(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Police



3 Hari kemudian.


Hari yang damai kini mulai berubah ke ombak yang siap menghantam dan menerpa orang-orang yang sedang bermain.


Sekumpulan orang-orang serakah yang hanya mementingkan pemasukan dalam dompet nya kini tengah berkumpul menjadi satu dalam satu ruangan nya.


"Ini sudah saat nya, kita tinggal mengirim bocah itu ke penjara!" ucap salah satu direktur.


Sedangkan pria paruh baya yang menatap satu persatu wajah yang ikut dalam rencana licik ini semakin bertambah dan hanya menyisahkan sebagian kecil dari direktur yang memang mendukung kepemimpinan Louis.


"Kita bisa melakukan rencana nya sore ini." ucap Rian dengan rencana selanjutnya yaitu memasukkan putra sahabat nya ke balik jeruji besi.


"Hahahaha...


Aku tidak sabar melihat wajah nya nanti!" sambung salah seorang direktur yang tertawa puas akan rencana jahat nya menjebak orang-orang yang tak bersalah.


Rian tak menyahut ia hanya tersenyum simpul sembari memandang wajah yang tengah berpesta pora malam itu.


......................


Apart Sky Blue.


Louise melihat ke arah sahabat nya yang tengah menyiapkan kanvas dan melukis secara acak.


"Zayn...


Kau tak pernah lukis wajah gadis yang kau sukai?" tanya Louise penasaran.


"Kenapa?" tanya Zayn sembari terus memperhatikan lukisan nya dan membuat sketsa nya.


"Penasaran mau lihat wajah nya, saja.." jawab Louise pada pria yang sedang serius dalam lukisan nya.


Zayn pun berhenti sejenak dan menatap gadis itu yang tengah memakan snack keripik kentang sembari memainkan ponsel nya dan duduk dengan santai di sofa.


"Louise?" panggil Zayn pada gadis itu.


"Kenapa?" jawab Louise dan menatap ke wajah pria yang memanggil nya.


"Kau ingat janji menikah di umur 30 tahun?" tanya Zayn pada gadis itu.


"Ingat? Kenapa?" tanya Louise lagi.


"Kalau kau nanti punya pasangan, bisa tidak menunggu ku menikah lebih dulu? Kau bilang kan kalau tidak ada yang mau menikah dengan ku kau yang akan menikahi ku..." ucap Zayn dengan berusaha mengikat gadis itu dengan janji konyol.


"Mana mungkin tak ada yang mau dengan mu, kau kan melewati semua kualifikasi..." ucap Louise tertawa karna merasa konyol.


Tapi aku mau nya dengan mu bukan wanita lain...


batin Zayn sembari menatap gadis itu. "Kau tidak mau janji?" tanya Zayn lagi pada Louise.


"Iya…


Aku menunggu mu menikah dulu baru aku nikah, kalau tidak ada yang mau dengan mu, nanti aku yang nikahin..." jawab Louise terkekeh dan memakan camilan keripik kentang nya lagi.


"Janji kan?" tanya Zayn lagi.


"Iya, janji!" jawab Louise langsung pada pria itu.


Zayn tersenyum ia hanya perlu tidak menikah dengan siapapun dan menunggu umur nya 30 tahun.


Pria itu pun menghentikan sketsa nya dan duduk di samping gadis cantik yang sedang memainkan ponsel dan memakan camilan nya di sofa.


"Lihat apa sih? Aku mau lihat juga." ucap Zayn sembari duduk merapat pada gadis itu dan mengambil camilan nya.


"Ihh...


Banyak banget ngambil nya!" gerutu Louise kesal saat camilan nya di ambil hingga kurang setengah dari sebelum nya.


"Pelit!" dengus Zayn kesal sembari memakan keripik kentang itu.


"Kan habis kan..." ucap Louise saat camilan nya hanya menyisahkan bungkus nya saja.


Zayn pun bangkit dan mengambil camilan kripik kentang lain di dalam lemari nya.


"Nih! Cerewet!" ucap Zayn sembari memberikan bungkusan baru.


"Thank you, my baby Zayn..." ucap Louise dengan senang dan memeluk pria yang duduk di samping nya segera.


Zayn pun merasa senang saat gadis itu memeluk nya hanya karna mengambil camilan baru.


