(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Don't go



Flashback on.


Plak!!!


"Dasar anak bodoh! Aku menyuruh mu belajar tapi kau malah bermain!" ucap Will saat memarahi dan menampar Hazel yang masih berumur 9 tahun


"Ma-maaf yah....


Nanti Hazel ga bakal main lagi yah..." ucap Hazel lirih dengan bibir gemetar saat merasakan sakit di pipinya.


"Kompetisi mu sudah dekat, dan kau masih bermain saja! Dasar anak bodoh!" ucap Will geram sembari menunjuk kening Hazel dengan jari telunjuk nya.


Hazel hanya diam tertunduk, ia sangat takut namun tak dapat melakukan apapun. Ia hanya meremas jemarinya satu sama lain untuk mengurangi rasa takutnya.


Hazel ketauhan Will sedang bermain dengan mainan mobil nya sebelumnya, Will sangat marah karna ia mendaftarkan Hazel pada kompetisi matematika sebelumnya, dan ia tak melihat Hazel belajar melainkan melihat anak lelaki berusia 9 tahun itu sedang bermain.


"Sial!! Anak ini membuatku kesal saja!! Ambil tongkat kayu ku!!" ucap Will pada bawahan.


Bawahan nya pun segera mengambil apa yang di perintahkan atasan nya.


"Berbalik!" ucap Will pada Hazel kecil, Hazel pun segera membalik tubuh nya membelakangi Will.


Bugh!! Bugh!! Bugh!!


Tanpa rasa kasihan Will memukul punggung putra nya sendiri dengan tongkat kayu yang lebih mirip dengan rotan itu.


Hazel semakin tertatih punggung nya sangat sakit saat mendapatkan pukulan dari ayah nya, mata nya berulang kali mengeluarkan air mata, namun ia selalu mengusap nya dengan tangan kecil nya.


"Apa yang kau lakukan!" tanya Rose saat melihat suaminya sedang memukul putranya berulang kali.


Rose pun langsung berlari dan memeluk tubuh Hazel kecil.


"Aku tak peduli jika kau memukuliku! Tapi jangan anak ku!" ucap Rose sembari memeluk tubuh Hazel dengan erat.


"Dia anak kurang ajar! Aku menyuruhnya belajar dan dia malah bermain!" ucap Will dengan wajah geram.


"Belajar? Kompetisi apa lagi yang kau daftarkan? Dia masih kecil! Wajar jika dia bermain! Kau membuatnya ikut kompetisi yang seharusnya diadakan untuk anak SMA dan kuliah, lalu kau mendesak nya untuk mendapatkan peringkat pertama!" ucap Rose membela Hazel.


"Tentu saja! Dia harus menang di setiap kompetisi yang dia ikuti! Atau dia akan jadi bodoh seperti mu!" ucap Will pada Rose.


"Nak kembali ke kamar mu yah....


Nanti mama bakal nyusul...


Yah sayang...." ucap Rose lembut pada Hazel, ia tak ingin putra nya mendengar semua ucapan kasar Will.


"Gak mau! Nanti ayah bakal pukul mama!" ucap Hazel yang tak ingin masuk kekamarnya.


"Engga nak...


Mama mohon, masuk sekarang yah? Anak mama kan anak baik..." ucap Rose lagi, ia tak ingin Hazel mendapat tindak kekerasan dari Will.


Hazel menatap lekat mata ibunya, ia takut jika ia tak menurut dan akan membuat masalah menjadi semakin runyam. Ia pun dengan langkah berat pergi ke kamar nya.


"Bisakah kau memberi hak asuh nya pada ku? Ku mohon...


Aku tak akan meminta sepeser pun dari hartamu...." pinta Rose pada Will saat Hazel sudah kembali ke kamar nya.


"Jika kau ingin bercerai, silahkan saja! Tapi aku tak akan memberikan nya pada mu! Dasar wanita jalang!!!" ucap Will dan mulai menjambak rambut Rose, ia semakin geram karna Rose berusaha melindungi Hazel.


Ia pun memukul wanita cantik tersebut dengan melampiaskan seluruh amarah nya.


Flashback off.


......................


JBS Hospital.


"Dia masih hidup? Kenapa dia tak mati juga? Padahal sudah tertembak tepat di jantung nya?" tanya Hazel pada Rian saat melihat Will yang tak sadarkan diri dan dibantu dengan beberapa alat.


Saat melihat Will ia teringat beberapa perbuatan yang Will lakukan pada ibunya dan juga dirinya.


Rian hanya diam dan tak menjawab pertanyaan Hazel.


