
Kediaman Logan
Vion kembali ke kediaman Logan, ia datang dengan amarah yang mengebu-gebu dan menghancurkan segala yang ada di hadapannya.
"Dasar wanita jalang!!!
Akan ku bunuh kau! Lihat saja nanti!!" teriak Vion yang sudah tak karuan, memenuhi seisi rumah besar nya itu.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kak Hazel bahkan marah pada ku gara-gara wanita itu!" Vion yang gelisah sembari menggigiti kukunya setelah menghancurkan hampir setengah isi rumah nya.
"Ya sekarang aku harus membujuk kak Hazel lebih dulu, baru setelah itu akan kusingkirkan wanita sialan itu." ucap Vion ketika tiba-tiba mendapat sebuah ide.
......................
Di mobil dalam perjalanan pulang.
"Kau mengikuti saran ku." ucap Hazel memecah keheningan di mobil tersebut.
"Ha? Apa? Saran apa?" tanya Alyss yang kebingungan dengan ucapan Hazel.
"Soal memukul balik." jawab Hazel tersenyum.
"Eh i-itu....
Kau tau jika aku memukulnya?" ucap Alyss lirih.
"Tentu saja, tak ada yang tidak ku ketahui. Dan kau tadi juga bilang bahwa kau akan merebut ku kan?" tanya Hazel sembari menggoda Alyss.
"Eh? I-itu cuma....." ucap Alyss yang bingung ingin menjawab apa.
"Cuma apa? Sekarang katakan, bagaimana kau akan merebut ku?" ucap Hazel yang kini sudah duduk rapat Alyss.
Alyss hanya diam dan tertunduk, ia benar-benar malu untuk mengangkat wajahnya. Ia tak tau jika Hazel mendengar semua pembicaraan nya dengan Vion.
"Ayolah jangan diam saja. Kau tau kan apa yang kuinginkan." bisik Hazel di telinga Alyss.
Merasakan hembusan nafas hangat Hazel yang menerpa telinganya membuat Alyss sedikit kegelian. Hazel hanya tersenyum melihat Alyss, baginya Alyss benar-benar menggemaskan.
"Mau makan malam diluar?" ajak Hazel tiba-tiba.
"Mau!" ucap Alyss yang langsung membalik wajah nya melihat Hazel.
Alyss langsung terbelalak ketika melihat wajah Hazel yang sangat dekat dengan nya sampai hidung mereka bersentuhan, Alyss pun langsung menoleh ke samping lagi namun Hazel mencegahnya, dengan memegang dagu Alyss.
"Apa yang ingin kau makan?" tanya Hazel lirih pada Alyss.
"Ca-cake..." jawab Alyss terbata.
"Baik, tapi setelah aku memakan mu." ucap Hazel tersenyum licik dan langsung mencium bibir Alyss.
Alyss pun yang terkejut dan secara refleks mendorong dada bidang Hazel yang sedang menghimpit tubuh nya ke bangku mobil.
"Humph..." suara Alyss yang terdengar di sela-sela ciuman mereka.
"Kenapa masih tak membalas ciuman ku? Buka bibir mu." ucap Hazel lirih sembari mengusap bibir bawah Alyss yang basah dengan ibu jarinya ketika ia melepaskan ciumannya.
Setelah mengatakan itu Hazel kembali mencium Alyss lagi. Ia m*l*m*t bibir Alyss dengan agresif dan bahkan memasukan lidah, dan membuat Alyss menelan salivanya.
Alyss benar-benar tak mendapat oksigen saat Hazel menciumnya, ciuman Hazel pun turun dan segera menuju leher putih Alyss.
"Hah hah, su-sudah..." ucap Alyss yang masih mengatur nafas nya.
Hazel tak menghiraukan ucapan Alyss dan tetap mencium leher Alyss hingga meninggalkan beberapa bekas merah di leher Alyss. Tangan Hazel pun mulai membuka kancing kemeja yang sedang di pakai Alyss.
Merasa Hazel yang sudah membuka setengah kemejanya, dan tangan Hazel yang sudah menyusup di balik kemeja, dan menyentuh dadanya membuat Alyss semakin terbelalak dan ia berusaha memegang tangan Hazel.
"Ja-jangan aku malu..." ucap Alyss lirih.
Tentu saja Alyss merasa malu. Mereka masih berada di dalam mobil, dan ada supir juga yang sedang membawa mobil tersebut.
Mendengar ucapan Alyss, Hazel langsung menghentikan ciumannya dan mengangkat kepalanya.
