
Pukul 08.56 PM.
Hazel yang masih berada di kamar perawatan Alyss dan membenarkan posisi selimut agar istrinya bisa merasa nyaman.
Alyss hanya diam dan menatap tajam ke arah Hazel.
"Sudah terasa nyaman?" tanya Hazel sembari menatap lembut wajah Alyss.
"Brengsek!" jawab Alyss lirih dengan suara kecil sembari menatap iris Hazel dengan tajam.
"Kau bicara? Kau sudah mau bicara pada ku?" tanya Hazel dengan senyuman mengembang di wajahnya, walaupun ucapan yang pertama kali dilontarkan Alyss padanya berupa kata makian namun ia tetap senang.
"Ck, Aku baru saja memaki mu, tapi kenapa kau terlihat senang?" tanya Alyss dengan berdecak kesal dan ekspresi yang sulit di katakan.
"Aku suka mendengar suara mu." jawab Hazel yang masih tersenyum dan menatap lekat wajah Alyss.
"Kau haus? Ingin teh?" tanya Hazel dan mulai beranjak ingin mengambil teh.
"Kau kembali saat itu? Apa kau benar-benar kembali?" tanya Alyss tiba-tiba saat Hazel berbalik ingin mengambilkan nya teh hangat.
Hazel pun langsung berbalik dan menatap iris Alyss dengan lekat hingga mereka saling mengunci pandangan satu sama lain.
"Tidak! Akan ku ubah pertanyaan ku.
Apa kau bahkan masih mengingat ku?
KAK HAZEL?" tanya Alyss sekali lagi sembari menekankan kata "Kak Hazel" pada pria yang masih berstatus sebagai suami nya.
"Aku masih mengingat mu, aku masih mengingat gadis kecil yang selalu menatap ku dengan tatapan polosnya....
Tapi aku tak bisa mengenali mu, maaf...
Aku tak tau sudah berapa kali kata "Maaf" itu ku ucapkan, rasa nya tak pernah cukup, dan bahkan jika ku bilang aku kembali saat itu, bisakah kau percaya pada ku? Kejadian yang sudah berlalu tak dapat di ulang, dan aku mengakui kesalahan ku." jawab Hazel sembari menatap lekat iris Alyss.
Alyss masih terdiam dengan wajah datar nya, tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Lalu setelah beberapa saat ia langsung mengganti ekspresi datar nya dengan senyuman simpul.
"Maaf? Apa aku harus memaafkan mu? Kau meninggalkan ku saat kita masih kecil, Lalu menyiksa ku habis-habisan saat aku dewasa.
Kau selalu membuat ku hampir bertemu dengan malaikat maut berulang kali..." ucap Alyss dengan suara tenang dan senyuman di bibir nya namun memancarkan kemarahan dari mata nya.
"Aku tau, maka dari itu aku akan coba memperbaikinya, aku akan-" ucap Hazel yang belum menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tak bisa memaafkan mu...
Aku bukan orang suci atau agamanis yang memiliki hati besar untuk memaafkan...
Dan jangan gunakan kata-kata klise "Tuhan saja maha pemaaf" karna aku bukan Tuhan, aku juga bukan dewa...
Aku manusia biasa, aku tak sepemaaf itu...
Jadi jangan meminta manusia biasa untuk memiliki sifat seperti Tuhan..." potong Alyss, rasanya sangat sulit memaafkan pria yang sudah menghancurkan nya habis-habisan.
Hazel terdiam beberapa saat, ia menatap iris Alyss dengan lekat, sebelumnya Alyss masih dapat menunjukkan senyuman simpul nya, namun kini wanita itu tak lagi menunjukkan senyuman simpulnya.
Ia memperlihatkan sorot mata yang di selimuti dengan amarah dan dendam namun tersimpan kesedihan dan kekecewaan di baliknya.
"Kau bisa tetap seperti itu...
Tak apa jika membenci ku seumur hidup mu...
Tapi biarkan aku tetap dengan mu...
Aku bisa lakukan apa saja, yang kau ingin kan, tapi aku tak bisa melepasmu..." ucap Hazel, ia tau kesalahan nya, namun ia juga tak sanggup jika harus melepaskan Alyss.
"Kalau begitu kau berlututlah...
Kau membuat ku berlutut berulang kali...
Tak masalah kan jika sekarang kau berlutut sekali pada ku..." ucap Alyss dan mulai menyunggingkan bibirnya.
