
Mendapat pujian dari istrinya membuat nya langsung menangkup pinggang ramping wanita itu.
"Kalau main nya dari sekarang bisa gak? Nunggu malam kelamaan..." bisik Hazel pada istrinya menagih janji wanita itu.
"Masih siang! Kau tidak sibuk apa?!" ucap Alyss sembari menepis tangan yang merangkul pinggang ramping nya.
"Kalau begitu setelah temani aku bekerja? Bagaimana?" tanya Hazel sembari mulai menarik tangan kecil istrinya ke ruangan nya.
"Sini duduk..." ucap pria itu dan mulai mendudukkan istrinya diatas pangkuan nya.
"Aku mau nungguin Lala...
Gak tenang..." balas Alyss yang terus bergerak ingin bangun dari pangkuan suaminya.
"Tunggu teman mu sama aku saja...
Sambil main..." jawab Hazel enteng dan memaksakan pelukan nya sembari mulai memeriksa data dan dokumen di depan nya.
"Janjinya kan malam! Bukan siang!" dengus Alyss kesal, ia sudah tak lagi bergerak ingin bangun dan malah memposisikan dirinya ke pangkuan yang nyaman.
Setelah 15 menit.
"Hazel...
Bosan..." bisik Alyss yang masih berada di pangkuan pria nya dan menggambar abstrak di bahu pria itu.
"Mau main sekarang?" tanya Hazel tersenyum dan langsung menghentikan pekerjaan nya.
"Main apa? Main game?" tanya Alyss mendengus kesal pura-pura polos akan ajakan pria itu.
"Game? Sure! What game do you wanna play?" tanya Hazel bersemangat, pikiran pria itu dan wanita yang ia pangku berbeda.
"Isshh...
Bukan gitu!" ucap Alyss langsung menutup mata suaminya yang menatap nya dengan tatapan nakal.
"Terus? Kau mau games apa?" tanya Hazel lirih sembari meniup pelan telinga wanita nya.
"Apa yah? Mau nya gak main sih kalo aku..." jawab Alyss pada suaminya.
"Serius?" tanya Hazel menggoda nakal dengan tangan jahil nya
"Iyah serius..." jawab Alyss sembari menangkap tangan pria nya yang semakin naik mengusap ke atas.
Drtt...drtt...drtt...
"Telpon mu bunyi...
Angkat dulu." ucap Alyss saat melihat telpon kantor suaminya berbunyi.
Hazel pun berdecak kesal dan mengangkat telpon tersebut, Alyss yang masih berada di pangkuan suaminya dapat mendengar apa yang di bicarakan.
"Rapat nya dari panggilan video saja...
Kau tak perlu pergi..." bisik Alyss pada pria nya. Sembari memikirkan ide jahil di kepala nya.
Hazel pun mengikuti apa yang di katakan istrinya dan berencana mengadakan rapat melalui panggilan video.
"Mau kemana? Disini saja..." ucap Hazel sembari menahan pinggang istrinya agar tetap duduk di pangkuan nya.
"Ih! Malu lah! Masa nanti kelihatan kalo aku lagi di pangku gini?!" ucap Alyss sembari menepis tangan suaminya dan secepat kilat melungsur ke bawah meja kerja pria itu.
"Alyss naik jangan di bawah nan-" ucap Hazel yang langsung terpotong saat rapat nga mulai tersambung melalui panggilan video.
Alyss hanya tersenyum menatap suami nya dari bawah saat ia sudah berada di bawah meja.
Tangan nya meraih tangan suaminya dan menuliskan sesuatu.
Ayo main permainan...
Permainan tak boleh ketahuan....
Tulis Alyss di telapak tangan kekar suaminya. Hazel sedikit menunduk kebawah mengerutkan alis nya dan memandang bingung ke arah wanita yang melihat nya dengan senyuman menyimpan maksud.
Para direktur yang sedang mendiskusikan pekerjaan pun terus saling berbicara satu sama lain mengemukakan pendapat nya di depan Presdir mereka.
Ctlik....
Hazel pura-pura menjatuhkan pena nya dan turun ke bawah melihat istrinya.
"Jangan nakal...
Kalau nakal nanti ku buat kau tak bisa bangun lagi..." bisik Hazel sekilas di telinga istrinya dan duduk kembali.
Nakal gak nakal tetep aja nanti sakit pinggang!
Gerutu wanita itu dalam hati dan mulai memainkan permainan nya.
Saat suaminya sudah mulai serius membicarakan urusan pekerjaan, wanita itu mulai tersenyum simpul
Hazel pun melirik ke bawah dan melihat istrinya yang dengan nakal nya berusaha membuat hasrat nya bangkit. Dengan senyum polos wanita itu membalas lirikan suaminya.
Ia tak tau dengan permainan apa yang sedang dipikirkan wanita nya, sampai wanita itu bermain hal yang seharusnya tak ia lakukan.
"Kurasa kita per- emmhh..." ucap Hazel dan seketika tanpa sadar hampir mengeluarkan suara secara tak sadar karna permainan istrinya.
