
2 Bulan kemudian.
Kediaman Hazel.
Alyss menatap dan mengayunkan keranjang bayi-bayi nya sembari menatap lembut ke arah mereka, melihat para malaikat kecil nya yang tertidur membuat nya ikut tenang.
Flashback on
"Lalu kalian sudah temukan yang cocok?" tanya Alyss pada para prof yang mengembangkan JBS Farmasi.
"Kami perlu uji coba, tetapi kami belum temukan orang bersedia untuk di jadikan eksperimen sehingga proses nya sedikit lama agar kami bisa menemukan yang benar-benar sesuai." jawab para prof lesu.
Alyss tersenyum getir mendengar hal itu, siapa yang akan mau melalui siksaan untuk mendapatkan obat yang sesuai bagi orang lain, walaupun dibayar berapapun mereka pasti tak akan mau melewati rasa sakit yang melebihi penyiksaan itu.
"Penyebaran nya sudah sampai? Kenapa kalian tidak memberi ku hasil tes terakhir?" tanya Alyss pada para prof.
"Penyebaran di jantung sudah 15% dan penekanan sistem syaraf sudah sampai di batang otak dan hampir 25%" jawab para prof tersebut sembari memberikan hasil tes wanita itu dengan ragu-ragu.
Alyss sekali lagi memejamkan mata nya dan menatap ke arah para prof yang sudah bekerja mati-matian agar bisa menyelamatkan nya.
Bibir tipis itu mulai tersenyum menatap ke arah pria dan wanita paruh baya yang sudah menjadi senior dalam bidang medis tersebut.
"Tidak usah takut...
Kalian sudah lakukan yang terbaik...
Terimakasih...
Atas kerja keras kalian..." ucap Alyss sembari tersenyum memuji pekerjaan para prof tersebut.
Walaupun mereka di berikan bayaran yang sangat setimpal namun ia juga harus mengakui dan berterimakasih karna ia juga bisa tetap hidup dan melahirkan para malaikat kecilnya.
Flashback off
"Sayang...
Kenapa? Lapar?" tanya Alyss lembut pada putri yang terbangun dan menggeliat sesaat.
Tangan nya mulai menggapai tubuh putri kecil itu, dan menggendong nya.
Mata nya mulai menatap polos dan wajah yang mulai berubah menandakan sebentar lagi akan...
Huaaa....
Huee... Huhu....
"Louise kenapa nak?" tanya Alyss sembari menggendong dan menjauhkan dari putra agar tak ikut terbangun dan menangis.
Putri kecil itu tak mau di beri asi dan terus rewel, ia memang sudah rewel sejak awal sangat mudah menangis.
Nnyyyaahhh....
Setelah kurang lebih 10 menit bayi cantik itu tak lagi menangis dan tertawa serta tersenyum polos menatap ibu nya.
"Sayang...
Jadi anak baik yah..." ucap Alyss tersenyum pada putri nya sembari mengecup gemas wajah mungil itu.
Huaa...
Huhu....
Terdengar suara tangisan bayi yang lain yang ia tinggal dengan para pengasuh saat ia menenangkan putri nya.
"Aduh...
Kakak mu nangis juga..." ucap Alyss pada putri nya.
Belum sampai langkah nya menemui putra nya tangisan itu perlahan mulai hilang.
Langkah nya terhenti melihat pria yang sedang tersenyum sembari menatap hangat ke arah bayi mungil itu.
Pangeran kecil itu tak rewel lagi saat ia di gendong oleh ayah nya, berbeda jika dengan para pengasuh. Butuh waktu lama untuk membuat si kembar diam jika tak di tangan orang tua nya.
"Kau sudah pulang?" tanya Alyss sembari menghampiri pria itu.
"Sudah...
Mereka rewel sekali yah?" tanya Hazel sembari mengendong putra nya yang terlihat tenang.
Alyss tak menjawab pertanyaan dan hanya melemparkan senyum nya pada pria yang menjadi suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya.
"Kalau mereka terus rewel...
Kita kapan buat adik untuk mereka lagi?" tanya Hazel sembari menatap ke arah istrinya dan menurunkan pandangannya pada dada putih yang sedikit tersingkap karna berusaha memberi asi pada putri nya.
