(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : I don't wanna get pregnant!



2 Hari kemudian.


Clara mulai terbangun setelah hampir 2 hari ia tak kunjung sadar sehabis malam di mana ia melukai tangan nya.


Mereka menyelamatkan ku? Kenapa melakukan nya? Aku tak mau hidup lagi...


Batin nya sembari memegang tangan nya dan merasakan adanya perban yang melilit di pergelangan kecil itu.


Air mata nya jatuh satu persatu dari mata nya yang kini selalu memperlihatkan bayang gelap tanpa secercah cahaya sedikitpun.


"Kau sudah bangun? Kenapa menangis?" tanya seorang pria yang membuat gadis itu menoleh pada sumber suara namun tak tau di mana letak pria itu berdiri.


"Dia yang mengirim mu?! Dia mau apa lagi? Aku...


Dia sudah mengambil semua nya kan?!" teriak Clara yang langsung histeris pada pria yang datang ke ruangan nya.


Ia tak mengenali lagi jika pria yang ia benci dan pria yang saat ini mendatangi nya adalah orang yang sama.


"Mungkin dia ingin kau pulih..." ucap Louis yang berbicara 'Dia' untuk membicarakan dirinya sendiri.


"Untuk menyiksa ku lagi?!" tanya Clara dalam tangis nya.


Louis diam, ia tak tau bagaimana cara nya agar gadis itu bisa tenang saat ia sendiri pun juga mulai tak bisa tenang.


"Dia tak akan menyakiti mu lagi, dan...


Dia juga akan melepaskan mu..." ucap Louis lirih ia bingung bagaimana caranya agar menenangkan gadis itu.


Jika di tanya ia pun sebenarnya tak ingin dan tak pernah ingin melepaskan gadis itu. Namun ia mulai memutar akal untuk bisa tetap bersama gadis yang ia sukai tanpa membuat gadis itu ketakutan.


Ia tak tau tentang dua hari lagi atau dua bulan lagi atau bahkan dua tahun lagi saat gadis itu akan mengetahui kebohongan yang menyamar sebagai orang lain untuk mendekati nya lagi.


Clara mulai tenang dan tidak histeris lagi membuat pria tampan itu berjalan mendekat ke arah nya secara perlahan dan meraih tangan nya yang menutup telinga nya dan duduk gemetar diatas ranjang nya.


"Dia tak akan menyakiti mu lagi...


Tenanglah..." ucap Louis pada gadis itu.


"Kalau tau akan seperti ini harusnya aku rusak saja wajah ku sejak awal..." balas Clara lirih dengan wajah putus asa nya.


Ia merasa sudah sangat di rusak lalu di buang saat ia sudah menjadi seperti ini bagaikan boneka yang hanya di mainkan saat masih baru dan di buang saat sudah jelek.


"Dia juga bilang 'Maaf' pada mu..." ucap Louis hati-hati pada gadis itu.


Suara, parfum serta semua aroma nya sudah terganti membuat gadis itu terkelabui dengan semua perubahan itu karna ia tak bisa melihat apapun.


"Maaf? Aku tak mau memaafkan! Sampai kapanpun! Bahkan sampai nafas ku habis! Aku tak mau memaafkan nya!" jawab Clara lirih dengan air mata yang jatuh dari manik bening nya yang kini telah rusak.


"Bahkan kalau ada hari di mana aku mau memaafkan nya, aku tak bisa...


Aku benar-benar tidak bisa memaafkan nya..." sambung gadis itu lirih dengan suara parau nya karna tangis.


Louis mendengar nya dengan jelas dan dapat melihat dengan jelas juga jika kini pintu hati gadis itu sudah tertutup rapat untuk nya.


"Kalau begitu jangan maafkan dia! Kau harus bisa membenci nya! Kalau mau memaki nya juga tidak apa-apa!" ucap Louis dengan nada yang dibuat semangat agar gadis itu tak lagi tenggelam dari laut kepedihan nya.


"Kau siapa? Dia yang menyuruh mu?" tanya Clara saat tangis nya mulai tenang.


"Aku? Aku...


Aku perawat! Perawat mu!" ucap Louis asal, ia mengatakan hal itu saat ia melihat bayangan perawat yang lewat dari balik pintu kamar perawatan gadis itu.


Sial! Harus nya tadi aku bilang dokter saja kan?


Ucap nya dalam hati saat ia sadar akan jawaban impulsif nya pada gadis di depan nya.


"Nama?" tanya Clara lagi pada pria yang berada di dekat dengan nya namun ia tak tau sedekat apa saat ini.


"Nama? Nama ku?" tanya Louis ulang karna ia belum mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti ini.


"Hm..." jawab Clara yang hanya berdehem.


