(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Season 2 : Pregnant?



9 Hari kemudian.


Louis meliburkan Clara selama beberapa hari karna gadis itu terluka sebelum nya. Ia juga memberikan hak kompensasi berupa uang sebagai ganti dari perusahaan karna mendapat ancaman dari luar saat masih berhubungan dengan pekerjaan.


Reno yang berulang kali mencoba menghubungi nya namun ponsel nya tak pernah ia aktifkan karna merasa stress akan semua hinaan yang selalu muncul di layar ponsel tersebut.


"Perut ku sakit..." ringis Clara sembari meringkuk kan tubuh nya diatas tempat tidur.


Ia sangat takut keluar kamar nya sendiri karna masih dapat merasakan aroma anyir darah dari mayat-mayat yang pernah bersimbah darah di apart nya.


Seperti terisolasi dari dunia, gadis manis itu bahkan tak berani keluar dari kamar nya, ia tak tau siapa yang berada di balik pintu kamar nya yang selalu mengetuk setiap kali makanan sudah datang.


Tok...tok...


Suara ketukan pintu kamar dari luar mulai terdengar lagi di telinga nya, ia tau jika hal ini menandakan sudah ada seseorang yang meletakkan makanan nya.


Hening...


Ia sama sekali tak memperdulikan sama sekali makanan yang diantar pada nya, perut nya begitu sakit hingga membuat nya tak peduli akan makanan yang diantar pada nya.


Keringat dingin mulai keluar dari tubuh nya, wajah yang semakin memucat dengan meringkuk serta memeluk perutnya yang terasa seperti di lilit, mulas, kram dan berbagai rasa yang tak bisa ia jelaskan namun hanya meninggalkan satu kata.


Sakit...


"Kenapa dia tak keluar juga?" batin pria itu saat melihat makanan yang ia letakkan di depan pintu tak diambil sama sekali.


Selama 9 hari terakhir Louis mengunjugi apart gadis itu dan mengatur makanan yang akan di berikan pada gadis manis itu.


Jika ia sedang berada di JBS hospital ia menempatkan satu pekerja wanita untuk mengawasi apakah gadis itu sudah keluar dari kamar nya atau belum.


"Dia kenapa lagi sih? Ck!" decak Louis yang mengira gadis itu sekarang sengaja tak mau membuka pintu nya.


......................


Cafe.


"Zayn? Mikirin apa sih?" tanya Louise saat melihat teman nya yang termenung menatap ke arah lain.



"Tidak ada..." jawab pria itu sembari kembali menoleh pada gadis cantik itu.


"Nanti cobain foodstreet lagi yuk!" ajak Louise saat ia tau akan ada karnaval atau seperti bazar makanan di sekitar cafe yang mereka kunjungi.


"Masih mau makan lagi? Kebanyakan makan nanti bisa sakit perut tau." jawab pria sembari menatap ke arah teman nya.


"Nama nya juga lagi mau makan...


Nanti kita kesana yah..." ucap Louise dengan mata memelas menunjukkan wajah gemas nya.


Zayn menghela nafas nya, ia tak bisa benar-benar menolak keinginan gadis itu.


"Iya..." jawab nya lirih.


"Yeyyy!!!" gadis itu pun senang seketika.


Pria tampan itu tersenyum dan menatap kembali ke wajah gadis yang terlihat ceria di depan nya. Hingga mata nya melihat ke arah tato sabit yang baru di pergelangan tangan gadis itu.


"Kau pakai tato lagi?" tanya Zayn sembari menangkup tangan gadis itu.


"Oh ini? Hmm...


I-iya..." jawab Louise gugup.


"Aku seperti pernah melihat nya..." ucap Zayn sembari berusaha memutar isi kepala nya tentang gambar sabit yang sama.


"Kan ini baru kau lihat, Zayn..." jawab Louise pada pria di depan nya.


"Bukan di tangan mu, tapi di tempat lain..." ucap Zayn sembari berusaha mengingat lagi.


"Di mana-mana mungkin...