Ia tau tak akan bisa keluar dari cengkraman pria iblis di depan nya, maka dari itu ia memutuskan akan menjadi iblis yang sama agar tak terluka lagi.
"Kau ingin aku melakukan nya?" tanya Hazel dengan mengerutkan dahinya menatap wajah istrinya yang memiliki ekspresi tak terbaca
"Yah, sekarang ayo kita menyakiti satu sama lain sampai benar-benar tak tersisa..." jawab Alyss dengan masih memiliki senyuman di wajahnya.
"Aku tak kan menyakiti mu lagi..." ucap Hazel dan mulai berlutut di hadapan Alyss.
Alyss terkejut dan terdiam beberapa saat, ia tak menyangka Hazel akan benar-benar berlutut padanya. Pria yang memiliki ego yang sangat besar saat ini sedang berlutut padanya, tentu saja hal itu membuatnya terkejut.
Alyss tertawa getir melihat hal itu, Hazel selalu bisa membuat hati nya terangkat lalu di banting tiba-tiba, saat ia mulai menyukai pria di hadapannya, pria itu akan mengecewakan nya, mengikis rasa sukanya, setelah rasa suka itu berubah menjadi benci, pria itu akan kembali membuat rasa benci nya menjadi rasa suka.
"Kau ini benar-benar sesuatu yah...
Seperti yang ku katakan tadi, aku takkan pernah memaafkan mu, jadi kau berhentilah meminta maaf, tapi aku ingin kau membuat ku lupa akan kesalahan mu..." ucap Alyss senyuman yang sulit di artikan.
"Baik...
Aku akan ku coba lakukan..." jawab Hazel sembari menatap lekat wajah Alyss.
Melupakan dengan memaafkan itu benar-benar berbeda, jika hanya melupakan tanpa memaafkan itu berarti seperti mengobati luka yang tak akan pernah kering, sakitnya akan hilang saat di obati namun saat obat itu habis rasa sakit itu akan muncul kembali, sama seperti saat mengingat hal buruk kembali maka akan terluka lagi seperti sebelum nya.
Jika memaafkan maka akan membuat luka tersebut dapat pulih mungkin akan berbekas namun tak lagi meninggalkan rasa sakit.
"Sekarang ayo buat peraturan.
Pertama kau harus janji tak akan menyakiti ku lagi, semarah apapun kau.
Kedua lakukan apa yang ku katakan.
Ketiga Mulai sekarang kau jadi milikku, dan aku milik diri ku sendiri." ucap Alyss pada Hazel.
"Aku bisa lakukan apapun asal kau tak meminta ku melepaskan mu." jawab Hazel.
"That's our deal, my dear..." jawab Alyss dengan senyuman yang sulit diartikan, dan mulai mengulurkan tangan nya mengisyaratkan agar Hazel bangun dari berlutut nya.
......................
Satu bulan kemudian.
Selama 2 Bulan terakhir latihan fisik Alyss untuk mengembalikan semua otot-otot nya membuah kan hasil. Ia sudah mulai dapat bergerak dengan bebas dan kembali norma lagi.
"Seperti nya aku sudah bisa kembali saat ini, kan?" tanya Alyss pada dokter yang sedang memeriksanya.
"Sudah nona, sore ini nona sudah bisa kembali." jawab dokter tersebut.
"Yasudah, sekarang kalian sudah selesai memeriksanya kan?" tanya Alyss yang memberi isyarat agar para dokter tersebut segera keluar dari kamar perawatan nya.
Ia pun melihat chat dan panggilan selama 2 tahun terakhir, dan yang paling sering menghubungi nya itu adalah Larescha, ia melihat beberapa panggilan dari Leo, namun nomor Leo sudah di blokir. Dan tentunya Hazel yang memblokir kontak Leo di ponsel Alyss.
"Pasti Lala yang memberi no ku pada kak Leo..." ucap Alyss lirih sembari menggelengkan kepalanya.
Alyss pun beranjak dari duduk nya dan pergi ke ruangan Presdir yang tak lain adalah ruangan suaminya sendiri.
Saat ia telah sampai di depan pintu ruangan tersebut ia pun langsung membukanya, ia tak tau jika Hazel sedang mengadakan pertemuan dengan klien nya, dan bahkan para staf yang melihat hal itu tak berani menghentikan Alyss, karna Hazel membagi otoritas dalam JBS grup pada Alyss, sehingga para staf dan karyawan non medis memperlakukan Alyss sama seperti mereka memperlakukan Hazel.
