
Alyss mendapat pesan dari Hazel bahwa ia memiliki urusan lain sehingga tidak bisa pulang bersama.
"Aku pulang duluan yah." pamit Alyss pada dokter lain nya.
"Hufftt...
Enak sekali kau tak punya shift malam." jawab dr. Wenda lesu.
"Bye bye..." jawab dr. Lea
Alyss pun hanya tersenyum melihat teman sedivisinya, ia memang seperti memiliki hak khusus yang membuatnya tak pernah mendapat shift malam.
Saat Alyss berjalan menuju parkiran ia menerima notifikasi pesan yang dikirim oleh Larescha.
"Ly, temani aku belanja bisa malam ini, bisa ga? Aku mau beli hadiah buat mama ku. Minggu depan dia ulang tahun. Plisss...." bunyi pesan yang dikirim oleh Larescha.
Alyss kembali berhubungan dan mengontak Larescha saat Hazel mengizinkannya untuk kembali bekerja di JBS. Alyss sekarang benar-benar merasa bersalah pada Larescha.
Karna sejak Hazel membuat Larescha kehilangan pekerjaan dan apart yang ia sewa, sekarang Larescha benar-benar sangat sulit mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya.
Sekarang Larescha sudah bekerja namun bekerja sebagai penjaga toko pakaian dan kembali tinggal dengan orang tuanya.
Alyss menatap layar ponselnya sejenak, ia sangat ingin menemani Larescha belanja sekalian juga membeli hadiah untuk ibu Larescha, namun ia takut jika Hazel tak mengizinkannya.
"Apa aku telpon dia saja? Semoga dia ngizinin..." harap Alyss dan mencoba menelpon Hazel.
Dan saat Alyss menelpon Hazel, tak seperti dugaan nya Hazel mengizinkannya pergi dan bahkan tak mempersulitnya sama sekali.
Alyss pun langsung membalas pesan Larescha dan mengatakan bahwa ia bisa.
......................
Kediaman Hazel.
Hazel menutup telpon nya setelah ia mengizinkan Alyss pergi.
"Yah...
Tak apa, aku bisa menunggu, akan ku buat permainan panjang malam ini." ucap Hazel lirih sembari meminum segelas Wine ketika Alyss selesai menelpon nya.
Saat ini ia sedang merasa sangat geram dan mulai diselimuti dengan kecemburuan. Ia terus saja teringat wajah Alyss yang memberikan senyuman dan tawa nya kepada pria lain.
Pukul 08.35 PM.
Alyss pun sampai di kediaman Hazel.
Ia sudah selesai menemani Larescha mencari hadiah begitu pula dengannya yang juga membeli hadiah untuk ibu Larescha, namun Alyss langsung menitip hadiah nya kepada Larescha karna takut ia tak bisa memberikan nya nanti saat ibu Larescha ulang tahun. Karna bisa saja Hazel tak mengizinkannya untuk pergi nanti.
"Lama sekali pulang nya." tanya Hazel yang sudah menunggu di ruang tengah saat Alyss lewat di depannya.
"Eh? Iya, tadi kan aku sudah mengatakan jika aku sekalian makan malam." jawab Alyss yang langsung memberhentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Hazel.
Hazel hanya diam memberi wajah dinginnya dan menatap tajam Alyss.
"Ka-kau sudah makan?" tanya Alyss gugup ketika ia mulai tak nyaman dengan tatapan Hazel.
Hazel pun mulai menyeringai pada Alyss.
"Sini." ucap nya lembut namun dengan nada penuh penekanan, sembari menepuk paha kanan nya, mengisyaratkan Alyss untuk duduk ke pangkuannya.
Alyss terdiam sejenak, ia mulai takut melihat seringai di wajah Hazel. Ia pun menggelengkan kepalanya perlahan.
"Jangan membantah! Kalau kau tak segera kesini akan ku patahkan kaki mu sekarang juga." ucap Hazel dengan nada penekanan sembari menatap tajam ke arah Alyss.
Mendengar ancaman Hazel membuat nya semakin takut. Dengan langkah berat ia pun berjalan mendekati Hazel. Saat ia semakin mendekat Hazel pun langsung menarik tangan nya dan membuatnya langsung jatuh ke pangkuan nya.
"Minum!" titah Hazel pada Alyss sembari menuangkan sebotol wine kedalam gelas yang ia gunakan tadi.
Alyss pun mengambil gelas tersebut dan mulai meminumnya. Ia benar-benar bingung, kenapa Hazel tiba-tiba marah padanya. Karna ia sama sekali tak merasa melakukan kesalahan apapun hari ini.
Setelah Alyss menghabiskan segelas wine tersebut, Hazel pun menuangkan lagi wine ke dalam nya.
"A-aku tak bisa minum banyak. Na-nanti aku mabuk." ucap Alyss lirih, karna ia memang tak tahan dengan minuman beralkohol walaupun dengan kadar alkohol yang sangat kecil.
"Kenapa kau tak mau mabuk? Kau punya rahasia yang takut tak sengaja kau ucapkan?" tanya Hazel sembari mengelus rambut di belakang kepala Alyss.
