
Mansion Dachinko.
"Sudah temukan informasi tentang nya?" tanya James pada pada Nick.
"Sudah Tuan, setelah hari itu dia pergi ke daerah asal ibu nya dan menetap disana selama kurang lebih satu tahun. Jarang keluar rumah dan beberapa kali keluar memakai pakaian longgar, setelah itu dia di jemput oleh seseorang namun dia di ketahui sudah membawa seorang anak Tuan," ucap Nick menjelaskan.
"Riwayat persalinan? Tak mungkin dia melahirkan sendiri?" tanya James sembari melihat hasil penyelidikan yang di lakukan Nick.
"Tak ada riwayat persalinan sama sekali, dia hanya berada di rumah nya dengan beberapa pelayan." jawab Nick pada tuan nya.
"Kau bisa keluar," ucap James sembari memijat pelipis nya, "Jemput Louise kesini juga hari ini." perintah nya sebelum Nick keluar dari ruangan nya.
"Baik, Tuan." ucap Nick dengan sopan.
...
"Aku mau makan kalau kau yang buatkan!" ucap Louise sembari menatap pria di depan nya lalu mengalihkan mata nya pada film yang sedang ia lihat.
"Kau sedang kesal pada ku?" tanya James menyelidik pada gadis itu.
Ia merasa sikap gadis di depan nya terlihat kesal sejak awal mereka bertemu mantan kekasih nya di cafe dan semakin terlihat kesal sejak ia melakukan tes DNA sendiri dan tak membawa nya.
"Tidak," jawab Louise singkat tanpa menoleh.
"Mau makan apa?" tanya James menghela nafas nya menatap tingkah gadis itu.
"Terserah," jawab gadis itu lagi dengan tanpa mengalihkan mata nya dari televisi di depan nya.
James memejam menahan emosi lalu mematikan televisi yang sedang di lihat gadis itu. Louise pun langsung melihat tajam ke arah pria yang mematikan televisi yang sedang ia lihat.
"Kenapa? Kesal?" tanya James menatap gadis itu dengan mata nya.
Louise hanya mendengus kesal dan membuang wajah nya.
"Aku mau sup rumput laut dengan abalone!" ucap nya dengan wajah cemberut yang membuat nya terlihat menggemaskan.
James pun hanya membuang nafas kasar dan ke dapur nya ia tau gadis itu sangat rewel dalam segala hal dan lagi sifat keras kepala yang membuat nya sering bertengkar dengan gadis itu setiap saat.
"Mau ku bantu?" tanya Louise yang melihat pria itu sedang memasak untuk nya.
"Tak perlu, kau hanya akan meledakkan dapur ku saja." jawab James dengan wajah datar nya.
Louise tak mendengarkan dan tetap mendekati pria di depan nya dan berdiri di samping pria tersebut.
"Kau tak tambahkan timun?" tanya gadis saat melihat timun premium berukuran besar tersebut.
"Kau mau?" tanya James sembari mengalihkan pandangan mata yang sama dengan yang di lihat gadis cantik di sebelah nya.
"Aku saja yang ambil," ucap Louise dan mengambil mentimun tersebut lalu meletakkan di atas talenan kayu di depan nya.
James membiarkan gadis itu melakukan apa yang di inginkan nya.
"Kemarin kau hanya melakukan tes DNA kan?" tanya Louise sembari mengambil pisau dapur yang besar.
"Hm," James hanya menjawab singkat pada gadis di samping nya.
"Benar-benar tak ada yang lain?" tanya Louise lagi.
James pun memutar isi kepala nya dan ingat jika mereka juga semobil bersama saat pulang.
"Aku mengantar nya ke apart karna Liam terus menangis," jawab nya dengan ekspresi datar yang selalu menjadi khas nya.
"Mengantar? Kau yakin? Mungkin saja kau ke apart nya juga!" ucap Louise sembari menatap tajam pria itu.
"Hanya mengantar, dan jangan bermain pisau tangan mu bisa terluka." ucap James yang tau gadis itu tak bisa memasak.
"James," panggil Louise lirih menatap pria di samping nya, "Aku tak mau sampai ada Liam kedua..." ucap Louise menyindir pria itu.
"Liam kedua?" tanya James dan menatap ke arah gadis itu.
"Ya, kalau sampai ada Liam kedua...
Aku ingin memotong timun! Timun besar..." ucap nya dan mulai memotong dua bagian timun yang berada di depan nya.
Clang!
Dengan satu hunusan pisau tajam tersebut mentimun segar dan besar tersebut langsung terpotong menjadi dua.
"Timun?" tanya James lagi.
"Hm, Timun...
Timun besar..." jawab Louise lirih sembari memegang pisau dan sedikit menunduk melihat bagian tengah pria itu dan menatap melihat wajah pria di depan nya.
"Timun apa yang kau maksud?" tanya James pada gadis cantik yang tengah memegang pisau di tangan nya dan menatap bagian tengah tubuh nya.
"Timun...
Timun lain yang besar...
Aku juga ingin memotong nya..." gumam Louise sembari tetus menatap lurus ke bagian tengah pria tersebut dengan wajah kosong tanpa ekspresi kecuali hasrat ingin memotong timun yang ia inginkan menjadi dua.
James merinding saat mengerti maksud gadis itu.
"Hussh! Mata mu itu!" ucap James sembari menutup mata gadis itu dengan tangan nya agar berhenti menatap bagian privasi nya.
Louise pun langsung menepis dan menatap ke arah pria tersebut dengan wajah yang berubah total karna senyum cerah nya.
"Tenang saja aku tak begitu suka timun kok..." ucap nya sembari mendekat dan mengandah menatap pria yang lebih tinggi dari nya tersebut.
Tangan nya mendekat menyentuh dan mengusap rahang kekar pria tampan itu
"Tapi kalau timun nya nakal, nanti bisa ku potong terus ku jadikan acar! Biar gak nakal lagi..." sambung dengan wajah yang tersenyum cerah sembari menurunkan tangan nya perlahan dari leher hingga menyentuh bagian tengah pria tersebut.
"Siapa yang mengajari seperti itu? Hm?" tanya James sembari menangkap tangan yang sedang mengelus dan meraba bagian inti tubuh nya dari luar.
Louise tersenyum tipis dan mulai berjinjit sembari menarik tengkuk pria itu agar ia bisa berbicara di telinga pria tersebut.
"Tentu saja dari mu, kau lupa?" ucap nya berbisik dengan suara menggoda.
James tersenyum ia menarik dagu gadis di depan nya dan ingin menangkup bibir merah muda yang terasa manis dan lembut tersebut.
Louise langsung menghindar saat pria di depan nya ingin mencium nya, "Selesaikan masakan mu, jangan sampai terbakar." ucap nya dan perlahan mendorong dada bidang pria itu dan menjauh.
James pun melanjutkan masakan nya dan setelah selesai ia memberikan nya pada gadis yang tengah menunggu sup yang ia buat.
"Kau benar-benar tak akan ke pernikahan kakak ku?" tanya Louise sembari memakan sesendok sup yang di buat pria di depan nya.
"Hm, ada yang harus ku lakukan." ucap James yang harus ke Swiss dalam dua hari ke depan.
Louise menghela nafas nya dengan berat mengingat kakak nya akan menikah dalam dua hari lagi.
"Kenapa?" tanya James pada gadis itu.
"Rasanya seperti sedikit kehilangan sesuatu..." jawab Louise yang sedikit merasa kehilangan karna sang kakak pasti tak akan fokus mengurus nya lagi karna ia sendiri akan segera berkeluarga.
"Tapi nanti aku mau minta keponakan perempuan deh! Biar bisa aku kasih gaun princess!" sambung Louise seketika yang ingin memiliki keponakan menggemaskan dari kakak nya.
James hanya tersenyum melihat wajah gadis tersebut. Ia pun beranjak dari duduk nya dan mengambil sesuatu sedangkan Louise hanya menatap pria yang sedang pergi tersebut dan melanjutkan makan nya.
Tak berselang lama James kembali dengan membawa satu mainan atau hiasan mengemaskan yang berwarna meras muda dengan bentuk kelinci di tangan nya.
"Untuk ku? Ini apa? Aku bukan kan anak-anak." ucap Louise sembari menerima hiasan menggemaskan tersebut.
"Tekan hidung nya," ucap James pada gadis itu.
Louise pun minum sejenak dan menekan hidung kelinci tersebut.
"Pisau?" tanya nya dengan terkejut saat sebuah mata pisau tajam keluar dari benda yang menggemaskan tersebut.
"Bawa pisau nya dan gunakan untuk melindungi diri mu sendiri," ucap James pada gadis cantik tersebut.
"Kau mendesign seperti ini agar tak ada yang tau kalau ini pisau?" tanya Louise pada pria di depan nya.
"Bukan itu cocok untuk mu? Menggemaskan dari luar tapi tajam dari dalam." jawab James tersenyum simpul sembari menatap lekat pria tersebut.
"Aku suka! Terimakasih!" ucap Louise sembari melihat pisau yang bersembunyi di wadah menggemaskan tersebut.
James melihat wajah senang gadis itu, ia tau jika Louise menyukai design menggemaskan dan cantik maka dari itu ia membuat nya seperti itu.
"Ini apa?" tanya Louise sembari menatap kotak yang tadi di bawa oleh James.
"Ini?" ucap James dan membuka kotak tersebut, "Kalau kau dalam bahaya kau bisa menekan disini, aku akan melacak lokasi mu dan langsung membantu mu." ucap James.
