
Mansion Dachinko.
Plak!
Satu tamparan kuat melayang di pipi pria itu menghadapi kemarahan tuan nya. Ia hampir saja terhuyung namun dengan cepat berdiri tegak lagi.
"Sudah ku katakan untuk menjaga nya! Kenapa bisa di culik?!" tanya James dengan mata menghunus tajam.
"Maaf, itu kelalaian saya tuan." ucap Nick dengan menunduk, ia mengusap desiran darah di bawah bibir nya sekilas
"Pelatihan penjaga di hutan, aku mau kau yang di jadikan alat pemukul. Jangan melawan selama 30 menit." ucap James yang mengatakan hukuman nya.
Ia tau menjadikan Nick sebagai samsak tempat pukulan selama 30 menit bisa membahayakan nyawa nya karna harus di pukuli oleh orang-orang terlatih dan tak di perbolehkan melawan.
Namun bagi James itu pantas karna bawahan yang ia anggap seperti adik nya sendiri walaupun ia tak pernah mengatakan nya lalai dalam menjaga gadis yang ia perintahkan untuk di lindungi selama dia pergi.
"Baik, Tuan." jawab Nick pada James dengan tetap menunduk.
Ia tau hukuman tersebut sama seperti hukuman mati jika tak memiliki ketahanan fisik yang kuat ataupun melebihi orang biasa.
"Kau sudah dapatkan informasi?" tanya James pada Nick.
"Kemungkinan masih ada kaitan nya dengan nona Bella," jawab Nick pada tuan nya.
"Rendly?" tanya James karna ia tau dulu wanita mengkhianati nya untuk pria tersebut.
"Bukan tuan, dia sudah mati 3 tahun yang lalu." jawab Nick pada tuan nya.
"Kalau begitu keluar dan lakukan hukuman mu," ucap James dengan dingin pada pria itu.
Nick pun menunduk dan dengan sopan dan melangkah keluar.
"Nick, kali ini aku masih meringankan hukuman mu karna dia belum sampai di nodai tapi kalau sampai ada yang kedua aku akan mengambil mata mu sebagai ganti nya," ucap James dengan mata tajam menatap ke arah pria yang ingin.
"Baik, Tuan." ucap Nick sebelum ia pergi.
James memijat pelipis nya dan menatap ke arah komputer di depan nya mencari siapa yang berada di balik kejadian yang menimpa nya.
Nick sudah memberi tau semua yang ia ketahui bahkan sampai gadis itu di jemput dan di bawa kakak nya kembali, maka dari James tak lagi mendatangi nya karna sudah tau gadis itu sudah aman karna kembali lagi ke kakak nya.
"Dia tau semua tentang ku..." gumam nya lirih sembari mengetuk meja kerja di depan nya.
"Apa itu Zico? Tapi..." gumam James dengan bingung.
"Sial!" decak nya dengan kesal, ia tak bisa meminimalisir karna musuh dan orang-orang yang dendam atau membenci nya sangat banyak.
......................
JBS Hospital.
Suara guyuran air terdengar di ruang perawatan tersebut, pria yang langsung membasuh tubuh dan wajah nya guna menyegarkan akal nya kembali.
Sedangkan gadis cantik dengan wajah pucat yang saat ini tengah berbaring dan tidur dengan nyaman tanpa merasa sakit ataupun gelisah seperti sebelum nya.
"Dasar gila! Hampir saja!" decak pria yang berada di bawah shower dengan siraman air hangat.
"Tapi tadi dia..." gumam nya lirih sembari mengingat ekspresi dan suara gadis yang baru ia sentuh.
"Akan ku lakukan saat kau sadar, aku ingin kau mengingat nya..." sambung nya dengan terus membiarkan air hangat dari shower tersebut membasahi nya dari atas rambut dan turun ke tubuh bidang nya.
Ia tau apa yang ia lakukan adalah salah namun ia juga tak bisa berhenti begitu saja, ia bahkan tak tau jika rasa suka dan cinta nya sudah begitu dalam hingga mulai serakah akan gadis itu.
...
2 Hari kemudian.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Louis saat melihat wajah pucat adik nya yang baru saja di berikan obat.