"Nama ku," ucap Louis lirih sembari berpikir mencari nama nya, "Rai! Nama ku Rai!" ucap nya yang hanya mampu berpikir mengambil nama belakang keluarga nya.


Pikiran nya kosong dan takut jika gadis itu mengetahui kebohongan nya.


"Cla?" panggil nya lirih saat gadis itu diam setelah mendengar nama nya.


Jantung nya berdebar dengan kencang takut jika gadis itu akan histeris dan mengusir lagi.


"Kenapa kau baik pada ku?" tanya Clara lagi setelah sempat diam.


Ia terdiam karna mendengar nama pria itu yang mirip dengan nama belakang pria yang sangat ia benci.


"Karna aku suka pada mu!" jawab Louis spontan dan tanpa sadar mengatakan apa yang ada di pikiran nya.


"Apa?" tanya Clara bingung, ia sendiri sudah cacat dan memiliki reputasi yang buruk membuat nya semakin tak percaya diri dan hancur.


"Maksud ku...


Aku..." jawab Louis gugup pada gadis itu. Ia tak pernah segugup ini saat mendapatkan pertanyaan dari orang lain.


Namun karna kali ini berusaha menyembunyikan sesuatu untuk tetap bersama gadis yang ia cintai membuat nya merasa sangat gugup dan risau.


"Aku menyukai mu sejak awal masuk bekerja disini! Waktu itu aku masih baru masuk bekerja dan kau orang pertama yang tersenyum pada ku," jawab Louis yang membangun kebohongan nya.


Ia tau Clara tak akan ingat pernah tersenyum pada siapa karna ia sangat mengenal gadis itu yang baik dan ramah pada semua orang.


"Benarkah? Kau tak dengar gosip tentang ku? Atau kau..." ucap nya terputus dengan nada yang membuat berbagai macam pertanyaan yang bisa jadi sambungan perkataan nya.


"Atau apa? Gosip? Kau tidak tau tentang gosip baru lagi sekarang?" tanya Louis dengan jantung berdegup kencang takut gadis itu akan curiga.


"Gosip baru?" tanya Clara yang mulai semakin berfikir negatif.


"Kata nya kan pemain video asli nya sudah tau siapa, wanita itu kan hanya meniru mu! Dan sekarang nama mu sudah bersih lagi." jawab Louis pada gadis di depan nya.


Clara masih bingung dengan ucapan pria yang mengaku sebagai perawat yang mengurus nya itu.


Namun Louis mulai menjelaskan situasi nya secara rinci hingga membuat Clara benar-benar paham.


Gadis itu mulai tertawa pahit begitu mendengar penjelasan nya, ia sadar pria yang ia benci sedang berusaha mengembalikan nama baik nya namun itu bukan berarti pintu hati nya bisa di buka kembali.


"Sekarang mereka merubah opini? Mudah sekali mengatakan nya...


Mereka bahkan tak akan tau apa yang sudah ku rasakan..." ucap nya lirih dengan tawa pahit dan mulai menangis lagi.


Perubahan emosi yang begitu cepat dan suasana hati yang begitu cepat juga membuat nya tak bisa di tebak.


Clara mulai menutup wajah nya lagi dengan telapak tangan nya dan kembali menangis lagi, ia masih tak tau bagaimana cara nya untuk bisa bangkit lagi dari keterpurukan nya.


......................


3 Minggu kemudian.


Mansion Dachinko.


"Satu putaran lagi!" ucap Nick yang menjadi pelatih gadis itu selama dua hari terakhir karna tuan nya sedang pergi mengurus sesuatu.


"Satu putaran mata mu! Kau sengaja mengerjai ku, kan?!" tanya Louise yang terengah-engah pada pria yang duduk dengan santai sembari di temani jus jeruk di samping nya.


Setiap kali ia melihat Louise yang sudah mencapai batas nya ia akan segera mengistirahatkan karna tau jantung gadis itu lemah dan tak bisa olahraga berat.


Ia juga mengajari seni bela diri setelah nya karna itu memang yang tuan nya perintahkan.


Perintah untuk melatih gadis itu menjadi lebih kuat.


"Tuan memerintahkan saya untuk melatih nona, saya tidak bermaksud mengerjai nona." jawab Nick dengan wajah datar pada gadis itu.


"Kalau begitu aku mau latihan dengan nya saja! Dia juga tak ada disini kan? Kenapa kalian tidak membiarkan aku pulang sih?!" gerutu Louise dengan amarah nya.


Ia merasa jika cara pelatihan James lebih lembut dan tidak sekeras bawahan nya. Berbeda dengan Nick yang memang dari awal sudah tak menyukai nya dengan alasan yang tak jelas.


