
Alyss yang sedang memberi makan kucing kesayangan nya melamunkan pikiran nya beberapa saat, ia masih memikirkan apa yang dikatakan suaminya beberapa hari yang lalu saat ia masih di rumah orang tua nya.
"Hamil? Tapi kan..." ucap Alyss lirih dalam lamunan nya.
Untuk mengecek keadaan tubuh nya sendiri saja ia sudah takut, apalagi mengecek tentang dirinya yang hamil atau tidak.
"Sekali lagi saja, kalau kali ini juga masih tak berhasil aku tak akan coba lagi." ucap Alyss lirih dan mulai mengambil tes pack yang selalu ada di kediaman itu sejak ia memulai program kehamilan nya.
Alyss pun segera menggunakan alat kecil itu untuk memeriksa dirinya, berusaha membangun kembali semua harapan yang ingin ia kubur.
"Ku mohon....
Kali ini saja....
Turuti kemauan ku..." ucap Alyss dengan penuh pengharapan sembari mengibaskan alat tes pack yang ada di tangan nya.
Ia sangat takut membuka mata nya dan melihat hasil nya, ia takut harapan nya hancur lagi, namun dengan segala pengharapan dan keberanian ia perlahan melihat hasil nya dan...
Deg...
Mata nya langsung berkaca, ia menutup mulut nya dengan satu tangan nya karna tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"I-ini sungguhan? A-aku benar-benar..." ucap Alyss lirih, ia tak bisa menahan tangis bahagianya, bulir bening tersebut mulai jatuh membasahi pipinya.
"Tapi bagaimana kalau hasil tes nya salah?" ucap Alyss lirih yang masih tak mempercayai yang ia lihat, ia pun mulai mencoba dengan alat tes lain dan hasil nya tetap menunjukkan dua garis. Dua garis yang sangat ia inginkan.
Sudut bibir terangkat, ia melihat diri nya dari balik cermin kamar mandi tersebut mata nya menampilkan sorot kebahagian yang penuh dengan beberapa bulir bening yang jatuh di mata sayu nya, tangan nya mengelus perlahan ke perutnya yang masih rata, rasanya benar-benar bahagia, ia sangat menginginkan kehadiran anak itu dalam hidup nya.
Alyss pun segera ke JBS farmasi dan ingin mendiskusikan tentang masalah terapi pengobatan penyakitnya, ia tak mau melakukan hal yang bisa membahayakan buah hati yang sangat sulit ia dapatkan.
......................
JBS Farmasi.
Setelah memberitau tentang kehamilan para prof pun segera melanjutkan tentang pengobatan selanjutnya dan mulai mengontrol tentang obat yang harus di berikan ke tubuh kecil itu.
"Jika di trimester kedua aku mendapatkan pengobatan, tak akan ada pengaruh apapun pada bayi ku kan?" tanya Alyss pada para prof yang semula ingin menjalankan rencana awal.
"Itu mungkin...." jawab salah satu prof lirih, mereka tau di masa kehamilan Alyss tak bisa menerima obat keras apapun.
Namun untuk menekan penyebaran dari kerusakan yang sudah mengubah struktur sel di tubuh nyonya dari JBS grup mereka tetap harus memberikan obat tersebut di masa trimester yang dianggap aman walaupun memiliki kemungkinan resiko.
"Kenapa jawab begitu?" tanya Alyss saat melihat para prof tersebut menunjukkan keraguan.
"Ada yang kalian sembunyikan lagi?" tanya Alyss sembari menatap tajam ke arah para prof tersebut.
"Ini hanya kemungkinan kecil jika obat itu tetap diberikan pada masa kehamilan, namun jika tak di berikan sistem syaraf pusat akan terus di tekan dan bisa berakibat sangat fatal." jawab para prof tersebut.
"Hasil tes dari kandungan ku masih baik..." ucap Alyss lirih sembari melihat data hasil tes nya barusan ketika mendengar jawaban para prof.
"Berapa persen kemungkinan bayi akan terkena dampak dari obat itu? Dan apa yang di sebabkan dari obat itu?" tanya Alyss lagi, ia sangat menginginkan melahirkan anak yang sehat.
