
Setelah 5 hari...
Luka di tubuh Alyss sudah semakin membaik berkat obat-obatan yang digunakan serta perawatan yang terus di jalankan.
"Nona, setelah ini dr. Siska akan datang memeriksa sekaligus membuka perban." ucap salah satu pelayan yang mengantarkan makan siang pada Alyss.
"Kau memanggilku "Nona" tetapi memiliki kehidupan yang lebih baik dari ku, karna aku harus terus terkurung disini." gumam Alyss dengan senyum pahit di bibir nya.
"Apa nona mengatakan sesuatu?" tanya pelayan tersebut ketika merasa Alyss mengatakan sesuatu.
"Tidak, terimakasih sarapannya." jawab Alyss.
"Baik nona, jika ada sesuatu langsung panggil saya saja." ucap pelayan tersebut dengan senyum cerah.
Alyss hanya mengangguk, pelayan tersebut pun menunduk kan kepalanya sekilas dan segera keluar dari kamar Alyss.
Tak lama kemudian.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan terdengar dari balik pintu kamar Alyss.
"Nona, Saya dr. Siska, bisakah saya masuk." ucap seseorang dari balik pintu tersebut.
"Ya." Jawab Alyss singkat.
Dr. Siska pun masuk dan segera memeriksa Alyss, ia membuka seluruh perban yang berada di tubuh Alyss.
Luka Alyss sudah mulai membaik, dan dr. Siska pun memberikan beberapa salep agar luka tersebut tak membekas, dan beberapa obat dalam harus tetap di konsumsi Alyss.
Setelah memberi obat dan memeriksa dr. Siska keluar dari kamar Alyss.
Selama 5 hari penuh Hazel tak mengizinkan Alyss keluar dari kamarnya. Rasa bosan pun sudah tak mampu lagi menghampiri Alyss.
Alyss menatap kosong keluar jendela, jujur saja terlalu banyak kesedihan yang datang pada Alyss hampir membuat emosinya menjadi kosong, ia mulai takut pada dirinya sendiri. Ia takut jika harus menjadi seseorang yang seperti Hazel.
Setelah cukup lama Alyss memandang keluar, Alyss pun melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia membuka satu per satu pakaian nya. Dilihat tubuh nya yang penuh luka dari cermin. Cukup lama Alyss memandangi tubuh nya sendiri.
"Hah, Hahahahaha." Alyss mulai tertawa, ia tertawa cukup keras di kamar mandi tersebut.
"Hah, Kau, akan ku buat kau merasakan apa yang kurasakan." ucap Alyss yang menangis setelah tawa nya yang sangat keras sembari memandang dirinya sendiri di balik kaca cermin.
......................
Hazel yang masih berada di ruangan nya, sesekali melihat Alyss dari kamera cctv yang ia pasang di kamar Alyss tanpa sepengetahuan Alyss.
Sebelumnya Hazel tak pernah memasang cctv dikamar, dikarnakan baginya kamar adalah ruangan yang bersifat privasi. Namun karna ia harus terus mengurung Alyss, ia perlu untuk memperhatikan pergerakan Alyss, dan terus memantau nya.
Hazel pun menghela napas panjang dan menyandarkan kepala nya di bangku presdir sembari memandang langit-langit ruangan nya.
"Memikirkannya saja sudah membuat kepala ku pusing. Apa yang harus kulakukan ?"gumam Hazel ketika memikirkan Alyss.
Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sesuatu yang membuat perasaan nya campur aduk, rasa yang ingin memiliki dan mendominasi, rasa yang ingin mengendalikan seseorang sepenuhnya.
Semarah apapun dia, tetap saja dia tak mampu untuk membunuh Alyss, setiap kali amarah menguasainya dia akan menyakiti wanita yang dia cintai.
Perasaan bersalah dan perasaan puas tercampur menjadi satu setiap kali dia selesai menghukum wanitanya.
Baginya Alyss mampu membuatnya menjadi lemah dan menjadi kelemahannya, namun ia ingin menyembunyikan hal tersebut. Ia tak ingin menunjukkan kelemahan nya pada siapapun.
......................
Setelah jam 05.40 PM
Hazel telah kembali dari RS dan menuju ke kediamannya. Setelah sampai di rumah megah nya tempat pertama yang ia tuju adalah kamar Alyss.
Cklik...
Suara pintu kamar Alyss yang terbuka. Alyss mendengar jika seseorang membuka pintu kamarnya, tetapi dia tak peduli.
Alyss tetap duduk diam di tepi ranjang nya sembari memandang keluar dari jendela kamar nya.
Hazel ikut duduk di samping Alyss.
"Ku dengar dr. Siska sudah membuka perban mu." ucap Hazel memecah keheningan.
Alyss tak menjawab dan hanya tetap diam dengan tatapan kosong nya. Hazel merasa diabaikan oleh Alyss membuatnya menjadi kesal.