"Hm..." jawab Louise singkat pada sang kakak, "Maaf aku tidak lihat pernikahan mu..." sambung nya lirih dengan nada bersalah.
"Tidak apa-apa, yang penting kau sehat lebih dulu." ucap pria itu sembari mengacak puncak kepala adik nya.
"Mereka memberi ku narkotika..." ucap Louise lirih, "Maaf..." sambung nya lagi dengan nada yang sangat pelan.
"Dalam beberapa minggu narkotika nya akan di netralkan, seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karna tidak bisa menjaga mu..." ucap Louis menghela nafas nya.
Louise pun melihat wajah kakak nya yang terlihat tak bersemangat dan merasa bersalah.
"Clara dimana? Kau tak menemani nya?" tanya Louise mengalihkan pembicaraan.
"Di rumah, aku membawa ke apart dan meninggalkan dua pelayan wanita untuk membantu nya diam-diam." jawab Louis pada adik nya.
"Louise? Kau ada mengingat ciri-ciri penculik mu?" tanya Louis.
Gadis itu tersentak beberapa saat, ia kembali mengingat dirinya yang di ciumi dengan paksa oleh pria yang bahkan wajah nya tak bisa ia lihat.
"Dia pakai topeng tinggi nya mungkin sekitar 180 cm dan..." ucap nya lirih yang berusaha mengingat lagi.
"Sudah, tidak apa-apa. Kalau masih sulit mengingat nya tak perlu di paksakan..." ucap Louis sembari mengusap kepala adik nya ia tau jika gadis itu mengalami pemaksaan seksual dari pemeriksaan fisik yang di lakukan setelah ia bawa ke RS.
"Aku akan keluar, tak apa kan?" tanya Louis karna ia memang datang di jam kerja nya.
"Jangan khawatir," ucap Louise singkat dan setelah itu sang kakak keluar.
Ia berusaha mengingat namun tak mengatakan apapun alasan ia di culik karna si penculik membenci James.
Deg...
"Sial! Apa yang aku ku pikirkan? Kenapa bisa mimpi seperti itu?!" decak nya seketika saat ia merasa memimpikan hal dewasa dengan teman nya.
Ia tak ingat dan bahkan tak sadar sama sekali, ingatan yang seperti mimpi tersebut pun sangat tak jelas dan kabur seperti tak pernah terjadi.
Pukul 12.30 Am.
Gadis itu kini tengah tertidur lelap dengan di awasi oleh pria yang memperhatikan setiap sudut wajah nya dan beberapa memar karna pukulan dan tamparan yang di terima saat di culik.
Pria itu juga melihat beberapa bekas kepemilikan di leher gadis itu, bekas kecupan yang di tinggalkan oleh pria yang menculik nya dan beberapa yang di tinggalkan sahabat gadis itu karna tak bisa mengrem ciuman nya.
"Maaf...
Kau harus terkena imbas nya..." ucap pria itu lirih sembari mengecup kening gadis itu dan keluar dengan meninggalkan kekacauan karna ia memasuki wilayah yang di jaga ketat.
...
8 Hari kemudian.
Selama dalam kurung waktu tersebut Louis sama sekali tak membiarkan nya keluar kamar dan memberikan penjagaan yang sangat ketat selama masa pengobatan intensif.
"Mana ponsel ku? Kau tidak memeriksa nya kan?" tanya Louise meminta kembali ponsel nya pada sang kakak.
"Kenapa memang nya?" tanya Louis sembari memberikan ponsel gadis itu.
"Privasi tau!" ucap Louise dan mulai menghidupkan kembali ponsel yang dimatikan tersebut.
Ia pun melihat beberapa pesan dan satu panggilan tak terjawab dari James, "Ck! Dia cuma menelpon ku satu kali!" gumam nya berdecak.
"Kenapa?" tanya Louis saat melihat wajah kesal adik nya.
"Tidak apa-apa," jawab gadis itu singkat pada sang kakak.
......................
2 Hari kemudian.
Mansion Dachinko.
"Kau tak menjenguk ku ataupun menelpon!" ucap Louise dengan wajah kesal nya.
"Aku menjenguk mu, tapi kau sedang tertidur setelah itu pengawal penjaga mu semakin banyak dan sistem keamanan mu semakin tinggi, berisiko jika aku meretas nya." ucap James pada gadis itu.