"Kau memasang foto di sosmed lagi?" tanya Zayn saat gadis itu menyandarkan kepala nya ke dada bidang milik nya.


Jantung nya berdebar dengan cepat sedangkan gadis itu terlihat santai memainkan ponsel nya.


"Zayn...


Lihat lucu yah mirip dengan mu." ucap Louise sembari menunjukkan ekspresi anak kucing yang berada di feed sosial media nya.


"Masa aku mirip sih dengan itu sih?" tanya Zayn saat gadis itu semakin mendusel-dusel di tubuh nya mencari posisi yang nyaman.


"Mirip tau! Lucu terus gemesin..." jawab Louise tersenyum sembari menatap pria yang sedang ia lengketin seperti lem.


Blush...


Wajah pria itu memerah saat melihat sahabat nya yang tersenyum dengan sangat cantik itu pada nya. Jantung nya semakin berdebar dengan kencang dan malah beralih memainkan pipi gadis itu guna menetralkan detak nya yang semakin menjadi.


"Ihh...


Sudah Zayn..." ucap Louise saat pria itu mencubit dan memainkan pipi nya dengan gemas.


Cup... cup...


Dua kecupan ringan melayang di pipi dan kening gadis itu saat Zayn tak mampu menahan rasa gemas nya pada gadis itu.


......................


JBS Hospital.


Louis yang masih melihat pekerjaan pun dan sedang di pusingkan dengan masalah perusahaan pun di kejutkan dengan tiga orang pria yang memasuki ruangan nya secara tiba-tiba.


"Anda Presdir JBS grup? Elouis Steinfeld Rai?" tanya salah satu pria memastikan dengan menyebut nama lengkap pria itu.


Sedang Clara menyusul masuk karna ketiga pria itu langsung menerobos saat mengetahui Louis berada di ruangan nya.


"Benar, dengan saya sendiri." jawab Louis pada para pria yang tak lain adalah detektif dari kepolisian pusat.


"Kami polisi dan berharap anda dapat bekerja sama berdasarkan surat perintah penangkapan." ucap salah pria tersebut menunjukkan sepucuk surat perintah penangkapan pada Louis.


Louis mengernyit heran, ia merasa tak melakukan kesalahan apapun, jika masalah perbuatan gelap semua presdir pasti melakukan dan untuk masalah pemerk*saan yang pernah ia lakukan itu juga sudah di bereskan sejak awal.


"Atas tuduhan?" tanya Louis lagi menatap para detektif kepolisian tersebut.


Clara bahkan yang berada di sana langsung seketika terkejut.


"Penggelapan dana, penghindaran pajak, pencucian uang, memiliki dan memproduksi barang ilegal lalu menjadi lalu menjadi komando atas tindak kriminal." jawab salah satu detektif dengan mengatakan alasan kenapa ia di tangkap.


"Saya tak melakukan nya, JBS grup juga tak memproduksi barang ilegal!" jawab Louis pada para detektif, ia bahkan tak tau menahu dan tak pernah melakukan penghindaran pajak namun terkena tuduhan.


"Perusahan ZeHe memiliki hak atas nama anda, mohon ikut dengan kami dan berkerja sama untuk penyelidikan." jawab detektif tersebut.


Perusahaan yang di beli paman...


Louis diam sesaat mencerna dan seorang detektif mendekati nya dengan ingin memakai borgol.


"Tunggu! Aku tak akan kabur sama sekali, aku ikut tanpa paksaan. Tak perlu memborgol tangan ku." ucap Louis dan beranjak bangun.


Sesaat sebelum ia bangun Rian pun datang dan melihat nya yang sudah di jemput kepolisian pusat.


"Paman, nanti bawa dokumen nya dan hubungi pengacara. Perusahaan yang kemarin paman beli itu berma-"


"Bukan aku yang mengakusisi nya, tapi kau sendiri. Jangan melibatkan ku untuk masalah mu." ucap Rian datar dengan wajah tanpa ekspresi.


Deg...


Walaupun awalnya Louis sudah mulai curiga namun ia menepis nya dan tetap mempercayai bahkan sewaktu di jemput oleh polisi. Tapi pria yang mendesak nya tanda tangan kini buang muka dan kesalahan seperti tak tau menahu.


