
Malam itu Alyss benar-benar tak dapat tidur pikirannya terus saja terganggu sejak sore tadi.
Kenapa baru sekarang?
Sekarang aku sudah terjebak dengan Hazel.
Aku bahkan tak bisa bernafas dengan lega lagi sekarang.
Orang yang kusukai sejak dulu ternyata juga menyukaiku, tapi kenapa perasaan ku seperti ini?
Apa karna aku merasa kotor?
Pikiran-pikiran tersebut terus saja berputar di kepalanya. Ingatan tentang bagaimana perlakuan Hazel yang benar-benar berbanding terbalik dengan perlakuan yang di berikan Leo.
"Sudahlah, aku tidur saja." ucap Alyss lirih dan mencoba kembali tidur.
......................
Dikamar Leo.
"Haisshh...
Aku benar-benar bodoh, kenapa malah mengaku menyukainya? Bagaimana jika dia jadi menjauhi ku? Arghhh....." Leo berbicara pada dirinya sendiri sembari terus mengacak kasar rambutnya.
Setelah lelah memarahi dirinya sendiri Leo tidur terlentang diatas ranjang nya, memori saat pertama kali bertemu dengan Alyss berputar di atas kepalanya.
Flashback on
"Duh mati aku, kenapa bisa ga liat pengumuman sih? Kelas nya prof. Jean lagi." gerutu Alyss sembari terus berlari ke kelas nya, ia tak tau jika ada perubahan jadwal kuliah yang membuat nya masuk lebih awal, dan lagi ini kelas prof. Jean dia dosen yang sangat tak suka keterlambatan.
Tiba-tiba....
Brukk!!
Alyss langsung terjatuh kebawah ketika menabrak seseorang saat ia sedang berlari.
Alyss membuat kopi orang itu tumpah dan mengotori baju orang yang ia tabrak.
"Haduh...
Maaf...." ucap Alyss sembari memasukkan barang-barang nya yang tercecer keluar dari tasnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Leo sembari mengulurkan tangannya.
Alyss pun langsung mengandahkan wajahnya ketika mendengar suara lembut tersebut.
"Tampan sekali..." ucap Alyss lirih yang tanpa sadar mengatakan hal tersebut. Ia terpesona saat pertama kali melihat Leo.
"A-Apa?" tanya Leo ketika mendengar ucapan lirih Alyss.
"Eh? Iya aku baik-baik saja, maaf kopi nya tumpah ya? Ini aku ganti. Maaf yah." ucap Alyss yang kini sudah berdiri dibantu Leo.
Alyss pun memberi ganti uang sebagai permintaan maafnya karna telah menumpahkan kopi Leo, ia pun segera ingin berlari lagi.
"Eh... tunggu...." ucap Leo sembari menangkap tangan Alyss.
"Apa lagi? Aku sedang buru-buru." ucap Alyss sembari berusaha melepas tangan Leo.
"Aku mau ganti kopi, bukan uang." ucap Leo sembari mengalihkan mata nya ke kopi yang sudah tumpah.
"Iya nanti aku traktir, untuk ganti kopi mu." ucap Alyss buru-buru.
"Nama? Jurusan? Kelas?" tanya Leo lagi.
"Alyssca, jurusan kedokteran, kelas III A" jawab Alyss singkat.
"Okey." ucap Leo tersenyum sembari melepas tangan Alyss.
"Lucu sekali dia, seperti nya itu kelas prof. Jean." ucap Leo tertawa kecil ketika melihat Alyss yang sudah menghilang karna berlari sekuat tenaga.
Flashback off
Leo tersenyum-senyum sendiri mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan Alyss.
"Arghhh....
Semoga dia tak menjauhi ku." ucap Leo memegang kepalanya.
"Oh iya aku juga belum beri tau tentang kandungannya. Apa kau benar-benar menyukai pria itu?" ucap Leo lirih ketika mengingat bayi yang sedang dikandung Alyss.
......................
Mentari pagi mulai naik menyebarkan seluruh sinarnya.
"Ugh..
Sudah pagi? Kenapa waktu tak terasa jika aku disini?" ucap Alyss lirih sembari mengusap wajahnya.
Jujur saja ia merasa nyaman ketika berada di villa Leo. Alyss pun bangun dan segera membersihkan dirinya. Setelah itu ia pun keluar.
Alyss mencium aroma makanan yang sangat harum, ia pun mengikuti aroma tersebut dan melihat Leo yang sedang memasak.
"Kau sudah bangun?" tanya Leo ketika melihat Alyss.
"Iya kak sudah." jawab Alyss.
"Duduk dulu sebentar lagi sarapan nya siap." ucap Leo tersenyum sembari tangan nya terus memasak.
Tak lama kemudian makanan pun telah selesai, mereka pun kemudian memulai sarapannya.
"Apa sekarang waktu yang tepat untuk memberitau tentang kandungannya?" ucap Leo dalam hati ketika melihat Alyss yang sedang makan.
"Ehmm...
