(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Found us!



Crass...


Cipratan darah segar yang memuncrat mengenai wajah kecil itu, terulas senyum kemenangan di wajah nya. Rasa puas tanpa ada rasa iba.


"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang pria yang langsung membuat anak tampan itu tersentak.


"Pa-papah?" jawab nya gugup sembari menyembunyikan pisau dapur di balik tubuh nya.


"Gak ngapain-ngapain..." jawab bocah laki-laki itu menggelengkan kepala nya dengan takut dan langsung menunduk.


Pria itu melirik ke belakang tubuh bocah lelaki melihat satu kucing menggemaskan milik adiknya yang baru saja di belikan ibunya dengan kepala dan kaki dan kulit yang yang sudah terpisah tak menjadi satu lagi.


"Louis? Kenapa di potong kucing nya? Kan itu kucing adik mu?" tanya Hazel sembari mengambil pisau dapur dari tangan anak nya dan membersihkan darah yang terciprat ke tubuh kecil itu menggunakan sapu tangan milik nya.


"Kucing nya nakal pah...


Dia cakal tangan Louise waktu di mandiin..." jawab bocah itu lirih dan takut saat sang ayah memergokinya.


"Louise tau? Kalau kucing nya Louis potong?" tanya Hazel sembari mulai menggendong putra nya agar memandikan dan membersihkan nya.


Pria itu dengan telaten membawanya dari taman belakang dan membersihkan tubuh putra nya.


"Menurut Louis yang Louis lakukan tadi benar tidak? Louis gak kasihan sama kucing nya?" tanya Hazel sembari memandikan putra nya.


"Kata mamah gak boleh nakal...


Gak boleh nyiksa hewan...


Louis salah..." jawab nya lirih.


"Tapi Louis gak kasihan! Kan kucing nya yang cakal tangan Louise duluan! Salah kucing nya!" jawab bocah itu seakan-akan membenarkan ucapan.


Pria itu hanya terdiam, ia sudah selesai memandikan pangeran kecil nya dan mulai mengeringkan tubuh putra nya menggunakan handuk dan memakai kan mantel mandi untuk putra nya.


"Louis anak papah...


Papah gak marah kok...


Udah jangan takut lagi...


Anak laki-laki gak boleh penakut...


Gak boleh cengeng...." ucap Hazel sembari mengelus puncak kepala putra nya.


"Louis gak cengeng..." jawab nya lirih dan sudah hampir menangis karna takut sang ayah akan memarahinya.


Pria itu hanya tersenyum melihat putra nya yang mulai berkaca-kaca karna takut akan kemarahan nya.


"Louis tau apa yang lebih mengerikan dari rasa takut?" ucap sang ayah dan membuat anak nya tak lagi menunduk melainkan menatap wajah nya.


"Apa itu?" tanya nya yang mulai terahlihkan


"Ketahuan saat merasa takut." jawab Hazel pada putra nya.


"Kenapa?" tanya nya lagi dengan wajah polos nya.


"Saat orang lain sedang mendesak mu dan berusaha menyakiti mu...


Mereka akan melihat reaksi mu, dan saat kau pura-pura baik-baik saja dan mereka mengetahui nya...


Kau akan kalah...


Mereka akan menang dan semakin menginjak mu..." jelas sang ayah membuat berusaha membuat putra nya mengerti.


"Kalau gak bisa menyembunyikan nya gimana pah?" tanya lagi dengan wajah polos nya.


"Harus bisa...


Mau melindungi adik mu kan?"


Ucapan yang hanya di balas dengan anggukan dari sang anak.


"Pinter....


Louis kan anak laki-laki...


Harus bisa ngelindungin adik nya...


Kalau mamah papah gak ada cuma dia satu-satunya keluarga Louis..." jawab sang ayah tersenyum pada putra nya.


"Mamah Papah mau kemana?" tanya Louis lagi dengan menunjukkan wajah kekhawatiran.


"Jangan pelgi...


Louis sayang sama papah...


Sayang mamah juga..." ucap nya sembari memeluk pria kekar yang menjadi ayah nya.


"Iyah...


Papah juga sayang Louis...


Mamah gak usah ditanya lagi...


Dia udah pasti sayang banget sama Louis..." jawab Hazel tersenyum sembari membalas pelukan si kecil itu dan mengusap punggung nya perlahan.


......................


Gudang terpencil jauh dari keramaian.


