(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Jealous



2 Hari kemudian.


JBS Hospital.


Louis menatap pria paruh baya di depan nya yang memberikan dokumen berisi persetujuan nya untuk memulai produk baru dan pembelian perusahaan kecil yang lain.


"Bukan kah ini terlalu ceroboh? Uji coba klinis dan perusahaan yang memiliki masalah tak akan menguntungkan kita." ucap Louis ragu saat pria paruh baya yang tak lain adalah Rian meminta tanda tangan persetujuan nya.


"Percaya saja pada paman, ini perusahaan yang paman pilih." ucap Rian pada Louis dan tetap ingin membuat pria muda itu menandatangi dokumen yang ia bawa.


"Lalu kenapa semua yang tertera disini atas nama ku? Bukankah seharusnya nama paman juga ada?" tanya Louis yang tetap ragu menandatangi persetujuan nya pada kertas dokumen di depan nya.


"Kalau kau sangat ragu, tidak bisakah mendatanginya untuk paman? Kau bahkan tidak mempercayai paman lagi sekarang?" tanya Rian yang tetap menjaga nada bicara tenang nya.


Louis menghela nafas sesaat, ia bukan nya tak percaya namun hal ini sedikit ganjal untuk nya. Jika di tanya siapa yang paling ia percayai setelah adik nya ia pasti akan menjawab pria paruh baya di depan nya. Ia benar-benar menganggap Rian sebagai ganti sang ayah setelah meninggal dunia.


"Baik, aku akan tandatangani..." ucap Louis dengan mata yang sangat mempercayai pria di depan nya dan menunjukkan senyum tulus nya pada pria di depan nya.


Rian menatap Louis yang mulai menandatangani dan memberikan stampel pengesahan perusahaan yang di pegang oleh setiap Presdir pada kertas dokumen yang nantinya akan menjerat nya membuat nya terkena tuduhan palsu atas apa yang tak ia ketahui sama sekali.


Maaf...


Aku harus seperti ini lebih dulu...


Setelah pengesahan dari Louis selesai, Rian bangun dan mengambil dokumen di depan nya.


"Ku harap kau lebih cepat tumbuh seperti ayah mu..." ucap Rian dengan melempar senyum pada pria di depan nya.


Ia tau walaupun Louis memiliki bakat dan kepintaran namun pria itu masih pria manja yang belum bisa benar-benar bersikap dewasa dan lepas dari sikap dan emosi masa remaja nya.


Louis yang harus melepas masa remaja dan semua didikan manja yang sudah merakar pada nya sejak kecil saat berusia delapan belas tahun dan harus memaksakan dirinya bersikap dewasa dan mewarisi perusahaan ayah nya sejak ibu nya meninggal membuat nya harus berhenti dari semua kebiasaan masa muda nya.


Berhenti balapan mobil, bermain dengan teman-teman nya, kenakalan remaja pada umum nya harus ia hentikan dan keadaan yang memaksa untuk menjadi pewaris, ia bisa saja melempar tanggung jawab pewaris pada adik nya namun ia tau adik nya sendiri masih ingin hidup bebas.


Saat pemecahan JBS grup jujur saja ia sangat senang karna ia bisa belajar sedikit demi sedikit dengan tidak semua tanggung jawab di bebankan pada nya, namun saat adik nya memberikan pengalihan kekuasaan pada nya ia tetap menerima nya walau sebenarnya tak ingin.


Alasan ia menerima nya hanya satu. Yaitu agar tetap adik nakal tak merasa seperti dirinya yang melepas kehidupan remaja dan kehidupan yang bebas seperti sebelum nya. Ia tak ingin adik nya terbebani masalah pewaris perusahaan sama sepertinya, kecuali gadis itu yang meminta sendiri.


"Paman sedikit aneh..." gumam Louis saat melihat pria paruh baya itu keluar dari ruangan nya.


Walaupun ia sempat ragu akan dokumen yang ia tandatangani namun tetap saja rasa percaya pada sahabat ayah nya begitu kuat dan lebih memilih mempercayai Rian dari pada keraguan nya.


......................


Cafe.


James melihat beberapa kali ke arah gadis di sebelah nya yang berusaha menutup wajah nya dengan kertas menu yang di tampilkan di depan nya.


"Kenapa sih? Kau seperti di kejar rentenir!" ucap James saat melihat gadis itu seperti berusaha menyembunyikan wajah nya.


"Isshh! Aku kan kaya! Tidak butuh rentenir!" ucap Louise pada pria tampan itu.


"Lalu sekarang sedang apa?" tanya James pada gadis itu.


"James." panggil Louise tiba-tiba membuka kertas menu yang menghalangi wajah cantik nya.


"Hm?" jawab James dengan nada cuek nya.