"15% dan kemungkinan bayi itu akan mengalami kelainan jantung, namun kami akan berusaha meminimalisir nya sebaik mungkin." jawab salah satu prof.
Deg...
Jantung nya serasa ingin berhenti, walaupun hanya kemungkinan kecil namun kemungkinan itu bisa membuat calon anak nya menderita seumur hidup. Alyss memejam beberapa saat sebelum ia berbicara dan mengambil keputusan.
"Jika sistem syaraf ku yang di tekan kemungkinan aku bisa cacat atau kehilangan fungsi tubuh ku...
Aku juga mungkin bisa lupa dengan semua nya kan?" ucap Alyss lirih yang tau tentang resiko di depan matanya.
"Setelah sistem syaraf apa yang selanjutnya?" tanya Alyss pada orang-orang yang selalu meneliti tubuhnya.
"Jantung dan hati, pengerasan pada organ tersebut tak akan terelakkan jika menghentikan semua pengobatan." jawab salah satu prof tersebut.
"Berapa lama waktu yang di butuhkan sampai rusak total?" tanya Alyss lagi.
"Sekitar dua tahun, pengobatan yang sebelumnya sudah benar-benar menghambat, namun kerusakan yang sudah terjadi tak akan dapat di perbaiki, dan resiko meninggal saat melahirkan juga sangat tinggi." jawab prof tersebut jujur.
Alyss memejamkan mata nya lagi, tangan nya mengepal erat.
"Kalau begitu tetap hentikan semua pengobatan nya. Berikan yang dapat memperkuat janin ku saja. Lalu siapkan obat pereda rasa sakit untuk ku dan tentunya obat tersebut tak boleh membahayakan bayi ku." ucap Alyss pada para prof dan beranjak pergi.
"Kabari setelah kalian menemukan obat nya." ucap Alyss sekali lagi dan pergi dari tempat itu.
......................
Kediaman Hazel.
Alyss terus memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi padanya, tangan nya mengelus lembut ke perut. Ia takut dan merasa bahagia di waktu yang sama.
Ku mohon...
Biarkan aku egois sekali lagi...
Aku ingin memeluk tubuh kecil nya...
Biarkan aku merasakan hal itu walau hanya sebentar....
Ia mulai membuat harapan baru lagi, harapan agar bisa memeluk tubuh mungil bayi nya, harapan agar ia bisa menggenggam jemari kecil calon anak nya.
"Kali ini mamah gak akan biarin kamu terluka...
Kamu baik-baik yah, mamah bakal jagain kamu sampai kamu lahir....
Nanti kamu bisa main sama mamah sama papa kamu juga." ucap Alyss lirih dengan suara tertahan, ia benar-benar ingin menjaga anak nya kali ini, ia tak mau sampai kehilangan anak nya lagi seperti sebelum nya.
Waktu terasa berjalan cepat, tanpa sadar siang telah terganti senja, perasaan yang semakin sendu saat melihat langit yang berubah.
Hazel telah kembali ke kediaman nya, ia mencari keberadaan istri kesayangan di kediaman megah itu, hingga kaki nya melangkah ke arah taman luas di kediaman nya.
Ia melihat istrinya yang duduk di bangku ayunan dan mengayunkan kecil tubuhnya, ia pun segera melangkahkan kakinya mendekati wanitanya.
"Kau tak masuk? Disini dingin...
Nanti sakit..." ucap Hazel sembari mengayunkan ayunan yang di duduki istrinya.
"Hazel...
Disini cantik yah..." ucap Alyss sembari memandang ke arah langit jingga di atas nya.
"Iya..." jawab Hazel singkat sembari memperhatikan wajah istrinya yang tersenyum lembut.
"Hazel...
Kalau aku lupa tentang mu nanti...
Kau harus membuat ku ingat lagi, mengingat jika aku menyukai mu..." ucap Alyss tersenyum tipis di bibir nya, karna bukan tak ada kemungkinan jika ia bisa melupakan semua kenangan nya, bahkan mungkin ia bisa lupa dengan dirinya sendiri saat sistem syaraf nya terus mengalami penekanan.
