(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Pilihan sulit.



Melihat darah yang terus mengalir dari paha Alyss membuat Hazel bingung, ia pun langsung membawa Alyss ke kamar nya dan menelpon dr. Siska untuk segera datang.


Hazel pun membersihkan tubuh Alyss dengan handuk yang diberi air hangat sembari menunggu dr. Siska datang.


"Apa kau sangat terkejut?" tanya Hazel ketika melihat wajah pucat Alyss yang tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian dr. Siska pun datang, ia segera memeriksa Alyss.


"Apa dia mengalami benturan lagi dikepalanya?" tanya dr. Siska ketika selesai memeriksa Alyss.


"Benturan?" jawab Hazel lirih ia pun ingat sebelum nya ia menampar Alyss hingga membuatnya mimisan.


"Ya begitulah...." jawab Hazel lirih pada dr. Siska.


"Trauma di kepala nya belum pulih sepenuhnya dan karna ia mendapat benturan tersebut membuat nya trauma kepala menjadi lebih parah, dia mengalami gegar otak.


Lalu sepertinya ia mengalami patah tulang rusuk, dan yang paling disayangkan adalah kandungannya." ucap dr. Siska pada Hazel.


"Kandungan? Dia hamil?" tanya Hazel bingung, ia sangat terkejut ketika mendengar ucapan dr. Siska.


"Ya tuan. Kandungannya sangat lemah, nona bisa keguguran kapan saja dan fisik nona Alyss juga tidak sanggup menerima kandungan tersebut." jawab dr. Siska.


Hazel membuang nafas kasar, ia semakin gusar ketika mendengar ucapan dr. Siska.


"Lalu sekarang harus bagaimana? Apa kandungannya tak dapat bertahan? Apa kondisinya sangat buruk?" tanya Hazel risau.


"Saya sarankan untuk segera menghubungi dokter spesialis Obgyn perihal kandungan nona, dan untuk kondisi nona sendiri sebaiknya dia dibawa kerumah sakit dan segera menjalankan tes MRI untuk mengetahui kondisi nya agar lebih signifikan." ucap dr. Siska.


NB KET :


MRI merupakan pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan hasil gambar organ, tulang, dan jaringan di dalam tubuh secara rinci. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai alat bantu diagnosis untuk dokter.


Setelah dr. Siska pergi, Hazel segera menghubungi Rian untuk menyiapkan pemeriksaan Alyss dan mencari dr. Obgyn terbaik untuk kandungan Alyss. Ia pun memindahkan Alyss ke RS malam itu juga setelah mendengar saran dr. Siska.


......................


Setelah menjalani tes MRI dan pemeriksaan kandungan.


Prof. Diany kemudian menjelaskan pada Hazel perihal kandungan Alyss. Ia merupakan spesialis obgyn terbaik di negara itu, dan merupakan salah satu tenaga medis dari JBS.


"Begini pak, ini mungkin keputusan yang berat, namun setelah saya memeriksa dan menjalankan beberapa tes, kandungan ibu Alyss sangat sulit untuk dipertahankan.


Jika kita tetap ingin mempertahankannya mungkin hal ini bisa membahayakan nyawa bu Alyss." ucap wanita berkaca mata yang sudah memasuki usia setengah abad itu.


"Kau menyuruh ku memilih? Antara anakku atau Alyss?" tanya Hazel memastikan.


"Benar pak, kandungan nona Alyss sangat lemah, dan kami membutuhkan obat untuk memperkuat kandungan tersebut.


Namun kondisi fisik bu Alyss tak dapat menerima obat tersebut karna luka dari kecelakaan nya, dan saat ini fisik nya juga semakin melemah, obat itu mungkin baik untuk janin nya, namun menjadi boomerang pada ibunya." jelas prof Diany.


"Apa kondisi Alyss separah itu?" tanya Hazel lagi.


"Ya pak, saat ini kondisi benar-benar tak baik, ia mengalami trauma kepala berat karna beberapa benturan, dan ini juga hampir mengenai selaput telinga ibu Alyss, jika dia mengalami benturan di daerah kepala lagi mungkin dia bisa mengalami gangguan pendengaran.


Dan saya juga melihat beberapa tulang rusuk yang sebelumnya retak kini menjadi patah, dan beberapa bagian-bagian yang terluka.


Saat ini bu Alyss benar-benar harus mendapatkan pengobatan segera agar tak terjadi infeksi lainnya." terang prof. Diany sembari menunjukkan hasil scan MRI Alyss.


Deg...


Jantung Hazel serasa mau berhenti, dada nya mulai terasa sesak ia tak pernah sekhawatir ini sebelumnya, mulai terbesit perasaan bersalah dihatinya. Ia harusnya tau jika Alyss masih tak dapat menerima perlakuan kasarnya.


