
Wanita itu melihat Louise yang tengah menahan pria yang ia inginkan untuk bicara pada nya.
"James...
Hanya kita, ini masalah yang harus di selesaikan..." ucap nya lirih dengan nada yang rendah.
Louise semakin menggenggam lengan pria tersebut dan menatap dengan mata pengharapan agar pria itu tak pergi dengan wanita di depan nya.
James menghela nafas nya menatap wanita yang dulu pernah mengisi hati nya namun kini terasa tawar.
"Kau bisa bicara tapi bertiga," ucap nya saat ia sudah kembali mengatur emosi nya lagi.
"Bertiga? Dengan siapa? Gadis itu?!" tanya wanita tersebut dengan nada tak terima.
"Hm," satu deheman yang menandakan jawaban nya.
"Tidak mau! Aku tak mau ada yang mengganggu!" sanggah wanita itu dengan segera.
"Kalau begitu tak usah katakan, lagi pula kau yang mengatakan sendiri sudah membunuh nya kan? Kalau begitu aku juga akan menganggap nya sudah mati sejak 4 tahun yang lalu." jawab James dengan datar.
Ia penasaran dan sangat ingin tau namun ia merasa berat menepis tangan yang sedang menggenggam lengan nya dengan kuat.
Wanita itu terperangah ia tau ini adalah kesempatan awal nya dan tak bisa ia sia-sia kan.
"Baik! Kita bicara." ucap nya sembari mengepalkan tangan nya dengan erat.
Setelah memilih tempat duduk wanita itu diam tak mengatakan sepatah kata pun. Lebih tepat nya dia masih memproses apa yang ia lihat di depan nya.
Pria yang mengisi waktu remaja nya hingga ia beranjak dewasa.
"Kalau kau hanya diam, kami pergi!" ucap James saat ia melirik ke arah Louise yang mulai tak nyaman di situasi tak terduga tersebut.
"Kau yakin ingin orang lain ikut campur masalah kita?" tanya nya dengan nada rendah.
"Bella," panggil James datar dan dingin dengan menyebut nama wanita itu.
Wanita tersebut berdetak merasa senang pria di depan nya memanggil nya nama nya walaupun tanpa ekspresi dan tak seperti dulu lagi.
"Kau harus mengerti dua hal dalam situasi ini, pertama diantara yang duduk di meja ini orang asing nya adalah KAU, dan yang kedua jangan menyebutkan kata ganti KITA untuk masalah aku dengan mu. Paham?" ucap James menatap tajam wanita di depan nya.
Wanita itu mengepalkan tangan nya ia tak pernah menyangka akan ada waktu dimana pria itu mengabaikan nya dan berbicara dengan nada yang dingin pada nya.
"Ba-baik aku akan katakan tentang anak kit- maksud nya anak ku dengan mu..." ucap nya sembari mengeluarkan satu foto putra kecil nya.
James melihat foto tersebut, pria kecil yang memang sangat mirip dengan nya.
"James?" panggil Louise lirih karna ia juga melihat nya.
Bocah kecil yang seperti duplikat pria di samping nya.
"Nama nya Arnold George. Kau bisa melakukan tes DNA di RS manapun, dan aku juga ingin dia bisa tau ayah nya..." ucap wanita itu saat pria di depan nya sedang melihat foto putra nya. "Aku ingin dia memiliki keluarga lengkap..." sambung nya lirih.
Louise terkejut mendengar nya, jika seperti itu bukan nya sama saja wanita di depan nya ingin kembali.
"Bukan nya kau yang mau pergi? Tapi kenapa sekarang ingin kembali?!" tanya Louise pada wanita di depan nya.
"Du-dulu aku..." ucap nya lirih dan mulai menangis. "Kau harus tau apa yang terjadi...
Mereka menahan orang tua dan adik ku, kalau aku tak melakukan nya mereka akan membunuh nya..." ucap nya dengan menangis tersedu yang dapat melihat siapapun menjadi iba.
Ia pun mulai menceritakan secara rinci dengan jawaban yang sudah di atur pria yang mengendalikan dirinya dari belakang.
Semua ucapan nya begitu masuk akal, hingga membuat Louise merasa was-was jika pria di samping nya kembali lagi pada wanita yang mengaku memiliki anak dengan nya.
"Lalu? Kau pikir dengan air mata mu itu akan mengubah apa yang terjadi?" ucap James melihat tangisan di depan nya.