"Sekarang aku sangat menyesal melihat nya." ucap Hazel dengan tatapan dingin.


"Kau menyesal karna hampir membunuh nya?" tanya Rian pada Hazel.


"Bukan! Aku menyesal karna tak membunuhnya dari dulu. Jika aku membunuhnya dari dulu, dia tak akan sempat menyakiti Alyss." ucap Hazel dengan nada sedikit emosi.


Rian sedikit tercengang dengan ucapan Hazel, karna bagaimanapun lelaki itu tetaplah ayah kandung dari teman nya.


"Kenapa wajah mu begitu? Apa kau selalu memikirkan kalimat "Darah lebih kental dari air"? Bagiku itu kalimat bodoh!" ucap Hazel pada Rian.


"Dia tak pernah sekalipun bersikap seperti seorang ayah! Dan lagi ada banyak air yang lebih kental dari darah! Memegang prinsip anak durhaka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang durhaka? Satu-satu nya hal yang dia lakukan pada ku, adalah membuatku ada didunia yang bahkan tak pernah ku minta." ucap Hazel dingin.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan pada nya?" tanya Rian pada Hazel, ia mulai mengerti dendam teman nya terhadap sang ayah.


Hazel terdiam sejenak, ia pun memikirkan cara untuk membalas Will.


"Dia tak akan kesakitan, karna sedang tak sadar. Potong telinga nya setelah itu tembak kepalanya, lalu buat kematian nya seperti bunuh diri, dan lakukan pengalihan aset." perintah Hazel pada Rian.


Rian sedikit terkejut dengan perintah kejam teman nya, namun dia tetap mematuhi perintah teman sekaligus atasan nya itu.


"Dia sudah lama hidup nyaman, jadi tak apa jika membuat nya menderita di akhir hidup nya!" ucap Hazel dingin sembari meninggalkan ruangan tersebut.


......................


Skip time.


8 hari kemudian


Kediaman Hazel.


Setelah mengurus masalah yang berada di RS, Hazel segera kembali ke kediaman nya. Ia pun langsung mencari Alyss dan menemukan Alyss yang sedang menyusun dan memotong bunga untuk di letakkan ke dalam vas.


Hazel berjalan mendekat dan langsung melingkarkan tangan nya ke perut Alyss guna memeluk tubuh kecil itu dari belakang.


Alyss langsung tersentak saat ia tiba-tiba meraskan seseora memeluknya, ia pun menoleh kebelakang. Ia pun melihat wajah Hazel yang sangat dekat dengan nya hingga membuat hidung nya dan hidung Hazel bersentuhan, mata nya membulat sempurna saat tatapan mereka bertemu satu sama lain.


Setelah saling mengunci tatapan beberapa saat Alyss langsung membuang wajahnya mengalihkan pandangan nya lagi pada bunga-bunga tersebut.


Hazel hanya tersenyum melihat Alyss yang membuang wajah nya, ia melihat daun telinga Alyss yang mulai memerah saat Alyss kembali melihat bunga-bunga itu.


Hazel semakin gemas dan mengigit kecil telinga Alyss dan kemudian menciuminya.


"Auchhh...." ucap Alyss yang sedikit meringis dan juga geli di telinga nya.


"Su-sudah..." ucap Alyss lirih, ia merasa geli di telinga nya karna ulah Hazel.


Hazel pun tersenyum dan berhenti menciumi telinga Alyss, ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa menyandarkan wajahnya di bahu Alyss dari belakang.


"Bagaimana terapi nya?" tanya Hazel sembari menulis kalimat tersebut di bahu Alyss dengan jarinya.


"Masih sama..." jawab Alyss lirih saat merasakan tulisan Hazel.


"Ingin pergi keluar?" tanya Hazel lagi.


Ia sebenarnya memiliki beberapa urusan yang memang mengharuskan nya untuk pergi ke luar negri beberapa hari atau mungkin selama satu minggu, namun ia tak ingin meninggalkan Alyss sendiri, maka dari itu berniat membawa Alyss ikut dengan nya.


"Tidak mau! Aku benci keluar!" jawab Alyss dengan tegas.


Semenjak ia tak bisa mendengar, ia sangat tak suka keluar atau pun bersosialisasi, ia benar-benar menutup dirinya sendiri.


Mendengar jawaban Alyss membuat Hazel menarik nafas panjang, ia pun mulai berpikir untuk pergi sendiri dan menyelesaikan nya secepat mungkin agar segera kembali menemani Alyss.


Pukul 12.45 AM.


