(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Persiapan pernikahan



15 Hari kemudian.


"Kau sudah undang petinggi dari perusahaan lain nya?" tanya Hazel pada Rian.


"Sudah, aku sudah mengurus semuanya." jawab Rian sigap.


Karna pernikahan nya yang tak kurang dari seminggu lagi, membuat Hazel sangat sibuk mengurus pernikahan nya.


Ia ingin mengatur sendiri dari mulai design, makanan, furnitur dan lainnya. Hazel benar-benar ingin membuat pernikahan yang ia inginkan.


"Apa cincin nya sudah selesai di buat?" tanya Hazel pada Rian.


"Akan selesai besok siang, aku akan mengurusnya." ucap Rian.


Setelah mengurus beberapa hal akhirnya Hazel kembali ke kediaman nya. Ia tak mengizinkan Alyss bekerja untuk sementara sampai hari pernikahan mereka. Ia tak mau jika ada hal buruk yang terjadi lagi pada Alyss dan akan menghambat pernikahan nya lagi.


......................


Kediaman Hazel.


Alyss yang sejak tadi berbicara di telpon dengan Larescha dan memberitau tentang pernikahan yang akan ia langsungkan.


"Iya minggu depan." ucap Alyss.


"Kok cepet banget si Ly? Tiba-tiba uda ada jodohnya ajah...


Presdir mu lagi yang kecantol..." ucap Larescha sambil tertawa.


"Ishhh...


Memang nya aku mancing ikan." jawab Alyss kesal saat teman nya selalu bercanda padanya tanpa melihat situasi.


"Hahaha...


Iya.. iya.. gitu aja marah...


Nanti aku yang jadi bridesmaid mu yah..." ucap Larescha yang masih tertawa.


"Iya, nanti juga bisa gabung sama sebagian dari temen dokter ku." ucap Alyss dan menidurkan dirinya di sofa panjang tersebut.


"Iyakah? Mana tau nanti aku ketemu jodoh Ly." ucap Larescha becanda.


"Eh, dapet kerja dulu lah, biar ga numpang hidup terus sama orang tua. Hahaha" sambung Larescha lagi.


Alyss terdiam sejenak, rasa bersalahnya kembali timbul lagi saat Larescha mengatakan pekerjaan. Karna ia tau jika Hazel lah yang membuat Larescha di keluarkan dari perusahaan dan sulit mendapat kerja saat ia tau Larescha yang membantu nya kabur dulu.


"Iya, cari jodoh sana, biar ga minta ayam goreng sama aku terus..." ucap Alyss mengalihkan pembicaraan dan tak mau mengatakan tentang pekerjaan.


"Oh iya, gaun buat bridesmaid nanti aku kirim yah ketempat mu." sambung Alyss.


"Sippp.....


Lily, kau sudah memberitau kak Leo kau akan menikah?" tanya Larescha lagi.


"Iya....


Aku belum kasih tau kak Leo..." jawab Alyss lirih, ia masih mengingat Leo yang mengatakan perasaan nya namun ia tolak, ia takut menyinggung jika tiba-tiba mengirimkan undangan pada Leo.


Saat Alyss masih memikirkan kejadian saat di Villa Leo, ia tersentak saat menyadari Hazel yang dari memperhatikannya. Ia tak sadar sama sekali jika Hazel sudah kembali dari RS.


"Ya ampun!!" teriak Alyss terkejut saat melihat Hazel, ia pun langsung bangun duduk.


"Lily? Kenapa?" tanya Larescha dari telpon saat mendengar suara teriakan Alyss.


"Ti-tidak apa-apa La..." jawab Alyss lirih.


"Ya ampun Ly, buat panik saja..." jawab Larescha lega.


"Oh iya...


Bicara tentang kak Leo, apa kau sudah benar-benar-" ucap Larescha terpotong karna Alyss langsung mematikan telpon nya saat melihat Hazel yang semakin dekat dengan nya, ia takut Hazel mendengar dan tau jika dia menyukai Leo lebih dari tiga tahun semasa kuliah nya.


"Kenapa sangat gugup? Seperti lihat setan saja." ucap Hazel dan duduk disebelah Alyss.


"Ti-tidak apa-apa..." jawab Alyss lirih.


"Tadi aku mendengar kau mengatakan nama pria lain di telpon. Siapa dia?" tanya Hazel dengan menatap tajam ke arah Alyss.


"I-itu senior kampus ku dulu...


