(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Candy



Mansion Dachinko.


"Kau kalah! Aku menang lagi!" ucap Louise senang saat pria itu mengambil balok yang membuat susunan nya jatuh.


"Siapa yang beli permainan ini?!" decak James kesal karna ia tak suka kalah.


"Aku tadi minta di belikan pelayan, kau belum pernah bermain menyusun balok?" tanya Louise saat melihat pria itu terus mengambil di tempat yang riskan tumbang.


"Tidak," jawab James singkat yang entah mengapa mengikuti permainan yang baginya kekanakan tersebut.


Louise tersenyum melihat wajah kesal pria dan mulai bicara, "Sesuai taruhan nya tadi...


Keinginan ku adalah tidak melakukan apapun malam ini!" ucap nya dengan mata berbinar nya.


James pun menatap gadis itu, ia selalu ingin menyentuh dan bermain di atas tubuh gadis cantik itu namun kini ia tak bisa.


"Yang lain!" ucap nya tak setuju.


"Tadi pagi kan sudah! Kau lupa?!" ucap Louise membantah.


"Kan aku hanya membangunkan mu," jawab James enteng dengan wajah datar seperti tak melalukan kesalahan.


"Mana ada bangunin tidur sampai melakukan itu! Kau tidak tau? Aku tadi pagi sangat terkejut waktu kau tiba-tiba masuk!" ucap gadis itu frontal.


"Tapi enak kan?" tanya James sembari menatap gadis.


"Enak mata mu! Sakit! Kau yang merasa begitu!" gerutu Louise dengan kata umpatan nya.


Ia pun berjalan ke ranjang luas di kamar tersebut dan menggulung dirinya dengan selimut.


"Kau belajar memaki orang dari mana?" gumam James menggeleng sembari menatap gadis itu.


Ia sudah terbiasa dengan kata-kata umpatan dari bibir gadis itu saat sedang kesal ataupun saat Louise tengah PMS yang mood nya semakin terganggu.


James pun mendekati nya dan memeluk dari belakang ke arah gadis.


"Sana James...


Risih tau! Kan masih luas..." ucap Louise tak nyaman saat pria itu terlalu menempel pada nya dan memeluk nya dari belakang.


"Kalau begitu jangan membelakangi ku," ucap James sembari mengecup tengkuk gadis itu yang tersibak rambut.


"Malas! Kau bohong! Kata nya kalau aku menang boleh minta apapun kecuali pulang! Ini kan aku tidak minta pulang!" ucap Louise yang tak ingin berbalik.


"Baik, aku tak akan lakukan apapun." ucap James sembari memeluk gemas tubuh gadis itu.


Louise pun tersenyum licik, ia ingin membalas apa yang di lakukan pria itu tadi pagi pada nya yang tiba-tiba melakukan olahraga tanpa persiapan hingga membuat nya tersentak merasakan sakit.


"Sungguh?" tanya Louise berbalik dan tersenyum menatap iris elang di depan nya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya James mengernyit melihat senyum penuh arti gadis itu.


"Kau tak akan lakukan hal itu pada ku malam ini kan? Iya kan?" tanya Louise dengan memastikan dengan mata berbinar nya.


"Hm, aku tak akan lakukan." jawab James dengan nada malas.


Cup...


Gadis itu sedikit naik di atas dada bidang pria tampan dan mengecup ringan bibir pria itu.


"Kau bilang tak mau melakukan nya, lalu kenapa sekarang mencium ku?" tanya James heran melihat tingkah gadis itu.


"Memang nya tak boleh? Yang penting kan tidak melakukan nya..." jawab Louise sembari mencium ringan bibir dan leher pria itu.


James tak tau apa yang ingin di lakukan gadis itu namun ia merasakan tangan yang sedang merayap di balik pakaian nya menyentuh otot perut nya dan turun ke celana nya.


"Ih udah besar! Padahal aku kan cuma cium bibir sama leher aja!" ucap Louise saat tangan nya berada di atas bagian inti pria itu.


"Kau nakal sekali, siapa yang mengajari mu? Hm?" tanya James dengan suara berat.


"Tentu saja, kau!" jawab Louise dengan senyuman cerah nya.