"Mantan yang kau punya berapa?" tanya Louise tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya James bingung saat gadis cantik depan nya tiba-tiba menanyakan hal tersebut.


"Jawab saja! Penasaran tau!" ucap Louise pada pria itu.


"Satu." jawab James acuh sembari membalas tatapan gadis di depan nya.


"Satu? Perempuan yang seperti tante-tante itu yah? Yang waktu kita ketemu kedua kali?" tanya Louise memperjelas.


"Bukan, dia hanya wanita untuk melakukan **** dengan ku saja, bukan pacar. Dan lagi itu pertemuan ketiga kita bukan kedua." jawab James tanpa merasa canggung mengatakan kalimat terbuka seperti itu.


Karna bagi nya wanita yang ia akui sebagai pacar nya hanya Bella si gadis yang sudah mengkhianati nya dan menanggap wanita lain hanya sebagai mainan.


"Wah!!! Kau ini brengsek sekali! Meniduri wanita tapi tak mau mengakui nya!" ucap Louise menatap jengkel pada wajah datar di depan nya.


"Sudah ku bilang aku tidak tidur dengan mereka, tapi hanya melakukan ****, dan lagi mereka juga senang karna aku membayar nya." jawab James dengan nada penekanan pada gadis itu.


Karna setelah ia melakukan hubungan di atas ranjang dan melepaskan nafsu ia akan kembali ke kamar atau mengusir wanita yang baru saja bermain dengan nya dan tidur sendiri. Ia tak mau tidur dengan wanita-wanita yang hanya ia anggap sebagai penghibur sesaat nya.


"Lalu berapa banyak wanita yang sudah melakukan nya dengan mu?" tanya Louise lagi dengan raut wajah yang sudah berubah.


"Kau ini kenapa sih? Tiba-tiba tanya seperti itu?" ucap James pada gadis yang sudah menunjukkan wajah kesal nya.


"Kenapa tidak jawab?! Banyak sekali?! Iya?!" tanya Louise semakin kesal.


James menghela nafas nya, memang setelah ia putus dengan mantan kekasih nya ia meniduri banyak wanita dan gadis yang masih murni.


"Lalu aku apa? Aku juga sama seperti pel*cur yang memuaskan mu itu?!" tanya Louise yang semakin tak terkontrol emosinya, dari baik-baik saja hingga menjadi jengkel nya.


James menatap tajam ke arah gadis di depan nya, ia sangat tak menyukai pernyataan yang di ucapkan oleh Louise.


"Louise...


Jaga ucapan mu! Aku menganggap mu..." ucap James menggantung.


Ia tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan karna diri dan logika nya terus mengingatkan agar tidak menganggap gadis itu sebagai siapapun yang berarti untuk nya walau perasaan nya sudah mulai berubah.


"Apa? Kau tak bisa jawab kan? Mesum! Brengsek!" ucap Louise kesal dengan memberikan kata umpatan di dalam nya.


"Kau pacar ku, kalau aku menganggap mu seperti mereka aku pasti sudah melakukan hal itu pada mu." ucap James yang mengatakan kalau ia memang belum mengambil kesucian gadis itu, berbeda saat ia pertama kali bertemu Louise yang saat itu sangat ingin mengambil kesucian nya.


"Masa bodoh! Aku tak mau tidur dengan mu! Kau kotor!" ucap Louise yang sangat suka menghabiskan rasa sabar orang lain.


"Kenapa kau sangat suka menyebut ku kotor?" tanya James yang dengan nada penuh penekanan karna ia sudah mulai jengkel dengan sikap gadis di depan nya.


"Yah karna kau kotor! Aku tak mau melakukan nya dengan mu! Takut kena penyakit menular!" ucap Louise yang sudah terbawa kesal saat tau pria di depan nya sudah melakukan hal tersebut pada banyak wanita.


"Aku tak punya penyakit apapun! Dan wanita yang melakukan nya dengan ku juga sudah di katakan bersih, kau dengar?!" ucap James kesal.


Karna ia memang tak sembarangan dan memilih mana wanita yang ingin ia jadikan teman ranjang nya dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.


Louise membuang wajah nya dengan kesal dan bernafas kasar. Perubahan mood nya benar-benar berubah dengan cepat.


James pun menghela nafas, ia benar-benar seperti berpacaran dengan seorang anak kecil yang mudah menangis, kesal dan tertawa dalam satu waktu bersamaan.


Belum sempat ia membujuk gadis itu. Suara seorang lelaki sudah lebih dulu memanggil nya.


"Louise?" sapa seorang pria yang sangat akrab di telinga gadis itu.


Astaga, lupa tutup muka kan!


Louise pun melihat ke arah pria di depan nya dan memberikan senyum nya.


"Sudah lama..." ucap pria yang tak lain adalah Charlie mantan dari gadis itu.