Kedua bocah sebelum nya pingsan itu kini mulai tersadar. Kedua tangan kecil mereka di ikat dan di tautkan satu sama lain sehingga mereka diikat dengan tali yang saling menyatu.


Terlihat jelas wajah takut dari gadis kecil itu.


"Kak...


Louise takut..." ucap nya dengan suara yang sedikit gemetar sembari melihat tempat kotor dan pengab yang mengurung mereka.


Louis langsung melihat ke arah adik nya panggilan "Kakak" hanya di ucapkan gadis kecil itu saat sedang merasa takut, cemas, gelisah, sedih dan saat gadis kecil itu menginginkan sesuatu di saat seperti itulah ia baru memanggil dengan kata "Kakak"


"Ssttt...


Kata papah gak boleh takut...


Kayak biasa aja...


Gak papa...


Bental lagi mamah papah dateng...


Kan masi ada aku...


Nanti kakak jagain Louise yah...." ucap nya menenangkan adik nya.


Gadis kecil itu hanya mengangguk kecil dan merasakan genggaman tangan sang kakak yang berusaha untuk tak membuat nya menjadi panik.


BRAK!!!


"Oy! Bocah setan ini udah bangun rupanya..." ucap seorang pria dengan tubuh tegap dan wajah yang seram tak menunjukkan keramahan sama sekali.


Baru saja gadis kecil itu tenang namun sudah di kejutkan dengan gebrakan pintu dari si penculik.


"Om! Kalo buka pintu gak usah banting-banting nanti kalo lusak nangis!" ucap Louis pada si penculik.


"Dia tuh kayak nya yang mau nangis." ucap pria itu enteng sembari menunjuk wajah Louise.


"Louise jangan taku-"


"Huaa....


Huhuhu....


Muka om jelek banget....


Kayak boneka chucky...


Hua...." ucap Louise polos di tengah tangis yang terisak. Ia bukan nya menangis karna terkejut namun menangis karna takut saat si penculik menunjukkan wajah nya tanpa menggunakan masker.


"Haisshhh!!! Bocah sial! Masih bisa yah ngejek orang tua! Ha?!" bentak penculik itu yang merasa kesal ia tak bisa membunuh anak-anak itu karna ia ingin menukarkan nyawa para bocah itu dengan uang.


"Om nya udah jelek tukang malah lagi...


Huhuhu...


Makin jelek om... Hua...


Gantengin dikit kenapa om mukanya...


Huhu..." jawab nya di sela tangis histeris nya.


"Louise jangan nangis lagi...


Melem aja matanya bial gak lihat om jelek nya..." ucap Louis menenangkan adik nya.


Setelah beberapa menit Louise perlu menyesuaikan pandangan nya agar tak teringat dengan boneka menyeramkan.


"Om...


Kalo kelja jadi penjahat miskin yah om?" celoteh gadis kecil setelah menangis.


"Kenapa?" tanya nya ketus, belum sampai satu jam ia bersama bocah itu tekanan darah nya sudah mulai terasa naik.


"Masa udah jadi penjahat miskin sih om? Harus kaya lah! Bial gak nanggung-nanggung!" sambung sang kakak.


"Sial! Kalau bukan untuk tebusan sudah ku hajar kalian!" ucap penjahat tersebut.


"Gak boleh malah-malah om...


Nanti makin jelek loh muka nya..." ucap Louise dengan wajah polos nya.


"Kalian tau gak sih kalau lagi culik?! Ha?!" tanya si penculik dengan geram.


"Culik? Apa tuh om culik? Nama olang?" jawab bocah nakal itu pada penculik nya.


"Iihhh....


Nama om culik yah? Jelek banget kayak olang nya..." sambung gadis kecil itu menyambung ucapan sang kakak.


"Tahan...


Jangan sampai di bunuh..." ucap si penculik berusaha meredakan emosi nya.


Tak lama kemudian datang seorang pria bertubuh tegap yang lain masuk kedalam gudang itu.


"Kau yang jaga mereka! Bikin pusing! Belum ada 3 jam sama bocah sialan ini di jaga kepala ku sudah sakit!" ucap nya sembari keluar dari gudang itu.


"Oy! Gak usah macem-macem! Nanti ku jual!" ucap pria yang baru saja berganti menjaga anak kembar itu.


"Kenapa kami di jual om? Louise gak laku kalo di jual....


