyum nya.


"Boleh, tapi aku yang bawa, kau duduk di belakang yah." ucap Hazel sembari mengelus puncak kepala istrinya.


"Iya.." jawab Alyss semangat dan langsung bergegas bersiap, namun sebelum ia sampai ke ruang ganti kaki nya berbalik ke arah suaminya, dan...


Cup...


"Thanks my bear...." ucap Alyss lirih dengan senyum mengembang setelah mengecup bibir suaminya.


Hazel hanya tersenyum dan mengusap kepala istrinya lagi.


Setelah Alyss bersiap dwngan mengenakan jaket kulit hitam dan menggerai rambut panjang ia pun mendatangi suaminya lagi senyum ceriq di wajah nya.



mereka pun mulai bergegas pergi dengan helikopter yang di miliki suaminya.



"Wah...


Lain kali kita jalan-jalan naik ini lagi yah..." ucap Alyss dengan mata berbinar nya.


"Kalau kau mau tentu saja..." ucap Hazel tersenyum dan mengelus dagu istrinya seperti mengelus dagu kucing.


Sekitar 45 menit dalam perjalanan akhirnya sepasang suami istri itu tiba di sirkuit arena.


......................


Arena moto gp


"Wah..." ucap Alyss yang begitu senang karna ia belum pernah pergi ke tempat


"Hazel udah ga sabar...


Ayo naik itu..." ucap Alyss sembari merangkul dan memegang erat lengan suaminya. Ia begitu bersemangat ingin mengendarai motor tersebut.


"Bear...


Coba pakai ini." ucap Alyss sembari memakaikan kaca mata hitam dan topi pada suaminya.



"Ihh...


Ganteng nya...." ucap Alyss gemas melihat beruang kesayangan nya.


Hazel hanya tertawa kecil mendengar ocehan istrinya yang begitu semangat.


"Yasudah naik." ucap Hazel pada istrinya.


Alyss pun segera naik dan duduk di atas motor tersebut dan Hazel mulai melajukan kecepatan motor nya setelah memakai helmnya.


"Wihhh...


Seru..." ucap Alyss di dekat telinga pria nya saat Hazel tengah mengendarai motor nya dengan kecepatan yang ia ukur tak akan membahayakan istrinya.


"Kau senang?" tanya Hazel pada istrinya.


"Tentu!" jawab Alyss singkat.


Setelah memutar beberapa putaran Hazel pun mulai menghentikan motor nya ke tempat semula, ia melihat ke arah istrinya yang terlihat sangat senang. dengan tersenyum manis ke arah nya.



"Sekarang keinginan nya sudah terpenuhi kan?" tanya Hazel sembari melihat ke arah perut istrinya.



"Iyah sudah!" jawab Alyss bersemangat.


"Nanti kita cek dulu yah...


Mau lihat dia..." ucap Alyss manja sembari memberikan senyum nya.


"As you wish babe..." jawab Hazel dan mencium ringan pipi wanita nya.


Alyss hanya membalas dengan senyuman cerah di wajah nya.


......................


Apart winter garden.


Rian melihat ke arah kekasih nya yang baru saja selesai menggambar design nya, ia mengambil cuti untuk Larescha dan menyuruh nya untuk membuat sketsa rancangan di apart nya saja.


"La..." panggil Rian lirih pada Larescha yang sedari tadi tengah sibuk memperhatikan rancangan nya.


"Iya?" jawab Larescha sembari tetap memperhatikan setiap design yang ia buat.


"Kau masih minum obat yang ku berikan?" tanya Rian pada kekasih nya.


Larescha terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan kekasih nya.


"Ma-masih..." jawab Larescha gugup


Mendengar jawaban Larescha yang seperti tak yakin membuat Rian mengerutkan dahinya dan mengulang kembali pertanyaan nya.


"Sungguh masih meminum nya? Kau tak berhenti atau menukarnya kan?" tanya Rian dengan memicingkan matanya menatap tajam ke arah kekasih nya.


