(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Can't breathe



Kediaman Hazel.


Pukul 07.35 PM.


"Kau mau minum dengan ku?" tanya Hazel sembari menunjukkan sebotol wiski yang di pegang di tangan nya pada Alyss yang sedang menonton tv.


"Minum? Tapi aku tak terlalu kuat minum alkohol." jawab Alyss jujur.


"Ambil gelas nya, ayo minum bersama, lagi pula kau kan juga tak melakukan apapun kan besok?" tanya Hazel lagi sembari mulai duduk di samping Alyss.


"Hmmm...


Iya sih..." jawab Alyss lirih sembari memutar matanya ke atas mengingat ia tak memiliki jadwal apapun besok.


"Yasudah, sana ambil gelasnya." perintah Hazel pada Alyss.


Ia ingin Alyss meminum wiski yang memilki kadar alkohol tinggi sekitar 40% untuk mengetahui perasaan yang sebenarnya Alyss miliki untuk pria tersebut karna ia tau Alyss menjadi lebih jujur dan terbuka saat ia mabuk. Walaupun ia sudah sangat geram dan ingin segera menghukum Alyss.


"Ini gelasnya." ucap Alyss ketika meletakkan gelas yang sesuai untuk meminum wiski tersebut.


Alyss sedikit bingung dengan perlakukan Hazel, ia terdengar saat marah saat di telpon tadi dari nada suaranya, dan saat mereka makan malam pun Hazel terlihat sangat dingin.


Lalu sekarang ia mengajaknya untuk minum bersama?


"Aku minum sedikit saja yah...


Aku tak mau mabuk...


Rasa nya pengar saat bangun nanti..." ucap Alyss saat Hazel menuangkan wiski ke gelasnya.


"Tapi aku mau kau mabuk, Kalau begitu habis kan satu gelas ini." ucap Hazel ketika ia sudah menuang penuh wiski di dalam gelas tersebut. Ia tau Alyss dapat segera mabuk walaupun hanya satu gelas karna itu merupakan jenis minuman beralkohol tinggi dan Alyss merupakan orang yang tak tahan dengan minuman alkohol.


Alyss pun mulai meminum wiski tersebut baru setengah gelas ia minum ia sudah memberhentikan minum nya.


"Hmmm...


Gak kuat lagi..." ucap Alyss saat ia mulai merasakan efek alkohol tersebut, ia pun meletakkan gelasnya ke atas meja.


"Kan ku bilang habiskan." ucap Hazel dengan penuh penekanan.


"Cheers?" ucap Hazel lagi sembari mengangkat gelasnya. Mengisyaratkan agar Alyss meminum lagi wiskinya.


Alyss menggelengkan kepala nya perlahan, ia mulai merasa pusing karna wiski yang ia minum sebelumnya, namun ia belum mabuk dan masih sadar.


"Kau tak mau lagi? Kalau begitu kau mau aku memberi mu secara paksa dan membuat mu minum satu botol ini? Hm?" tanya Hazel dengan nada penuh penekanan dan menatap tajam iris Alyss.


Alyss pun dengan cepat langsung mengambil lagi gelas nya dan mulai melakukan cheers pada gelas Hazel dan mulai menghabiskan sisa wiski di gelasnya dalam sekali tegukan.


Hazel pun ikut meminum wiski tersebut dan tersenyum simpul melihat Alyss yang minum dengan tergesa-gesa, setelah Alyss selesai menghabiskan wiski yang berada di gelasnya Hazel langsung menarik tangan Alyss dan membuat istrinya duduk di pangkuannya.


"Alyss? Kau mabuk?" tanya Hazel sembari menjentikkan jarinya di depan wajah Alyss yang sudah terlihat merah karna mulai mabuk.


"Engga... hehehehe...." jawab Alyss setengah tertawa pada Hazel.


Hazel pun semakin tersenyum melihat Alyss yang sudah mabuk dan matanya yang semakin sayu.


"Kau tadi bertemu dengan siapa di cafe? Hm?" ucap Hazel yang mulai menanyai istrinya.


"Di cafe? Hmmm...


Sama kak Leo..." jawab Alyss yang hampir setengah tertidur.


