
Kediaman Rai.
Louise melihat ke arah gadis yang di bawa sang kakak dalam beberapa hari terakhir sedang bermain dengan kucing-kucing menggemaskan milik nya.
"Clara?" panggil Louise mendekat pada gadis manis itu.
Clara pun menoleh ke adik presdir yang terobsesi padanya.
"Kaki mu sudah baikan?" tanya Louise pada gadis itu.
"Sudah...
Mungkin besok aku sudah bisa pulang...
Maaf, jadi merepotkan mu..." jawab Clara lirih, ia sangat takut membuat teman baru nya itu menjadi tak nyaman dan risih pada nya.
"Kakak ku, kan? Yang membuat kaki mu seperti itu?" tanya Louise langsung.
Clara sempat terkejut dan terlihat gugup saat akan menjawab nya.
"Bu-bukan kok..." sanggah nya lirih, entah kenapa ia takut mengatakan nya. Bukan karna ingin melindungi Louis melainkan karna takut akan apa yang di lakukan pria itu pada nya nanti.
Louise memperhatikan nada bicara dan gerak gadis itu lalu menarik nafas panjang.
"Mau tidur sekamar dengan ku saja?" tawar Louise pada gadis itu, karna semenjak Louis membawa Clara, gadis manis itu memilih tidur di kamar tamu.
"Aku takut merepotkan..." jawab Clara lirih, ia sangat tak ingin menjadi dirinya menjadi beban di orang lain.
"Louis tak pernah masuk ke kamar mu kalau malam?" tanya Louise langsung karna kini ia sudah hafal betul bagaimana sikap kakak nya.
Walau masih ada sejuta bayangan yang tak ia lihat di balik sang kakak.
"Ti-tidak..." sanggah Clara lirih yang tak bisa menyembunyikan kegugupan nya.
Beberapa malam terakhir Louis memang mendatangi kamar nya, namun tidak melakukan apapun, pria itu hanya ingin tidur dengan nya dan kembali saat menjelang pagi. Walaupun hanya sekedar tidur namun Louis tetap mencuri beberapa ciuman dari bibir lembut sekretaris nya.
"Mau tidur dengan ku sampai kau benar-benar sembuh?" ajak Louise lagi.
Clara pun mengangguk perlahan dan menunjukkan senyum manis nya.
Pukul 11.50 PM
Pria itu tampak keluar dengan hati-hati dari kamar nya tanpa tau jika adik nya sudah berdiri di samping pintu kamar nya.
"Mau kemana malam-malam?" tanya Louise mengejutkan pria tampan itu.
"Astaga! Buat terkejut saja!" ucap Louis kaget saat melihat adik nya.
"Mau minum!" jawab nya cepat dengan alasan lain.
"Di kamar mu kan ada minuman!" jawab Louise yang langsung mematahkan alasan sang kakak.
"Clara tidur dengan ku, kau tak bisa ke kamar nya lagi." sambung gadis itu pada sang kakak.
Louis pun hanya diam dan memutar bola mata nya, ia tak ingin berdebat lagi dengan adik nya dan membuat putri bungsu JBS grup itu sakit lagi.
"Mau minum dengan ku?" ajak Louise saat mereka sama-sama diam di tempat tak memiliki obrolan sama sekali.
"Kau tak boleh minum alkohol." ucap Louis singkat pada adik nya.
"White wine...
Aku pilih yang kadar nya rendah nanti." ucap Louise dan turun ke tangga.
Louis pun mengikuti langkah sang adik. Gadis itu mengambil wine dari ruang bawah tanah yang menyimpan minuman beralkohol dari kadar rendah hingga tinggi yang berharga jutaan dolar.
"Louis? Menurut mu kenapa dulu kita tak boleh masuk kesini? Ini seperti kamar kan?" tanya Louise saat ia selesai mengambil minuman nya dan melewati ruang putih.
Ruangan yang tak pernah lagi di gunakan sejak sang ibu hampir mati dan kehilangan dua tahun nya di ruangan yang pernah melayangkan nyawa yang tak terhitung jumlah nya hanya untuk kesenangan sang ayah.
Namun kini semua alat penyiksaan dan barang-barang mengerikan di dalam nya sudah di bersihkan dan di buang, hanya menyisahkan ruangan hampa yang kosong berwarna putih.