"Tentu saja...
Kenapa bicara mu sedikit aneh?" tanya Hazel yang bingung dengan ucapan istrinya.
"Tapi kau tetap suka kan?" tanya Alyss tersenyum sembari semakin mengandahkan wajah nya ke atas melihat ke arah suaminya yang berdiri di belakangnya dan mengayunkan ayunan untuknya.
Hazel hanya membalas dengan senyuman dan mengecup ringan kening wanitanya. Alyss tersenyum dan memejamkan mata nya saat suaminya mencium lembut kening nya.
"Kau mau main ayunan sebentar lagi?" tanya Hazel pada istri kesayangan nya.
"Iya! Tarik lebih kencang!" ucap Alyss tertawa kecil, ia tak ingin memperdulikan tentang masa depan yang belum jelas, namun ia akan menikmati masa yang sedang di lalui dengan senang hati bersama suami dan anak dalam kandungan nya.
Hazel pun menarik kuat ayunan nya dan membiarkan istrinya bermain dengan ceria seperti anak kecil diayunan yang melambung tinggi itu. Bibir nya ikut tersenyum saat mendengar tawa dari wanitanya. Baginya ini adalah waktu yang sangat berharga melihat wanita yang ia cintai terlihat bahagia. Setiap detiknya menjadi sangat penting jika ia bersama wanitanya.
......................
Apart Winter garden.
Rian benar-benar mengikuti saran teman nya, ia mengganti pil KB dengan obat penyubur agar membuat kekasihnya bisa segera hamil dan menikahinya.
"La, mulai sekarang kau minum ini saja yah? Tak usah pakai pengaman lagi." ucap Rian sembari memberikan pil penyubur yang terlihat sama persis seperti pil KB setelah ia melakukan kegiatan panas nya pada kekasihnya.
"Kenapa gak pakai yang seperti sebelumnya saja?" tanya Larescha bingung tetapi tetap menerima yang di berikan Rian.
"Minum ini saja, lagi pula rasa nya beda kan?" tanya Rian sembari mengecup bibir mungil kekasihnya yang sedang duduk dan memegang selimut untuk menutup tubuh polosnya.
"Sama saja sih...
Kan sama-sama masuk kedalam itu nya..." jawab Larescha polos.
"Ya ampun Larescha...
Beda lah, masa gak ada ngerasa beda sih?" tanya Rian yang frustasi melihat wanita yang terus polos dari awal mereka pacaran sampai sekarang.
"Apanya yang beda?
Oh iya kau tadi keluar di dalam kan? Kalau aku hamil gimana?" tanya Larescha yang mulai menyadari perbedaan nya.
"Makanya minum ini! Biar gak takut lagi." jawab Rian frustasi melihat Larescha yang baru nyambung di ajak berbicara.
"Oh iya tadi kan juga aku juga tertelan itu...
Itu gak bikin hamil kan?" tanya Larescha sekali lagi saat ia mengingat sebelumnya Rian membuatnya menelan habis vanila yang di keluarkan pria itu.
"Enggak lah La...
Masa gak tau sih? Sistem reproduksi sama pencernaan aja udah lain jalur..." ucap Rian yang selalu di buat pusing dengan pertanyaan polos kekasihnya.
"Yah aku mana tau, gak pinter biologi." jawab Larescha polos.
"Aku jadi penasaran berapa nilai biologi mu dulu..." ucap Rian menggelengkan kepalanya.
"Tinggi...
Tapi kok sekarang..." ucap Rian lirih melihat kekasihnya yang sering memiliki koneksi jaringan terbatas atau kata lain nya lemot.
"Tinggi lah! Kan aku dari SD sampai SMA selalu lihat jawaban Lily." jawab Larescha polos tanpa rasa malu.
"Pantas saja...
Kenapa gak minta diajarin aja La?" tanya Rian sembari menghela nafas nya dengan kasar.
"Ribet katanya ngajarin aku, jadi di kasih jawaban nya aja." jawab Larescha jujur.
"Terus waktu kuliah? Bukan nya design gravis ada matematikanya?" tanya Rian lagi.
"Ada sih...