"Paman yang menginginkan perusahaan nya." ucap Louis dengan nada dan mata yang berbeda.


"Apa ada bukti nya? Semua nya tertulis jelas nama mu yang berada di atas kertas." jawab Rian dengan nada dingin pada pria itu.


"Pak, mohon lebih cepat." ucap salah satu detektif pada Louis saat melihat pria itu berbincang cukup lama.


Louis pun menatap tajam ke arah pria paruh baya itu dan melewati nya, entah mengapa dada nya terasa sesak saat melihat dan mendengar ucapan pria yang selalu ia panggil "Paman" tersebut.


Dirinya masih ingin menyangkal atas perbuatan sahabat ayah nya namun situasi dan kondisi memaksa nya sadar saat ia sudah di bawa menuju kantor polisi.


Clara yang benar-benar terkejut dan tak menyangka jika atasan nya bisa dipanggil polisi pun langsung menelpon pengacara agar segera menyusul Louis.


Dan mengabari Louise atas apa yang terjadi pada saudara kembar nya dan perusahaan yang mulai kacau karna tiba-tiba isu tersebut tersebar tanpa tau siapa yang menyebarkan nya.


Membuat para pemegang saham gusar dan situasi yang tak terkendali.


......................


Sementara itu.


Louise yang sebelum nya masih merasa biasa saja dan saat ini tengah duduk bersama pria yang memandang nya tajam.


2 jam yang lalu James menelpon dan membuat nya menemui nya. Gadis itu langsung beranjak pergi dari apart Zayn karna tak ingin James menjemput nya langsung.


"Masih marah karna aku buat bengkak waktu itu yah? Maaf..." ucap Louise yang merasa bersalah karna tak tau pria itu bukan nya merasa sakit melainkan gairah yang membuncah.


"Nih makan cake nya, enak loh..." ucap Louise sembari memberikan cake yang diambil menggunakan garpu dan seperti menyuapi James.


James pun melihat dengan datar. Ia tak begitu menyukai adegan cheesy di depan umum namun ia juga tak tega melihat wajah berbinar yang serang tersenyum cantik itu. Ia pun mulai menangkup cake yang di berikan Louise.


Louise pun mulai menjawab dan mendengar penjelasan singkat dari Clara.


"Apa?! Kenapa?" ucap Louise yang mulai panik dan menutup ponsel nya.


"Ada apa?" tanya James saat melihat gadis itu terlihat gusar.


"Aku kembali lebih dulu, ada urusan mendadak!" jawab Louise buru-buru dan bergegas ingin pergi.


James pun memperhatikan gadis itu dan ikut bangun, tangan nya langsung menarik tangan Louise dan membawa ke mobil.


"Kemana? Aku antar." ucap James pada Louise yang terlihat semakin panik.


"Kepolisian pusat!" jawab Louise singkat dan pria itu pun langsung mengendarai mobil nya ke tempat yang di tuju.


James tak bertanya "Kenapa?" karna ia melihat situasi panik gadis itu yang seperti tak memungkinkan jika di tanya alasan nya.


......................


Kepolisian pusat.


Setelah sampai di kantor polisi Louise pun langsung bergegas masuk, James hanya memperhatikan dari mobil menatap gadis yang tak sabar ingin pergi ke dalam. Ia pun mengambil telpon nya dan menghubungi Nick.


"Cari tau tentang yang terjadi hari ini, mengenai Louise dan orang sekitar nya." perintah James pada Nick dalam telpon.


"Baik tuan." jawab Nick pada James


...


Dalam ruangan introgasi pria tampan itu di tanyai dengan jutaan pertanyaan mendesak dan ingin membuat nya kacau serta bingung.


Namun Louis berusaha bersikap tenang walaupun ia sudah pusing mendengar nya walau hanya beberapa jam.


"Aku tak melakukan nya." jawab nya hanya dengan satu kalimat dan berwajah tenang.


Pengacara nya mulai datang dan menggantikan berbicara untuk nya guna membela diri nya.


Louise yang baru datang dan mengajukan permohonan untuk bertemu sang kakak di haruskan menungggu beberapa saat lagi.


Setelah ditanyai cukup lama yang hanya membuat para detektif merasa stress menanyai pria itu karna Louis yang benar-benar bersikap tenang membuat pada detektif kewalahan.