Alyss terbangun dari tidur nya, tubuhnya berkeringat dan gemetar, ia memimpikan kejadian yang sangat mengerikan seperti itu adalah kejadian yang nyata, namun ia tak tau kejadian apa itu.


Alyss melihat kearah sebelah tempat tidurnya yang kosong, ia tak merasakan tangan nya biasanya memeluk dirinya, dan tak melihat pria yang biasa mendekap tidurnya.


"Dimana dia?" tanya Alyss lirih.


"Apa dia berada di ruang kerjanya?" tanya Alyss lirih.


Cklek.


Alyss pun membuka perlahan pintu tersebut, Hazel yang masih tengah sibuk mengetik dan melihat beberapa pekerjaan nya yang menumpuk pun langsung mengalihkan pandangan nya ke arah pintu.


Ia melihat Alyss yang berdiri diantara pintu yang masih setengah terbuka itu. Ia pun menghentikan pekerjaan nya dan segera menghampiri Alyss.


"Kenapa tak tidur?" tanya Hazel dengan menulis kalimat tersebut di telapak tangan kecil Alyss dengan jarinya.


Sebelumnya ia sudah menidurkan Alyss lebih dulu, dan setelah Alyss tertidur ia pergi untuk melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk banyak.


"Aku terbangun...


Mimpi buruk..." jawab Alyss lirih.


"Mimpi buruk?" tanya Hazel dengan mengulangi jawaban Alyss.


Alyss hanya diam menatap wajah Hazel, karna ia tak tau apa yang di katakan oleh pria yang berada di depannya.


Hazel pun meraih tangan Alyss lagi dan menulis di tangan kecil Alyss.


"Ayo, aku akan menemani mu tidur lagi." tulis Hazel.


Alyss pun menggelengkan kepalanya perlahan.


"Bukankah kau masih bekerja?" tanya Alyss.


Alyss pun melangkahkan kaki nya memasuki ruangan tersebut, dan mendudukkan dirinya ke sofa panjang yang berada di ruangan tersebut.


"Aku menunggu disini." ucap Alyss.


Hazel pun melihat Alyss dan mendesah kasar melihat Alyss yang duduk di sofa, ia pun berusaha membawa Alyss lagi kekamar dan berusaha membuat wanita itu untuk tidur di kamar saja. Namun Alyss tetap tak mau beranjak dari sofa tersebut.


"Aku tak bisa tidur lagi..." ucap Alyss lirih.


"Ya sudah, setelah aku selesai kita kembali ke kamar." tulis Hazel di tangan kecil Alyss.


Alyss pun menganggukkan kepalanya perlahan sembari melihat wajah Hazel.


Hazel pun memindahkan beberapa berkas nya ke meja yang berada di depan sofa panjang tersebut dari meja kerjanya.


Selagi Hazel memindahkan berkas-berkas nya, Alyss melihat beberapa notifikasi pesan yang di kirim oleh Rian di ponsel Hazel yang terletak dua atas meja tersebut.


Alyss melihat bahwa Rian mengatakan ia sudah mengurus untuk keberangkatan Hazel keluar negri selama beberapa hari.


"Dia mau pergi?" ucap Alyss lirih sembari melihat ke arah Hazel yang masih sibuk memilih beberapa berkas.


Setelah Hazel memindahkan beberapa berkas dan dokumennya ke meja yang berada di dekat sofa, ia pun langsung mendudukkan dirinya di sebelah Alyss.


"Tidur." ucap Hazel dan langsung membuat kepala Alyss jatuh ke pangkuannya, ia sengaja memindahkan berkas-berkas tersebut kesana agar bisa menidurkan Alyss di sofa panjang tersebut dan tetap melanjutkan pekerjaanya.


"Hazel..." panggil Alyss lirih.


Hazel pun langsung menoleh ke bawah dan melihat Wajah Alyss yang sedang menatap nya dari bawah pangkuan nya.


"Jika dia sungguh sudah melakukan itu padaku, kau tetap akan mau dengan ku?" tanya Alyss lagi, sebenarnya ia sudah pernah menanyakan hal tersebut, namun ia selalu mengulangi pertanyaan nya.


"Iya, sudah kukatakan kalau kau hanya milik ku. Dan aku tak akan melepaskan mu, kecuali aku sudah mati."


Tulis Hazel di kening Alyss dengan jarinya.


"Kau tidak jijik pada ku?" tanya Alyss lagi.


Hazel hanya menggelengkan kepalanya mendengarnya pertanyaan Alyss.