"Mesum!" jawab Alyss kesal namun tertawa ia menurunkan Louise di keranjang bayi dan membenarkan kancing dress nya yang terbuka.
Hazel hanya tertawa kecil sembari ikut menurunkan putra nya di sebelah adik nya.
"Kenapa di tutup...
Aku kan masih mau lihat..." ucap Hazel sembari mendekati istrinya.
"Janganlah! Malu dilihat anak kecil!" jawab Alyss sembari menyingkirkan tangan suaminya yang ingin membuka kembali kancing pakaian nya.
"Mereka kan masih gak tau apa-apa..." jawab Hazel enteng.
"Yah engga disini juga..." jawab Alyss kesal, mereka sedang berada di ruang yang menghadap langsung ke taman dengan dinding kaca yang besar.
"Kan tidak apa-apa jika tidak ada yang lihat..." jawab Hazel santai dan mulai mel*mat bibir tipis wanita di depan nya.
Hummpphhh....
Perlahan ia mencium dan menggigit bibir tipis itu sampai istrinya mau membuka mulut nya dan membiarkan lidah nya untuk masuk.
Deg...
Mata wanita cantik itu terbuka dan terbelalak sebentar saat ia tiba-tiba merasakan sakit di dada nya secara mendadak.
Humph!
Tangan kecil itu langsung mendorong tubuh bidang suaminya yang sedang menciumnya dengan candu.
"Kenapa?" tanya Hazel bingung karna terkejut tiba-tiba istrinya mendorong nya dan melepaskan ciuman nya.
"Pe-perut ku tiba-tiba sakit..." jawab Alyss berbohong dengan nafas yang terengah-engah.
"Perut mu sakit? Sangat sakit?" tanya Hazel khawatir sembari memegang bahu istrinya yang menunduk sedang merintih.
"Bukan sakit yang begitu! Sakit mau ke toilet ini!" ucap Alyss berbohong dan langsung menyingkirkan tangan suaminya.
Wanita itu langsung berlari masuk ke kamar nya dan mengambil beberapa obat pereda rasa sakit nya.
Hah...hah...hah...
Jalan nya tertatih dengan langkah yang berat, pandangan nya mengabur, dada nya terasa sesak dan sakit di saat bersamaan.
Sesampainya di kamar mandi ia langsung menutup rapat pintu nya. Menyalakan air agar pria itu tak mendengar rintihan nya.
Tangan nya bergetar mengambil beberapa pil obat dan kemudian ia mulai memasukkan nya ke dalam mulut nya.
Obat berupa cairan yang di suntikkan langsung lebih berpengaruh namun hal itu dapat meninggalkan bekas suntikan di tangan nya.
Kaki nya terasa lemas membuat nya terjatuh ke lantai, tangan nya mengepal erat memegang botol obat nya.
Sakit....
Ia berulang kali menahan sakit di tubuh nya dan bertahan agar tak pingsan karna rasa sakit yang terus menjalar bagai aliran darah di tubuh kecil nya.
Hazel yang tadinya sempat terdiam beberapa saat karna istrinya tiba-tiba sakit perut membuat nya menyusul ke kamar.
Para pengasuh yang tadi nya pergi karna tuan dan nyonya yang menjaga si kembar pun langsung kembali menjaga saat si kembar sudah tak bersama ayah dan ibu nya lagi.
Hazel yang memasuki kamar pun mendengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi.
"Alyss? Kau sudah selesai?" tanya Hazel sembari mengetuk pintu kamar mandi nya.
"Alyss?" panggil Hazel lagi.
Alyss yang masih menahan sakit pun langsung mengandahkan pandangan nya ke arah pintu yang terdengar samar suara suaminya.
Rasa sakit nya mulai berkurang walaupun belum hilang sama sekali. Ia pun mulai bangun dan mencuci wajah nya serta memakai kembali riasan tipis agar tak terlalu menunjukkan wajah pucat nya.
"Kenapa?" tanya Alyss saat ia membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Lama sekali?" tanya Hazel pada istrinya.
"Ihh...
Namanya juga sakit perut! Lama lah!" jawab Alyss pada suaminya.
"Lanjut yang tadi yuk..." ajak Hazel pada istrinya.
"Isshh...