Soalnya Louise penyakitan..." ucap gadis itu polos ia tak menangis melihat pria yang datang kedua karna wajah nya tak menyeramkan, ia juga belajar memanipulasi emosi nya sebaik mungkin agar tak merasa takut.


"Benel tuh! Louis juga banyak makan...


Jadi nanti yang beli lugi..." sambung Louis setelah mengingat ia yang sangat suka memilih makanan dan makan coklat dengan sangat banyak.


"Sial! Banyak omong yah kalian!" ucap pria tersebut kesal.


"Iihhh...


Om nya suka malah kayak om yang tadi...


Jadi jelek balu tau rasa om..." ucap bocah lelaki nakal itu pada si penculik. Ia sebenarnya sangat takut namun harus bersikap seperti tak takut dan ayah nya lah yang melatih emosi seperti itu.


"Om...


Mau pipis..." ucap gadis itu sembari berpura-pura melipat kaki nya.


"Tahan aja sampai di jemput orang tua mu!" jawab pria itu sembari mulai menyalakan rokok nya.


"Ihh...


Gak bisa om..." jawab Louise kesal.


Pria tersebut yang sedang menghisap rokok nya pun mengalihkan pandangan nya ke arah gadis kecil itu. Sudut bibir nya mulai naik memperhatikan setiap sudut dari wajah gadis polos itu.


"Fyuhhh...." ia mengepulkan asap rokok nya ke wajah kedua anak kembar itu hingga membuat kedua nya terbatuk-batuk.


"Uhuk! Uhuk!"


"Bau om asap nya!" ucap Louis marah ia juga tau jika adik nya tak dapat menerima asap seperti itu karna sangat mudah jatuh sakit.


"Kau punya wajah yang cantik yah?" tanya pria itu sembari mengelus pipi halus gadis kecil itu.


"Ihh...


Tangan om bau! Gak usah pegang-pegang Louise!" ucap Louise sembari berusaha menghindar dari tangan yang mencoba mengelus wajah nya.


"Kalau main-main dengan mu sebentar seperti nya bisa...


Sebelum orang tua mu datang! Yang penting tak membuat bekas yang terlihat saja..." gumam nya sembari terus mencoba memegang wajah gadis itu.


Plak!


Louis yang langsung menepis tangan pria yang mencoba menyentuh adik nya dengan tangan yang masih terikat dengan kuat.


"Gak usah pegang-pegang adik ku!" ucap nya dengan suara yang keras pada pria itu.


"Aku tak berbaik hati seperti yang menjaga kalian sebelum nya..." jawab nya dengan seringai di wajah nya.


Tress.....


Kepulan asap yang membakar tangan bocah lelaki itu hingga membuat nya menjerit menahan sakit saat puntung rokok itu menekan kulit putih nya.


"AKKHH!!!" jerit nya menahan rasa terbakar dan perih tangan nya.


"Ihh...


"Ukh!" pekik gadis kecil itu tiba-tiba saat tangan kasar pria itu mencengkram rahang mungil nya.


Pria itu merupakan pemerk*sa nomor satu karna hasrat yang begitu tinggi, bukan hanya wanita dewasa dan gadis remaja saja yang menjadi korban nya.


Namun juga banyak anak-anak kecil yang menjadi korban nya. Bahkan ia sering membuat anak-anak malang itu sampai mengalami cacat karna tak mampu mendapat perlakuan dewasa yang ia lakukan.


"Sini! Om ajarin cara nya bersenang-senang!" ucap pria tersebut sembari mulai melepaskan ikatan di tangan gadis kecil itu agar tak terhubung dengan kakak nya.


"Gak mau! Lepas!" Jerit gadis kecil itu memberontak.


"Lepasin! Adik ku!" ucap Louis yang berusaha melindungi adik nya.


"Sakit! Lepas om!" ucap Louise yang mulai merasa takut saat rambut panjang nya ditarik dengan kasar. Nona muda yang selalu di manja dan di perlakukan dengan spesial kini menghadapi hal yang tak pernah terbayangkan di kepala kecil nya.


"Om jelek lepasin Louise! Om jahat! Nanti aku bilangin papah!" teriak Louis yang tak bisa menghampiri adik nya yang berada sekitar beberapa langkah di depan nya.


Tangan nya terikat dengan kuat hingga tak bisa membuat nya menghampiri adik nya yang mulai menangis.


