
Setelah dapat mengontrol emosi nya, Alyss sudah berhenti menangis. Larescha masih tampak sangat cemas, tapi ia tak lanjut bertanya. Dia ingin Alyss tenang terlebih dahulu.
"La? Apa aku bisa minta bantuan mu?" tanya Alyss dengan wajah serius.
"Bantuan? Apa itu?" tanya Larescha bingung.
"Kau ingat? Waktu aku bilang bahwa kampus ku pernah merekomendasikan ku untuk bekerja di Shouldice Hospital Kanada?" ucap Alyss.
"Ya aku ingat, dan kau tetap memilih bekerja di RS JBS. Lalu bantuan apa yang bisa ku berikan?" tanya Larescha yang masih belum mengerti maksud dari permintaan Alyss.
"Aku akan melamar bekerja di sana. Bisakah kau membelikan ku tiket nya? Dan juga mengambil pasport serta surat keterangan lain di apatermen milik ku?" ucap Alyss yang mulai menjelaskan maksud tujuannya.
"Apa?! Tapi kenapa tiba-tiba?" tanya Larescha dengan terkejut.
"Kumohon jangan tanya alasannya sekarang. Akan ku beri tau tapi tidak sekarang. Aku sedang terburu-buru. Kumohon La...." ucap Alyss dengan mata memelas.
"Fyuhhh....
Baiklah, kau ingin aku membeli tiket ke Kanada untuk mu?" tanya Larescha dengan tarikan napas panjang melihat teman nya yang memohon dengan mata puppy eyes milik nya.
"Tidak! Belikan aku tiket ke Korea." ucap Alyss tegas.
"Loh?! Kau bilang ingin melamar di Shouldice Hospital? Tapi kenapa ke Korea? RS itu berada di Kanada Ly!" ucap Larescha yang kebingungan dengan jawaban Alyss.
"Ya benar! Belikan tiket atas namaku dengan tujuan ke Korea dan kau harus membeli tiket atas namamu dengan tujuan ke Kanada. Saat melewati check-in tiket pertama kita berdua sama-sama masuk, dan saat ingin memasuki pesawat kita akan menukar tiket nya. Aku akan pergi ke Kanada atas tiket dari nama mu. Dan kau bisa kembali lagi. Seperti itu maksud ku." Alyss menjelaskan panjang lebar rencananya.
"Kau seperti ingin pergi dengan mengelabui seseorang Ly. Tapi baiklah aku tak akan bertanya lagi dan melakukan apa yang kau minta. Tapi kau harus berjanji akan menceritakannya pada ku." jawab Larescha yang menyetujui permintaan sahabat nya.
"Baik!" jawab Alyss dengan cepat.
"Kapan kau ingin pergi?" tanya Larescha
"Sekarang! Kalau bisa lebih cepat lebih baik!" jawab Alyss dengan menggebu-gebu.
Larescha pun langsung memeriksa tiket pesawat dengan waktu yang tercepat untuk ke Kanada dan Korea hari ini secara online.
"Aku menemukannya! Aku memesan tiket ke Kanada jam 07.00 PM dan ke Korea jam 07.30 PM malam ini. Ini yang paling cepat hari ini." ucap Larescha ketika menemukan tiket yang pas.
"Baik La. Terimakasih!" ucap Alyss yang langsung merangkul sahabatnya itu.
Larescha tersenyum saat merasakan sahabatnya merangkul nya dengan erat.
"Sudah, sudah...
Sekarang aku harus ke apatermen mu dan mengambil pasport serta keperluan mu yang lain." ucap Larescha dengan berusaha melepaskan rangkulan Alyss.
"Huh..
Padahal aku ingin menghukum mu dengan membelikan ku ayam goreng selama satu bulan penuh, Tapi malah aku yang seperti kena hukuman." ucap Larescha dengan wajah cemberut nya sembari bangun dan bersiap-siap ke apatermen Alyss.
Alyss hanya tertawa kecil melihat sahabatnya yang cemberut padanya tetapi tetap mengikuti keinginannya.
Larescha pun pergi ke apatermen Alyss. Di perjalanan pikirannya terus terganggu, ia merasa bahwa Alyss sangat aneh.
Alyss terlihat sedang dikejar dengan oleh seseorang belum lagi saat ia melihat perban luka di pergelangan tangan Alyss, dan beberapa kiss mark di leher Alyss.
Walaupun Alyss memakai baju panjang untuk menutupi apa yang terjadi dengan tubuhnya, tetapi Larescha masih dapat melihatnya.