Bentuk nya kan mudah di ingat!" ucap Louise lagi pada teman nya.


Ia juga tak tau kenapa James tiba-tiba mentato lagi tangan nya dengan berbentuk sabit kecil setelah malam panas yang ia habiskan pada pria itu.


"Zayn! Cobain makanan yuk!" ajak Louise yang sudah tak sabar ingin mencoba jajanan jalan.


Karna sejak kecil makanan nya selalu di atur dan tak bisa makan sembarangan karna takut kondisi nya dapat jatuh sakit.


Zayn melupakan tanda sabit di pergelangan tangan gadis itu dan tersenyum saat tangan nya di tarik.


"Mau pakai kaca mata begini tidak?" tanya Zayn sembari meletakkan kaca mata bulat hitam ke wajah gadis itu.


"Kalau kau pakai aku pakai!" jawab Louise tertawa karna tau teman nya tak akan memakai model seperti itu.


Seperti senjata makan tuan, ide jahil nya terbaca yang membuat pria itu ikut tertawa.


"Yasudah kita pakai bersama!" ucap Zayn sembari menatap bayangan diri nya dan teman nya dari cermin.


Ia tak pernah menghadiri bazar karnaval seperti ini, begitu juga dengan Louise.


"Cari makan yuk!" ajak gadis itu lagi setelah pria itu menyelesaikan pembayaran nya.


"Makan terus! Gak kenyang dari tadi makan?" tanya Zayn sembari mengikuti arah langkah gadis itu.


"Belum! Perut ku kan banyak ruang nya. Kalau makan es krim tempat nya lain...


Cake tempat nya lain...


Jajan tempat nya lain..." jawab Louise tertawa sembari terus menarik tangan pria itu untuk terus mengikuti langkah nya.


Zayn dan Louise pun berjalan mengelilingi mencari makanan yang mereka inginkan.


"Mau cobain." ucap Zayn saat melihat makanan di tangan gadis itu.


Louise pun menyodorkan nya hingga terlihat bekas dua gigitan di makanan tersebut.


"Banyak banget! Ihh! Zayn kalau makan banyak ngambil nya..." ucap gadis itu cemberut.


"Dari pada kau! Langsung di habisin!" jawab Zayn terkekeh melihat wajah gemas gadis itu yang sedang marah.


"Louise senyum! Aku post!" ucap nya langsung dengan mengeluarkan ponsel nya, karna ia tau gadis itu tak akan berfoto dengan wajah cemberut dan jelek saat akan di post.


Louise pun dengan cepat mengubah mimik wajah nya dari cemberut langsung tersenyum sembari mengacungkan dua jari nya di tangan kiri sedang tangan yang lain masih memegang makanan nya.



"Kalau mau di foto aja langsung senyum!" ucap Zayn tertawa sedangkan gadis itu pergi ke samping nya guna melihat foto yang ia ambil.


"Aku kok gemuk sih? Pipi ku nambah besar?" ucap gadis itu yang ingin menghapus foto nya.


"Gemuk lah! Makan aja kerja nya!" ucap Zayn tertawa dan langsung menaikkan tangan nya hingga gadis itu tak bisa menggapai nya.


"Zayn nyebelin!" ucap Louise dengan kesal pada pria yang sedang mentertawainya.


"Gemas nya...


Jadi mau di cium..." gumam pria itu sembari mencubit dan menguyel-uyel pipi gadis yang sedang menatap nya dengan kesal.


......................


Mansion Dachinko.


James kembali memasuki hutan nya dan melihat dan melihat ke arah laboratorium baru yang ia dirikan.


Sebelum nya ia sudah memiliki namun kali ini ia memperbesar dan memperbanyak tenaga kerja nya. Berbeda dengan laboratorium lain.


Lab milik nya di gunakan untuk meneliti semua barang ilegal milik nya mulai dari organ yang jual, narkotika, dan bahkan juga di gunakan sebagai tempat untuk memproduksi racun dan kini ia juga mulai mencari resep obat yang sama dengan yang di gunakan gadis nya serta mencari cara pengawetan darah yang bisa di simpan hingga dua tahun tanpa merusak sel nya.