Tapi Lily juga yang ngerjain, dia itu pinter. Semua pelajaran bisa masuk." jawab Larescha.
"Pasti dr. Alyss merasa lebih sulit mengajari mu dari pada mengerjakan tugas mu..." ucap Rian pada kekasihnya.
"Ihh...
Kok tau?" ucap Larescha heran.
"Taulah..." jawab Rian singkat, Ia tau Larescha sering menanyakan hal yang sama berulang kali walaupun sudah beritau sejak awal, dan itu benar-benar membuat hal itu frustasi.
"Tau gak sih? Dulu itu Lily waktu kuliah kurus banget...
Apalagi waktu skripsian..." oceh Larescha ia memang suka bercerita tentang teman nya yang benar-benar ia anggap seperti saudaranya.
"Udah kurus di suruh ngerjain tugas mu, yang lain jurusan, apa gak makin kurus..." ucap Rian sembari menyelipkan anak rambut yang berantakan ke telinga kekasihnya. Ia tau kekasihnya sangat bersemangat jika bercerita tentang teman nya.
"Aku gak minta kerjain kok...
Aku cuma minta ajarin tapi Lily bilang sulit ngajarin aku, makanya dia milih ngerjain tugas aku....
Padahal dulu aku tuh waktu lihat tugas ku dulu udah mau pingsan rasanya, untung aku suka gambar jadinya gak salah milih jurusan." oceh Larescha.
"Bukan gak salah milih jurusan La, yang iyanya gak salah milih temen..." jawab Rian, kalau saja Larescha hanya mengandalkan jiwa seni nya saja tanpa ada teman yang membantu bisa jadi mahasiswa abadi sampai di keluarkan sendiri dari kampusnya.
"Tapi semua design ku bagus kan?" tanya Larescha percaya diri.
"Iyah bagus..." jawab Rian jujur yang memang Larescha selalu dapat membuat sesuatu yang lebih rapi dan indah, tangan nya mengusap lembut puncak kepala kekasih nya.
"La..." panggil Rian lirih saat melihat kekasihnya yang bangun dengan menggulung selimut di tubuhnya.
"Hm?" jawab Larescha yang hendak pergi mandi.
"Lagi yuk...
Nanti aku yang mandiin..." ucap Rian dan langsung menarik tubuh kekasihnya dan menjatuhkan selimut yang menutupi tubuh polos itu.
"Mau man-
Hummmpphhh...." ucapan Larescha yang langsung terpotong saat kekasihnya m*l*mat habis bibir nya.
......................
Kediaman Hazel.
Sinar mentari mulai masuk keruangan megah yang menjadi kamar yang selalu di tempati wanita cantik itu sekarang. Pandangan nya masih mengabur namun perlahan jernih.
Sekarang ia sangat suka menatap wajah suaminya, ia ingin membuat setiap kenangan untuknya dan untuk pria yang ia cintai.
"Kau belum bangun?" tanya Alyss lirih sembari menyentuh wajah pria nya dari kening, mata dan hidung, hingga bibir pria yang masih tertidur di hadapan nya.
"Bangun...." ucap Alyss lirih sembari memainkan bibir suaminya dengan jemari kecilnya.
"Auch!" pekik Alyss saat prianya bangun dan langsung mengigit jemarinya.
"Sakit..." cicit Alyss saat prianya melepaskan gigitan nya.
"Makanya jangan nakal..." ucap Hazel dan mulai mengeratkan pelukan nya pada wanitanya.
"Hazel...
Nanti pulang kerja nya lebih cepat yah...
Aku mau ngasih sesuatu..." ucap Alyss dari dalam dekapan suaminya.
"Apa? Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Hazel yang mulai penasaran.
"Ihh...
Gak seru...
Yah gak jadi kejutan nanti..." jawab Alyss, ia ingin segera memberi tau kan tentang kehamilan pada suaminya.
"Kalau mau lebih cepat pulang nya...
Kasih bonus dulu lah..." ucap Hazel sembari menciumi kening dan mata istrinya.
Yang awalnya ia hanya menciumi wajah cantik itu kini ciuman nya turun ke leher hingga dada wanitanya.
