(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love

(Psycho CEO) When The Devil Falls In Love
Kau milikku hidup atau mati



Prangggg.....


Suara yang sangat nyaring terdengar dari dalam kamar mandi Hazel.


"Apa yang dilakukannnya?" ucap Hazel ketika mendengar suara yang begitu nyaring dari dalam kamar mandinya. Ia pun segera bangkit dan memakai mantel tidurnya lalu segera menghampiri Alyss.


Hazel takut jika Alyss bertindak bodoh dengan menyakiti dirinya lagi.


Sedangkan yang terjadi di kamar mandi tersebut adalah Alyss yang melempar hiasan pot bunga kecil ke kaca cermin disana.


Ia tak bisa memandang dirinya sendiri, Ia benar-benar merasa Hazel telah menghancurkanya, Hazel mengambil seluruh yang berharga baginya.


Kehormatan, Harga diri, Kebebasan, Kebahagian semua itu telah terenggut dari nya. Sekarang ia benar-benar kalut dan tak dapat berpikir dengan jernih.


Tok..tok..tok...


Suara ketukan pintu kamar mandi tersebut yang terdengar oleh Alyss.


"Apa yang kau lakukan? Buka pintu nya! Atau aku akan mendobraknya!" ucap Hazel dengan nada tinggi dari luar kamar mandi.


Alyss hanya diam saja saat mendengar ucapan Hazel. Mata nya teralihkan oleh pecahan kaca cermin yang cukup tajam.


Alyss mengambil pecahan tersebut dan menggenggam pecahan tersebut di tangan mungil nya.


Merasa tak ada jawaban, Hazel semakin panik. Ia pun berusaha membuka paksa pintu kamar mandinya.


Bruakk...


Hazel telah berhasil membuka pintu tersebut.


Kini ia melihat Alyss yang memiliki tatapan yang penuh dengan sorot kesedihan menatap nya.


Tangan Alyss berlumuran darah, darah tersebut sampai menetes satu persatu ke lantai.


Alyss tak memotong pergelangan tangannya. Ia hanya menggenggam pecahan kaca tersebut dengan sangat kuat hingga melukai dirinya sendiri.


Hazel pun langsung melangkahkan kaki untuk mendekati Alyss. Setiap satu langkah Hazel mendekat, maka Alyss akan satu langkah mundur ke belakang. Ia tak mau Hazel mendekatinya.


"Ja-jangan Mendekat!" Alyss berteriak dan mengacungkan pecahan kaca tersebut pada Hazel.


"Apa yang kau lakukan? Kau terluka!" ucap Hazel ketika melihat Alyss yang mengacungkan pecahan kaca pada nya dengan tangan yang berlumuran darah.


Hazel tak menghiraukan ucapan Alyss ia tetap berjalan mendekati Alyss. Melihat hal itu pun Alyss semakin kalut dan...


Sreg...


Alyss terkejut saat melihat tangan Hazel terluka karna pecahan kaca yang ia acungkan ke segala arah agar menghalangi Hazel untuk mendekatinya.


Melihat Alyss yang terdiam sejenak, langsung dimanfaatkan oleh Hazel dan langsung meraih tangan yang memegang pecahan kaca tersebut. Hazel langsung mengambil nya dan membuang nya menjauh dari Alyss.


Merasa Hazel yang menangkap tangan nya Alyss berusaha untuk mendorong tubuh Hazel dengan sekuat tenaga agar menjauh darinya lagi.


"Coba dorong aku lagi, dan aku akan mengulangi apa yang kita lakukan semalam, dan membuat mu benar-benar mengingatnya!" ancam Hazel pada Alyss.


Kaki Alyss terasa lemas dan ia pun jatuh terduduk kebawah. Hazel berjongkok melihat wajah Alyss yang mulai menitikkan air mata lagi yang jatuh di pipinya.


Hazel tak marah ataupun mengatakan apapun saat Alyss melukai tangannya. Saat ia melihat Alyss yang sedang menatap nya dengan tatapan dalam yang penuh kesedihan Hazel langsung memalingkan wajahnya, dan melihat luka di tangan Alyss.


Ia tak dapat berlama-lama melihat tatapan mata Alyss yang seperti itu padanya, karena hal itu membuat dada nya terasa sesak dan tak nyaman.