Setelah ia menemukan obat rutin yang sesuai dan tak di tolak tubuh gadis nya, ia berencana untuk mengurung gadis cantik itu di mansion nya.


Karna ia yang kini sudah tau kondisi fisik yang lemah dari gadis itu dan hidup bergantung dengan obat-obatan membuat nya harus putar akal akan bisa membuat gadis itu hidup dalam lingkar yang ia buat sepenuh nya. Karna saat ini ia yang belum menemukan obat yang sesuai membuat nya tetap memberi kebebasan pada gadis cantik itu.


"Sudah menemukan obat yang sesuai dengan Louise?" tanya James dengan wajah dingin pada Chiko.


"Belum, tapi untuk pengawetan darah nya aku bisa melakukan nya hingga 6 bulan." jawab Chiko pada tuan nya.


"Cari cara awetkan hingga dua tahun dan segera temukan obat nya!" titah James dan berlalu pergi meninggalkan bawahan nya yang jenius dalam bidang kesehatan.


Ia pun kembali ke mansion nya dan menyelesaikan beberapa urusan nya yang sempat tertunda.


"Kau sudah lihat pergerakan dari Hauntred?" tanya James pada bawahan nya.


"Mereka belum melakukan apapun dan saya sudah memberi tanda ke perusahaan dan wilayah yang tuan ambil." jawab Nick pada atasan nya.


James sendiri selalu menandai wilayah atau barang yang sudah ia kuasai dengan tanda sabit. Tanda yang berarti jika semua itu sudah masuk ke dalam kepemilikan nya dan sudah berhasil ia kuasai.


Pria itu mengangguk mendengar jawaban dari tangan kanan nya, namun ia tetap akan merasa jika musuh nya akan menyerang balik dirinya dengan segala cara karna ia telah mengambil wilayah kekuasaan nya.


"Yasudah, kau bisa keluar." ucap James datar pada Nick.


"Apa?" tanya James sembari duduk ke meja kerja nya lagi, ia mengambil pensil guna membuat strategi yang ia gunakan untuk melawan musuh nya.


"Nona Louise seperti nya sedang berkencan dengan pria lain." ucap Nick berusaha memanasi tuan nya guna menyingkirkan gadis itu sembari menunjukkan foto Louise dan Zayn yang tengah bersama.


"Aku tau dia keluar dengan teman nya." ucap James yang walaupun merasa kesal namun ia ingat jika gadis itu sudah mengatakan akan pergi dengan Zayn.


Ia sudah melarang nya namun Louise tetap tak mendengarkan dan keluar bersama sahabat nya, sedangkan Nick menyuruh orang lain mengikuti Louise dan berusaha mencari cela agar tuan nya membenci atau memarahi gadis itu.


"Tapi mereka terlihat sangat dekat Tuan, mereka pergi ke tempat yang biasa di kunjungi untuk orang-orang yang sedang berkencan." ucap Nick yang terus mengompori tuan nya.


Ctak..!!


Pensil yang di tangan pria itu pun mendadak patah menjadi dua saat telinga nya mulai memanas mendengar hasutan bawahan nya.


"Jemput dia kesini!" perintah James dengan tatapan dingin dan tajam pada Nick.


"Baik tuan." ucap Nick dengan hormat dan berlalu pergi


Nick pun tersenyum, ia berharap tuan nya akan memberikan hukuman keras bahkan lebih berharap lagi tuan nya bisa membunuh gadis itu.


...


"Sakit! James! Kau ini kenapa sih?! Malu tau di jemput pengawal gitu di tempat umum! Kayak buronan yang lari dari penjara aja!" ucap Louise marah saat ia ingat pengawal pria tampan itu menjemput nya secara paksa di tempat umum dan membawa nya menghadap ke arah pria tampan itu.


Dan karna ia yang tak ingin membawa masalah bagi Zayn membuat nya tetap ikut walaupun ia tak mau.