Lala tanya apa aku akan mengundangnya juga..." jawab Alyss jujur dengan nada lirih namun tak mengatakan jika itu Leo dan orang yang sama yang membantunya saat ia di culik dulu.


"Yang mana?" tanya Hazel memperjelas.


"Itu...


Kak Leo..." jawab Alyss lirih dengan suara yang sangat pelan.


"Leo? Leo yang mana?" tanya Hazel dengan memutar kembali otaknya.


"Iya...


Aku baru ingat, bocah itu?" tanya Hazel memastikan.


"Iya..." jawab Alyss lirih.


"Kenapa kau sangat takut? Apa aku mendengar yang harus nya tak ku dengar?" tanya Hazel menyelidik.


"Ti-tidak kok!" jawab Alyss cepat.


"Kau terlihat sangat gugup, kau menyukai anak itu?" tanya Hazel lagi dengan tatapan yang semakin tajam.


Alyss menunduk tak berani melihat ke arah iris Hazel.


"Ti-tidak aku tak menyukainya...." jawab Alyss lirih.


Hazel pun tersenyum simpul dan mengecup kening Alyss sekilas.


"Bagus, jika kau berani menyukai pria lain, aku akan memberi mu hukuman yang tak akan bisa kau lupakan." bisik Hazel setelah mencium kening Alyss.


"I-iya aku tau...." jawab Alyss lirih.


"Makanya jangan pernah mengkhianati ku..." ucap Hazel dengan senyuman simpul di wajahnya sembari menatap iris Alyss lekat.


"Iya...


Aku janji...." jawab Alyss lirih.


Hazel pun hanya tersenyum dan mulai menidurkan kepala nya ke atas paha Alyss.


"Kita akan mengundang nya." ucap Hazel sembari memejamkan matanya dan melipat tangan nya di dada saat ia tidur di paha Alyss.


"Eh? Siapa?" tanya Alyss bingung dan langsung menunduk melihat ke arah wajah Hazel yang tidur di pahanya.


"Bocah itu, aku akan membuatnya hadir sebagai tamu undangan ku." jawab Hazel, ia sengaja ingin mengundang Leo juga di pernikahan nya untuk menunjukkan jika ia yang akan menikahi Alyss. Karna sebagai semasa lelaki ia bisa merasakan jika Leo memiliki perasaan lain untuk Alyss.


"Tapi..." balas Alyss lirih.


"Kenapa? Kau terlihat sangat perhatian padanya?!" ucap Hazel kesal.


"Tidak kok! Tidak sama sekali!" jawab Alyss cepat, ia takut jika membuat Hazel semakin kesal padanya.


Hazel pun hanya menatap tajam ke arah wajah Alyss yang terlihat risau.


"Hazel...


Jika kita menikah, apa aku boleh minta hadiah pernikahan?" tanya Alyss mengalihkan pembicaraan.


"Hadiah? Hadiah apa yang kau inginkan?" jawab Hazel ia pun langsung teralihkan saat Alyss menyebutkan sesuatu tentang "Pernikahan".


"Itu...


Kau tau Larescha kan? Temanku..." ucap Alyss.


"Tau, teman yang membantu kabur dulu kan?" jawab Hazel enteng.


"Iya...


Kau bisa tidak? Tidak memblokir semua lamaran pekerjaan nya lagi...


Jadi dia bisa mendapat kerja di tempat seharusnya. Dia itu berbakat, tapi kau malah menghancurkan karir nya..." ucap Alyss lirih.


"Itu balasan yang sesuai karna mencoba membawa mu pergi dari ku!" jawab Hazel tegas.


"Tapi dia tidak tau apa-apa...


Dulu aku yang mengatur semuanya...


Aku mohon...


Lagi pula kau pernah bilang jika aku boleh meminta apapun kan? Kecuali melepaskan ku." ucap Alyss membujuk.


"Iya tapi bukan permintaan semacam itu!" jawab Hazel, ia masih kesal saat mengingat Larescha yang dulu membantu Alyss kabur darinya walaupun ia tau Larescha tak mengerti apa-apa dan hanya berniat membantu temannya.


"Boleh yah...


Hazel pun tersenyum dengan ide licik di kepalanya.


"Boleh, tapi ada syarat nya." jawab Hazel dan langsung bangun dari pangkuan paha Alyss.


"Apa syarat nya?" tanya Alyss bersemangat.


"Cium aku sampai aku merasa puas." jawab Hazel enteng.


"Cium? Hanya ciuman kan?" tanya Alyss lirih.