"Tuan menyuruh saya untuk melatih nona jadi saya harap nona bis-"


"Tapi aku mau nya di latih dengan nya! Bukan dengan mu!" sentak Louise langsung yang memang sudah tak bisa lagi mengikuti pelatihan yang anggap seperti pelatihan militer tersebut.


Perdebatan dan cekcok mulai terjadi antara gadis itu dengan bawahan pria yang menjadi kekasih nya.


"Jadi aku yang salah?!" tanya Nick geram setelah perdebatan panjang.


"Iyalah! Wanita kan tidak pernah salah! Jadi kau yang harus salah!" jawab Louise tak acuh yang semakin membuat pria itu naik darah.


"Kenapa ribut sekali?" suara bariton tak asing terdengar di telinga gadis cantik itu dan membuat langsung mengandah ke arah sumber suara tersebut.


"James?" gadis itu memproses sejenak prosedur yang ada di kepala nya dan setelah itu berlari memeluk pria itu.


James terkejut sesaat ketika gadis itu tiba-tiba memeluk nya dengan erat, ia pun mulai membalas pelukan gadis itu dan ingin cepat-cepat melepaskan nya karna takut aroma darah dari orang lain yang baru ia bunuh tercium.


Darah...


Aku tidak salah lagi, ini memang aroma darah...


Batin gadis itu yabg dapat mencium bau anyir yang bercampur dengan aroma maskulin khas tubuh pria itu serta aroma parfum yang beradu menjadi satu di penciuman nya.


Ia pun memilih pura-pura bodoh dari pada mati karna kebodohan nya. Pasal nya sudah beberapa kali ia mencium aroma darah dari tubuh pria itu saat kembali dari perjalanan dan urusan nya.


"James...


Dia menindas ku, lihat kaki ku..." adu Louise yang dengan secepat kilat mengubah ekspresi nya menjadi membuat orang lain iba.


"Kan sudah ku bilang jangan terlalu keras," ucap James pada Nick saat melihat kaki gadis itu yang memerah karna terus berlari.


"Saya tidak melatih terlalu keras tuan, saat nona Louise lelah saya menghentikan nya dan memberi waktu istirahat." jawab Nick dengan sopan pada tuan nya.


"Bohong! Tadi aku minta istirahat tapi dia suruh aku lari lagi! Dada ku sampai sudah sesak! Aku seperti sudah mau pingsan tadi!" sanggah Louise lagi yang terus mengadu.


"Tapi nona Louise memang baru istirahat selama satu jam maka dari itu saya menyuruh nya untuk berlari satu putaran lagi," ucap Nick membela diri.


"Bohong! Tadi kami ribut karna dia tidak mau kasih aku istirahat!" sanggah Louise lagi.


James memejam sesaat, baru saja ia kembali setelah menghabisi kelompok musuh nya dan saat kembali gendang telinga nya mau pecah karna suara pertengkaran antara gadis nya dan bawahan nya.


"Cukup! Aku sudah tau masalah nya! Nick kau lari 20 putaran di taman dan Louise kau ikut masuk dengan ku! Akan ku minta Chiko mengecek kondisi mu." ucap James.


"Aku sudah baik-baik saja," ucap Louise tersenyum pada pria di depan nya karna suka jika pria itu menghukum bawahan nya.


"Gendong!" ucap Louise lagi dengan meminta punggung pria itu.


"Kau masih bisa jalan kan?" tanya James dengan nada datar nya.


"Kaki ku masih sakit..." ucap nya lirih dengan mengeluarkan wajah meringis nya.


James menghela nafas nya ia memberikan punggung nya pada gadis itu untuk membawa nya. Ia tau Louise berbohong namun ia membiarkan nya.


Apapun!


Apapun yang di inginkan gadis itu bisa ia berikan kecuali membiarkan pergi ke pelukan pria lain. Ia masih ingin mengikat gadis itu untuk dirinya sendiri dan sangat enggan untuk melepaskan nya.


Louise tersenyum dan melirik ke arah Nick lalu mengucapkan kata tanpa suara dan hanya gerak bibir.


"Kau pikir hanya kau yang bisa buat dia marah? Aku juga bisa membuat nya menghukum mu!"


ucap nya tanpa suara sembari mengejek Nick dan kemudian naik ke punggung kekar pria itu.


Nick menghela nafas nya dan mulai berlari 20 putaran di taman luas tersebut.


James pun membawa gadis itu masuk dan mengajak untuk mandi bersama.


...


Punggung yang terlihat putih dengan beberapa bekas kecupan yang terlihat menudar yang ia berikan dua hari yang lalu.


"Nanti malam aku pulang kan?" tanya Louise saat ia merasakan sapuan halus tangan pria itu pada punggung dan perut nya.


Bathup yang berisi gelembung sabun dengan aroma yang menyegarkan dan memberi nyaman pada indra penciuman itu kini di masuki oleh dua orang dewasa.