Itu aja pikiran nya! Aku abis dari kamar mandi juga!" jawab Alyss pada suaminya.
"Terus?" tanya Hazel santai.
"Ihh...
Masa gak ngerasa jorok sih?" tanya Alyss yang tetap dalam mode pura-pura nya.
"Kau kan tetap wangi..." jawab Hazel yang tertawa kecil sembari menempel pada tubuh kecil istrinya.
"Jangan yang aneh-aneh...
Nanti malam saja..." jawab Alyss pada suaminya.
Baru dua bulan pasca operasi pria itu sudah ingin membuat gempa tubuh nya lagi.
"Kalau si kembar bangun gimana? Kita pindah saja yah kamar mereka...
Udah besar juga mereka..." ucap Hazel pada istrinya.
Alyss memindahkan ranjang tidur si kembar ke kamar mereka, ia ingin terus mengawasi putra dan putrinya terus menerus atau lebih tepat nya ia ingin terus bersama dengan anak-anak nya.
"Besar gimana? Masih dua bulan juga! Makanya nanti jangan kasar main nya!" jawab Alyss pada suaminya.
"Kan aku mau dengar suara mu..." ucap Hazel menggoda istri kecil dan memeluk tubuh itu dengan erat saat istrinya ingin berbalik.
Alyss pun merasakan pelukan pria nya membuat nya memegang tangan kekar yang sedang melingkar di perut nya.
"Ku dengar kau sering memanggil dr. Jeny?" tanya Alyss pada suaminya sejak ia bangun setelah operasi caesarnya ia mendengar jika suaminya mulai mencari tau tentang penyakit nya.
Dan dr. Jeny lah yang berusaha mengorek informasi tentang nya.
"Aku baru memanggil nya dua kali..." jawab Hazel jujur pada istrinya. Pertama ia memanggil saat istrinya belum sadar dan yang kedua baru tiga minggu yang lalu karna dr. Jeny belum memberi kabar.
"Dua kali kan itu juga sering!" jawab Alyss, satu-satu nya cara membuat suami nya berhenti mencari informasi tentang nya dari dr. Jeny adalah menuduh pria itu mencoba selingkuh.
"Hanya urusan pekerjaan...
Kenapa kau terlihat sangat marah? Kau tau kan? Siapa yang ku sukai?" tanya Hazel yang mengerti arah ucapan istrinya.
"Gak enak kan? Dituduh? Kalau gak mau di tuduh, jangan bertemu dengan nya lagi!" ucap Alyss yang memancing suaminya agar pria itu berhenti mencari tau.
Hazel pun tersenyum dan membalik tubuh istrinya, ia melihat ke arah wanita yang terlihat kesal itu.
Tangan nya menangkup pipi wanita nya dan mengecup bibir tipis itu sekilas.
"Iya...
Aku tak akan menemui nya lagi..." jawab Hazel pada istrinya.
Alyss pun kemudian tersenyum dan memeluk tubuh bidang suaminya.
"Love you..." ucap Alyss lirih pada pria nya.
......................
Pukul 09.35 PM
Pria itu terus saja bergerak mendusel-dusel wanita nya menagih janji yang di katakan istrinya.
Nanti malam saja....
"Alyss? Sudah malam...
Main yah?" tanya Hazel sembari mulai merubah posisi dan menindih istrinya, ia mengecup dari kening mata dan mulai mel*mat bibir tipis itu.
Tangan nya mulai menjalar masuk kedalam piyama istrinya, ia mer*mas perlahan dada istrinya sembari menurunkan ciuman ke arah lengkung leher jenjang wanita cantik itu.
Engghh...
Desis wanita cantik saat suaminya memainkan puncak dada nya dengan jemarinya dan kecupan yang terus di layangkan oleh pria itu.
"Lain kali yang di bawah juga ga usah dipakai." bisik Hazel dengan suara berat pada istrinya saat ia menurunkan tangan nya dan menyusupkan ke balik kain yang menutupi bagian privasi istrinya.
"Enggh....
Mesum!" jawab Alyss lirih dengan desahan halus pada suaminya, ia memang tak memakai bra agar mudah memberi anak-anak nya asi, dan selain itu melepas atau tidak memakai bra memang baik itu kesehatan wanita. Namun suaminya juga menyuruh nya untuk tak memakai CD.