Larescha semakin gugup ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan kekasihnya.


"Be-beneran masih kok..." jawab Larescha terbata.


"Sungguh? Aku akan benar-benar marah kalau tau kau berbohong!" ancam Rian dan membuat wanita itu ketakutan. Takut akan ditinggalkan.


"Itu...


Maaf..." ucap Larescha lirih dan mulai jujur.


"Maaf kenapa?" tanya Rian dengan nada ketus membuat kekasihnya semakin panik.


"Waktu itu....


Aku lagi touch up make di kantor terus tas nya kesenggol...


Jatuh deh semuanya...


Obat yang kau berikan juga jatuh, tutup nya longgar...


Karna uda jatuh ke lantai, aku beli obat pil KB yang lain..." jawab Larescha jujur dengan gugup.


"Ya ampun La...


Kenapa gak bilang dari awal?!" tanya Rian frustasi pada kekasihnya, ia seperti memakai cara senjata makan tuan.


Kekasih yang harusnya minum obat penyubur yang mirip dengan obat KB malah meminum obat KB sungguhan.


"Nanti kau marah..." ucap Larescha lirih.


"Yah kalau kau tak bilang aku makin marah!" jawab Rian kesal. Kesal antara pada dirinya sendiri dan juga kekasihnya.


"Ini aku bilang...


Juga di marahin tuh..." ucap Larescha lirih dengan menunduk.


Rian pun kehabisan kata-kata dengan kekasihnya.


"La..." panggil Rian dan membuat wanita nya mengandah padanya.


Cup...


Rian memangut bibir wanita nya sekilas dan menatap lekat ke arah iris bening di depan nya.


"Kita kapan nikah nya?" tanya Rian lirih.


"Tunggu di bolehin Alan." jawab Larescha polos tanpa rasa bersalah pada kekasihnya yang benar-benar ingin menikah.


"Kalau dia gak bolehin terus gimana?" tanya Rian.


"Makanya jangan dengerin aku waktu itu...


Baikin aja dia terus nanti juga boleh kok...


Dia memang gitu dari kecil, suka bikin emosi naik turun...


Tapi Alan baik kok..." jawab Larescha pada kekasihnya.


"Kelamaan La...


Aku ada caranya biar dia bolehin kita nikah.." ucap Rian pada wanita di depan nya.


"Gimana?" tanya Larescha bingung.


"Buat anak! Kalau disini ada isi nya...


Pasti di bolehin kok itu..." ucap Rian membujuk wanitanya sembari mengelus perut rata di hadapan nya.


"Isshh...


Takut...


Rian pun langsung membuang nafas nya dengan kasar.


"La...


Kalau obat mu habis atau tumpah harus bilang pada ku yah...


Jangan beli sendiri, aku aja yang ngasih." ucap Rian pada kekasihnya.


"Eh? Kena-


Hummpphhh..."


Ucapan Larescha langsung terpotong saat ia merasa bibir pria nya membuat nya bungkam. Rian memberikan ciuman lembut yang semakin dalam dan semakin berubah liar hingga membuat wanita nya kewalahan.


"Hah...hah...hah..." Larescha yang menghirup udara sebanyak mungkin karna ciuman dalam kekasihnya.


"Pekerjaan ku belum selesai...


Nanti yah..." ucap Larescha lirih pada kekasihnya yang sudah mengendong nya dam meletakkan nya ke atas meja di samping laptop kekasihnya.


Rian pun seperti pura-pura tak mendengar dan tetap menciumi leher kekasihnya, ia beranggapan kalau Larescha tak mau diajak kerja sama berarti jalan satu-satunya yah harus memakai saran teman nya.


Ciuman Rian menelusuri ke leher dan telinga wanitanya. Sesekali ia menggigit telinga wanita agar membuat kekasihnya semakin kegelian.


