
Gadis itu mengepalkan tangan nya dengan erat sembari menatap tajam ke arah pria di depan nya.
Rian melihat dengan senyuman di wajah nya membuat Louise semakin menahan gejolak amarah nya.
"Kau tak mendengar ku?! Keluar!" ucap Louise dengan amarah dan dan membentak pria paruh baya itu.
"Kau yakin ingin mengusir ku? Bagaimana kalau aku memberi mu bukti kalau kakak mu tak bersalah?" tanya Rian pada gadis itu.
Louise mengerutkan dahi nya menatap heran ke arah pria paruh baya itu, ia bingung apa maksud dan rencana pria di depan nya.
"Bagaimana aku percaya?! Kau yang mengirim kakak ku ke penjara!" ucap Louise dengan menahan amarah nya.
"Kau masih marah dengan yang ku katakan tadi? Aku hanya bercanda, aku tak menggunakan rumah ini sebagai pinalti tapi aku tak berbohong sama sekali tentang mengeluarkan kakak mu dari penjara." jawab Rian sembari memberikan flashdisk dari kantung jas nya.
Louise pun mendekat dan mengambil flashdisk yang berisi ketidakbersalahan sang kakak serta rencana yang di susun dan semua nama yang berkhianat pada kakak nya.
"Kenapa tiba-tiba memberi ku ini?" tanya Louise setelah melihat data-data dan file percakapan tentang rencana penjebakan untuk sang kakak.
"Karna Louis harus keluar dari penjara." jawab Rian enteng pada gadis itu, dan semakin membuat Louise bingung.
"Bagaimana? Kau sudah merasakan sendiri akibat dari keputusan konyol mu? Semua yang ku katakan benar kan? Kau hanya seperti cacing yang menggeliat di tanah yang kering." sambung Rian dengan wajah dan nada serius pada Louise.
"Aku tak mengerti! Kenapa kau harus mengirim kakak ku ke penjara dan menjebak nya!" ucap Louise sekali lagi yang tak mengerti jalan pikiran pria itu.
"Untuk memberi tau mu sebodoh apa keputusan mu dulu dengan menyerahkan semua hak kuasa mu dan membebani kakak mu dengan pekerjaan yang harus nya kau lakukan. Dan lagi untuk mengajari kakak mu agar tak mengambil keputusan gegabah dan mementingkan logika nya di kemudian hari." jawab Rian pada gadis itu.
Louise terdiam karna ucapan pria tepat pada sasaran nya langsung menyindir akan sikap nya dulu.
"Sekarang kau sudah merasakan nya sendiri kan? Kau lari dari tanggung jawab mu dan memberikan beban pada kakak mu. Menggunakan rasa cinta nya untuk kepentingan mu sendiri yang hanya ingin bersenang-senang dengan melimpahkan semua pekerjaan pada nya." sambung Rian lagi pada gadis itu.
Ia ingin gadis itu sadar akan sikap egois nya yang hanya ingin bersenang-senang dan mengobarkan kesenangan kakak nya sendiri. Ia tau Louis tak akan merasa terbebani dengan sikap adik nya karna rasa sayang nya yang liar biasa akan saudari nya.
Tapi jika di kemudian hari dan timbul hari yang dimana pria itu masuk akan jebakan orang lain hanya karna si kembar masih bergantung pada nya maka JBS grup hanya akan hancur.
Jika seseorang pun memberi bantuan nanti nya, bantuan itu juga akan dapat menjadi boomerang di kemudian hari, dan yang paling bisa membantu hanya diri sendiri.
"Tapi apa harus dengan cara seperti ini?!" tanya Louise lagi sembari meremas ponsel yang masih terpasang flashdisk berisi data dari bukti ketidak bersalahan sang kakak.
"Hm...
Kalau tidak seperti kau tak akan tau kesalahan mu, dan kalau tidak seperti ini juga kakak mu tetap akan bersikap ceroboh hanya karna berfikir aku tetap membantu nya." jawab Rian pada gadis itu.
"Ini adalah tes untuk kalian, tes yang harus di rasakan secara nyata. Kalian perlu hancur lebih dulu agar nanti nya tak menghancurkan apa yang di bangun ayah kalian." sambung pria paruh baya itu pada Louise.