"James kau harus percaya padaku! Aku...
Aku benar-benar tulus pada mu..." ucap nya lirih dengan linangan air mata.
"Entahlah, kau tak pantas di percayai." ucap James menghela nafas nya.
"Aku akan lakukan tes DNA dan aku juga ingin melihat anak itu. Kalau dia memang anak ku, aku akan menerima nya tapi bukan berarti memiliki hubungan dengan mu lagi! Aku akan menemui lagi 3 hari kedepan di cafe ini lagi!" ucap nya sembari bangun dan menarik tangan gadis di sebelah nya.
Louise mengikuti langkah kaki James yang menarik nya keluar dari cafe tersebut.
Setelah masuk ke mobil tak ada sepatah kata pun yang keluar diantara kedua nya hingga mobil itu melaju.
"Dia mantan mu itu kan?" tanya Louise membuka pembicaraan diantara ke dua nya.
James tak bergeming namun hal itu semakin menunjukan pembenaran atas pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Louise.
"Kalau kau akan kembali dengan nya, kita berhenti saja. Aku tak suka berbagi," ucap Louise lagi saat tak ada jawaban dari pria itu.
James pun langsung menepikan mobil nya dan menatap langsung ke arah gadis di samping kemudi nya.
"Coba ulangi yang baru kau katakan?!" tanya James dengan nada penuh penekanan.
"Aku mau kita berhenti saja! Kalau kau mau kembali pada nya aku ingin kita putus saja!" ucap Louise mengulang apa yang ia katakan.
"Louise!" bentak James seketika pada gadis itu.
"Apa?! Kau mau mengancam ku?! Aku tak peduli lagi dengan ancaman mu, aku! Aku..." ucap nya dengan terputus tak tau harus mengatakan apa.
"Anak itu juga belum tentu anak ku, kan? Lagi pula aku juga tak pernah bilang akan kembali lagi pada nya?!" ucap James yang hampir terbawa emosi dengan apa yang di katakan gadis di sebelah nya.
"Kau bahkan belum bertemu anak itu, kau yakin tak akan berubah nanti?!" tanya Louise dengan sinis.
"Aku tetap memilih mu," ucap James tanpa sadar pada gadis itu.
"Benarkah? Kalau begitu kita lihat saja nanti!" ucap Louise berdecak kesal, "Dan lagi bukan nya karna wanita itu kau ragu pada ku?" sambung nya lirih sembari membuang wajah nya.
......................
3 Hari kemudian.
James sudah memerintahkan Nick untuk mencari info terkait selama wanita itu hilang dalam beberapa tahun terakhir, karna informasi nya sangat sedikit dan tidak failed Nick belum berani memberikan nya, ia kembali meninjau dan mencari lebih banyak informasi sebelum di beri pada tuan nya.
Seorang anak lelaki memandang takut ke arah pria yang di katakan sang ibu sebagai ayah biologis nya.
"Kau mau permen?" ucap James sembari mendekat ke arah anak tersebut.
"Liam?" panggil Bella pada putra nya dan menatap ke arah anak yang bersembunyi di balik tubuh nya.
"Telimakasih..." ucap nya lirih sembari mengambil permen berbentuk kura-kura tersebut.
Setelah itu pun mereka mulai ke rumah melakukan tes DNA yang akan keluar hasil nya dalam tiga minggu ke depan.
Bella bernafas lega karna RS yang di tuju bukanlah dari JBS grup, ia juga merasa senang saat melihat pria itu mendatangi nya sendiri tanpa gadis yang sebelum nya.
"Aku perlu membawa nya hari ini," ucap James pada Bella setelah pengambilan darah.
Ia ingin melakukan tes di lab nya sendiri namun tak bisa langsung merebut anak itu begitu saja, ia tak mau hanya dengan melihat satu hasil saja, walaupun wajah anak lelaki itu sudah sangat terlihat mirip dengan nya.
"Ke-kenapa? Kau mau membawa nya kemana?" tanya Bella dengan nada panik karna ia takut putra nya di ambil dari nya.
"Aku perlu menyesuaikan waktu untuk dekat dengan nya kan? Kalau dia memang benar-benar putra ku." ucap James dengan nada penuh penekanan.
"Iya! Tapi aku harus ikut juga! Dia tak akan nyaman kalau tak ada aku!" ucap Bella yang masih mengharapkan hubungan nya bisa kembali seperti dulu lagi.
