(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Change



5 Hari kemudian.


Kediaman Rai.


Louis mencari keberadaan adik nya dan menemukan gadis cantik tengah bermain dengan kucing-kucing nya.


"Louise," panggil pria dan mendudukkan diri nya di atas kursi santai yang empuk tersebut sembari melihat ke arah adik nya.


"Hm? Kenapa?" tanya Louise sembari mengelus gemas kucing gembul nya.


"Aku akan menikah," ucap Louis setelah menarik nafas nya dengan dalam.


Louise berhenti sejenak dan menatap ke arah sang kakak.


"Dengan siapa? Clara?" tanya Louise sekali lagi.


"Iya, dengan nya..." ucap Louis lirih.


"Kecelakaan yang terjadi memang bukan karna mu kan?" tanya Louise lagi.


"Bukan," jawab Louis sembari memalingkan wajah nya karna berbohong.


Louise pun mengangguk sejenak mengindahkan ucapan dari sang kakak.


"Dia tau kalau perawat yang bersama dengan nya itu kau?" tanya Louise lagi.


"Tidak, dia tak bisa di dekati dengan jika aku menjadi Louis." jawab pria itu pada adik nya.


"Lalu bagaimana kau mau menikahi nya?! Itu sama saja kau menipu nya!" ucap Louise yang tak ingin sang kakak menikahi seseorang namun wanita yang akan di nikahi tak tau siapa suami nya sebenarnya.


"Lalu aku harus bagaimana?! Setiap kali dia dengar suara ku saja dia sudah ketakutan!" jawab Louis frustasi.


"Kau ini kenapa sih? Padahal waktu itu sudah baik-baik saja?! Tapi sekarang?" tanya Louise yang tak habis pikir.


"Louise..." panggil Louis lirih sembari memegang bahu adik nya, "Kau tak mau melihat ku bahagia? Perasaan ku dengan nya itu sungguhan..." sambung nya yang berusaha meyakinkan adik nya.


"Lalu bagaimana dengan nya? Dia akan bahagia menikah dengan mu? Dia bahkan tak tau siapa pria yang akan dia nikahi." ucap gadis itu pada sang kakak.


Louise tentu ingin melihat keluarga satu-satu nya yang ia miliki bahagia namun ia juga tak ingin mengorbankan kebahagian orang lain hanya untuk kesenangan sang kakak.


"Aku akan membuat nya bahagia! Aku bisa!" ucap Louis meyakinkan adik nya.


Bagi Louis izin dari adik nya sangat penting karna gadis itu adalah mutiara berharga nya.


"Lalu bagaimana saat dia bisa melihat nanti? Dia akan membenci mu, mungkin lebih. Karna kau membohongi nya." ucap Louise setelah mendengar sang kakak.


"Aku akan membuat nya sangat menyukai! Jadi jika pun nanti dia tau dia tak akan bisa menerima ku!" balas Louis dengan yakin.


"Kalau dia mau menikah dengan mu, aku juga tak akan menghalangi. Tapi kau juga harus ingat yang akan kau nikahi itu manusis bukan benda yang tak punya perasaan." ucap Louise pada sang kakak.


"Terimakasih adik ku..." ucap Louis sembari menarik dan memeluk adik nya dengan erat.


"Tapi kalau kau menikah kau tak akan bisa tinggal di sini kan?" tanya Louise pada sang kakak.


Walaupun ia setuju namun pasti akan sangat sunyi untuk nya tinggal di kediaman mewah itu sendirian.


"Dia akan tinggal disini! Lagi pula kediaman ini kan luas, dia tak akan tau ada orang lain yang tinggal disini!" ucap Louis pada adik nya.


"Kita seperti benar-benar menipu nya..." ucap Louise lirih mendengar ucapan sang kakak.


"Tapi aku juga tak bisa membiarkan mu tinggal sendiri," Louis yang mengatakan apa yang ia pikirkan.


"Kenapa?" tanya Louise bingung.


"Setiap kali aku tidak di rumah kau juga tidak kan? Menginap di rumah teman? Teman yang paling dekat dengan mu kan cuma Zayn." jawab Louis.


"Aku kadang juga tinggal di apart, bukan menginap di rumah teman!" sanggah Louise lagi.


"Kau tinggal dengan pacar mu, kan? Selama aku tak ada di rumah?" tebak Louis pada adik nya.


"Aku tak pernah menghalangi hubungan asmara mu! Ja-jadi jangan meributkan masalah itu!" ucap Louise yang gugup saat kakak nya mengetahui nya.


"Aku mengatakan nya karna peduli, dia bisa menyakiti mu kapan saja." ucap Louis yang khawatir pada adik nya.


"Aku tau, tapi aku tak bisa berhenti..." ucap Louise lirih.