Cklek...
Dan semua mata langsung tertuju padanya.
"Ups!
Maaf...
Aku tak tau, kalian bisa lanjutkan..." ucap Alyss saat membuka pintu tersebut dan semua mata yang berada di ruangan tersebut tak terkecuali Hazel menatap lurus ke yang ia buka.
"Kami juga sudah selesai..." ucap Hazel dan langsung menghampiri Alyss.
Kenapa tak ada yang bilang kau sedang memliki pertemuan?" ucap Alyss dengan suara berbisik pada Hazel.
"Dia istri anda? Kalian sangat serasi..." ucap salah satu Client Hazel berbasa-basi sosial.
Alyss hanya membalas ucapan tersebut dengan senyuman manis di bibirnya.
Para client tersebut pun mulai keluar dari ruangan Hazel, namun Alyss seperti melihat salah satu orang yang tak asing baginya.
"Tunggu!
Kita pernah bertemu kan?" tanya Alyss pada salah satu pria yang merupakan client Hazel.
"Entahlah...
Aku tak begitu ingat, namun kurasa wajah nona tak asing..." jawab pria tersebut sembari menunjukkan senyuman yang sulit diartikan.
Alyss pun melihat sekilas ke arah tato di tangan tangan pria tersebut.
Bukan mirip, itu tato yang sama persis dengan si gila itu dulu!
Batin Alyss saat melirik ke arah tato di tangan pria di hadapan nya.
"Dubai, kau menabrak ku karna terburu-buru saat itu." ucap Alyss.
"Oh iya benar! Pantas saja wajah nona tak asing, mungkin karna wajah anda cantik?" ucap pria tersebut sembari menatap wajah Alyss.
Hazel yang dari tadi mendengar pembicaraan tersebut mulai membuat telinga nya panas, berusaha membuat Alyss menyukainya bukan berarti menghilangkan sifat pencemburu dan posesifnya.
"Terimakasih atas pertemuan nya, tapi sekarang saya sedang membutuhkan waktu bersama istri ku, saya harap kalian dapat memakluminya." ucap Hazel dengan senyuman profesional pada rekan bisnis nya, namun tersirat ucapan mengusir secara halus.
Ia pun langsung menarik pinggang ramping Alyss kedalam pelukannya dan menenggelamkan wajah Alyss ke dada bidang nya.
"Maaf kami mengganggu presdir." ucap salah satu client tersebut saat menyadari ucapan tersirat Hazel.
Pria yang tak lain adalah Dave pun mulai menyunggingkan senyuman nya.
Kau belum membunuhnya? Kalau kau tak bisa membunuhnya, aku yang akan membunuhnya agar membuat mu menderita.
Batin Dave saat melihat Alyss yang sedang di peluk rapat oleh Hazel.
Dave berserta para client yang lain pun mulai beranjak pergi dan hanya tersisa mereka berdua di ruangan besar tersebut.
Alyss pun langsung mendorong dada bidang Hazel saat Hazel semakin mendekapnya hingga terasa sesak.
"Dasar gila! Kau mau membunuh ku lagi?!
Hah..hah..." ucap Alyss kesal karna pelukan Hazel yang kuat membuat wajahnya terbenam di dada bidang tersebut dan hampir kehabisan nafas.
"Kau merasa sakit? Apa kita perlu menjalani pemeriksaan lagi?" tanya Hazel khawatir, sejak Alyss sadar ia menjadi lebih protektif bahkan jika Alyss bersin karna debu saja, ia akan membuat Alyss menjalani scan MRI dan pemeriksaan lanjutan. Ia benar-benar tak ingin wanita nya sampai sakit lagi.
"Pemeriksaan sialan! Kau yang membuat ku tak bisa bernafas!" jawab Alyss ketus.
"Sungguh? Bukan karna hal lain?" tanya Hazel khawatir sembari menelisik ke wajah Alyss.
Alyss pun membuang nafas nya dengan kasar.
"Tidak...
Aku baik-baik saja, maka dari itu jangan membuat ku menjalani pemeriksaan lagi." jawab Alyss pada Hazel.
Hazel pun mulai bernafas lega, ia pun beranjak ke arah dokumen nya dan merapikan dokumen nya kemeja kerja nya.