"Kenapa? Kau mau yang lebih dari ciuman?" tanya Hazel dengan nada menggoda.


"Tidak! Aku hanya takut kau meminta lebih dari sekedar ciuman." jawab Alyss cepat dan menggelengkan kepalanya.


"Jika aku tak merasa cukup dengan ciuman mu, tentu saja aku akan meminta lebih." goda Hazel dengan senyuman licik di wajahnya.


Alyss hanya diam tak mampu berkata-kata lagi dan hanya menatap nanar iris Alyss.


"Sini." ucap Hazel dan langsung menempatkan Alyss kedalam pangkuan nya.


"Sekarang kau bisa mencium ku. Kau tau kan? Aku mau ciuman bukan kecupan." ucap Hazel dengan penuh nada penekanan.


"I-iya..." jawab Alyss lirih.


Hazel pun mengandah menatap iris Alyss yang duduk di pangkuan nya menghadap dirinya.


"Jangan lihat...


Malu...." ucap Alyss yang tak bisa mencium Hazel karna terus melihat ke arah nya.


Hazel pun tertawa kecil mendengar ucapan Alyss. Ia pun langsung mencium dan m*l*m*t habis bibir kecil itu.


"Hummmpphhh..."


Hazel pun melepaskan ciuman dalam nya sejenak dan menatap nanar iris Alyss.


"Balas ciuman ku, aku ingin kau lebih aktif di ciuman ini." ucap Hazel lirih pada Alyss yang masih mengatur nafasnya.


Setelah itu pun ia kembali mencium bibir Alyss, Alyss mulai membalas setiap lum*t*n yang di berikan Hazel, ia membuka mulut dan membiarkan lidah Hazel masuk dan menelusuri setiap inci dari mulutnya.


Drtt...drtt...drtt....


Ponsel Alyss pun berbunyi di tengah ciuman panas nya dengan Hazel, saat menyadari ada panggilan masuk di ponsel nya membuat Alyss mendorong Hazel agar melepaskannya sejenak.


Hazel tau jika ponsel Alyss berbunyi, namun ia tak peduli dan tetap mencium Alyss.


"Hummphh..." Alyss yang semakin berusaha mendorong Hazel.


"Hah... hah...


Tu-tunggu...


A-ada yang menelpon ku..." ucap Alyss yang terengah-engah karna ciuman dalam Hazel yang membuatnya kesulitan mengambil nafas.


Hazel pun berdecak kesal karna panggilan telpon yang terus menerus berdering dan Alyss yang terus mendorong nya membuatnya terpaksa melepaskan ciuman yang sangat di sukainya.


"Ini ibuku...." ucap Alyss ketika melihat nama yang memanggil di telpon nya.


Alyss pun langsung berusaha turun dari pangkuan Hazel namun Hazel dengan sigap langsung menahan tubuhnya agar tetap duduk pangkuan nya.


"Angkat saja dan jangan banyak bergerak, kau tidak lihat di mana kau sedang duduk?" ucap Hazel santai dan mengalihkan pandangan nya ke arah dimana yang Alyss duduki.


"I-itu..." ucap Alyss lirih dan telinga nya langsung memerah saat ia tau ia duduk tepat di bagian yang bisa membuat minat Hazel bangkit.


"Sudah...


Jawab telpon nya." bisik Hazel dan mulai mencium ke arah lengkung leher Alyss.


Alyss pun membiarkan Hazel yang tengah mencium lengkung leher nya walaupun ia merasa sedikit geli dan mulai mengangkat telpon dari sang ibu.


"Halo, mah..." jawab Alyss.


"Nak, nanti mama sama ayah mu, mau ke apart mu. Kau ada kan?" tanya ibu Alyss.


"Eh itu mah...


Alyss lagi ga di apart mah..." jawab Alyss bingung, ia belum mengatakan sama sekali jika ia sudah tinggal dengan Hazel untuk waktu yang lama.


"Katakan saja kita sudah tinggal bersama..." bisik Hazel lalu mulai membuat tanda di leher Alyss.


Alyss pun menatap kesal ke arah Hazel yang masih sibuk menciuminya saat ia mendengar saran Hazel.


"Alyss masih di rumah sakit mah..." jawab Alyss bohong.


"Yasudah mama nunggu di apart mu saja yah.


Sekalian mama mau ketemu sama nak Hazel" ucap ibu Alyss ia merasa sedikit segan karna Hazel menolak apapun yang di berikan ia dan suaminya untuk pernikahan putrinya. Hazel yang ingin menanggung semua biaya dan persiapan pernikahannya dengan Alyss sendiri.