"Kau benar-benar menyukai nya? Kenapa tidak dengan Zayn saja? Dia baik dan sayang dengan mu kan?" tanya Louis yang membuat gadis utu terkejut.


"Zayn dan aku kan cuma sahabatan! Lagi pula dia juga punya gadis yang di suka!" ucap Louise langsung.


"Gadis yang dia suka yah kau sendiri! Semua orang juga tau! Cuma kau yang tidak tau!" ucap Louis yang memang dapat melihat jika sahabat nya sangat menyukai adik nya.


"Louis!" decak gadis itu dengan kesal.


"Aku cuma mau bilang untuk saat ini yang boleh menikah dengan mu cuma Zayn saja! Yang lain masuk daftar hitam! Termasuk pacar mu yang sekarang!" ucap Louis pada adik nya. Sebagai seorang kakak feeling nya mengatakan jika hanya sahabat masa kecil nya lah yang tak akan menyakiti adik nya.


"Kok gitu sih?! Aku saja tak pernah melarang kau mau dengan siapa?!" tanya Louise yang merasa kesal.


"Kau kan sudah tau kalau aku suka nya dengan siapa?! Lagi pula Clara juga bukan gadis muka dua yang akan menyakiti mu nanti!" jawab Louis pada adik nya.


Louise pun mengekerutkan dahi nya dengan berdecak kesal dan masuk ke kamar nya sembari menggendong kucing kesayangan nya tersebut.


......................


Dua hari kemudian.


"Kita dimana?" tanya Clara saat pria itu membawa nya.


"Disini udara nya bagus kan? Hangat tapi juga sejuk." ucap Louis sembari memegang tangan gadis itu.


"I-iya...


Tapi apa tidak apa-apa aku tak pakai tongkat?" jawab Clara gugup.


"Kenapa? Tenang saja, kau tak akan jatuh. Aku kan memegang tangan mu..." ucap Louis pada gadis itu.


"I-iya..." ucap nya gugup saat pria itu memegang tangan nya.


"Rai?" panggil nya lirih.


"Hm?" jawab Louis pada gadis itu.


"Jangan terlalu dekat dengan ku, aku takut kau akan berakhir seperti seseorang..." ucap nya lirih yang teringat dengan Reno.


Walaupun ia merasa jika Presdir nya tak lagi mendekati ataupun menemui nya tapi tetap saja ia merasa takut. Perasaan takut yang sulit hilang.


"Tenang saja...


Tak akan ada yang bisa melukai ku atau mengancam ku agar pisah dari mu," ucap Louis yang mengerti maksud ucapan Clara.


"Tapi kau bi-"


"Cla, ayo menikah!" potong Louis langsung pada gadis itu.


"Eh?! Apa? Menikah?" tanya Clara terkejut.


"Hm, Menikah...


Kau dan Aku..." jawab Louis pada gadis itu.


"A-aku tak bisa!" tolak Clara sembari menepis tangan yang sedang memegang nya.


"Kenapa?" tanya Louis bingung, padahal ia sudah sangat dekat.


"Di-dia akan datang...


Aku takut...


Aku tak mau..." gumam nya lirih dengan rasa takut yang memenuhi nya.


Louis melihat raut wajah ketakutan dan mata yang mulai menangis tersedu.


Ia pun menarik gadis perlahan dan memeluk nya dengan perlahan juga agar tak ada penolakan.


"Dia tak akan menyakiti mu lagi...


Aku bisa jamin..." ucap Louis lirih menenangkan gadis manis tersebut.


"Dia...


Mungkin saja dia ingin membuat ku menderita...


Dulu dia..." ucap Clara tak jelas karna merasa ketakutan.


"Aku janji dia tak akan mengacau," ucap Louis dan menatap kembali raut wajah gadis itu sembari memegang bahu nya.


"Bisakah kita menikah? Aku akan baik pada mu..." bujuk pria itu lagi.


"Aku takut..." gumam Clara karna ia masih beranggapan jika ada pria yang benar-benar baik pada nya maka atasan nya akan datang dan mengacau nya lagi.


"Cla..." panggil Louis lirih.


"Aku punya reputasi buruk, jangan dengan wanita seperti ku..." ucap Clara lagi.


"Reputasi mu sudah tak buruk lagi, kau tak datang bekerja kan? Maka dari itu kau tak tau?" ucap Louis pada gadis itu.


"Tapi aku masih tak bisa..." sambung nya dengan lirih.


"Kenapa harus menikah dengan ku?" tanya Clara.


"Karna aku suka dengan mu!" jawab Louis langsung.


Tak hanya sekedar suka ia juga ingin mengikat gadis itu dengan hubungan pasti yang akan sulit di putuskan nanti nya.


