
Louise mulai terbangun dari tidur nya, ia tak tau kapan mulai tertidur, yang jelas ia tertidur dalam lelah nya tangis yang ia keluarkan untuk meredam rasa takut nya.
Gadis itu perlahan turun dari ranjang nya dan mulai membersihkan dirinya, ia tak tau sudah berapa kali ia terus mandi saat kembali ke kediaman keluarga nya.
Sebanyak apapun sabun yang ia gunakan terus saja tetap membuat nya merasa kotor. Banyak bekas luka yang ia buat karna terlalu menyikat dan membersihkan tubuhnya.
Setelah mandi cukup la gadis itu pun mulai keluar dan turun.
"Zayn?" ucap nya lirih saat melihat pria yang ia kenal sedang mempersiapkan sarapan untuk nya.
"Kau sudah bangun? Masih demam?" tanya Zayn sembari mendekat ke arah gadis yang berdiri mematung menghadap nya.
Tangan nya langsung ia letakkan di dahi gadis cantik itu yang terlihat pucat pagi ini.
Saat gadis cantik itu mulai tertidur ia membuka perlahan selimut yang menggulung Louise, ia tak mau gadis itu merasa sesak karna tergulung oleh selimut tebal.
Saat Zayn mulai merapikan selimut teman nya di situlah ia melihat jika gadis cantik itu seakan menggigil dan merasakan begitu dingin, keringat mulai jatuh dari dahi nya satu persatu dan ia mendapati jika Louise mengalami demam tinggi.
Malam yang panjang sembari terus menjaga sahabat nya agar tetap baik-baik saja. Zayn pun dapat melihat beberapa bekas kepemilikan yang tertinggal di leher jenjang gadis itu.
"Aku tak sakit..." jawab Louise lirih dengan wajah pucat nya sembari menyingkirkan tangan sahabatnya dengan perlahan.
"Masih sedikit demam..." jawab Zayn sembari terus memperhatikan gadis itu, terlihat jelas jika ia sangat khawatir.
Ia penasaran akan siapa yang memberi bekas kepemilikan di leher jenjang sahabat nya karna ia tau gadis itu tak mudah mendapat sentuhan. Namun di bandingkan rasa penasaran ia lebih merasa khawatir pada teman nya.
"Zayn...
Aku..." ucap gadis itu dengan suara tertahan dan mata yang berkaca hampir menangis.
"Kenapa? Hm?" tanya Zayn dan langsung menangkup wajah kecil gadis itu.
Air mata nya mulai terjatuh tanpa bisa ia tahan, saat seseorang menanyakan Kenapa malah semakin membuat nya ingin menangis.
"Se-sepatu ku hilang...
Huhuhuhu..." ucap Louise di tengah air mata nya yang berjatuhan, ia tak tau alasan apa yang ingin ia gunakan saat teman nya bertanya. Dan hanya jawaban itu lah yang terlintas di kepalanya.
"Sstt...
Sudah yah...
Nanti kita beli yang baru..." jawab Zayn sembari memeluk Louise, ia tau jika ini tak sesederhana kelihatan nya, namun satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya lah mengikuti apa yang di inginkan gadis itu.
Jika Louise tak ingin bicara ia juga tak ingin memaksanya dan membuat gadis itu untuk mengatakan hal tak disukainya.
"Zayn..." panggil Louise lirih yang masih terbenam di dada bidang sahabat nya.
"Hm? Kenapa?" jawab pria itu dengan lembut.
"Jangan bilang Louis yah kalau aku gak pulang kemarin..." pinta gadis lirih yang masih tetap menyembunyikan wajah nya di balik dada bidang sahabat nya itu.
"Harus bilang pada ku yah nanti alasan nya..." jawab Zayn sembari terus mengelus rambut halus gadis itu.
"Kau mau makan? Hm?" sambung Zayn lagi pada gadis cantik itu.
Louise pun menggelengkan kepala nya perlahan sebagai tanda dari jawaban nya.
"Kenapa? Nanti semakin lama sembuh nya..." jawab Zayb dengan selembut mungkin agar gadis itu bisa menurut.
"Gak mau Zayn..." ucap nya lagi sembari melepaskan pelukan nya.
"Sarapan bareng...
Aku lapar loh..." balas Zayn sembari mulai menarik tangan gadis manja di hadapan nya.
"Gak mau! Kalau lapar makan lah!" ucap Louise dan langsung berbalik, ia masih merasa jijik menelan makanan setelah apa yang di lakukan James padanya.
Zayn pun mengikuti arah langkah gadis cantik itu yang sedang menghadap ke halaman bagian belakang tempat dimana dinding kaca kediaman megah itu memperlihatkan taman indah milik nya.