"Ingat peraturan no 1 dalam perjanjian kita?" ucap Hazel dengan suara tertahan dan nafas yang berat sembari menatap wajah Alyss.
Alyss hanya mengangguk kecil ketika Hazel mengatakan hal tersebut. Hazel pun tersenyum dan kemudian melanjutkan aksinya.
"Peraturan sial! Dia benar-benar licik !" umpat Alyss dalam hati.
Tentu saja Alyss tak dapat mengatakan apapun karna dalam peraturan tersebut berbunyi ; Pihak 2 tak boleh menolak apapun yang di lakukan dan diminta oleh Pihak 1, tanpa peduli di mana waktu dan tempat Pihak 2.
Hazel terus mencium leher Alyss dengan agresif hingga turun ke dadanya, dan mulai menciuminya juga.
"Ha-Hazel ada orang lain, sudah yah..." ucap Alyss lirih dengan terus membujuk Hazel. Ia tak benar-benar tak mau melakukannya di mobil, dan apalagi ada orang lain di mobil tersebut.
Hazel pun berdecak kesal mendengar Alyss yang terus memintanya berhenti.
"Cari tempat yang sunyi dan pinggirkan mobilnya, setelah itu kau keluar." ucap Hazel datar pada supir pribadinya.
Setiap mobil Hazel memang di beri kaca hitam yang tak terlihat dari luar, namun tetap dapat melihat dari dalam.
"Baik pak." ucap supir itu.
"Eh? Bukan begitu..." ucap Alyss ketika mendengar perintah Hazel pada supirnya.
"Jadi bagaimana? Kau tak ingin karna ada orang kan? Aku sudah menurutimu, jadi jangan membuatku marah." ucap Hazel dengan nada kesal pada Alyss.
"Ba-baik..." ucap Alyss lirih, ia tau bahwa Hazel sudah mulai padanya.
Akhirnya setelah memilih tempat yang pas supir tersebut pun meminggirkan mobil Hazel dan segera keluar dari sana.
"Sekarang sudah tak ada orang lain kan? Akan ku lanjutkan yang tadi." ucap Hazel dengan nafas memburu dan langsung menciumi tubuh Alyss dengan agresif.
Kini pakaian Alyss sudah dibukanya sebagian, di tempat-tempat yang ia inginkan, walaupun tak membuka seluruh pakaian yang di kenakan Alyss. Begitu juga dengan pakaian nya yang sudah tak beraturan juga.
"Jika aku melakukannya, aku ingin mendengar mu, mengatakan kau mencintaiku. Mengerti?" titah Hazel di telinga Alyss dengan suara yang parau.
Alyss merasa nafas Hazel yang sangat berat di telinga. Alyss hanya diam saja dan tak mengiyakan ucapan Hazel.
"Hah...
Sekarang katakan." ucap Hazel di tengah kegiatan panas sembari menciumi pipi dan telinga Alyss.
Alyss hanya menggelengkan kepalanya menatap Hazel, ia sangat malu jika mengatakan hal tersebut saat Hazel tengah melakukan hal tersebut padanya. Dan lagi saat ini dia juga merasa tak mencintai Hazel.
Hazel pun mengentikan gerakan dan langsung melingkarkan telapak tangan nya di leher Alyss.
"Kenapa tak menurut, Ha?" ucap Hazel sembari mencekik leher Alyss.
Tentu saja Alyss langsung memegangi tangan Hazel.
"Masih tak mau?" tanya Hazel sembari mengencangkan cekikan nya.
"Uhuk.." suara Alyss yang tertahan, kuku nya pun mencakar tangan Hazel saat berusaha menyingkirkan tangan kekar itu di lehernya.
Wajah Alyss mulai memerah, dan mata pun mulai berair, ia benar-benar tak dapat bernafas. Akhirnya Alyss mengangguk perlahan pada Hazel.
Hazel pun tersenyum dan melepaskan tangan nya dari leher Alyss.
"Hah... hah..
Lo-love you..." ucap Alyss lirih ketika Hazel melanjutkan kembali gerakannya. Hazel hanya tersenyum memandang Alyss.
Sementara itu...
Supir yang berada di luar mobil pun memasang earphone di telinganya agar tak mendengar suara desahan dari tuan dan nona nya.
"Seharusnya aku tak memilih disini tadi, banyak sekali nyamuknya." ucap supir itu sembari berusaha memukul nyamuk yang mengerubunginya karna ia memakai setelan berwarna hitam.