Louise melihat ke arah jam tangan mewah dengan design elegan dan sungguh indah.
"Tapi bukan kah ini untuk pengaturan waktu nya?" tanya Louise sembari menatap ke arah crown jam tersebut.
"Jam ini hanya ada satu-satu nya di dunia dan aku membuat nya khusus untuk mu, maka dari ini bukan hanya sekedar jam." ucap James pada gadis itu.
"Wah!" ucap Louise dengan mata berbinar.
Sedangkan James membuat itu semua untuk tetap bisa melindungi gadis cantik itu selama ia pergi ke Swiss nanti nya.
"Selama aku tak ada Nick yang akan menjaga mu," ucap James lagi pada gadis itu.
"Hm," ucap James yang percaya pada bawahan nya tanpa tau bawahan nya selalu ingin menyingkirkan gadis nya.
......................
2 Hari kemudian.
Sebuah gedung hotel mewah dengan suasana elegan yang memancarkan aura positif di dalam nya.
"Louise, aku benar-benar gugup..." ucap Clara sembari memegang tangan teman nya yang berada di samping nya.
"Tidak apa-apa, kau kan sudah latihan..." ucap Louise dengan lembut sembari menggenggam tangan si calon pengantin yang terasa sangat dingin karna gugup tersebut.
Daniel dan Freya bahkan merasa bingung saat melihat persiapan pernikahan putri mereka, pria yang berjanji akan menanggung semua biaya pernikahan sedangkan ia masih pada status sebagai perawat.
Louis sendiri sudah membuat sesederhana mungkin agar identitas nya tak di ketahui baik Clara maupun orang tua nya.
Namun tetap saja apa yang ia lakukan tak bisa menutupi kemewahan nya yang ia berikan karna ia ingin memberi yang terbaik untuk calon istri nya.
Setelah upacara pernikahan akan di langsungkan Louise mulai menyadari jika ia seperti meninggalkan sesuatu.
Ia pun ke tempat kakak nya sebentar mengatakan ingin pulang sebentar untuk mengambil barang nya, ia lupa membawa hadiah yang ingin ia berikan pada Clara di hari pernikahan nya.
"Jangan lama, sebentar lagi pernikahan nya mau di mulai! Masa adik ku tak ada sih?" ucap Louis pada adik nya.
"Iya, cuma sebentar kakak ku sayang...
Jangan gugup yah..." ucap Louise menggoda sang kakak dengan tawa kecil nya.
Louis hanya tertawa, ia tak tau jika membiarkan adik nya pergi sekarang maka gadis tak akan melihat pernikahan yang akan ia langsung kan.
...
Sedangkan beberapa orang yang mengintai gadis itu semakin melihat cela saat Louise yang dengan sendiri nya pergi keluar.
Nick yang sudah menyadari jika gadis itu di intai menutup mata nya seakan-akan tak tau apapun.
"Nick! Pegang tas ku sebentar! Eh? Sama jam nya juga!" ucap Louise pada pria itu ketika ia melihat seorang anak yang hampir masuk ke kolam hiasan karna tertarik dengan ikan cantik di dalam nya.
Namun ia dengan cepat memberikan tas dan jam nya agar tak ikut rusak saat ia membantu anak tersebut.
Nick pun melihat tas dan jam tangan yang di buat tuan nya untuk gadis itu.
Bukan nya ini waktu yang tepat untuk menyingkirkan nya? Setelah dia tak ada aku tinggal menyingkirkan nona Bella
Batin nya saat melihat jam tersebut dan tau gadis itu sedang di incar oleh beberapa orang.
"Hampir saja dia jatuh!" ucap Louise kembali setelah beberapa saat ketika ia sudah menangkap anak tersebut.
Ia pun mengambil tas dan memakai kembali jam tangan nya tanpa tau jika barang-barang nya sudah diubah.
....
Louise meminta untuk memakai mobil yang berbeda dari Nick karna ia ingin mengebut dan cepat sampai ke pernikahan sang kakak lagi. Dan Nick pun langsung menyetujui hal tersebut.
Ckitt!!!
Louise langsung mengerem mobil nya mendadak saat ia di cegat oleh sebuah mobil yang menghadang nya.
"Ada apa?" tanya Louise saat orang-orang di dalam mobil tersebut keluar dan mengetuk jendela mobil nya.
"Kami dari kepolisian, anda di tangkap karna penggunaan obat-obatan terlarang morfin dan heroin," ucap pria tersebut.
"Aku? Aku tak memakai narkotika!" ucap Louise terkejut, walaupun ia sempat menggunakan nya namun itu sudah berbulan-bulan yang lalu.
"Mohon keluar nona," ucap pria tersebut.
Louise pun keluar dari mobil dan menatap para pria tersebut.
"Kalian punya surat legal penangkapan ku?" tanya Louise sekali lagi.
