(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Proyek Rahasia



Kediaman Hazel....


Hazel kini sedang berada di ruang kerja. Ia mulai memasang earphone di telinganya, untuk mendengar ataupun mencari informasi yang bisa di dapatnya dari jam yang di berikannya ke Vion tadi siang.


*Jika pernikahan mu berhasil maka proyek ini akan semakin menguntungkan, dan tentu nya juga akan sangat menguntungkan untuk pemilihan ku nanti. Maka dari itu kau harus membuatnya jatuh cinta pada mu.


Tenang Ayah.....


Aku pasti bisa kok, lagi pula siapa yang bisa menolak pesona ku*.


Pembicaraan asing yang terdengar di telinga Hazel melalui earphone tersebut Ia mengerutkan dahi nya ketika mendengar pembicaraan tersebut.


"Proyek? Proyek apa yang mereka maksud? Seingatku JBS tak memiliki kerja sama dengan Starcone.


Apa mungkin...." Hazel mulai memutar otak nya lagi untuk hal ini.


Satu-satunya kemungkinan yang paling besar adalah Logan menjalin kerjasama dengan William, yang merupakan Ayah nya sendiri.


"Jika kerja sama dengan Will berarti proyek ini berhubungan dengan obat-obatan. Tapi kenapa hal ini bisa menjadi keuntungan politik untuk Logan?


Hahaha, ini sungguh menarik seperti aku bisa lebih cepat menyelesaikan ini." ucap Hazel dengan tersenyum licik.


Hazel pun keluar dari ruang kerja, ia mendengar suara televisi yang di putar Alyss, dan Alyss yang ikut bernyanyi ketika melihat tv tersebut.


"Yeah, Life goes on like this again🎶🎶🎶🎶


Ya ampun tampan sekali....." ucap Alyss ketika menatap para Idol yang sedang bernyanyi dari tv.


Hazel yang sudah berdiri di belakang Alyss dari saat ia mulai bernyanyi merasa kesal karna Alyss memuji pria lain.


Tup.


Hazel langsung mematikan tv tersebut. Sontak Alyss langsung terkejut melihat tv yang tiba-tiba mati.


"Eh? Kok mati?" ucap Alyss bingung.


"Sepertinya kau sangat menyukai mereka." ucap Hazel tiba-tiba dengan nada kesal.


Alyss langsung menoleh ke sumber suara dan melihat Hazel yang berdiri di belakang nya. Hazel pun langsung melangkahkan kaki nya mendekati Alyss dan segera memposisikan duduknya di sebelah Alyss.


"Eh? I-itu....


La-lagi pula kan wajar jika seseorang punya idola nya masing-masing." ucap Alyss ragu.


"Oh ya? Kalau begitu kau tak boleh melihat tv lagi, terlalu banyak melihat televisi itu tidak bagus." ucap Hazel yang semakin kesal.


"Kau ini kenapa sih? Hanya karna hal seperti itu saja sudah langsung marah." ucap Alyss heran yang juga mulai kesal dengan Hazel.


Menurutnya Hazel terlalu membatasinya. Melihat pria lain dari televisi saja juga tak di izinkan.


"Kau melawan ku?" tanya Hazel sembari menatap tajam Alyss.


Alyss langsung membuang wajahnya ke samping, ia tak nyaman saat Hazel menatap nya dengan tatapan membunuh seperti itu.


"Ti-tidak..." jawab nya lirih


"Jangan membuat ku kesal. Aku sudah sering bilang kan?" ucap Hazel dengan suara lirih sembari menyentuh pipi Alyss yang kemudian menyisir rambut Alyss dengan jari-jarinya.


"I-iya." jawab Alyss takut. Menurutnya Hazel jauh lebih mengerikan jika ia sedang marah namun sama sekali tak membentaknya.


Hazel hanya tersenyum, dan kemudian menarik kuat kuat rambut Alyss, hingga membuat kepala Alyss mendongak ke arah nya.


"Lalu kenapa tadi melawanku?" tanya Hazel lagi sembari terus menarik rambut Alyss kebelakang.


Alyss semakin meringis sakit saat Hazel menarik rambutnya, tangan nya berusaha memegangi rambutnya den melepas tangan Hazel.


"Maaf..." ucap Alyss lirih sembari menahan sakit.


Hazel pun tersenyum dan melepaskan tangan nya dari rambut Alyss, dan ia mulai mengusap lembut rambut Alyss lagi.