"Ti-tidak! Aku tak punya rahasia, hanya saja besok aku memiliki pasien yang harus dioperasi." jawab Alyss jujur.
"Benarkah? Kalau begitu tak ada masalah, aku bisa meminta dokter lain untuk mengoprasinya." ucap Hazel enteng.
"Sekarang minum!" titah Hazel lagi dengan penuh penekanan.
Alyss pun menolak dan menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat hal itu membuat Hazel menjadi geram dan langsung menarik rambut Alyss dengan kuat sampai wajahnya langsung mengandah ke arah wajah Hazel.
Hazel pun tak mengambil gelas berisi wine melainkan mengambil botol yang masih berisi penuh wine didalamnya. Ia pun mulai memberikan wine tersebut secara paksa kepada Alyss.
"Uhuk! Uhuk!" Alyss yang terbatuk dan tersedak saat Hazel mencekoki wine secara paksa padanya.
Wine tersebut pun tak terminum semua dan tumpah mengenai pakaian yang dikenakan Alyss.
"Mla...afh...(Maaf)" ucap Alyss tak jelas saat Hazel memaksanya minum.
Melihat Alyss yang semakin tersedak membuat Hazel berhenti memberinya wine, ia pun meletakkan botol wine tersebut ke atas meja lagi, namun tangan nya masih tak melepas rambut Alyss dan tetap menjambak rambutnya dengan kuat.
"Maaf...
Ke-kenapa kau memaksa ku untuk minum?" tanya Alyss lirih sembari menahan sakit di kepalanya karna Hazel tengah menjambak nya.
"Aku hanya ingin minum dengan mu, aku tak mau minum sendiri. Tapi sepertinya kau sangat tak ingin minum dengan ku jadi aku memberi mu sedikit wine, lagipula kau juga suka wine kan?" jawab Hazel dengan suara yang lembut, namun hal itu semakin membuat Alyss ketakutan.
"Bagaimana hari ini? Menyenangkan?" sambung Hazel sembari mencium lembut pipi Alyss, ciuman dan tangan nya benar-benar kontras. Ia mencium lembut pipi Alyss namun menjambak rambut Alyss dengan kuat.
"Me-menyenangkan... " jawab Alyss lirih dan mulai menangis.
Mendengar jawaban Alyss membuat Hazel semakin geram, ia kembali mengingat saat Alyss tertawa dengan pria lain tadi siang.
Menyenangkan? Bertemu dengan pria itu menyenangkan?
Pikiran Hazel di penuhi dengan asumsi negatif yang terus berputar. Ia pun semakin menarik rambut panjang itu sehingga semakin membuat Alyss meringis kesakitan.
"Sakit...
A-apa aku melakukan kesalahan hari ini?" tanya Alyss ketika melihat wajah Hazel sembari menjatuhkan bulir bening dari ujung matanya.
Hazel pun tertawa sinis mendengar pertanyaan Alyss, ia pun mulai melepas tangan nya dari rambut Alyss perlahan dan mulai mengusap nya lagi dengan lembut seperti ia tak pernah menjambak nya.
"Kesalahan? Coba kau sebutkan kesalahan mu hari ini." tanya Hazel dengan senyuman menakutkan di wajahnya.
"Tak ada kesalahan lain?" tanya Hazel lagi.
"Aku tadi bilang tak memiliki hubungan dengan mu saat di rumah sakit?" jawab Alyss lagi, ia benar-benar lupa bahwa tadi siang ia bertemu dengan Rendy, baginya pertemuan itu hanyalah sapaan dari teman lama.
"Tak ada lagi?" tanya Hazel yang tersenyum namun semakin geram karna Alyss tak mengatakan dengan pria mana ia bertemu tadi siang.
Alyss menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap nanar Hazel.
"Su-sudah selesai kan? A-aku mau mandi baju ku basah." ucap Alyss lirih, ia ingin cepat-cepat bangun dari pangkuan Hazel.
Karna Hazel tak menjawab pertanyaan nya membuat Alyss berinisiatif untuk bangun dari pangkuan Hazel dan bergegas pergi. Namun......
"Auchh...." pekik Alyss menahan sakit saat Hazel tiba menarik rambut nya kebelakang.
"Siapa yang menyuruh mu pergi? Ha?" tanya Hazel dengan amarah yang tertahan.
"Maaf..." jawab Alyss lirih sembari menahan sakit.
"Kau sangat ingin pergi? Mau ke kamar?" tanya Hazel lagi.
Alyss tak menjawab pertanyaan Hazel dan semakin menjatuhkan bulir bening tersebut dari matanya. Hazel pun tersenyum saat melihat tangisan Alyss dan langsung menyeret Alyss ke kamarnya dengan terus menjambak rambut panjang tersebut.
Setelah sampai dikamarnya Hazel langsung menghempaskan Alyss dengan kasar ke lantai.
"Berdiri! Dan menghadap dinding!" perintah Hazel pada Alyss yang masih terduduk di lantai tersebut, karna Hazel baru saja menghempasnya ke lantai tadi.
Alyss tak bangun dan tak menjawab perkataan Hazel ia hanya menghapus air mata yang jatuh ke pipi nya.
