(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Light in the dark



Satu tahun kemudian.


Selama satu tahun penuh Alyss menjalani pengobatan sekaligus terapi untuk kehamilan nya masih saja tak membuahkan hasil, Hazel yang melihat semua itu sudah benar-benar tak tahan lagi. Ia sangat ingin menyuruh istrinya memberhentikan semua terapi menyakitkan nya.


"Alyss...


Kita berhenti saja yah?" ucap Hazel sembari memeluk istrinya dari belakang saat melihat ke dinding kaca besar di ruangan nya.


"Aku akan kembali sore ini yah...


Sudah tidak terlalu sakit lagi..." ucap Alyss yang tak mengindahkan ucapan suaminya dan memegang tangan Hazel yang sedang melingkar di perut nya.


Semakin hari terapi yang di berikan ke tubuhnya membawa dampak lain, tubuhnya mulai memberikan penolakan karna dua jenis obat keras yang di masukkan secara bersamaan, obat untuk penyakitnya dan obat untuk terapi kehamilan nya.


Maka dari itu efek obat keras tersebut semakin panjang membuat tubuhnya mengalami rasa sakit yang lebih panjang pasca obat tersebut di masukkan ke tubuhnya.


"Alyss....


Sudah satu tahun...


Kita berhenti saja yah...


Aku tak mau punya anak..." bujuk Hazel lirih agar istrinya mau berhenti menjalani terapi menyakitkan itu.


"Setelah pulang buatkan aku sup yah..." ucap Alyss yang masih tak ingin mengindahkan ucapan suaminya yang meminta nya berhenti berulang kali.


Hazel pun mendengar hal itu mulai kehabisan kesabarannya, jika dia tak bisa membujuk istrinya berarti memang harus di paksa berhenti, Ia pun mulai membalik tubuh Alyss agar menghadap ke arah nya.


"Kau ini tak bisa mengerti?! Kali ini ikuti ucapan ku! Aku tak mau di bantah untuk hal ini lagi!" ucap Hazel sembari mencengkram kuat lengan wanita nya.


"Terus aku harus gimana? Ini sudah dua tahun...


Kenapa kau menyuruh ku berhenti? Kau sudah punya yang lain? Tak mau punya anak dengan ku lagi?" tanya Alyss lirih sembari menjatuhkan bulir bening di wajah pucat nya.


Ia juga ingin berhenti tapi tak bisa, saat ia mulai berlari mengejar yang ia inginkan ia sudah tak tau lagi cara nya untuk berhenti.


"Kau masih tak mengerti juga?


Aku menginginkan mu....


Bukan hal lain....


Kalau kau benar-benar ingin anak kita akan adopsi..." jawab Hazel juga sudah hampir kehabisan akal untuk menyuruh istrinya berhenti. Rasa kesal nya seketika luluh saat melihat wajah pucat itu menangis di hadapan nya.


"Adopsi? Kau mau adopsi?" tanya Alyss lirih sembari mengandah ke arah Hazel.


"Hm...


Kalau kau mau aku juga mau..." jawab Hazel lirih, yang ia pedulikan hanya istrinya bukan yang lain. Tak masalah mengadopsi anak jika itu bisa membuat wanitanya berhenti melakukan hal menyakiti dirinya.


"Kalau aku tak mau lagi?" tanya Alyss mamastikan.


"Aku juga tak akan mau anak itu." jawab Hazel jujur.


"Sama saja..." ucap Alyss lirih, jika mereka benar-benar mengadopsi anak dan ia sakit atau meninggal setelahnya Hazel pasti akan membunuh anak itu karna di anggap pembawa sial, dan ia tak mau ada nyawa yang hilang karna keegoisan nya.


"Hazel sekali lagi yah...


Satu tahun lagi..." pinta Alyss sembari mulai memeluk tubuh suaminya dan mengandahkan wajah nya melihat ke arah Hazel.


"Tidak ini yang terakhir! Kalau kau tetap seperti ini aku akan mengurung mu!" ucap Hazel yang juga sudah tak dapat mentoleransi keputusan nya.


"Kalau kau mengurung ku aku akan lebih cepat mati..." lirih Alyss jujur, ia mengatakan hal yang sebenarnya. Karna jika Hazel mengurung nya dan ia tak dapat pengobatan untuk penyakitnya maka hal itu akan berakibat buruk.


"ALYSS!" bentak Hazel seketika memekakan telinga membuat seluruh ruangan presdir yang sangat besar itu menggema akan suaranya.