Namun salah satu pria langsung merebut tas. nya dan memeriksa.
"Kami memiliki bukti nya, anda tak bisa lolos." ucap pria tersebut.
Mata Louise membelalak saat melihat serbuk obat terlarang tersebut yang di keluarkan dari tas nya sedangkan ia sama sekali tak tau.
"Itu sungguh bukan milik ku! Kalian bisa melakukan sidik jari ku disitu kalau tak percaya! Aku tak tau sama sekali!" ucap Louise terkejut.
"Anda harus ikut ke kantor nona," ucap salah satu pria tersebut.
"Jangan sekarang! Aku sedang ada urusan sangat penting!" ucap Louise sekali lagi, ia tak ingin membuat masalah di hari pernikahan sang kakak.
Para pria tersebut pun mulai memborgol tangan nya ke depan dan menyeret nya secara paksa nya dan membawa ke dalam mobil.
Louise yang masih terkejut pun tak bisa menelaah situasi hingga mobil itu sudah berjalan sedangkan ia di apit oleh kedua pria tersebut.
Ini bukan jalan ke kantor polisi
Batin Louise saat merasakan kejanggalan ketika mobil yang membawa nya melaju kencang dan melewati arah kantor polisi.
"Kalian dari kepolisian mana?" tanya Louise pada empat pria yang berada di mobil tersebut.
Tak ada satupun jawaban dari semua pria tersebut.
Louise pun perlahan meraih tas nya mengambil pisau yang sempat di berikan James pada nya.
"Hentikan mobil nya!" ucap nya sembari melukai paha pria yang duduk mengapit nya dan berusaha membuka pintu.
Mobil tersebut berjalan zigzag dan setelah mendapatkan cela Louise langsung membuka pintu mobil dan keluar saat mobil tersebut sedang melaju kencang.
Tubuh nya terguling dan terluka saat ia melompat tiba-tiba. Ia pun segera melihat tas nya yang ikut terbawa dan menghubungi kakak nya.
"Kenapa tak angkat? Acara nya sudah di mulai?" ucap nya takut sembari berlari ke lain arah sedangkan mobil yang membawa nya sudah memutar lagi untuk menjemput nya.
"Jam nya!" ucap nya yang ingat dan mulai menekan crown jam tersebut.
Sinyal yang sudah di perlambat membuat fungsi jam tersebut menurun karna kode algoritma nya sudah di ganti.
Dia akan tau kan? Dia akan segera datang?
Batin Louise yang sudah mulai merasa takut. Ia pun ingin menghubungi pihak kepolisian yang sesungguh nya, namun.
Akh!
Rambut nya di tarik dari belakang hingga membuat nya mengandah.
"Dasar ****** sialan!" ucap pria yang geram karna terluka oleh pisau gadis itu.
"Kau yang sialan!" Jawab Louise sembari mengayunkan pisau nya.
"Kau mau main-main?! Ha?!" bentak para pria tersebut yang sudah mengepung nya.
Mereka pun mulai menangkap gadis yang terlihat mulai pucat tersebut.
Louise mengayunkan pisau nya, menusuk dan menghindar dari para pria tersebut.
"Dia bisa melawan?" ucap para pria tersebut yang berbeda dengan informasi yang di dapatkan.
Tenaga dan nafas Louise mulai habis, jantung nya berdegup kencang karna ia memang tak akan mampu melawan ke empat pria kekar dengan tubuh lemah nya. Sedangkan kesempatan kabur nya sama sekali tak ada.
Mata nya pun melihat ke arah mobil yang dari jauh ke arah nya.
Itu mobil Nick kan?
Batin nya yang mulai merasa lega namun saat mobil itu semakin mendekat, mobil tersebut tak berhenti dan terus melaju seakan-akan tak melihat apapun.
"Kau berharap ada yang membantu mu?" tawa salah satu pria menatap wajah Louise yabg terkejut karna mobil yang ia kenal melewati nya begitu saja.
Dia tak melihat ku?!
Batin nya terkejut.
"Ikut kami! Dasar ******!" bentak pria yang menarik kasar rambut gadis itu.
Mereka berusaha sebisa mungkin tak merusak penampilan atau pun fisik gadis itu sesuai permintaan klien mereka.
"Lepas!" ucap Louise yang berusaha menggunakan pisau nya lagi.
Namun kali ini tangan nya di cegat, mulut nya di bungkam dan di suntikkan cairan bius secara paksa di leher nya.
Rasa di tubuh nya mulai hilang begitu juga pandangan dan pendengaran nya yang mengabur.
Hanya cahaya dari sinar mentari dan tawa yang ia dengar di telinga nya dengan sayup sebelum kehilangan kesadaran.
Tolong...
Siapapun tolong aku...
Kak maaf...
Aku melewatkan pernikahan mu....