"Kau kan bisa bilang pada kakak ku!" ucap Louise lagi.
"Kalau aku bilang dia akan membiarkan ku? Kakak mu itu tak suka pada ku." ucap James yang bisa merasakan jika Louis tak menyukai nya.
Louise pun hanya memalingkan wajah nya. James tak memarahi balik, ia merasa lega karna gadis itu kini sudah terlihat lebih bersemangat.
Ia pun bangun dan menuju ruang kerja nya, memilih untuk membiarkan gadis itu tenang sendiri.
...
"Nick! Tunggu!" panggil Louise saat ia tengah bermain dengan White dan melihat Nick yang lewat tak jauh dari nya.
Nick pun berhenti dan membungkuk pada gadis itu sesaat.
"Kenapa wajah mu?" tanya Louise saat melihat pria itu seperti baru saja terluka parah karna di pukuli.
"Ada apa nona memanggil saya?" tanya nya yang tak ingin menjawab alasan ia terluka karna hukuman tuan nya.
"Waktu itu kau sengaja meninggalkan ku, kan?" tanya Louise tiba-tiba, ia tau saat ia di culik sebelum nya pria itu semakin menancap gas dan pura-pura tak melihat nya.
Louise bahkan tak mengadukan hal itu pada James karna ia tak ingin pria itu murka dan ia sudah sangat tau bagaimana amarah pria.
Nick diam ia memang sengaja meninggalkan gadis itu sebelum nya.
"Apa salah ku? Kenapa aku sangat di benci?" tanya Louise yang semakin menanyai pria di depan nya.
"Tidak ada," jawab Nick singkat karna gadis itu memang belum melakukan kesalahan apapun.
"Setidaknya aku harus tau kan? Aku harus tau kenapa kau sebenci itu pada ku!" tanya Louise lagi.
"Hanya..." jawab Nick bingung.
"Hanya? Kau melewati ku begitu saja padahal melihat nya, dan jawaban mu 'hanya'?" tanya Louise tak habis pikir, raut wajah nya sudah berubah.
Ia berfikir jika pria itu tak melewati nya begitu saja maka ia tak akan mendapat pelecehan dan di pukul beberapa kali.
"Ku pikir kau awal nya hanya karna merasa kesal dan aku masih berfikir kita bisa berteman, tapi kurasa tidak, orang yang membenci orang lain tanpa alasan itu benar-benar jahat!" ucap Louise dengan mata tajam dan amarah.
Nick diam namun ia melihat gadis itu yang ingin pergi.
"Maaf!" ucap nya sebelum Louise benar-benar menjauh.
"Untuk?" tanya Louise berbalik dan kembali menatap ke arah pria itu.
"Untuk yang ku lakukan," ucap Nick lirih.
"Kau tau permintaan maaf yang paling mengerikan itu apa?" tanya Louise sembari menatap wajah yang mulai terlihat merasa bersalah tersebut.
Nick diam tak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang baru saja di lontarkan untuk nya.
"Saat kau mulai menyadari kesalahan mu dan tak satupun permintaan maaf mu di terima, kau hanya bisa merasa bersalah tanpa mendapatkan pengampunan dari orang yang sudah kau sakiti," ucap Louise pada pria itu, ia sebenarnya tak begitu mengerti kalimat tersebut namun ia tak ingin dengan murah hati memberikan maaf pada pria tersebut.
Nick tersentak ia merasa ucapan gadis itu begitu tepat untuk nya.
"Aku juga awal nya tak begitu mengerti maksud kata-kata itu, aku tau dari ayah ku. Dia selalu tak ingin aku melakukan kesalahan hingga memiliki permintaan maaf yang mengerikan itu," ucap Louise dan beranjak pergi lagi.
Hazel memang mengatakan hal tersebut pada kedua anak nya karna tak ingin anak-anak nya nanti nya melakukan kesalahan hingga memiliki penyesalan seperti yang ia alami, ia tak mau buah hati nya mengalami sesak nya dan sakit nya di posisi itu.
Melakukan kesalahan lalu menyadari nya dan meminta maaf, namun semua sudah terlambat bahkan kata "Maaf" pun sudah tak bisa di terima dan tak bisa mendapat pengampunan tersebut.