"Anda juga melakukan penghindaran pajak selama 3 tahun terakhir dan ju-"


"Maaf menyela, tapi kotoran hidung anda terlihat. Tolong di bersihkan dulu dan bertanya lagi." jawab Louis dengan wajah tenang dan datar nya.


Detektif tersebut hanya menarik nafas mendengar ucapan pria di depan nya, seumur-umur baru kali ini ia bertemu dengan tahanan introgasi yang memantik emosi nya. Ingin sekali ia mencakar wajah pria elit itu namun harus tetap bersikap profesional.


"Baik! Istirahat satu jam dan setelah itu lanjutkan introgasi!" ucap salah satu detektif dan keluar.


Louise pun di izinkan masuk dan menemui sang kakak.


"Kak...


Kenapa bisa begini?" tanya Louise lirih pada saudara kembar nya.


"Tenang...


Semua akan baik-baik saja..." ucap Louis menenangkan adik nya, saat ia sendiri pun bingung apa yang harus di lakukan.


Walaupun ia tak menyangkal namun dengan bukti palsu yang di buat sangat kuat itu pasti tetap akan membuat nya memiliki hukuman dan catatan kriminal, dan itu berarti posisi Presdir yang ia sandang akan segera di lengserkan dan di ganti.


"Tapi kenapa bisa sampai seperti ini? Jelaskan? Aku percaya sama kakak..." ucap Louise lirih dengan hampir menangis.


"Ssttt...


Kenapa nangis, aku juga tidak akan mati kok..." jawab Louis yang berusaha setenang mungkin agar adik nya tak menangis.


Ia menghapus setetes air mata yang jatuh dari manik bening adik nya, dan menangkup erat tangan gadis itu. Louis pun menghela nafas nya dengan berat sebelum menceritakan segala nya yang terjadi.


"Ta-tapi...


Paman tidak mungkin..." ucap Louise terbata dan semakin menjatuhkan bulir bening nya tak percaya.


"Jangan nangis...


Kau pulang, dan makan malam...


Kakak akan urus, semua nya akan baik-baik saja..." ucap Louis pada adik nya sekali lagi yang sangat ingin menenangkan nya.


"Bagaimana aku bisa pulang dan makan malam?" tanya Louise semakin menangis saat melihat kakak nya Pura-pura kuat seperti saat kematian kedua orang tua nya.


"Aku akan suruh pengacara Mile membawakan makan malam untuk ku..." ucap Louis dengan lembut dan semakin menghapus air mata adik nya.


"Sudah sana pulang, pusing kepala mendengar tangisan mu..." sambung Louis lagi mencoba agar adik nya pergi dari tempat itu dan tak membuat semakin sedih.


Louise pun menatap kakak nya dengan mata sembab. Ia beranjak bangun dan melihat ke arah sang kakak.


"Jangan lupa makan malam." ucap nya singkat dengan suara serak karna tangis dan berlalu pergi.


Setelah melihat adik nya pergi dari ruang introgasi Louis pun langsung memegang kelapa dan memijat nya pelan.


Sekarang harus bagaimana?


Batin nya dengan bingung karna ia sudah benar-benar terjebak dan tak bisa keluar.


JBS grup pun terancam hilang dari genggaman nya, terutama JBS hospital yang di bangun dan di besarkan dengan keringat darah ayah nya.


Walaupun William yang pertama kali mendirikan JBS grup dengan alih JBS Farmasi.


Namun Hazel lah yang membeli cabang JBS yaitu JBS hospital yang hampir bangkrut dan jatuh dengan semua uang yang ia miliki saat itu pada ayah nya.


Hazel yang saat itu ingin memiliki rumah sakit karna tak bisa menjadi dokter sesuai keinginan ibu nya sebelum meninggal membuat nya jatuh bangun merintis perusahaan nya sendiri hingga menjadikan JBS hospital sebagai rumah sakit terbaik tanpa bantuan dan campur tangan ayah nya.


Menjadikan JBS hospital sebagai rumah sakit swasta yang memiliki kualitas paling baik dan cabang yang berserakan di mana saja. Walaupun ia berasal dari keluarga kaya namun JBS hospital lah yang murni dari hasil kerja keras nya.