"Sudah ku bilang jangan keluar dengan nya kan?!" bentak James dengan tatapan tajam ke arah gadis itu.


"Kenapa sih suka batasi apa yang ku lakukan? Selagi aku juga gak lakuin yang di luar batas kau juga tak perlu semarah ini kan?!" tanya Louise yang balik membentak pria di depan nya.


Di mansion megah itu hanya ia lah yang berani memarahi dan membentak pria jelmaan iblis itu.


James memejam mengatur nafas dan emosi melihat gadis keras kepala di depan nya, Louise sendiri merasa tak bersalah sedikitpun karna ia memang tak melakukan apapun di luar batas norma dan moral pada teman nya.


"Kau bicara seperti tak melakukan kesalahan apapun." ucap James dengan hawa penekanan yang kuat.


"Aku memang tak salah!" jawab Louise enteng yang semakin memantik amarah pria di depan nya.


"Sini!" ucap James semakin kesal dan membawa gadis itu ke dalam kamar mandi, apa lagi jika bukan untuk membersihkan aroma pria lain di tubuh gadis nya.


"Tidak mau! Semalam kan sudah! Masi pegal!" tolak Louise dengan berusaha melepaskan tarikan pria itu sekuat tenaga.


Semenjak hari dimana pria tampan itu merenggut kesucian nya, ia hanya memiliki waktu kurang lebih tiga hari sebelum melakukan nya lagi.


James membiarkan rentang waktu selama tiga hari setelah mengambil kesucian gadis itu karna ia tau gadis nya akan merasakan sakit lagi, namun setelah itu hampir setiap hari sejak malam itu ia membuat tubuh lemah gadis itu harus menuntaskan semua hasrat nya.


Auch!


Ringis Louise saat rahang nya di cengkram kuat dengan pria di depan nya.


"Lepas! Sakit! Kalau kau tak mau lepas, aku tak mau melakukan itu lagi dengan mu!" ancam gadis itu sembari meringis menahan sakit karna cengkraman pria tampan itu.


"Menurut mu? Aku perlu izin mu, untuk memakai sesuatu milik ku sendiri?" tanya James sembari membuka kaus yang di kenakan gadis itu.


Bruk!


Tubuh Louise langsung terjatuh ke lantai karna ia yang berusaha menolak saat pria itu ingin melepaskan pakaian nya lagi. Namun apa yang dilakukan James berhasil, kaus yang dikenakan gadis itu terlepas.


"Tapi aku bukan barang! Aku manusia!" ucap Louise dan beranjak ingin bangun.


"Aku tak pernah mengatakan kau barang kan?" tanya James dingin dan menarik rambut gadis itu membawa nya masuk ke dalam bathup kosong.


Pria itu pun mulai kembali menanggalkan semua pakaian yang di kenakan gadis itu seluruh nya.


"Aku tidak mau melakukan nya...


Masih pegal, masih lelah..." ucap nya hampir menangis karna tau pria itu akan melakukan hal yang melelahkan lagi pada nya.


Ia juga sadar semakin hari frekuensi pria itu dalam melakukan kegiatan panas nya semakin bertambah. Entah itu dari durasi nya hingga dari hari yang semakin sering.


"Kau tau kan? Anak nakal harus mendapatkan hukuman..." ucap James sembari memegang dagu gadis di depan nya dan menghimpit tubuh nya ke tubuh gadis itu sembari mengidupkan shower.


"Seperti nya kali ini akan sakit..." bisik James karna tau gadis itu memang sedang tak ingin berhubungan sama sekali dengan nya.


Hummphh...


Ciuman yang mulai bertaut dan ia juga yang mulai menjalarkan tangan nya ke seluruh tubuh indah itu.


Plak! Plak!


"Sa-sakit...


Aku tak melakukan apapun, sungguh..." ucap Louise meringis saat b*k*ng nya di pukul beberapa kali dengan kuat oleh pria tampan itu hingga memerah.