"Aku tak akan mengambil nya dari mu, akan ku kembalikan nanti malam." ucap James sekali lagi.
"Dia butuh aku, kau tak bisa mengambil nya sembarangan..." ucap Bella lirih.
"Yasudah! Kalian kembali dengan supir yang tadi," ucap James beranjak pergi.
Melihat James yang beranjak pergi, Bella pun langsung menatap putra nya.
"Panggil dia Daddy dan minta bermain dengan nya! Kau ingin memiliki ayah kan?" ucap Bella pada pria kecil.
Liam diam, ia sama sekali belum dekat dengan James yang membuat nya tak ingin bersama pria itu karna masih merasa asing.
"Mom..." ucap lirih yang tak ingin menurut.
"Kau mau keluar dari rumah itu kan? Kau mau kembali lagi ke sana?!" ucap Bella mengancam putra nya karna ia tau Liam tak suka dan tak ingin lagi kembali ke rumah pria yang menculik nya.
Liam menggeleng ia tak mengerti apapun namun karna desakan sang ibu membuat nya mengejar pria yang di katakan sebagai ayah nya.
"Daddy! Wait for me!" ucap nya berlari mengejar James.
James pun berhenti dan seketika pria kecil itu langsung terjatuh.
"Kenapa tak hati-hati?" ucap nya sembari mengangkat bocah menggemaskan tersebut.
"Mau pulang dengan Daddy..." ucap nya nya dengan wajah mengemaskan.
"Wanita di belakang mu tak mau kau pulang dengan ku," ucap James sembari melirik tajam ibu dari anak tersebut.
"Ki-kita bisa semobil bersama kan? Liam pasti menginginkan hal tersebut..." ucap Bella gugup saat ia mendapat lirikan tajam.
"Tak bisa," ucap James dan pergi lagi karna ia tau anak itu tak akan ikut dengan nya jika sang ibu tak mengizinkan.
Bella pun langsung mendekat ke arah Liam dan menatap anak polos yang tak tau apapun itu.
"Mommy...
Kita pulang yuk..." ucap nya lirih pada sang ibu.
"Mommy bilang kan harus bawa Daddy mu! Kalau kau menangis dia bakal mau." ucap wanita itu yang mendesak putra nya.
Ia tau sejak awal James tau tentang kehamilan nya pria itu begitu antusias dan menginginkan anak itu, bahkan memperlakukan nya lebih baik lagi. Membuat benar-benar merasa seperti sangat dicintai hingga beranggapan jika cinta itu masih ada hingga sekarang.
"Al mau pulang sama Mom- Ukh!
"Minta diantar satu mobil," perintah wanita itu pada putra nya.
Tangisan yang begitu kencang hingga membuat James berbalik dan menatap lagi ke arah bocah tersebut, sedangkan Bella sudah lebih dulu melepaskan cubitan nya dan berpura-pura menenangkan putra nya.
"Mau pulang sama Daddy Mommy Huhuhu...
Daddy..." ucap nya menangis sembari melihat sang ibu sekilas, ia takut. Takut jika akan di cubit lagi hingga membuat nya semakin menangis tersedu.
"Kau ini anak lelaki kan? Kenapa cengeng?" tanya James mengangkat anak tersebut.
"Mau pulang baleng...
Huhuhu...
Hua...." tangis nya pecah.
James diam sesaat karna wajah yang sangat mirip dengan nya kini sedang menangis tersedu membuat hati nya luluh karna terbesit dalam pikiran nya ingin mempercayai anak yang mirip dengan nya itu adalah hasil dari yang ia lakukan dulu.
"Sssttt...
Anak baik tidak boleh nakal..." ucap nya menggendong bocah tersebut dan memeluk nya ke dalam dada bidang nya.
Arnold diam, ia tak pernah di perlakukan seperti itu dan bahkan ia yang tak pernah tau bagaimana rasa nya memiliki seorang ayah. Ia hanya melihat di tv dan buku cerita dongeng yang di lihat nya.
"Anak pintar..." ucap nya sembari menepuk lembut punggung anak tersebut saat ia melihat Liam sudah diam.
"James...
Dia mungkin akan menangis lagi, turuti keinginan nya kali ini saja..." ucap Bella dengan nada rendah dan lembut yang selalu ia gunakan.
