
Setelah hampir 3 bulan menjalani terapi psikologis untuk anak-anak menggemaskan itu kini semua nya mulai berjalan dengan baik.
Gadis kecil itu menjalani hipnoterapi untuk menghapus ingatan tentang pelecehan nya. Ia memang sudah lupa namun rasa takut yang sudah tergores tetap tertinggal di hati nya.
Setiap kali ia bertemu dengan orang asing atau pria dewasa ia akan terlihat waspada, tak seperti dulu yang menyamaratakan semua orang.
"Kalian kapan sih masuk sekolah nya? Gak selu tau ga ada kalian..." ucap Zayn lesu sembari memanyunkan bibir nya pada kedua saudara kembar di hadapan.
"Ihh...
Muka Zayn lucu deh..." ucap Louise gemas sembari mencubit kedua sisi pipi teman nya.
"Louchii...
Fifi... ku safkith... (Louise pipi ku sakit)." ucap Zayn saat teman nya mencubit pipi nya.
"Hihihihi..." tawa gadis kecil itu sembari melepaskan cubitan di pipi temannya.
"Ih! Louise nakal ih!" ucap bocah laki-laki dengan sebal melihat gadis kecil itu yang tertawa setelah mencubit pipi nya hingga memerah.
"Louise! Belenti main boneka dong...
Main bola aja yuk! Kalo engga main mobil-mobilan..." ucap Louis yang sedari tadi menyisir rambut panjang boneka barbie di tangan nya.
"Iyah...
Lisih lambut nya di kasih pita gini..." sambung Zayn membenarkan ucapan Louis.
Ketiga bocah itu bermain bersama namun mengikuti permainan gadis kecil itu. Bermain boneka dan berdandan seperti kesukaan banyak anak perempuan. Ia mengikat pita di rambut teman nya karna sang kakak yang tak ingin menjadi tumbal dandanan adik nya lagi.
"Ihh...
Bental lagi kenapa...
Nanti aku ikut main bola deh..." ucap gadis itu tak mengindahkan dan memainkan boneka nya.
"Aku jadi boneka laki-laki nya dong...
Masa boneka ku pelempuan telus...
Padahal yang mainin ganteng gini..." ucap Louis yang bosan menyisir rambut boneka adik nya dan mengambil boneka tentara nya.
"Aku juga! Aku yang jadi lobot nya yah!" seru Zayn sembari mengambil salah satu mainan robot milik nya yang ia bawa di tas sekolah nya.
"Yah...
Kan balbie nya lagi mau jadi ibu-ibu yang sosialita gitu...
Kok malah pesta minum teh sama lobot sama tentala sih?" ucap gadis itu lesu saat ekspetasi nya tak sesuai realita.
"Ga papa...
Ini ibu-ibu yang nyamal jadi tentala..." ucap Louis mengakali adik nya.
"Benel tuh! Ini juga ibu-ibu nya lagi nyamal jadi lobot!" jawab Zayn yang mengikuti ucapan teman nya.
"Ihh sebel! Masa ibu-ibu kok kayak gitu bentuk nya?!" jawab Louise kesal. Ia pun mulai berdiri dan mengambil mainan yang sedang di pegang oleh kakak dan teman nya.
Dengan telaten ia pun mengikat pita berwarna merah muda di kepala tentara dan juga robot milik kakak dan teman nya.
"Nah...
Kalo gini kan jadi milip..." ucap nya tersenyum manis dan melanjutkan permainan boneka nya.
Sedangkan kakak dan teman nya hanya menghela nafas lesu melihat hal itu.
Ketiga bocah itu tak sadar jika sedari tadi mereka sedang di perhatikan oleh ibu mereka sendiri.
Alyss tersenyum melihat hal itu. Melihat anak-anak nya mulai kembali normal lagi. Putri kecil nya yang kini sudah mulai dapat beradaptasi dengan normal lagi karna sudah melupakan tentang pelecehan nya.