Melihat Alyss yang hampir tertidur membuat Hazel menggigit bahu Alyss hingga terluka agar Alyss tak tertidur.


"Akh! Sa-sakit...." ucap Alyss lirih dan berusaha mendorong kepala Hazel yang sedang menggigit bahu nya dengan kuat.


"Sa-sakit...." ucap Alyss sembari menitikkan air matanya saat merasa bahu nya mulai terluka.


Hazel pun mulai melepaskan gigitan nya saat ia sudah dapat merasakan darah di bahu Alyss.


"Jangan tidur, aku belum selesai bicara." ucap Hazel sembari mengusap sisa darah Alyss di bibirnya dengan ibu jarinya.


"Aku sudah bilang kau tak boleh sembarang dekat dengan pria lain kan? Kau bilang kau bertemu Larescha tapi kenapa malah kenapa bertemu dengan dia? Apa teman mu berubah menjadi laki-laki?" tanya Hazel pada Alyss yang masih menangis karna bahu nya terluka.


"Akh!" pekik Alyss saat Hazel mulai menarik rambut panjang nya hingga membuat wajah nya mengandah ke atas.


"Kenapa diam saja? Aku sedang bertanya pada mu!" ucap Hazel lirih di telinga Alyss sembari terus menarik rambut panjang tersebut dengan kuat.


"Sakit...


Ga tau tadi Lala ga datang...


Terus kak Leo cuma mau duduk sebentar tadi..." ucap Alyss sembari menahan sakit di kepalanya.


Saat mendengar jawaban Alyss, Hazel pun melepaskan tangan nya di rambut Alyss dengan kasar.


"Kau menyukai ku?" tanya Hazel lagi pada Alyss yang masih mengusap pelan rambut di belakang kepalanya.


Alyss pun melihat Hazel dengan mata sayu nya yang masih terlihat jelas jika ia mabuk.


"Tidak tau...


Aku bingung..." jawab Alyss lirih, semakin ia berusaha menyukai Hazel semakin besar pula kebencian nya, ia merasa seperti memiliki dua arah yang berlawanan dalam dirinya jika mulai suka, maka arah lain akan semakin membenci. Membuat nya menjadi bingung dan tak mengerti dengan hati nya sendiri.


"Tidak tau? Kenapa? Karna kau menyukai pria yang kau temui tadi? Lalu bagaimana dengan pria yang kau temui tadi? Bagaimana dengan bocah sial itu?" tanya Hazel dengan nada yang mulai geram.


"Dia bukan bocah sial! Dia juga punya nama! Leo! Leonard! itu namanya!" jawab Alyss berteriak, karna ia sedang mabuk ia benar-benar tak memiliki rasa takut sedikitpun menyebut nama pria lain di depan suaminya.


"Ck! Lalu kau masih menyukai nya? Kau bilang padaku dulu kau tak menyukainya kan? Tapi ternyata kau menyukai nya lebih dari 3 tahun!" tanya Hazel dengan sinis.


Alyss masih diam dan tak menjawab pertanyaan Hazel.


"JAWAB!!!" bentak Hazel dan langsung menarik rambut Alyss lagi hingga membuat wajah nya mengandah ke atas.


"Sakit..." ucap Alyss lirih sembari ikut memegang rambut saat Hazel tengah menjambak kuat rambut panjang tersebut.


"Kau belum menjawab ku! Kau masih menyukainya?!" tanya Hazel dengan mata tajam nya ke arah Alyss.


"Jangan diam saja! Jawab!" tanya Hazel lagi sembari semakin menarik rambut panjang tersebut saat melihat Alyss yang hanya menangis dan tak menjawabnya.


"Mu-mungkin..." jawab Alyss lirih, ia benar-benar tak memahami perasaan nya sendiri dan di buat bingung dengan perasaannya, bahkan jika itu perasaan yang hanya menganggap "teman" atau "kakak" pada Leo seperti persahabatan nya dengan Larescha, ia menganggap perasaan itu masih dalam lingkup "suka" sebagai pria karna Ia pernah menyukai pria itu lebih dari tiga tahun.


"Mungkin?" ucap Hazel tersenyum pahit. Ia pun mulai melepaskan tarikan rambutnya dan menidurkan Alyss di dada bidang.