Tangan nya dengan perlahan membuka satu persatu kemeja sifon kekasihnya dan mulai masuk menjalar ke dalam nya dengan perlahan, meraba dan mengelus halus hingga semakin membuat kekasihnya hilang kendali.


Dengan satu tarikan ia melepaskan cup yang menutupi dada wanita dan langsung melayangkan ciuman nya.


"Engghh...." desis Larescha lirih, ia sudah tak ingin lagi mengatakan berhenti karna tubuhnya sudah terlanjur menginginkan hal yang sama.


Rian pun semakin lancar mel*mat dada wanita nya hingga membuat Larescha semakin menahan kepala pria nya agar tetap mencium nya.


Tangan kekar pria itu perlahan menyibak rok wanitanya dan mulai mengelus paha putih itu perlahan hingga semakin naik dan semakin membuat tubuh wanita hilang kendali.


"Sshh...." desis Larescha semakin menjadi saat ia merasakan ada sesuatu yang memasukinya secara perlahan.


"Ri-rian...


Ta-tangan nya pelan-pelan..." ucap Larescha lirih menatap sayu ke arah pria nya.


Tubuhnya semakin tak terkontrol saat pria itu memainkan jemarinya dengan cepat.


"Engghhh..." lenguh Larescha sembari semakin memeluk prianya.


"Mau lagi..." ucap nya polos dengan suara lirih dan mata yang sayu menatap pria di depan saat ia sudah mencapai puncak nya.


Rian tersenyum mendengar permintaan wanita di hadapan nya, ia sudah membuat tubuh kekasihnya sekali lagi luluh padanya.


"Mau lagi? Hm?" tanya Rian tersenyum pada wanita nya yang sudah sangat sayu.


"Iya..." jawab Larescha lirih sembari menganggukkan kepalanya.


Rian pun mulai menangkup tubuh kekasihnya dan memindahkan nya ke kamar.


......................


4 Hari kemudian.


Kediaman Hazel.


Alyss sejak pagi sudah sangat bersemangat ingin segera melakukan USG pada bayi di kandungan nya dan juga sekaligus mendengar detak jantung malaikat kecil nya.


"Sudah selesai? Ayo cepat..." ucap Alyss bersemangat sembari menarik tangan pria nya.


Hazel hanya tersenyum gemas melihat wanitanya yang begitu antusias dengan segala apapun tentang kandungan nya.


Selama di perjalanan menuju rumah sakit matanya nya terus memperhatikan ke beberapa anak-anak yang bermain dengan riang di beberapa jalan menuju JBS hospital.


Senyum nya mengembang dan mengelus perut nya perlahan.


"Hazel..." panggil Alyss lirih pada suaminya yang masih menyetir disebelahnya.


"Iya?" jawab Hazel dan melihat ke arah Alyss sekilas yang sedang memandang keluar dengan senyuman di wajah nya.


"Nanti setelah dari rumah sakit ke panti asuhan yah..." ucap Alyss sembari memandang ke arah wanitanya dengan tersenyum lembut.


"Mau ngapain? Mau di bakar lagi?" tanya Hazel bingung.


"Isshhh...


Bukan lah! Masa di bakar! Kan kasihan..." jawab Alyss pada suaminya.


"Tumben..." ucap Hazel lirih. "Terus mau ngapain" tanya pria itu kembali pada istrinya.


"Mau main sama anak-anak disana...


Sekalian kasih donasi yah..." jawab Alyss dengan senyuman nya, entah kenapa sekarang ia tiba-tiba ingin melakukan hal itu.


"Padahal beberapa hari yang lalu kau mau membakar pelayan di mansion lama, sekarang sudah mau jadi malaikat lagi?" ucap Hazel lirih melihat perubahan sikap wanitanya yang terkadang seperti iblis berwajah malaikat fan terkadang benar-benar seperti malaikat.


"Ihh...


Mana tau! Kan ini mau anaknya!" jawab Alyss sembari cemberut.


"Iyah...