"Gak mau om! Lepas! Sakit! Huhu..." ucap Louise menangis saat ia merasakan semua cubitan kasar di atas tubuh nya.


Tangan yang mulai mengelus kulit halus bocah perempuan itu menyentuh ke dada nya yang belum tumbuh sama sekali karna usia yang masih sangat muda.


"Sakit om! Ampun...


Janji gak bilangin om jelek lagi huhu..." tangis gadis kecil itu memohon ampun saat tubuh bagian atas nya di sentuh dan dir*mas kasar oleh penculik tersebut.


"Ukh!" ringis Louis yang berusaha melepaskan tangan nya yang sudah mulai terluka dan membiru karna ikatan tali yang begitu kuat namun ia berusaha melepaskan nya sebisa mungkin.


Brak!


Penculik lain yang datang dan masuk melihat ke dalam gudang karna teriakan dan tangisan gadis kecil itu menyeruak hingga keluar gudang.


"Rixton! Jangan di perk*sa juga tuh anak! Kita masih butuh buat panggilan video orang tua nya! Biar uang nya gak kurang! Sandra yang lain kan masih banyak!" ucap teman si penculik yang melihat pria itu sedang berusaha melepaskan CD dan membuka paha kecil itu.


"Muka cantik banget! Mulus lagi!" serunya dengan mata penuh nafsu menatap gadis kecil yang menangis histeris merasakan takut.


"Liat situasi juga lah! Main sama yang di sebelah sana! Baru di suruh jaga bentar udah mau di mainin aja!" ucap pria tersebut. Karna yang mereka culik tak hanya kedua bocah nakal itu melainkan ada banyak lagi yang menjadi sandra.


Beda nya adalah sandra yang lain sudah di persiapkan untuk di jual. Remaja wanita dan wanita dewasa biasanya di jual untuk menjadi pel*cur sedangkan remaja laki-laki atau lelaki dewasa di jual organ-organ tubuh nya.


"Mainin dia bentar aja! Mulus banget! Anak orang kaya beda rupanya!" jawab Rixton nama si pria bejat itu lagi.


"Gak! Main sama yang di sebelah aja! Udah mau buat panggilan video ini!" ucap pria tersebut. Jika saja mereka sudah melakukan panggilan video oleh orang tua kembar pasti ia tak akan peduli lagi mau gadis kecil itu di lecehkan atau bahkan di perk*sa.


"Sial!" umpat nya sembari mulai menaikkan lagi resleting nya. Padahal ia awal nya sudah sangat tak sabar menembus kesucian gadis kecil itu.


Pria itu pun mulai berjalan dengan kesal keluar dan menuju ruangan gudang yang lain agar bisa memainkan tubuh ranun remaja wanita yang sudah di sandra.


Pria lain yang baru masuk melihat ke arah gadis kecil yang ketakutan dan menangis dengan tubuh gemetar nya. Tubuh kecil itu penuh dengan memar kebiruan karna cubitan dan remasan yang begitu kuat.


"Sini! Bangun! Duduk sama kakak mu!" ucap nya tanpa rasa iba menarik tangan kecil bocah cantik itu dengan kasar dan medudukkan nya di sebelah kakak nya.


"Kakak...


Huhuhu....


Sakit...


Semua tubuh Louise sakit..." tangis gadis kecil itu begitu pilu pada kakak nya.


"Louise jangan nangis...


Huhuhu...." ucap sang kakak yang juga ikut menangis. Ia sudah menangis sejak melihat adik nya di paksa seperti itu walaupun ia tak tau apa ingin di lakukan pria itu pada adik nya namun ia tau jika adiknya sedang kesakitan karna ulah pria bejat tadi.


Huaa...


Huhuhu...


Kami mau pulang!!!!


Tangis kedua nya bersahutan. Anak kecil tetaplah anak kecil yang masih sangat sulit menyembunyikan dan mengendalikan emosi nya. Sebaik apapun mereka memanipulasi emosi dan sikap namun tetap akan merasa takut jika di situasi seperti itu.


Hanya anak berumur enam tahun tentu saja tak akan bisa bersikap sebaik orang dewasa saat memanipulasi rasa takut.


"DIAM!!!" bentak pria tersebut hingga membuat kedua anak tersebut tersentak dan langsung terdiam.