Ia membelakangi pria itu saat James membalik tubuh nya dan mengikat tangan nya dengan dasi pada tiang shower di kepala bathup dan membuat nya memukuli b*k*ng gadis itu hingga memerah.


"Aku tau, ini hukuman karna tak mau mendengarkan." jawab nya dengan dingin dan mulai melakukan penyatuan nya tanpa aba-aba saat gadis itu masih meringis sakit.


"Ungh!" desis nya sembari menggigit bibir nya menahan sakit ketika pria itu menghukum nya.


"Pe-pelan sakit..." ucap nya lirih.


Pria itu hanya tersenyum simpul ia semakin mempercepat permainan nya dan membuat gadis itu menjerit menahan sakit.


Setelah permainan yang cukup lama di dalam bathup yang air nya sudah tak lagi murni, ia pun membawa tubuh lunglai gadis ke atas ranjang nya.


"James...


Stop it...


I promise to be a good girl..." ucap Louise dengan suara lemah dan terengah-engah mengatur nafas nya.


"Hm...


After you take your punishment!" jawab James sembari melakukan lagi penyatuan nya.


Ukh!


Gadis itu kembali meringis dan mencakar punggung pria tampan itu lagi saat ia kembali merasakan perih dan ngilu di saat bersamaan.


Wajah nya memucat dengan keringat jagung yang terus menetes dari dahi nya sembari sesekali mencakar lengan pria itu ataupun menggigit bibir bawah nya sendiri.


Sedangkan James yang menikmati permainan nya semakin bertambah adrenalin nya begitu melihat wajah sayu yang sedang mengigit bibir itu membuat hasrat nya bertambah dan semakin bersemangat menghukum tubuh lemah itu.


Sakit...


Kapan dia mau berhenti?


batin gadis cantik itu ketika merasa rasa sakit nya yang berada di puncak hingga terasa hambar dengan pandangan nya yang mulai terasa gelap.


"Ungh!" lenguh James sembari menyudahi hukuman nya dan berguling ke tubuh gadis yang sudah kehilangan kesadaran nya itu.


Ia memberikan semua cairan kehidupan nya di tubuh lemah gadis itu.


Jika ia tak membuat gadis menelan nya ia akan membuat tubuh gadis itu penuh akan semua vanila yang ia tinggalkan. Ia tak peduli jika Louise hamil karna cara nya dalam meniduri gadis itu.


"Tunggu sampai resep obat mu ku temukan, dan kau tak akan bisa keluar dari sini lagi..." ucap nya sembari mengecup kening gadis itu dan memeluk nya dengan erat.


......................


Apart Greelef.


Louis kembali mengunjungi gadis itu setelah kembali dari JBS hospital ia melihat makanan gadis itu yang masih tak tersentuh seperti tadi siang. Saat ia bertanya dengan pengurus rumah yang ia tempatkan bibi pengurus itu juga mengatakan jika Clara tak mengambil makanan sama sekali.


Hal itu pun membuat nya geram dan mendobrak paksa pintu kamar gadis itu.


"Cla?" ucap Louis saat melihat gadis itu tak sadarkan diri dengan wajah pucat yang meringkuk di atas tempat tidur nya.


...


JBS hospital.


Louis pun membawa gadis itu untuk segera di periksa oleh dokter di rumah sakit nya.


"Sekertaris Clara saat ini tengah hamil, dengan usia kandungan kurang lebih 3 minggu. Karna stress dan tertekan membuat nya melemah serta kandungan nya ikut melemah." terang salah satu dokter dengan ragu-ragu pada Presdir nya.


"Hamil? Kandungan?" tanya Louis lagi memperjelas pendengaran nya.


"Benar tuan...


Sekertaris Clara saat ini tengah mengandung..." jawab dokter tersebut.


Deg...


Ia benar-benar terkejut mendengar nya jika ia tak pernah tau kebohongan gadis itu ia pasti akan senang mendengarnya berbeda dengan saat ini yang merasa ragu akan janin yang berada di rahim gadis manis itu.


Anak siapa itu? Anak ku? Atau anak pria sialan itu?!