
Pria itu mengandah menyandarkan kepala nya di bangku mobil melihat ke arah jalanan yang bahkan villa yang ia tinggalkan masih tampak dari kaca spion.
Pria itu tak benar-benar pergi, wajah pucat dan tangan gemetar adik nya masih ia ingat jelas, ia tau gadis manja dari keluarga Rai itu sedang menyembunyikan rasa sakitnya.
Kenapa kakak ku seperti monster?
Seseorang juga melecehkan ku...
Dia juga memberikan ku narkotika.
Kalau kau menganggap pelecehan hal yang biasa, kalau begitu kau tak perlu marah pada orang yang melakukan nya pada ku...
Berhentilah! berhenti jadi pria brengsek!
Kata demi kata yang ia perdebatkan tadi dengan sang adik memenuhi pikiran nya, bekas luka di tubuh adik nya, dan sorot mata kekecewaan yang dalam juga terus membayang di wajah nya.
"Aku salah? Tapi di mana bagian yang salah? Aku...
Aku hanya...." gumam pria itu lirih.
Aargghhh!!!!
Seketika ia berteriak dan memukul ke arah stir mobil mewah nya berulang kali, Louis benar-benar merasa frustasi saat ini.
Ia bahkan tak tau dimana letak kesalahan yang ia buat, perasaan bingung dan ambigu semakin membuat nya tersesat, kejadian yang menimpa sang adik tanpa ia sadari membuat nya seperti tak berguna karna tak bisa menjaga gadis nakal itu.
Pola didikan yang salah karna terlalu di manjakan membuat nya tak tau apa itu meminta maaf dan mengakui kesalahan.
Kasih sayang buta dari sang ayah menutup mata nya akan kesalahan yang selalu ia lakukan, tak pernah di beri tau yang ini salah atau yang itu salah, satu-satu nya yang di tanamkan hanya melindungi sang adik.
Rasa egois dan terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan sudah merakar di hati nya, tak pernah mengakui kesalahan membuat nya semakin tak tau apa yang ia lakukan benar atau tidak.
Baginya cukup dengan memberikan uang maka semua bisa di lakukan.
Yah, seperti itulah ajaran sang ayah padanya. Putra sulung yang di besarkan secara manja dengan kasih sayang buta membuat nya tak mampu tau akan kesalahan nya.
Emosi yang lebih sedikit menambah alasan mengapa ia bisa memiliki sifat seperti itu, berbeda dengan sang adik yang memiliki emosi yang lebih banyak dan bahkan emosi berlebih, entah itu kesedihan atau rasa marah. Membuat gadis cantik itu juga memiliki sifat tersendiri dan berbeda dari sang kakak.
Louis melihat ke arah jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kekar itu.
Sudah 40 menit berlalu, ia memikirkan semua ucapan sang adik dan mencari letak salah nya, ia pun memilih kembali ke villa adik nya lagi.
Siapa yang paling mengenal gadis nakal itu?
Ia tau jika adik nya pasti akan pingsan tak lama setelah perdebatan nya, maka dari itu ia memilih kembali setelah sang adik kehilangan kesadaran.
......................
Villa Louise.
Beberapa pengawal sang adik bingung harus membiarkan nya masuk atau tidak.
"Aku tak akan membawa siapapun...
Jangan membuat ku kesal!" gertak Louis pada para pengawal itu dan kembali memasuki bangunan mewah yang di design dengan bentuk sederhana namun dapat terlihat sangat berkelas.
Para pengawal membiarkan pria itu masuk, asalkan pria itu tak membawa nona mereka atau pun membawa wanita yang bersama nona mereka sebelum nya.
Kaki Louis mulai berjalan ke arah ruang obat di villa tersebut, setiap villa, mansion, ataupun apatermen yang di miliki adik nya atau dirinya selalu di bangun ruangan yang penuh akan obat-obatan.
Ibu merekalah yang membuat aturan tersebut agar saat putri nya sakit maka akan segera dapat perawatan dan penanganan di manapun.