"Mesum...
Tapi kau suka kan?" jawab Hazel tersenyum dan mulai melepaskan pakaian istrinya.
"Yang ini jangan di mainin terus...
Nanti asi nya keluar..." ucap Alyss mengingatkan pada suaminya agar tak terus memainkan dada nya.
"Kan aku juga haus..." jawab Hazel enteng sembari mencium dan memberi tanda di dada putih itu.
"Jangan an- enghh...." ucap Alyss terpotong saat jemari pria kekar itu mulai memasuki nya.
"Emmhh...
Pe-pelan sedikit..." ucap Alyss yang kesulitan karna ulah suaminya.
Hazel pun tersenyum dan menarik tangan nya saat wanita itu ingin mencapai puncak nya, ia mulai melepaskan pakaian nya saat wanita itu sedang setengah sadar karna merasakan aliran listrik yang aneh di tubuhnya.
"Kenapa ber- Ahh..." ucap Alyss yang langsung terpotong saat pria itu tiba-tiba memasuki nya dan membuat nya langsung melenguh seketika.
"Mmhhh...." Alyss yang berusaha menahan desahan yang keluar dari bibir nya agar tak membangunkan si kembar nya membuat pria yang berada diatas nya semakin bergerak menjadi.
"Jangan di gigit..." ucap Hazel terengah-engah dengan nafas berat pada istrinya sembari menyentuh bibir tipis yang sedang sedang di gigit agar menahan desahan yang akan keluar.
"Haz..el...
Pe..lan... sedikit... hmmhh..." ucap Alyss pada suaminya agar tak semakin membuat gempa tubuh nya.
Pria itu tak mau mendengarkan ia semakin cepat menggerakkan pinggul nya agar bisa mendengar suara manis wanitanya.
Hummpphh....
Alyss langsung menarik tengkuk pria itu dan mencium bibir suaminya, ia terkadang menggigit sesekali dan membuat pria itu semakin berhasrat tinggi.
Decitan ranjang yang terdengar jelas dengan suara nafas berat yang sama-sama terengah-engah memenuhi ruangan tersebut hingga....
Hua...
Huhu....
Huee....
Terdengar suara tangisan bayi yang terbangun karna decitan ranjang yang terus semakin menjadi dan beberapa kali suara desahan ibu nya yang terlepas saat ayah nya sedang menggempakan tubuh kecil itu dengan kuat.
Hazel menghentikan pinggul nya sesaat padahal ia sedang sangat berhasrat. Alyss memandang wajah nya suaminya yang terlihat terkejut.
"Tuh kan...
Udah di bilangin jangan kuat-kuat...
Bangun kan jadinya!" ucap Alyss pada suaminya dan mulai mendorong tubuh bidang itu perlahan agar ia bisa melihat bayi yang sedang menangis.
Hazel pun menahan tangan istrinya dan tak membiarkan wanita itu bangun.
"Tanggung Lyss...
Nanti aja sekalian abis ini..." ucap Hazel dan mulai menggerakkan pinggul nya lagi dan lagi.
"Engghh...
Ha-hazel..." panggil Alyss yang bercampur dengan desahan nya saat suaminya bergerak lagi dan tak membiarkan penyatuan nya terlepas.
"Keluarkan saja suara mu...
Mereka juga sudah bangun..." bisik Hazel dengan suara yang berat dan terengah-engah karna gerakan nya.
Alyss tak bisa lagi menahan suaranya, ia tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa tetap memainkan tubuh nya padahal anak nya sudah jelas-jelas menangis saling bertautan karna jika tangisan dari salah satu bayi itu akan menular pada kembaran nya.
"Engghh..." lenguh Hazel sembari semakin menghentakkan pinggul nya dengan kuat dan melepaskan seluruh vanila nya di dalam tubuh istrinya.
"Sudah...
Jangan lagi...
Mereka nangis terus..." ucap Alyss dengan nafas tersenggal saat suami nya menjatuhkan kepalanya ke lengkung leher jenjang miliknya.
"Masih mau lagi...." ucap Hazel lirih dan mulai menggelitik leher istrinya dengan lidah nya.