"Maksud nya presdir?" tanya direktur yang lain karna suara yang tak jelas dari presdir mereka.
"Pembangunan yang terakhir setidaknya memerlukan tambahan 34 apoteker lagi..." jawab Hazel dengan suara lirih dan nafas yang terlihat berat.
"Presdir? Anda baik-baik saja?" tanya salah satu direktur saat mendengar suara yang terasa aneh dari presdir nya.
"Aku sedikit flu...
Jika tak ada pembahasan lagi akan ku tutup." ucap Hazel yang tangan nya sudah turun ke kepala istri nya dan ikut memainkan tempo.
Merasa kurang dari 2 detik tak ada pertanyaan lagi, Hazel langsung mematikan laptop nya dan menatap istrinya yang sedang bermain dengan bagian tengah tubuh nya.
"Kau nakal sekali yah..." ucap Hazel dengan suara berat dan langsung menarik tangan istrinya lalu mendudukkan wanita itu ke meja.
"Kau suka yang nakal kan?" tanya Alyss tersenyum menggoda pria di hadapannya.
Hazel hanya tersenyum simpul melihat wanita nya yang menginginkan permainan lebih.
Perlahan ia memangut bibir wanita nya dan kemudian ciuman nya menjalar ke telinga dan menggigit kecil disana.
"Bermain dengan permainan ku kan?
Itu kan janji mu tadi?" bisik Hazel dan mulai memposisikan diri untuk penyatuan nya.
Pria itu bermain tanpa memberi jeda pada wanita nya, karna ia memang sangat menyukai apapun yang berada pada istrinya. Mau itu tubuh, wajah, sifat dan semua hal tentang wanita itu.
Ia memindahkan tubuh wanita nya ke kamar istirahat dan memainkan lagi permainan panas nya hingga lupa waktu.
Sekujur tubuh nya penuh dengan bekas kepemilikan dan gigitan yang tertinggal.
"leher ku luka yah?" tanya Alyss lirih saat pria itu masih menindih tubuh nya yang masih telungkup.
"Iya...
Nanti aku obati..." jawab Hazel masih dengan nafas berat, karna ia tak tahan dan sampai keterusan mencium lalu menggigit gemas lengkung leher istrinya hingga menimbulkan luka.
Pria itu kemudian berbalik dan memeluk istrinya, ia menarik selimut guna menutup tubuh polos mereka.
"Sudah tidur?" ucap Hazel lirih melihat wanita nya yang sudah tenang tertidur karna kelelahan.
......................
Pukul 10.34 AM
Wanita cantik itu mulai terbangun dari tidur nya. Seluruh tubuh nya merasa pegal dan tak memilki tenaga sedikit pun.
Bagaimana tidak?
Setelah makan malam ia malah malah di buat gempa lokal lagi dengan suaminya.
"Aisshh...
Pria sialan!" umpat Alyss saat ia merasakan pinggang nya yang terasa sangat pegal.
"Kau sedang memaki siapa? Kenapa bibir kecil ini suka sekali memaki? Hm?" ucap Hazel yang keluar dari kamar mandi dan mendatangi istrinya.
Udah aku mau tidur!" jawab Alyss kesal sembari menyingkirkan tangan yang menjahili bibir nya.
Sedangkan pria itu hanya tertawa melihat istrinya yang baginya sangat menggemaskan.
Setelah sore Alyss pun mulai menjenguk teman nya sekaligus melihat anak yang di lahirkan teman nya.
"Ihh...
Ganteng nya..." ucap Alyss gemas sembari mengelus pipi malaikat kecil yang baru terlahir ke dunia dan mulai menggendong bayi kecil itu.
"Udah ada nama nya La?" tanya Alyss sembari menatap gemas ke arah anak sahabat nya.
"Udah...
Zayn Nathan Etrama. Bagus kan?" tanya Larescha sembari melihat wajah bayi nya yang terlihat tenang di gendongan sahabat nya.
Hazel hanya memperhatikan istrinya yang tersenyum ceria berbicara dengan sahabat nya. Senyuman yang menularkan kebahagian nya juga pada nya.
"Kau tak mau memberi selamat pada ku?" tanya Rian membuyarkan pandangan teman nya.
"Iya...
Selamat yah...
Aku menaikan promosi jabatan mu sebagai hadiah." ucap Hazel yang tetap memandang ke arah wanita nya. Melihat wanita itu tersenyum membuat nya sangat menyukai hal itu.
"Wah...
Kau yang terbaik..." ucap Rian senang.
"Dr. Alyss ga akan dimakan istri ku kok...
Di lihatin terus..." ucap Rian tertawa kecil melihat teman nya.
"Oh iya...
Satu lagi..." ucap Hazel yang lupa memberitau sesuatu.
"Istri mu tak perlu bekerja lagi mulai sekarang! Dia di pecat! Kemarin dia menarik rambut saat mau melahirkan." ucap Hazel memandang teman nya.