"Iya sudah lama, bagaimana kabar mu?" tanya Louise basa-basi sedang James menatap tajam ke arah pria tersebut.


"Baik...


Dia siapa? Pacar baru mu?" tanya Charlie lirih walaupun sudah lama namun ia dulu benar-benar tulus menyukai gadis itu.


Louise pun melihat ke arah wajah James yang suram dan menatap tajam ke arah nya. Bibir nya tertarik senyuman simpul dan menjawab mantan kekasih nya itu.


"Bukan! Dia paman ku!" jawab Louise enteng dan semakin membuat kesabaran pria tampan itu menipis.


"Oh...


Halo paman..." sapa Charlie dengan sopan pada James sembari sedikit menundukkan tubuh nya.


James membuang wajah tak menyambut bersahabat pada pria itu.


"Aku dengan teman-teman ku, kalau kau mau gabung tidak apa-apa..." tawar Charlie pada gadis itu.


"Tidak! Tidak! Aku tak perlu itu!" tolak Louise cepat.


"Kenapa kalian bisa saling mengenal?" sambung Louise lagi dengan bergumam.


Ia tak tau jika sebagian mantan pacar nya mengenal satu sama lain nya dan berkumpul di tempat yang sama.


"Baik...


Aku pergi lebih dulu yah..." ucap Charlie tersenyum ramah pada gadis itu dan kembali ke teman-teman nya.


"Siapa tadi?" tanya James dengan nada tak suka.


"Mantan." jawab Louise singkat namun membuat pria itu sangat kesal.


"Bocah sialan itu?!" ucap James kesal sembari melihat lagi ke arah kumpulan pria-pria muda itu.



"Bocah sial? Kau yang sialan!" umpat Louise kesal, tak hanya James yang panas, ia juga panas saat mengetahui pria itu sudah meniduri banyak wanita.


"Louise kesabaran ku juga memiliki batas! Dan ku harap kau tak membuat ku melewati nya!" ucap James penuh penekanan pada gadis itu.


"Dibandingkan dengan bocah sial yang baru kau sebut, mereka lebih baik dari mu!" ucap Louise kesal.


"Mereka? Mantan mu yang mana sih?" tanya James ketika mendengar kata mereka.


"Semua!" ucap Louise kesal.


James pun memejam sesaat dan menarik nafas panjang, walaupun ia tau gadis itu tak mungkin seperti nya yang bisa menyentuh dengan bebas namun tetap saja jengkel mendengar banyak nya mantan pacar gadis cantik itu.


Louise pun menatap dengan wajah pura-pura bodoh pada pria di depan nya.


James pun meletakan gelas lemon tea nya dan menarik tangan gadis itu.


"Auch! Sakit!" ucap Louise saat James menarik tangan nya tiba-tiba.


"Kau harus jadi anak baik dan patuh dengan paman mu kan?" tanya James dengan senyuman devil milik nya sembari menatap tajam gadis itu ketika mengembalikan kata Paman.


Louise pun membuang wajah kesal dan mengikuti langkah cepat pria itu yang semakin menarik nya hingga membuat pergelangan tangan nya yang kecil menjadi sakit.


James memasukkan gadis itu ke mobil dan membawa nya ke menuju mansion nya.


"Kau benar-benar tak takut dengan ku rupa nya, Hm?" tanya James dengan nada kesal.


Louise hanya diam tak menggubris pria itu dan membuang wajah nya ke arah jendela mobil.


"Louise!" bentak James saat gadis itu benar-benar mengabaikan nya.


"Hm..." jawab Louise dengan malas walaupun ia sebelum nya sangat terkejut saat pria tampan itu membentak nya.


"Kau itu benar-benar-"


"Masa bodoh!" ucap Louise langsung memotong ucapan pria itu dengan wajah dan tatapan malas.



James pun menarik nafas panjang dan melajukan mobil nya, dengan kesal.


"Aku mau pulang! Mau latihan biola! Lagi kesal!" ucap Louise enteng dan membuat seakan-akan pria tersebut seperti supir nya.


"Aku bukan supir mu!" jawab James kesal.


"Aku mau main biola ku! Kalau tak mau mengantar aku turun disini!" ucap Louise yang masih merasa panas karna mengingat pembicaraan tentang berapa banyak wanita yang melakukan hal itu pada pria tampan itu.


James diam tak menghiraukan dan terus melajukan mobil nya.


"Di bilang berhenti!" ucap Louise sembari memegang stir mobil nya dan membuat mobil tersebut melaju zig-zag karna berebut stir.


James pun menahan dan menepikan mobil nya agar tak terjadi kecelakaan.


"Kau gila! Kita hampir kecelakaan!" bentak James pada gadis itu dan membuat Louise langsung terdiam.


"Tidak tau! Aku mau pulang! Tidak mau dengan mu!" ucap Louise yang kembali menjawab dengan nada membentak pria itu.


