(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Sosial Phobia



Pria itu tampak begitu khawatir melihat kedua anak yang sama-sama kehilangan kesadaran.


Bau anyir darah tercium jelas di ladang jagung yang sudah seperti ditumpahkan cat berwarna merah.


"Bawa yang masih hidup dan jangan ada yang terlewat satu pun!" ucap pria tersebut sembari membawa kedua anak malang itu dalam pelukan agar segera mendapat pengobatan.


Takut....


Ada perasaan takut dan kalut begitu besar di hati nya saat melihat tubuh kecil dari darah daging nya yang sedang sibuk mendapat pengobatan.


Ia melihat cairan merah kental berbau anyir di tangan nya, tangan kekar itu gemetar. Ia menyalahkan dirinya karna tak datang lebih cepat dan bisa melindungi bocah-bocah yang selalu membuat ramai kediaman nya.


......................


JBS Hospital.


Kedua anak malang itu sudah di bawa melalui helikopter agar lebih cepat sampai dan mendapat pengobatan.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Hazel khawatir saat melihat salah satu prof menghampiri nya.


"Peluru di tubuh tuan muda tak mengenai organ penting namun terjadi perdarahan yang hebat. Jika dalam satu minggu tuan muda belum sadar juga maka ia akan jatuh pada kondisi koma.


Dan untuk nona muda sendiri, sistem kekebalan tubuh nya langsung menurun drastis dan kemungkinan besar akan menyebabkan ketlrusakan hati. Lalu...." sambung nya ragu untuk menjelaskan pada atasan nya.


"Apa?! Jangan bicara setengah-setengah!" bentak Hazel pada pria paruh baya yang menunjukkan kerutan di wajah nya itu.


"Setelah kami selidiki ternyata di tubuh nyonya muda terdapat bekas pelecehan." jawab prof tersebut dengan berat hati.


Deg...


Bagaikan tersambar petir di siang bolong mendengar bahwa gadis kecil nya mendapatkan perlakukan yang begitu biadab di usia muda.


"Di-dia...


Apa sudah sampai di...." ucap Hazel dengan bibir gemetar menanyakan keadaan putri nya.


"Belum...


Kami tak menemukan ada nya indikasi pemerk*saan namun dari bekas luka di tubuh nona ia terlihat jelas jika ia sudah mengalami pelecehan." jawab prof tersebut dengan iba.


Hazel terdiam beberapa saat. Kini ia semua terasa berputar di kepala nya ingatan, pandangan dan tempat ia berpijak. Yang satu sedang antara hidup dan mati, dan yang satu lagi mengalami kondisi drop serta pelecehan.


Pah...


Tadi om nya jahat sama Louise...


Sakit semua pah....


Ucapan putri kecil saat melakukan panggilan video terngiang di kepala nya.


Drrttt...drrttt...drrtt...


Ponsel nya bergetar saat wanita yang ia cintai menelpon nya.


Perasaan nya bimbang ingin mengangkat atau tidak panggilan dari istrinya. Ia tak mau wanita itu sampai tau apa yang terjadi pada anak-anak nya. Ia tak bisa jika melihat orang yang ia sayangi terluka lagi.


Setelah memanggil tiga kali namun tak ia angkat melainkan hanya menatap kosong ke arah ponsel nya.


Ia pun memberanikan diri mengangkat panggilan dari istrinya karna takut jika wanita itu menjadi khawatir.


"Ada apa? Maaf yah tadi lama mengangkat nya aku sedang ada rapat..." jawab pria itu berbohong dan menyembunyikan suara kesedihan nya sebisa mungkin.


"Anak-anak dengan mu? Mereka tak pulang dari tadi...


Aku sudah menelpon mereka berkali-kali tapi tak ada jawaban, supir yang menjemput juga..." tanya wanita itu dengan nada khawatir saat anak-anak nya terlalu lama tak kembali pada nya.


"Mereka bersama ku. Kau tak perlu khawatir... " jawab pria itu menenangkan istrinya nya.


"Kenapa tak bilang dari tadi? Aku sudah sangat panik..." jawab Alyss sembari bernafas lega namun tetap ada yang mengganjal di hatinya.


"Aku lupa...


Kau sudah makan?" tanya Hazel mengalihkan pembicaraan agar tak membahas si kembar.