"Hazel....
Masih pagi...." ucap Alyss lirih saat merasa suaminya makin menjadi menciumi dan menjelajahi tubuhnya.
"Biar olahraga pagi..." jawab Hazel lirih dan semakin masuk ke dalam selimut agar lebih mudah menjelajahi tubuh kecil itu.
"Haz- unghhh..." ucap Alyss terbata saat suaminya sudah mencium bagian privasi dan membuat tubuhnya menginginkan hal yang sama.
"Sebentar saja..." ucap Hazel serak dengan nafas yang berat dan mulai menaiki tubuh istrinya, ia memang tak pernah merasa cukup untuk memakan tubuh istrinya.
"Hmhhmm..." Alyss yang menggeliat kecil saat suaminya mulai memasukinya.
Setelah melakukan olahraga paginya Hazel pun bangun dan memandikan tubuh kecil wanitanya, ia hanya tertawa kecil saat melihat wajah kesal istrinya yang harus mengikuti kemauan nya untuk olahraga padahal baru saja bangun.
"Pulang nya jangan lama..." ucap Alyss mengingatkan lagi pada suaminya sembari mengecup ringan bibir pria nya.
"Iyah..." jawab Hazel tersenyum sembari menarik pinggang ramping istrinya.
Setelah Hazel pergi, Alyss mulai menyiapkan kejutan nya untuk suaminya. Membuat hadiah untuk mengatakan tentang kehamilan nya.
......................
Pukul 04.35 PM
Sesuai janjinya Hazel kembali lebih cepat ia pun langsung mencari keberadaan istri kesayangannya.
"Alyss?" panggil Hazel sembari menelisik ke arah sekeliling kediaman megahnya.
"Sudah pulang?" jawab Alyss saat mendengar suara suaminya, dengan senyum hangat ia pun langsung menarik tangan prianya dan membawa Hazel keruang bersantai.
Setelah mendudukkan suaminya di depan kotak hadiah ia pun menyuruh pria nya untuk membukanya.
"Aku kan sedang tak ulang tahun hari ini?" tanya Hazel yang bingung saat melihat istrinya memberi hadiah.
"Yaudah itu hadiah karna sekarang sudah berubah jadi suami baik gak jahat kayak dulu lagi." jawab Alyss tertawa kecil.
Hazel hanya ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia pun mulai membuka kotak tersebut.
Dilapis pertama ia heran saat melihat pakaian bayi yang sangat mungil, dan saat ia mengambil pakaian mungil itu ia mendapat tulisan yang berisi.
You'll be a daddy
Hazel membulatkan mata nya dengan sempurna melihat tulisan tersebut ia pun mengambil kertas yang berlapis tinta emas itu dan menemukan tes pack bergaris dua di baliknya.
Rasa nya kebahagian menyelimuti tubuh dan hatinya, ia benar-benar senang saat berhasil mendapatkan apa yang ia dan istrinya inginkan, penantian nya selama dua tahun akhirnya membuahkan hasil.
"Ini sungguhan?" tanya Hazel menatap tak percaya dan mulai memeluk tubuh kecil istrinya.
"Iyah...
Masa aku bohong..." jawab Alyss tersenyum lembut dan membalas pelukan suaminya.
"Makasih hadiah nya...
Aku sangat senang...
Sangat...." ucap Hazel dengan suara tertahan, ia tak tau kenapa ia sampai ingin menangis padahal ini adalah momen yang sangat membahagiakan untuknya.
Alyss hanya tersenyum tipis sembari membalas pelukan erat suaminya, ia tak tau apa yang akan terjadi jika Hazel mengetahui kondisi tubuhnya, dan ia juga tak kan membiarkan hal itu terjadi, karna ia tak mau kehilangan calon anak nya lagi, dan kehilangan kebahagian yang dirasakan suaminya sekarang
Alysscalla Zalea (Bayangin ajj ini waktu dia masa kuliah yah😅)
Hazel Rai ( Bayangin aja nih waktu dia kuliah ngambil S3 di LN yah😅 jadi masih suka travelling sekalian cari korban wkwk)
...****************...
Happy Reading♥️♥️♥️