"Ada apa kesini? Kau tak istirahat?" tanya Hazel sembari mata nya melihat ke arah dokumen-dokumen di hadapan nya.
"Kau tau pria yang berbicara pada ku tadi? Bukankah dia terlihat tak asing, kau juga melihat nya kan?" jawab Alyss yang malah bertanya pertanyaan lain sampai melupakan tujuan awalnya mendatangi Hazel.
Hazel pun langsung menghentikan tangan nya yang sibuk memegang dokumen ketika mendengar Alyss yang bertanya tentang pria lain.
"Dia hanya Client, kau terlihat tertarik dengan nya?" jawab Hazel sebisa mungkin menahan emosi nya, karna istrinya membicarakan pria lain.
Dia tak tau tato itu? Benar juga dia kan selalu di ruang rahasia...
Batin Alyss saat menyadari Hazel yang tak mengenal simbol tato itu, hal itu tentu saja dapat terjadi karna Aegyt tak begitu banyak interaksi dengan Hazel dan pencahayaan di ruang rahasia yang minim, berbeda dengan dirinya yang memiliki banyak interaksi dengan Aegyt karna Aegyt sangat tertarik padanya.
"Kenapa kau diam saja? Kau sungguh tertarik?" tanya Hazel lagi dengan menarik nafas panjang guna meredam emosi nya.
"Iya, aku tertarik. Wajah nya tampan." jawab Alyss santai dengan senyuman polos di wajah nya.
BLAM!!!
Hazel langsung membanting dokumen yang ia pegang ke atas meja, dan tentunya hal itu membuat Alyss langsung tersentak kaget.
"Shit! Kau membuat ku terkejut!" ucap Alyss pada Hazel.
"A-apa?! Kau lupa kesepakatan kita? Kau mau menyiksa ku lagi?!" ucap Alyss ketika melihat tatapan tajam Hazel.
Hazel pun berjalan ke arah Alyss dan menyelipkan rambut panjang Alyss ke telinganya.
"Tidak...
Aku sudah janji tak akan menyakiti mu lagi, dan aku akan menepatinya." jawab Hazel lembut sembari menahan gejolak emosinya.
"Kalau begitu aku boleh selingkuh?" tanya Alyss dengan wajah tanpa dosa dan tersenyum polos.
Dia sama sekali tak memiliki niatan tersebut, dia hanya ingin mengganggu Hazel, baginya menyenangkan melihat Hazel yang berusaha menahan emosi nya.
"Tidak! Kau masih menjadi istri ku, dan jika kau benar-benar melakukan nya, aku tak akan menghukum mu, aku juga tak akan menyiksa mu lagi, karna aku tak ingin kehilangan dirimu lagi..." jawab Hazel sembari mengelus wajah Alyss dengan lembut.
"Tapi aku akan membunuh selingkuhan mu, membuatnya menjadi mayat tak di kenali lagi." sambung Hazel dengan senyuman tanpa dosa di wajah nya.
Alyss tak merasa takut sedikit pun ia hanya tertawa kecil mendengar nya.
"Kasihan sekali selingkuhan masa depan ku...
Kalau begitu jangan hancurkan wajah nya, aku tak bisa melihat wajah pria tampan di hancurkan..." jawab Alyss tersenyum.
"Kau benar-benar-" ucap Hazel terpotong.
"Benar-benar cantik kan?" tanya Alyss tersenyum sembari meletakkan kedua jari telunjuk tangan nya di pipi nya seperti saat ia kecil dulu.
Hazel langsung terdiam ia hanya menatap lekat wajah Alyss yang tersenyum seperti saat mereka masih kecil dulu. Walaupun itu bukanlah senyuman polos lagi namun ingin sekali rasanya memeluk wanita yang ada di hadapan nya.
Alysscalla Zalea
Hazel Rai
...****************...
Okey sebenernya karakter psycho Hazel nya tetap ada yah, dia cuma berusaha ngendaliin emosinya kalau itu sama Alyss.
Alyss juga udah mulai buat Hazel di bawah kendali nya, tanpa Hazel sadari, karna itu memang sifat asli Alyss nya sih wkwk.
Yah moga ajj mereka bisa cepet baikan yah😉
Dan untuk Dave nya nanti ada juga kok karma nya wkwk
Jangan lupa like, komen, vote, fav rate 5 dan dukung othor🥰🥰🥰
Happy Reading❤️❤️❤️❤️