"Mereka dimana? Aku ingin bicara dengan mereka." jawab Alyss yang masih merasa belum tenang sebelum mendengar suara si kembar nakal itu.


"Mereka sedang tidur...


Sudah yah aku tutup telpon nya." jawab Hazel yang langsung ingin menghindari pertanyaan tentang anak-anak nya.


"Aku telpon panggilan video yah? Tunjukkan mereka pada ku...


Entah kenapa aku merasa gelisah..." ucap Alyss pada suaminya.


"Aku sedang sangat sibuk, nanti kita bicara lagi yah." ucap pria itu dan bergegas mematikan ponsel nya.


"Hazel tung-"


Tut....


Pria itu langsung mematikan panggilan istrinya membuat wanita itu semakin bertanya-tanya apa yang terjadi.


......................


Kediaman Hazel.


Perasaan semakin merasa campur aduk. Ia merasa gelisah terus menerus tanpa tau alasan pasti nya. Suaminya juga bersikap aneh karna tak biasa mematikan panggilan secepat itu dan seperti menghindarinya.


"Dia kenapa seperti itu? Panggilan ku juga lama sekali diangkat nya..." ucap Alyss lirih.


Ia terus saja mondar mandir tak tentu arah karna kegelisahan nya.


"Apa aku ke JBS saja?" gumam nya setelah menentukan keputusan.


Wanita cantik itu pun mulai melangkahkan kaki nya menuju garasi dan segera pergi menemui anak dan suaminya.


......................


JBS Hospital.


Wanita cantik itu berlari dengan langkah yang semakin takut, ia tak tau apa alasan nya namun perasaan nya terus saja menunjukkan kekhawatiran.


Tanpa ragu ia melangkah dan menuju ke ruangan suaminya. Tak ada yang berani mencegah nya karna ia merupakan istri kesayangan dari Presdir JBS group.


Cklek...


Hening...


Tak ada siapapun di ruangan mewah itu, ia berjalan lagi menuju kamar istirahat dan tak melihat anak-anak nya juga.


Ia menelusuri ruangan itu mencari keberadaan anak kembar milik nya. Namun tetap tak ada. Bahkan mainan yang tertinggal milik si kembar di ruangan itu masih tersusun rapi.


Ia sangat memahami anak-anak nya. Mereka pasti akan membuat ruangan kerja ayah nya menjadi berantakan karna yang ada di kepala kecil mereka hanya bermain, makan, dan tidur saja.


Dia bohong....


Batin Alyss saat melihat ruangan itu. Ia pun mulai keluar dan bertanya pada salah satu staff.


"Maaf nyonya...


Kami tidak tau...


Tadi presdir memang membawa tuan muda dan nona muda. Tetapi kini mereka sudah pergi lagi." jawab Staf tersebut dengan gugup. Hazel sudah memerintahkan untuk merahasiakan yang terjadi jika istrinya bertanya.


"Coba bilang yang jujur!" ucap Alyss dengan menatap tajam ke arah staf tersebut membuat wanita muda itu semakin gugup.


"Su-sungguh nyonya..." jawab nya tergagap.


Ukh!


"Aku sedang tak ingin basa-basi...


Jawab aku atau pena ini akan menembus leher mu..." ucap Alyss sembari menempelkan ujung pena tajam ke arah leher gadis muda itu.


"Tuan muda dan nona muda terluka...


Ta-tadi presdir membawa mereka..." jawab nya takut.


Deg...


Detak nya langsung berpacu dengan kuat. Perasaan seorang ibu tak pernah salah. Terjadi sesuatu yang buruk pada anak-anak nya.


Alyss pun menanyakan di mana mereka berada dan segera menghampiri ke sana.


"Ny-nyonya?!" ucap para prof terkejut melihat nyonya mereka masuk ke ruangan perawatan itu padahal sudah jelas-jelas presdir mereka melarang istri nya untuk tau.


"Dimana mereka?" tanya Alyss dengan wajah sendu nya.


Mau tak mau salah satu prof pun mengantarkan wanita itu untuk menemui buah hatinya.


"Apa yang terjadi? Jelaskan secara rinci pada ku..." ucap Alyss lirih dengan wajah yang menggambarkan ekspresi sulit di jelaskan. Mata nya menatap sendu dan menangis tanpa isakkan.