Alyss." panggil Leo.
"Ya kak?" jawab Alyss dan menoleh ke arah Leo.
"Kau tak merasa aneh belakangan ini?" tanya Leo, ia bingung bagaimana caranya memberitau Alyss tentang kandungannya.
"Aneh? Kurasa tidak." jawab Alyss menggeleng.
"Ehm... gimana yah, aku ingin memberitau mu sesuatu, tapi kau jangan terlalu terkejut." ucap Leo yang sedikit berputar-putar.
"Apa itu?" tanya Alyss penasaran.
Leo menarik nafas dan mulai mengatakannya.
"Kau saat ini sedang hamil, usianya baru tiga minggu, dan karna luka yang kau miliki sebelumnya kandungan mu menjadi sangat lemah, dan.....
Jika kau tetap mempertahan kandungan itu, nyawa mu mungkin bisa terancam nantinya, fisik mu masih tidak sanggup menerimanya karna kecelakaan sebelumnya." ucap Leo menerangkan.
Alyss benar-benar terkejut dengan ucapan Leo, dada nya terasa sesak, tenggorokan nya terasa tercekat sehingga ia tak dapat berbicara, makan ataupun minum. Tanpa ia sadari bulir-bulir cairan bening pun menetes dari ujung matanya membasahi pipinya. Kepala nya terus saja tertunduk sambil menangis. Rasanya ia benar-benar malu mengangkat wajahnya.
Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?
Kesalahan apa yang sudah kuperbuat sampai bertemu orang seperti itu?
Alyss terus saja menangis sambil memegang perutnya, ia benar-benar tak ingin mengandung bayi Hazel, kenapa? Karna ia sangat membenci Hazel.
Tapi bayi dalam kandungannya juga tak salah apapun, walaupun dia tak menginginkannya bukan berarti Alyss membenci bayi itu, karna itu tetaplah anaknya.
Perasaannya campur aduk, bingung, marah, sedih. Ia juga memikirkan bagaimana reaksi Hazel saat tau jika ia sedang hamil.
Leo tak berkata apapun lagi, ia hanya diam dan melihat Alyss yang terus tertunduk menangis, ia sangat ingin menghibur Alyss namun ia sendiri bingung bagaimana melakukannya.
"Maaf..." ucap Leo lirih.
Walaupun ia tak salah apa-apa namun ia merasa bersalah ketika melihat Alyss menangis seperti itu.
"Saat membawa mu kerumah sakit waktu itu. Dan Aku mengatakan aku menyukaimu, ya karna aku menyukaimu. La-lagi pula aku juga suka anak kecil, dan aku percaya kau wanita yang baik." jawab Leo sebisa mungkin mengurangi kesedihan Alyss.
Bukannya berkurang, Alyss malah semakin menangis. Leo semakin menjadi bingung bagaimana caranya menghibur Alyss.
......................
Skip time.
Ruang Visi.
"Sudah selidiki mobil yang kemarin ku minta?" tanya Hazel.
Saat ia melihat catatan mobil Leo juga lewat di jalan tersebut, firasat Hazel sangat kuat untuk menyelidiki mobil itu lebih dulu.
"Sudah pak, setelah melewati jalan tersebut, mobil itu kerumah sakit XX." jawab salah satu staf.
"Sudah cek rumah sakit nya?" tanya Hazel lagi.
"Sudah pak, kami sudah mencoba mengambil data rumah sakit tersebut, sebentar lagi hasilnya keluar." jawab staf tersebut.
Tak lama kemudian para staf dari ruang Visi sudah berhasil menerobos data dari RS tersebut.
"Nona Alyss berada di rumah sakit ini sebelumnya, namun ia di pindah setelah menjalani pengobatan." ucap salah satu bawahan Hazel.
"Selain RS, sudah di lacak kemana saja mobil itu?" tanya Hazel
"Sudah mobil itu pergi ke vila di jalan XX, perusahaan XX, Restoran XX... ... ..." staf tersebut mengatakan kemana mobil tersebut pergi hari itu.
"Villa? Kemungkinan besar dia membawa Alyss kesana." ucap Hazel lirih.
"Rian, jika aku membuat kekacauan di rumah orang lain berapa kompensasi yang harus ku terima? Oh tidak-tidak siapkan saja pengacara untuk ku, jika aku menghancurkan properti orang lain." ucap Hazel.
Ia tak berencana menghancurkan Villa Leo, namun jika Leo menghalanginya untuk membawa Alyss tentu saja ia tak akan berpikir dua kali menghancurkannya.
Hazel pun langsung menuju Villa Leo hari itu juga, ia membawa banyak pengawalnya bersama nya.
......................
Setelah beberapa lama kemudian Hazel pun telah sampai di Villa Leo. Melihat banyaknya mobil yang datang membuat penjaga pintu gerbang Villa Leo mengetuk salah satu mobil tersebut.
"Maaf pak, apa sudah ada janji dengan tuan Leo?" tanya penjaga pintu tersebut.