"Ssttt...


Sudah jangan menangis lagi...


Aku tak akan menghukum hari ini, karna kau akan melupakannya besok...


Aku ingin kau mengingat dengan jelas hukuman dari ku..." ucap Hazel sembari mengelus rambut Alyss perlahan.


......................


Keesokkan pagi nya Alyss terbangun dengan merasakan perih di bahunya, tangan nya pun menyentuh bahu tersebut dan merasakan perban di atas permukaan kulitnya.


"Eh? Perban?" ucap Alyss lirih, ia tak melihat Hazel di sebelahnya sejak ia mulai bangun.


Ia pun mulai menggerakkan tubuhnya dan melangkah kan kaki nya dengan langkah sedikit oleng karna ia mabuk semalam, ia pun melangkah ke arah cermin untuk melihat bahunya.


"Loh? Di perban? Apa bahuku terluka?" ucap Alyss lirih sembari melihat bahunya yang sudah di obati Hazel sebelum ia tertidur.


Cklek..


Alyss pun mengalihkan pandangan nya ke arah pintu saat mendengar seseorang membuka pintu kamar tersebut.


"Kau sudah bangun? Turun dan sarapan denganku." ucap Hazel dan kemudian menutup pintunya lagi.


Alyss bahkan belum sempat bertanya tentang luka dibahunya, namun Hazel sudah pergi dan menutup pintu tersebut. Ia pun pun mulai melangkahkan kaki nya untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya. Setelah selesai ia pun turun dan sarapan.


"Hazel...


Kau menggigit ku semalam?" tanya Alyss di sela sarapannya, ia membuka plester perban pada bahunya untuk melihat bekas lukanya sebelum ia mandi.


"Habiskan saja sarapan mu." jawab Hazel dingin.


Alyss pun sedikit bingung dengan sikap Hazel ia pun lalu melanjutkan sarapannya. Setelah mereka selesai sarapan. Hazel membiarkan beberapa menit agar Alyss dapat mencerna makanan nya dengan baik.


"Ikut aku." ucap Hazel dan langsung menarik tangan Alyss.


"Hazel, pelan...


Kita mau kemana?" ucap Alyss meringis saat Hazel menarik tangannya dengan kasar dan terkesan menyeretnya.


Hazel tak menjawab dan tetap menarik tangan Alyss.


"Tu-tunggu...


ini?!" ucap Alyss saat Hazel membawa nya menuruni anak tangga ke basement yang tak lain adalah ruang putih.


"Akh!" pekik Alyss saat Hazel menghempaskan tubuhnya ke lantai dingin di ruang putih tersebut.


"Ke-kenapa kau membawa ku kesini? A-aku mau keluar...." ucap Alyss lirih dan mulai bergetar, ia sangat takut dan masih trauma pada ruangan itu, sehingga ketakutan nya semakin menjadi jika Hazel membawanya ke sana.


"Diam saja dan berlututlah!" ucap Hazel datar dan mulai memilih alatnya.


"A-apa kesalahan ku?" tanya Alyss gugup saat melihat Hazel yang sedang memilih alatnya.


Hazel pun seperti mengambil kayu dengan panjang 60 cm dan berdiameter seperti lingkaran jari telunjuk Alyss yang kecil. Seperti cambuk kecil namun tak menggunakan tali.


"Kemarin kau bertemu dengan siapa?" tanya Hazel berjongkok untuk menyamai tinggi nya dengan Alyss yang sedang berlutut dengan tubuh gemetarnya.


"Ke-kemarin aku janjian dengan Lala..." jawab Alyss lirih.


"Tidak...


Lala tidak datang...


Terus kak Le-leo datang...


Kami cuma bicara sebentar, cuma itu, sungguh..." jawab Alyss lirih.


"Kau menyukainya?" tanya Hazel lagi dengan menatap sinis Alyss.


"Ti-tidak...


A-aku tak menyukainya..." jawab Alyss sembari menggelengkan pelan kepalanya.


"I don't wanna a liar babe...


Tell me the truth..." ucap Hazel sembari memegang dagu Alyss dan semakin membuat Alyss ketakutan.