"Dasar bodoh! Kenapa kau bisa terluka lagi?" ucap Hazel kesal sembari mengobati tangan Alyss. Alyss tak menjawab dan tetap diam.


"Kau jangan bersikap bodoh dengan menyakiti dirimu sendiri, jika kau melakukan hal seperti ini lagi, aku juga akan menyakiti orang-orang yang berada disekitar mu!" sambung Hazel lagi dengan nada mengancam.


"Benarkah? Kalau begitu silahkan, jika aku mati aku juga tak akan tau apa yang kau lakukan." balas Alyss yang mulai merasa putus asa.


"Pftt... Kau kira aku akan semudah itu membiarkan mu mati? Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi padamu, dan jika aku tak dapat mencegah nya, aku juga tak akan memberikan mu pemakaman yang layak. Akan ku buat arwah mu menjadi tak tenang selamanya." ucap Hazel yang tertawa kecil dan berganti dengan wajah yang serius.


"Oh... Kau akan mencincang ku lalu membuang ku ke laut?" tanya Alyss pada Hazel dengan senyum pahit di wajahnya.


"Tidak! Kenapa aku harus? Aku akan mengawetkan tubuhmu terus-menerus, jadi kau bisa tetap bersama ku selamanya. Kau tau? Bahkan jika kau mati sekalipun aku takkan melepaskan mu. Akan ku buat kau tetap bersama ku tak peduli kau hidup ataupun mati." ucap Hazel dengan penuh penekanan pada Alyss.


Alyss tak dapat berkata apa-apa lagi. Kini ia hanya melihat Hazel yang sedang mengobati tangannya.


Alyss berpikir bahwa ia sekarang benar-benar menghadapi seorang iblis. Ia bahkan tak tau bagaimana caranya membalas dendam pada Hazel.


Hazel seperti tak memiliki kelemahan, atau apapun yang dapat menjadi kelemahan baginya.


"Nah..


Sudah siap." ucap Hazel yang tersenyum pada Alyss ketika ia selesai mengobati tangan Alyss.


"Kau ingin mandi? Luka nya jangan sampai terkena air dulu." ucap Hazel pada Alyss.


Sebenarnya tanpa Hazel memberi tau hal tersebut, Alyss sudah mengetahui dengan baik, karna Alyss juga merupakan seorang dokter.


"Kau bisa bangun? Ingin ku gendong? Atau...


ingin ku mandikan?" tanya Hazel pada Alyss.


"Tak usah aku bisa sendiri." jawab Alyss dengan ketus pada Hazel.


Ia benar-benar muak pada Hazel. Bagaimana Hazel bisa bersikap seolah-olah tak terjadi sesuatu, padahal baginya itu hal yang sangat penting?


Alyss pun berusaha bangun dan berdiri, walaupun sedikit sulit.


"Kau mandi disini saja, tak usah turun ke kamar mu, dan itu bukan permintaan itu perintah. Kau tau aku tak suka di bantah kan?" ucap Hazel dengan penuh penekanan.


Alyss pun mau tak mau menuruti perkataan Hazel. Melihat Alyss yang menurut Hazel pun langsung membalik badan dan segera keluar dari kamar mandi tersebut.


"Oh ya, jangan coba-coba bersikap bodoh lagi atau kau harus hadapi konsekuensinya." ucap Hazel yang memberi peringatan pada Alyss sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi tersebut.


Hazel pun keluar dan ke ruang ganti nya mengambil pakaian untuk Alyss kenakan. Ia mengambil salah satu kemeja putih miliknya.


"Loh kok ada darah?" ucap Hazel bingung ketika melihat darah di kemeja yang baru saja ia ambil.


Ia bahkan tak menyadari tangannya yang sedang terluka dikarnakan pecahan kaca yang diancungkan oleh Alyss tadi.


Ia terlalu sibuk dan khawatir dengan luka yang terdapat pada Alyss, hingga tak menyadari bahwa ia juga sedang terluka.


"Sial!" umpat nya ketika melihat darah nya yang terus menetes, Hazel pun segera menutup luka nya dengan perban.


Tak berapa lama Alyss keluar dengan berbalut handuk di tubuhnya.


"Pakai itu, dan tunggu aku. Setelah aku mandi kita akan sarapan bersama." ucap Hazel pada Alyss dan berlalu masuk kedalam kamar mandinya.