"Alyss semoga kau memang baik-baik saja..." ucap Larescha sembari terus mengemudikan mobilnya menuju apatermen Alyss.
......................
Skip Time..
Hazel menyelesaikan pekerjaan nya dari RS JBS dan segera pergi untuk menemui Alyss. Hazel belum tau bahwa Alyss telah kabur dari nya.
Saat Hazel sampai di depan kamar Alyss ia tidak melihat ada satupun pengawal yang berjaga di depan kamar Alyss.
Hazel langsung membuka pintu ruangan Alyss dan tak menemukan satu orang pun.
Wajah Hazel sudah memerah dengan rahang yang mengeram. Ia benar-benar marah. Ia menelpon para pengawal yang ditugasi untuk mengawasi Alyss, untuk segera berkumpul menghadap nya.
Plak!
Satu tamparan melayang kepada salah satu pengawalnya.
"Dimana dia!" tanya Hazel dengan tatapan yang siap membunuh.
Setelah itu dia menyerang dokter dan langsung kabur." jawab pengawal tersebut dengan takut-takut.
Plak!!
Satu tamparan lagi mendarat di pipi pengawalnya.
"Tak becus!" ucap Hazel marah.
Hazel pun langsung menelpon kepala pengawal di kediamannya dan memerintahkan mereka untuk mencari Alyss.
Hazel juga menelpon Rian untuk mencari Alyss. Ia memerintahkan Rian untuk memeriksa rekaman cctv sekitar agar lebih cepat menemukan Alyss.
Hazel benar-benar sangat marah saat itu. Ia bahkan memerintahkan pengawalnya yang lain untuk mencongkel mata pengawal yang ditugaskan untuk mengawasi Alyss, karna mereka tak becus dalam menjalankan tugasnya.
"Dimana kau? Kau tak akan bisa lari bahkan jika pergi ke ujung dunia pun." ucap Hazel dengan tatapan tajam menatap keluar jendela dari kamar miliknya sendiri di kediamannya.
......................
Larescha telah kembali dari apatermen milik Alyss, ia juga membeli beberapa makan malam untuk dihabiskan nya bersama Alyss.
"Lily setelah selesai makan kita harus segera ke bandara." ucap Larescha.
"Iya Lala." ucap Alyss dengan senyum manisnya.
Mereka pun menghabiskan makan malam nya bersama.
"La..
Bisakah kau menghubungi kak Leo? Aku ingin berbicara padanya." ucap Alyss setelah makan malam. Ia masih tak tau kejadian yang menimpa Leo.
"Kak Leo? Sebentar akan ku hubungi. Aku memiliki no telp nya karna kami waktu itu bekerja sama untuk mencari mu. Dia sangat khawatir pada mu." jawab Larescha yang juga tak tau bahwa Leo saat ini masih belum sadar dan di rawat di rumah sakit.
Setelah mencoba menelpon beberapa kali tak ada panggilan yang terjawab.
"Mungkin dia masih sibuk." ucap Larescha pada Alyss saat panggilannya terus tak ada jawaban.
"Baiklah, jika kau bisa menghubunginya minta dia untuk berhati-hati yah." pesan Alyss pada Larescha.
"Iya, iya..
Sekarang sudah siap? Ayo pergi!" ajak Larescha.
Mereka pun telah siap dan segera pergi ke bandara. Larescha mengikuti rencana Alyss. Mereka pun bertukar tiket dan Alyss segera masuk ke dalam pesawat.
Larescha melambaikan tangannya saat pada Alyss sebelum Alyss benar-benar masuk ke dalam pesawat.
"Akhirnya aku benar-benar pergi juga...
Ku harap ini akan segera berakhir....
Dan dia tak menemukanku dan segera melupakanku." ucap Alyss dengan menyandarkan kepalanya ke bangku pesawat, dan memandang ke luar dari jendela pesawat tersebut.
Alyss benar-benar berharap bahwa semua ini telah berakhir.
Tanpa ia sadari bahwa keputusan nya akan membawa dirinya kedalam belenggu terkuat dan sumur terdalam yang akan menjerat hidupnya selamanya.
...****************...
**Hai....
Jangan lupa Like, Komen, dan Rate 5 yah hihi
Serta maafkan segala typo yang tak sengaja Author buat hihi..
Jangan lupa vote dan favorit yah😉
Jika ada saran dan kritik segera beri tau yah agar Author dapat lebih memperbaiki tulisan hihi...
Happy reading🌹🌹🌹
Sehat selalu yah buat para pembaca😊
And Happy new year to everyone🥳🥳**