Alyss bingung sekarang, jika dirinya menjawab "Ya" Hazel pasti akan menghukum nya lebih, dan jika ia bilang "Tidak" Hazel juga akan marah dan menghukumnya.


"Ckk, Sudahlah...


Angkat tangan mu." ucap Hazel sembari berdiri.


Alyss masih diam tak mengangkat tangan nya dan hanya meremas dress yang ia kenakan.


"Tak mau? Yasudah, akan ku pukul di bagian yang lain saja." ucap Hazel dan langsung memukul punggung Alyss.


Ctass...


"Akh!" pekik Alyss saat merasakan sakit dan perih di punggung nya yang terasa seperti di pukul oleh batang kayu rotan dengan kuat.


"Jangan bersuara, atau aku akan memukul lebih kuat lagi." ucap Hazel dan terus memukuli Alyss.


Ctass...ctass...ctass...


Alyss langsung menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan kecil agar menahan suaranya agar tak keluar.


Sakit...


Batin Alyss yang menutup mulut nya dengan rapat dengan kedua tangan kecil nya, air matanya terus saja meleleh keluar karna menahan sakit di punggungnya yang terus di pukuli menggunakan cambuk yang terbuat dari kayu tersebut.


"Bagaimana? Sakit?" tanya Hazel tersenyum saat ia menghentikan cambuk nya dan membungkuk memegang dagu Alyss agar wajah mereka saling berhadapan.


"Maaf...


Aku benar-benar tak sengaja bertemu dengannya..." jawab Alyss jujur.


"Aku ingin membunuh bocah itu. Bagaimana menurut mu? Apa aku harus membunuh nya di depanmu? Hm?" ucap Hazel tersenyum pada Alyss yang sedang menangis dengan tubuh gemetarnya.


"Ja-jangan...


Jangan membunuh siapapun..." jawab Alyss sembari menggelengkan pelan kepalanya.


Hazel hanya tersenyum sinis dan...


Plak!


Satu tamparan kuat melayang dipipi putih Alyss hingga membuat pipi putih tersebut menjadi merah.


Alyss pun semakin menjatuhkan bulir bening nya dari mata sendunya sembari memegang pipinya yang terasa sakit dan perih. Ia semakin merasakan sakit yang bertambah di tubuhnya karna pukulan yang ia terima di punggungnya juga.


"Kenapa aku tak boleh membunuh nya? Hm? Itu terserah ku kan? Aku sudah membuat cacat tapi dia masih saja menyentuh apa bukan miliknya." ucap Hazel tertawa sinis pada Alyss.


"Ca-cacat?" ucap Alyss terkejut, sekarang dia ingat bahwa Leo pernah mengatakan jika ia terkena kecelakaan, dan Alyss baru mengetahui ternyata dalang dari kecelakaan tersebut adalah Hazel.


"Kenapa sangat terkejut? Hm? Kau khawatir padanya?" tanya Hazel dengan senyuman sinisnya.


Alyss hanya menggelengkan kepalanya perlahan, ia takut jika menjawab Hazel akan menamparnya lagi.


Drtt...drtt...drtt...


Ponsel Hazel terus saja bergetar di sakunya. Awalnya ia tak mau memperdulikan ponsel tersebut karna ia masih ingin menghukum Alyss yang sedang menangis ketakutan dengan tubuh gemetar dan berlutut di depannya tak berani bergerak sedikit pun.


"Kenapa?! Sudah ku bilang jangan mengganggu ku pagi ini!" jawab Hazel kesal pada Rian, karna Rian menghubunginya.


"Terjadi masalah disini...


Ini sangat darurat, ruang visi sedang sangat kacau sekarang!" jawab Rian panik.


Hazel pun mengernyitkan dahi nya mendengar ucapan Rian.


"Yasudah aku akan kesana." jawab Hazel dan langsung menutup telpon.


Hazel pun memegang dagu Alyss dan mengandahkan wajah cantik yang penuh dengan air mata itu agar melihat ke arah nya.


"Kau takut gelap kan?" tanya Hazel dengan menyeringai pada Alyss.