Sekarang sudah jadi anak baik, gak minta yang aneh-aneh lagi dia..." ucap Hazel sembari mengelus pipi wanita nya.


"Iyalah...


Kalau ikut mamah nya kan jadi anak baik! Gak kayak papa nya jadi anak jahat!" jawab Alyss mendengus kesal.


Hazel tak marah mendengar hal itu ia hanya tertawa kecil karna merasa lucu dengan ejekan istrinya.


"Kau bilang mau anak yang mirip dengan ku?" tanya Hazel menggoda istrinya dengan sesekali melihat ke arah wajah cemberut di sebelah nya lalu melihat ke arah jalan lagi.


"Mau mirip wajah nya! Bukan sifat nya! Nanti kalau mirip dengan mu, belum apa-apa pelayan di rumah udah pada meninggal semua lah!" ucap Alyss tanpa filter dan membuat suaminya tertawa.


"Bukan nya kau waktu umur 6 tahun sudah mematahkan leher kucing mu yah? Aku saja mulai membunuh dari umur 15 tahun." ucap Hazel tertawa kecil menggoda istrinya yang semakin kesal karna membicarakan masa kecil mereka.


"Kan aku dulu tidak tau kalau matahin leher kucing gak boleh!" jawab Alyss yang semakin kesal.


"Kau sendiri kenapa bunuh orang lain?! Seneng pula itu! Bikin merinding!" ucap Alyss menunjukkan ekspresi gemetar.


"Kan seru! Menyenangkan tau lihat wajah mereka ketakutan." jawab Hazel tertawa kecil dengan ekspresi yang sulit diartikan mengingat wajah takut para korban nya.


"Kan kasihan..." jawab Alyss lirih.


"Lalu waktu kau mau membakar pelayan itu? Bukan nya kau suka yah melihat ekspresi ketakutan mereka?" tanya Hazel dengan menatap wajah istrinya.


"Gak tau...


Kenapa bisa suka?" jawab Alyss yang juga bingung dengan dirinya sendiri.


Hazel hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala istrinya sekilas.


Perbedaan diantara ia dan Hazel adalah pria itu membunuh dan menyiksa untuk mendapatkan kesenangan yang membuat hatinya tergelitik merasakan puas dan sangat menyukai dengan ketakutan para korban nya, membuat nya ingin menyiksa lebih banyak lagi.


Sedangkan Alyss hanya membalas siapa yang mengganggu nya dengan cara apapun untuk membuat orang itu menderita atau bahkan lebih buruk nya lagi bisa benar-benar membuat orang itu menemui malaikat maut.


Sifat asli dari wanita cantik itu yang selalu ingin membalas perbuatan orang lain padanya dengan beribu cara menyakitkan, benar-benar seperti bunga beracun yang tak berbahaya jika tak di ganggu oleh orang lain.


Sifat yang di benci ibunya hingga membuat nya membentuk kepribadian baru dengan watak lemah dan naif yang tak tau caranya membalas orang lain karna membuat kepribadian yang sangat penakut.


......................


JBS Hospital.


Alyss berbaring dengan perut yang dibuka agar memudahkan dokternya untuk memeriksa kandungan nya.


Di kehamilan nya yang ke sepuluh minggu, Alyss baru memberanikan diri untuk mendengar dan melihat menggunakan USG sebelum nya ia takut jika hal itu masih tak nyata.


Takut jika kandungan nya tak dapat bertahan dan ketakutan lain nya yang terus menghantuinya karna kondisi nya yang tak stabil.


Deg..deg...deg...


Alat CTG tersebut mulai mengeluarkan bunyinya. Alyss tersenyum dengan wajah nya yang menunjukkan raut bahagia yang teramat sangat.


Hazel pun ikut tersenyum dan menggenggam jemari kecil istrinya. Ia juga merasa sangat senang dengan suara tersebut.