Melihat Alyss yang tak kunjung berdiri membuat Hazel melangkah mendekati Alyss dan berjongkok agar menyamai tinggi wajahnya dengan Alyss, ia pun mulai mendekat ke telinga Alyss.
"Kau tak mau aku menghukum mu disini? Mau ku hukum di ruang putih? Tentu saja hukuman nya akan berbeda." bisik Hazel
Alyss semakin takut, ia tak bisa menahan agar tubuh nya tak gemetar.
"Ta-tapi apa kesalahan ku? Kenapa kau tak mengatakannya? Aku.. aku tak tau..." tanya Alyss lirih sembari menangis, ia benar-benar tak ingat pertemuan nya dengan Rendy tadi siang, dan tak tau jika Hazel melihat nya saat bersama dengan Rendy.
"Coba pikirkan sendiri." jawab Hazel dingin.
"Sekarang bangun dan menghadap dinding, jika kau tak mau bangun juga aku akan membawa ke ruang putih!" perintah Hazel.
Alyss pun mulai bangun dan mengikuti perintah Hazel, ia sangat takut dengan ancaman Hazel yang akan membawa nya ke ruang putih tersebut.
Melihat Alyss yang mulai berdiri membuat Hazel ikut berdiri dan melepas ikat pinggang yang ia kenakan.
Sekarang Alyss sudah berdiri menghadap dinding dan membelakangi Hazel.
"Hitung satu sampai sepuluh! jangan lambat menghitung nya atau kau harus mengulangnya lagi." titah Hazel.
"Ma-maksudnya?" tanya Alyss bingung, ia tak mengerti ucapan yang dikatakan Hazel.
"Mulai hitung!" perintah Hazel lagi, dan tak menjawab pertanyaan Alyss.
Alyss pun yang masih belum mencerna perkataan Hazel dan hanya mengikuti apa yang Hazel katakan, ia pun mulai berhitung.
"Sa-satu..." ucap Alyss lirih.
Ctass...
Hazel langsung mencambuk kuat punggung Alyss dengan tali pinggang yang tadi ia gunakan.
Alyss pun langsung terbelalak dan hampir terjatuh saat Hazel mencambuknya tiba-tiba.
Sakit...
Itulah yang dirasakan Alyss di punggung nya.
"Lanjutkan hitungan mu!" perintah Hazel lagi.
"Dua..." jawab Alyss sembari menjatuhkan bulir bening ke wajahnya saat menahan sakit dari cambukan Hazel.
Ctass...Ctass..Ctass...
Suara cambukan di tubuh Alyss terdengar nyaring di kamar tersebut. Alyss menghitung cambukan Hazel dengan tepat agar Hazel tak menyuruhnya mengulang hitungan dari awal lagi.
"Se-sepuluh..." ucap Alyss lirih sembari menahan punggung nya sudah semakin sakit.
Ctass....
Cambukan terakhir yang diberi Hazel. Setelah selesai Alyss langsung jatuh terduduk, Hazel pun melempar tali pinggang nya ke sembarang arah.
Ia tau jika punggung Alyss sudah terluka, karna ia dapat melihat beberapa bercak darah yang menembus di pakaian Alyss, namun tak separah saat ia mencambuk Alyss dulu, karna ia tak menggunakan cambuk asli dan menggunakan tali pinggang nya sebagai ganti dari cambuk asli tersebut.
Ia pun mulai berjalan mendekat ke arah Alyss yang masih terduduk dan terus menangis.
"Kau bilang tadi kau ingin mandi kan?" tanya Hazel tersenyum licik. Ia sama sekali tak merasa kasihan melihat Alyss yang sudah terluka.
Alyss pun langsung menoleh ke arah Hazel ketika mendengar pertanyaan tersebut. Tanpa aba-aba Hazel langsung menarik lengan Alyss dengan kasar dan membawa nya ke kamar mandi.
Saat sampai di kamar mandi, ia langsung menepatkan Alyss berdiri di bawah shower, dan langsung menyalakan shower sehingga menjatuhkan air deras nya ketubuh Alyss.
Alyss pun semakin meringis kesakitan, luka di punggung nya terasa semakin sakit dan perih ketika terkena air. Ia pun berusaha untuk pergi, namun tertahan oleh Hazel yang terus memegangnya dengan kuat.
"Maaf...
Aku salah...
Hentikan... sakit...." mohon Alyss dengan menangis, air mata nya ikut turun dan hilang saat guyuran air dingin tersebut terus menyiramnya dari atas.
Hazel hanya tersenyum melihat tangisan Alyss dan mencengkram dagu mungil tersebut, ia pun langsung mencium bibir Alyss dengan kasar.
"Hummphh..." Alyss berusaha mendorong dada bidang Hazel saat Hazel mencium nya.
...****************...
Besok sambung lagi yah hihi...
Othor mau nugas dulu hihi
Jangan lupa like, komen, rate 5, vote dan fav yah....
Happy Reading🤗🤗🤗🤗
Maaf typo bertebaran yah....
Terimakasih atas dukungan kalian semua pada othor🤗🤣