"Aduh...
Gimana ngasih tau nya ini..." ucap Rian lirih ketika mendengar ucapan teman nya.
"Hazel..." panggil Alyss sembari berjalan ke arah suaminya.
"Iya kenapa?" tanya Hazel sembari melihat ke arah istrinya.
"Lala tadi tanya sama aku...
Dia gak di pecat kan? Karna narik rambut mu kemarin." tanya Alyss pada suaminya.
"Di pecat lah!" jawab Hazel pada istrinya dengan wajah kesal.
"Jangan lah! Masa gitu aja marah!" ucap Alyss mendengus kesal. Sahabat nya tadi sangat risau menanyakan hal itu pada nya karna takut di pecat.
Hazel pun langsung menatap ke arah Larescha dengan tajam dan membuat wanita itu langsung merinding ketakutan. Ia tau pasti sahabat istrinya mengadu pada istrinya.
"Nanti malem main lagi deh..." bisik Alyss merayu suaminya.
"Yasudah! Tapi ini yang terakhir!" ucap Hazel yang tak bisa menolak bujukan dan rayuan istrinya.
Rian yang melihat Alyss membisikan sesuatu yang entah apa pada teman nya sampai bisa mengubah keputusan membuat hati nya bersorak karna tak perlu membuat istrinya sedih akibat di PHK secara mendadak.
......................
5 tahun kemudian.
Internasional Primary School.
Kedua anak menggemaskan itu terlihat diam-diam memasuki lab sains yang seharusnya tak boleh mereka masuki karna masih di tingkat TK namun karna rasa penasaran yang tinggi membuat mereka memasuki ruangan itu.
"Isshhh....
Kok anak kelas 4 baru boleh masuk! Sebel!" oceh anak lelaki yang mulai memainkan reagen-reagen di tempat itu.
Prangg....
"Ups!" pekik nya saat tanpa sengaja menjatuhkan satu raegen.
"Aduh ini yang mudah kebakal lagi..." pekik nya saat melihat tanda K3 di botol tersebut. Walaupun usia nya masih 6 tahun namun ia memiliki kecerdasan diatas rata-rata begitu juga dengan saudari nya.
"Kenapa? Bodoh banget sih?! Gitu aja jatuh!" celoteh saudari kembar nya.
Tangan nya mendapat pemantik dan tanpa sengaja menghidupkan pemantik tersebut.
"Aduh panas!" pekik anak perempuan tersebut dan melempar pemantik nya berada di dekat cairan kimia yang tumpah akibat ulah kakak nya.
"Duh! Gawat...
Louise! Lali!" ucap nya anak lelaki tersebut sembari menarik tangan saudari nya.
DUARR!!!!
Tak butuh waktu lama sebelum mereka keluar lab tersebut sudah meledak, namun untung nya tak mengenai kedua anak nakal itu.
"Ihh...
Lab nya kebakal...
Selu kali Louis...
Bakal kelas yuk..." ajak saudari kembar nya menatap ke arah lab yang mulai terbakar dan mulai membuat alarm pemadam kebakaran di sekolah tersebut aktif.
"Yeeyy...
Kayak mandi ujan..." seru anak lelaki tersebut riang sembari melompat karna air pemadam kebakaran di bangunan tersebut aktif.
"Eh?! Pak supil nya uda nunggu lama ini!" ucap anak perempuan tersebut yang baru teringat jika mereka mengendap-endap saat pulang sekolah.
"Ayuk pulang!" ajak sang kakak sembari mengandeng tangan adik nya.
Belum sampai kedua bocah nakal itu keluar mereka sudah melihat ayah nya yang panik karna mendengar alarm kebakaran dari luar sedangkan anak-anak nya belum bersama nya.
"Papa!" ucap kedua anak tersebut riang saat melihat sang ayah yang terlihat panik.
"Kalian gak papa?" tanya sang ayah khawatir.
"Gak papa..." jawab Louis dengan semangat.
"Tadi kami bakal lab...
Gak sengaja sih pa..." ucap anak perempuan itu pada ayah nya.
"Papa tumben yang jemput kami?" tanya saudara kembar perempuan itu.
"Iyah...
Tadi papa ada pertemuan sama client sekalian jemput kalian..." jawab pria yang tak lain adalah Hazel pada kedua bocah nakal nya. Ia bernapas lega saat tau anak nya tak terluka.
"Pah mau gendong!"
"Aku juga!"
Ucap kedua anak itu bersautan sembari minta di gendong oleh sang ayah.
Waktu hamil ngidam bakar mansion...
Waktu uda lahir malah bakar sekolah nak...
batin Hazel sembari menggendong kedua anak nya, ia meletakkan pangeran kecil nya duduk ke pundak dan putri kecil nya ke gendongan nya.
Elouis Steinfeld Rai 💙 Elouise Steinfeld Rai
...****************...
Sabar yah bang Haz wkwkwk. Si kembar awas kena marah mamah lo kalo nakal"😂