"Kenapa selalu bicara seperti itu?!" tanya Hazel lirih sembari menahan amarah nya, ia benar-benar tak ingin mendengar kata-kata seperti itu.


"Tapi memang benar..." jawab Alyss lirih.


"Hazel kalau aku benar-benar berhenti menjalani terapi ini, boleh coba yang lain tidak?" tanya Alyss yang juga memikirkan alasan untuk pengobatan penyakitnya agar Hazel tak tau jika ia sedang sekarat saat ini.


"Tidak boleh! Ini pembicaraan terakhir kita tentang terapi!" jawab Hazel yang juga kukuh.


"Aku akan berhenti...


Tapi biarkan aku lakukan hal lain..." ucap Alyss lirih rasa nya harapan yang ia miliki untuk kehamilannya sudah pupus.


Pernikahan selama 4 tahun masih belum di berikan anak, perjuangan nya mati-matian selama dua tahun belakangan juga tak membuahkan hasil, saat ini ia hanya ingin menjalani pengobatan nya saja tanpa terapinya lagi. Waktu nya semakin sedikit jika dia harus tetap bertahan di hal yang yang tak pasti.


"Kalau mau berhenti, kenapa masih cari jalan lain lagi?" tanya Hazel yang bingung dengan ucapan ambigu istrinya.


"Cause I love you...


I wanna stay with you a little longer...." gumam Alyss yang tetap tak ingin mengatakan tentang kondisinya.


"Bicara lebih keras lagi...


Kenapa? Hm? Aku harus apa agar kau berhenti?" tanya Hazel sembari menangkup wajah pucat wanitanya.


"Biarkan aku lakukan hal lain...


Kau ingin tetap bersama ku kan?" jawab Alyss tersenyum di wajah nya yang sudah benar-benar pucat.


Walaupun ia menjalani pengobatan namun itu hanya untuk memperlambat tetapi tak bisa menyembuhkan dan memperbaiki beberapa bagian yang sudah rusak.


"Alyss...." panggil Hazel lirih.


"Ku mohon...


Aku akan benar-benar berhenti..." pinta Alyss lagi sembari mengeratkan pelukan nya pada tubuh suaminya.


Hazel hanya diam dan tak menjawab, ia tak tau harus bilang apa pada wanita nya yang terus memohon seperti itu.


"Kau bilang mau sup kan? Nanti saat kita pulang aku akan memasaknya..." ucap Hazel yang mengalihkan pembicaraan dengan tersenyum lembut. Perlahan ia semakin memeluk tubuh kecil itu, mendekap nya dengan erat.


......................


Lima minggu kemudian.


Apart winter garden.


Rian sedari tadi melihat ke arah pacar nya yang tengah memakan camilan dan menonton tv pun mulai mengeluarkan suaranya.


"La..." panggil Rian lirih.


"Hm." jawab Larescha yang hanya menjawab dengan deheman.


"Nikah yuk!" ajak Rian frontal tanpa aba-aba.


"Uhuk! Uhuk!" tentu saja ucapan frontal kekasihnya langsung membuat Larescha tersedak camilan yang ia makan.


"Ya ampun La, pelan-pelan...." ucap Rian sembari mengelus punggung wanitanya dan memberikan air.


"Kau lagi mau itu yah?" tanya Larescha lirih, karna ia tau sebesar apa hasrat kekasihnya.


"Iyah...


Nikah yuk La." jawab Rian lagi, walaupun ia sedang melamar namun Larescha beranggapan lain.


"Ta-tapi kan aku lagi datang bulan..." ucap Larescha lirih.


"Bukan itu La maksud nya...


Menikah sungguhan!" ucap Rian saat ia sadar kekasihnya yang salah mengartikan ucapan nya.


"Eh?! Jadi suami istri, begitu?" tanya Larescha yang memikirkan ucapan Rian.


"Iyah...


Kan sudah setahun La..." ucap Rian pada Larescha.


Walaupun awalnya ia hanya tertarik namun tak menyukai pada wanita di hadapan nya, tetapi seiring berjalan nya waktu ia semakin ingin memiliki hidup wanita itu sepenuhnya. Benar-benar menjadi miliknya. Tak hanya memiliki tubuh candu nya saja ia juga ingin semuanya dari wanita itu.


"Belum siap..." jawab Larescha lirih.


"Setahun lagi gimana?" tanya Larescha dengan senyuman di wajah nya sembari memeluk tubuh bidang kekasihnya.