"Tapi kenapa kau selalu menghukumku jika aku dekat dengan pria lain?" tanya Alyss lagi.


"Karna kau menunjukkan reaksi." jawab Hazel dengan menulis kalimat tersebut di kening Alyss.


Hazel selalu menghukum Alyss jika dekat pria lain karna ia merasa cemburu dan juga kesal. Alyss selalu menunjukkan reaksi jika berada di dekat pria tersebut, entah itu senyuman atau tawanya.


Ia terlihat dekat dengan pria-pria tersebut dan itu membuat Hazel tak bisa menahan rasa cemburunya. Ia takut jika Alyss akan berani mengkhianatinya suatu hari nanti. Maka dari itu ia menanamkan rasa takut pada diri Alyss, agar Alyss tetap patuh padanya dan tak akan berani berpikir untuk mengkhianatinya.


Alyss mengerutkan dahinya, ia tak mengerti dengan jawaban Hazel yang sedikit ambigu baginya.


"Dia tak melakukan itu, hal yang terakhir yang kuingat dia menusuk perut ku..." ucap Alyss lirih pada Hazel. Hazel tak pernah menanyakan hal itu karna takut membuat Alyss teringat kejadian mengerikan itu lagi.


"Ta-tapi dia...


Dia menyentuh ku..." ucap Alyss lirih pada Hazel ia mulai mengatakan kejadian hari itu.


Ia melihat wajah Alyss yang gelisah dan terlihat takut. Hazel pun menggenggam jemari Alyss perlahan, dan menatap lekat wajah Alyss.


"Aku sudah memberinya pelajaran, dia tak akan bisa mengganggu mu lagi." tulis Hazel di kening Alyss. Setelah itu Hazel pun menunduk dan mengecup bibir Alyss sekilas yang sedang menatap nya.


Hazel pun melanjutkan kembali pekerjaan, sembari melihat dan bekerja, tangan nya yang satu lagi mengelus kening Alyss perlahan agar wanita itu bisa tertidur.


Setelah kurang lebih dua jam akhirnya Hazel menyelesaikan semua pekerjaan nya.


"Sudah selesai?" tanya Alyss, ia sama sekali belum tertidur lagi walaupun Hazel mengelus kepalanya kurang lebih 2 jam lamanya.


"Kau belum tidur?" tanya Hazel terkejut ketika mendengar Alyss bertanya dan bangun duduk di sebelahnya.


"Kau mau pergi?" tanya Alyss lirih dengan menatap wajah Hazel.


"Hanya urusan bisnis, aku akan segera menyelesaikan nya." tulis Hazel di tangan kecil Alyss.


"Jangan...


Jangan pergi...


Aku tak mau sendiri..." ucap Alyss lirih sembari memegang jari telunjuk Hazel.


"Ini hal yang sangat penting, aku akan menyelesaikan kan nya segera mungkin." ucap Hazel, ia sebenarnya juga tak ingin pergi, namun hal ini benar-benar mendesak dan memang harus dia sendiri yang menyelesaikannya.


Melihat wajah Hazel yang seperti mengatakan "tak bisa" membuat Alyss melepaskan tangan Hazel perlahan.


"Lupakan apa yang ku katakan tadi." ucap Alyss, ia pun bangun dan pergi ke kamar Hazel.


Melihat Alyss yang pergi begitu saja membuat Hazel menelpon Rian dan menyiapkan keberangkatan Alyss juga, karna ia akan membawa Alyss bersama dengan nya.


Setelah menelpon Rian, Hazel pun menyusul Alyss yang sudah dikamar dan menidurkan dirinya terlebih dahulu.


Hazel membalik tubuh Alyss agar menghadap nya, karna sebelumnya Alyss tidur membelakanginya. Ia pun mendekap tubuh kecil Alyss dan menulis sesuatu di punggung Alyss dengan jarinya.


"Aku tak akan meninggalkan mu sendiri." tulis Hazel lalu mencium kening Alyss dengan lembut.



Alysscalla Zalea



Hazel Rai



Bonus gambar Bulbul yah wkwk


...****************...


Haii...


Itu othor ada ngasih flashback Hazel kecil nya yah sedikit, tapi itu juga bukan alasan kuat kenapa si Hazel jadi psyco, nanti othor ceritain lengkap nya yah.


Jangan lupa like, komen, rate 5, fav, dan Vote yah, serta dukungan yang lain.🤗🤗🤗🤗


Terimakasih buat kalian yang udah ngasih dukungan ke othor🥰🥰🥰🥰


Happy Reading❤️❤️❤️❤️