*Walaupun dengan cara yang akan menipu mu, tapi aku janji akan benar-benar baik pada mu kali ini...


Ku mohon biarkan aku bertanggung jawab pada mu*...


Louis menatap raut wajah gadis itu dengan seksama namun tak menunjukkan tanda-tanda akan adanya persetujuan.


"Nanti setelah kita kembali ke rumah mu, aku akan bilang pada ayah mu tentang lamaran ku." ucap Louis pada gadis itu.


"Eh?! Ta-tapi aku be-"


"Aku serius dengan mu, bukan hanya ingin sekedar bermain," ucap Louis sekali lagi yang membuat gadis itu terdiam.


......................


James menatap wajah tak nyaman dan pucat gadis di depan nya.



"Kau sakit? Padahal tadi kau yang minta keluar, kita mau kembali saja?" tanya James sembari menatap gadis cantik tersebut.


"Perut ku sakit...


Aku ke toilet dulu..." ucap Louise lirih dan beranjak bangun.


James tersentak saat melihat gadis itu berlalu bangun ingin pergi ke toilet.


Ia melepas jaket yang dan menyusul gadis yang tengah memakai celana jeans berwarna putih dengan atasan model sabrina yang membuat nya terlihat dewasa dan juga menggemaskan.


"Eh?!" ucap Louise terkejut dan menoleh saat ia merasakan pria itu tengah mengikat jas nya menutupi bagian belakang tubuh nya.


"Kau datang bulan? Warna nya terlalu kontras..." bisik James sembari mengikat jas nya di pinggang gadis itu.


"A-aku datang bulan?!" tanya Louise gugup dengan telinga yang memerah.


"Hm..." jawab James datar.


"Kita kembali ke mobil," ucap nya sembari menarik tangan gadis itu membawa nya kembali ke mobil.


"Jas mu? Na-nanti ku ganti..." ucap Louise lirih karna merasa malu.


"Tidak apa-apa, jangan di pikirkan." jawab James sembari membawa gadis itu.


Setelah memasukkan Louise ke dalam mobil ia pun pergi lagi.


"James tung-" ucap Louise terhenti saat pria itu pergi begitu saja.


Louise pun merasa tak nyaman dan malu, telinga nya memerah sembari terus menggeser duduk nya.


"Duh! Jas nya ini juga pasti sudah kena..." gumam gadis itu lirih dan tak lama kemudian pria itu masuk.


"Kau dari mana? Jas nya seperti nya sudah terkena darah nya juga..." ucap Louise lirih.


"Ini minum...


Pembalut mu masih ada di mansion, kita langsung pulang saja, biar kau bisa langsung ganti." ucap James dengan wajah datar nya seperti biasa.


"Kau marah?" tanya Louise lirih, karna ia memang tak bisa menebak jika pria itu terus memasang wajah datar dan tanpa ekspresi nya.


James yang baru menghidupkan mobil nya melihat ke wajah gadis itu.


Ia bergerak menarik sabuk pengaman dan mengecup kening gadis itu saat wajah nya hanya berjarak beberapa senti.


"Kenapa aku marah? Hm?" tanya nya setelah mengecup kening gadis itu.


"Aku membuat mu malu? Atau karna jas mu sudah kotor?" tanya Louise lirih.


Pria itu tanpa sadar tersenyum, ia sudah sangat hafal jika gadis itu saat tengah mendapat menstruasi nya akan bersikap mudah tersinggung, sedih atau pun mudah marah.


Tak heran sebelum mereka pergi keluar gadis itu marah tanpa henti pada nya di mansion hingga membuat nya mengajak keluar sesuai keinginan gadis cantik itu.


"Kenapa aku malu? Setiap wanita kan memang harus seperti itu kan? Itu hal yang wajar bukan memalukan dan lagi kau juga lebih berharga dari jas ku." ucap James sembari mengecup bibir gadis itu sebelum ia duduk di bangku nya dengan benar dan mengemudikan mobil nya.


Louise tersenyum, entah kenapa ia suka jika pria yang tengah mengemudi itu memperlakukan nya dengan baik padahal satu jam sebelum nya ia baru saja memarahi pria itu dengan bibir cerewet nya.


......................


Sementara itu di tempat lain.


"Mommy!" seru bocah menggemaskan yang terlihat berusia sekitar 4 tahun.


"Yes, Love?" jawab wanita itu sembari merangkul bocah tersebut.


"Mom? Kita kapan bisa kelual dali sini? Di balik tembok besal itu ada apa ma? Aku penasalan..." ucap nya sembari menunjuk pintu gerbang halaman yang selalu mengurung nya bersama sang ibu dan pria jahat yang menyakiti ibu nya.


"Banyak! Nanti Mommy bawa kamu keluar yah..." ucap wanita itu tersenyum pada putra nya.