"Kelamaan La nunggu setahun..." jawab Rian.


Larescha yang mendengar hal itu pun langsung mendusel-dusel kan kepalanya dan mengecup bibir Rian berulang kali agar kekasihnya tak marah lagi.


"Kalau gak mau nikah sama aku, yaudah kita putus aja!" ancam Rian yang selalu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dari wanitanya jika mengatakan kata "Putus"


"Isshh...


Kok selalu minta putus sih? Aku kurang apa? Semua yang kau minta selalu ku turuti! Yaudah terserah!" ucap Larescha yang juga marah, kenapa kekasihnya sangat mudah mengatakan putus jika ia tak mau melakukan apa yang diminta?


Ancaman Rian kali ini gagal karna Larescha yang sedang PMS membuat mood nya naik turun dan bersikap gegabah. Padahal jika ia sudah sadar ia pasti akan mendatangi Rian lagi dan meminta agar tidak di putuskan.


"Mau kemana La?" tanya Rian dan langsung meraih tangan kekasihnya yang ingin beranjak dari nya segera.


"Pulang lah! Kan sekarang kita udah putus!" jawab Larescha kesal sekaligus menangis, ia pun langsung menepis tangan Rian dan beranjak pergi.


"Jam berapa sekarang? Tadi katanya mau menginap..." ucap Rian melembut dan langsung memeluk wanitanya, ia benar-benar terkejut saat Larescha mengiyakan ancaman nya.


"Sudah malam sekali...


Maaf yah...


Makanya kita nikah, biar aku ga bilang putus terus...." bujuk Rian lagi, ia sudah membeli cincin untuk melamar kekasihnya, namun ia bingung bagaimana memberinya maka dari itu mengajak menikah dengan cara seperti itu.


"Tapi belum siap..." jawab Larescha lirih.


"Terus mau aku nikah sama yang lain?" tanya Rian agar wanita nya mengiyakan dan ia bisa menautkan cincin yang ia beli di jemari lentik Larescha.


"Kenapa sih selalu bilang gitu? Karna kau tak terlalu menyukai ku? Aku sadar kok, kau cuma mau itu saja kan dari ku?" tanya Larescha lirih, walaupun Rian memperlakukan nya dengan sangat baik, tapi dia juga bisa merasakan benar-benar di cintai atau hanya memperlakukan pasangan dengan baik.


Deg....


"Bukan La...


Suka kok, kalau ga suka kenapa aku mau nikah? Hm?" ucap Rian meyakinkan Larescha, walaupun awalnya hanya sekedar tertarik namun ia semakin candu dengan wanita di hadapan nya. Candu akan segala hal mau itu tubuh ataupun perasaan dan cinta yang di berikan kekasihnya.


"Mana tau biar kau makin mudah untuk itu...


Aku gak mau kalau cuma di jadiin pacar buat tidur aja..." ucap Larescha lirih.


Rian semakin bingung, diajak untuk menikah tidak mau, tapi kalau hanya di tidurin terus menerus tanpa menikah juga tidak mau. Mencari masalah dengan wanita yang sedang PMS memang benar-benar hal harus di hindari.


Jangan diam saja, aku mana tau kalau kau tak mau melakukan nya juga..." ucap Rian lirih.


"Namanya enak...


Kan nanggung kalau tiba-tiba berhenti..." jawab Larescha polos.


Ya ampun La, ga bisa berkata-kata lagi! Jadi mau nya apa?


Batin Rian antara mau marah dan kesal tapi tak tau untuk mengungkapkan nya melihat sikap kekasihnya.


"Iyah, kita gak putus kok...


Maaf yah...


Ssttt....


Jangan nangis...." ucap Rian sembari menghapus bulir bening dari mata kekasihnya.


"Gendong...


Mau ke kamar..." ucap wanita itu manja saat kekasihnya sudah membujuknya lagi dan membuat nya luluh.


Rian pun mulai menggendong tubuh kekasihnya dan membawanya ke ranjang ia meletakkan dengan perlahan ke atas ranjang nya.


"Love you..." bisik Larescha saat Rian merebahkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang.


"Love you too..." balas Rian dan mengecup ringan dahi kekasihnya.


......................


2 Hari kemudian.


Pukul 05.45 PM.


Rian yang terlihat benar-benar bingung pun akhirnya menghampiri sahabatnya sebelum Hazel kembali ke kediaman nya.