Nick mengepalkan tangan nya ia merasa apa yang di katakan gadis itu benar-benar cocok untuk nya.
"Saya akan membantu nona, saat nona meminta bantuan suatu hari nanti. Saya akan lakukan," ucap nya sebelum Louise berbalik. "Selagi bukan hal yang membahayakan tuan," sambung nya lagi.
"Apa akan ada hari seperti itu?" tanya Louise pada nya.
"Tak ada yang tau tentang masa depan," jawab Nick pada gadis di depan nya.
Louise tak menjawab dan hanya membuang wajah nya dan berbalik pergi.
...
Ia melihat koleksi bunga-bunga segar yabg baru saja diambil dari taman dan ingin di pindahkan ke vas oleh para pelayan.
"Kau suka bunga ini?" tanya James di telinga Louise sembari menyentuh pinggang gadis itu dari belakang.
"Akh!" teriak Louise yang terkejut dan langsung terjatuh.
Sejujurnya ia mulai kembali takut dengan sentuhan seperti sebelum nya apalagi yang di lakukan secara tiba-tiba seperti itu.
"Kenapa respon mu sangat berlebihan?" tanya James saat melihat gadis itu yang sangat terkejut hingga terjatuh.
"Berlebihan? Kau tau rasanya di sentuh secara paksa? Aku bahkan tak tau wajah nya dan kenapa di perlakukan seperti itu!" ucap Louise berteriak dengan emosi yang tak stabil.
"Kau bilang kau akan membantu kalau aku menekan jam nya..." sambung nya dengan mata yang berkaca.
Ia seharusnya masih belum bisa keluar dari perawatan karna psikis nya yang masih terguncang apalagi ia yang memang sudah memiliki trauma dari awal.
Namun karna ia memaksa keluar akhirnya Louis membiarkan nya.
James diam dengan wajah tanpa ekspresi nya dan menarik tangan gadis itu untuk bangun.
"Bawa kompres es," ucap nya dengan wajah dingin pada pelayan sembari menarik tangan gadis itu.
"Kau mau memukul dengan es batu?" tanya Louise lirih saat pria itu mendudukkan nya di sofa, "Soal yang ku katakan tadi, aku tidak..." sambung nya yang sadar jika ia mengatakan dirinya disentuh pria lain.
Ia tak mau mendapat hukuman setelah baru keluar dari rumah sakit.
James menarik sweter merah muda tersebut yang menunjukkan kulit putih gadis itu namun masih terlihat bekas memar yang belum hilang.
"Masih sakit? Bekas yang lain sudah mulai menghilang..." ucap nya sembari memperhatikan leher dan jejak yang sebelum nya masih ada saat ia mengunjungi gadis itu di RS.
"Sudah tidak..." jawab Louise lirih dan merasakan sesuatu yang dingin di bahu nya.
"Kalau tak mau di olesi obat setidak nya harus sering di kompres," ucap James sembari melihat ke bekas memar tersebut.
"Kau tak marah?" tanya Louise bingung dengan sikap yang tak tertebak tersebut.
"Tentu saja marah," jawab James singkat dan mengangkat kompres es nya agar bahu gadis itu tak kebas.
Louise diam dan melihat memperhatikan wajah pria itu dari dekat, ia heran kenapa ia tak di marahi dan malah di perlakukan dengan lembut.
Setelah mengompres bagian yang memar James pun meletakkan kompres nya ke atas meja.
Ia menarik gadis itu ke dalam pelukan nya dengan perlahan dan mengusap rambut serta punggung gadis itu perlahan.
"Maaf...
Kau terluka karna ku," ucap nya lirih di telinga gadis itu saat ia tengah memeluk nya erat.
Walaupun ia hanya mengatakan beberapa kata namun gadis itu bisa menyadari jika pria yang memeluk nya seperti sedang takut akan sesuatu.
Pelukan yang begitu erat namun tidak menyakiti nya. "James..." panggil Louise lirih yang masih berada dalam pelukan pria itu.
"Ku pikir aku akan kehilangan lagi..." gumam nya lirih semakin mendekap gadis itu dengan erat.