"Katakan saja kau di rumah ku, lagi pula mereka juga ingin bertemu dengan ku kan?" ucap Hazel berbisik dan mulai membuka kancing pakaian Alyss satu persatu dan semakin mencium dadanya.


"Hazel jangan....


Ibu ku masih menelpon..." ucap Alyss berbisik agar ibunya tak mendengar percakapan nya dengan Hazel.


"Auch!" pekik Alyss tanpa sadar saat Hazel malah mengigit bagian sensitif dadanya dan bukannya berhenti.


"Alyss?! Kenapa nak?!" tanya Ibu Alyss khawatir saat mendengar suara putrinya yang seperti tersentak terkejut.


"Ti-tidak apa-apa mah..." jawab Alyss gugup.


"Yasudah, nanti mama nunggu di apart mu yah.." ucap Ibu Alyss.


"Jangan mah!


Mamah ke rumah Ehmmm...." ucap Alyss tertahan saat Hazel sudah membuka kaitan bra nya lalu semakin mencium dadanya dan tangan kekar itu mulai menyusup ke dalam rok yang ia kenakan dan semakin menjalar ke bagian intinya.


"Kenapa nak?" tanya Ibu Alyss khawatir ia takut jika saat ini putri nya sedang sakit.


"Ti-tidak apa-apa mah, Alyss sepertinya agak lelah karna terlalu banyak lembur." ucap Alyss jujur pada ibunya, ia mengatakan "Lembur" bukan karna masalah pekerjaan namun Hazel yang membuatnya lembur hampir setiap malam.


"Makanya jangan terlalu banyak bekerja, istirahat jangan lupa, nanti malah malah sakit lagi putri cantik mamah.


..........." ibu Alyss pun terus berbicara panjang lebar menasehati Alyss agar Alyss tidak terlalu banyak bekerja.


Sedangkan Alyss sendiri yang tidak bisa fokus mendengarkan ibunya karna Hazel yang dari tadi sibuk mengganggu tubuhnya.


"Hazel sudah..." pinta Alyss dengan suara yang semakin tertahan dan menjauhkan ponselnya agar ibunya tak mendengar percakapan nya dengan Hazel.


Hazel tak menjawab dan semakin mencium serta mengigit lembut dada Alyss dan semakin memainkan tangan nya di bagian inti Alyss.


"Enghhh..." Alyss yang mulai mengigit bibir bawah bawah agar ia bisa menahan suaranya sendiri.


"Alyss.. Alyss..." panggil ibu Alyss saat ia menyadari putri semata wayang nya tak menggubris ucapannya.


"I-iya mah?" jawab Alyss dan mendekatkan lagi telpon nya.


"Nanti mamah apart mu yah." ucap Ibu Alyss sekali lagi.


"Jangan mah!


Nanti mamah.. enghh...


Ke rumah Ha-hazel sa- unghhh...


Hazel saja mah..." ucap Alyss terbata-bata karna Hazel semakin mempercepat permainan tangan nya.


"Nanti Alyss ke kasih tau alamatnya mah..." ucap Alyss "Tenggorokan Alyss lagi sakit, makanya bicaranya sulit mah..." ucap Alyss berbohong.


"Yasudah Alyss istirahat dulu nak, mama tutup yah telpon nya." ucap Ibu Alyss, ia sebenarnya ingin bertanya kenapa putrinya menyuruhnya ke rumah Hazel bukan ke apartnya, namun ia mencoba berpikir positif jika Hazel tengah menjaga putrinya yang sakit.


"Iya mah.." jawab Alyss lirih.


Setelah Ibu Alyss mematikan telpon nya, Hazel langsung mendorong tubuh Alyss ke sofa dan langsung menindihnya.


Ia pun langsung melanjutkan aksinya, dan mulai melakukan permainan nya di atas sofa tersebut.


...****************...


Aduhh...


Bang Hazel jangan gangguin dulu mbak Alyss nya lagi telponan dulu napa:v


Sini othor jewer kuping nya, biar ga nakal:v


Oh iya bab selanjutnya pernikahan mereka yah🥰❤️


Jangan lupa kondangan ke pesta mbak Alyss sama babang Hazel😅🤭


Oh iya jangan bosan like, komen dan berikan dukungan ke othor yah🥰🥰


Happy Reading❤️❤️❤️