"Kau pulang lebih cepat? Tak mau minum dengan ku?" ajak Rian pada Hazel.


"Minum? Kau sedang ada masalah?" Hazel yang balik bertanya.


"Iya...


Kau ada waktu kan?" tanya Rian lagi.


"Ada, kalau Alyss bilang ada." jawab Hazel karna selain pekerjaan waktu hanya untuk wanita nya. Ia takut jika meninggalkan Alyss sendiri tanpa sepengawasannya karna istrinya yang benar-benar tertekan memikirkan masalah dirinya yang tak kunjung hamil.


"Dia bilang boleh tuh." ucap Rian sembari memperlihatkan riwayat chat nya yang bertanya tentang Hazel. Karna Rian tau jika Hazel benar-benar seperti lem yang sangat lengket dengan istrinya.


"Kau mengirim pesan padanya?" tanya Hazel marah dan langsung meraih ponsel Rian dan memeriksa riwayat chat istri dan teman nya.


"Cuma masalah penting saja kok, tidak usah cemburu lagi pula kan aku juga sudah punya pacar." ucap Rian yang sadar jika teman nya sedang cemburu.


Jangan kan dengan Rian dengan Bulbul atau kucing peliharaan istrinya saja Hazel bisa cemburu apa lagi jika pria lain.


"Oh, yasudah. Mau minum dimana?" tanya Hazel sembari memberi ponsel Rian saat melihat tak ada yang mencurigakan dari riwayat chat antara istri dan teman nya.


"Bar Reynesli." jawab Rian singkat.


......................


Bar Reynesli.


Setelah memesan privat room kedua pria yang sama-sama di buat pusing dengan pasangan nya pun saling berhadapan, Rian yang bingung bagaimana cara mengajak Larescha menikah dan Hazel yang bingung bagaimana menghibur istrinya. Walaupun Alyss bersikap biasa saja sejak kembali dari RS lima minggu yang lalu namun ia tau jika wanita nya hanya pura-pura baik-baik saja di depan nya.


"Kau ada masalah apa? Tumben sekali?" tanya Hazel saat Rian menuangkan alkohol ke gelas teman nya.


"Larescha gak mau di ajak nikah." jawab Rian jujur.


"Kenapa?" tanya Hazel mengerutkan kening nya, kalau dulu Alyss tak mau di ajak menikah ia sadar karna sudah habis-habisan menyiksa wanita itu sehingga rasa benci lebih dulu tumbuh sebelum rasa cinta.


"Belum siap katanya." jawab Rian lagi.


"Tinggal di buat hamil saja, nanti juga bakal mau dia." ucap Hazel enteng.


"Gimana mau di buat hamil? Dia aja mau nya pakai pengaman." jawab Rian lesu.


"Kau pakai pengaman?" tanya Hazel setengah mengejek, walaupun ia masih pusing memikirkan istrinya namun ia juga ingin tertawa mendengar jawaban teman nya.


"Iyalah!" jawab Rian kesal saat teman nya bukan memberi solusi namun malah mentertawakan nya.


"Aku tak pernah pakai dari dulu sampai sekarang." ledek Hazel lagi yang membuat Rian semakin kesal.


"Iyalah, mana berani dr. Alyss menyuruhmu memakai pengaman! Kau kan dulu menjadikan nya sandra!" ucap Rian semakin kesal.


"Hahaha


Yasudah jadikan saja pacar mu sandra, kurung dia di apart mu." ucap Hazel yang masih setengah tertawa.


"Aku kan tidak seperti mu!" ucap Rian yang semakin kesal.


Berbeda dengan Hazel yang langsung berusaha mengikat hidup wanita yang cintai secara paksa, Rian lebih ingin mengikat wanita yang ia inginkan secara perlahan dan tidak ada unsur paksaan.


"Suruh dia minum pil KB yang sudah di ganti dengan obat penyubur, setelah dia hamil kau nikahin." ucap Hazel yang mengajarkan teman nya agar bisa menikahi wanita yang di inginkan dengan cepat tanpa wanita itu merasa di paksa.


Rian pun langsung mangut-mangut, kenapa ia tak memikirkan cara itu sejak dulu?


Ting...


Hazel...


Nanti pulang beli es krim sama cake lagi yah. Semua rasa, es krim di rumah sudah habis.


Pesan dari Alyss yang membuat Hazel langsung memeriksanya, ia pun langsung membalas pesan istrinya saat itu juga.


Es krim nya sudah habis? Tadi pagi kan masih sangat banyak? Cake saja yah...


Jangan es krim lagi, nanti kau batuk.


Balas Hazel yang merasa Alyss terlalu banyak makan es krim dan cake terus menerus belakangan ini.


Melihat Hazel yang sibuk membalas pesan, tentu saja ia tau jika istri kesayangan teman nya yang sedang mengirimkan pesan.


"Hazel...


Kalau misalnya dr. Alyss pergi setelah memberi mu anak, kau bagaimana?" tanya Rian pada teman nya.


"Aku akan menyusul kemana pun dia pergi." jawab Hazel yang masih terfokus pada ponsel nya.


"Lalu anak mu? Dan kalau dr. Alyss pergi dari dunia ini kau tetap mau menyusul nya?" tanya Rian lagi, ia sudah mengetahui kondisi Alyss sejak dulu.


"Kau sedang menyumpahinya? Kenapa bilang seperti dia akan mati setelah memberi ku anak?" tanya Hazel yang kesal karna Rian mengatakan hal tersebut.


"Bukan...


Maksud ku kalau itu terjadi kau bagaimana? Kau mau tinggalkan anak mu?" tanya Rian lagi.


"Aku tetap akan pergi menyusul nya, aku tak bisa mengurus anak ku kalau istri ku tidak ada. Aku takut membunuh nya karna menganggap nya pembawa sial setelah dia datang tapi Alyss yang pergi. Mending tak usah punya anak saja." jawab Hazel jujur yang memang Alyss sudah seperti nafasnya.


"Kau mau membunuh anak mu sendiri?" tanya Rian terkejut.


"Aku bahkan membunuh ayah ku sendiri." jawab Hazel enteng, dulu sebenci apapun ia dengan Will ia tak pernah ingin membunuhnya, namun saat Will mencelakai Alyss ia bahkan bisa membunuh ayah brengsek nya.


"Aku mau pulang nyonya JBS mau cake nya." sambung Hazel sembari mulai bangkit dari tempat itu.


"Iyah, saran mu sangat membantu tadi." jawab Rian pada Hazel.


......................


Kediaman Hazel.


Setelah membeli semua cake kesukaan istrinya Hazel pun memberinya pada wanita kesayangan nya.


"Es khim nya ana?" tanya Alyss yang sembari memakan penuh cake di mulutnya yang membuat suara nya tak jelas.


"Makan dulu baru bicara..." jawab Hazel sembari menghapus krim yang belepotan di bibir istrinya.


"Mau es krim..." rengek Alyss setelah menelan semua cake nya.


"Jangan es krim terus, nanti batuk..." jawab Hazel yang bukan nya tak mau membelikan namun takut istrinya sakit karna terlalu banyak memakan es.


"Isshhh..." kesal Alyss yang kemauan nya tak dituruti.


"Hazel...


Mau cake lagi..." ucap Alyss setelah memakan semua cake yang di belikan suaminya.


"Lagi?" tanya Hazel terkejut melihat istrinya yang jadi begitu banyak makan beberapa hari terakhir.


"Iyah!" jawab Alyss semangat.


Malam itu juga ia membawa istrinya ke toko cake agar bisa makan lagi dan benar-benar merasa cukup akan semua cake yang ia makan.


......................


Ke esokan paginya.


"Wajah mu kenapa pucat? Mau priksa saja?" tanya Hazel saat melihat istrinya yang seperti tidak sehat.


"Kebanyakan makan mungkin semalam." jawab Alyss lirih.


Para pelayan pun mulai menghidangkan makanan untuk sarapan mereka ke atas meja.


"Hoek!" Alyss yang semakin mual saat mencium aroma dari makanan yang di bawa oleh para pelayan, ia pun langsung bangun dan menuju wastafel.


"Kita periksa saja yah?" ucap Hazel khawatir melihat istrinya yang muntah sembari mengelus punggung nya.


"Bau nasi nya buat mual...


Mau makan roti selai saja..." ucap Alyss lirih saat ia sudah selesai muntah, Hazel pun langsung mengganti menu mereka seperti yang di inginkan istri kesayangan nya.


...****************...


Aduh bang Hazel malah ngajarin temen nya buat anak orang masuk angin sebelum nikah wkwk😂😂 Rian sih ngajak nikah kayak ngajak beli baju baru ajj tiba-tiba ngomong😂


Eh ada yang mual-muah nih😏🧐🧐👀👀👀🤭🤭


Happy Reading♥️♥️♥️