"Entahlah, mungkin karna kau penakut?" jawab pria itu asal.
"Aku tak penakut!" sanggah sang adik langsung dan pergi berlalu.
Setelah kembali naik dari ruang bawah tanah Louise duduk sembari membawa sebotol white wine di tangan nya.
"Sini aku yang tuang." ucap Louis mengambil botol tersebut dari tangan adik nya dan menuangkan ke gelas gadis cantik itu.
"Cheers?" tanya Louise mengangkat gelas nya pada sang kakak.
Ting...
Louis pun mengadukan kedua gelas itu hingga membuat suara harmoni yang terdengar.
"Kau menyukai Clara kan?" tanya Louise saat ia sudah meminum seteguk white wine nya.
"Hm..." jawab Louis singkat.
"Biar ku beri tau sesuatu..." ucap gadis itu dengan suara pelan hingga membuat saudara kembar nya sedikit mendekat pada nya.
"Dia...
Tak akan menyukai mu." sambung Louise pada kakak nya.
"Kenapa? Aku kurang apa? Semua yang dia butuhkan aku bisa berikan!" ucap Louis pada adik nya. Rasa suka yang membuat logika nya hilang dan ia memang tak tau bagaimana memikat wanita.
"Sikap! Sikap mu itu nol besar!" jawab Louise agar pria itu tau dimana kekurangan nya.
"Sikap? Memang nya apa yang salah dari sikap ku?" tanya Louis bingung.
"Siapa sih yang kau turun? Mamah makan apa sih waktu hamil diri mu?" tanya gadis itu bingung.
"Kalau bukan Mamah yah aku nurun Papah! Lagi pula kita kan satu perut satu periode, mana tau siapa yang buat Mamah ngidam aneh!" jawab pria itu kesal.
"Terus saja begitu! Nanti Clara makin tidak suka dengan mu!" ucap Louise pada sang kakak dan kembali meminum sisa white wine di gelas nya.
"Kau tidak mau dia jadi kakak ipar mu?" tanya Louis frontal dan langsung membuat gadis itu tersedak.
"Uhuk!"
"Pelan-pelan Louise..." ucap Louis sembari mengusap punggung adik nya perlahan.
"Memang nya kau mau menikah dengan nya? Dan yang paling utama, dia mau menikah dengan mu?!" tanya Louise sembari mengusap bibir nya dengan punggung tangan nya.
"Kalau tidak mau yah tinggal di paksa, kalau tidak aku kasih kau keponakan dulu baru nanti kakak ipar mu menyusul." jawab pria itu dengan tanpa beban.
"Kenapa pria sialan ini yang menjadi kakak ku?" ucap Louise dan langsung bangun, ia mengangkat tangan nya dan...
Bug!
"Aduh! Kau memukul kakak mu?!" ucap Louis sembari memegang belakang kepala nya yang baru mendapatkan pukulan.
"Kalau dia tidak mau menikah dengan mu, aku yang menjadi pendukung no satu nya! Lagi pula dia tak akan bisa suka dengan mu kalau sikap mu terus seperti ini!" ucap Louise pada sang kakak.
"Memang nya sikap ku seperti apa?" tanya Louis dengan nada kesal.
"Pemaksa, keras kepala, tak mau kalah, mengintimidasi! Oh iya kau juga memiliki rasa simpati yang kurang! Perhatian juga!" jawab Louise pada sang kakak.
"Aku seperti itu yah?" tanya Louis pada adik nya.
"Bukan dengan ku tapi dengan nya...
Aku hanya memberi mu saran, kalau kau mau dia menyukai mu perlakukan dia seperti kau memperlakukan ku..." jawab Louise pada sang kakak.
"Kenapa kau mau membantu ku?" tanya Louis lagi saat melihat adik nya kembali ke kamar.
"Pertama karna kau kakak ku...
Kedua karna yang sudah merusak nya, setidak nya kau harus memperbaikinya sendiri." jawab Louise dan melanjutkan kembali langkah nya.
Sebagai adik tentunya ia ingin kakak kesayangan nya itu bahagia dengan bersama gadis baik yang juga di cintai nya. Namun ia juga tau seberapa banyak sang kakak merusak kehidupan gadis baik itu.