Para prof pun mulai menceritakan secara rinci tentang apa yang terjadi. Mulai dari penculikan, pelecehan dan penembakan serta kondisi dari si kembar nakal itu.


Deg...


Jantung nya terasa ingin berhenti. Hati nya hancur dan kaki nya terasa lemas.


"Me-mereka masih kecil...


Kenapa mereka bisa sampai seper-"


Ucap nya yang terpotong saat ia merasa tubuh nya seperti lemas tak bertenaga. Tenggorokan terasa tercekat dan ia seperti tak mampu menopang tubuh nya.


"Alyss?" ucap pria itu saat ia langsung menggapai tubuh istrinya yang terjatuh dan pingsan karna shock.


"Alyss? Hey?" panggil pria itu sembari menepuk wajah wanita yang mulai pucat itu. Tubuh kecil wanita cantik itu mulai terasa dingin.


"Sudah ku bilang dia tak boleh tau kan?! Lalu ini apa?!" tanya Hazel dengan tatapan tajam ke arah para prof tersebut.


"Ma-maaf tuan...


Nyonya mengetahui nya tanpa kami sadari..." jawab mereka mengakui kecerobohan yang mereka lakukan.


Alyss pun ikut mendapat perawatan karna ia sempat shock. Dosis obat nya di tambah agar wanita itu tak mengalami serangan jantung tiba-tiba.


Pukul 11.45 PM


Wanita cantik itu mulai terbangun saat sudah hampir tengah malam.


"Kau sudah bangun? Masih ada yang terasa sakit?" tanya Hazel dengan cepat saat wanita nya terbangun.


"Tidak! Aku baik-baik saja...


Dimana mereka? Mana anak ku? Kalau terjadi sesuatu pada mereka aku...


Aku..." ucap nya seperti orang linglung.


"Tenang...


Mereka akan baik-baik saja..." ucap pria itu dengan lembut sembari menenangkan istrinya.


Tangis wanita itu pecah, ia menyalahkan semua yang terjadi pada anak-anak nya karna kesalahan nya. Karna ia yang merasa lalai menjaga mereka.


"Maaf...


Ini salah ku...


Aku tidak bisa jadi ibu yang baik...


Aku tidak bisa melindungi mereka...


Pria itu pun langsung memeluk wanita yang merupakan istri kesayangan nya. Mendekap wanita yang terus menerus menyalahkan dirinya.


"Bukan salah mu...


Salah orang-orang sialan itu yang menculik anak-anak kita..." ucap Hazel dengan suara tertahan dan menjatuhkan bulir bening nya tanpa sadar.


Bukan hanya istrinya saja yang terguncang, ia juga merasa begitu terguncang namun ia harus menjadi lebih kuat dari wanita nya karna ia merupakan sandaran utama keluarga nya.


Huhuhu....


Tangis wanita itu pecah di pelukan suaminya ia meremas kuat kemeja pria itu mencurahkan semua kesedihan atas apa yang terjadi pada anak-anak nya.


Pukul 02.35 Am


Wanita itu kini sudah berhenti menangis. Ia melepaskan pelukan suaminya dan menatap pria itu dengan tatapan kosong dan mata sembab nya.


"Yang menculik anak kita sudah kau dapatkan?" tanya Alyss pada suaminya.


"Sudah...


Yang termasuk dalam kelompok ada 15 orang, dan orang yang menyekap anak kita hanya 6 orang. 5 orang mati di tempat dan 10 lagi berada di ruang visi." jawab Hazel menjelaskan.


Kesepuluh orang yang berhasil selamat sudah ia siksa habis-habisan. Maka dari itu saat istrinya masuk ke ruang perawatan ia bisa tak ada.


"Aku mau menemui mereka...


Aku boleh lakukan apapun yang ku inginkan bukan?" tanya wanita itu lirih dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tentu saja..." jawab Hazel pada istrinya.


Wanita itu mulai bangun dan berjalan walaupun langkah nya masih terlihat tertatih.


"Dimana tempat nya? Tunjukkan pada ku..." ucap Alyss pada suaminya.


"Istirahat dulu...


Kau masih belum stabil..." ucap pria itu lembut pada istrinya.


"Aku tak bisa istirahat...