Dan benar saja, gadis itu sudah kehilangan kesadaran nya. Tubuh nya meringkuk dengan dahi yang basah karna keringat yang menetes, wajah gadis itu memucat pasi.
Louis pun membawa sang adik menuju kamar di sebelah kamar utama, karna ia tau Louise pasti membawa sekretaris nya ke kamar utama milik gadis nakal itu.
"Maaf...
Kau menderita yah? Jangan sakit..." gumam pria itu saat menghapus keringat di dahi sang adik. Ia juga mengobati luka di leher adik nya agar tak infeksi.
Pakaian gadis itu basah karna keringat dingin nya yang terus, pria itu mulai mengganti pakaian sang adik. Tak ada rasa nafsu saat melihat tubuh adik nya berbeda dengan saat melihat tubuh sekretaris nya.
"Siapa yang melakukan ini? Hm?" tanya Louis dengan nada bergumam saat melihat bekas jalur cambukan di tubuh sang adik ketika ia mengganti pakaian nya.
Setelah melihat dan memastikan adik nya sudah baik-baik saja ia pun keluar, dua pengawal dari vila adik nya sudah menunggu nya di depan pintu.
"Jaga kondisi nya, dan pastikan dia minum obat. Juga jangan katakan kalau aku kembali dan membawa nya ke kamar." ucap Louis dan pergi dari villa tersebut.
......................
2 Hari kemudian.
Selama perawatan dengan psikiater, gadis malang itu masih belum menunjukkan perubahan apapun. Terkadang ia histeris dan mengatakan jika ingin keluar namun tak bisa karna kaki nya yang terantai.
Ingatan yang terpecah belah membuat nya masih merasakan sakit akibat belenggu di kaki kanan nya, walaupun tak ada rantai sama sekali.
"Aku masuk yah..." ucap Louise dari balik pintu melihat Clara yang duduk dengan ekspresi kosong.
"Sudah makan? Makan bareng yuk!" ajak Louise dan menarik tangan gadis malang itu.
"Jangan! Nanti tuan marah...
Kaki ku sakit...
Aku tak bisa pergi..." ucap Clara spontan saat Louise menarik tangan nya.
"Tidak...
Dia tidak marah...
Sekarang tidak ada yang namanya tuan lagi..." ucap Louise pada gadis yang terlihat ketakutan itu.
Clara menggelengkan kepala nya dengan perlahan, wajah nya terlihat jelas sorot ketakutan yang mendalam. Mata nya melihat ke arah kaki nya yang dalam pandangan nya jika ia masih di rantai.
"Kau mau keluar? Lihat aku bawa kunci nya...
Aku lepas yah rantai nya..." ucap Louise lirih sembari ikut pura-pura membebaskan Clara dari rantai yang sebenar nya tak ada sama sekali.
Gadis cantik itu seperti bersikap membuka kunci dan melepaskan rantai, Clara tersenyum ia melihat kaki nya bebas, walaupun ini tak akan bertahan lama karna nanti ia juga akan melihat rantai ilusi itu lagi.
Ia berjalan menjauh dari ranjang dan terlihat senang melihat kedua kaki nya. Louise ikut tersenyum melihat hal itu.
"Mau jalan-jalan keluar? Mau makan di luar saja?" ajak Louise pada Clara yang terlihat seperti anak kecil berlari dengan bebas dan melihat kaki nya lagi.
Tak ada satupun jawaban dari Clara, ia mengacuhkan gadis itu dan hanya melihat kaki nya saja.
Louise pun mulai mendekat lagi dan menghampiri gadis itu.
"Ayo...
Makan malam..." ajak Louise lagi yang tak bosan nya berbicara pada gadis itu.
Ia menarik tangan Clara lagi dan ingin membawa nya turun untuk makan malam. Bagi Louise ini adalah kemajuan karna gadis itu sudah berjalan beberapa langkah dari ranjang dan tak menolak saat ia menarik nya keluar.