"Kami tak mungkin menghancurkan apa yang di buat Papa untuk kami! Dan lagi kau-
Bukan! Apa paman tak percaya dengan kemampuan kami?! Dengan kemampuan kakak ku?!" tanya Louise lagi dan kembali memanggil pria itu sebagai Paman.
"Bukan nya tak percaya, tapi kalian terlalu pintar hingga menjadi ceroboh, satu kesalahan dan cela hanya karna sikap ceroboh yang sedikit bisa menyebabkan masalah. Aku sudah melakukan satu kesalahan kecil maka dari kalian tak boleh melakukan hal yang sama lagi." jawab Rian pada gadis itu.
Sikap yang terlalu genius dan terlalu mempercayai keputusan tanpa memikirkan jangka panjang dan semua kemungkinan yang dapat terjadi atau bisa di sebut kecerobohan akan dapat menghancurkan perusahaan yang di bangun sahabat nya.
Kesalahan yang membuat cela saat dirinya tiba-tiba harus mengurus JBS sendiri saat Hazel melepaskan urusan perusahaan pada putra nya yang belum matang dan membiarkan sahabat nya menangani secara mendadak dan membuat rahasia eksperimen bisa memiliki cela.
Dan cela itu lah yang diambil James saat menyelidiki gadis cantik itu. Walaupun setelah itu ia langsung menutup dan menghapus semua jejak namun hal itu tetap saja meninggalkan noda.
"Aku akui runtuhnya konstruksi JBS farmasi karna aku yang salah dalam mengawasi mereka, tapi aku juga sudah menyembunyikan orang itu dan akan membiarkan kakak mu mengambil keputusan." sambung Rian pada Louise yang mengatakan dengan nada rasa bersalah atas kecelakaan yang terjadi pada Louis.
"Tapi cara seperti ini terlalu kejam!" ucap Louise lagi pada pria paruh baya itu.
"Kau tau? Mutiara yang indah datang dari rasa sakit. Baja yang kuat hadir setelah di leburkan, pedang yang tajam ada karna harus diasah setiap hari." ucap Rian memberikan arti pada gadis itu.
"Kalian harus mengalami rasa sakit untuk membangun karakter dan mengetahui di mana letak kekurangan diri kalian sendiri." sambung nya lagi pada gadis itu.
Rian beranjak bangun dan mengajak gadis ke kantor polisi guna menyerahkan bukti ketidakbersalahan Louis.
Dua hari waktu yang cukup berat untuk menguji kekuatan mental dan mencari tau bagaimana reaksi kedua anak nakal itu.
Waktu yang cukup untuk membangun kedewasaan mereka dalam menghadapi situasi dan agar tak ada situasi yang benar-benar nyata seperti ini di kemudian hari.
......................
Kantor kepolisian pusat.
Louise masih berada di mobil yang sama dengan pria yang membawa jeratan pada kakak nya, ia menggenggam bukti ketidakbersalahan itu di tangan nya dengan erat.
"Kalau aku melaporkan ini, bukan kah semua direktur tak terkecuali paman akan di tangkap?" tanya gadis itu lagi.
Karna jika ia menggunakan bukti itu maka pria paruh baya yang berada di sebelah nya yang nanti akan di tangkap bersama para direktur pengkhianat.
"Bukan nya itu sebanding untuk proses kedewasaan kalian? Sebanding untuk JBS grup tak akan hancur?" jawab Rian pada gadis cantik itu.
Banyak yang di korban kan dalam rencana nya, kekecewaan istri dan putra nya. Rasa sakit dari si kembar dan bahkan dirinya sendiri yang harus memiliki catatan kriminal.
Ia tau Louis tak akan benar-benar mengikuti arahan nya jika tidak di tempat kan di situasi yang benar-benar mendesak nya. Ia tau jika pria itu masih memiliki sifat keras kepala dan juga gegabah.
"Setelah ini, bisakah kau menemui Zayn?" ucap Rian sesaat ketika gadis itu akan keluar.
"Kenapa dia tidak menemui ku?" tanya Louise pada pria itu, karna selama dua hari sahabat nya tak menemui nya sama sekali.
"Aku menahan nya, aku tak ingin dia merusak skema nya, jadi aku tak bisa membiarkan dia keluar dari apart nya." jawab pria paruh baya itu pada Louise.
Selama dua hari putra tunggal nya terus mencari celah agar bisa menemui sahabat cantik nya dan mencari dokumen di apart nya agar bisa membuat bukti ketidakbersalahan Louis.