"Hanya kali ini!" ucap James sembari membawa anak tersebut dalam gendongan nya. Ia juga perlu untuk dekat dan mengambil darah anak itu secara diam-diam guna melakukan tes DNA di lab nya sendiri.
Bella tersenyum dalam hati nya saat melihat pria itu luluh dengan anak yang memiliki wajah yang sangat mirip tersebut.
Benar! Dia masih mencintai ku! Hubungan kami masih memiliki harapan!
Batin nya dengan puas saat pria itu mengizinkan nya untuk satu mobil bersama.
......................
Butik gaun.
"Kau gugup?" tanya Louise pada gadis yang baru saja di ukur ukuran tubuh nya.
"Kalau aku menikah apa tidak apa-apa?" tanya gadis manis itu lirih dengan takut.
Orang tua nya setuju untuk menikahkan putri nya karna merasa pria itu terlihat sangat yakin dalam perasaan nya.
Walaupun Orang tua Clara awal nya tak setuju namun Louis bersih keras ingin dan berusaha meyakinkan kedua calon mertua nya itu, walaupun ia masih dalam identitas seorang perawat saat melamar gadis yang ia inginkan.
"Kau takut kalau kakak ku akan mengacaukan nya?" tanya Louise yang mengerti kegelisahan gadis manis tersebut.
"Aku takut kalau dia melukai Rai..." jawab nya lirih.
Louise menghela nafas nya mendengar hal tersebut, ia merasa sedikit bersalah karna ikut membohongi teman nya namun sebagai adik ia juga ingin melihat kakak nya bahagia.
"Tidak akan! Aku bisa janji hal itu..." jawab Louise pada meyakinkan gadis yang tengah mencoba beberapa gaun.
Louis seharusnya menemani gadis itu dalam mencoba gaun pengantin nya yang kedua namun ia memiliki beberapa urusan penting yang harus di selesaikan karna sebelum nya terus di tunda saat ia menjaga Clara pasca kecelakaan.
Maka dari itu Louis meminta adik nya yang menemani Clara mencoba gaun kedua nya sekalian untuk membuat gaun adik nya untuk menghadiri pernikahan mereka.
"Louise? Tadi waktu aku sentuh bahan gaun nya halus sekali...
Seperti nya mahal, apa kita ganti tempat saja yah?" bisik Clara yang dapat merasakan kualitas bahan gaun yang ia gunakan.
"Eh? Jangan Cla...
Biasa aja kok ini..." ucap Louise berbohong karna ia tak mungkin membiarkan nyonya generasi ke tiga dari JBS grup memakai gaun biasa di hari pernikahan nya.
"Takut mahal..." bisik Clara pada teman nya karna yang ia tau yang akan menikahi nya adalah seorang perawat dan bukan orang yang kaya.
"Murah kok disini, lagi diskon lagi!" ucap Louise berbohong lagi pada teman nya.
"Benarkah?" tanya Clara lagi.
"Hm...
Sudah tak apa-apa..." jawab Louise pada gadis itu.
......................
Tak ada satupun suara yang keluar selama perjalanan atau pembicaraan di dalam mobil mewah tersebut.
Hanya suara geliat dan dengkuran menggemaskan dari anak lelaki yang tertidur dalam pangkuan pria yang terus menepuk punggung nya dengan lembut.
"Kau mau mampir dulu?" tawar Bella sembari mengambil putra nya yang masih tidur dari pangkuan pria itu.
"Cepatlah keluar," ucap James dingin pada wanita itu.
"Apa aku tak punya kesempatan lagi? Setidak nya untuk Liam..." ucap nya mengiba dengan membawa nama anak nya lagi.
"Dia juga belum tentu anak ku, kan?" tanya James pada wanita itu.
"Dia anak mu, kau tak lihat wajah nya?
Maaf aku berbohong di masa lalu, tapi sekarang kau kan sudah tau kebenaran nya..." ucap Bella lirih dengan nada lemah lembut nya.
James diam memilih tak menjawab ucapan wanita di sebelah nya.
"James...
Demi Liam...
Tak bisakah memberi ku kesempatan satu lagi?" tanya Bella sekali lagi sembari mencoba menyentuh lengan pria yang membuang wajah pada nya.
James pun langsung menepis kasar tangan wanita itu.
"Bisakah kau tak usah menyentuh ku? Gadis ku tak suka aku dengan wanita lain." ucap James dengan dengan nada dingin dan tatapan tajam pada wanita itu.