"Seperti itu yang ku mau, aku suka anak yang penurut." ucap Hazel dengan senyum di wajahnya, dan terus mengusap rambut Alyss.


Alyss hanya diam membiarkan Hazel mengusap rambut nya.


"Bagaimana tadi di RS?" tanya Hazel sembari mulai menyandarkan kepala nya ke atas paha Alyss, dan merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang itu.


"Baik! Semua menyambut ku tadi. Tapi....


Kenapa aku jadi pindah ke bangsal VIP?" ucap Alyss.


"Bukan kah lebih mudah berada di bangsal VIP? Kita bisa pergi dan pulang bersama setiap hari, kau juga tak terikat dengan pembagian shif, kecuali salah satu pasien mu sangat membutuhkan operasi." ucap Hazel dengan mata terpejam, ia mulai merasa nyaman di pangkuan Alyss.


"Tapi jika aku tiba-tiba masuk ke bangsal VIP, aku takut orang-orang akan bergosip jika aku masuk dari jalur belakang." ucap Alyss lirih.


"Kalau begitu tunjukkan kemampuan mu, dan tutup mulut mereka." ucap Hazel lagi.


Alyss hanya menarik napas panjang mendengar ucapan Hazel. Sebenarnya jika ia pikir lagi ia memang masuk dari jalur belakang, karna Hazel yang mengatur semua itu untuk nya.


Mendengar tarikan napas Alyss membuat Hazel membuka matanya.


"Tidak apa-apa, jika ada yang bergosip tentang mu katakan saja padaku siapa orang nya, aku akan menghukum mereka." ucap Hazel.


"Tidak perlu sampai seperti itu." potong Alyss cepat, mendengar Hazel mengatakan kata "hukuman" saja sudah membuat nya bergidik ngeri.


Hazel hanya tersenyum mendengar balasan Alyss, ia kemudian mengangkat tangan Alyss dan meletakkannya ke kepalanya. Alyss yang mengerti maksud Hazel langsung mengelus lembut rambut Hazel.


"Apa dia tidur? Wah benar-benar pria gila. Dia datang dan langsung memarahi ku, setelah itu menjambak rambut ku sampai rasanya mau terlepas, dan sekarang dia tidur di pangkuan ku seperti tak terjadi apa-apa. Apa dia punya kepribadian ganda?" batin Alyss ketika melihat wajah tenang Hazel yang mulai tertidur di atas pahanya.


Jam semakin meninggi dan tanpa sadar Alyss juga ikut tertidur dengan posisi duduk, untung nya Hazel terbangun dan membawanya ke kamar.


Skip time.


RS JBS


Ruangan Presdir.


Hazel telah memerintahkan Rian untuk menyelidiki dan mengawasi pergerakan Logan dan Will selama beberapa bulan terakhir, dan memang benar bahwa mereka bertemu secara pribadi beberapa kali.


Pikiran Hazel pun buyar seketika saat pintu ruangannya tiba-tiba dibuka tanpa ada ketukan ataupun permisi.


"Kak....


Aku datang, aku ingin makan siang dengan kakak..." ucap Vion dengan manja, dan langsung menggandeng tangan Hazel.


Hazel langsung berusaha menepis tangan Vion yang melingkar di lengan kekar nya.


"Tak bisakah kau mengetuk lebih dulu?" ucap Hazel tak suka.


Vion pun hanya menunjukkan wajah nya yang dibuat cemberut, dan tangan nya berusaha untuk menggandeng Hazel lagi. Lagi-lagi Hazel menepis tangan Vion dari lengan nya.


"Ihhh kok kak Hazel gitu sih?!" tanya nya dengan suara khas manjanya, ketika Hazel selalu menepis tangan nya.


Hazel hanya membuang wajahnya dengan malas melihat sikap Vion.


"Hah, Rasa nya mau muntah saja melihat nya, tapi aku harus menahannya, dia masih berguna untuk ku." batin Hazel ketika melihat Vion.


Hazel pun mengatur ekspresinya lagi dan mulai tersenyum palsu kembali.


"Kau belum makan siang? Bagaimana ini aku sudah makan siang sekarang? Kau datang terlalu lama." ucap Hazel dengan raut wajah pura-pura cemas.


"Kok kak Hazel, gak nunggu aku sih?" tanya Vion dengan wajah cemberut berharap Hazel membujuk nya.


Hazel semakin malas melihat Vion dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kau tak duduk?" tanya Hazel yang kemudian duduk lebih dulu di sofa ruangan nya.


