
Setelah seminggu Alyss sadar dan menjalani pengobatan tak membawa perubahan apapun padanya, kondisi nya semakin melemah dari hari ke hari.
"Minum itu!" titah Hazel pada Alyss, yang meminta Alyss meminum minuman herbal yang berada dalam mangkuk yang bisa meningkatkan daya tahan tubuhnya tetapi tak membawa pengaruh ke kandungannya.
Sebelumnya Rian yang mengusulkan tentang minuman herbal tersebut, merasa hal itu dapat memberi harapan untuk kesehatan Alyss, membuat Hazel menyuruh Alyss meminum minuman tersebut dua kali sehari.
"Pahit..." ucap Alyss lirih ketika melihat minuman yang berwarna seperti teh hitam tersebut.
"Kau tak mau? Jangan bersikap kekanakan." ucap Hazel pada Alyss.
"Mudah sekali dia bilang begitu, dia juga pasti tak akan mau meminumnya." ucap Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan.
Walaupun Alyss mengatakan dengan suara yang pelan namun Hazel masih dapat mendengar hal tersebut.
"Bagaimana jika ini terasa manis?" tanya Hazel dengan tersenyum licik pada Alyss, ia pun mulai mengambil mangkuk berisi minuman tersebut, dan menyimpan nya didalam mulutnya.
"Manis?" ucap Alyss dan langsung menoleh ke arah Hazel, baru saja ia memalingkan wajahnya, ciuman Hazel sudah mendarat dibibir secara tiba-tiba.
Hazel meminumkan minuman tersebut pada Alyss melalui ciumannya. Sontak saja mata Alyss langsung terbelalak dengan sikap Hazel yang tiba-tiba mencium bibirnya dan memberi minuman tersebut.
Karna Alyss yang terkejut membuat beberapa minuman tersebut tak tertelan oleh nya semua dan menetes turun membasahi lehernya.
"Kurasa ini manis." ucap Hazel dengan senyum liciknya menatap wajah Alyss dari dekat ketika ia sudah selesai memberi Alyss minuman tersebut dengan ciumannya.
Alyss benar-benar tak bisa berkata apa-apa, ia tak habis pikir bagaimana Hazel bisa mencium nya dengan santai saat para dokter dan prof yang menanganinya masih berada di ruangan itu.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Alyss dan berusaha memalingkan wajahnya dari wajah Hazel.
"Memberi mu obat." ucap Hazel lembut sembari memegang pipi Alyss dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Minuman nya terasa sangat manis, aku suka." ucap Hazel dan mulai turun ke leher Alyss, ia mengecup dan menjilat sisa tumpahan yang turun ke leher Alyss.
Leher Alyss terasa tergelitik dengan tingkah Hazel, ia pun berusaha menghentikan Hazel dengan mendorong tubuh Hazel darinya.
Sejujurnya ia sangat merasa malu saat Hazel memperlakukan nya seperti itu ketika para dokter dan prof masih di ruangan nya. Walaupun mereka tak berani melihat dan menatap ke arah nya, tetap saja ia merasa malu.
"Su-sudah..." ucap Alyss lirih sembari mendorong tubuh Hazel yang masih menciuminya di sekitar lehernya.
Hazel pun berhenti, dan melihat ke arah Alyss.
"Kenapa? Mereka tak akan berani melihat atasan. Lihat? Mereka menunduk kan?" ucap Hazel sembari mengarahkan wajahnya ke arah para dokter dan prof yang menundukkan kepalanya ke bawah.
"Tetap saja..." ucap Alyss lirih.
Hazel hanya tersenyum mendengar ucapan dan sikap Alyss yang menjadi malu, karna ulahnya.
Setelah itu ia pun memandang lekat ke arah wajah Alyss, tak ada yang berubah dari wajahnya ia masih tetap cantik, walaupun dengan wajah yang sepucat susu.
"Kenapa wajah mu pucat sekali? Padahal kau sudah menjalani pengobatan." tanya Hazel lirih sembari mengelus pipi Alyss dengan lembut.
Alyss tak menjawab apapun perkataan Hazel.
Setelah menatap lekat wajah Alyss, Hazel mengalihkan pandangan nya ke para dokter dan prof yang merawat Alyss.
"Kenapa pengobatan kalian masih tak menunjukkan hasil?! Apa saja yang kalian lakukan? Ini sudah usaha terbaik?!" ucap Hazel dengan nada tinggi memarahi para dokter dan prof yang berada di ruangan itu.
Telinga Alyss rasanya mulai peka mendengar ocehan Hazel yang tak henti-hentinya memarahi para petugas medis yang merawat nya.
"Dia memarahi mereka lagi, kenapa tak memarahi dirinya sendiri? Dia yang paling bertanggung jawab atas semua lukaku." batin Alyss ketika melihat Hazel memarahi petugas medis yang merawatnya.
Alyss mulai merasa kasihan pada petugas medis tersebut, pasalnya ia yang paling tau tentang usaha yang sudah mereka lakukan padanya, dan ia sendiri juga merupakan dokter yang mengerti tentang bagaimana kondisinya saat ini.
Alyss mulai meraih jari kelingking Hazel dan menarik nya perlahan, merasa Alyss yang sedang memegang kelingking nya membuat Hazel menghentikan marahnya sejenak dan melihat ke arah Alyss.
"A-aku mengantuk." ucap Alyss lirih. Ia berusaha menghentikan Hazel yang terus memarahi para petugas medis yang merawatnya.
"Kau ingin tidur?" tanya Hazel lembut dengan menatap wajah Alyss.
Alyss hanya menganggukkan kepala perlahan, Hazel pun menyuruh seluruh petugas medis tersebut untuk keluar dari ruangan Alyss.