"Kandungan nya sehat! Dan sepertinya nyonya dan presdir akan lebih repot lagi nanti." ucap prof. Diany yang sebelum nya adalah dokter yang juga mengurus masalah kehamilan Alyss yang pertama.


"Maksud nya?" tanya Alyss bingung.


Prof. Diany pun tersenyum dan menunjukkan hasil USG kandungan Alyss pada sepasang suami istri yang merupakan atasan nya.


Gambar di monitor yang menunjukkan kandungan yang masih berbentuk seperti bulatan atau seperti kacang kecil yang berjumlah dua.


"Kembar?" tanya Hazel lagi dan setelah itu menunjukkan senyum senang nya.


"Benar sekali." jawab prof. Diany tersenyum.


Alyss yang mendengar hal itu semakin senang sampai tak bisa menahan bulir bening dari kelopak mata sayu nya.


"Mereka benar-benar baik-baik saja kan?" tanya Alyss lagi, ia takut obat penahan rasa sakit nya berpengaruh pada calon anak-anak nya. Walaupun JBS farmasi sudah membuat yang tak akan membahayakan anak nya namun tetap saja ia merasa takut.


"Mereka baik-baik saja, detak jantung nya sangat sehat, dan sebaiknya nyonya melakukan pengecekan secara rutin." jawab prof. Diany dengan senyum ramah nya melihat kebahagian calon ibu depan nya.


Alyss bernapas lega mendengar hal itu, mengetahui calon anak-anak nya yang baik-baik saja walaupun ia mengkonsumsi obat pereda rasa sakit dalam dosis tinggi.


Hazel tersenyum dan menatap ke arah istrinya yang terlihat sangat senang.


Setelah mengambil beberapa foto hasil USG dari kandungan nya, Alyss terus saja menatap kertas kecil di tangan nya.


"Kita nanti jadi kan ke panti asuhan nya?" tanya Alyss saat pria nya membukakan pintu mobil untuk nya.


"Sepertinya aku hari ini tak bisa. Bagaimana kalau besok? Hm?" tanya Hazel.


"Yah...


Kau sibuk yah?" tanya Alyss dengan wajah lesu.


"Aku ada pertemuan mendadak...


Besok yah..." jawab Hazel lembut sembari mengusap pipi wanita nya.


"Besok kita dari pagi yah...


Kau mau bermain kan?" sambung Hazel lagi melihat istrinya yang terlihat lesu.


"Iyah!" jawab Alyss semangat "Kan anak nya mau..." sambung nya lagi dengan nada manja.


"Seperti nya mereka akan jadi es dan api secara bersamaan." gumam Hazel ketika melihat sikap istrinya yang terus berubah.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Alyss ketika mendengar suaminya mengatakan sesuatu.


"Bukan apa-apa...


Kau mau kita membeli apa saja untuk di bawa ke sana?" jawab Hazel dengan memberikan pertanyaan lain pada istrinya.


"Pakaian dan mainan?" jawab Alyss sembari memutar bola mata nya, ia tau selain uang donasi ia juga harus membawa sesuatu agar membuat anak-anak itu senang.


......................


Keesokkan hari nya.


Kediaman Hazel.


Setelah menunggu istrinya bersiap, Alyss pun segera turun menghampiri suaminya.


"Kau yakin mau seperti ke panti asuhan?" tanya Hazel ketika menelisik cara berpakaian dan riasan istrinya.


"Iyah! Lebih nyaman, kan mau main nanti." jawab Alyss bersemangat.


"Kalau begini aku seperti membawa keponakan bukan istri." ucap Hazel lirih sembari memperhatikan istrinya yang mengikat dua rambut nya dan memakai pakaian berwarna abu muda.


"Berarti kau jadi sugar daddy ku." jawab Alyss menggoda suaminya dan merangkul tangan kekar itu.


......................


Panti asuhan.


Setelah memberikan beberapa barang untuk anak-anak panti, Hazel pun memberikan donasi untuk merenovasi atau membangun panti asuhan menjadi lebih luas lagi.