......................
Ke esokkan hari nya.
Mall.
Gadis itu terlihat senang memasukkan bola basket ke keranjang bermain di zona bermain yang di sediakan mall tersebut.
"Lihat! Poin ku lebih banyak kan?!" tanya Louise dengan senyum cerah nya pada sahabat tampan nya.
"Iyah...
"Mau es krim sama towel crepe cake!" jawab Louise cepat dengan mata berbinar.
"Ayo..." jawab Zayn tersenyum lembut sembari menggenggam tangan kecil gadis itu dan mengandeng nya membawa keluar.
Siapapun yang melihat hal itu pasti akan mengira jika kedua orang yang terlihat serasi itu adalah pasangan kencan dan bukan nya teman.
Restoran.
"Suka?" tanya tanya Zayn saat melihat gadis itu yang semangat memakan towel crepe cake matcha tersebut.
"Suka! Kau tau dari mana tempat ini?" tanya Louise saat pria itu membawa nya ke restoran yang membuat konsep alam dan terlihat sangat mewah.
"Katanya dessert disini yang paling enak, jadi aku memikirkan mu saat mengetahui nya." jawab Zayn tersenyum.
"Unch...
Manis nya my baby Zayn..." ucap Louise gemas sembari mencubit pipi pria itu.
Pria tampan itu tak bisa menahan senyum di bibir nya, jujur saja ia sangat suka perlakuan gadis itu pada nya.
"Mau coba donat nya juga?" tawar Zayn pada gadis itu.
"Mau!" jawab Louise yang langsung mengiyakan.
"Roti bakar mu juga mau coba itu." sambung gadis itu lagi sembari melirik ke arah makanan pesanan teman nya.
"Kalau kau mau ambil saja sendiri! Kalau bisa sih." ucap Zayn tertawa dan memakan roti nya.
Hap...
Gadis itu sedikit bangun dan memakan roti yang sedang di makan pria itu.
Zayn terkejut dan terdiam sesaat, pandangan mata mereka bertemu sebentar serta hidung yang saling bersentuhan.
Kiss bread...
Seperti ciuman dengan batas roti yang di makan pria itu.
"Lumayan...
Tapi tidak terlalu manis." ucap Louise sembari mengunyah makanan di mulut nya.
Deg...deg...deg...
Jantung pria itu berdegup kencang namun gadis yang membuat nya berdebar malah terlihat biasa saja seperti tak melakukan apapun.
"Zayn? Kenapa diam saja?" tanya Louise sembari mengibaskan tangan lentik nya ke wajah pria tampan itu.
"Eh? Iya?" jawab Zayn linglung yang baru tersadar dari pesona yang di berikan gadis cantik itu.
"Kenapa? Marah aku makan roti bakar nya?" tanya Louise sembari menyodorkan towel cake nya.
"Bukan kok..." ucap Zayn sembari menolak suapan gadis itu.
"Tuh kan marah! Ini makan nih..." ucap Louise lagi sembari tetap menyodorkan sendok yang berisi cake itu pada Zayn.
"Nanti pacar mu marah kau menyuapi ku..." ucap Zayn pada gadis itu.
"Aku kan lebih menyukai mu..." jawab Louise tersenyum dan membuat pria itu memakan cake yang ia berikan.
Zayn memandang gadis itu dengan sejuta senyum di wajah nya, rasa ingin memiliki yang semakin hari semakin menumpuk pada dirinya untuk gadis itu semakin sulit untuk mengendalikan nya.
Sementara itu...
James sedang mengadakan pertemuan dengan seseorang yang menukar data tentang perusahaan yang ingin ia hancurkan di sebuah restoran.
Restoran yang sama dengan tempat gadis itu berada dengan teman nya.
Sesaat setelah pelayan mengantarkan makanan penutup, mata pria itu tertuju ke arah cake yang terlihat begitu cantik dan manis.
Dia pasti akan menyukai nya.
Batin James membayangkan Louise yang akan semangat dengan mata berbinar nya memakan cake manis tersebut.
Entah sejak kapan pikiran nya mulai di penuhi tentang gadis cantik itu. Ia juga tak mengetahui kenapa bisa sangat tertarik pada gadis itu.