Ku mohon..." balas Alyss memelas sembari menatap dengan penuh sendu terhadap suaminya.


Hazel hanya menghela nafas nya dengan kasar, cara satu-satunya menenangkan wanita itu adalah mengikuti apa yang di minta istrinya.


"Ayo..." ucap nya sembari meraih tangan kecil itu. Ia membawa wanita itu ke ruang penyiksaan yang berada di ruang visi.


Alyss melihat keadaan kesepuluh pria yang menculik anak nya. Dua diantara nya sudah mati dengan kulit yang sudah dikupas habis. Tulang tangan dan kaki nya di pisahkan dari daging nya dan kulit wajah nya di kikis.


"Mereka kau yang lakukan?" tanya Alyss pada suami nya.


"Hm..." jawab Hazel singkat.


Penculik yang menembak putra nya sudah di bunuh di tempat dengan 8 peluru bersarang di penjahat tersebut.


Dan untuk yang melecehkan putri nya ia sudah menyiram dengan timah panas yang di lelehkan ke arah milik pria itu sebagai balasan karna mencoba menodai putri nya.


Ia juga mengikis dan menggiling tangan dan kaki pria itu saat masih hidup. Baru dua orang yang di siksa nya sampai mati ia sudah mendapat kabar bahwa istrinya tau.


Alyss memperhatikan wajah pria nya dengan lekat begitu juga pria itu. Wanita ituIa menatap iris coklat di depan nya.


Ia perlahan menggapai tangan suaminya dan memegang nya seperti sedang mengusap dan menghapus sesuatu.


"Jangan mengotori tangan mu dengan darah orang-orang seperti itu..." ucap Alyss lirih sembari terus mengusap tangan suaminya.


"8 orang lagi...


Boleh aku yang memberi perintah?" tanya Alyss setelah mengusap tangan suaminya.


"Tentu saja...


Kau bisa lakukan apapun..." jawab Hazel sembari mengusap lembut rambut istrinya.


Alyss pun berbalik dan melihat ke delapan pria yang babak belur karna di pukul oleh pengawal pria iblis itu. Terlihat jelas wajah ketakutan di raut yang mereka tunjukkan.


Namun para penculik itu juga sedikit lega karna pria gila itu tak turun tangan lagi. Saat mereka melihat cara ayah dari anak yang mereka culik menyiksa membuat sangat terkejut.


Bahkan penjahat seperti mereka saja tak pernah memikirkan cara sekejam itu. Tanpa tau jika wanita yang berada di samping pria gila itu juga bisa memerintah kan hal yang lebih kejam.


"Tarik tangan mereka hingga putus." perintah Alyss pada pengawal suaminya.


"Ambil kursi dan meja." perintah Hazel agar istrinya bisa melihat dan memberi perintah dengan nyaman.


"Sini duduk." ucap pria itu membuat seperti menonton bioskop pada istrinya.


AKHH!!!


Teriak kedelapan pria itu saat kedua tangan mereka di ikat dan tarik menggunakan alat dengan arah berlawanan.


Crass....


Darah segar memuncrat saat kedua tangan pria-pria itu putus karna tarikan yang begitu kuat.


"Maafkan aku....


Tolong lepaskan...


Aku janji akan jadi orang baik..." mohon para penculik itu bersahutan pada pasangan yang sudah bagikan raja dan ratu di tempat itu.


"Baik...


Kalian harus jadi orang baik..." jawab Alyss dengan mata tanpa iba sedikitpun.


"Te-tentu saja..." para penculik itu sudah merasa kegirangan mendengar hal tersebut. Hazel pun langsung melihat ke arah istrinya. Tentu nya ia tak mau melepaskan orang-orang yang sudah menyakiti anak-anak nya.


"Congkel mata mereka dan buat mereka meminum besi yang di lelehkan." perintah wanita itu lagi.


"Jadilah orang baik di kehidupan selanjutnya." ucap Alyss sembari menatap tajam ke arah para penculik itu.


Bau hangus dan anyir darah menyeruak di ruangan itu. Hazel tak mengatakan apapun ia hanya mengelus lembut kepala wanita yang bersandar di bahu nya menyaksikan penyiksaan yang di perintahkan wanita cantik itu.