"Sudah, buka pintunya!" jawab pengawal Hazel.
"Siapa pak namanya?" tanya penjaga tersebut, karna memang Leo sangat menjaga Villa nya agar tak mudah di masuki orang lain.
"Tabrak saja gerbangnya." perintah Hazel ketika melihat penjaga gerbang tersebut terlalu lama membuka gerbangnya.
Para pengawal Hazel pun tanpa ragu langsung menabrakkan mobil nya ke gerbang tersebut untuk membukanya. Sontak penjaga gerbang kaget, dan memanggil tim keamanan.
Alyss yang masih belum tau Hazel menjemputnya, masih dalam lamunannya memikirkan bayi yang dalam kandungannya.
Ia duduk di ayunan taman Leo yang menghadap ke arah laut dan bukit tersebut.
Leo pun hanya mengawasi Alyss dari jauh, ia juga masih belum tau jika Hazel sudah membuat kekacauan di Villa nya.
"ALYSS!!!" Panggil Hazel kuat
Alyss sempat terkesikap ketika mendengar suara Hazel memanggil nya.
"Eh itu seperti....
Tapi tak mungkin kan dia di sini?" ucap Alyss lirih. Ia pun memejamkan mata nya lagi, ia sedang ingin menenangkan pikirannya.
"Akh!" pekik Alyss ketika ia merasa tangan nya ditarik kasar.
"Ka-kau?" ucap Alyss dengan membulatkan mata nya sempurna ketika melihat Hazel sedang di hadapannya.
"Ikut aku pulang." ucap Hazel dan langsung menarik kasar tangan Alyss.
"Tunggu, pelan-pelan...
Sakit, jangan menarik ku." ucap Alyss ketika Hazel menarik pergelangan tangan nya dengan sangat kuat.
Tentu saja Alyss merasa kesakitan, tulang rusuk nya baru saja retak dan belum ada satu minggu sejak ia menerima pengobatan. Ia saja jika berjalan sangat hati-hati agar tidak terasa sakit, dan kini Hazel malah menarik nya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?!" ucap Leo keluar dan langsung berusaha menepis tangan Hazel yang memegang pergelangan tangan Alyss.
"Bukan urusanmu!" jawab Hazel ketus.
"Jangan kasar, dia masih sakit." ucap Leo sembari menatap tajam Hazel.
Hazel hanya tersenyum sinis dan membalas tatapan tajam Leo dengan tatapan membunuhnya.
"Itu terserah ku mau kasar atau tidak, ini sama sekali tak ada urusannya dengan mu." jawab Hazel sarkas.
"Ada! Jika kau menyakitinya, itu menjadi urusanku." balas Leo lagi.
Alyss benar-benar bingung melihat dua pria dihadapannya yang saling menatap dengan tatapan tajam.
" Tidak! jika mereka terus seperti ini aku yang akan terkena imbasnya." batin Alyss ketika melihat Hazel dan Leo bergantian.
Ia tau jika Hazel akan sangat marah padanya, dan neraka apa yang akan ia hadapi nantinya.
"Kak sudah...
A-aku akan kembali. Terimakasih karna sudah menolong ku." ucap Alyss pada Leo.
"Lihat? Dia saja tak masalah kenapa kau yang sibuk?" ucap Hazel tersenyum sinis menatap Leo.
"Kita pulang sayang?" tanya Hazel lirih di telinga Alyss.
"I-iya." jawab Alyss gugup, ia mulai takut dengan sikap Hazel.
"Sekarang minggir!" ucap Hazel ketus pada Leo.
Leo pun melihat wajah Alyss yang penuh dengan ketakutan, ia akhirnya membiarkan Alyss pergi, ia tak ingin membawa masalah bagi Alyss.
......................
Kediaman Hazel.
Bruk!!
Hazel langsung menghempas Alyss dengan kasar hingga tersungkur ke lantai kediamannya di ruang tengah. Ia merasa sangat geram dengan sikap Leo sebelumnya ia merasa Leo dan Alyss menjadi sangat dekat. Pikiran nya dipenuhi hal negatif ketika memikirkan Alyss tinggal selama tiga hari bersama pria lain.
"Akh!! Sakit..." pekik Alyss memegang bagian atas perutnya.
"Tulangku bisa patah bukan retak lagi sepertinya." batin Alyss.
"Buka baju mu!" ucap Hazel dengan penuh penekanan sembari menatap tajam Alyss.
"A-Apa? Di-sini? Aku tak mau." ucap Alyss sembari menggelengkan kepalanya.
"Tak mau?" tanya Hazel yang sudah jongkok menyamai tinggi nya dengan Alyss yang sedang terduduk dilantai sembari mencengkram kuat pipi Alyss.
"Akan ku buka sendiri." ucap Hazel tersenyum.
"Ja-jangan!" ucap Alyss lirih wajah nya sudah mulai pucat melihat Hazel yang berusaha menyikap roknya
Hazel Rai.
Alysscalla Zalea