"Pulang? Aku saja baru kembali kau sudah mau pulang?" tanya James sembari sesekali mengecup punggung indah yang sedang membelakangi nya itu.


"Maka nya harus nya waktu kau tidak ada aku pulang saja! Aku sudah 4 hari disini!" gerutu Louise pada pria itu.


Cup...


James mulai mencium tengkuk dan leher gadis itu dari belakang, ia merasa gemas karna sudah dua hari tak menyentuh nya.


"James..." ucap Louise sembari berusaha menyingkir karna risih.


James pun berhenti dan tersenyum mentertawakan dirinya sendiri yang semakin sulit ia kendalikan.


"Tadi kenapa langsung memeluk ku? Kau mau kabur dari latihan kan?" tanya James tertawa kecil yang bisa membaca pikiran gadis yang sedang berendam bersama dengan nya saat ini.


Louise yang merasa pikiran nya mudah terbaca langsung berbalik menghadap pria itu dengan semakin naik ke atas paha pria tampan itu.


"Aku kan kangen!" ucap nya dengan senyuman merayu agar ia bisa kembali malam ini.


Cup...


Satu kecupan melayang di pipi pria itu membuat nya tersentak dan meraih tengkuk gadis itu.


Humph...


Louise terbelalak sesaat ia sengaja mencium pipi agar bibir nya tak di lum*t namun pria itu malah menarik tengkuk nya.


Duh mati aku! Besar lagi!


Batin nya yang semakin berusaha melepaskan ciuman pria itu karna tau hasrat pria itu sekarang menjadi naik lagi.


Setelah melepaskan ciuman bibir nya pria itu turun mencium lengkung leher gadis itu sembari mer*mas bokong yang duduk di atas paha nya dengan gemas.


Ciuman yang semakin turun hingga membuat Louise perlahan kembali hanyut lagi dan mulai memeluk punggung pria yang sedang menciumi nya dan memainkan bagian privasi nya di balik air.


"Sekali saja yah? Aku lelah...


Tadi habis lari sama belajar bela diri..." ucap Louise lirih saat pria itu ingin melakukan penyatuan nya.


"Bisa...


Kalau kau membuat ku mengeluarkan nya lebih cepat..." bisik James dan mulai melakukan penyatuan nya.


Walaupun gadis yang duduk diatas pangkuan nya namun tetap ia yang bergerak paling aktif.


"Ungh!" lenguh gadis itu setelah beberapa saat kemudian.


"Kau duluan? Hm?" goda James sembari semakin menaikkan ciuman nya ke bibir gadis itu.


"Ma-makanya jangan sambil di gigit juga..." ucap Louise dengan mengatur nafas nya karna pria itu tak hanya bergerak dari bawah namun juga mengigit lembut dan menghisap dada nya yang membuat nya semakin hilang kendali.


James hanya tersenyum dan merubah posisi nya lalu mulai melakukan nya lagi.


Setelah beberapa saat ia mulai ingin mencapai puncak nya.


"James! Ja-jangan di dal- humph!" ucap nya terpotong ciuman panas dan merasakan lagi pria itu sudah memenuhi tubuh nya.


James pun kembali mengganti posisi nya dan meletakan gadis itu di atas di dada bidang nya setelah ia menyelesaikan hasrat nya.


Nafas yang masih belum teratur dan terdengar jelas deruan nafas yang masih saling beradu itu setelah olahraga panas nya.


"Kenapa tadi kau tidak melepaskan nya? Aku sedang masa subur! Kalau KB nya tida-"


"Kalau begitu kau akan hamil," potong James segera karna tak ingin mendengarkan protes gadis itu.


"Tapi aku tak mau hamil sekarang! Aku masih mau dengan kehidupan ku!" sentak Louise segera.


Ia belum siap jika harus hamil dan menjadi seorang ibu sedangkan ia sendiri masih belum mengetahui dengan jelas perasaan sesungguhnya pria yang saat ini baru saja melakukan hal itu pada nya.


"Sekarang atau nanti sama saja, kan? Kenapa kau sangat tidak mau menerima anak dari ku?!" tanya James dengan nada penuh penekanan yang merasa gadis itu tak mau menerima benih nya.


Louise diam tak bisa menjawab pertanyaan yang di barengi dengan tatapan setajam silet itu pada nya.


Kau terlalu misterius...


Aku tak mau melukai hidup anak ku nanti nya...


Aku bahkan tidak tau kau mencintai ku atau tidak...


Aku juga tidak tau apa kau juga punya perasaan yang sama seperti perasaan ku...


Kau berbahaya...


Aku takut suatu saat kita tak akan bisa menatap seperti ini lagi...


......................



Elouise Steinfeld Rai



Clara Olivia