Hati Bella berdenyut sakit mendengar nya, pria yang berada di depan mata nya tak pernah menolak ataupun bersikap dingin pada nya, namun saat ini sikap pria itu sudah berubah total.
"Aku sudah jelaskan apa yang terjadi kan? Tak bisakah kau beri aku satu kesem-"
"Itu pilihan mu, jadi kau sekarang hanya mengambil hasil dari pilihan mu saat itu. Kau memilih mengkhianati ku dari pada memberi tau ku," potong James pada wanita itu.
"Kau bicara seperti ini pada ku karna gadis itu? Dia yang mempengaruhi mu? Dia menghasut mu?" tanya Bella sembari menuduh kekasih pria yang di hadapan nya.
"Jangan bicara buruk tentang nya, kau tak pantas mengomentari nya. Kalau kau bicara buruk lagi mungkin aku akan mengambil pita suara mu," ucap James dengan wajah dingin namun nada penuh penekanan.
"Kau menyukai nya?" tanya Bella dengan hati yang seperti di ikat dengan ribuan tali.
"Hm...
Aku menyukai nya, jadi jangan mengganggu ku ataupun mengganggu nya." jawab James tanpa sadar mengakui perasaan nya.
Bella tersentak nafas nya terasa sesak dengan air mata yang mulai jatuh membasahi lagi.
Kau bohong James! Kau hanya mencintai ku! Aku yakin! Kau mengatakan nya hanya untuk membuat ku cemburu saja kan?!
Batin nya mengelak dan masih mengharap cinta pria itu.
"Kau ingat apa yang ku katakan pada mu terakhir kali? Pergi dan jangan muncul lagi atau aku akan membunuh mu. Kalau dia memang benar anak ku, aku tak akan membunuh ibu anak ku. Tapi kau juga tak bisa berbuat semau mu, terutama pada Louise karna kata-kata itu akan berlaku lagi walaupun kau ibu yang melahirkan anak ku!" ucap James saat melihat tangis gadis itu yang tak membuat nya iba sama sekali.
Hati Bella semakin terbakar mendengar hal tersebut menambah kebencian di hati nya pada gadis yang tak salah apapun pada nya hanya karna ia merasa posisi nya sudah di ganti.
"James...
Kita sudah bersama 9 tahun dan semudah itu kau melupakan ku?" tanya Bella dengan suara serak karna tangis nya.
Ia mengenal pria di hadapan nya sejak usia mereka 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA ia pun sudah menyukai pria itu pada pandangan pertama nya.
"Dan kau merusak 9 tahun dalam satu hari!" ucap James dingin dengan nada menusuk agar wanita itu mengingat hari dimana ia mengkhianati pria nya.
"Keluar! Jangan menangis disini!" ucap James dingin yang entah mengapa merasa muak mendengar tangisan wanita itu.
Bella pun keluar dari mobil dengan amarah dan kebencian serta menyalahkan gadis yang mengganti kedudukan nya di hati pria itu.
Ia mengeram marah saat mata nya tertuju pada mobil yang berlalu pergi.
Aku akan segera menukar nya! Kalau ****** itu tak ada, dia pasti tak akan suka lagi pada ku!
...****************...
Sementara itu di tempat lain.
"Kakak nya akan menikah pekan depan?" tanya seorang pria pada bawahan nya sembari bermain kubik di tangan nya.
"Benar tuan," jawab sang bawahan dengan hormat.
"Kalau begitu buat ulah dan kerusuhan pada perusahaan pria itu yang berada di Swiss hingga pekan depan dia tak ada di negara ini," titah pria tersebut.
"Baik tuan," jawab bawahan pria itu.
"Dan culik gadis itu saat hari pernikahan kakak nya, semua yang melindungi nya akan di sibuk dari hari itu, jadi kita punya kesempatan." ucap nya dengan seringai di bibir nya.
Ia tau latar belakang gadis yang ingin ia coba berasal dari keluarga yang berkuasa maka dari itu ia harus menggunakan strategi lain yang tak sama dengan yang ia gunakan pada Bella.
"Dia terlihat menyegarkan aku ingin mencoba nya...
Membuat kotor pada apapun yang di sukai si sialan itu..." ucap nya tak sabar sembari melihat salah satu foto gadis cantik di depan nya.