Pria kecil itu mulai mengoceh yang terkadang membuat sang ibu tertawa sebelum salah seorang pelayan memanggil nya.


"Sayang Mommy main sama kakak pengasuh dulu yah..." ucap wanita itu dengan lembut dan mencium wajah putra kesayangan nya.


Ia berjalan mengikuti pelayan tersebut yang mengantar nya ke pria si pemilik tempat tersebut.


"Ada apa?" tanya wanita itu dengan ketus.


"Kau mau keluar dari sini?" tawar pria dengan wajah tegas dan memiliki rupa yang tampan namun sifat yang melebihi Valak nama dari iblis jahat.


"Kau mau membebaskan ku?Anak ku juga?" tanya wanita itu dengan antusias.


"Hm, dengan satu syarat!" jawab pria itu tersenyum simpul.


"Apa itu?" tanya wanita yang kini sedang sangat bersemangat.


"Kau baru bisa keluar setelah gadis di foto ini menggantikan mu," ucap nya dengan senyuman iblis yang menghiasi wajah nya.


Wanita itu mengambil foto gadis cantik yang sebelum nya ia lihat bersama pria yang ia cintai.


"Ta-tapi..." ucap nya lirih.


"Pria sialan mu itu benar-benar menyebalkan, kau tau? Dia hampir berulang kali mengetahui. Orang suruhan ku juga sudah banyak yang di bunuh! Sial!" ucap dan mulai menampar wanita di depan nya.


Plak!


Wanita itu meringis dan terjatuh namun ia segera bangun lagi. Ia tau setiap kali pria di depan nya merasa kesal karna pria yang ia cintai ia pasti akan di pukul habis-habisan untuk melampiaskan kekesalan nya.


"Kau harus bawa gadis itu dan aku akan melepaskan mu, setelah itu kau bisa bersama dengan pria mu lagi kan?" ucap pria itu tanpa merasa bersalah.


"Tapi kalau dia menggantikan ku..." ucap nya lirih yang masih memiliki hati nurani untuk tak menghancurkan gadis lain sama seperti nya dulu.


"Kau tak mau? Kalau begitu ku bunuh saja anak mu yang tak berguna itu!" ancam pria tersebut.


"Jangan! Aku mau! Jangan sentuh putra ku!" wanita tersebut langsung jatuh bersimpuh dan memohon di kaki pria tersebut.


"Anak mu yang dulu memang sudah mati? Atau belum?" tanya pria itu saat melihat wanita di depan begitu melindungi putra kecil nya.


Wanita itu mengepalkan tangan nya mendengar ucapan enteng tersebut.


"Kau lupa? Kau yang menendang perut ku dan memukul nya dengan barbel sampai aku keguguran?!" tanya nya dengan suara bergetar dan serak mengingat rasa sakit saat kehilangan anak nya dulu namun ia tak bisa mengatakan pada pria nya.


"Tapi saat aku kembali menculik mu kau punya bayi dan sekarang bayi itu tumbuh sangat mirip dengan nya," ucap nya pria itu dengan mengangkat satu alis nya.


"Aku akan lakukan apapun, jangan menyentuh putra ku..." ucap nya lirih dan menunduk tak ingin memperpanjang percakapan tentang anak nya.


"Bagus! Anak pintar..." ucap nya seperti mengelus seekor anjing patuh.


"Ta-tapi bagaimana cara agar aku bisa mendekati nya lagi?" tanya wanita itu karna memang tak tau bagaimana cara mendekati pria nya dari awal lagi.


"Kau kan punya anak itu, gunakan saja dia untuk merebut pria mu lagi." jawab iblis berkedok manusia tersebut.


"Tapi dia bukan-"


"Dia sangat mirip dengan pria itu, aku bahkan sampai sekarang masih berpikir kalau bocah itu anak kalian. Tenanglah...


Aku akan membantu mu," ucap pria itu dengan tersenyum licik.


"Kita bisa lakukan tes DNA di RS manapun kecuali JBS hospital dan RS yang memiliki kerja sama dengan nya," ucap pria itu.


"Kenapa?" tanya wanita itu karna tak tau apapun.


"Gadis yang akan kau singkirkan putri bungsu dari JBS grup. Jadi akan sedikit sulit..." jawab pria tersebut.


Wanita itu pun kembali mengepalkan tangan nya dan yakin jika pria nya masih mencintai nya seperti dulu.


Benar! Dia bersama dengan gadis itu hanya ingin memanfaatkan nya saja! Dia masih mencintai ku.


Lagi pula aku masih punya Liam! Aku akan gunakan Liam untuk mengembalikan hubungan kami!


Aku akan keluar! Tak peduli jika harus menghancurkan hidup orang lain!