"Apa harus seperti itu untuk membuat rencana mu agar tak gagal?" tanya Louise pada pria paruh baya itu sekali lagi.
"Ya, harus seperti itu." jawab Rian dan keluar dari mobil nya.
Louise pun menemui kakak nya sebentar dan mengetakan secara singkat tentang rencana yang di simpan Rian setelah itu ia keluar dan mengurus bukti nya agar sang kakak tak sempat memiliki catatan kriminal.
Ruang introgasi.
"Kau masih marah pada ku?" tanya Rian saat menatap tatapan tajam pria itu pada nya.
"Kalau hanya ingin membangun kedewasaan kenapa harus sampai sejauh ini?!" tanya Louis pada pria di depan nya, ia tau sekilas karna adik nya telah mengatakan yang sekilas.
"Kau ingat apa yang pernah ku katakan? Jangan memotong rumput liar di kebun mu tapi cabut akar nya dan beri racun kan?" ucap Rian pada pria di depan nya.
"Tapi apa yang kau lakukan pada direktur di JBS farmasi 5 bulan yang lalu? Kau langsung memecat tanpa mencari akar nya. Sedangkan masalah internal akan tetap tumbuh karna lebih banyak yang tidak mendukung mu dan terlalu banyak yang bersembunyi di balik rumput liar lain nya." ucap Rian pada pria itu.
Kalau ia tak menjadi tanah yang mencari akar dari rumput liar nya tak akan pernah bisa membasmi dari seluruh akar nya.
"Aku akan minta maaf untuk kecelakaan mu karna memang itu kesalahan ku. Hal itu terjadi di luar rencana ku." ucap Rian pada pria itu.
"Tak mau! Masih kesal!" ucap Louis mendengus tanpa melihat wajah pria itu ia masih kesal dan tak ingin memaafkan dengan mudah.
"Iya! Louise nangis karna ulah rencana paman!" ucap Louis mengingat air mata adik nya.
"Dia harus menangis untuk tetap kuat, menangis bukan berarti lemah. Itu hanya simbol dari pertahanan perasaan dan diri sendiri." balas Rian pada Louis.
"Oh iya, dari mana kau dapat data tentang direktur Jacob? Seharusnya kau tak bisa mendapat data nya." tanya Rian pada Louis menanyakan tentang dari mana pria itu mendapat informasi yang harus nya tak ia dapatkan dan hampir membuat rencana nya rusak.
Louis diam sejenak ia mendapatkan nya dari pria yang ia anggap selalu mengganggu adik nya.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan para direktur pengkhianat itu?" tanya Rian saat melihat wajah putra sahabat nya yang tengah memikirkan sesuatu.
"Paman kan juga berkhianat!" ucap Louis pada pria paruh baya itu.
"Aku kan berada dalam posisi abu-abu, jadi aku mengkhianati sekaligus membantu membereskan masalah internal sampai tuntas kan?" jawab Rian terkekeh. Ia sama sekali tak menyesali keputusan nya.
Karna dengan rencana nya ia sudah bisa mencari semua seluk beluk dan biang dari masalah internal yang nanti nya akan terus timbul di kemudian hari.
Louis membuang wajah nya dengan kesal, walaupun cara ini sangat berfungsi namun cara ini juga sangat kejam, tapi ia tau dengan cara yang kejam itu ia bisa mendapatkan suatu pengalaman yang membangun karakter nya lagi.
"Lalu setelah ini bukan nya paman akan segera menjadi pelaku pidana?" tanya Louis lagi.
"Hm...
Tapi aku bisa bayar pinalti dan penahanan di rumah tanpa harus masuk penjara." jawab Rian, karna ia tau setiap konsekuensi dari rencana nya.
"Lalu bagiamana dengan posisi wakil Presdir?" tanya Louis lagi yang harus memikirkan perpindahan kedudukan.
"Louise yang akan jadi wakil Presdir." jawab Rian dengan enteng seakan beban nya telah hilang.
"Dia mau?" tanya Louis lirih karna ia sangat mengenal sifat kepribadian dari adik nya.
"Dia mau...
Dia sudah tau di mana letak kesalahan nya, dia tak akan menunggu ada kesalahan yang kedua, dia sudah dewasa..." jawab Rian dengan tersenyum pada Louis.