"Bangun! Anak nya nangis kok malah yang di pikirin itu aja!" ucap Alyss pada suaminya sembari memukul punggung pria kekar itu.
Hazel pun dengan malas bangun dari tubuh istrinya dan memakai pakaian nya dengan lengkap lagi begitu juga dengan Alyss.
"Anak cantik ganteng mamah nangis yah...
Kebangun yah sayang? Maaf yah..." ucap Alyss lembut sembari meraih tubuh putra nya sedangkan putri nya langsung di angkat oleh suaminya.
"Kalian ini ganggu saja...
Padahal papa uda lama gak main sama mamah mu." ucap Hazel mendengus pada putrinya yang sedang menangis terisak.
"Isshh...
Kok gitu sih?!" ucap Alyss pada suaminya.
"Sini tidur sama papa..." ucap Hazel sembari mengangkat dan mengayunkan tubuh putrinya ke atas seperti bermain boneka.
Alyss tersenyum melihat suaminya yang membawa putri kecilnya dan menidurkan nya perlahan di lengan pria kekar itu.
"Ihh...
Dia langsung tidur yah? Seneng dia sama ayah nya..." ucap Alyss pada suaminya.
"Kenapa? Mamah nya mau di tiduri juga? Sini..." ucap Hazel sembari mengulurkan satu tangan nya lagi.
"Kalau meniduri untuk ku sudah lain kan caranya?" tanya Alyss menggoda suaminya.
"Tentu saja..." jawab Hazel tersenyum nakal.
"Tadi kan udah..." balas Alyss tertawa kecil.
"Masih belum cukup..." jawab Hazel dengan suara yang terdengar menggemaskan di telinga istrinya.
Alyss hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepala nya melihat ke arah suaminya.
Sekitar 15 menit berlalu kedua malaikat kecil itu sudah tak menangis lagi.
"Hazel?" panggil Alyss lirih setelah meletakkan Louis ke keranjang tempat tidur nya, pangeran kecil itu sudah tertidur sama seperti adiknya.
"Hm?" jawab Hazel pada istrinya.
"Sini ku pindahkan Louise..." ucap Alyss pada suaminya.
"Aku suka di seperti ini...
Rasa nya benar-benar seperti memiliki keluarga..." ucap Hazel sembari tersenyum tanpa sadar dan menatap kosong ke arah lain sembari merangkul tubuh putri nya yang tertidur dengan tenang.
"Tentu saja kau punya...
Aku kan juga sudah menjadi keluarga mu..." jawab Alyss sembari mendekati suaminya.
Hazel hanya membalas dengan senyuman, ia tak pernah merasa seperti ini saat ia kecil dulu. Satu-satunya orang yang baik dan menyayangi nya dengan tulus hanya ibunya. Dan wanita itu malah sangat cepat meninggalkan dirinya dengan ayah iblis nya.
"Kita akan tetap seperti ini kan? Kau tak akan pernah meninggalkan ku kan?" tanya Hazel pada istrinya.
Entah kenapa semakin ia merasa bahagia semakin ia takut akan kebahagian itu.
Takut jika dibalik kebahagian yang ia miliki sekarang menyimpan kesengsaraan yang besar di baliknya.
Alyss hanya terdiam dan mengeluarkan sedikit bulir bening di ujung mata nya, namun ia dengan cepat menghapusnya agar tak terlihat jika sedang sedih.
"Aku tak pernah ingin meninggalkan mu..." jawab Alyss jujur pada suaminya.
Tapi aku tak tau takdir apa yang akan bersama kita...
Hazel tersenyum menatap ke arah istrinya dan mengelus pipi halus wanita itu.
"Kau tau kan? Seberapa banyak aku mencintai mu?" tanya Hazel sembari menatap lekat wajah istrinya.
Alyss hanya tersenyum dan menganggukkan kelapanya perlahan sembari menahan serpihan hatinya yang semakin retak setiap kali mendengar kata "cinta" dari suaminya.
Bagaimana aku akan mengatakan kata perpisahan pada mu?
Ku mohon...
Jangan cintai aku terlalu dalam...
Karna aku tak mau kau juga terluka dengan dalam nantinya....
...****************...
Oh iya gabung grup chat othor yah kalau berkenan🤗🤗🙏🙏
Happy Reading♥️♥️♥️