Tak ada ekspresi dan rasa iba sama sekali di mata wanita yang seharusnya penuh akan simpati dan empati itu. Sang suami yang membiarkan istrinya memberikan perintah kejam dan bahkan ia merasa senang saat wanita nya memberikan perintah itu.


......................


4 Hari kemudian.


Gadis kecil itu mulai terbangun tetapi tidak dengan sang kakak. Ia melihat ke samping dan menatap sang kakak yang masih di monitoring dengan berbagai alat medis yang tak ia ketahui.


"Kakak?" gumam nya saat pandangan nya mulai jernih.


Ia pun langsung berusaha turun dengan tergesa-gesa hingga membuat tubuh kecil nya terjatuh dari ranjang pasien.


"Louis!" panggil nya pada sang kakak dan berusaha merangkak karna kaki nya terasa sangat lemas dan tak bisa di gerakkan.


Klek...


Tak lama kemudian para dokter pun datang saat alat yang memonitoring tubuh gadis kecil itu berbunyi karna terlepas saat ia ingin menghampiri kakak nya.


Deg...


Wajah nya seketika pucat melihat orang asing dan para dokter tersebut terlebih lagi melihat ke arah dokter pria.


"Louise gak papa?" tanya dr. Zino sembari membangunkan gadis kecil itu.


Plak!


"Pelgi! Jangan pegang Louise! Pelgi!


Huhuhuhu....


Hua...


Mamah...


Papah...." teriak gadis kecil menggema bercampur dengan tangis nya. Sekarang ia sudah sangat takut melihat orang asing dan pria dewasa.


Setelah mendapat kabar jika putri nya sudah sadar Hazel pun langsung menghampiri putri nya. Sedangkan Alyss masih tertidur, wanita itu tak bisa tidur selama 4 hari dan membuat suaminya memberikan obat penenang dan obat tidur sekaligus agar bisa membuat istrinya beristirahat.


"Huhuhu...


Jangan pegang Louise....


Pelgi..." tangis gadis itu sembari menutup mata dan telinga nya. Ia tak bisa di sentuh karna akan memberontak dengan sekuat tenaga.


"Louise? Ini papah sayang...." ucap Hazel lembut sembari meraih putri nya yang sudah menangis ketakutan dan gemetar di pojok dinding sebelah lemari seperti sedang bersembunyi.


Gadis kecil itu saat mendengar suara sang ayah perlahan membuka mata nya dan melihat sang ayah.


"Papah?" ucap nya lirih.


"Iyah...


Ini papah sayang...


Jangan takut..." ucap Hazel sembari mulai meraih gadis kecil itu.


Perlahan ia berusaha menarik putri nya agar tak bersembunyi namun.


Deg...


Seketika ingatan tentang yang di lakukan oleh pria yang hampir memperk*sa nya berputar di kepala nya. Walau ia tak tau apa yang ingin di lakukan pria itu namun rasa takut dan trauma tertinggal di hati dan pikiran nya.


"Lepas! Jangan pegang Louise! Om jahat jangan pegang Louise huhuhu...


Mamah...


Papah...


Ada om jahat...


Louise takut...." tangis gadis itu histeris saat sang ayah menarik nya.


"Ini papah sayang..." ucap Hazel dengan suara tertahan dan hati yang seperti di tusuk dengan tombak terbesar melihat putri nya sendiri tak mampu mengingat nya dan masih tenggelam di kenangan buruk nya.


"Ampun om...


Sakit...


Lepasin Louise sama kakak huhuhu..." tangis dengan terus meringkukkan tubuh kecil yang duduk di balik lemari seperti sedang bersembunyi.


"Sayang...


Ini papah...


Om jahat nya sudah pergi..." ucap Hazel lagi sembari berusaha meraih tangan putri nya yang menutup telinganya dan memejamkan mata nya dengan erat.


"Huaaa....


Lepas....


Jangan pegang Louise...


Sakit... Huhuhu....


Mau sama mamah papah... huhuhu..." tangis gadis kecil itu semakin histeris saat sang ayah meraih tangan nya.


"Ini papa sayang..." ucap Hazel lagi dengan suara serak dan tertahan. Tenggorokan nya terasa tercekat dengan lidah yang kelu tak bisa berkata dengan jelas. Dada nya begitu sesak melihat putri kesayangan nya terlihat begitu trauma sampai tak mampu lagi mengingat nya.