"Ugh!" nafas pria itu tertahan dan begitu berat saat merasakan genggaman nyaman tangan gadis itu.


"Do you feel the heat? Hm?" bisik gadis itu sembari terus menggoda dengan tangan lembut nya yang memberikan rangsangan lebih.


James yang sudah tak tahan dengan godaan gadis itu langsung menangkap tangan nya dan membalik nya seketika.


"Don't be naughty, or I'll punish you..." ucap James dan ingin mencium bibir gadis itu.


"No! You can't do that to me! We won't do it tonight! Did you forget?" ucap Louise tersenyum simpul sembari menutup bibir pria itu dengan tangan mungil nya.


James menghela nafas nya dan mencium leher gadis itu.


"Just one more kiss..." ucap nya lirih sembari menciumi leher jenjang gadis itu dan mengesap nya dengan dalam.


"I just wanna sleep..." ucap Louise lirih saat ia berusaha mendorong tubuh kekar pria yang sedang berada di atas tubuh nya.


"Okey, good night babe..." ucap James sembari berguling dan memeluk gadis itu.


Louise tersenyum saat ia merasa pria itu sedang menahan hasrat yang mencapai ubun-ubun tersebut.


Kesal kan? Tadi pagi aku juga kesal!


Sudah tiga jam berlalu namun James masih tak bisa tertidur karna belum mendapatkan penenang nya sedangkan gadis yang memiliki penenang itu sudah tertidur lelap.


"Nakal nya...


Dasar penyihir kecil..." gumam James lirih sembari mengelus wajah tenang gadis itu. Tanpa sadar bibir nya tersenyum saat ia memperhatikan wajah cantik yang bagi nya tak membuat bosan sedikit pun.


....


Ke esokan hari nya.


"James! Aku mau pulang! Kan cuma satu minggu! Kenapa sekarang masih tak bisa juga?!" tanya Louise kesal yang mendatangi ruang kerja pria itu.


"Kau mau pulang sekarang?" tanya James sembari menutup telpon nya dan menatap ke arah wajah kesal gadis di depan nya.


"Iya!" jawab Louise langsung.


"Kau bisa menggunakan pistol?" tanya James lagi pada gadis itu.


"Bisa! Tapi tidak terlalu mahir, kenapa?" tanya Louise bingung, sang ayah memang mengajari nya menggunakan pistol untuk membuat nya melawan trauma masa kecil nya.


Namun bukan berarti rasa takut nya sepenuh nya hilang.


"Setelah kau menembakan peluru mu tepat sasaran aku akan membiarkan mu pulang," ucap James dan mulai menarik tangan gadis itu.


"A-aku tak mau!" ucap Louise langsung dan berusaha menepis tangan pria itu.


"Kau terlalu lemah! Setidaknya harus bisa menggunakan senjata!" ucap James yang terus menarik tangan gadis itu.


Ia membawa Louise lagi ke ruang latihan dan memberikan pistol yang sudah terisi beberapa peluru di dalam nya.


Ia juga menyiapkan satu pelayan dengan satu jeruk limau di atas kepala pelayan pria tersebut.


"Tembak jeruk yang berada di atas kepala nya," perintah James tanpa ekspresi.


"Kau melakukan ini agar aku tak minta pulang?! Bahkan kalau itu apel aku juga sulit menembak nya!" ucap Louise dengan nada tinggi pada James.


"Aku memang berniat mengajari menembak dan menggunakan senjata karna ketahanan tubuh mu sangat lemah." ucap James datar.


"Kau bermain dengan nyawa?! Dasar gila!" ucap Louise tak percaya dan ingin pergi dari tempat tersebut.


James pun yang melihat gadis itu hendak pergi langsung mengambil pistol dari tangan Louise dan menembak nya ke kaki pelayan pria yang tengah berdiri was-was dan takut tersebut.


DOR!!!


Suara tembakan yang seketika membuat Louise terkejut.


AKH!


Teriak nya dengan langsung menutup telinga nya.


"Bagun! Kau tak boleh duduk! Ambil lagi jeruk nya!" perintah James datar tanpa rasa iba pada pelayan yang tengah meringis kesakitan saat kaki nya di tembak.