"Sekarang kau bisa tidur." ucap Hazel sembari menaikkan selimut ke tubuh Alyss saat tinggal mereka berdua di ruangan itu.
"Aku masih memiliki pekerjaan. Aku akan kembali nanti malam." ucap Hazel lalu mengecup kening Alyss sekilas, dan keluar dari ruangan itu.
......................
Jam 01.35 AM Di ruangan Alyss.
Hazel selalu tidur di ranjang yang sama dengan Alyss selama Alyss menjalankan pengobatan, ia mengganti ranjang pasien Alyss dengan ranjang yang lebih besar agar muat untuk nya juga.
Alyss mulai merasa gelisah dalam tidur nya, tubuhnya terus mengeluarkan keringat terus menerus, merasa Alyss yang bergerak sedikit demi sedikit membuat Hazel ikut terbangun.
Hazel langsung terkejut ketika menyadari Alyss yang sedang menggigil dalam pelukannya.
"Alyss? Kau kedinginan?" tanya Hazel ia pun berusaha mengusap keringat di kening Alyss, ia pun kembali terkejut ketika menyadari dahi Alyss yang terasa sangat panas.
Hazel pun langsung memanggil para dokter dengan menekan tombol di ruangan tersebut yang langsung terhubung para dokter yang merawat Alyss.
Malam itu Alyss terus merasa kedinginan dan menggigil namun mengalami demam yang sangat tinggi dan tubuh yang terus mengeluarkan keringat.
Para petugas medis pun langsung memeriksa Alyss.
......................
Ruang Prof. Diany
Setelah Alyss selesai diberi beberapa obat, Hazel pun berbicara dengan prof Diany.
"Kenapa kondisi nya bisa seperti ini? Bukankah dia sudah menjalani berbagai pengobatan lainnya?!" tanya Hazel.
Prof. Diany pun mulai mengeluarkan hasil pemeriksaan Alyss yang terakhir.
"Kami sudah melakukan yang sebaik mungkin pak, tapi saya rasa ini waktunya untuk memutuskan siapa yang akan lebih dulu diselamatkan. Sebelumnya dr. Alyss memaksa saya menunjukkan hasil pemeriksaan nya dan scan MRI miliknya.
Ia ingin membaca hasil pemeriksaan nya sendiri, dan setelah ia membacanya ia meminta saya untuk menjalankan pengobatan pada kandungannya lebih dulu." terang Prof. Diany.
"Dia melihat hasil pemeriksaan nya? Dan meminta mu untuk menjalankan pengobatan pada kandungannya lebih dulu? Apa dia tidak tau resiko yang akan terjadi pada dirinya?" tanya Hazel.
"Benar pak, dr. Alyss tentu tau apa yang akan terjadi padanya, tapi dia tetaplah seorang ibu. Dia pasti akan memilih menyelamatkan anaknya lebih dulu.
Dan untuk kondisi dr. Alyss saat ini sudah benar-benar dalam kondisi berbahaya terjadi infeksi yang membuat nya mengalami sepsis di bagian hati, karna luka yang sebelumnya.
Sebelumnya kita tak memberi pengobatan maksimal karna dr. Alyss sedang mengandung, dan kandungannya juga tak dapat menerima obat tersebut. Jika saat ini anda juga memilih menyelamatkan kandungan nya kami akan memberi beberapa obat untuk menahan kerusakan organ yang disebabkan oleh sepsis tersebut hingga hari kelahiran.
Jika kita menunda lebih lama lagi, mungkin kami tak akan dapat menyelamatkan keduanya." terang prof. Diany yang mengisyaratkan agar Hazel segera memilih.
NB KET :
Sepsis : Suatu komplikasi infeksi yang mengancam jiwa.
Hazel hanya membuang nafas kasar ketika mendengarkan penjelasan prof. Diany. Ia terdiam sesaat. Suara nya benar-benar terasa tercekat. Bibirnya terasa sangat berat saat ia ingin mengatakan keputusan nya.
"Gugurkan kandungan nya, dan beri pengobatan maksimal pada Alyss." ucap Hazel dengan berat hati.
"Baik pak. Kami akan berusaha sebaik mungkin, dan besok kami akan menjalankan prosedur untuk mengugurkan kandungan dr.Alyss lebih dulu, dan membuat nya menjalani pengobatan." ucap prof. Diany.
Hazel tak mengatakan apapun lagi, ia pun kembali ke ruangan Alyss. Ia melihat Alyss yang terbaring dengan wajah pucat, dan terkadang bergerak sedikit seperti sedang menahan sakit di tubuhnya.
Hazel pun meraih tangan Alyss dan mencium telapak tangan Alyss, mata nya masih memperhatikan Alyss dengan lekat.
"Maaf...
Aku bukan tak menyayangi anak kita, tapi aku tak bisa kehilangan mu." ucap Hazel lirih ketika melihat ke arah wajah pucat Alyss.
Hazel pun mengalihkan mata ke arah perut Alyss ia pun mengelus perut Alyss perlahan, dan menciumnya beberapa kali.
"Maafkan ayah...
Ayah sangat ingin melihat mu, tapi ayah sangat mencintai ibumu. Kau bisa mengerti ayah kan? Ayah benar-benar minta maaf." ucap nya lagi ketika melihat ke perut Alyss.
Walaupun Hazel tidak berasal dari keluarga yang harmonis, tetapi jauh dari lubuk hati nya ia sangat menginginkan untuk dapat memilki keluarga yang baik seperti orang biasa lainnya.
...****************...
**Jangan lupa Like, komen, rate 5, vote dan favoritkan yah😉😉
Happy reading🥰🥰🥰**