Melihat Hazel yang sudah duduk, tentu saja Vion juga ikut duduk di sebelah Hazel dan langsung menyandarkan kepalanya di pundak Hazel.


Hazel menggerakkan pundak nya agar kelapa Vion menjauh, ia sangat risih dengan tingkah Vion yang terkesan murahan padanya.


"Menurut mu apakah bagus jika JBS bekerja sama dengan Starcone?" tanya Hazel tiba-tiba, ia ingin memancing reaksi Vion dan mendapatkan informasi lagi.


"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?" ucap vion yang langsung melepaskan sandaran kepalanya, dan balik bertanya pada Hazel.


"Tidak aku hanya berpikir akan bagus untuk kita bekerja sama, JBS farmasi akan cocok jika berkerja sama dengan perusahaan mu yang bergerak di bidang kosmetik kan?" ucap Hazel pada Vion.


"Kau benar juga...." ucap Vion lirih.


"Aku ingin membuat proyek antara kedua perusahaan. Aku juga sangat ingin membantu Ayahmu dalam pemilihan Presiden yang akan mendatang." ucap Hazel yang semakin memancing Vion.


"Tak perlu repot, lagi pula ayahku juga sudah membuat proyek kerja sama dengan paman Will." ucap Vion kelepasan pada Hazel. sembari terus merapatkan tubuhnya untuk menggoda Hazel.


"Ayahku sudah menjalin kerja sama dengan paman Logan? Proyek tentang apa itu?" tanya Hazel yang semakin menguak informasi.


"Eh? I-itu tentang...." ucap Vion terbata, ketika menyadari bahwa ia mengucapkan hal yang tak seharusnya.


"Tentang apa?" tanya Hazel antusias.


"A-aku tak bisa bilang pada mu, ini proyek rahasia." ucap Vion lirih.


"Kau tak mempercayaiku? Padahal kita akan segera menikah, dan aku hanya ingin membantu calon ayah mertua ku." ucap Hazel dengan berpura-pura lesu.


"Bu-bukan begitu...


Yasudah! Akan ku katakan, tapi jangan bilang bahwa kau dengar dari ku yah." ucap Vion pada Hazel, ia tak bisa jika melihat wajah lesu Hazel.


"Ayah ku memiliki sebuah tambang, namun tambang tersebut mencemarkan air penduduk yang berada di sekitar nya. Ayahku akan segera menutup tambang itu." ucap Vion mulai menjelaskan dan menghentikan ucapan nya.


"Lalu apa hubungan nya dengan kerja sama proyek?" tanya Hazel menyelidik, ia melihat wajah Vion yang masih khawatir memberi tau nya tentang proyek tersebut.


"Kau masih belum mempercayaiku?" tanya Hazel dengan raut yang dibuat kecewa menatap Vion.


"Ti-tidak! Baik akan ku beri tau lagi.


Saat ayah ku menutup tambang, paman akan membuat obat yang dapat seperti menyembuhkan mereka, dan ayahku akan memberikannya kepada penduduk sekitar.


Penduduk sekitar masih tak tau penyebab penyakit mereka, dan ayahku juga menutupi keberadaan tambang tersebut.


Lalu ayah ku akan membuat semacam penyakit yang mirip dengan penduduk di sekitar tambang, dan menyebarkan penyakit tersebut ke khalayak umum lalu paman akan mengedarkan obat tersebut secara luas." ucap Vion yang sudah mengatakan inti dari proyek tersebut. Logan ingin hadir sebagai pahlawan untuk masyarakat, dan membuat banyak pendukung


"Bisakah kau memberiku salinan dokumen dari proyek tersebut?" tanya Hazel yang berusaha membujuk Vion.


"Salinan dokumen? Untuk apa?" tanya Vion bingung.


"Aku hanya ingin diam-diam membantu ayahmu dan juga ayahku, makanya aku ingin kau memberikan salinan dokumen tersebut padaku." ucap Hazel lagi.


"Ayahku akan marah."


"Kalau begitu jangan beri tau ayah mu. Aku ingin berusaha menjadi calon suami yang baik." ucap Hazel lagi dengan mengeluarkan kata manisnya.


Vion langsung tersentak dan berseri-seri mendengar ucapan Hazel.


"Baik akan ku berikan!" ucap nya semangat.


"Terimakasih." ucap Hazel dengan senyum palsu.


"Dasar perempuan bodoh!" ejek Hazel dalam hati ketika melihat Vion.