"Kalau kau mau membantu nya hanya dengan mengikuti ucapan ku saja," ucap James yang langsung mencekal tangan Louise.


"Tembak jeruk nya," ucap nya lagi sembari memberikan lagi pistol nya.


"Ba-bagaimana kalau aku malah menembak kepala nya?" tanya Louise dengan suara gemetar ia mulai merasa takut lagi begitu mendengar suara pistol.


"Tak apa, aku akan bawa pelayan lain jika dia mati." jawab James tanpa merasa bersalah.


"Kau?!" ucap Louise tak tau lagi bagaimana ingin membalas perkataan nya.


"Kalau tak mau membunuh nya maka tembak dengan benar," ucap James sembari berdiri dan beranjak ke belakang gadis itu.


Ia membuat tangan yang masih gemetar karna trauma yang pernah terjadi membidik sasaran nya.


DOR!!!


Crass!


Tangan yang gemetar membuat keseimbangan nya goyah hingga terpeleset mengenai telinga pelayan tersebut. Jika saja James tak membantu memegang dan mengarahkan tangan nya yang membidik sudah di pastikan jika kepala pria itu lah yang tertembak.


"James aku tak mau lagi...


Ja-jangan...." ucap nya dengan suara gemetar dan menjatuhkan pistol yang ia pegang.


James melepaskan tubuh gadis itu dan membuat Louise langsung terjatuh, kaki nya lemas dengan wajah yang pucat pasi.


James hanya melihat dengan nada datar, ia sudah menyelidiki beberapa profil luar dari ayah gadis itu. Maka ia juga mendapatkan analisa sementara nya jika ayah dari gadis di depan nya tak akan melatih anak-anak nya menjadi lemah.


"Kau pasti sudah di ajari kan? Maka dari itu kau tak asing lagi?" tanya James pada Louise sembari memegang dagu gadis itu agar mengandah pada nya.


"Aku tak mau menembak lagi..." ucap Louise lirih.


"Sayang nya aku tak memberi mu pilihan, tak apa aku akan mengajari mu lagi." ucap James sembari mulai berjongkok menyamai tinggi wajah nya.


Louise menggeleng tanda ia tak mau dan tak setuju dengan ucapan pria di depan nya.


"Aku yakin kau sudah di ajari sejak awal kan? Kau hanya perlu mengasah lebih baik lagi dalam kontrol rasa takut mu." ucap James pada Louise.


......................


Rumah keluarga Daniel.


Clara sekarang sudah kembali ke rumah orang tua nya, walaupun ia masih tak dapat menerima kenyataan jika cahaya dunia nya diambil namun ia berusaha baik-baik saja agar tak lagi mendengar suara tangisan sang ibu yang selalu menyalahkan diri nya sendiri.


Freya selalu beranggapan jika putri nya kecelakaan karna ia membiarkan gadis itu di usir oleh sang suami.


"Cla sayang, nunggu siapa nak?" tanya Freya yang selalu melihat putri nya ke di ruang tengah dan tersentak seperti ingin seseorang datang.


"Bu-bukan siapa-siapa Mah...


Mamah di mana? Ada yang bisa Cla bantu?" jawab gadis itu dan menawarkan bantuan, "Eh?! Tapi kan Cla sekarang..." sambung nya saat mengingat jika ia saja tak bisa melihat dengan benar, dan bantuan apa yang bisa di berikan orang buta.


"Cla kiss pipi Mamah aja," ucap Freya mendatangi putri nya dan menyodorkan pipi nya di dekat gadis.


Clara pun mencoba meraba dan mencium pipi sang ibu.


"Mamah masak sup rumput laut kesukaan Cla, yah? Mau kan?" tanya Freya sembari mengelus kepala putri nya.


"Mau!" ucap Clara dengan senyuman nya.


Namun senyuman itu semakin mengiris hati sang ibu saat ia melihat tatapan mata anak nya yang kosong dan berpura-pura baik-baik saja.


Freya pun memeluk putri nya dan mengelus punggung nya perlahan.


"Sabar yah sayang...