Saat keluar dari kamar, Clara tersentak ia melihat beberapa para pengawal dan pelayan di villa tersebut sama seperti pengawal dan pelayan mansion pria yang ia benci.
"AKKHHH!!!!" teriak nya dan langsung mendorong Louise lalu menutup telinga dan mata nya.
"Kenapa?" tanya Louise yang langsung bangun saat ia di dorong tiba-tiba hingga terjatuh dari lantai.
"Kau bilang kau tak membawa ku pada nya! Kau bohong!" tuduh Clara berteriak pada Louise dan langsung bersembunyi di balik nakas dengan menutup telinga nya.
"Maksud nya? Aku tak membawa mu pada nya...
Louis juga tak akan bisa membawa mu..." ucap Louise dan kembali mendekati gadis yang terlihat takut dan gemetaran itu.
Deg...
Clara terdiam saat mendengar nama tuan nya, Louise tak bermaksud sama sekali membuat gadis malang itu semakin takut karna menyebut nama sang kakak.
"Jahat! Kau adik nya kan?! Kalian jahat! Aku salah apa?! Jangan bawa dia! Huhuhu..." teriak Clara yang bercampur dengan tangis nya, karna rasa takut ia bahkan juga ikut menuduh orang yang sudah membantu nya.
Louise terdiam, ia berusaha meraih gadis manis itu lagi, hati nya tersentak melihat seberapa banyak sang kakak merusak wanita di hadapan nya.
"Maaf..." ucapan tersebut lolos di bibir Louise bersama dengan butiran bulir bening di mata nya.
Walaupun ia tak melakukan kesalahan apapun, namun tetap saja rasa bersalah muncul saat tau jika kakak kesayangan sudah benar-benar merusak wanita lain.
"Jahat! Pergi...
Huhuhu...
Kenapa melakukan ini pada ku?" tangis Clara yang sembari terus menyembunyikan dirinya di balik nakas dan menutup mata dan telinga nya dengan erat.
"Jangan menangis...
Kenapa terus menangis lagi sih? Maaf...
Maaf..." ucap Louise yang ikut menangis dan menarik tangan gadis itu.
Plak! Plak!
"Pergi! Dasar jahat! Aku benci pada mu! Kau menjijikan!" teriak Clara yang histeris dan memukuli Louise yang menarik tangan nya agar ia bisa makan turun dan makam malam.
Gadis malang itu sudah tak dapat lagi membedakan pandangan nya, baginya ia memukul pria yang sudah menodai nya namun semua pukulan nya kali ini mengenai gadis cantik yang sudah membawa nya keluar.
Setelah memukul Louise, gadis malang itu terdiam. Kini pandangan ilusi nya kembali hilang dan melihat gadis yang menahan tangis dihadapan nya dengan wajah yang memar.
"Maaf...
Ampun...
Jangan bilang pada nya...
A-aku salah..." ucap Clara takut dan langsung memohon pada Louise lagi.
"Berhenti saja menangis...
Hiks..." ucap Louise yang menyuruh Clara berhenti dari histeris tangis nya. Padahal ia sendiri juga sudah menangis sejak tadi.
"Maaf...
Kalau kakak tidak..." sambung Louise lagi uang terus meminta maaf atas nama kakak nya.
Ia pun menyeka air mata nya dan meraih tubuh Clara lagi.
"Mau balik ke kamar?" tanya Louise lagi dan memapah tubuh gadis itu.
Sesampainya di kamar, ingatan Clara mulai berputar rusak lagi, ia kembali mendorong gadis yang membantu nya. Louise membentur meja yang memiliki vas dan hiasan keramik diatas nya.
Bruk!!
Prang!!!
"Pergi! Pergi! Jangan! Ampun! Huhuhu..." ucap Clara dan langsung bersembunyi lagi di sudut ranjang.