Baru setelah itu Hazel mengakusisi JBS farmasi dan semua milik ayah nya saat kemampuan dan kekuatan nya sudah mengimbangi pria yang baginya tak pantas ia sebut sebagai "Ayah"


......................


Apart Winter garden.


Louise dengan emosi yang tak stabil mendatangi rumah paman nya, ia dengan tak sabar menekan bel nya hingga membuat Larescha buru-buru membukakan pintu.


"Louise sayang? Kenapa nak?" tanya Larescha dengan nada lembut dan sangat terkejut melihat wajah dan mata sembab dari gadis itu.


"Bibi juga tau? Bibi juga sama seperti paman?" tanya Louise dengan suara bergetar.


"Maksud nya? Kenapa nak? Ada yang jahat pada mu? Siapa orang nya? Mana biar bibi marahi..." jawab Larescha tak mengerti kenapa gadis itu terlihat sangat sedih sekaligus marah.


Ia berusaha menangkup dan mengusap air mata Louise namun dengan segera langsung di tepis oleh gadis itu.


"Paman dimana?!" tanya Louise pada Larescha.


"Duduk dulu sayang...


Bibi ambilkan minum yah..." ucap Larescha berusaha membuat tenang gadis itu lebih dulu.


"Paman dimana?!" tanya nya dengan nada tinggi hingga membuat Larescha yang ingin mengambil air tersentak dan Rian yang langsung keluar begitu mendengar teriakan gadis itu.


Melihat Rian yang menampakkan diri nya Louise langsung memandang tajam pada pria itu.


"Kenapa membawa kakak ku ke penjara?!" tanya nya dengan mengepalkan tangan nya dengan erat.


Larescha pun terkejut dan langsung bertanya pada suami nya.


"Mah, masuk ke kamar. Aku mau bicara dengan Louise." ucap Rian pada istri nya.


"Tidak! Ini ada apa? Kenapa tak ada yang menjelaskan?!" tanya Larescha mulai panik.


"Larescha! Masuk kamar mu!" bentak Rian pada istrinya.


Larescha membatu seketika, sudah lama ia tak mendengar suami nya hanya memanggil nama dan membentak nya, nyali nya berangsut kecil dan pergi ke kamar nya membiarkan putri sahabat nya berbicara pada suami nya.


"Kenapa mengkhianati kakak ku? Bukan! Kenapa mengkhianati kami?" tanya Louise lagi sembari tak bisa menahan air mata kesedihan dan amarah nya.


Rian tak bergeming dan tak menjawab sama sekali pertanyaan gadis itu.


"Kau hanya punya waktu 2 kali 24 jam untuk mencari alasan kakak mu tak bersalah, jadi pulanglah dan mengacau di rumah ku." ucap Rian dengan nada dingin.


Louise tersentak mendengar nada dingin pria itu.


"Aku akan mencabut hak mu sebagai wakil Presdir!" ucap Louise mengepalkan tangan nya dengan kuat.


"Kau punya hak? Kau bahkan tak memiliki hak kuasa mu sama sekali, jika menunggu pengurusan dan pengalihan hak kuasa akan memerlukan waktu paling cepat 5 hari." jawab Rian tersenyum pada gadis itu.


Louise terkejut, ia tau semua hak dan tanggung jawab nya dalam perusahaan sudah ia alihkan pada sang kakak, namun kini kakak nya terjerat dalam masalah.


"Kau tak bisa melakukan apapun selain melihat kan? Seperti cacing yang hanya menggeliat di tanah yang kering." sambung Rian dengan menekankan jika tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain melihat kakak nya dan perusahaan yang di bangun ayah nya hancur di depan nya.


...****************...


Hai pembaca Othor, kalau berkenan mampir ke cerita kedua othor yah😅.


Othor ganti judul


Dari My psycho boyfriend and Mr. Mafia


Othor ubah ke Never gone (Hasrat dan Obsesi)😉 Ini masih reviuw yah judul nya.


Sinopsis juga othor ganti dengan lebih menyesuaikan untuk isi cerita nya, Yang sudah mampir terimaksih atas dukungan nya yah🤭🤭


Yang belum coba di cek dulu mana tau suka, bisa klik propil Othor langsung dan buka cerita kedua othor yah🥰♥️♥️