"Apa kau tak mendengar ku? Aku sedang bicara padamu." ucap Hazel dengan tatapan marah sembari menjambak rambut Alyss, yang membuat Alyss seketika mengalihkan pandangannya tertuju pada Hazel.
"Maaf, tolong lepaskan. Sakit.." ucap Alyss meringis ketika Hazel menjambak rambut nya dengan kuat.
Hazel pun melepaskan tangan nya dari menjambak rambut Alyss, dan beralih mengelus dan memainkan rambut Alyss kembali dengan lembut
"Jadilah anak baik dan jangan membuat ku kesal." ucap Hazel dengan senyuman di wajahnya sembari terus memainkan dan menggulung-gulung rambut Alyss.
"Maaf.." ucap Alyss lirih sembari mengalihkan pandangan mata nya ke samping dan tidak menatap wajah Hazel.
"Sudahlah, ayo pergi makan. Aku membelikan mu sesuatu tadi." ucap Hazel sembari mulai berdiri.
Greb..
Alyss langsung memegang tangan Hazel yang sedang membelakanginya dan beranjak bangun ingin pergi keluar.
Merasa Alyss memegang tangannya, Hazel langsung menoleh ke arah Alyss.
"Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Hazel yang mulai duduk kembali di samping Alyss.
"Apa aku boleh bertanya?" ucap Alyss sembari memandang wajah Hazel.
"Apa yang ingin kau ketahui?" ucap Hazel sembari mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau terus mengurungku? Kenapa tak membunuh ku saja?" tanya Alyss dengan wajah tanpa ekspresi.
"Karena aku menyukai mu. Makanya aku tak membunuhmu." jawab Hazel sembari menyelipkan rambut halus di telinga Alyss.
"Suka? Kau menyukai ku tetapi menyiksa ku? Apa kau tau apa itu rasa suka?" ucap Alyss yang bingung dengan jawaban Hazel.
Hazel tak menjawab pertanyaan Alyss, kali ini ia hanya diam memandang sorot mata Alyss.
"Apa yang kau rasakan jika kau menyakiti ku? Apa kau bahkan bisa merasakan emosi?" tanya Alyss lagi pada Hazel.
"Menurut mu aku tak punya emosi?" tanya Hazel ketika mendengar ucapan Alyss.
"Ya kau punya, kau punya emosi dan hasrat gila mu itu!" jawab Alyss sembari terus memandang Hazel.
Entah datang dari mana keberaniannya untuk mengatakan hal seperti itu pada Hazel. Hazel yang mendengar ucapan Alyss menjadi geram, dan tanpa sadar..
Plak !
Hazel menampar wajah Alyss dengan keras.
Alyss pun yang seperti tak merasakan sakit di wajahnya langsung berbalik memandang Hazel.
"Kau ingin menghukum ku? Hukum saja lagi, aku sudah tak peduli, lagi pula aku juga tak tau kapan kau akan bosan lalu akan membunuh ku juga." ucap Alyss pada Hazel.
Hazel tak menjawab dan memandang wajah Alyss dengan ujung bibir nya sedikit terluka karna tamparannya barusan.
Kali ini Hazel yang dibuat bingung oleh Alyss. Saat ia menatap lekat mata Alyss tak ada sorot kesedihan di dalamnya, tak ada sorot kemarahan, ia bingung bagaimana membaca ekspresi Alyss saat ini.
"Kau ingin melawanku? Kau masih terlalu naif untuk itu. Apa kau tau apa yang perbedaan dari kita yang akan membuatmu tak dapat menandingi ku?" ucap Hazel ketika memandang wajah Alyss yang memiliki ekspresi yang sulit di artikan.
"Kau punya banyak orang yang harus kau lindungi, dan aku memegang semua kelemahan mu, tetapi aku tak peduli pada siapapun, dan tak punya kelemahan." sambung Hazel sembari berbisik di telinga Alyss.
"Sekarang ayo obati bibir mu, aku membelikan mu makanan dari luar tadi." ucap Hazel yang sudah tak berbisik lagi dan mengusap luka di bibir Alyss dengan satu ibu jarinya.
Hazel tak merasa bersalah sedikit pun walaupun ia baru saja memukul Alyss.
"Kalau kau sungguh menyukai ku, akan ku buat kau memiliki kelemahan. Aku yang akan menjadi kelemahan untuk mu." ucap Alyss dalam hati ketika melihat Hazel.
Hazel pun tanpa menunggu jawaban Alyss langsung menarik tangan Alyss untuk segera keluar, dan makan bersama dengannya, sekaligus mengobati luka di ujung bibir Alyss.
...****************...
**Hai semua...
Mungkin di eps ini sampai seterusnya akan ada sedikit perubahan dari sikap dan sifat Alyss yah tapi ga merubah sifat aslinya kok hihi
Jangan lupa Like, Komen, fav, dan Rate 5 nya hihi
Ups kasih vote juga yah biar tambah semangat Author hihi..
Jika ada saran atau kritik segera beri tau yah😉
Happy Reading🤗🤗🌹🌹**