"Ja-jangan..." ucap Alyss sembari menggelengkan pelan kepalanya, tubuhnya semakin gemetar melihat seringai Hazel.


Hazel tak membalas ucapan Alyss, dan mulai menyeret istrinya dengan cara menjambak rambut panjang tersebut ke salah satu sisi di ruang tersebut.


"Hazel...


Sakit...


Lepas..." ucap Alyss saat merasa seluruh rambut nya hampir terlepas dari kepalanya.


Saat sampai di sisi yang seperti memiliki penyangga lingkaran di dinding tersebut, Hazel pun langsung mengambil rantai dengan panjang setengab meter dan langsung merantai satu kaki Alyss.


"A-apa yang kau lakukan? Aku bukan hewan! Jangan!" ucap Alyss sembari menghalangi tangan Hazel yang sedang merantai kaki kecilnya.


"Kau memang bukan hewan, tapi kau milikku, aku bebas melakukan apa saja pada mu." jawab Hazel dengan seringai di wajah nya sembari mengelus pipi basah Alyss karna air matanya tak berhenti keluar.


Hazel pun berdiri dan melihat Alyss yang terduduk gemetar ketakutan sembari terus menunduk.


"Kau...


Jangan berani menemuinya lagi, bahkan melirik bocah sialan itu saja juga tak di perbolehkan!" ucap Hazel sebelum ia meninggalkan Alyss yang sudah ia rantai.


"Dan jadilah anak baik selama ku tinggal disini..." ucap Hazel dengan senyuman namun memiliki pandangan mata yang sangat tajam pada Alyss, ia pun mulai mematikan lampu dan semua pencahayaan di ruangan tersebut.


Deg...


Jantung Alyss serasa berhenti saat Hazel mematikan lampu dan mengurungnya serta merantainya di ruangan tersebut.


"Hazel!


Tunggu! Jangan matikan lampunya! Aku takut gelap!" ucap Alyss yang langsung ingin berlari keluar ke arah Hazel yang akan segera menutup pintu ruang putih namun tak bisa karna rantai yang sudah mengikat kuat kakinya.


Gelap.. Sangat gelap...


"Hazel...


Lepaskan aku...


Ku mohon...


Aku takut..." teriak Alyss bercampur dengan tangis. Namun sekuat apapun ia berteriak tak akan ada yang mendengar nya, karna ruangan tersebut merupakan ruangan kedap suara.


Tubuhnya semakin gemetar, ia merasa sangat takut walaupun sudah berusaha menenangkan dirinya sebisa mungkin. Terkurung dan berada di tempat yang sangat gelap membuatnya semakin takut dan panik.


Ketakutan semakin menyelimuti dirinya dengan rasa sakit yang di tinggalkan Hazel di tubuhnya.


Ia gemetar, keringat dingin terus saja keluar hingga membuat pakaian nya basah.


Alyss tak memilki tenaga untuk berteriak lagi, kini ia sudah meringkuk di lantai yang dingin dengan kaki yang terluka karna ia sebelumnya berusaha berlari ke arah pintu tanpa memperdulikan kaki nya yang sudah dirantai hingga membuat semakin terluka.


"Hah.. hah... hah..."


Alyss berusaha bernafas senormal mungkin, namun ia terus saja merasa sesak.


"Sesak sekali...


Aku tak bisa bernafas..." Batin Alyss saat ia meringkuk di lantai yang dingin tersebut dengan rasa sakit di tubuh yang terus saja gemetar karna takutnya.


Ibu...


Buka pintunya...


Huhuhuhu...


Alyss akan jadi anak baik bu...


Janji ga akan nakal lagi....


Suara yang mulai sayup di dengar oleh Alyss sebelum ia menutup matanya karna merasa sangat sesak dan sulit bernafas.


...****************...


Haiii.....


Ini belum bab penyesalan yah...


Nanti sekitar 2 lagi baru masuk ke bab penyesalan dan mungkin bakal lebih sedikit kejam yah😭😭😭


Kan biar Hazel nya kapok, jadi Alyss agak tersakiti sedikit yah😭😭


Jangan lupa like, komen, fav, rate 5, vote dan dukung othor yah🥰🥰🥰


Happy reading❤️❤️❤️