......................
Apart Sky Blue.
Louise mendatangi apart teman nya dan benar saja terdapat 5 pengawal yang mengurung teman nya itu dan pergi setelah ia datang.
"Zayn?" ucap nya setelah mengetuk pintu kamar pria itu sesaat setelah mengusir para pengawal yang berjaga.
Zayn pun langsung mengandah saat mendengar suara gadis itu ia mencoba meraih lagi gagang pintu yang tak bisa di buka sekeras apapun usaha nya.
"Louise..." ucap nya lirih saat melihat gadis itu berada di balik pintu dan berdiri di depan nya.
Greb...
Satu tarikan langsung membuat gadis itu masuk kedalam pelukan nya, ia sama kacau nya dengan gadis yang ia sukai.
Namun karna kehidupan nya masih di atur sang ayah membuat nya harus terkukup dan tak bisa maksimal dalam melindungi gadis yang ia sukai.
"Ayo! Kita ke apart Papa! Kita cari yang bisa membebaskan Louis!" ucap pria itu sembari langsung menarik tangan gadis cantik itu.
"Zayn...
Sudah selesai kok sekarang..." ucap Louise saat melihat kondisi pria yang mirip dengan nya.
Sama-sama kacau dan tak beraturan. Louise yang memikirkan kakak nya dan sahabat tampan nya yang terus memikirkan diri nya.
Zayn pun menoleh dan melihat gadis itu dengan tatapan nanar nya.
"Maaf...
Aku tak bisa lakukan apapun...
Aku tidak cukup kuat untuk mu..." ucap nya lirih yang sadar jika dirinya masih belum mampu melindungi gadis yang ia sukai.
Bahkan perubahan emosi nya sudah dapat di tebak sang ayah, maka dari itu Rian sengaja mengurung nya. Ia ingin membuat putra nya memiliki sikap ambisius dalam hal yang di inginkan.
Sejauh dan sepanjang itu rencana nya dalam membanting dan menarik anak-anak yang tumbuh dalam pengawasan nya guna menuju proses pengenalan diri mereka masing-masing.
Memang ini cara yang kejam namun dengan cara yang kejam ini lah yang akan membuat mereka kuat tanpa bergantung dengan orang lain.
"Tidak apa-apa...
Kau hanya cukup selalu memihak ku saja, walaupun aku nanti mendorong mu menjauh jangan pergi dengan mudah...." ucap Louise pada pria yang menunduk sedih karna tak dapat melakukan apapun.
Zayn menatap gadis itu lagi, ia tau ia tak akan bisa melindungi gadis nya jika masih berada dalam jalur yang berbeda. Ia harus masuk ke dunia gadis itu agar bisa mendekap nya
Perlahan pria tampan itu mendekati dan kembali memeluk dengan erat tubuh Louise yang masih berdiri di hadapan nya.
Walaupun Louise sempat merasa kesal karna Zayn adalah putra dari pria yang membuat kakak nya mengalami kesulitan namun ia tau sahabat nya tak memiliki andil sama sekali dan masih terus mendukung nya.
"Aku...
Ingin lebih kuat...
Untuk bisa melindungi mu..." ucap Zayn lirih saat memeluk erat gadis itu.
Ia tak pernah merasakan adrenalin seperti ini, hasrat yang menggebu dalam menginginkan sesuatu.
......................
Mansion Dachinko.
Nick membawa kabar terbaru tentang perkembangan kasus Louis pada James.
Pria tampan itu tersenyum simpul saat mendengar nya.
"Ck, dia benar-benar ingin menghancurkan baja..." gumam James lirih di sela tawa kecil nya.
Tebakan kedua nya benar, karna walaupun orang kepercayaan gadis nya mengkhianati namun Rian tak memakai media dan bahkan menekan media tentang Louis yang di jemput polisi.
Karna saat Louis masih dalam masa penahanan introgasi saat itu lah yang paling tepat untuk menghancurkan nya dengan menggunakan kemarahan publik dari media.
Tapi jika Rian benar-benar pengkhianat maka tak ada lagi jalan kembali untuk si kembar selain turun bantuan dari langit.
"Sekarang ku harap kau sedikit dewasa..." ucap James mengingat gadis nya yang mengalami kesulitan selama dua hari belakang.
"My girl..." sambung nya lagi dengan senyuman simpul di wajah nya.