"Kau ini kenapa sih?!" tanya James kesal.


"Kau Brengsek! Mesum! Predator wanita!" teriak Louise kesal pada pria itu.


Auch!


Ringis gadis itu saat tangan nya di cengkram dengan kuat oleh pria di depan nya.


"Kau tidak bisa tenang?! Hm?" tanya James sembari membuat gadis itu tersudut di bangku nya.


"Mau pulang! Kesal!" jawab Louise membuang pandangan mata nya.


"Bukan nya seharusnya aku yang kesal? Kenapa kau yang marah?!" tanya James bingung pada gadis itu, karna yang mereka temui hari ini bukan lah mantan nya namun mantan kekasih gadis cantik itu.


"Kenapa kau?! Bukan nya kau yang pernah melakukan hal itu dengan banyak wanita?!" jawab Louise mendengus kesal pada James.


James terdiam sejenak dan mulai menangkap maksud gadis cantik itu di balik perubahan sikap nya yang mendadak.


"Kau cemburu?" tanya James langsung dengan menunjukan seringai nya.


Deg...


"Tidak! Kenapa aku harus?!" tanya Louise kesal dengan langsung menyanggah.


"Aku memang melakukan hal itu pada mereka, tapi aku melakukan itu sebelum mengenal mu, jadi kau tak perlu cemburu." ucap James yang semakin membuat Louise kesal.


"Aku tak cemburu! Sudah ku katakan aku tidak cemburu!" teriak Louise dan memekakan telinga pria tampan itu.


"Aku juga sangat sehat dan tak memiliki penyakit menular apapun, kecuali kau menularkan nya." ucap James pada gadis itu dan semakin membuat Louise kesal.


"Kenapa aku punya penyakit menular?! Aku saja belum pernah melakukan nya!" sanggah Louise semakin kesal.


"Kalau begitu mau ku ajari cara melakukan nya? Hm?" tanya James dengan mata yang sulit diartikan dan senyuman sejuta arti.


"Sudah ku bilang tak mau! Brengsek! Dasar pria mesum sialan!" jawab Louise dengan beberapa umpatan pada pria di depan nya.


"Kau bilang apa tadi?" tanya James mengulang.


"Kau pria bre-


Hummpphhh..." ucapan gadis itu yang langsung terputus saat ia merasakan lum*tan tajam yang menari di bibir nya dengan agresif.


James melepaskan sabuk pengaman dirinya dan gadis itu agar lebih mudah menggerakkan dirinya dan kemudian memegang kedua tangan kecil yang di satukan dalam tangan kekar nya agar Louise tak bisa mendorong tubuh nya.


Ia mencium dan berulang kali membelit lidah gadis itu bahkan membuat Louise menelan saliva yang ia berikan agar tetap bisa mencuri nafas di tengah ciuman panas nya.


Tangan nya masuk ke dalam pakaian gadis itu dan meraba perut rata milik Louise mulai menaikkan tangan nya ke dada secara perlahan. Louise pun sedari tadi terus berusaha memberontak hingga James melepaskan ciuman nya dan turun ke leher jenjang gadis itu.


"Hah...hah...hah...


Le-lepas dasar pria mesum!" ucap Louise terengah-engah karna baru saja lepas dari ciuman mematikan itu.


Auch!


Ringis nya saat ciuman James di leher nya berubah menjadi gigitan dan hisapan kuat hingga membuat nya meringis menahan sakit.


James pun melepaskan nya dan melihat bekas merah kebiruan pada leher gadis itu, ia tersenyum simpul dan melepaskan kedua tangan Louise dari cengkraman nya dan menarik tangan nya dari balik pakaian gadis itu lalu memakaikan kembali sabuk pengaman nya.


"Aku tak melakukan hal itu pada wanita manapun sejak kita memulai hubungan…


Jadi jangan cemburu lagi..." ucap James setelah ia juga memasang sabuk pengaman nya.


"Siapa yang cemburu?! Hubungan?! Kau sendiri yang dulu bilang aku cuma mainan mu!" ucap Louise kesal.


"Kau kekasih ku, kau...


Sangat berbeda dengan mereka, mereka bahkan tidak pantas untuk rasa cemburu mu." jawab James tersenyum simpul melihat wajah yang semakin kesal itu.


"Sudah ku bilang aku tidak cemburu!" teriak Louise dan membuat James tertawa kecil walaupun telinganya mulai sakit ketika terus mendengar teriakan nyaring itu.


Louise pun membuang wajah nya dengan kesal dan melindungi dada nya dengan kedua tangan nya karna masih merasa takut pada pria yang baru saja meraba halus berbeda dengan ciuman kasar nya.


"Menggemaskan..." gumam James saat melirik ke arah Louise sejenak sembari menampilkan seulas senyum nya.