Nanti Mamah Papah cari cara supaya kamu bisa lihat lagi..." ucap Freya lirih dengan suara serak.


"Iya Mah..." jawab gadis itu sembari membalas pelukan sang ibu.


Daniel dan Freya tau jika tak hanya masalah donor saja namun masalah kerusakan syaraf yang bisa terjadi pasca operasi karna kondisi tubuh putri mereka yang belum sepenuh nya pulih dari kecelakaan.


Perlu waktu agar semua membaik dan mencari donor mata yang sesuai.


...


Di hari esok nya gadis itu masih tetap menunggu karna ia mendapat teman nya yang berjanji akan mengunjungi nya jika ia sudah kembali.


Selama di rumah sakit sejak ia di rawat inap, perawat pria yang bernama Rai lah yang selalu menemani nya hingga membuat nya tak terlalu takut atau kesepian.


Walaupun ia terkadang merasa pria itu mirip dengan pria yang ia benci namun sikap dan cara memperlakukan nya begitu berbeda.


Tak lama kemudian ia mendengar suara bel dan membuat gadis itu mengarahkan tongkat nya dan berjalan mendekati pintu.


"Tidak apa-apa Cla, Mamah saja yang buka." ucap Freya saat mendengar suara bel dan melihat putri nya ingin membuka pintu.


"Iya Mah," jawab Clara dan duduk lagi di sofa empuk ruang tengah keluarga nya.


"Selamat sore," sapa seorang pria dengan sopan pada wanita paruh baya di depan nya.


"Cari siapa nak?" tanya Freya saat melihat pria tampan di depan nya.


"Saya teman Clara," ucap pria itu sembari memberikan bungkusan buah tangan.


Clara pun tersentak saat mendengar suara yang ia kenal selama 7 bulan terakhir.


"Rai? Itu teman Cla, Mah." ucap Clara pada sang ibu.


Freya pun mempersilahkan pria itu masuk, tak hanya membawa buah tangan pria yang baru masuk itu juga membawa sesuatu yang lain lagi.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Louis pada gadis di depan nya.


"Baik..." jawab Clara lirih sedangkan sang ibu mulai membuatkan teh untuk tamu nya.


"Aku bawa sesuatu untuk mu," ucap Louis sembari mengeluarkan sesuatu menggemaskan dengan bulu seperti awan tersebut.


"Eh?!" ucap Clara terkejut saat ia merasakan sesuatu yang bergerak menggeliat di atas pangkuan nya dan bersuara menggemaskan.


"Anak anjing?" tanya Clara mulai tersenyum sembari mengelus bulu yang sangat halus tersebut.


"Hm..." jawab Louis yang merasa senang karna gadis itu tersenyum lagi.


"Geli!" ucap Clara terkejut dan tertawa saat anak anjing itu menj*lat tangan tangan nya.


"Seperti nya dia lapar..." ucap Louis sembari ikut mengelus anak anjing menggemaskan berjenis bichon frise tersebut.


"Menyentuhnya saja sudah merasa kalau ini sangat menggemaskan. Apa lagi melihat nya..." ucap Clara lirih dengan senyuman tipis di wajah nya sembari mengelus anak anjing tersebut.


Louis terhenti sejenak dan menatap gadis itu, ia masih merasa bersalah namun kini ia juga takut jika gadis itu bisa melihat lagi dan mengetahui siapa dirinya yang sebenar nya.


"Kau mau memberikan dia nama apa?" tanya Louis mengalihkan pembicaraan.


"Candy!" jawab Clara dengan semangat.


"Candy? Kenapa nama nya seperti itu?" tanya Louis sembari menatap gadis di depan nya.


"Karna saat menyentuh nya rasa seluruh hati ku menggelitik dan memiliki rasa yang manis!" jawab Clara yang sangat suka dengan anak anjing tersebut.


Dari dulu ia ingin memelihara anak anjing lagi namun sang ayah melarang nya, karna ia pernah hampir celaka saat mencari anjing peliharaan kesayangan nya.


"Kau juga manis, sangat...." gumam Louis tanpa sadar saat menatap gadis yang tersenyum tersebut.


......................


Oh iya anjing jenis bichon frise kayak begini yah