Tak berapa lama kemudian Hazel telah selesai menuntaskan birahinya. Ia pun meminta supir untuk menuju toko kue, untuk membeli makanan yang di inginkan Alyss.
Di depan toko kue.
"Kita sudah sampai, ayo turun." ucap Hazel pada Alyss.
Alyss hanya terdiam memegangi leher nya yang penuh dengan kissmark Hazel, dan memar karna Hazel juga mencekiknya. Alyss memakai kemeja panjang jadi dapat menutupi sebagian bekas yang di tinggalkan Hazel di tubuhnya, namun ada beberapa tempat yang tak dapat ditutupi salah satu nya dileher Alyss.
"Sudah, tak apa. Sekarang sudah bisa kan?" ucap Hazel yang menarik ikat rambut Alyss sehingga rambut panjang nya tergerai.
Hazel pun turun lebih dulu dan membuka pintu Alyss.
"Ayo, kau bilang ingin makan cake." ucap Hazel tersenyum lembut sembari mengulurkan tangan nya.
Alyss pun akhirnya memegang tangan Hazel dan ikut turun, lalu mereka segera memasuki toko tersebut, ia tak mau Hazel kesal lagi padanya.
"Kau ingin rasa apa?" tanya Hazel pada Alyss saat melihat berbagai macam kue cantik hadapan mereka.
"Hmm, aku bingung yang mana. Sudah lama tak memakannya." jawab Alyss sembari melihat kue-kue tersebut.
"Aku mau yang ini, lalu ini, itu, terus yang di bawahnya juga, aku juga ingin yang itu. Aku juga ingin minum milk shake caramel." ucap Alyss sembari menunjuk berbagai macam bentuk cake yang sedang dilihatnya.
"Bawa yang ia pesan ke meja sana." ucap Hazel pada pelayan toko tersebut sembari menunjuk meja makan mereka.
"Baik pak." jawab pelayan toko tersebut.
Tak lama kemudian pelayan toko tersebut datang dan mengantarkan cake pesanan Alyss, sebelumnya Hazel memilih meja panjang di toko tersebut, yang harusnya untuk beberapa orang, namun kini meja panjang tersebut di isi dengan banyak bentuk kue yang cantik.
"Selamat menikmati Pak, Buk..." ucap pelayan tersebut dengan ramah.
"Iya, terimakasih." jawab Alyss dengan tersenyum pada pelayan wanita tersebut.
"Kenapa kau mengucapkan terimakasih? Itu memang tugasnya kan?" tanya Hazel pada Alyss ketika pelayan tersebut telah kembali.
"Bukankah menghargai lawan bicara kita termasuk hal yang baik? Dia ramah pada ku, dan aku juga bersikap sama." ucap Alyss sembari mencoba salah satu cake di atas meja tersebut. Hazel hanya diam mendengar jawaban Alyss.
"Kau bisa menghabiskan semua ini?" tanya Hazel pada Alyss yang sedang makan dengan lahap.
Alyss hanya menganggukkan kepalanya, dan terus memakan kue-kue tersebut.
"Kau tak memesan?" tanya Alyss ketika sudah menelan kue tersebut di mulutnya.
"Tidak, aku kan sudah memakan mu tadi." ucap Hazel tersenyum dan menggoda Alyss.
Wajah Alyss pun memerah, dan langsung memasukkan beragam cake lagi ke mulutnya, Hazel hanya tertawa kecil melihat Alyss yang salah tingkah.
Kini Alyss tau maksud dari "memakan dirinya" yang sering dikatakan Hazel padanya.
"Kau sangat suka cake?" tanya Hazel
"Iya, aku suka. Mereka sangat manis, apalagi cream nya." jawab Alyss di sela-sela makannya.
"Rasa apa yang paling kau suka?"
"Coklat? Macha? Vanila? Aku tak tau pasti, aku suka semua rasanya."
"Tak ada yang paling kau sukai?"
"Ehmmm, mungkin cheese cake?" jawab Alyss sembari mengambil cheese cake dihadapannya dengan garpu.
"Tak ada di pilihan yang kau sebutkan barusan."
Alyss hanya mengangkat bahunya sedikit dan melanjutkan makan nya lagi. Setelah beberapa lama akhirnya Alyss sudah menghabiskan seluruh cake yang ia pesan, perut nya sudah benar-benar terisi penuh.
Hazel saja sampai keheranan melihat Alyss yang bertubuh kecil itu sanggup memakan cake sebanyak itu sendirian.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai