
Perasaan nya terenyuh, ia tak bisa mengatakan dengan pasti seperti apa yang ia rasakan saat ini.
Tangan kekar yang bergetar menuju pangeran kecil itu yang menatap nya dengan iris jernih, jemari mungil nya meraih tangan yang hendak memutuskan kehidupan nya.
Huaa....
Huhuhu....
Hua...
Tangis nya yang kembali pecah di ikuti saudari kembar nya ikut menangis.
Bayi polos itu tak merasakan rongga udara sedikit pun saat tangan kekar itu mulai menekan dan menghentikan nafas.
Bruk!!
Kaki nya terasa lemas, ia melepaskan tangan nya yang hampir membunuh bayi tak berdosa itu, suara tangisan dari kedua anak nya terdengar pilu, merobek setiap sudut di hati nya.
Pria itu menjatuhkan dirinya ke lantai, ia menatap tangan nya yang masih bergetar karna hampir membunuh darah daging nya.
Perasaan yang asing begitu sesak memenuhi dada nya. Wanita yang hadir di hidup dan hatinya sudah menjadi kelemahan untuk nya, dan bahkan sekarang apa yang di berikan wanita itu juga menjadi kelemahan nya.
Aarrggghhh!!!
Teriak nya penuh frustasi di ruangan itu membuat tangis para bayi itu semakin membuncah.
Kenapa bukan aku saja?
Kenapa harus dia?
Aku tak bisa kehilangan nya...
Ini salah ku...
Tapi aku harus apa? Aku berjanji menjadi orang yang baik...
Aku ingin berubah...
Tapi kenapa jadi seperti ini?
Tanpa sadar ia mulai menjatuhkan setiap tetes bulir bening dari mata nya. Buliran bening yang hanya bisa jatuh karna wanita yang sudah mengambil seluruh hati nya.
Ia berteriak beberapa kali dan meluapkan semua sesak di hati nya, ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika wanita itu benar-benar pergi.
Setelah memberikan sedikit waktu untuk dirinya pria itu mulai bangun dan menatap kembali kedua bayi nya yang menangis pilu saling bersahutan.
"Ssttt....
Tenanglah...
Maaf...
Papa tak akan menyakiti kalian..." ucap Hazel dengan tertahan dengan air mata yang keluar tanpa suara.
Perasaan asing saat menjadi orang tua membuat tak bisa membunuh anak yang benar-benar ia sayangi selama hampir 3 bulan terakhir.
3 Bulan adalah waktu yang berusaha di bangun ibu nya sebisa mungkin agar para malaikat polos itu dapat mengambil hati dari pria iblis itu.
Hazel mengayunkan pelan tempat tidur dimana para bayi itu menangis pilu hingga mereka terdiam.
Tatapan nya kosong menatap buah hati nya, tangan nya perlahan mengelus kulit halus di pipi bayi menggemaskan itu yang menatap nya seakan-akan ingin tetap bersama nya.
Nyaahhh....
Putri kecil nya yang menggeliat menunjukkan ekspresi yang begitu menggemaskan. Tanpa sadar terulas senyum tipis di bibir pria itu.
"Kenapa kalian bisa mirip sekali dengan nya?" tanya Hazel lirih. Ia tiba-tiba teringat dengan wajah istrinya yang terlihat menggemaskan saat ia mengganggu tidur wanita itu.
Dan kini anak-anak nya bersikap sama seperti ibunya.
"Papa gak akan biarkan mamah kalian pergi...
Dia tetap akan dengan kita..." ucap Hazel lagi dengan mimik yang begitu serius.
Ia berbalik dan meninggalkan ruangan para bayi nya saat anak-anak nya sudah diam, langkah nya tertuju pada pintu kamar yang ia tutup barusan.
Ia menatap pintu itu. Pintu yang dibalik nya terdapat wanita yang ia cintai namun ia juga yang paling menyakiti wanita itu hingga ke dasar yang terdalam.
Kini tak ada suara gedoran atau tangisan lagi yang terdengar.
Hening....
Hingga ia membuka pintu terkunci tersebut dan...
Deg...
Dengan langkah cepat ia meraih tubuh meringkuk yang tak sadarkan diri di balik pintu tersebut.
Wajah pucat yang tertutup rambut panjang tersebut pun langsung ia singkap dan meraih tubuh tak sadarkan itu ke pangkuan nya.
"Alyss?!" panggil Hazel berusaha menyadarkan wanita itu.
Ia menggenggam jemari yang sedingin es itu dengan tangan hangat nya, rasa bersalah dan menyesal pun mulai merasuki nya lagi.
Mengutuk kebodohan nya karna meninggalkan wanita itu sendirian dengan kondisi fisik dan psikologis yang lemah.
......................
32 Jam kemudian.
Wanita cantik itu masih belum terbangun walaupun sudah dua hari lebih.
Kondisi jantung nya yang semakin melemah dan mulai menjalar ke pengerasan hati membuat tubuh nya kian runtuh.
Mengalami shock dan ketakutan psikologis juga membuat nya tak bisa tersadar hingga sekarang.
"Maaf...
Aku tak akan membiarkan mu pergi..." ucap Hazel yang kini duduk di samping tempat tidur istrinya sembari menggenggam tangan dingin itu.
Sekarang ia sudah membuat satu ruangan yang penuh dengan banyak alat medis dan obat-obatan yang di perlukan istrinya. Seperti membangun ruangan rumah sakit di kediaman nya sendiri.
"Kau bilang ingin anak mu kan? Aku tak mengambil mereka...
Kali ini aku mengaku kalah...
Dan kau yang menang..." ucap Hazel lirih sembari memandang wajah pucat itu.
"Ku mohon bangun lah..." Hazel yang penuh pengharapan menatap ke arah wanita di depan nya.
Bahkan saat wanita itu tak sadar, ia tak menemui anak-anak nya lagi, ia ingin menahan emosi nya agar tak menyakiti si kembar dengan cara tak menemui mereka.
Flashback on.
JBS Farmasi.
"Kalian masih ingin hidup?" tanya pria yang tak lagi memiliki hati nurani itu.
Semua prof yang berada di sana bersujud dan langsung mengiyakan dengan tubuh gemetar mereka.
"Kalau begitu kalian harus membuat nya tetap hidup! Karna jika dia mati aku akan mengubur kalian juga untuk menemani nya." ucap Hazel dengan seringai di wajah nya.
"Ka-kami sudah melakukan semua yang kami bisa...
Da-dan kami akan berusaha lebih banyak lagi..." ucap salah satu prof dengan suara gemetar, karna ia sudah tau semenyeramkan apa kemarahan pria iblis di depan nya.
"Kalau sudah lakukan yang terbaik kenapa penyakitnya semakin menjalar?!" tanya Hazel yang kembali tersulut emosi.
"Kerusakan nya bersifat permanen, tapi masih bisa di atasi dan di perlambat...
Namun...." jawab prof tersebut takut-takut.
"Apa?! Coba katakan dengan jelas?!" tanya Hazel penuh amarah.
"Kami sudah menemukan beberapa yang cocok, tetapi perlu di lakukan uji coba di tubuh langsung untuk mengetahui reaksi nya, dan sayang nya tak ada yang bersedia..." jawab prof tersebut lirih.
"Uji coba? Eksperimen manusia maksud mu?" tanya Hazel sembari memikirkan perkataan prof tersebut.
"Be-benar tuan!" jawab prof tersebut gugup.
"Kalau mengganti semua organ yang mengeras bukan kah lebih baik?" tanya Hazel lagi.
"Nyonya tak bisa melakukan operasi...
Operasi sangat beresiko untuk nya, karna bisa tiba-tiba mengalami kondisi yang turun drastis seperti operasi caesar sebelum nya." jawab prof tersebut.
"Kalau begitu lakukan eksperimen di tubuh orang lain saja...
Akan ada yang mengatur dan membawa orang yang akan dilakukan untuk eksperimen dan kalian lakukan tugas kalian dengan baik. Kalau tak mau mati mengenaskan!" ucap Hazel pada prof tersebut.
Kini ia bahkan akan mematikan hati nurani para profesor tersebut untuk menjadikan orang kain sebagai kelinci percobaan nya.
Jika menjadi baik hanya membuat mu pergi, lebih baik aku kembali menjadi iblis...
Aku tak peduli lagi dengan apapun...