Sebelum nya ia tak pernah memberikan dana seperti ini secara pribadi atau karna keinginan sendiri selain untuk politik bisnis agar membangun citra nya dan menutup perbuatan iblis nya agar tak di ketahui oleh siapapun.


Setelah berbicara dengan ibu panti Hazel pun keluar mencari keberadaan istri kesayangan nya hingga mata nya tertuju pada wanita yang sedang bermain dengan anak-anak yang mengikutinya.


"Kak...


Lihat ini gelembung ku lebih banyak!" ucap seorang anak lelaki yang mulai meniup gelembung di tangan kecil nya.


"Ihh...


Pinternya...


Kakak juga bisa nih lihat..." ucap Alyss yang juga ikut meniup gelembung dan membuat anak-anak itu ikut memecahkan gelembung yang di tiup istri kecil nya.


Anak-anak di panti tersebut memanggil nya "kakak" karna ia terlihat masih sangat muda dan tak terlihat sama sekali jika sudah menikah.


Hazel ikut tersenyum saat melihat wanita nya yang tertawa dengan riang. Benar-benar tak terlihat jika wanita itu sedang mengandung anak nya dan terlihat seperti wanita yang sudah menikah.



"Kak nanti kalau aku besar jadi pacal kakak boleh engga?" tanya polos seorang anak lelaki yang masih berusia sekitar 6 atau 7 tahun.


"Boleh gak yah?" jawab Alyss gemas pada anak kecil di depan nya.


"Tidak boleh!" jawab Hazel yang langsung mendatangi istrinya.


Melihat kucing peliharaan istrinya yang terlalu dekat saja ia bisa cemburu apa lagi dengan anak kecil yang begitu polos hingga menyatakan pernyataan cinta pada wanita yang menjadi miliknya.


"Ihh...


Om nya kok marah?! Masa ga boleh sih?!" jawab anak lelaki tersebut dengan menunjukkan wajah kesal nya yang semakin terlihat menggemaskan dan membuat Alyss tertawa kecil.


"Gak boleh yah gak boleh! Masih kecil sudah banyak membantah! Main di tempat lain sana!" ucap Hazel sembari menatap tajam ke arah anak lelaki tersebut dan menunjukkan penekanan di setiap katanya.


"Huaa...


Oom nya selem....


Takut...." ucap anak tersebut menangis saat Hazel memarahinya dan menatap tajam ke arah nya dengan tatapan membunuh dan aura menakutkan yang kuat.


Anak tersebut pun langsung berlari pergi meninggalkan kakak cantik nya karna takut dengan om seram yang memarahinya.


Anak lain yang bermain dengan Alyss pun langsung terdiam dan keadaan berubah suram melihat pria yang menatap tajam ke arah mereka.


"Kakak nanti kapan-kapan kita main lagi yah!" jawab anak-anak tersebut secara bersamaan dan ikut lari karna takut dengan om seram yang menatap tajam ke arah mereka.


"Kan...


Jadi takut semua kan? Anak-anak kok di marahin sih? Takut lah mereka." ucap Alyss sembari memanyunkan bibir nya.


"Suruh siapa masih kecil udah mau pacaran sama istri orang! Tidak ku panggang saja mereka harus nya sudah bersyukur!" jawab Hazel kesal.


...****************...


Maaf yah semalam ga up soalnya othor masih agak sakit🤧 jadi ini othor banyakin yah😉


othor kasih bocoran yah...


Anak mereka tuh nanti nya super duper nakal tapi juga pinter banget...


Yah turunan dari orang tua nya yah...


Kan sama-sama pinter emak bapak nya. Yang Satu masih punya empati sama simpati sedangkan yang satu lagi...


Tau lah yah😅😅


Cuma punya empati dan simpati untuk sebagian orang aja kayak ayah nya yang cuma bisa luluh sama mamah nya😅😅


Happy Reading♥️♥️♥️