Jika saja tadi dia dapat menahan sedikit saja emosinya, mungkin luka di tubuh Alyss tak akan semakin parah. Alyss baru saja kembali, dan dia membuat Alyss dan anaknya sendiri dalam bahaya.


"Apa tak bisa menyelamatkan keduanya? Bagaimana aku bisa memilih salah satu dari mereka?" tanya Hazel dengan pengharapan pada prof. Diany.


Prof. Diany hanya menghela nafas panjang, ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari presdir tempat ia bekerja.


"Saya sudah mencoba sebaik mungkin, kandungan tersebut mungkin bisa terselamatkan, namun seperti yang saya katakan sebelumnya, nyawa ibu Alyss bisa terancam." jelas prof. Diany sekali lagi.


"Jika kalian bisa menyelamatkan bayinya, tak mungkin tak bisa menyelamatkan ibunya! Bayi itu tumbuh di rahimnya, jika terjadi sesuatu pada Alyss bayi itu juga tak akan selamat kan?!" ucap Hazel yang mulai marah.


"Benar pak, namun bu Alyss bisa meninggal karna septikemia setelah melahirkan anak nya." jawab prof. Diany.


"Tidak! Itu tak boleh terjadi! Lakukan segala cara untuk menyelamatkan keduanya. Jika kau tak bisa melakukannya akan kubunuh kau beserta keluargamu." ancam Hazel, ia benar-benar sudah kehabisan akal.


"Saya sudah melakukan sebaik mungkin, saat ini kondisi ibu dan janin nya sangat lemah, kami akan memantau lebih lanjut lagi, dan jika kondisi nya terus melemah, kita harus membuat keputusan, atau keduanya mungkin tak selamat pak." jawab prof. Diany gugup, ia sudah mulai takut dengan ancaman Hazel.


......................


Ruangan rawat inap Alyss


Hazel kini hanya diam menatap Alyss yang masih terbaring di ranjang pasien yang berada di hadapannya, wajah nya pucat, sepucat kapas.


Ia pun menggenggam jemari Alyss dengan lembut, mata nya melihat dengan tatapan sendu, ia mulai merasa bersalah. Tindakan emosi sesaat nya hampir saja membunuh anaknya.


"Maaf..." ucap nya lirih ketika melihat Alyss.


"Ayah juga minta maaf padamu." ucap nya lagi sembari mengelus perut Alyss perlahan.


"Kau anak ku kan? Jika anak ku kau tak boleh lemah. Ayah menginginkan mu, dan kau juga harus tau aku sangat menyayangi mu, tapi jika kehadiran mu bisa mengambil wanita ku, ayah mungkin akan menyingkirkan mu.


Aku menyayangi mu, tapi aku juga sangat mencintai ibumu, maka dari itu ku mohon.... kau harus lebih kuat. Jadi aku tak akan menyingkirkan mu." ucap Hazel sembari menatap ke arah perut Alyss dan terus mengelus nya, ia ingin berbicara pada anaknya.


Malam itu Hazel terjaga semalaman, pikiran nya terus terganggu dengan ucapan-ucapan prof. Diany.


Bagaimana dia bisa memilih antara anaknya atau wanita yang ia cintai?


Ia ingin keduanya, anak dan juga Alyss. Namun jika dia memang hanya dapat memilih salah satu mungkin ia akan memilih Alyss.


Baginya Alyss hanya ada satu, ia tak mungkin bisa menemukan yang sama ataupun membuatnya.


......................


Skip time.


Di ruangan Presdir.


Dan pastikan tak ada rumor buruk yang berkembang tentang nya." perintah Hazel pada Rian.


Ia ingin membuat perawatan privat pada Alyss, ia tak ingin tersebar gosip buruk dan membuat nama baik Alyss tercemar karna saat ini Alyss tengah mengandung dan belum menikah.


"Baik, akan segera ku urus." jawab Rian.


"Dan siapkan juga pernikahan ku. Aku akan menikahinya 2 bulan dari sekarang, setelah kondisinya membaik." perintah Hazel lagi.


"Menikah? Kau akan mengadakan pesta pernikahan juga?" tanya Rian.


"Iya. Memangnya kenapa? Saat ini dia mengandung anakku, aku harus cepat menikahinya kan?" tanya Hazel.


"Kau benar, kau harus menikahinya tapi bagaimana dengan Will? Mungkin kita sudah menyelesaikan keluarga Renner, tapi kurasa Will akan menyakiti dr. Alyssca untuk mengancam mu, jika dia tau kau mencintainya." ucap Rian pada Hazel.


Hazel memejamkan mata nya sekilas, yang di katakan oleh Rian sangat benar. Jika Will tau tentang Alyss mungkin Will akan menyerang Alyss sebagai ganti dari menyerang dirinya.