Aku bisa menjadi apa saja untuk mu!
Bahkan jika harus kembali menjadi pria terkeji di dunia ini, aku tak masalah...
Semua profesor disana saling memandang satu sama lain saat mendengarkan perintah tuan nya.
"Kenapa kalian tak mau melakukan eksperimen di tubuh orang lain?" tanya Hazel dengan senyum simpul nya menatap tajam ke arah prof tersebut.
"Kalau begitu...
Aku akan menjadikan keluarga kalian sebagai bahan eksperimen nya? Bagaimana?" tanya Hazel dengan senyum yang membuat semua prof tersebut semakin bergetar ketakutan.
"Kami akan lakukan sesuai perintah!" jawab mereka serempak saat tau kini bukan hanya nyawa mereka saja yang di pertaruhkan namun juga nyawa orang yang mereka cintai.
"Dan yang terakhir kalian sudah menemukan cara yang tepat untuk masalah putri ku?" tanya Hazel pada prof tersebut, karna ia tau putri kecil itu sudah mengalami masalah sejak ia lahir.
"Daya tahan imun nona muda sangat rendah...
Kami akan memberikan nya obat setiap satu bulan sekali dan melakukan pemeriksaan rutin setiap 2 bulan sekali agar tak terindikasi penyakit kronis." jawab prof tersebut dengan gugup.
"Jadi selagi dia di kontrol dengan baik, tak akan ada masalah kan?" tanya Hazel memastikan.
"Benar tuan..." jawab prof tersebut.
Flashback off.
......................
Pukul 10.45 PM
Mata wanita itu perlahan terbuka, pandangan nya masih mengabur namun sekelebat ia ingat apa yang terjadi sebelum ia merasakan sakit yang teramat sangat hingga jatuh pingsan.
"A-anak ku..." ucap nya lirih dan langsung berusaha bangun dari atas tempat tidur itu.
Brukk...
Tubuh lemah nya langsung terjatuh karna ia masih sangat lemas dan belum mengumpul kan tenaga nya dengan benar.
"Alyss! Kau tak apa?" tanya Hazel yang baru masuk dengan membawa handuk dan air hangat untuk membantu menaikkan suhu wanita nya.
"Anak ku! Dimana mereka?!" ucap Alyss saat pria itu membantunya bangun.
"Tenanglah..." ucap Hazel saat istrinya memberontak ingin bangun dan mencari para malaikat kecil nya walaupun kondisi nya masih lemah.
"Tenang?! Kau menyuruhku tenang?! Kalau mereka mati aku juga akan mati! Aku akan bunuh diri di depan mu! Aku akan mengambil apa yang kau sayangi di depan mata mu sendiri!" teriak Alyss dengan tangis nya karna takut dan khawatir akan kehilangan bayi-bayi nya.
Pria itu menatap iris wanita nya yang menjatuhkan bulir-bulir bening dari mata sayu itu.
"Ssttt...
Maaf...
Aku membuat mu takut lagi?
Kau mau kita punya keluarga yang utuh kan?
Aku akan mengabulkan nya..." bisik Hazel sembari mengeratkan pelukan nya pada wanita yang terus memberontak ingin melepaskan dirinya.
"Jangan mereka...
Jangan lukai mereka..." ucap Alyss melemah yang kini hanya terdengar tangis nya yang begitu dalam.
"Maaf...
Semua karna ku...
Salah ku...
Maaf...
Aku salah....
Maaf...." ucap pria itu berulang kali dengan suara serak dan tertahan. Rasa bersalah nya memuncak saat melihat wanita seperti itu, wanita yang ia cintai namun wanita yang paling banyak ia sakiti juga.
Deg...
Sejenak Alyss terdiam beberapa saat, ia tau saat ini pria yang sedang mendekap erat tubuh nya sedang menangis karna dapat merasakan air mata yang jatuh dari pria itu mengenai tubuh nya.
Pria yang tak mau menunjukkan sisi lemah nya sehingga tak ingin menunjukkan wajah tangis nya dan tetap memeluk wanita nya dengan erat, menyembunyikan air mata nya di bahu istrinya.
"Maaf...
Aku salah..." ucap Hazel lagi dengan semakin menjatuhkan bulir nya.
Dada wanita itu kian sesak membuat nya semakin menangis. Pria kuat dan egois itu kini terus meminta maaf dengan tangis pada nya berulang kali.
Alyss tak bisa menahan emosi nya, ia membalas pelukan suaminya dan meluapkan semua rasa kesedihan nya.
Memegang duri yang masing-masing menyakitkan dan melepaskan nya perlahan.
Setelah melupakan emosi satu sama lain pria itu mulai melepaskan pelukan nya perlahan menatap erat iris wanita nya yang sembab karna menumpahkan semua kesedihan di dirinya.
"Aku tetap sama....
Kalau kau pergi aku akan tetap ikut dengan mu...
Kalau kau tak mau itu terjadi...
Maka kau tak boleh pergi..." ucap Hazel dengan suara tertahan menghapus sisa air mata yang keluar dari manik sayu wanita nya.
"Aku tak mau...
Aku juga tak mau...
Aku mau hidup...
Aku tak mau pergi..." jawab Alyss dengan tangis nya. Siapa yang ingin mati? Tak ada satupun yang benar-benar ingin mati di dunia ini.
Bahkan orang-orang yang ingin bunuh diri pun sebenarnya di hati nya yang terdalam mereka tak pernah ingin mati, yang di inginkan hanya kebebasan dan kebahagian.
"Aku tau...
Aku tak akan membiarkan mu kemanapun...
Aku akan terus membuat mu tetap dengan ku...
Tetap dengan anak-anak kita..." ucap Hazel sembari menangkup pipi wanita nya.
Dan mengecup kening wanita itu dengan lembut.
......................
4 Hari kemudian.
JBS Hospital.
"Bos mu gila yah? Masa dia kirim karangan bunga untuk orang mati pada mu? Dasar pria rubah sialan! Kenapa Lily bisa nikah sama orang kayak gitu sih?!" gerutu Larescha pada suaminya yang sedang di rawat.
"Bos ku yah bos mu juga La...
Kan kita kerja di satu perusahaan..." jawab Rian tertawa kecil pada istrinya.
"Tetep aja kesel!" jawab Larescha mengomel.
Rian hanya tertawa melihat melihat wanita nya yang mengomel. Ia tau maksud pemberian karangan bunga dari Hazel.
Itu bukanlah lelucon namun merupakan peringatan tersirat pada nya. Namun setidaknya ia tau Teman menyebalkan nya memaafkan nya dan memberi nya satu kesempatan lagi untuk pertemanan mereka.
"Imut nya..." ucap Rian tertawa dan mencubit pipi wanita nya. Ia ingat betul bagaimana wanita yang langsung Shock dan menangis pilu saat melihat nya dengan kondisi terluka.
"Imut! Imut! Tau gak sih waktu itu rasanya jantung ku udah mau lepas?! Siapa sih yang mukulin?! Kok sampai tulang semua pada retak!" dumel wanita hamil terus menerus pada suaminya yang baru tersadar 3 hari yang lalu.
Pria itu di bawa dengan tulang rusuk yang patah dan pendarahan pada abdomen perut. Dan luka lain yang membahayakan karna mengalami perdarahan dalam yang cukup parah namun masih bisa di selamatkan.
"Memang nya kalau kau tau, Apa yang mau kau lakukan?" tanya Rian tertawa pada istrinya yang terus saja mengoceh dan mendumel marah.
"Aku akan sens*r lalu memotong sens*r dan menggantung nya di atas panggangan lalu membiarkan nya sens*r diatas sens*r. Supaya dia semakin mati menderita!" jawab Larescha dengan penuh umpatan dan kata-kata yang kasar sekaligus kotor.
Rian bahkan sampai terbengong melihat wanita yang selalu terlihat pemalu dan tak pernah berkata kasar itu mengeluarkan semua umpatan yang benar-benar luar biasa.
"Ya ampun La...
Kata-kat-" ucap Rian yang langsung terpotong saat ia membuang mata ke arah pintu dan melihat tamu yang menjenguk nya.
"Hahaha...
Ka-kalian sedang mengobrol seperti nya...
Kami mengganggu?" tanya wanita yang tertawa canggung sembari sedikit berjinjit guna menutup telinga pria di sebelah nya.
"Lily?" ucap Larescha dan langsung berbalik ke arah suara yang ia kenal pasti.
"Lily!" panggil Larescha lagi dan memeluk sahabat nya, ia tak bisa kehilangan kontak dengan sahabat nya lagi selama satu minggu karna Alyss juga menjalani pengobatan.
"Kau apa yang mau kau lakukan tadi? Coba ulangi kata-kata mu?" tanya Hazel dengan tatapan yang sangat tajam. Ia pernah membiarkan seseorang memaki nya dan itu adalah istrinya yang sekarang.
Berbeda dengan orang lain, ia sangat ingin memotong lidah yang mengucapkan kata-kata kasar tentang nya.
"Aku bilang aku akan mem- humph" seketika ucapan nya langsung terhenti saat tangan kecil sahabat nya menutup rapat mulut nya.
Alyss tau jika Larescha sangat pandai memaki dan mengumpat saat marah. Benar-benar mirip dengan adik nya Alan.
"Lala...
Gak bagus loh bicara kasar kalau lagi hamil...
Diam saja yah..." ucap Alyss pada teman nya karna tau emosi suaminya yang bisa meledak kapan saja.
Rian sang suami pun hampir bergeser lagi tulang rusuk nya melihat istrinya yang pandai membuat darah orang lain mendidih.
"Sayang...
Sini...
Bener loh yang di bilang dr. Alyss..." ucap Rian memanggil istrinya.
"Ihh...
Kok tiba-tiba jadi merinding yah! Jadi serem suasananya..." ucap Larescha pada teman nya.
Ya iyalah La serem! Di dipelotin kayak gitu mah...
Setan aja ketemu dia lari!
Batin Alyss pada sahabat nya saat ia tau suaminya sudah sangat geram dan menatap tajam wanita hamil itu.
"Kalian ngobrol lagi deh...
Ini aku taruh di sini yah...
Semoga lekas sembuh..." ucap Alyss sembari meletakkan buket buah nya ke atas meja dan membawa suaminya keluar.
Ruangan Presdir.
"Aisshh...
Rasa nya mau ku potong saja lidah nya! Memotong nya jadi kecil-kecil lalu memberikan nya ke ikan!" ucap Hazel kesal saat ia baru keluar dari kamar perawatan teman nya.
"Jangan marah-marah..." ucap Alyss menenangkan suaminya yang terlihat kesal.
"Mulut teman itu memang per-"
Cup...
"Jangan marah lagi...
Mungkin karna dia hamil..." jawab Alyss mencari alasan membela teman nya setelah mengecup bibir suaminya.
Pria itu terdiam dan menatap lekat istrinya dengan lembut.
Perlahan ia memeluk wanita nya lagi dengan erat.
"Aku tak akan kehilangan mu...
Kau akan tetap bersama ku..." ucap Hazel lirih sembari memeluk seakan-akan takut kehilangan yang teramat sangat.
Selama seminggu terakhir sejak ia melakukan eksperimen pada manusia sudah 9 nyawa melayang dalam rasa sakit luar biasa hanya untuk menguji obat yang akan di berikan pada wanita nya.
"Hmm...
Aku juga tak ingin kemanapun..." jawab Alyss tersenyum tipis dan membalas pelukan suaminya.
Wanita itu tak tau apa yang sudah di lakukan suaminya untuk membuat nya tetap hidup. Menginjak nyawa orang lain hanya untuk kehidupan nya.
Dan pria itu yang tak akan membiarkan wanita nya tau sampai akhir kematian nya, ia akan melakukan apa saja agar bisa memperpanjang hidup wanita nya.
Tidak apa-apa kalau aku jadi monster bagi orang lain..
Menjadi iblis yang tak peduli apapun...
Asalkan kau tetap bersama ku...
Aku rela menjadi iblis dan masuk ke dalam lembah terkotor sekalipun...
Aku tak ingin jadi orang baik, jika aku harus kehilangan mu...
Jika sebelum nya aku sudah menjadi iblis, tak apa kan jika aku semakin menjadi iblis?
Aku mencintai mu...
Bahkan jika kehidupan selanjutnya itu ada...
Aku akan mencintai mu lagi...
...****************...
Happy Reading♥️♥️♥️