"Kalau kalian nangis lagi! Mau aku bawa ke om yang tadi?! Biar dia lanjutin yang tadi?!" ancam nya dan membuat gadis kecil itu langsung berusaha menahan tangis nya.


Tubuh nya gemetar karna rasa takut yang menyelimuti dirinya. Wajah nya mulai pucat karna ancaman dan memang ia yang tak bisa sedikit saja mengalami masalah karna sangat mudah sakit.


"Jangan bawa adik ku..." ucap Louis menggeleng dengan sorot mata sedih dan berusaha menahan tangis nya sembari memposisikan tubuh nya melindungi adik satu-satu nya.


"Yasudah! Makanya diam! Aku akan hubungin orang tua mu!" jawab pria itu kasar.


......................


JBS Hospital.


Pria yang sedang memilah dokumen setelah rapat nya pun mulai mendapat telpon dari nomor yang tak di kenal.


Ia awalnya mematikan panggilan tersebut karna merasa itu adalah panggilan tak berguna. Namun karna panggilan itu terus masuk ke ponsel nya membuat nya jengkel dan mulai mengangkat.


"Anak-anak mu bersama kami! Bawakan uang satu juta dolar! Atau anak mu tak akan selamat! Kami akan kirim alamat nya!" ucap si penelpon dan langsung mematikan panggilan nya.


Satu juta dolar setara dengan 14 miliar lebih bukan jumlah yang kecil yang namun tak ada apa-apa nya di bandingkan nyawa anak nya.


"Sial!" umpat Hazel saat panggilan itu terputus ia langsung ke ruang visi untuk segera melacak keberadaan ponsel anak-anak nya dan panggilan yang memanggil nya.


Ruang Visi


"Sudah temukan sesuatu?" tanya Hazel dengan khawatir pada seluruh staf di ruangan tersebut.


Tak lama kemudian nomor sebelum nya memanggil nya lagi namun dengan panggilan video.


Hazel pun menyambungkan ke layar lebar di depan nya dan menerima panggilan video tersebut.


*Papah...


Huhu...


Jemput Louise sama Louis pah...


Tadi Louise om nya jahat...


Sakit semua pah*....


Wajah Hazel langsung berubah rasa takut menyelimuti hatinya mendengar tangis dan ucapan minta di selamat kan. Ia melihat kedua anak kembar nya yang menangis dengan putra yang terikat namun putrinya tidak. Tetapi tubuh gadis kecil itu terlihat penuh memar dengan seragam yang sudah rusak.


"Aku akan memberi apa yang kau minta! Jangan sentuh mereka sedikitpun lagi! Atau kalian akan merasakan beribu balasan nanti nya!" ucap Hazel sembari menahan emosinya ia harus mengiyakan semua yang di minta penculik agar mereka tak menyentuh anak-anak nya.


"Baik! Jangan laporkan ke polisi atau mereka hanya akan tinggal mayat!" ancam si penelpon lagi tanpa menunjukkan wajah nya.


"Aku tak akan melaporkan polisi." ucap Hazel dengan seringai mengerikan di wajah nya.


Orang-orang sialan itu menyentuh apa yang harus nya tak mereka sentuh.


Setelah panggilan di tutup tim di ruang visi sudah menemukan lokasi si penculik menelpon dan ponsel si kembar.


"Jadi mereka membuang ponsel anak ku lalu membawa nya ke arah perkebunan terpencil?" tanya Hazel mengepalkan tangan nya.


"Jangan biarkan Alyss tau...


Jantung nya lemah, kondisi nya akan memburuk jika ia tau." ucap Hazel pada Rian agar istrinya tak tau dan tak membuat kondisi tubuh nya menjadi menurun.


"Baik." jawab Rian dan segera mengurus keberangkatan mereka.


Hazel membawa sekitar 40 orang terlatih di JBS security dan 10 penembak jitu jarak jauh agar bisa membantai orang yang akan menyakiti anak-anak nya nanti.


......................


Gudang penculikan.


"Kalian diam disini! Jangan Ribut!" ucap pria tersebut keluar meninggalkan kedua bocah itu.


"Louise...


Bukain tali di tangan kakak...


Bial kita bisa kabul..." ucap Louis berbisik pada sang adik saat gadis kecil itu tak menangis lagi.


Louise pun perlahan mulai membuka ikatan tali di tangan kakak nya setelah ia tubuh mereka tak terikat apapun kedua bocah itu mulai berencana kabur.