Ia pun langsung mendudukkan dirinya di seperti alas sutra yang empuk, tempat yang tak pernah ingin ia ubah karna ia tau di tempat itu ia paling sering mengajak ibunya bermain boneka saat sang kakak tak ingin memainkan permainan anak perempuan itu.
"Louise? Sarapan...
Ini sudah jam berapa?" bujuk Zayn lagi sembari ikut duduk di samping gadis itu.
"Zayn...
Tau gak? Kalau duduk di sini rasanya Mamah masih sama aku...
Dulu tuh disini ramai...
Gak sunyi kayak sekarang..." ucap gadis itu sembari menatap ke arah boneka milik ia saat masih kecil dulu.
Zayn terdiam beberapa saat, ia tak tau harus menjawab apa sahabat nya yang sedang merindukan sang ibu.
"Zayn..." panggil Louise lirih pada teman nya itu.
"Hm?" jawab pria itu sembari melihat ke arah teman nya.
"Kalau nanti Louis pergi ke LN lagi kau menginap disini yah?" ucap nya sembari menatap ke arah sahabat nya.
"Aku gak mau sendiri..." rengek gadis itu lagi pada teman nya.
"Tapi kau harus bilang dulu...
Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Zayn sembari menatap gadis itu.
Deg...
Louise terdiam tak menjawab pertanyaan dari sahabat nya.
"Aku gak bisa bilang sekarang..." jawab Louise lirih.
"Kau dipaksa?" tanya Zayn lagi sembari menatap dengan tatapan menyelidik.
Gadis itu terdiam beberapa saat namun Zayn sudah mendapatkan jawaban nya.
"Siapa?" tanya Zayn lagi sembari memegang mulai memegang kedua lengan gadis itu agar menatap nya.
Louise tetap diam tak membuka mulut nya sama sekali.
"Siapa?! Jawab Louise?!" tanya Zayn sekali lagi dengan nada nya yang mulai meninggi.
"A-aku gak tau...
"Club?! Apa saja yang di lakukan?! Kau ingat wajah nya?!" tanya Zayn lagi.
"Udah Zayn! Jangan tanya lagi!" teriak Louise pada pria di hadapan nya.
"Ku mohon..." sambung nya lagi dengan nada lirih.
"Louis jangan tau yah...
Jangan beri tau dia..." ucap Louise lagi memohon pada sahabat pria nya.
"Kau ini kenapa suka sekali kesana sih? Sekarang lihat?! Hm?" tanya Zayn yang mulai luluh, ia tak bisa menatap wajah penuh harap gadis cantik itu.
"Aku janji gak kesana lagi Zayn..." ucap Louise sekali lagi, walaupun ia tak tau dengan jelas nama pria yang menyentuhnya, namun ia tau dengan pasti jika pria itu bukan orang sembarangan.
Walaupun ia bersikap nakal dan membuat masalah, namun jika itu adalah masalah besar yang akan melibatkan perusahaan dan orang nya ia tak pernah ingin agar orang-orang nya terlibat.
Zayn mulai menatap gadis itu yang semakin menunduk tak berani menatap wajah nya.
"Iya! Ini yang terakhir! Aku gak bilang Louis!" ucap Zayn dan membuat gadis itu langsung mengandah lagi.
"Lalu sekarang mau bagaimana? Kau tak mau cari orang nya?!" tanya Zayn sembari menatap gadis cantik itu.
"Aku mau nya kau disini saja..." jawab gadis itu sembari menggenggam tangan pria di hadapan nya. Ia merasa nyaman dengan sahabat nya sama seperti merasa nyaman saat bersama saudara kembar nya.
Zayn pun diam sesaat dan mulai menyandarkan kepala gadis itu ke bahu kekar nya.
......................
London.
Setelah menemui rekan bisnis yang lain. Louis pun kembali lagi ke hotel tempat ia tinggal selama di kota tersebut.
"Jam berapa tiket keberangkatan kita nanti?" tanya Louis sembari menatap jam tangan yang ia kenakan.
"Pukul 8 malam tepat." jawab Clara tanpa memandang ke arah atasan nya. Baginya ini adalah tahun terburuk dalam hidup nya.
Selama satu tahun ia bekerja dengan pria tampan itu, bukan nya tak pernah ia terpikat sekali pun. Munafik jika ia mengatakan ia tak pernah merasa kagum pada pria yang memiliki paras sempurna itu.
Namun apa guna nya tampan? Jika pria yang ia kagumi malah mengambil kesucian nya dan menginjak jatuh harga dirinya.
"Siapa yang berbicara pada mu tadi?" tanya Louis lagi sembari mulai menatap ke arah gadis itu.