"Ukh!" ringis Louise saat merasakan perih di tangan nya terkena pecahan hiasan keramik yang pecah berantakan di lantai karna ia membentur meja lebih dulu.
Tes...tes...tes...
Cairan merah kental menetes di tangan lentiknya ketika pecahan keramik itu mengenai nya.
Louise pun bangun dan melihat gadis yang sangat ketakutan itu yang terus bersembunyi di ujung ranjang.
Tangan nya terluka namun ia tetap membersihkan pecahan keramik dan vas yang terjatuh di lantai. Walaupun ia ingin meminta pelayan saja namun ia takut kalau Clara akan semakin panik saat melihat orang asing masuk lagi.
"Aku akan minta pelayan wanita mengantar makan malam mu...
Jangan takut yah...
Aku pergi kok..." ucap Louise dengan suara gemetar dan tertahan, ia menyeka air mata nya berulang kali melihat gadis yang sudah di rusak kakak nya.
Gadis itu keluar dengan pecahan keramik serta tangan yang terluka dari kamar nya yang di tempati Clara.
"Nona...
Anda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan khawatir dan satu nya lagi mengambil pecahan keramik yang di bawa gadis cantik itu.
"Aku baik-baik saja, bawakan dia makanan dan juga jangan lupa mencampur vitamin di minuman nya." ucap Louise pada pelayan nya.
Ia memang menyuruh para pelayan nya menambah vitamin dan protein bubuk di makanan atau minuman Clara karna ia tau jika gadis itu hanya makan sedikit.
Louise pun mulai mengambil mobil nya dan berkendara keluar tanpa tujuan, ia bahkan tak mengobati luka di tangan nya dan pergi keluar begitu saja.
Gadis itu sangat ingin meluapkan sesak di pikiran dan hati nya yang ia sendiri tak tau bagaimana caranya agar ia setidaknya bisa lega.
mobil memarkir saat melewati jalanan raya yang berupa jembatan di atas sungai besar nan panjang.
Ia menghirup udara dingin yang masih belum bisa membuat nya sesak nya tumpah.
Ciaat.... DUAR....
Suara melengking cahaya cantik mulai menari di udara memberi warna di langit malam yang mendung. Gadis itu tersenyum tipis melihat kilau nya kembang api yang cantik.
"Aku tak tau kembang api secantik ini...
Kenapa mereka menyalakan nya saat akan hujan?" gumam Louise lirih, ia memang tak pernah melihat kembang api karna tak suka suara nya yang membuat ia ingat tentang kejadian saat ia di culik dan suara hujan peluru yang ia dengar.
Louise terdiam dengan tatapan kosong melihat ke langit yang kini sudah tak ada lagi cahaya merak dari kembang api tersebut dan hanya menampilkan langit malam yang semakin mendung.
Tak lama kemudian sesuai dugaan hujan deras pun turun, seperti memang di hadirkan untuk menghibur gadis tersebut dan cara melepaskan sesak nya yang bertumpuk.
Kembang api untuk menghibur nya dan hujan untuk membisukan tangis nya.
"Apa ini artinya aku boleh menangis?" gumam Louise lirih dan setiap air mata nya yang jatuh hilang karna hujan yang menguyur nya.
*Mamah...
Mamah yang kirim hujan nya buat peluk Louise yah?
Louise takut Mah...
Louise harus gimana? Kenapa kakak bisa begitu Mah*?
Tak merasa dingin melainkan merasa nyaman di tengah hujan yang mengguyur nya. Tangis nya tumpah meluapkan rasa sesak sejadi nya di pikiran dan hati nya.
Menyembunyikan dan membisukan tangis nya dalam hujan membuat tubuh nya seakan di peluk dengan jutaan air yang turun dari langit.
Tak tau seberapa banyak air mata yang ia tumpahkan dan ia keluarkan di tengah air langit yang terus jatuh menyapu air kesedihan dan kekecewaan pada saudara satu-satu nya. Memiliki emosi yang lebih banyak memang membuat nya memiliki simpati yang lebih banyak juga namun hal itu juga akan dapat melukai nya seperti boomerang saat ini.