"Louise pegang ini..." ucap Louis sembari memberikan serpihan kaca tajam pada adik nya dan tentu nya ia juga memegang hal yang sama.


Kedua bocah kecil itu menunggu di balik pintu agar saat si penculik membuka pintu mereka bisa langsung kabur.


Brak!


"Dimana mereka?!" ucap si penculik bingung sembari melihat ke dalam gudang.


Dusk!


"Akh!" pekik nya saat merasakan sesuatu yang menusuk perut nya dari belakang.


Crass...


Darah segar mengalir dengan deras dan mencipratkan cairan merah kental itu ke wajah gadis itu.


Ia menikam karna sang kakak lah yang menyuruh nya melakukan nya.


"Ka-kakak..." ucap nya gugup dengan tangan gemetar berlumuran darah. Ia merasakan takut teramat sangat.


"Iyah bental!" jawab Louis dan berjalan ke arah depan wajah pria yang hampir terduduk sembari menahan sakit.


Crass....


Klek....


Bocah lelaki itu menggores dan mengeluarkan satu bola mata dari pria tersebut. Pria itu pun langsung meringis dan berusaha melepaskan tangan bocah iblis itu yang tak ia kira akan menjadi seperti itu.


"Ayo! Lali!" ucap Louis sembari menarik tangan adik nya.


Mereka berusaha menghindar dan berlari sebaik mungkin agar tak ketahuan sedangkan pria yang dari gudang berusaha tertatih keluar sembari memegang mata nya yang bolong karna ulah bocah iblis itu.


"Anak setan itu lari! Cepat cari mereka! Persetan dengan satu juta dolar! Akan panggang hidup-hidup jika sampai di temukan!" umpat sembari mengabari teman penjahat nya yang lain.


Tap...tap...tap...


Langkah kaki dan deruan nafas terdengar dan terbelah di ladang gandum yang tinggi dengan berwarna kecoklatan tersebut.


Hah...hah...hah...


Deruan nafas gadis itu yang semakin tak teratur karna tiba-tiba mendapatkan situasi di luar kemampuan nya.


"Louis...


A-aku...


Gak bisa nafas...


Dada ku sakit..." ucap nya lirih dengan terengah-engah.


Deg...deg...deg...


Jantung nya berpacu dengan cepat membuat nya merasa sesak dan kesulitan bernafas rasa nyeri dan sakit pun mulai menelan nya. Keringat nya semakin terjatuh dengan wajah yang semakin pucat gadis kecil itu seperti tak sanggup akan pelarian nya.


"Louise sedikit lagi...


Tunggu papah jemput kita..." ucap Louis pada adik nya agar tetap bisa berlari.


Belum sempat ia menarik tangan mungil adik nya mata nya membelalak sempurna melihat salah penculik mereka mulai datang.


DOR!!!


"Louise! Ukh!" tubuh kecil itu berusaha melindungi sang adik dari peluru yang di tembakan ke mereka.


"Louise Lali..." ucap nya sebelum tak ia sudah tak mampu lagi menahan sakit karna tembakan di tubuh nya mata nya mulai terpejam dan tak bisa mendengar suara tangis adik nya lagi.


"Kakak! Louis! Bangun! Huhuhu..." teriak nya dengan isak tangis dan tak memperdulikan penculik yang semakin mendekatinya. Ia tak ingin pergi dan lari meninggalkan saudara kembar nya.


DOR!! DOR!! DOR!!


Suara tembakan yang memenuhi ladang jagung itu mengganti warna kecoklatan menjadi merah karna darah dari seluruh orang biadab yang menculik bocah kesayangan pria iblis itu.


"Papah?


Kakak pah..." ucap gadis itu dengan mata sembab dan wajah yang sangat pucat. Pandangan nya mengabur setelah melihat sang ayah yang berlari ke arah nya dan ikut pingsan di sebelah tubuh kakak nya yang bersimbah darah karna tak dapat menahan sakit di dada nya lagi.


Pah...


Louis udah jagain Louise kan?


Louis kakak yang baik kan pah? Papah bilang Louis harus jagain Louise...


Louise kakak minta maaf yah...


Tadi gak bisa bikin om jahat nya pelgi...


Tangan kakak sakit...


Diiket...


Gak bisa di gelakin...


Gak bisa lepas....


Tapi sekalang Louise udah gak kenapa-kenapa kan?


Nanti kita makan coklat lagi yah...