"Siapa?" jawab Clara yang malah bertanya dengan nada malas.
"Pria yang tadi terus mendekat pada mu." jawab Louis lagi dengan nada tak suka.
"Bukan siapa-siapa." jawab Clara setelah memutar isi memori kepala nya dan mengingat jika tadi ada seorang pria yang mengatakan tertarik pada nya.
"Bukan siapa-siapa tapi sedekat itu?" tanya Louis lagi dengan nada yang semakin tak suka.
"Itu bukan urusan Presdir kan? Itu urusan pribadi saya!" jawab Clara dengan kesal.
"Kau terlihat murahan! Jika seperti itu." decak pria tampan itu sembari membuang wajah nya menatap kearah jalan.
Deg...
Sekali lagi penghinaan yang keluar dari bibir pra tampan itu. Gadis manis berlesung pipit itu hanya diam dan semakin meremas map yang berada di atas paha nya.
...
Hotel Grand Axias.
Setelah sampai di hotel yang mereka tuju, Louis pun langsung menyiapkan beberapa hal yang ia perlukan sebelum keberangkatan nya. Agar ia tak terlalu sering meninggalkan adik perempuan satu-satu nya.
"Buatkan kopi ku." perintah Louis pada sekretarisnya yang bekerja tak jauh dari nya. Mata nya terus menatap ke layar laptop yang memperlihatkan pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum keberangkatan nya nanti malam.
Clara pun mulai bangun dan membuatkan apa yang di minta atasan yang tak punya hati itu.
"Setelah ini, saya ingin kembali ke kamar saya. Pekerjaan saat sudah selesai, dan jika ada hal lain Presdir bisa menghubungi saya lagi." jawab Clara setelah meletakkan kopi nya, ia masih takut jika berlama-lama dengan pria brengsek itu.
"Oh...
Pria tadi sudah menunggu di kamar mu?" tuduh Louis sembari menatap tajam ke arah gadis manis itu.
Selama hampir 2 tahun terakhir wanita yang berada di dekat nya hanya Louise sang adik dan sekretaris nya yang ia pekerjaan setelah menyeleksi sendiri.
"Sudah ku bilang aku bukan wanita seperti itu!" ucap Clara yang mulai tak tahan dengan semua tuduhan yang terus menghina nya.
"Benarkah? Lalu kau wanita seperti apa? Dekat dengan pria sana sini begitu saja." jawab Louis tak suka. Ia sudah tak suka sejak awal gadis itu berbicara dengan pria asing saat mereka melakukan bisnis tadi.
"Itu bukan urusan anda kan? Saya ingin dengan siapa itu bukan hak anda untuk mengomentari apa yang saja jalani." jawab Clara tegas yang mengumpulkan semua keberanian nya menjadi satu.
"Bukan urusan ku yah?" gumam Louis lirih mendengar kalimat seperti itu. Ia merasa tak senang saat wanita di hadapan nya seperti benar-benar mengabaikan nya.
Greb...
"Lepas!" ucap Clara saat merasakan perasaan dejavu ketika atasan nya mencekal tangan nya.
"Tetap disini dan aku akan membayar mu dua kali lipat." ucap Louis sembari terus mencekal tangan gadis cantik itu.
"Sudah ku bilang aku bukan wanita seperti itu! Berhenti memperlakukan seperti wanita bayaran!" ucap Clara yang hampir menangis, gadis penakut itu tak bisa menahan rasa sesak nya saat pria di hadapan nya terus menerus menekan nya.
"Kalau begitu kau seperti apa? Hm? Tertawa haha hihi dengan pria asing yang baru kau temui?! Hm?" tanya Louis semakin marah. Ia tak mengerti alasan ia tak suka namun rasanya sangat kesal saat gadis di hadapan nya memberikan respon pada pria lain.
"Itu bukan urusan anda!" ucap Clara dengan suara gemetar saat ia tak bisa melepas tangan kekar yang memegang tangan nya dengan erat.
Louis tertawa kecil mendengar hal itu, ia mencengkram rahang kecil itu dengan tangan nya dan mulai mencium secara paksa ke arah bibir cantik itu.
Hummpphh...
Gadis itu terkejut setengah mati, saat ia mulai merasakan bibir pria dia hadapan nya mulai menangkup bibir nya secara paksa.
Tangan gadis itu mulai mendorong tubuh kekar pria di hadapan nya.
"Aku akan membayar mu setelah ini...
Jadi berhenti mendorong ku..." bisik Louis setelah melepaskan ciuman nya.
Deg...
Gadis itu terbelalak mendengar hal itu. Tubuhnya mulai gemetar merasakan setiap aliran rasa takut mengalir ke tubuh nya.