Sekarang gadis kecil itu tak takut lagi dengan ayah nya, ia sudah bisa memeluk pria itu dan tak tenggelam lagi dalam kenangan buruk nya.
"Lily...
Jangan sedih lagi...
Mereka pasti nanti bisa balik lagi kayak dulu kok..." ucap Larescha yang berada di samping teman nya.
Alyss tak menjawab dan hanya tersenyum sembari menatap ketiga anak itu. Terutama putri nya karna gadis kecil itu yang paling banyak memiliki dampak dari penculikan.
......................
Ruangan presdir.
Melihat istrinya yang membuka sedikit pintu ruangan nya membuat pria itu langsung tersenyum.
"Kenapa di luar seperti itu...
Masuk saja kesini..." ucap Hazel pada wanita yang tak lain adalah istrinya.
Wanita itu pun mulai masuk dan menghampiri suaminya.
Cup...
Satu kecupan ringan di layangkan wanita cantik itu ke bibir suaminya.
"Tumben...." ucap Hazel tersenyum dan menarik perlahan tubuh istrinya ke dalam pangkuan nya yang masih duduk di kursi presdir itu.
"Ingin saja..." jawab wanita itu lirih sembari memegang rahang kekar pria milik nya itu.
Hazel hanya tersenyum dan perlahan memangut bibir tipis istrinya. Wanita itu membiarkan pria nya mencium lembut bibir nya. Ia memejamkan mata nya dan merasakan setiap hisapan halus yang di berikan oleh suaminya.
Hah...hah...hah...
Deruan nafas yang terdengar jelas saat ciuman dalam yang lembut itu di lepaskan.
Hazel mengusap bibir basah istrinya yang berwarna merah muda dan menatap lekat iris bening di depan nya.
Perlahan ia memeluk tubuh wanita yang berada di pangkuan nya. Menenggelamkan wajah di dada wanita itu.
"Kenapa? Kok tiba-tiba jadi manja? Hm?" tanya Alyss dengan lembut sembari membalas pelukan pria itu dan mengusap rambut bagian belakang nya dengan halus.
"Kau benar...
Rasa nya seperti mimpi bisa seperti ini..." ucap Hazel sembari terus menenggelamkan wajah nya di dada istrinya dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Louise sudah tak takut lagi dengan mu...
Louis juga semakin membaik..." balas wanita itu dengan lembut pada suaminya.
"Dan yang terpenting kau masih bersama ku..." ucap Hazel lirih pada istrinya sembari mencium semua aroma tubuh wanita cantik itu.
"Hmm...
Aku akan tetap dengan mu jadi jangan takut..." ucap Alyss sembari ikut semakin memeluk tubuh pria yang sedang memangku nya.
"Kalau kau nanti misal nya benar-benar pergi... aku boleh kan ikut dengan mu? Aku tak mau sendiri..." ucap Pria itu, kini ia seperti anak ayam yang takut jika di tinggal induk nya.
"Sendiri bagaimana? Dua bocah itu kau tak klo menganggap mereka?" tanya Alyss sembari berusaha melepaskan pelukan nya dan menatap ke arah wajah suami nya. Namun pria itu tetap memeluk erat tubuh nya.
"Mereka beda...
Aku tak bisa merawat mereka sendiri...
Aku tak bisa hidup tanpa mu..." ucap pria itu lirih dengan suara yang sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
"Kau bilang apa?" tanya Alyss dengan seketika berhenti mendorong pria itu agar melepaskan pelukan nya yang seperti lem.
"Aku bilang....
Aku mencintai mu..." ucap pria itu lembut sembari memandang lekat wajah wanita nya.
Alyss terdiam beberapa saat membalas tatapan lekat pria nya ia kemudian sedikit menunduk dan...
Cup...
Wanita itu kembali memangut bibir pria nya dan sang suami langsung membalas ciuman singkat namun dalam itu.
"Aku juga..." jawab nya lirih sembari dengan senyuman lembut nya yang selalu bisa membuat hati pria itu langsung tenang.
......................
Kediaman Hazel.
Setelah menjalani satu bulan lagi terapi terakhir akhirnya si kembar bisa kembali lagi ke rumah nya.
"Lomba lali yuk! Yang kalah gak boleh makan coklat sampai tiga hali!" ucap Louis pada adik nya saat mereka turun dari mobil.
"Ayuk!" jawab Louise yang langsung mengiyakan tantangan dari kakak nya.
"Aku hitung satu sampai tiga yah.." ucap Louis.
"Satu....
Tiga!" hitung nya tiba-tiba yang langsung meloncat angka dan berlari duluan.
"Louis nakal! Masa ngitung nya culang!" omel gadis kecil itu yang langsung berlari mengejar kakak nya.
"Hahahaha...
Coklat Louise untuk ku semua nanti..." tawa pangeran kecil itu dengan senang sembari berlari di rumah megah itu.
"Aduh...
Pegel kaki nya..." ucap gadis kecil itu terengah-engah karna mengejar kakak nya.
"Yeyy...
Aku menang... Aku menang...
Louise kalah... Louise kalah..." ucap bocah lelaki itu riang mengejek adik nya dengan menadakan kalimat yang ia katakan.
"Ihhh...
Louis nyebelin! Mamah!" adu gadis kecil saat orang tua nya baru masuk ke kediaman megah karna tadi berjalan dan bukan nya berlari seperti mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Alyss pada putri nya yang terlihat sangat kesal.
"Pasti ngadu lah itu!" cibik Louis pada adik nya.
"Louis nakal mah! Masa tadi waktu mau lali ngitung nya gak sampai tiga!" adu Louise pada ibu nya.
"Engga kok mah...
Uda sampai tiga tadi...
Kan Satu... telus tiga..." jawab nya terkekeh sembari membenarkan ucapan nya.
"Dua nya kan hilang mah! Louis gak ada bilang dua nya!" adu Louise lagi sambil merengek pada ibu nya.
"Louis sayang...
Masa hitung nya langsung tiga nak?" tanya Alyss lembut pada putra nya.
"Bial coklat Louise buat Louis mah!" jawab pangeran kecil itu tersenyum riang.
"Papa...
Louis nakal..." adu gadis kecil pada ayah nya juga.
Udah! Masa baru pulang uda cemberut..." ucap Hazel sembari mencubit pipi menggemaskan gadis itu.
"Bweekkk...
Nanti aku sama Papa makan es krim! Louis gak boleh ikut!" ejek gadis kecil itu pada kakak nya.
"Mamah! Nanti kita makan es krim juga yah!" adu pangeran kecil itu pada ibu nya yang tak mau kalah dari adik nya.
"Ihh...
Kan uda makan coklat! Masa makan es krim juga sih!" ucap gadis kecil itu dengan kesal.
"Bialin!" jawab sang kakak yang semakin membuat adik nya kesal.
"Louis nyebelin!" ucap gadis kecil itu lagi sembari menarik rambut kakak nya.
"Aduh!" pekik pangeran kecil dan juga langsung membalas sang adik.
Pasangan suami istri itu hanya menatap ke arah kedua anak nya yang kembali bertengkar seperti sebelum nya. Suasana rumah yang sebelum nya sunyi karna kembar nakal itu sakit kini kembali riuh.
Hua....
Tangis gadis kecil saat ia bertengkar dengan kakak nya. Kedua nya memang tak akan berhenti walaupun sudah berusaha dipisah sampai salah satu nya sudah menangis.
"Cup...cup...
Nanti makan coklat yah sama kakak..." ucap Louis pada adik nya sembari merapikan rambut panjang yang sudah acak-acakan itu.
"Hayo...
Udah nangis itu adik mu..." ejek sang ayah yang malah tertawa melihat putra yang berusaha membujuk adik nya lagi.
"Husshh...
Nanti malah nangis dua-dua..." ucap Alyss pada suaminya.
"Ihh...
Papa jahat huhuhu....
Louise kok gak belenti sih nangis nya huhu..." ucap pangeran kecil itu yang mulai juga menangis.
"Aduh...
Kan...
Tadi sih bilang gitu sama anak nya. Nangis dua-dua kan jadi nya." ucap Alyss pada suaminya.
"Ayo kita makan es krim!" ucap Hazel yang langsung mengangkat kedua bocah nakal itu seperti membawa anak kucing.
Alyss hanya memutar bola mata nya dan menggelengkan kepala nya menatap suaminya yang selalu memiliki cara menghadapi kedua anak nakal mereka.
......................
Apart Winter Garden.
Ketiga bocah itu membuat apatermen mewah itu menjadi seperti kapal pecah yang riuh dengan suara tawa dan larian para bocah nakal itu.
Louis dan Louise bermain ke rumah teman nya karna sudah lama tak menghabiskan waktu bersama dan sang ayah akan menjemput mereka saat pulang kerja nanti.
"Zayn...
Mau cemilan dong..." ucap gadis kecil pada teman nya setelah lelah bermain.
"Iya aku mau juga dong Zayn..." sambung saudara kembar gadis kecil itu.
Zayn pun turun dari sofa dan mengambil beberapa camilan milik nya untuk kedua sahabat nya itu. Mereka hanya bertiga dengan satu pengasuh di apart mewah itu.
Karna Larescha yang tetap bekerja bahkan saat ia sudah menikah berbeda dengan Alyss yang tak lagi bekerja karna merasa tak nyaman berada di lingkungan rumah sakit lagi.
"Zayn...
Gak ada yang lasa Stlawbelly?" tanya Louise pada teman nya saat mencari rasa permen kesukaan nya. Ia sama seperti ibu nya yang sangat suka strawberry dalam bentuk apapun.
"Kayak nya ada...
Aku pelnah lihat di kamal mamah papah..." jawab bocah itu mengingat saat ia pernah membuka dan mengacak lemari di kamar orang tua nya.
Ia pun berlari dan mencari sesuatu yang memiliki rasa strawberry itu dan membawakan pada teman nya.
"Ini...
Aku ambil dali kamal mamah papah...
Makan aja..." ucap Zayn polos sembari memberikan satu kotak yang ia anggap permen pada gadis kecil itu.
"Ihh...
Buka nya susah..." ucap gadis kecil pada teman nya.
Tak lama kemudian ke tiga bocah itu mendengar suara ayah mereka yang memanggil. Si kembar yang sudah di jemput sang ayah dan Zayn yang ayah nya sudah pulang.
"Eh? Itu suala Papa...
Sekalian minta bukain ini aja deh..." ucap Louise sembari turun dari sofa dan berlari menuju sang ayah.
"Papa!" ucap gadis itu riang sembari menghamburkan pelukan ke ayah nya. Jika saja ia tak menjalani terapi hipnotis menghilangkan ingatan tentang pelecehan nya ia mungkin tak akan bisa dekat lagi dengan sang ayah.
"Louise anak Papa semangat sekali...
Kakak mu mana nak?" tanya Hazel saat ia sudah melepaskan pelukan nya.
"Itu sama Zayn..." jawab gadis kecil itu pada sang ayah.
"Pah, bukain ini dong..." ucap Louise sembari memberikan satu bungkus yang ia kira permen.
Sontak mata Hazel dan juga Rian yang masih berada di situ langsung terbelalak melihat apa yang di pegang gadis kecil itu.
"Siapa ini yang ngasih?" tanya Hazel pada putri sembari memegang k*ndom yang di berikan putri nya.
"Tadi Zayn yang ngasih." jawab gadis kecil itu polos.
"Cepetan pah buka...
Mau main sama Zayn sama kakak lagi..." ucap gadis kecil itu polos yang semakin membuat kedua orang tua itu salah menangkap maksud.
"Anak mu memang minta di gantung seperti nya." ucap Hazel sembari menatap tajam ke arah teman nya.
"Aduh...
Itu salah ambil mungkin dia...
Kan ada rasa nya itu..." ucap Rian berdalih pada teman nya.
"Louise kok lama kali sih?" ucap kedua pangeran kecil itu menyusul Louise yang belum kembali bermain bersama mereka.
Melihat tatapan tajam dari Hazel membuat nyali Zayn langsung menciut. Ia sama seperti ibu nya yang merasa takut saat melihat Hazel berbeda saat bersama Alyss. Jika bersama dengan ibu si kembar ia juga akan merasa seperti dengan ibu nya sendiri.
"Ha-halo paman..." ucap nya kikuk pada Hazel.
Bocah lelaki itu pun langsung berlari ke ayah nya dan menyembunyikan diri nya dari paman menyeramkan di balik tubuh sang ayah.
"Zayn dapat ini dari mana sayang?" tanya Rian pada putra nya sembari menunjukkan pengaman saat ia bermain dengan istrinya yang memiliki rasa strawberry itu.
"Dali kamal Papa Mama..." jawab bocah itu polos dengan suara lirih karna takut dengan tatapan ayah dari teman nya.
"Ini bukan makanan sayang..." ucap Rian pada putra nya.
"Zayn bisa baca kok pah...
Kan itu tulisan nya stlawbelly..." cicit nya pada sang ayah.
"Makanya kalau nyimpan apa-apa itu yang benar! Untung belum di makan sama Louise!" ucap Hazel pada teman nya.
"Louis udah makan nih pah! Tapi kok susah di gigit yah?" sambung pangeran kecil saat ia mulai mencoba mengunyah apa yang mereka sangka permen itu.
"Aduh! Buang sayang! Jangan di makan!" ucap Hazel yang langsung menyuruh putra nya membuang apa yang sedang di makan itu.
"Aduh..." ucap Hazel sembari mengusap bibir pangeran kecil nya dengan sapu tangan dan menyuruh nya kumur-kumur.
"Kalau ngasih apa-apa sama teman nya itu harus tau dulu apa itu!" ucap Hazel memarahi bocah polos yang tak apa-apa itu.
"Nama nya juga anak-anak..." ucap Rian membela putra nya yang semakin memeluk erat dirinya karna takut di marahi oleh ayah teman nya.
"Iyah Pa tadi Louise yang minta cemilan lasa Strawbelly nya..." bela gadis kecil pada teman nya.
Mendengar Louise yang membela nya membuat setitik keberanian pada bocah itu namun hanya sedikit.
"Iyah...
Paman kan gak boleh malah-malah sama pacal anak nya..." ucap Zayn polos pada Hazel yang membuat kedua ayah itu terkejut sekali lagi.
"Pacar? Siapa bilang kau boleh pacaran dengan putri ku?! Masih kecil udah tau pacaran!" ucap Hazel pada bocah itu.
"Tau dong...
Pacalan itu kan sayang sayangan telus ciu-
Humph...." ucap bocah polos itu yang langsung di tutup mulut nya dengan tangan sang ayah agar berhenti bicara. Bisa pecah perang dunia kalau ia membiarkan putra nya melanjutkan ucapan nya.
"Gak boleh sembarangan pacaran sama putri ku! Tiba-tiba ngaku pacar!" ucap Hazel yang memarahi bocah lelaki itu di depan ayah nya.
Namun Rian tau jika Hazel tak akan mencelakai putra nya, maka dari itu ia tak pernah tersinggung jika Hazel memarahi anak nya karna ia sangat tau sifat teman nya itu.
"Hua...
Zayn kan mau pacalan sama Louise...
Huhuhu..." tangis bocah itu yang pecah saat tak boleh pacaran dengan Louise karna tak di izinkan ayah teman nya itu.
Elouis Steinfeld Rai
Elouise Steinfeld Rai
**Zayn Nathan Etrama
...****************...
Ada yang nyium aroma-aroma tamat gak nih? Wkwkwwk
Bonus gambar**
Louise & Zayn
Louis & Louise