Setelah pertemuan nya selesai ia pun segera beranjak dari ruangan makan tertutup dan kembali ke mansion nya untuk melanjutkan pekerjaan gelap nya itu.
Mau coba?
Suara gadis yang terdengar familiar di telinga nya membuat nya mengehentikan langkah.
Dan benar saja ia melihat gadis itu dengan pria yang juga tak asing baginya. James terdiam sebentar dan memperhatikan interaksi kedua teman berbeda gender itu.
"Mereka hanya berteman kan?" tanya James pada Nick, karna penyelidikan dan info yang ia terima adalah gadis itu tak memiliki dan terikat hubungan romantis apapun pada teman pria nya.
"Benar, sejauh yang saya selidiki mereka hanya berteman." jawab Nick dengan sopan.
James pun melihat dan terus memperhatikan hingga satu sikap Zayn yang membuat pria itu membulatkan kan mata nya sejenak.
Ih! Curang!
ucap gadis itu sembari mengusap coklat di hidung nya.
Kau tadi waktu mengambil roti bakar ku juga seperti itu.
balas Zayn tertawa dengan riang sembari mengunyah donat di mulut nya. Ia melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan gadis itu hanya saja kali ini sikap nya di lihat langsung oleh pria yang masih menjadi kekasih Louise.
"Kita kembali!" ucap James geram yang merasa sangat jengkel dan marah di waktu bersamaan.
Seharusnya aku tak marah kan? Tapi kenapa sekesal ini?!
Pria itu merasa bingung pada dirinya sendiri, pasal nya ia selalu mengatakan dan mengucapkan pada diri nya jika ia tak akan memiliki perasaan lebih apalagi cinta pada gadis itu.
......................
Kediaman Rai.
Clara terkejut dan beringsur menjauh dari duduk nya saat pria itu mulai mendekati dan menjatuhkan dirinya di sofa sebelah gadis itu duduk.
"A-ada apa?" tanya Clara takut karna saat ini teman nya yang merupakan adik dari pria yang ia anggap brengsek itu sedang tidak ada.
"Kau setakut itu padaku?" tanya Louis pada gadis itu.
Dia tak akan menyukai mu.
Seketika ucapan sang adik menggema di telinga nya begitu melihat wajah was-was sekretaris manis nya.
Clara diam dan membuang wajah nya, siapa yang tidak takut pada pria yang sudah berulang kali memaksakan nafsu pada dirinya.
"Kau sudah putus dari pacar mu?" tanya Louis lagi.
Clara tersentak, ia sama sekali belum memutuskan Reno karna berat baginya memutuskan hubungan pada pria yang mulai membuat nya jatuh hati.
"Su-sudah..." jawab Clara berbohong karna takut akan kegilaan pria di samping nya.
Senyum Louis merekah begitu mendengar jawaban gadis itu. Ia pun menggeser tubuh nya dan mendekati Clara.
"Tipe pria apa yang kau sukai? Ayo mulai hubungan dengan ku..." ucap Louis pada gadis itu.
"Kalau aku katakan, kau akan seperti itu?" jawab Clara dengan pertanyaan lain.
"Tentu, aku ingin membuat mu menyukai ku!" jawab Louis semangat.
"Perhatian, tidak suka memaksa, menghargai dan menghormati ku sebagai wanita...
Dan pintar memasak." jawab Clara yang tak ada satupun poin yang di miliki Louis di dalam nya.
"Baik...
Aku akan seperti itu, tapi jangan berhubungan lagi dengan mantan pacar mu..." jawab Louis pada gadis itu.
Clara terdiam, ia bahkan masih tak tau bagaimana cara memutuskan Reno. Hati nya berat dan tak ingin membuat pria itu terluka.
"Kali ini aku mempercayai mu...
Jadi jangan rusak kepercayaan ku, dengan begitu aku juga akan lakukan hal yang sama..." ucap Louis lagi pada gadis itu dan mengelus rambut nya dengan perlahan.
Clara mengangguk lirih tanda ia mengerti pada ucapan pria itu.
Tidak akan terjadi apapun kan? Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Gadis itu bahkan tak tau petaka apa yang ia mulai dari kebohongan kecil nya pada pria yang sangat sedikit memiliki empati dan simpati tersebut.