(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Tears



Flashback on.


3 Jam yang lalu.


Apart Greelef.


Gadis manis itu terlihat bersemu dan sangat senang saat teman nya yang tak lain adalah adik Presdir nya mengabari jika pria itu sudah terlepas dari tuduhan palsu nya.


"Aku masakan sesuatu untuk nya? Tapi dia kan pasti bisa makan makanan yang lebih mahal...


Masakan ku tak akan sebanding..." ucap Clara lirih karna tau perbedaan keuangan antara dirinya dan juga pria yang perlahan memasuki hati nya.


Gadis itu pun membersihkan dirinya dan mencari pakaian yang ingin ia gunakan.


"Ck, Kenapa cari yang bagus sih?! Asal pakai aja kan harus nya? Aku juga bukan nya mau bertemu Presiden negara!" decak gadis itu lagi yang ingin menyadarkan dirinya kenapa ia ingin tampil cantik saat berhadapan dengan atasan nya.


Namun ia juga tak dapat menyembunyikan rasa senang nya ketika tau pria itu terlepas dari tuduhan palsu, ia juga tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak segera berlari menemui pria itu.


Lipstick yang berwarna merah muda yang manis, rambut yang tergerai bergelombang dan wajah yang cantik dengan pakaian yang terlihat rapi dan manis serta aroma parfum lembut yang biasa ia gunakan.


"Apa kalau menemui nya sekarang terlalu kelihatan kalau aku berdandan?" gumam Clara saat bercermin melihat wajah nya.


"Sudahlah nanti aku hanya tinggal bilang baru menemui teman ku..." ucap lagi yang tak ingin pria itu tau jika ia mempersiapkan diri untuk menemui nya.


Gadis itu pun bersiap dan ingin pergi menemui Louis.


Hingga ia membuka pintu apart nya dan perlahan senyuman semangat nya menurun.


"Reno? Ada apa?" tanya nya tanpa sadar yang seperti tak menyukai kedatangan pria itu.


Reno tak menjawab dan hanya memperhatikan gadis yang sedang berpenampilan cantik di depan nya.


"Kau sedang ingin pergi? Aku...


Mengganggu mu?" tanya nya dengan suara lirih dan pelan.


Clara memperhatikan wajah pria itu yang seperti sedang tertimpa masalah yang cukup berat, ia tak bisa menjawab pertanyaan pria di depan nya dan hanya diam melihat nya.


Greb...


Reno perlahan menarik tangan gadis itu dan mendekap gadis itu masuk kedalam pelukan nya dalam sekejap.


Pria itu memeluk erat tubuh gadis di depan nya mendekap seakan-akan sangat takut di tinggalkan.


"Kau baik-baik saja? Mau masuk dulu?" ucap Clara saat merasa pria itu dalam keadaan yang sedang tak baik.


Reno pun melepaskan pelukan dan masuk ke dalam apart sederhana namun terlihat rapi dan nyaman tersebut.


"Mau minum teh dulu?" tawar Clara pada pria itu sembari ke dapur kecil nya dan meyiapkan teh untuk pria itu.


Baik Clara maupun Reno tak ada yang memulai pembicaraan semua pembicaraan entah mengapa tertutup rapat, yang di lakukan pria itu hanya memperhatikan gadis nya yang membuat Clara mulai tak nyaman.


Selama satu jam tak ada pembicaraan sama sekali, sedangkan Clara yang ingin menemui Louis pun tak bisa karna pria di depan nya sedang terlihat murung.


"Ren? Kau baik-baik saja? Sedang ada masalah? Ada yang bisa ku bantu?" tanya Clara membuka suara.


Ia pun beranjak bangun dan ingin mengambil camilan selain minuman untuk pria yang sedang bertamu di rumah nya.


Reno pun ikut bangun dan mengikuti gerak gadis itu ia menarik tangan Clara dan membalik nya. Tak ada sepatah kata pun namun ia langsung mencium gadis itu, tanpa menanyakan izin seperti biasanya.


Hummpphh...


Clara tersentak ia berusaha melepaskan lum*tan yang semakin menjadi di bibir nya dan mendorong nya hingga ke tembok.


Reno mengunci tubuh gadis itu hingga tak dapat bergerak dan terus mel*mat habis bibir merah muda, rasa manis dari lipstick yang memiliki rasa serta bibir lembut dari gadis itu semakin membuat nya hilang kendali.


Aku harus memiliki mu! Hanya kau yang ingin ku miliki! Aku tak mau orang lain!


Reno pun melepaskan ciuman nya setalah gadis itu berulang kali mendorong dada bidang nya. Ia memegang erat dan menyatukan kedua tangan kecil itu dalam satu genggaman tangan kekar nya yang ia kunci diatas kepala gadis itu.


Sedang Clara yang sudah terperojok oleh dinding dengan tangan yang di kunci membuat pergerakan nya sangat terbatas, ia mengambil nafas dan oksigen sebanyak mungkin karna ciuman agresif yang di layangkan pria di depan nya.


"Cla...


Aku menginginkan mu malam ini..." ucap Reno setengah berbisik sembari mengecup pipi gadis itu.


Deg...


Mata gadis itu membulat dengan sempurna dan menatap ke arah pria tampan di depan nya, ia tak mau melakukan hal itu dengan pria lain lagi.


"Ren...


Aku tak tau apa masalah mu, tapi yang kau lakukan salah Ren...


Aku tak mau..." jawab Clara pada pria depan nya dan berusaha melepaskan diri nya.


"Kalau begitu kau bisa maafkan kesalahan ku untuk malam ini? Aku...


Sama sekali tak berniat melepaskan mu malam ini..." ucap Reno karna ia sedang dalam situasi yang sangat kacau dan hanya menginginkan gadis itu.


Ia ingin gadis itu terikat pada nya hingga membuat akal sehat nya terasa hilang.


Pria itu pun mulai membuka paksa pakaian gadis di depan nya dan menjatuhkan nya secara berserak di lantai.


Clara terkejut, baru kali ini pria yang selalu bersikap lembut sangat ingin menerkam nya, ia pun berusaha lari dan keluar namun pria itu malah menarik tangan nya dan menyeret nya ke sofa.


Rasa putus asa, takut di tinggalkan dan keinginan memiliki yang kuat membuat pria itu seperti kehilangan diri nya sendiri.


Bukan!


Bukan kehilangan diri nya sendiri namun menunjukkan sifat dan wajah asli nya. Sifat baik yang selama ini harus ia bangun dan senyuman ramah karna lingkungan lah yang menuntut nya seperti itu.


Sekesal dan sesedih apapun tak boleh dan tak bisa ia tunjukan hingga membuat titik hitam dalam hati nya meluas dan melebar hingga meledak dan tanpa sadar menyakiti gadis yang ia sukai.


"Cukup Ren..." ucap Clara dengan wajah dan mata merah karna tangis nya, tubuh nya gemetaran takut saat kini ia sudah benar-benar polos di depan pria itu.


Pakaian nya berserakan di lantai dengan tak beraturan sama sekali, Reno pun mulai membuka jas nya sembari terus menindih tubuh polos gadis itu yang masih berada di sofa.


Jas, dasi, dan tali pinggang nya ia lepas dan membuat nya memperlihatkan tubuh atletis nya yang tersimpan di balik kemeja nya pada gadis manis itu.


"Ren...


Aku tidak mau Ren..." tangis Clara dan berusaha memegang sofa nya saat pria itu mulai menyeret ke kamar milik nya.


Pria yang telinga dan mata nya seperti sudah tertutup rapat dan tetap menyeret gadis itu ke kamar nya lalu melempar tubuh nya ke ranjang.


Ia pun lantas melepas sisa pakaian di tubuh nya dan kembali menindih gadis itu. Mengecup serta mencium seluruh tubuh gadis itu yang meninggalkan jejak jajahan nya di kulit putih susu tersebut.


Tenaga gadis manis itu terasa habis saat ia terus melawan namun tak membawakan hasil sama sekali, entah kenapa ia sangat menolak dan bahkan tubuh nya pun sangat menolak sentuhan dan jamahan pria yang masih menjadi kekasih nya.


"Jangan Ren..." ucap nya sembari menangis segugukan ketika merasakan penyatuan yang akan terjadi pada nya.


"Aku...


Aku akan membenci mu...


Aku akan benar-benar membenci mu! Kau jahat!" ucap gadis itu dengan susah payah di tangis nya.


Deg...


Reno mulai tersadar dengan sikap nya yang sebelum nya hilang kendali, ia melihat gadis yang berada dalam kungkungan nya yang sedang menangis terisak.


Ia pun melepaskan tubuh gadis itu dan bangun dari tubuh nya sebelum penyatuan nya benar-benar terjadi.


Plak!


Clara menampar pipi pria itu dan menatap nya dengan mata yang menunjukkan kekecewaan atas sikap nya. Ia menarik selimut di kamar nya dan menutup tubuh nya yang penuh akan bekas kecupan dari pria itu.


Tangis nya tak bisa berhenti dan terus menumpahkan air mata nya.


Hasrat yang sebelum nya memuncak pada diri pria itu menurun, ia ingin menenangkan gadis nya namun sadar jika ia lah yang membuat gadis cantik menangis.


Reno perlahan memakai kembali celana panjang nya dan duduk di tepi ranjang membelakangi gadis yang sedang menangis terisak di belakang nya.


Ia tak tau sudah seberapa lama gadis itu menangis namun ia merasakan jika Clara bangun dan pergi ke kamar mandi.


Clara menghentikan tangis nya dan mencuci wajah nya agar ia tak lagi menunjukkan wajah sembab nya. Cukup lama waktu yang ia perlukan hingga wajah nya kembali tak menunjukkan tangis nya lagi.


Flashback Off.


......................


Clara pov.


Lidah ku terasa kelu, aku tak tau kenapa dia bisa masuk ke dalam apart ku.


Rasa takut mulai menyelimuti diri ku, aku merasa seperti berada dalam kabut hitam yang sedang mengelilingi ku.


Dia melihat ku dengan diam mematung dan mata yang penuh akan rasa kecewa.


Tapi aku harus bagaimana?


Aku harus bilang apa?


Walaupun kami tak benar-benar melakukan nya aku tetap merasa kotor, seperti merasa meniduri dua pria sekaligus.


Aku membatu dan gemetar melihat nya tanpa bisa membuka mulut ku yang terasa di kunci habis.


Tenggorokan terasa tercekat, aku tak berani melihat nya, ia bertanya akan hubungan ku, aku tak tau bagaimana cara menjawab nya.


Kalau dia merasa jijik pada ku dia tak akan menginginkan aku lagi kan?


"Kami tak memiliki hubungan apapun...


Hanya atasan dan bawahan saja..." jawab ku lirih.


Aku bingung harus jawab apa dan itulah yang terucap di bibir ku, pikiran ku kosong dan tak mampu memikirkan apapun.


Terlihat jelas ia marah dan kecewa pada ku. Aku mulai menangis, aku yang mengatakan kata-kata untuk menyakiti nya tapi kenapa aku yang merasa sangat sakit?


Sesak...


Tangis ku tumpah, ingin rasa nya aku mengejarnya keluar nya dan menarik nya, tapi aku harus sadar, dia tak lagi menatap ku sama.


Kaki ku terasa lemas, tubuh ku ambruk ke lantai dan terus mengeluarkan air mata ku.


Aku tak tau kenapa bisa merasa sesakit dan sesesak ini pada hati dan perasaan ku, pria yang masih menjadi pacarku pun masih berada di samping ku dan berusaha menenangkan ku.


Tapi aku tetap menangis. Rasa nya sangat sesak membuat ku tak bisa bernafas sama sekali, aku terus menangis dan tak bisa menghentikan nya.


Apa aku mulai menyukai nya?


Apa ini yang di maksud perasaan suka? Tapi tak mungkin kan?


Tidak mungkin aku menyukai nya!


Clara pov end.


...


Reno melihat gadis itu yang terduduk di lantai sembari menangis terisak, ia merasa bersalah namun ia juga merasa itu hal yang harus di lakukan untuk mempertahan kan wanita.


"Ren...


Aku...


Aku mau kejar dia Ren, aku tidak mau dia pergi..." ucap Clara tanpa sadar dan berusaha bangun lagi, ia lupa dengan pria yang di depan nya.


Pria yang masih menjadi kekasih nya!


Deg...


Firasat pria itu semakin kuat saat ia mendengar ucapan gadis nya. Ia tau dan mulai sadar jika gadis di depan nya tak hanya memiliki hubungan pekerjaan namun juga memiliki hubungan lain yang terikat dengan perasaan.


"Ren..


Aku har-"


"Cukup Cla! Kau lupa?! Aku masih kekasih mu! Aku masih pacar mu!" potong Reno langsung saat ia melihat gadis di depan nya menangisi pria lain.


Clara tersentak begitu mendengar pria yang biasa lembut itu membentak nya.


Cla...


Kalau kau memang benar-benar selingkuh, tak masalah...


Tapi ku mohon...


Jangan mengakui nya, jangan mengatakan yang sebenarnya, aku hanya akan percaya dengan kata-kata mu. Aku akan menutup mata dan telinga ku.


Dengan begitu aku masih memiliki alasan untuk tetap tinggal dengan mu, ku mohon jangan katakan apapun tentang hubungan mu dengan nya...


Melihat wajah terkejut dari gadis itu karna ia membentak nya membuat nya ingin memeluk namun Clara dengan cepat menepis nya.


"Ren...


Aku butuh waktu sendiri...


Ku mohon, mengertilah..." ucap Clara yang mengisyaratkan agar pria itu kembali.


Reno pun mengerti dan mengatakan kata maaf sekali lagi setelah itu memakai pakaian lengkap nya dan pergi keluar.


......................


Keesokan hari nya.


Mansion Dachinko.


Louise terbangun dari tidur nya, tubuh nya terasa pegal ketika ia membuka mata nya. Pelupuk mata yang masih berat meminta nya untuk melanjutkan tidur indahnya lagi namun dirinya menginginkan ia untuk segera bangun.


Gadis itu menggeliat dengan malas saat ia bangun dari tidur nya hingga membuat selimut nya tergeser tanpa ia sadari.


"Dasar putri tidur, sudah jam 9 kau masih tak bangun?" tanya seorang pria yang mengelus pipi nya dan turun ke dada nya yang sedang terekspos karna selimut yang terbuka dan tergeser.


"Ugh!" Louise yang merasa terganggu dan langsung menepis tangan yang berada di dada nya lalu membuka mata nya.


Ia terbelalak dan menghilangkan sisa rasa kantuk nya, ia pun langsung menepis dan bangun seketika lalu membenarkan posisi selimut nya.


Hal itu membuat James tertawa saat melihat gadis itu yang terkejut bukan main dan terlihat sangat menggemaskan.


"Kita...


Semalam kita buat itu lagi kan?" tanya Louise lirih.


"Hm..." jawab James sembari duduk di dekat jendela yang memberi sinar di kamar nya.


Ia sudah bangun terlebih dahulu dan berpakaian rapi untuk memulai hari nya.


"Kenapa melakukan hal seperti itu pada ku?" tanya Louise sembari menatap pria yang duduk di depan nya sedang ia masih memeluk selimut tebal yang menutupi tubuh nya yang tak mengenakan apapun.


"Aku tak suka melihat mu dengan pria lain." jawab James datar pada gadis itu.


"Kenapa? Cemburu?" tanya gadis itu dengan tetap tak mengalihkan pandangan nya.


"Tidak." jawab James singkat.


"Lalu? Kau mulai...


Kau menyukai ku? Atau...


Cinta?" tanya Louise ragu, entah kenapa saat ini jantung nya sedang berdebar menanti jawaban pria di depan nya.


James diam sesaat sembari menatap gadis di depan nya, ia bingung dengan perasaan nya, ia sendiri menolak untuk kembali mencintai seseorang.


"Tidak." jawab James dengan wajah dan nada tanpa ekspresi nya.


Deg...


Entah kenapa saat kini ia mendengar jawaban pria itu membuat Louise merasa sakit. Dada nya terasa sesak dengan perasaan yang tak bisa ia katakan.


"Kau bilang aku pacar mu..." ucap Louise lagi dengan suara yang mulai gemetar.


"Tentu saja. Lalu dengan begitu aku harus mencintai mu?" tanya James sembari menatap raut wajah yang berubah dari gadis itu.


"Tapi kau menyentuh ku...


Belum pernah ada yang melakukan hal seperti itu padaku..." gumam Louise dengan suara lirih dan menunduk.


James mendekat dan memegang dagu gadis itu hingga membuat wajah cantik itu mengandah pada nya.


"Kita hanya bersenang-senang kan? Kau lupa itu? Kau juga terlihat menyukai nya, lalu tak ada yang salah dengan itu. Jadi jangan berharap lebih." ucap James dan keluar dari kamar nya.


Wajah dan raut gadis itu berubah. Louise mendengar suara pintu yang kembali tertutup saat pria itu sudah keluar.


Ia terdiam dan tanpa sadar meneteskan air mata nya. Ia tak tau apa yang terjadi pada nya namun dada nya terasa sesak, bukan sesak karna penyakitnya namun karna hal yang tak dapat ia jelaskan.


"Kenapa mata ku terus mengeluarkan air? Aku punya penyakit lain?" ucap nya lirih sembari tanpa sadar semakin menangis.


"Kami...


Kami hanya bersenang-senang...


Tapi kenapa aku? Aku..." ucap nya lirih sembari menghapus air mata nya yang tak bisa berhenti keluar membasahi pipi nya.


James keluar dan berjalan dari kamar itu mata dan raut wajah gadis yang terlihat kecewa dengan ucapan nya terbayang dan terus terbesit.


Aku sudah mengatakan hal yang benar kan?


Aku tak menyukai nya sama sekali! Dia hanya menyenangkan! Tapi bukan berarti aku menyukai nya!


Aku tidak menyukai nya!


Aku tak mencintai nya sama sekali!


Tak ada yang salah dengan ucapan ku!


Aku...


Aku...


Aku tidak...


Tapi hati ku...


Hati ku menginginkan nya...


Apa aku sudah benar-benar mencintai nya?