"Apa dua bulan tak cukup untuk membereskan tua bangka sialan itu?


Pelobi itu sudah membuka mulut? Lalu perusahaan farmasi yang bekerja sama dengannya untuk membuat obat terlarang itu belum kalian temukan?" ucap Hazel dengan memegang pelipis matanya.


"Pelobi itu sudah mulai membuka mulut setelah disiksa, tetapi ada beberapa pengalihan yang akan memakan waktu, aku tak yakin dalam dua bulan, mungkin kita bisa menyelesaikan nya lebih cepat ataupun bisa lebih lambat dari itu." jawab Rian.


"Kita harus menyelesaikan nya secepat mungkin." ucap Hazel.


Setelah ia menyelesaikan urusan pekerjaan Hazel selalu datang ke ruangan Alyss.


......................


2 Hari kemudian.


Ruangan rawat inap Alyss.


Hazel mulai bingung dan tak sabar untuk menunggu Alyss bangun, pasal nya Alyss sama sekali belum bangun setelah ia pingsan di kediaman Hazel.


"Kenapa dia masih belum bangun?! ini sudah hampir 3 hari!" ucap Hazel marah pada seluruh profesor dan dokter yang menangani Alyss.


"Mungkin karna kondisi psikologis nya pak. Dia seharusnya sudah bangun setelah satu hari menjalani pengobatan, namun psikis nya menolak untuk bangun dan tetap membuat nya tertidur." jawab salah satu dokter yang berada di ruangan itu.


"Kalau begitu cari cara untuk membangunkannya. Bukankah kalian yang terbaik? Dasar bodoh!" umpat Hazel pada seluruh prof dan dokter di ruangan tersebut.


"Kondisinya?" tanya Hazel lagi.


"Kondisi bu Alyss semakin melemah begitu juga dengan kandungannya." jawab salah satu dokter tersebut dengan ragu.


"Lakukan apapun untuk membuatnya bangun, aku ingin dia sadar malam ini juga!" ucap Hazel pada seluruh prof dan dokter yang merawat Alyss.


"Baik pak." jawab mereka serempak.


Setelah itu Hazel pun kembali keruangannya dan menyelesaikan pekerjaan serta beberapa rapat dan pertemuan bisnis.


......................


Malam hari di ruangan rawat inap Alyss.


"Kau masih tak mau bangun? Apa begini caramu untuk kabur dari ku? Hm?!" ucap Hazel sembari menatap wajah Alyss yang masih tetap memejamkan matanya.


Para dokter sudah memberi beberapa obat untuk menyadarkan Alyss secara paksa. Karna Alyss memang seharusnya sudah sadar sejak dua hari yang lalu, namun karna sebelumnya ia sempat mengalami shock dan guncangan psikologis membuatnya alam bawah sadarnya tetap menyuruhnya untuk tertidur sebagai bentuk perlindungan dirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 02.35 dini hari. Namun Alyss masih belum terbangun walaupun sudah diberi beberapa obat.


Hazel tak melepas pandangannya sedikitpun dari Alyss, ia terus menggenggam jemari Alyss dan berharap agar Alyss cepat sadar.


Setelah hampir pukul tiga dini hari, akhirnya Alyss mulai menunjukkan reaksi. Ia seperti sangat gelisah dalam tidurnya.


tubuh nya mulai menunjukkan beberapa getaran, keringat mulai keluar membasahi tubuhnya. Seperti orang yang terkena mimpi mimpi buruk.


"Ti-tidak....


To..long..." ucap Alyss lirih dengan suara sangat pelan.


"Alyss? Alyss? Bagun! hey..." ucap Hazel yang berusaha membangunkan Alyss.


Alyss pun mulai membuka matanya. Mata nya langsung terbelalak ketika ia bangun.


"AKHH!" Teriak nya ketika ia bangun.


Nafas tersenggal-senggal seperti habis dikejar oleh sesuatu, keringatnya mulai terjatuh dari kening nya.


"Hey! Sudah... sudah...


Stt... tenanglah..." ucap Hazel, ia sudah ikut naik diatas ranjang pasien Alyss dan memeluk Alyss.


Ia menepuk bahu Alyss dan mengusap punggung Alyss secara perlahan terus menerus.



Hazel Rai



Alysscalla Zalea


...****************...


Author juga mau buat Hazel nyesel tapi belum waktunya hihi, biar nanti di tobatkan sekalian si Hazel:v


Haii Jangan lupa Like, komen, dan rate 5 nya yah hihi


Vote dan favoritkan juga yah hihi.


Happy Reading🥰🥰


Maafkan typo Author yang bertebaran yah🤭🤭