"Hentikan mobil nya!" ucap pria saat melihat salah satu gadis yang ia kenal sedang berdiri di tengah hujan walaupun ia tau mobil gadis itu berada tak jauh dari nya.
Ia pun keluar dan membuka payung nya, berjalan menghampiri gadis itu.
Louise terdiam dan berhenti dari tangis nya saat ia merasakan tak ada lagi air yang jatuh mengenainya.
Tubuh nya berbalik dan melihat siapa yang melindungi nya dari pelukan sang air langit yang membuat nya nyaman walaupun membuat nya sakit secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan?! Kena-"
Pria yang membawa payung tak lain adalah James, entah sebuah kebetulan apa yang membuat nya bertemu dengan gadis nakal itu di saat ia baru saja melayangkan nyawa orang lain.
Walaupun ia sudah membersihkan tangan nya namun terlihat jelas dari kemeja di balik jas hitam nya yang penuh dengan cipratan darah.
James terdiam tak melanjutkan perkataan nya, walaupun berada yang hanya mengunakan pencahayaan jalan namun dapat ia lihat jelas mata sebab dan merah karna tangis serta lebam dan ujung bibir yang terluka bekas tamparan seseorang dengan wajah yang sudah pucat pasi dan bibir mulai membiru.
"Louise ka-"
ucap nya lagi terpotong saat melihat gadis itu menangis di hadapan nya. Tangisan yang begitu pilu dengan di bungkam suara hujan yang deras namun masih mampu membuat pria tersebut mendengar dengan sangat jelas.
Hua...
Huhuhu...
James diam, baru kali ini melihat gadis nakal yang sangat sulit ia taklukan kini menjadi seperti sangat lemah, bahkan saat ia mencambuk dan mencekik gadis itu, Louise tak pernah sekali pun menangis memohon ampun atau menangis begitu pilu.
"Kau baik-baik saja?" tanya James lirih sembari semakin mendekat ke arah gadis yang sedang berada di titik terendah nya.
Louise memundur hingga tubuh nya tak terkena lindungan payung dari James lagi.
"Aku mau sendiri...
Pergi..." ucap Louise lirih dengan bibir gemetar nya.
Entah dorongan apa yang membuat pria itu hilang kendali dan tak seperti dirinya yang biasa nya, ia menjatuhkan payung nya dan berjalan mendekati gadis yang selalu membuat nya bersikap melewati batasan dan dinding yang ia buat.
Tangan nya meraih tubuh gadis itu dan langsung menautkan bibir nya tanpa sadar. Louise membelalak sejenak saat ia merasakan pelukan dan ciuman lembut dari pria tersebut.
Tangan mendorong perlahan dada bidang pria tampan yang sedang mel*mat bibir nya dengan lembut, namun James langsung meraih nya dan memegang nya.
"Aku...
Menginginkan mu..." ucap James saat ia melepaskan ciuman nya, tubuh nya mulai terasa basah saat guyuran hujan deras jatuh ke tubuh nya
Pria itu pun mulai mendekatkan bibir nya ke telinga gadis cantik itu.
"Tak apa-apa menangis...
Tapi setelah itu kembalilah seperti gadis yang ku kenal...
Kau masih belum membalas ku...
Aku masih menunggu hari yang akan datang itu..." bisik James pada Louise dan menenggelamkan wajah gadis itu ke dada bidang nya.
Louise terdiam beberapa saat mulai menangis lagi saat pria tampan itu memeluk nya. James pun mulai mengelus lembut rambut basah gadis itu dan mendekap semakin erat ke dalam pelukan nya.
Batasan yang ia buat agar tak memiliki kelemahan semakin terkikis setiap kali ia menemui gadis cantik itu.
...****************...
Visual nya🥰🥰
Elouise Steinfeld Rai
Athan James Dachinko